Anda di halaman 1dari 24

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Tanaman padi merupakan jenis tanaman berasal dari family serelia atau bijibijian yang diminati hamper seluruh masyarakat dibelahan bumi ini. Kebutuhan akan
beras di Indonesia yang semakin banyak akan produksi tanaman padi menyebabkan
semakin banyaknya pembudidayaan tanaman atau petani tersebut menanam untuk
kebutuhan pokok masyrakat sekitar, tetapi pada setiap daerah ciri atau khas dari suatu
lahan, atau faktor yang mendukung maupun yang menghambat proses produktivitas
tanaman padi berbeda. Dari hal tersebut para pemuliaan tanaman mencoba untuk
merakit dengan beberapa teknik dan analisis dalam varietas baru yang sekiranya
toleran dan tahan serta mampu menghasilkan daya hasil yang baik sesuai dengan
kebutuhan dan kondisi factor ekstern maupun intern.
Salah satu usaha untuk meningkatkan produksi suatu tanaman adalah melalui
pengembangan varietas berdaya hasil tinggi, berkualitas, serta tahan terhadap hamapenyakit. Karakter daya hasil merupakan karakter kompleks yang sangat dipengaruhi
oleh karakter pertumbuhan dan karakter komponen hasil. Karakter hasil dan
komponen hasil serta karakter pertumbuhan dikendalikan oleh banyak gen yang
ekspresinya sangat dipengaruhui oleh faktor lingkungan (Desta et al., 2006).
Perakitan varietas berdaya hasil tinggi dapat dilakukan melalui seleksi secara
langsung terhadap daya hasil atau tidak langsung melalui beberapa karakter lain yang
terkait dengan daya hasil (Falconer dan Mackay, 1996). Seleksi secara tidak langsung

atau simultan untuk meningkatkan daya hasil berdasarkan indeks seleksi akan lebih
efisien dibandingkan dengan seleksi berdasarkan satu atau kombinasi dari dua
karakter saja (Moeljopawiro, 2002). Agar dapat melakukan seleksi secara simultan
maka karakter yang akan digunakan sebagai criteria seleksi harus dipilih berdasarkan
nilai heritabilitas serta keeratan hubungan atau korelasi dengan karakter yang
diinginkan. Hal ini dengan menggunakan karakter yang terpilih maka dapat disusun
suatu indeks seleksi yang efektif (Wricke dan Weber, 1985 dalam Desta et al., 2006).
Suatu penelitian atau perlakuan hubungan karakter hasil dengan karakter lain
diketahui melalui analisis korelasi dan analisis sidik lintas (Nasution,2010).
Korelasi dua atau lebih antar sifat positif yang dimiliki akan memudahkan seleksi
karena akan diikuti oleh peningkatan sifat yang satu diikuti dengan yang lainnya.
Sehingga dapat ditentukan satu sifat atau indek seleksi. Sebaliknya bila korelasi
negatif, maka sulit untuk memperoleh sifat yang diharapkan. Bila tidak ada korelasi
di antara sifat yang diharapkan, maka seleksi menjadi tidak efektif.
B. Tujuan
Tujuan dalam praktikum acara ini yaitu agar praktikan dapat mengetahui derajat
hubungan antara dua sifat pada tanaman dan praktikan dapat mengetahui bentuk
hubungan yang ada diantara dua sifat yang bersangkutan.

II. TINJAUN PUSTAKA

Korelasi adalah suatu teknik statistika yang digunakan utnuk mencari hubungan
antara dua variabel atau lebih yang sifatnya kuantitatif. Korelasi memiliki koefisien
antara -1 sampai dengan 1. Bila koefisien korelasi sama dengan 0 berarti fit of
regression line, sehingga pengetahuan kita tentang X tidak akan membantu dalam
mengadakan ramalan besarnya Y. Bila koefisien korelasi sama dengan +1 atau -1
berarti semua titik terletak pada garis lurus, oleh karenanya kita dapat mengadakan
ramalan yang sangat mendekati persamaan garis regregasinya (Pangestu Subagyo dan
Djarwanto Ps, 2000).
Derajat hubungan antara dua sifat tanaman, biasanya dinyatakan dengan suatu
bilangan yang disebut koefisien korelasi. Korelasi adalah suatu teknik statistika yang
digunakan utnuk mencari hubungan antara dua variabel atau lebih yang sifatnya
kuantitatif. Persoalan korelasi akan timbul apabila berhadapan dengan pertanyaan
apakah ada sesuatu hubungan antara variabel-variabel dari sekumpulan data yang
diperoleh. Penyelidikan untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel biasanya
dimulai dengan sesuatu usaha untuk menemukan bentuk terdekat dari pada hubungan
itu dengan cara menyajikan dalam bentuk grafik yang disebut dengan scatter diagram.
Diagram ini melukiskan titik-titik pada bidang X dan Y dimana setiap titik ditentukan
oleh setiap pasang nilai X dan Y. Salah satu cara untuk menggunakan teknik korelasi
adalah bahwa hubungan antara variabel X dan Y adalah hubungan yang linier
(Pangestu Subagyo dan Djarwanto Ps, 2000).
Korelasi antar dua karakter dapat dibagi dalam korelasi fenotipik dan korelasi
genotipik. Korelasi fenotipik (rp) dapat dipisahkan menjadi korelasi genotipik (rg) dan

korelasi lingkungan (re). Oleh karena itu, korelasi fenotipik ini selanjutnya
diharapakan dapat menunjukan korelasi genotipik yang lebih berarti dalam program
pemuliaan tanaman. Korelasi ini dapat diartikan sebagai korelasi nilai pemuliaan dari
dua karakter yang diamati. Korelasi lingkungan merupakan sisaan galat yang juga
memberikan kontribusi terhadap fenotipe (Nasir.2001).
Perhitungan koefisien korelasi antara X dan Y sebagai ukuran hubungan dapat
dilihat dari dua segi. Pertama, koefisien korelasi dihitung untuk menentukan apakah
ada korelasi antara X dan Y dan jika ada apakah berarti atau tidak.Kedua, untuk
menentukan derjat hubungan antara X dan Y jika hubungan itu memang sudah ada
atau barang kali diasumsikan ada (Sudjana, 1983). Jika data hasil pengamatan terdiri
dari banyak variable, ialah berapa kuat hubungan antara variabel-variabel itu terjadi.
Hal ini perlu ditentukan derajat hubungan antara variabel-variabel. Studi yang
membahas tentang derajat hubungan antara variable-variabel dikenal dengan nama
analisis korelasi. Ukuran yang dipakai untuk mengetahui derajat hubungan, terutama
untuk data kuantitatif, dinamakan koefisien korelasi (Sudjana.1986).
Koefisien korelasi itu berhubungan dengan persamaan regresi karena persamaan
regresi menunjukkan bentuk persamaan hubungan antara 2 variabel atau lebih sedang
koefisien korelasi menunjukkan erat tidaknya hubungan antar variabel tersebut
(Sudjana.1986). Erat kaitannya dengan penafsiran korelasi adalah mengenai kuasa
yang sering dibuat bukan pada tempatnya. Berapapun besarnya koefisien korelasi
tidaklah selalu terjadi kausa yang mengatakan peubah yang satu penyebab bagi yang
lain. Meskipun koefisien korelasi dengan perantaraan koefisien determinasi,

mengatakan persentase variasi peubah yang satu dijelaskan oleh peubah lain melalui
regresinya, namun ini tidak perlu bahwa peubah terakhir penyebab peubah pertama.
Hal ini diperkuat oleh ketentuan bahwa fungsi daripada koefisien korelasi adalah
untuk menyatakan derajat hubungan antara sejumlah peubah (Sudjana, 1983).
Mengenai derajat hubungan ini secara verbal sering dipertanyakan. Untuk
mendapatkan klasifikasi verbal seperti ini tidak ada satu pegangan yang merupakan
bandrol untuk batas-batas koefisien korelasi r, melainan harus ditinjau dari berbagai
segi, diantaranya (Sudjana, 1983):
1. Sifat atau karakteristik peubah yang sedang dipelajari;
2. Keberartian koefisien korelasi;
3. Variabilitas kelompok;
4. Maksud penggunaan koefisian korelasi.
Setiap koefisien korelasi yang tidak sama dengan nol, secara statistic merupakan
petunjuk hubungan antara dua variable. Apa saja yang bisa kita hubungkan tentu akan
menunjukkan koefisien korelatif, kalau tidak negative, pasti negative (Ritonga, 1987).
Koefisien korelasi tidak memberikan semacam persentase hubungan secara langsung.
Kita tidak bisa mengatakan bahwa r = 0,25 menunjukkan setengah kekuatan dari r =
0,50. demikian juga kita tidak bisa mengatakan kekuatan dari r = 0,70 sampai 0,90.
koefisien korelasi adalah suatu angka indeks, bukan sebagai suatu ukuran terhadap
suatu dengan menghubungkan skor-skor dari dua jenis pengujian, mensejajarkan
bentuk-bentuk tes yang sama (Ritonga, 1987).

Korelasi yang sempurna jarang terjadi pada sifat-sifat kuantitatif, karena


lingkungan sangat berpengaruh terhadap sifat-sifat tersebut.Sebagaimana lazimnya,
sistem yang hidup tidak membantu dengan menghasilkan bilangan bulat, keragaman
lebih mungkin terjadi daripada perkecualian (Soepomo, 1968). Kategori korelasi yang
baik jelas tergantung pada apa yang dilakukan peneliti atau apa yang diharapkannya
dari uji kajinya. Jika ia berharap uji kajinya menunjukkan tidak terdapat kaitan antara
dua peubah, maka koefisien sebesar nol akan sangat menggembirakan. Jika
sebaliknya ia mengharapkan akan terlihat kaitan yang erat, maka harga r yang
mendekati 1 akan dipandang sebagai hasil yang optimum. Sebagaimana lazimnya,
sistem yang hidup tidak membantu dengan menghasilkan bilangan bulat, keragaman
lebih mungkin terjadi daripada perkecualian (Soepomo, 1968).
Berhubung sifat-sifat yang dijadikan parameter merupakan sifat-sifat yang
membutuhkan data kuantitatif, maka terlebih dahulu sifat-sifat kuantitatif tersebut
diturun menjadi tabel frekuensi dimana X dan Y merupakan peubah yang mewakili
sifat-sifat tertentu yang akan dicari korelasinya (Nasoetion.1976). Perubahan pada
satu peubah bagaimanapun bertalian dengan perubahan pada peubah lain, maka kedua
peubah tersebut dapat dikatakan berkorelasi. Korelasi dapat positif jika X dan Y
keduanya bertambah atau negatif jika satu peubah bertambah semantara peubah
lainnya berkurang. Sebaliknya, jika perubahan pada X dan perubahan pada Y tidak
berkaitan sama sekali,tidaklah terdapat pertalian, dan karenanya tidak terdapat
korelasi antara kedua peubah itu (Schefler, 1987).

Ketika r sama dengan +1,-1, atau 0, tidak ada pertanyaan tenang interprestasi
koefisien korelasi. Seperti kita telah siap ditunjukkan, apakah itu +1 atau -1 ketika
semua titik-titik berada pada garis lurus, dan ada 0 ketika tidak ada variasi antara y
dapat dihubungkan dengan x, atau kata lain, ketika x tidak bisa membantu dalam
memprediksi y. Umumnya definisi r memberi tahu kita bahwa bagian perbedaan dari
y akan berhubungan dengan x sama dengan r 2, atau dalam persentase sama dengan
(100%) r2, dan dan hal ini bagaimana kita mengartikan kekuatan hubungan secara
tidak langung oleh semua nilai r (Freund and Perles, 1999).
Besar kecilnya bilangan dinyatakan dengan lambang bilangan. Bilangan yang
menyatakan besar kecilnya hubungan itu disebut koefisien hubungan atau koefisien
korelasi. Koefisien korelasi itu bergerak diantara 0,000 sampai +1,000 atau diantara
0,000 sampai -1,000. Tergantung kepada arah korelasi, nihil, positif, atau negatif.
Koefisien yang bertanda positif menunjukan korelasi yang positif. Koefisien yang
bertanda negatif menunjukan arah korelasi yang negatif. Sedangkan koefisien yang
bernilai 0,000 menunjukan tidak adanya korelasi antara X dan Y ( Sutrisno, 2000).

III. METODE PRAKTIKUM


A. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam praktikum korelasi antara dua sifat pada tanaman
adalah bahan-bahan yang hendak dicari koefisien korelasinya, yaitu tanaman padi.
Alat yang digunakan dalam praktikum korelasi antara dua sifat pada tanaman adalah
Penggaris, timbangan analitik, counter, lembar pengamatan dan alat tulis.
B. Prosedur Kerja
1. Tabel frekuensi dibuat sesuai dengan format tabel yang akan diuji bahanbahannya.
2. Masing-masing pada setiap sampel malai

diukur atau dihitung panjang

malai, dihitung jumlah biji dan bobot biji pada malai.


3. Semua hasil pengamatan pengukuran, perhitungan dan penimbangan ditulis
dengan baik pada masing-masing tabel frekuensi yang telah disiapkan
sebelumnya.
4. Kemudian dicari korelasi anatara jumlah bulir dengan bobot biji, bobot biji
dengan panjang malai, panjang malai dengan jumlah bulir.
5. Ditentukan koefisien korelasinya.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
Tabel 1. Data dan perhitungan Koefisien Korelasi Panjang Malai (x) dan Jumlah Bulir
(y) dengan t table = 3,182.

X
Y
X
X
Y
(
(
X.Y
( i
( i ( i - X )
Xi
-

Yi

X 2

Y 2

Yi

- Y )

26,5

120

1,74

3,0276

14,4

207,36

3180

25,056

23,5

146

-1,26

1,5876

40,4

1632,16

3431

-50,904

24,5

80

-0,26

0,0676

-25,6

655,36

1960

6,656

24,5

76

-0,76

0,5776

-29,6

876,16

1824

22,496

25,3

106

0,54

0,2916

0,4

0,16

2681,8

0,216

=123,
8

=2

= 528

5,4844

3371,2

13076,8

3,52

=1

1,0969

674,24

2615,36

0,704

4,76
05,6
2

X i X

S X =

5,4844
=1,3711
4

i=
Y iY 2

SY =
2

( X i X ) (Y i Y )
n1

S xy =

r=

r = 0,026 = 6,76 x 104

Sr =

S xy
SX

2S

t tabel

1r
n2
r
Sr

=
=

3,52
4

= 0,88

0,88
1,3711 x 842,8

16,76 x 104
3

0,026
0,5771

0,88
33,9936 = 0,026

= 0,045

= 3,182

0,9993
3

0,3331 = 0,5771

t hitung

Kesimpulan :

t tabel

, maka koefisien korelasi tidak berbeda nyata.

Tabel 2. Data dan perhitungan Koefisien Korelasi Panjang Malai (x) dan Bobot Biji
(z) dengan t table = 3,182.
X

Xi

Xi

Zi

X 2

- X

Zi

X.Z

Xi

- X )

Zi

- Z )

- Z

3,0276

)
0,32

0,1024

66,25

0,5568

26,5

2,50

)
1,74

23,5

2,70

-1,26

1,5876

0,52

0,2704

63,45

-0,6552

24,5

1,75

-0,26

0,0676

0,1849

42,875

0,1118

0,2304

40,8

0,3648

24

1,70

-0,76

0,5776

0,213
-0,48

25,3

2,25

0,54

0,2916

0,07

0,0049

56,925

0,0378

10,9

5,552

0,793

270,31

0,416

2,18

1,0969

0,1586

54,062

0,0832

=123,
8

=2
4,76

2
X i X

S X =

5,552
=1,388
4

0,793
=0,1983
4

Z iZ

S Z =
2

S xz =

( X i X ) (Z iZ)
n1

0,416
4

10

= 0,104

S xy
SX

0,104
1,388 x 0,1983

r=

r = 0,1982 = 0,0393
1r
10,0393
Sr =

n2 =
3

2S

t tabel

r
Sr

0,1982
0,5659

0,104
0,5247 = 0,1982

0,9607
3

0,3202 = 0,5659

= 0,3502

= 3,182
t hitung

Kesimpulan :

t tabel

<

, maka koefisien korelasi tidak berbeda

nyata.

Tabel 3. Data dan perhitungan Koefisien Korelasi Jumlah Bulir (y) dan Bobot Biji (z)
dengan t table = 3,182.
Y

(
Yi

Yi

Y 2

Zi

Z )

Zi

Y.Z

Yi

- Y )

Zi

- Z )

- Y
120

2,50

)
14,4

207,36

0,32

0,1024

300

4,608

146

2,70

40,4

1632,1

0,52

0,2704

394,2

21,008

80

1,75

-25,6

6
655,36

-0,43

0,1849

140

11,008

76

1,70

-29,6

876,16

-0,48

0,2304

129,2

14,208

106

2,25

0,4

0,16

0,07

0,0049

238,5

0,028

3371,2

0,793

1201,9

50,86

= 528

=
10,9

11

i=
Y iY 2

SY =
2

Z iZ

S Z =

0,793
=0,19825
4

S yz =
r=

(Y iY )(Z iZ )
n1

S yz
Sy

2S

50,86
4

= 12,715

12,715
842,8 x 0,19825

12,715
12,9261 = 0,9837

r = 0,9837 = 0,96766

Sr =
t

t tabel

1r
n2
r
Sr

=
=

10,96766
3

0,9837
0,1038

= =

0,01078 = 0,1038

= 9,4769

= 3,182

Kesimpulan :

t hitung

>

t tabel

, maka koefisien korelasi berbeda nyata.

B. Pembahasan

12

Menurut Qosim , dkk. (2000) dalam Nasution Arif M. (2010) Korelasi antar sifat
merupakan fenomena umum yang terjadi pada tanaman. Pengetahuan tentang adanya
korelasi antar sifat-sifat tanaman merupakan hal yang sangat berharga dan dapat
digunakan sebagai dasar program seleksi agar lebih efisien. Menurut Murwani
(2007), korelasi merupakan teknik analisis yang termasuk dalam salah satu teknik
pengukuran asosiasi atau hubungan (measures of association). Pengukuran asosiasi
merupakan istilah umum yang mengacu pada sekelompok teknik dalam statistic
bivariat yang digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel.
Diantara sekian banyak teknik-teknik pengukuran asosiasi, terdapat dua teknik
korelasi yang sangat populer sampai sekarang, yaitu orelasi Pearson Product Moment
dan Korelasi Rank Spearman. Selain kedua teknik tersebut, terdapat pula teknikteknik korelasi lain, seperti Kendal, Chi-Square, Phi Coefficient, Goodman-Kruskal,
Somer, dan Wilson.
Korelasi merupakan teknik analisis untuk mengetahui adanya dan tingkat
hubungan suatu variabel dengan variabel lainnya.Analisis korelasi ini menghasilkan
sebuah nilai koefisien korelasi, (rho) atau R, yang menunjukkan seberapa kuat
hubungan antar kedua variabel, dan koefisien determinasi, R2, yang menunjukkan
kekuatan yang lebih jauh. Analisis Korelasi terdiri atas tiga macam, yaitu:
1. Korelasi Product Moment (Pearson), korelasi bivariate
2. Korelasi Parsial, korelasi multivariate dengan variabel kontrol
3. Korelasi Distance, menghitung keragaman data kuantitatif (Murwani, 2007).

13

Ditinjau dari banyaknya sifat yang berhubungan, maka korelasi dapat dibedakan
menjadi Soepomo (1968) :
1. Korelasi sederhana
Korelasi sederhana korelasi yang digunakan untuk mengetahui kekeratan
hubungan antara dua variable dan untuk mengetahui arah hubungan yang terjadi.
Koefisien korelasi sederhana menunjukkan seberapa besar hubungan yang terjadi
antara dua variable misalnya hubungan antara panjang malai dengan banyaknya
gabah per malai pada tanaman padi.
2. Korelasi berganda (multiple correlation)
Korelasi antara duaatau lebih variable bebas secara bersama-sama dengan suatu
variable terikat. Angka yang menunjukkan arah dan besar kuatnya hubungan antara
dua atau lebih variable bebas dengan satu variable terikat disebut koefisien korelasi
ganda, dan basa disimbolkan R, misalnya daya hasil dipengaruhi oleh sifat banyak
anakan, ketahanan rebah, ketahanan terhadap hama dan penyakit, respon terhadap
pemupukan dan sebagainya.
3. Korelasi partial
Korelasi partial (digunakan bila ada lebih dari dua sifat berhubungan) yaitu
hubungan antara dua sifat pada kondisi sifat lain konstan, misalnya tingginya hasil
dipengaruhi sterilitas biji dan reaksi terhadap serangan penyakit. Korelasi partial
menentukan hubungan antara hasil dan sterilitas bila pengaruh perbedaan reaksi
terhadap penyakit ditiadakan.
Menurut Nasoetion dan Barizi (1976), ada tiga macam hubungan yang dapat
terjadi, antara lain sebagai berikut :

14

1.

Nilai-nilai yang besar dari perubah acak X cenderung untuk terjadi bersama-sama
dengan nilai-nilai yang besar dari perubah acak Y. Bila demikian dikatakanlah,

2.

bahwa X dan Y mempunyai korelasi positif.


Nilai-nilai yang besar dari perubah acak X cenderung untuk terjadi bersama-sama
dengan nilai-nilai yang kecil dari Y. Bila demikian, dikatakanlah bahwa X dan Y

3.

mempunyai korelasi negatif.


Tidak ada kecenderungan bagi nilai X tertentu untuk terjadi bersama-sama dengan
nilai tertentu dari Y. Kalau demikian halnya, dikatakanlah bahwa X dan Y tidak
berkorelasi.
Pada tanaman nenas panjang buah, diameter buah, bobot buah, total padatan
terlarut dan kandungan asam merupakan karakter-karakter yang menjadi standar
perdagangan nenas baik untuk konsumsi segar maupun sebagai buah olahan (Thakur
et al. 1980 dalam Soedibyo, 1992, Py et al., 1987). Karakter- komponen hasil dan
hasil tersebut di atas merupakan karakter kuantitatif yang dikendalikan banyak gen.
Oleh karena itu pada seleksi yang ditujukan untuk perbaikan karakter tersebut perlu
mempertimbangkan karakter-karakter lain. Menentukan karakter-karakter yang ada
kaitannya dengan karakter utama diperlukan informasi tentang korelasi antar karakter
(Nasution,2010).
Menurut Sudarmadji, dkk. (2007) Seleksi yang ditujukan untuk perbaikan sifat
hasil biji per hektar mempertimbangkan sifat-sifat yang lain (Poespodarsono, 1988).
Menentukan sifat-sifat yang ada kaitannya dengan sifat yang dituju, maka diperlukan
informasi hubungan antara sifat-sifat tersebut dengan sifat-sifat yang akan diperbaiki.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa korelasi genotipik antara sifat hasil biji per

15

hektar dengan sifat-sifat yang lain bervariasi pada ketiga persilangan, di mana
korelasi genotipik berkisar dari 0,59 sampai 0,99.
Menurut Chandrasari, dkk. (2003), Apabila terdapat dua sifat yang diamati
menunjukkan korelasi yang positif, maka dapat dijelaskan bahwa seiring bertambah
besar atau bertambah banyaknya suatu sifat akan selalu diikuti oleh bertambah besar
atau bertambah banyaknya sifat yang lain. Seperti halnya pada umur panen dengan
umur berbunga yang memiliki nilai korelasi yaitu 0,75308. Artinya semakin cepat
waktu berbunga, maka semakin cepat waktu panennya. Hal ini juga dikemukakan
oleh Damayanti et al. (2007) dalam Chandrasari,dkk. 2003, bahwa umur berbunga
menentukan hasil. Jika umur berbunganya cepat maka waktu panennya pun cepat.
Begitu juga sebaliknya, jika umur berbungannya lama maka panennyapun lebih lama,
sedangkan apabila terdapat dua sifat menunjukan korelasi negatif itu artinya
bertambah besar atau bertambah banyaknya suatu sifat akan diikuti dengan
penurunan ukuran atau jumlah sifat yang lain. Hal ini dalam pemuliaan tanaman,
komponen hasil akan lebih efektif meningkatkan hasil apabila komponen hasil
berkorelasi positif terhadap hasil.
Menurut Chandrasari, dkk (2003), diketahui bahwa komponen hasil berupa
tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, bobot 1000 butir, dan umur panen
berkorelasi positif terhadap hasil yang dalam penelitian ini berupa bobot gabah
panen. Sedangkan umur berbunga merupakan komponen hasil yang berkorelasi
negatif terhadap bobot gabah panen atau hasil. Komponen hasil yang berkorelasi
positif terhadap hasil dapat digunakan sebagai parameter dalam melakukan seleksi.

16

Dalam penelitian ini, komponen hasil yang berkorelasi posistif terhadap hasil
digunakan sebagai kriteria dalam pemilihan galur mana yang memiliki daya hasil
lebih besar dari pada varietas pembandingnya yaitu ciherang dan IR-64. Namun pada
beberapa parameter yang menunjukkan nilai negatif terhadap hasil, merupakan
parameter yang kurang mendukung terhadap tingginya hasil dan kurang baik apabila
digunakan sebagai parameter seleksi. Koefisien korelasi dapat dinyatakan sebagai
pengaruh total suatu komponen hasil terhadap hasil, baik secara langsung maupun
tidak langsung yang ditimbulkan oleh faktor genetik, faktor lingkungan, dan interaksi
antar keduanya.
Menurut Chandrasaari, dkk. 2003, masing-masing karakter yang dikorelasikan
dengan hasil diuraikan ke dalam dua komponen yaitu pengaruh langsung dan tidak
langsung. Secara langsung, maksudnya komponen hasil tersebut memberikan
pengaruh terhadap hasil tanpa melalui komponen hasil lainnya. Secara tidak
langsung, artinya pengaruh komponen hasil terhadap hasil melalui sifat komponen
hasil lainnya. Untuk mengetahui apakah suatu komponen hasil berpengaruh lagsung
atau tidak langsung terhadap hasil, maka dilakukan analisis lintas seperti pada tabel 5,
sedangkan untuk menguraikan pengaruh langsung dan tidak langsung ke hasil, maka
digunakan sidik lintasan. Hasil analisa menunjukan bahwa bobot 1000 butir, tinggi
tanaman, umur berbunga, serta anakan produktif memiliki koefisien korelasi yang
positif terhadap bobot gabah sedangkan umur panen memiliki koefisien korelasi
negatif terhadap hasil. Untuk koefisien lintas, hasil analisa data menunjukan bahwa
tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, umur panen, serta bobot 1000 butir

17

memiliki koefisien lintas yang positif terhadap bobot gabah panen dan koefisien lintas
pada umur berbunga bernilai negatif. Dari hasil analisa tersebut, maka dapat diambil
kesimpulan bahwa pada umur berbunga penyebab hubungan dengan hasil adalah
pengaruh tidak langsung. Apabila ingin melakukan seleksi dengan menggunakan
umur panen, maka yang harus diperhatikan adalah pengaruh tidak langsung umur
panen terhadap hasil tersebut (Singh dan Chaudary, 1979).
Untuk tinggi tanaman, jumlah anakan produktif dan bobot 1000 butir, koefisien
lintas dan koefisien korelasi bernilai positif artinya baik tinggi tanaman maupun
jumlah anakan produktif memiliki hubungan yang sebenarnya terhadap bobot gabah
panen (hasil) dan seleksi langsung terhadap sifat tersebut akan sangat efektif.
Sedangkan umur panen memiliki koefisien korelasi negatif dan koefisien lintas
positif, artinya apabila ingin memperoleh pengaruh langsung hasil melalui umur
panen maka harus memperkecil panaruh tidak langsung (Chandrasari,dkk.,2003).
Berdasarkan sifat morfologi yang ada pada tanaman padi dalam praktikum ini
terdapat hubungannya dalam suatu uji korelasi. Sifat morfologi pada padi secara
umum memiliki malai yang cukup panjang dengan ukuran yang berbeda-beda setiap
tanaman, disamping itu terdapat banyaknya bulir yang ada pada tanaman padi.
Beberapa sifat morfologi ini nantinya akan berpengaruh terhadap korelasi sifat-sifat
pada tanaman padi. Kemudian dalam korelasi ini akan memperlihatkan dari sifat
kualitatif suatu tanaman kemudian dapat diperkirakan oleh pemulia sebagai uji
seleksi tanaman. Berdasarkan data pengamatan dari perhitungan koefisien korelasi
panjang malai (x) dan jumlah bulir (y) dikatakan koefisiennya negative, karena

18

keduanya tidak saling berpengaruh; diikuti pula dengan data perhitungan koefisien
korelasi panjang malai (x) dan bobot biji (z) yang koefisien korelasi sama negatifnya
dan tidak berpengerauh; dan pada data perhitungaan koefisien korelasi jumlah bulir
(y) dan bobot biji (z) dengan koefisien korelasinya positif sehingga keduanya dapat
saling berpengaruh pada tanaman tersebut.
Menurut Mohammadi et al., (2003), dengan menggunakan analisis koefisien
lintas (pathcoefisienanalysis) mampu ditentukan konstribusi relatif, dari komponen
tumbuh dan komponen hasil terhadap hasil, baik langsung maupun tidak langsung.
Metode ini memecah koefisien korelasi antara masing-masing karakter yang
dikorelasikan dengan hasil menjadi dua komponen, yaitu pengaruh langsung dan
pengaruh tidak langsung, sehingga hubungan kausal di antara karakter yang
dikorelasikan dapat diketahui.
Daya hasil dipengaruhi oleh beberapa komponen yang saling berasosiasi,
sehingga seleksi terhadap hasil harus mempertimbangkan sifat-sifat yang berkorelasi
dengannya. Pendugaan korelasi genotipik dan fenotipik antar-sifat berguna untuk
perencanaan dan evaluasi program pemuliaan. Pada umumnya nilai korelasi genotipik
lebih tinggi dibandingkan nilai korelasi fenotipik. Hal ini menunjukkan walaupun
korelasi genotipik besar namun bila dipengaruhi oleh lingkungan akan berubah.
Informasi tentang adanya korelasi antarsifat dapat digunakan untuk memahami hasil
yang akan dicapai dan memberikan prosedur seleksi yang tepat (Nugrahaeni, 2001).
Dalam kegiatan seleksi, korelasi antar karakter tanaman memiliki arti yang
sangat penting. Untuk mengestimasi suatu karakter tertentu dapat digunakan penduga

19

yang juga merupakan suatu karakter lain yang relative mudah diamati. Seleksi akan
efektif bila terdapat hubungan erat antara karakter penduga dengan karakter yang
dituju dalam suatu program seleksi. Dalam praktik biasanya digunakan karakter
morfologis (Nasir.2001).
Menurut Chandrasari, dkk (2003) untuk mengetahui tingkat keragaman dan
hubungan antar-karakter yang diamati, data dianalisis dengan menggunakan nilai
rata-rata dan analisis korelasi. Hal ini diperlukan untuk dapat menentukan kriteria
dalam memilih genotipe yang baik, dan untuk mengetahui karakter yang berpengaruh
terhadap hasil kacang hijau. Dengan menggunakan analisis korelasi, maka dapat
diketahui apakah karakter agronomi maupun komponen hasil memiliki korelasi yang
positif atau korelasi yang negatif terhadap hasil delapan nomor galur harapan padi.
Berdasarkan hasil pengamatan uji korelasi dari perhitungan masing-masing
variable yang diamati mengahsilkan data yang berbeda. Data perhitungan koefisien
korelasi pada panjang malai (x) dan jumlah bulir (y) didapatkan hasil kepastian
korelasi sebesar (t hitung) 0,045, hal ini dengan ketentuan t tabel sebesar 3,182
menyatakan bahwa t hitung < t tabel. Artinya dari perbandigan nilai tersebut koefisien
korelasi tidak berbeda nyata, sehingga menyebabkan kedua variable yang diamati
tidak berpengaruh terhadap hasil. Data dan perhitungan koefisien korelasi panjang
malai (x) dan bobot biji (z) didapatkan hasil kepastian korelasi sebesar (t hitung)
03502, hal ini dengan ketentuan t tabel sebesar 3,182 menyatakan bahwa t hitung < t
tabel. Artinya dari perbandigan nilai tersebut koefisien korelasi tidak berbeda nyata,
sehingga menyebabkan kedua variable yang diamati tidak berpengaruh terhadap

20

hasil. Pengamatan terakhir yaitu pada data dan perhitungan koefisien korelasi jumlah
bulir (y) dan bobot biji (z) didapatkan hasil kepastian korelasi sebesar (t hitung)
9,4769, hal ini dengan ketentuan t tabel sebesar 3,182 menyatakan bahwa t hitung > t
tabel. Artinya dari perbandigan nilai tersebut koefisien korelasi berbeda nyata,
sehingga menyebabkan kedua variable yang diamati memberikan berpengaruh
terhadap hasil.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

21

1.

Korelasi antara dua sifat tanaman berguna untuk mengetahui derajat


hubungan antara dua sifat pada tanaman dan untuk mengetahui bentuk
hubungan yang ada antara tanamanyang bersangkutan.

2.

Besarnya nilai koefisien dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kemiripan dalam
variabilitas tanaman induk dengan keturunannya.

3.

Koefisien korelasi yang positif menunjukkan derajat hubungan yang nyata,


sedangkan koefisien korelasi yang negatif menunjukkan hubungan yang berlawanan.
4.

Dari hasil pengamatan dan perhitungan yang telah dilakukan, pengamatan


pada tabel pertama t hitung < t tabel (0,045<3,182) maka data tersebut dalam
koefisien korelasi tidak berbeda nyata. Pada tabel kedua hasil koefisien yang
tidak berbeda nyata dengan t hitung sebesar 0,3502 dan t tabel 3,182.
Sedangkan

pada

tabel

ketiga

menunjukkan

koefisien

korelasinya

memperlihatkan beda nyata serta dengan ukuran sebesar t hitung 9,4769 dan t
tabel 3,182. Sehingga keduanya saling berpengaruh terhadap hasil.

B. Saran

Seharusnya dalam praktikum ini sebaiknya praktikan dalam menganalisis dan


memperhitungkan nilai korelasi dapat dilakukan dengan teliti.

22

DAFTAR PUSTAKA

Chandrasari, dkk. 2003. Uji Daya hasil delapan galur Harapan Padi Sawah (Oryza
sativa L.). Peneliti Balai Pengembangan Teknologi Pertanian Yogyakarta.

23

Desta W, Widodo I, Sobir, Trikoesoemaningtyas,Sopandie S. 2006. Pemilihan


Karakter Agronomi Untuk Menyusun Indeks Seleksi Pada 11 Populasi
Kedelai Generasi F6. Bul.Agron.(34)(1) 19-24.
Freund, John E and Benjamin M. Perles. 1999. Statistics A First Course. Prentice Hall
Upper Saddle River, New Jersey.
Mohammadi SA, Prasanna BM, Singh NN. 2003. Sequential Path Model for
Determining Interrelationships Among Grain Yield and Related Characters
in Mize. Crop Science. 43:1690-1697.
Nasir,M.2001.Pengantar Pemuliaan Tanaman. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.
Nasoetion, Andi H. dan Barizi. 1976. Metode Statistika. Gramedia, Jakarta.
Nasution, M.A. 2010. Analisis Korelasi dan Sidik Lintas Antara Karakter Morfologi
dan Komponen Buah Tanaman Nenas (Ananas comosus L. Merr.). Jurnal
Agro. Vol. 3 No. 1. Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas
45. Makassar.
Nugrahaeni, N. 2001. Korelasi dan Keheritabilitas Beberapa sifat Kuantitatif
KacangTanah di Lingkungan Cekaman Air dan Cekaman Lingkungan.
Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan 14(1):32-38.
Pangestu Subagyo dan Djarwanto Ps. 2000. Statistik Induksi Edisi Keempat. PT BPPE.
Yogyakarta.
Poespodarsono.1988. Dasar-dasar ilmu Pemuliaan Tanaman. PAU-IPB Bekerjasama
dengan Lembaga Sumber Daya Informasi IPB. Bogor.163p.
Py C,Lacoeuilhe JJ, C Teisson.1987. The pineapple,Cultivation and Uses.Paris,568 p.
Qosim WA, Kurniawan A, Marwoto B, Badriah DS. 2000. Stabilitas Parameter
Genetik Mutan mutan Krisan Generasi VM3. Laporan Hasil Penelitian
LembagaPenelitian Universitas Padjajaran.Jatinangor.
Ritonga, A.1987. Statistik Terapan untuk Penelitian. Penerbit UI. Jakarta.
Schefler, William C. 1987. Statistika Untuk Biologi, Farmasi, Kedokteran, Dan Ilmu
Yang Bertautan. Penerbit ITB, Bandung.
Singh RK, dan Chaudhary BD. 1979. Biometrical Methods in Quantitative Genetics
Analysis. New Delhi:Kalyani Publishers. 302p.
Soepomo, R. 1968. Ilmu Seleksi dan Teknik Kebun Percobaan. PT. Soeroengan,
Jakarta.
Sudarmadji, R.M., dan Sudarmo H. 2007. Variasi Genetik, Heritabilitas dan Korelasi
Genotipik Sifat-Sifat Penting Tanaman Wijen (Sesamum indicum L.). Jurnal
LITTRI Vol.13 No.3. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat. Malang.
Sudibyo MT. 1992. Pengaruh Umur Petik Buah Nanas Subang Terhadap Mutu.
Jurnal Hortikultura. 2(2): 36-42.
Sudjana.1983. Teknik Analisis Regresi dan Korelasi. Tarsito, Bandung.
Sudjana. 1986. Metode Statiktik. Tarsito, Bandung.
Sutrisno, Hadi. 2000. Statistik Jilid 2. Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM,
Yogyakarta.

24