Anda di halaman 1dari 16

DISKRIMINASI GENDER

PADA LANSIA
PUTRI DINDA YANA NST
131000232
CORY HUTASOIT 131000406

Latar Belakang
Penduduk Lanjut usia dalam tahun
terakhir mengalami peningkatan yang
signifikan pada tahun 2007, jumlah
penduduk lanjut usia sebesar 18,96
juta jiwa dan meningkat menjadi
20.547.541 pada tahun 2009 (U.S.
Census Bureau, International Data
Base, 2009) jumlah ini termasuk
terbesar keempat setelah China, India
dan Jepang

Karena usia harapan hidup


perempuan lebih panjang
dibandingkan laki-laki, maka jumlah
penduduk lanjut usia perempuan
lebih banyak dibandingkan laki-laki
(11,29 juta jiwa berbanding 9,26 juta
jiwa).

Fenomena terjadinya peningkatan Usia Harapan Hidup


(UHH) disebabkan oleh perbaikan status kesehatan
akibat kemajuan teknologi dan penelitian-penelitian
kedokteran, transisi epidemiologi dari penyakit infeksi
menuju penyakit degeneratif, perbaikan status gizi
yang ditandai peningkatan kasus obesitas usila
daripadaunderweight, peningkatan Usia Harapan
Hidup (UHH) dari 45 tahun di awal tahun 1950 ke arah
65 tahun pada saat ini, pergeseran gaya hidup dari
urbanrural lifestyleke arahsedentary urban lifestyle,
dan peningkatan income perkapita sebelum krisis
moneter melanda Indonesia (Abikusno N, Rina KK,
1998).

Defenisi
Undang-undang Nomor 13 tahun 1998 tentang
Kesejahteraan Lanjut Usia, yang dimaksud dengan
lanjut usia adalah penduduk yang telah mencapai
usia 60 tahun ke atas.
Undang undang no.4 tahun 1965 pasal 1,
seseorang dinyatakan sebagai lanjut usia setelah
yang bersangkutan mencapai umur 55 tahun, tidak
mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah
sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan
menerima nafkah dari orang lain (Mubarok, 2006).

Gender adalah perbedaan yang tampak antara laki-laki


dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah
laku (Fakih, 1996) .
Perubahan peran gender sering terjadi sebagai respon
terhadap perubahan kondisi sosial ekonomi, budaya,
sumberdaya alam dan politik termasuk perubahan yang
diakibatkan oleh upaya-upaya pembangunan atau
penyesuaian program struktural(structural adjustment
program) maupun pengaruh dari kekuatan-kekuatan di
tingkat nasional dan global. (
http://www.deptan.go.id/setjen/roren/ragam/pengertian
_gender.htm
)

Lansia atau Lanjut usia, menurut


WHO : Pra lansia 4554 tahun, Lansia
5564 tahun, Aging people 65 tahun
keatas.
Menurut BKKBN Lansia adalah 60
tahun ke atas.

Gender dalam Pemeliharaan


Kesehatan Pasca Reproduksi
A. Permasalahan Kesehatan Pasca
Reproduksi mencakup:
Osteoporosis
penyakit pada tulang yang ditandai dengan
berkurangnya massa tulang akibat proses
penuaan, yang dapat menyebabkan tulang
menjadi rapuh dan mudah patah. Osteoporosis
dapat terjadi pada laki-laki dan perempuan. Pada
perempuan proses ini lebih cepat karena
menurunnya hormon estrogen, khususnya
setelah masa menopause.

Gangguan Fungsi Reproduksi


Gangguan fungsi reproduksi pada perempuan
setelah menopause akibat menurunnya hormon
estrogen, mengakibatkan liang kemaluan menjadi
kering dan sakit bila
bersenggama(dispareuni).Gangguan reproduksi
pada laki- laki disebabkan menurunnya sekresi
hormone androgen/testosteron, dengan gejala
menurunnya gairah seksual, menurunnya daya
sensitivitas terhadap rangsangan, penurunan daya
orgasme serta disfungsi ereksi (impoten) dan
pembesaran kelenjar prostat.

Andropause
Andropause merupakan menurunnya kemampuan fisik, seksual dan psikologis
pada laki-laki. Hal ini disebabkan oleh menurunnya produksi hormon testosteron.
Keadaan ini biasanya terjadi pada pria berusia 56 - 60 tahun atau lebih.
Gejala:
1) potensi seksual mulai menurun
2) kurang bergairah
3) mudah tersinggung
4) terganggunya daya konsentrasi
5) mudah letih, lesu dan lemah kaku pada otot, sendi dan tulang
6) rambut rontok
7) kulit kering
8) penis mengecil, bisa terjadi impoten dan masalah sirkulasi darah(Endang, 2008).

Dampak pada keluarga:


Suami yang mengalami andropause mudah tersinggung, marah-marah karena
kecewa dan tidak puas dengan situasi dirinya. Sikap ini sangat tidak menyenangkan
bagi istri dan anak-anaknya, bahkan dapat menghilangkan respek keluarga.
Dampak paling buruk adalah suami terobsesi oleh fantasi seksual yang melibatkan
pasangan yang lebih muda. Keluarga, terutama istri merasa dikhianati dan ini
menjurus kepada hilangnya kebahagiaan dalam keluarga dan dapat mengakibatkan
keluarga mengalami stress(Endang, 2008).

Menopause
Menopause merupakan keadaan biologis dimana fungsi reproduksi
perempuan berakhir, yang ditandai dengan berhentinya siklus haid yang
pada umumnya dimulai pada waktu seorang perempuan berusia 40 - 45
tahun. Di Indonesia, menopause baru terjadi pada perempuan di atas 50
tahun.
Gejala: gejolak panas (badan terasa berhawa panas meski udara sekitar
tidak terasa panas; sebagian orang sering menyebut dengan istilah
gerah); berkeringat banyak; mudah tersinggung; kelelahan; depresi
jantung berdebar-debar; sukar tidur; libido menurun; gangguan berkemih;
nyeri saat sanggama; perut kembung; pusing-pusing; kejang-kejang;
rambut rontok(Endang, 2008).

Upaya menyikapi krisis menopause dan andropause antara lain dengan:


1) menikmati kegiatan yang selama ini tidak dilakukan karena kesibukan
rutin.
2) ikut kursus atau sekolah lagi.
3) melakukan kegiatan sosial dan budaya.
4) menjalani karier baru yang dulu sama sekali tak terpikirkan.
5) saling memberi dan menerima dukungan dalam keluarga.
6) meningkatkan hidup spiritual(Endang, 2008).

B. Aspek Gender dalam Kesehatan Pasca Reproduksi


Kita perlu melihat aspek gender dalam kesehatan reproduksi lansia karena
beberapa alasan penting, antara lain:
1.lansia seluruhnya, perempuan dan laki-laki seharusnya mendapat
perhatian yang sama. Hal ini diperlukan agar kualitas hidup lansia tetap
terjaga baik secara fisik maupun mental.
2.meyakinkan kepada pihak terkait untuk memberikan pelayanan
kesehatan yang seimbang kepada lansia laki-laki dan perempuan. Hal ini
menjamin tersedianya jenis pelayanan yang dibutuhkan oleh lansia laki-laki
dan perempuan tanpa ada salah satu pihak yang dirugikan(Endang, 2008).
C. Kesenjangan Gender dalam Pelayanan Kesehatan Pasca
Reproduksi
Tidak ada kesenjangan gender dalam hal ini apabila semua tempat
pelayanan kesehatan secara seimbang menyediakan jenis pelayanan yang
diperlukan lansia perempuan dan laki-laki, sehingga kesehatan
pascareproduksinya dapat terjamin(Endang, 2008).
Pentingnya Penanganan Isu Gender dalam Kesehatan Reproduksi
Gender mempunyai pengaruh besar terhadap kesehatan laki-laki dan
perempuan karena:
Perempuan lebih rentan dalam menghadapi resiko kesehatan reproduksi.
Seperti kehamilan, melahirkan, aborsi tidak aman dan pemakaian alat
kontrasepsi. Karena struktur alat reproduksinya; perempuan rentan secara
social maupun biologis terhadap penularan IMS termasuk termasuk
STDH/HIV/AIDS.

Laki-laki juga mempunyai masalah kesehatan reproduksi, khususnya yang


berkaitan dengan IM, termasuk HIV/AIDS. Karena itu, dalam menyusun
strategi untuk memperbaiki kesehatan reproduksi harus diperhitungkan pula
kebutuhan, kepedulian dan tanggung jawab laki-laki.
Perempuan rentan terhadap kekerasan dalam rumah tangga (kekerasan
domestik) atau perlakuan kasar, yang pada dasarnya bersumber pada
subordinasi perempuan terhadap laki-laki atau hubungan gender yang tidak
setara
Mengapa Gender Dipermasalahkan ?
Kapasitas biologis perempuan (bersifat kodrati) dalam melahirkan anak
dijadikan rasional terhadap penentuan peranan bahwa perempuan hanya
pantas berperan dalam kegiatan domestik dan dianggap tidak pantas
berperan dalam sektor publik (masyarakat dan negara). Persepsi ini
merupakan bias gender yang mengurangi kesempatan dan kontribusi
perempuan dalam pembangunan yang dianggap berada di sektor publik.
Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, laki-laki dan perempuan, keduanya
bisa menjalankan peran baik di sektor domestik maupun publik. Namun,
adanya bias gender menjadikan perempuan belum memperoleh manfaat
pembangunan yang sama seperti halnya laki-laki. Oleh karenanya,
pembangunan harus memberi hak-hak dan kesempatan yang sama bagi
keduanya, sesuai dengan peranan dan statusnya dalam keluarga,
masyarakat ,dan negara. (
http://www.deptan.go.id/setjen/roren/ragam/pengertian_gender.htm)

Bagaimana Implikasi Gender pada Kesehatan Usia Lanjut ?


Wanita yang memiliki peran ganda (seperti mantan pegawai + pengurus
rumah tangga) lebih kecil kemungkinan menjadi depresi dari pada wanita
yang mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang dengan peran tunggal
saja.
Masa menjanda atau menduda adalah suatu peristiwa hidup yang stress
full.Janda lebih bisa mengatasi daripada duda, terutama karena jaringan
sosial yang lebih besar dimiliki oleh wanita. Lebih banyak wanita daripada
pria yang terus hidup pada usia 80 tahun keatas, tetapi mereka lebih
mungkin menjadi sakit dan hidup dalam kemiskinan.(Rollin's, 2007), Hal
senada juga disampaikan oleh Kevin Kinsella and Yvonne J. Gist, (1998)
Bagi perempuan dan laki-laki, khususnya di negara-negara dimana bias
gender meliputi semua lini kehidupan. Akses Perempuan terhadap
kesehatan sering tidak proporsional, ini dipengaruhi oleh tingginya tingkat
kemiskinan dan ketergantungan ekonomi, kekerasan, ketidakadilan gender,
gizi dan makanan distribusi, terbatas kekuasaan pengambilan keputusan,
dan sikap negatif terhadap perempuan dan anak perempuan (Kevin Kinsella
and Yvonne J. Gist, 1998).

Perempuan lansia di Indonesia berpotensi mengalami diskriminasi ganda,


baik karena statusnya sebagai perempuan maupun karena statusnya
sebagai penduduk yang usianya sudah lanjut. Sebagai perempuan,
diskriminasi yang disebabkan oleh struktur sosial dan budaya masyarakat
sebenarnya sudah terjadi sejak usia muda. Hal ini kita ketahui sebagai
akibat dari perbedaan yang sifatnya kodrati maupun sebagai akibat dari
perbedaan gender. Perbedaan tersebut juga tercermin dari status
perkawinan lanjut usia perempuan yang sebagian besar berstatus cerai mati
dan cerai hidup. Karena usia harapan hidup perempuan yang lebih panjang
dibandingkan laki-laki, maka lebih banyak lanjut usia perempuan yang
ditinggal meninggal lebih dulu oleh suaminya, dan karena perbedaan gender
menyebabkan perempuan terbiasa mengurus dirinya sendiri, sehingga lebih
siap untuk tinggal sendiri. Sedangkan lanjut usia laki-laki lebih banyak
berstatus kawin.
Keuangan yang semakin memburuk, baik yang disebabkan karena
kemiskinan yang terjadi sejak pra lanjut usia maupun akibat tidak
mempersiapkan keuangan hari tua dengan baik.
Banyak lanjut usia terpaksa masih harus bekerja atau menjadi beban bagi
keluarga, masyarakat atau negara. Banyak penduduk lanjut usia yang
terlantar dan miskin. Social security belum diimplementasikan dengan baik.
Secara sosial, dirasakan telah terjadi penurunan nilai penghormatan pada
orang tua. Terbukti semakin banyaknya kasus penelantaran atau kekerasan
lainnya terhadap lanjut usia oleh keluarganya sendiri.Banyak penduduk

Saran
Sehubungan dengan fakta bahwa fungsi dan
proses reproduksi harus didahului oleh
hubungan seksual, tujuan utama program
kesehatan reproduksi adalah meningkatkan
ksesadaran kemandirian wanita dalam
mengatur fungsi dan proses reproduksinya,
termasuk kehidupan seksualitasnya,
sehingga hak-hak reproduksinya dapat
terpenuhi, yang pada akhirnya menuju
peningkatan kualitas hidupnya.