Anda di halaman 1dari 31

BAB II

TINJAUAN KASUS

A; Pengertian Pengorganisasian

Pengertian pengorganisasian menurut Swansburg (2000) adalah


pengelompokan aktivitas-aktivitas untuk tujuan mencapai objektif, penugasan
suatu kelompok manager dengan autoritas pengawasan setiap kelompok, dan
menentukan cara dari pengorganisasian aktivitas yang tepat dengan unit lain,
baik secara vertikal maupun horizontal, yang bertanggungjawab untuk
mencapai objektif organisasi. Pada tahap pengorganisasian ini hubungan
ditetapkan, prosedure diuraikan, perlengkapan disiapkan, dan tugas diberikan
(Marquis & Huston 2003). Penting untuk diingat bahwa pada fungsi
pengorganisasian ini harus terlihat pembagian tugas dan tanggungjawab staf
yang akan melakukan kegiatan masing-masing.

B; Konsep Pengorganisasian

Dalam menganalisa pengaruh pola formal organisasional pada sifat


dasar komunikasi antara para pekerja, perlu untuk mengerti konsep sebagai
berikut:
1; Peran
Peran diartikan sebagai suatu set perilaku dan sikap yang
diharapkan dari seseorang oleh mereka yang berinteraksi dengannya.
Peran seseorang diartikan oleh harapan - harapan orang lain, individu
tersebut sangat bergantung pada harapan mereka bagi aspek identitas
pribadinya. Sepanjang hidupnya seseorang memegang serangkaian peran,
yang berubah dengan perubahan keadaan hidupnya. Sebagai pekerja
sebuah departemen keperawatan, perawat dapat memegang beberapa peran
jabatan pada waktu yang sama. Kepala perawat tertentu merupakan
bawahan bagi atasannya, seorang supervisor bagi staf perawatnya, rekan
kerja kepala perawat lainnya dan mungkin kepala panitia atau konsultan

bagi para pekerja di divisi lain dalam organisasinya. Karena perbedaan


sikap dan perilaku diperlukan dalam pelaksanaan masing - masing peran,
kepala perawat yang telah diuraikan di atas harus sering " merubah
seragam " selama hari kerjanya, penyesuaian dan penyesuaian ulang
ekspresi wajah, bahasa tubuh, nada suara dan bahasa untuk memenuhi
harapan pihak yang berkepentingan lainnya yang telah mengartikan setiap
peran.
2; Kekuasaan

Kekuasaan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi orang


lain agar bersikap sesuai dengan harapan seseorang. Karena kekuasaan
tumbuh dari interaksi manusia, kekuasaan tidak bersifat statis, tetapi terus
menerus berubah. Perolehan kekuasaan oleh perawat perorangan
tampaknya memudahkan perolehan kekuasaan yang lebih besar dalam
situasi yang sama. Kemungkinan karena meningkatnya

jumlah

komunikasi dengan yang lain atau perubahan dalam kualitas komunikasi


tersebut. Begitu juga sebaliknya, kehilangan kekuasaan seorang pekerja
bisa mengubah hubungan timbal baliknya dengan yang lain sehingga
membuatnya terus menerus kehilangan kekuasaan seiring dengan waktu.
Kekuasaan terdiri dari beberapa jenis yaitu: kekuasaan memberikan
penghargaan ( Reward power ) adalah kesanggupan untuk memberikan
penghargaan terhadap yang lain, kekuasaan paksaan ( Coercive power )
adalah kesanggupan untuk menerapkan hukuman kepada yang lain.
Menejer perawat dapat menghukum seorang pegawai melalui penurunan
pangkat, skors, atau pemecatan. Kekuasaan referensi ( Referent power )
adalah kemampuan mengilhami kebanggaan tertentu pada yang lain
sehingga mereka berharap untuk mengidentifikasikan diri mereka sendiri
dengan obyek kekaguman mereka. Kekuasaan ahli ( Expert power )
merupakan kemampuan untuk meyakinkan yang lain supaya seseorang
memiliki derajat pengetahuan dan keahlian tinggi dalam area spesialisasi.

3; Status

Konsep status berhubungan erat dengan konsep kekuasaan. Status


dapat diartikan sebagai urutan penganugerahan suatu kelompok kepada
seseorang yang sesuai dengan penilaian mereka atas pekerjaan dan
sumbangsihnya. Derajat status yang diberikan kepada pekerjaan tertentu
erat kaitannya dengan jarak dari hierarki organisasi tingkat atas, jumlah
keahlian yang diperlukan dalam melaksanakan tugas kerja tersebut, derajat
pelatihan khusus, atau pendidikan yang diperlukan bagi posisi tersebut,
tingkat tanggung jawab dan otonomi yang diharapkan dalam pelaksanaan
kerja dan gaji yang didapat dari jabatan tersebut. Status masing - masing
perawat tergantung pada posisi dari departemen kesehatan dalam tabel
organisasi unit kerjanya. Status sebuah kelompok dikaitkan dengan
kemampuannya dalam mendapatkan sumber daya yang dibutuhkan untuk
mencapai tujuan kelompok. Kebanyakan perawat percaya bahwa tujuan
keperawatan bagi perawatan klien dan kesembuhannya sama pentingnya
dengan kesejahteraan klien seperti juga dengantujuan pengobatan medis
atau tujuan administrasi keuangannya.
4; Wewenang

Konsep wewenang secara berbelit - belit dihubungkan dengan


konsep tanggung jawab. Jabatan pada hierarki keperawatan puncak
dihubungkan dengan lapisan atas dari tanggung jawab dan wewenang. Jadi
status yang tinggi dihubungkan dengan wewenang yang memberi status
pekerjaan tinggi bagaimanapun dapat diserahkan pada jabatan di lapisan
rendah struktur organisasi.
5; Kepusatan ( Centrality )

Konsep sentralisasi / kepusatan organisasi mengacu pada kenyataan


bahwa beberapa jabatan ditempatkan sedemikian rupa dalam struktur
organisasi sehingga melibatkan si pemegang jabatan ke dalam seringnya
komunikasi dengan sejumlah besar pekerja lainnya. Sebaliknya, jabatan
lainnya ditempatkan sedemikian rupa sehingga terjadi sedikit komunikasi

di antara pemegang jabatan dengan yang lainnya. Dengan menggunakan


skema organisasi lembaga tersebut, adalah mungkin untuk menghitung
jumlah langkah atau pertukaran

pembicaraan yang diperlukan guna

menyampaikan informasi kepada jabatan yang diberikan dari setiap posisi


lain dalam jaringan kerja tersebut. Jumlah langkah bagi orang atau jabatan
tertentu disebut total jarak organisasi. Penambahan jarak perseorangan
bagi semua pegawai dalam organisasi dan membaginya dengan jumlah
pegawai akan menghasilkan jarak rata - rata organisasi

( Average

organizational distance ) bagi semua jabatan dalam struktur itu. Dengan


membandingkan total jarak organisasi seseorang dengan jarak rata - rata
bagi seluruh struktur, seseorang dapat menentukan setiap jarak relatif
organisasi ( Relative organizational distance ) pegawai. Para pegawai
dengan jarak relatif organisasi yang terkecil adalah yang paling pokok
dalam struktur tersebut. Mereka lebih banyak menerima informasi yang
berhubungan dengan kerja di banding pekerja pokok. Terhadap pekerja
yang berpengetahuan, informasi adalah bahan mentah untuk produksi.
Karena pekerja yang lebih terpusat secara organisasi seharusnya lebih
produktif dibanding pekerja yang kurang terpusat.
6; Komunikasi ( Communication )

Semua pekerjaan dalam sebuah kelompok manusia dilakukan


melalui dan karena komunikasi antar pekerja. Komunikasi biasa diartikan
sebagai pengiriman informasi dan opini antar manusia. Diperlukan
pendahuluan pesan oleh si pengirim dan persepsi pesan yang sama oleh si
penerima

pesan.

Kebanyakan

ahli

komunikasi

percaya

bahwa

penangkapan pesan tersebut merupakan aspek yang lebih kritis dari proses
dan usaha memperbaiki kualitas serta akurasi komunikasi sebaiknya
dimulai dengan mengajari manusia bagaimana mendengar secara
bersungguh - sungguh dan kritis terhadap semua aspek pesan yang dikirim.
Adalah mungkin untuk melatih pengirim pesan agar mengatur, mengulang,
dan merangkum informasi sehingga memaksimalkan pengertian oleh si
penerima pesan. Pengirim pesan dapat diajari

memperkuat isi verbal

setiap pesan dengan ekspresi yang sesuai dan gerak isyarat untuk
menekankan konsep kunci serta untuk mendapatkan masukan dari si
penerima pesan sebagai tanda atas keefektifan komunikasi.

C; Prinsip-Prinsip Pengorganisasian

Untuk mencapai tujuan dalam pengorganisasian diperlukan prinsip prinsip sebagai berikut :
1; Prinsip rantai komando

Rantai komando menyatakan bahwa untuk memuaskan anggota,


efektif secara ekonomis dan berhasil dalam mencapai tujuan mereka,
organisasi dibuat dengan hubungan hierarkis dalam alur autoritas dari atas
ke bawah. Prinsip ini mendukung struktur mekanistis dengan autoritas
sentral yang mensejajarkan autoritas dan tanggung jawab. Komunikasi
terjadi sepanjang rantai komando dan cenderung satu arah ke bawah. Pada
organisasi keperawatan modern, rantai komando ini adalah datar, dengan
garis menejer dan staf teknis serta administrasi yang mendukung stap
perawat teknis.
2; Prinsip kesatuan komando

Kesatuan komando menyatakan bahwa seorang pekerja mempunyai


satu penyelia dan terdapat satu pimpinan dan satu rencana untuk kelompok
aktifitas dengan obyektif yang sama. Prinsip ini masih diikuti pada
kebanyakan organisasi keperawatan tetapi masih terus dimodifikasi dengan
memunculkan teori organisasi. Keperawatan primer dan manajemen kasus
mendukung prinsip kesatuan komando ini, seperti juga praktek bersama.
3; Prinsip rentang kontrol

Rentang kontrol menyatakan bahwa individu harus menjadi


penyelia suatu kelompok bahwa ia dapat mengawasi secara efektif dalam
hal jumlah, fungsi, dan geografi. Prinsip asal ini telah menjadi elastis
makin sangat terlatih pekerja makin kurang pengawasan yang diperlukan.
Pekerja dalam masa latihan memerlukan lebih banyak pengawasan untuk

mencegah terjadinya kesalahan. Bila digunakan tingkat yang berbeda dari


pekerja

keperawatan,

menejer

perawat

harus

lebih

banyak

mengkoordinasikan.
4; Prinsip spesialisasi

Spesialisasi

menyatakan

bahwa

setiap

orang

harus

dapat

menampilkan satu fungsi kepemimpinan tunggal. Sehingga ada divisi


tenaga kerja : suatu perbedaan di antara berbagai tugas. Spesialisasi
dianggap oleh kebanyakan orang menjadi cara terbaik untuk menggunakan
individu dan kelompok. Rantai komando menggabungkan kelompok
-kelompok dengan spesialitas yang menimbulkan fungsi departementalis.
5; Prinsip pembagian kerja

Merupakan perincian dan pengelompokan aktifitas yang semacam


atau erat hubungannya satu sama lain yang dilakukan oleh suatu bagian
atau unit kerja tertentu. Prinsip dasarnya adalah untuk mencapai efisiensi
pelaksanaan kerja dimana orang mengerjakan kegiatan tertentu sesuai
dengan kemampuannya. Hal - hal yang harus diperhatikan dalam
pembagian kerja adalah :
a; Setiap unit kerja mempunyai perincian tugas dan aktifitas yang
b;
c;
d;
e;
f;

akan

dilakukan, secara jelas dan tegas.


Setiap staf atau anggota organisasi harus memiliki perincian tugas,
tanggung jawab dan wewenang.
Beban tugas yang diberikan kepada staf atau unit organisasi harus
sesuai dengan kemampuan.
Variasi tugas yang diberikan hendaknya diusahakan yang sejenis atau
erat hubungannya satu sama yang lain.
Penempatan staf harus tepat dan sesuai.
Penambahan atau pengurangan tenaga harus berdasarkan beban kerja.
Dalam pembagian kerja ada beberapa dasar yang perlu diperhatikan

yang dapat dipakai sebagai pedoman :


a; Pembagian kerja atas dasar wilayah atau teritorial, misalnya koordinator

perawatan yang berada di lantai dua rumah sakit yang terdiri dari ruang

penyakit dalam kelas dua, ruang bedah umum kelas dua, dan
sebagainya.
b; Pembagian kerja atas jenis barang atau jasa yang diproduksi. Misalnya
koordinator asuhan keperawatan ruang unit bedah, koordinator
pendidikan keperawatan, koordinator pengendalian mutu pelayanan
keperawatan.
c; Pembagian kerja berdasarkan waktu / shift pagi, siang, dan malam.
d; Pembagian atas dasar konsumer yang dilayani, misalnya perawat yang
khusus merawat klien dengan penyakit kulit, THT, dan lain - lain.

D; Pengertian MPKP

Model praktik keperawatan profesional (MPKP) adalah suatu sistem


(struktur, proses dan nilai-nilai profesional), yang memfasilitasi perawat
profesional, mengatur pemberian asuhan keperawatan, termasuk lingkungan
tempat asuhan tersebut diberikan. (Ratna sitorus & Yulia, 2006).
Model Asuhan Keperawatan Profesional adalah sebagai suatu sistem
(struktur, proses dan nilai- nilai) yang memungkinkan perawat profesional
mengatur pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan untuk
menopang pemberian asuhan tersebut (Hoffart & Woods, 1996).
Model praktik keperawatan profesional (MPKP) adalah suatu sistem
(struktur, proses dan nilai-nilai profesional), yang memfasilitasi perawat
profesional, mengatur pemberian asuhan keperawatan, termasuk lingkungan
tempat asuhan tersebut diberikan. Aspek struktur ditetapkan jumlah tenaga
keperawatan berdasarkan jumlah klien sesuai dengan derajat ketergantungan
klien. Penetapan jumlah perawat sesuai kebutuhan klien menjadi hal penting,
karena bila jumlah perawat tidak sesuai dengan jumlah tenaga yang
dibutuhkan, tidak ada waktu bagi perawat untuk melakukan tindakan
keperawatan.
Selain jumlah, perlu ditetapkan pula jenis tenaga yaitu PP dan PA,
sehingga peran dan fungsi masing-masing tenaga sesuai dengan kemampuan
dan terdapat tanggung jawab yang jelas. Pada aspek struktur ditetapkan juga
standar renpra, artinya pada setiap ruang rawat sudah tersedia standar renpra

berdasarkan diagnosa medik dan atau berdasarkan sistem tubuh. Pada aspek
proses ditetapkan penggunaan metode modifikasi keperawatan primer
(kombinasi metode tim dan keperawatan primer).
E;

Tujuan MPKP
1; Menjaga konsistensi asuhan keperawatan
2; Mengurangi konflik, tumpang tindih dan kekosongan pelaksanaan asuhan
keperawatan oleh tim keperawatan.
3; Menciptakan kemandirian dalam memberikan asuhan keperawatan.
4; Memberikan pedoman dalam menentukan kebijakan dan keputusan.
5; Menjelaskan dengan tegas ruang lingkup dan tujuan asuhan keperawatan
bagi setiap tim keperawatan

F;

Komponen-Komponen MPKP
Terdapat 4 komponen utama dalam model praktek keperawatan
professional, yaitu sebagai berikut :
1;

Ketenagaan Keperawatan
Menurut Douglas(1984) dalam suatu pelayanan profesional, jumlah
tenaga yang diperlukan tergantung pada jumlah pasien dan derajat
ketergantungan pasien. Menurut Loveridge & Cummings (1996)
klasifikasi derajat ketergantungan pasien dibagi 3 kategori, yaitu :
a; Perawatan minimal : memerlukan waktu 1 2 jam/24 jam ang terdiri

atas :
1; Kebersihan diri, mandi, ganti pakaian dilakukan sendiri
2; Makan dan minum dilakukan sendiri
3; Ambulasi dengan pengawasan
4; Observasi tanda-tanda vital dilakukan setiap shift
5; Pengobatan minimal, status psikologis stabil
6; Persiapan prosedur memerlukan pengobatan
b; Perawatan intermediet : memerlukan waktu 3 4 jam/24 jam yang
terdiri atas :
1; Kebersihan diri dibantu, makan minum dibantu

2; Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam


3; Ambulasi dibantu, pengobatan lebih dari sekali
4; Voley kateter/intake output dicatat
5; Klien

dengan pemasangan infus, persiapan pengobatan,


memerlukan prosedur
c; Perawatan maksimal/total : memerlukan waktu 5 6 jam/24 jam :
1; Segala diberikan/dibantu
2; Posisi yag diatur, observasi tanda-tanda vital setiap 2 jam
3; Makan memerlukan NGT, menggunakan terapi intravena
4; Pemakaian suction
5; Gelisah/disorientasi
Menurut Douglas (1984) ada beberapa kriteria jumlah perawat
yang dibutuhkan perpasien untuk dinas pagi, sore dan malam.

2;

Waktu Klasifikasi

Pagi

Sore

Malam

Minimal

0,17

0,14

0,10

Partial

0,27

0,15

0,07

Total

0,36

0,30

0,20

Metoda pemberian asuhan keperawatan


a; Metode Tim
Yaitu

pengorganisasian

pelayanan

keperawatan

oleh

sekelompok perawat. Kelompok ini dipimpin oleh perawat yang


berijazah dan berpengalaman serta memiliki pengetahuan dalam
bidangnya.
Pembagian tugas di dalam kelompok dilakukan oleh
pemimpin kelompok, selain itu pemimpin kelompok bertanggung
jawab dalam mengarahkan anggota tim.sebelum tugas dan menerima
laporan kemajuan pelayanan keperawatan klien serta membantu
anggota tim dalam menyelesaikan tugas apabila mengalami
kesulitan. Selanjutnya pemimpin tim yang melaporkan kepada
kepala

ruangan

keperawatan klien.

tentang

kemajuan

pelayanan

atau

asuhan

Metode ini menggunkan tim yang terdiri dari anggota yang


berbeda-beda dalam memberikan askep terhadap sekelompok pasien.
Ketenagaan dari tim ini terdiri dari :
1;
2;
3;

Ketua tim
Pelakaana perawatan
Pembantu perawatan
Adapun tujuan dari perawatan tim adalah : memberikan

asuhan yang lebih baik dengan menggunakan tenaga yang tersedia.


Kelebihan metode tim :
1;
2;
3;
4;
5;
6;

Saling memberi pengalaman antar sesama tim.


Pasien dilayani secara komfrehesif
Terciptanya kaderisasi kepemimpinan
Tercipta kerja sama yang baik .
Memberi kepuasan anggota tim dalam hubungan interpersonal
Memungkinkan menyatukan anggota tim yang berbeda-beda
dengan aman dan efektif.

Kekurangan metode tim:


1;
2;

3;

4;

Tim yang satu tidak mengetahui mengenai pasien yang bukan


menjadi tanggung jawabnya.
Rapat tim memerlukan waktu sehingga pada situasi sibuk rapat
tim ditiadakan atau trburu-buru sehingga dapat mengakibatkan
kimunikasi dan koordinasi antar anggota tim terganggu sehingga
kelanncaran tugas terhambat.
Perawat yang belum terampil dan belum berpengalaman selalu
tergantung atau berlindung kepada anggota tim yang mampu
atau ketua tim.
Akuntabilitas dalam tim kabur.

Peran Kepala Ruang dalam tahap:


1; Pengkajian : Mengidentifikasi masalah terkait fungsi manajamen
2; Perencanaan :

Fungsi perencanaan dan fungsi ketenagaan


a;

Menunjuk Ka Tim

Mengikuti serah terima klien


c; Mengidentifikasi tingkat ketergantungan
d; Mengidentifikasi
jumlah perawat yang dibutuhkan
berdasarkan aktifitas dan kebutuhan klien
e; Merencanakan strategi pelaksanaan keeperawatan
f; Merencanakan lgistik ruangan/failitas ruangan
g; Melakukan pendokumentasian
3; Implementasi :
a; Fungsi pengorganisasian :
Merumuskan system penugasan
Menjelaskan rincian tugas Ketua Tim
Menjelaskan rentang kendali di ruang rawat
b;

Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan diruang


rawat
Mengatur dan mengendalikan logistik ruangan/fsilitas
ruangan
Mengatur dan mengendalikan situasi lahan praktik
Mendelegasikan tugas kepada ketua Tim
b; Fungsi pengarahan:
Memberikan pengarahan kepada ketua Tim
Memberikan motivasi dalam meningkatkan pengetahuan,
ketrampilan dan sikap anggota Tim
Memberi pujian kepada anggota Tim yang melaksanakan
tugas dengan baik
Membimbing bawahan
Meningkatkan kolaborasi dengan anggota tim
Melakukan supervisi
Memberikan informasi tentang hal-hal yang berhubungan
dengan yankep diruangan
Melakukan pelaporan dan pendokumentasian
4; Evaluasi
Fungsi Pemgendalian
a; Mengevaluasi kinerja katim
b; Memberikan umpan balik pada kinserja katim

c;
d;
e;

Mengatasi masalah di ruang rawat dan menetapkan tidak


lanjut
Memperhatikan aspek legal dan etik keperawatan
Melakukan pelaporan dan pendokumentasian

Peran Ketua Tim dalam tahap


a;
b;

Pengkajian : mengumpukan data kesehatan klien


Perencanaan :

Fungsi perencanaan dan ketenagaan :


a;
b;
c;
d;
e;
f;
g;

Bersama Karu melaksanakan serah terima tugas


Bersama karu melaksanakan pembagian tugas
Menyusun rencana asuhan keperawatan
Menyiapkan keperluan untuk melaksanakan asuhan
keperawatan
Melakukan ronde keperawatan bersama kepala ruangan
Mengorientasikan klien baru pada lingkungan
Melakukan pelaporan dan pendokumantasian

Peran Ketua Tim dalam tahap


1; Pengkajian : mengumpukan data kesehatan klien
2; Perencanaan :

Fungsi perencanaan dan ketenagaan :


Bersama Karu melaksanakan serah terima tugas
b; Bersama karu melaksanakan pembagian tugas
c; Menyusun rencana asuhan keperawatan
d; Menyiapkan keperluan untuk melaksanakan asuhan
keperawatan
e; Melakukan ronde keperawatan bersama kepala ruangan
f; Mengorientasikan klien baru pada lingkungan
g; Melakukan pelaporan dan pendokumantasian
3; Implementasi
a; Fungsi pengorganisasian:
Menjelaskan tujuan pengorganisasian tim keperawatan
Membagi pekerjaan sesuai tingkat ketergantungan pasien
a;

Membuat rincian tugas anggota tim dalam keperawatan


Mampu mengkoordinir pekerjaan yang harus dilakukan
bersama tim kesehatan lain
Mengatur waktu istirahat anggota tim
Mendelegasikan proses asuhan keperawatan pada anggota
tim
Melakukan pelaporan dan pendokumentasian
b; Fungsi pengarahan :
Memberikan pengarahan kepada anggota tim
Memberikan bimbingan pada anggota tim
Memberikan infromasi yang berhubungan dengan askep
Mengawasi proses pemberian askep

Melibatkan anggota tim sampai awal dan akhir kegiatan


Memberikan pujian/motivasi kepada anggota tim
Melakukan pelaporan dan pendokumentasian
4; Evaluasi
Fungsi pengendalian :
a; Mengevaluasi asuhan keperawatan
b; Memberikan umpan balik pada pelaksana
c; Memperhatikan aspek legal dan etik
d; Melakukan pelaporan dan pendokumantasian
Peran pelaksana dalam tahap :
1; Pengkajian : mengkaji kesiapan klien dan diri sendiri untuk

melaksanakan asuhan keperawatan.


2; Perencanaan:
Fungsi perencanaan dan ketenagaan :
a; Bersama Karu mengadakan serah terima tugas
b; Menerima pembagian tugas dari katim
c; Bersama
katim
menyiapkan
keperluan
untuk
melaksanakan asuhan keperawatan
d; Mengikuti ronde keperawatan
e; Menerima klien baru
3; Implementasi
a; Fungsi pengorganisasian :
Menerima penjelasan tujuan pengorganisasian tim

Menerima pembagian tugas


Melaksanakan tugas yang diberikan oleh katim
Melaksanakan program kolaborasi dengan tim
kesehatan lain
Menyesuaikan waktu istirahat dengan anggota tim
lainnya
Melaksanakan asuhan keperawatan
Menunjang pelaporan, mencatat tindakan keperawatan
yang dilaksanakan
b; Fungsi pengarahan :
Menerima pengarahan dan bimbingan dari katim
Menerima informasi yang berkaitan dengan askep dan
melaksanakan askep dengan etik dan legal
Memahami pemahaman yang telah dicapai
Menunjang pelaporan dan pendokumentasian
4; Evaluasi
Fungsi pengendalian :
Menyiapkan menunjukkan bahan yang diperlukan untuk
proses evaluasi serta ikut mengevaluasi kondisi pasien.
b;

Metode Primary Team


Yaitu pemberian askep yang ditandai dengan keterikatan kuat
dan terus menerus antara pasien dan perawat yang ditugaskan untuk
merencanakan, melakukan dan mengkoordinasikan askep selama
pasien dirawat.
Tugas perawat primer adalah :
1; Menerima pasien
2; Mengkaji kebutuhan
3; Membuat tujuan, rencana, pelaksanaan dan evaluasi.
4; Mengkoordinasi pelayanan
5; Menerima dan menyesuaikan rencana
6; Menyiapkan penyuluhan pulang

Konsep dasar :

1; Ada tanggung jawab dan tanggung gugat


2; Ada otonomi.
3; Ada keterlibatan pasien dan keluarganya

Ketenagaan :
1; Setiap perawat primer adalah perawat bed. side.
2; Beban kasus pasien maksimal 6 pasien untuk 1 perawat
3; Penugasan ditentukan oleh kepala bangsal.
4; Perawat profesional sebagai primer dan perawat non profesional

sebagai asisten.
Kepala bangsal :
1; Sebagai konsultan dan pengendali mtu perawat primer
2; Orientasi dan merencanaka karyawan baru.
3; Menyusun jadwal dinas
4; Memberi penugasan pada perawat asisten.

Kelebihan dari metode perawat primer:


1; Mendorong kemandirian perawat.
2; Ada keterikatan pasien dan perawat selama dirawat
3; Berkomunikasi langsung dengan Dokter
4; Perawatan adalah perawatan komprehensif
5; Model praktek keperawatan profesional dapat dilakukan atau

diterapkan.
6; Memberikan kepuasan kerja bagi perawat
7; Memberikan kepuasan bagi klien dan keluarga menerima asuhan
keperawatan.
Kelemahan dari metode perawat primer:
1; Perlu kualitas dan kuantitas tenaga perawat
2; Hanya dapat dilakukan oleh perawat profesional.
3; Biaya relatif lebih tinggi dibandingkan metode lain.

Peran Kepala Ruang :


1; Sebagai konsultan dan pengendalian mutu perawatan primer
2; Orientasi dan merencanakan karyawan baru
3; Menyusun jadual dinas

4; Memberi penugasan pada perawat asisten/asosiat (PA)


5; Evaluasi kerja
6; Merencanakan /menyelenggarakan pengembangan staf

Peran Perawat Primer :


1;
2;
3;
4;
5;
6;
7;
8;
9;
10;
11;
12;
13;

Menerima pasien
Mengkaji kebutuhan pasien untuk asuhan
Membuat tujuan
Membuat rencana keperawatan
Melakukan konferens untuk menjelaskan rencana asuhan kepada
PA yang menjadi anggota timnya.
Melaksanakan rencana yang telah dibuat selama dinas bersama
PA yang menjadi anggota timnya.
Melakukan kolaborasi dengan t9im kesehatan lainnya.
Memantau PA dalam melaksanakan rencana asuhan
keperawatan.
Mengkoordinasi pelayanan yang diberikan oleh disiplin lain
maupun perawat lain
Mengevaluasi keberhasilan yang dicapai
Menerima dan menyesuaikan rencana
Menyiapkan penyuluhan untuk pulang
Melakukan pendokumentasian (catatan perkembangan, catatan
tindakan keperawatan)

Peran Perawat Asosiat :


1; Mengikuti konferens untuk menerima penjelasan tentang asuhan

yang direncanakan oleh PP.


2; Melaksanakan asuhan keperawatan yang telah dibuat oleh PP
3; Memberi informasi/masukan yang diperlukan kepada PP tentang
klien untuk keperluan asuahan keperawatan selanjutnya.
4; Mencatat tindakan keperawatan yang telah dilakukan dalam
catatan tindakan keperawatan.
c; Metode Fungsional
Model

fungsional

dilaksanakan

oleh

perawat

dalam

pengelolaan asuhan keperawatan sebagai pilihan utama pada saat

perang dunia kedua. Pada saat itu karena masih terbatasnya jumlah
dan kemampuan perawat maka setiap perawat hanya melakukan 1
2 jenis intervensi keperawatan kepada semua pasien di bangsal.
Model ini berdasarkan orientasi tugas dari filosofi keperawatan,
perawat melaksanakan tugas ( tindakan) tertentu berdasarkan jadwal
kegiatan yang ada (Nursalam, 2002).
Kerugian metode fungsional:
1; Pasien mendapat banyak perawat.
2; Kebutuhan pasien secara individu sering terabaikan
3; Pelayanan pasien secara individu sering terabaikan.
4; Pelayanan terputus-putus
5; Kepuasan kerja keseluruhan sulit dicapai

Kelebihan dari metode fungsional :


1; Sederhana
2; Efisien.
3; Perawat terampil untuk tugas atau pekerjaan tertentu.
4; Mudah memperoleh kepuasan kerja bagi perawat setelah selesai

tugas.
5; Kekurangan tenaga ahli dapat diganti dengan tenaga yang kurang
berpengalaman untuk satu tugas yang sederhana.
6; Memudahkan kepala ruangan untuk mengawasi staff atau peserta
didik yang praktek untuk ketrampilan tertentu.
d; Metode Kasus
Setiap perawat ditugaskan untuk melayani seluruh kebutuhan
pasien saat ia dinas. Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda
untuk setiap shift dan tidak ada jaminan bahwa pasien akan dirawat
oleh orang yang sama pada hari berikutnya. Metode penugasan kasus
biasa diterapkan satu pasien satu perawat, dan hal ini umumnya
dilaksanakan untuk perawat privat atau untuk keperawatan khusus
seperti isolasi, intensive care.Metode ini berdasarkan pendekatan
holistik dari filosofi keperawatan. Perawat bertanggung jawab

terhadap asuhan dan observasi pada pasien tertentu (Nursalam,


2002).
Kekurangan metode kasus :
1;

2;
3;
4;

Kemampuan tenga perawat pelaksana dan siswa perawat yang


terbatas sehingga tidak mampu memberikan asuhan secara
menyeluruh
Membutuhkan banyak tenaga.
Beban kerja tinggi terutama jika jumlah klien banyak sehingga
tugas rutin yang sederhana terlewatkan.
Pendelegasian perawatan klien hanya sebagian selama perawat
penaggung jawab klien bertugas.

Kelebihan metode kasus:


Kebutuhan pasien terpenuhi.
2; Pasien merasa puas.
3; Masalah pasien dapat dipahami oleh perawat.
4; Kepuasan tugas secara keseluruhan dapat dicapai.
e; Metode Modul / Distrik
1;

Yaitu metode gabungan antara Metode penugasan tim dengan


Metode perawatan primer. Metode ini menugaskan sekelompok
perawat merawat pasien dari datang sampai pulang.
Keuntungan dan Kerugian sama dengan gabungan antara
metode tim dan metode perawat primer.
d; Metode MPKP

Suatu sistem (Struktur, Proses dan nilai-nilai profesional)


yang memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian
asuhan keperawatan termasuk lingkungan, yang dapat menopang
pemberian

asuhan

tersebut

(Hoffart&Woods,

1996

dalam

Sitorus,2005).
Peningkatan profesionalisme keperawatan di Indoneasia
dimulai sejak diterima dan diakui sebagai suatu profesi pada
Lokakarya Nasional Keperawatan (1983). Sejak itu berbagai upaya

telah dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional, Departemen


Kesehatan, dan organisasi profesi dengan terus mengembangkan
keperawatan diantaranya membuka pendidikan pada tingklat sarjana,
mengembangkan kurikulum keperawatan dan mengembangkan
standar praktik keperawatan.
e; Proses Keperawatan

Proses

keperawatan

merupakan

proses

pengambilan

keputusan yang dilakukan perawat dalam menyusun kegiatan asuhan


secara bertahap. Kebutuhan dan masalah pasien merupakan titik
sentral dalam pengambilan keputusan. Pendekatan ilmiah yang
fragmatis dalam pengambilan keputusan adalah :
1;
2;
3;
4;

Identifikasi masalah
menyusun alternatif penyelesaikan masalah
pemilihan cara penyelesaian masalah yang tepat dan
melaksanakannya
evaluasi hasil dari pelaksanaan alternatif penyelesaian masalah
Seluruh langkah pengambilan keputusan ini tertuang pada

langkah-langkah proses keperawatan yaitu:


pengkajian fokus pada keluhan utama dan eksplorasi lebih
holistic
2; diagnosis yaitu menetapkan hubungan sebab akibat dari masalah
masalah keperawatan
3; rencana tindakan untuk menyelesaikan masalah
4; implementasi rencana dan
5; evaluasi hasil tindakan.
f; Dokumentasi Keperawatan
1;

Dokumentasi keperawatan merupakan unsur penting dalam


sistem pelayanan keperawatan, karena melalui pendokumentasian
yang baik, maka informasi mengenai keadaan Kesehatan pasien
dapat

diketahui

secara

berkesinambungan.

Disamping

itu,

dokumentasi merupakan dokumen legal tentang pemberian asuhan

keperawatan. Secara lebih spesifik, dokumentasi berfungsi sebagai


sarana komunikasi antar profesi Kesehatan, sumber data untuk
pemberian asuhan keperawatan, sumber data untuk penelitian,
sebagai bahan bukti pertanggung jawaban dan pertanggung gugatan
asuhan keperawatan.
Dokumen dibuat berdasarkan pemecahan masalah pasien.
Dokumentasi berdasarkan masalah terdiri dari format pengkajian,
rencana keperawatan, catatan tindakan keperawatan, dan catatan
perkembangan pasien.
Berdasarkan MPKP yang sudah dikembangkan di berbagai
rumah sakit, Hoffart & Woods (1996) menyimpulkan bahwa MPKP
tediri lima komponen yaitu nilai nilai professional yang merupakan
inti MPKP, hubungan antar professional, metode pemberian asuhan
keperawatan, pendekatan manajemen terutama dalam perubahan
pengambilan keputusan serta sistem kompensasi dan penghargaan.
1;

Nilai nilai professional


Pada model ini PP dan PA membangun kontrak dengan
klien/keluarga, menjadi partner dalam memberikan asuhan
keperawatan. Pada pelaksanaan dan evaluasi renpra. PP
mempunyai

otonomi

dan

akuntabilitas

untuk

mempertanggungjawabkan asuhan yang diberikan termasuk


tindakan yang dilakukan oleh PA. hal ini berarti PP mempunyai
tanggung jawab membina performa PA agar melakukan tindakan
berdasarkan nilai-nilai profesional
2;

Hubungan antar professional


Hubungan antar profesional dilakukan oleh PP. PP yang
paling mengetahui perkembangan kondisi klien sejak awal
masuk. Sehingga mampu memberi informasi tentang kondisi
klien kepada profesional lain khususnya dokter. Pemberian
informasi yang akurat akan membantu dalam penetapan rencana
tindakan medik.

3;

Metode pemberian asuhan keperawatan


Metode pemberian asuhan keperawatan yang digunakan
adalah modifikasi keperawatan primer ehingga keputusan
tentang renpra ditetapkan oleh PP, PP akan mengevaluasi
perkembangan klien setiap hari dan membuat modifikasi pada
renpra sesuai kebutuhan klien.

4;

Pendekatan manajemen
Pada model ini diberlakukan manajemen SDM, yaitu ada
garis koordinasi yang jelas antara PP dan PA. performa PA
dalam satu tim menjadi tanggung jawab PP. Dengan demikian,
PP adalah seorang manajer asuhan keperawatan. Sebagai
seorang manajer, PP harus dibekali dengan kemampuan
manajemen dan kepemimpinan sehingga PP dapat menjadi
manajer yang efektif dan pemimpin yang efektif.

5;

Sistem kompensasi dan panghargaan.


PP dan timnya berhak atas kompensasi serta penghargaan
untuk asuhan keperawatan yang dilakukan sebagai asuhan yang
profesional. Kompensasi dan penghargaan yang diberikan
kepada perawat bukan bagian dari asuhan medis atau
kompensasi dan penghargaan berdasarkan prosedur.

G; Pilar pilar dalam Model Praktik Keperawatan Professional (MPKP)


1;

Pilar I : Pendekatan manajemen keperawatan


Dalam model praktik keperawatan mensyaratkaan pendekatan
manajemen sebagai pilar praktik perawatan professional yang pertama.
Pada pilar I yaitu pendekatan manajemen terdiri dari :
a;

Perencanaan dengan kegiatan perencanaan yang dipakai di ruang


MPKP meliputi (perumusan visi, misi, filosofi, kebijakan dan
rencana jangka pendek ; harian,bulanan,dan tahunan)

Pengorganisasian dengan menyusun stuktur organisasi, jadwal dinas


dan daftar alokasi pasien.
c; Pengarahan
Dalam pengarahan terdapat kegiatan delegasi, supervise,
menciptakan iklim motifasi, manajemen waktu, komunikasi efektif
yang mencangkup pre dan post conference, dan manajemen konflik
d; Pengawasan
e; Pengendalian.
Pilar II: Sistem penghargaan
b;

2;

Manajemen sumber daya manusia diruang model praktik


keperawatan professional berfokus pada proses rekruitmen,seleksi kerja
orientasi, penilaian kinerja, staf perawat.proses ini selalu dilakukan
sebelum membuka ruang MPKP dan setiap ada penambahan perawatan
baru.
3;

Pilar III: Hubungan professional


Hubungan professional dalam pemberian pelayanan keperawatan
(tim kesehatan) dalam penerima palayana keperawatan (klien dan
keluarga). Pada pelaksanaan nya hubungan professional secara interal
artinya hubungan yang terjadi antara pembentuk pelayanan kesehatan
misalnya antara perawat dengan perawat, perawat dengan tim kesehatan
dan lain lain. Sedangkan hubungan professional secara eksternal adalah
hubungan antara pemberi dan penerima pelayanan kesehatan.

4;

Pilar IV : manajemen asuhan keperawatan


Salah satu pilar praktik professional perawatan adalah pelayanan
keperawat dengan mengunakan manajemen asuhan keperawatan di
MPKP tertentu. Manajemen asuhan keperawat yang diterapkan di MPKP
adalah asuhan keperawatan dengan menerapkan proses keperawatan

H; Tingkatan MPKP

Pelayanan prima keperawatan dikembangkan dalam bentuk model


praktek keperawatan profesional (MPKP), yang pada awalnya dikembangkan
oleh Sudarsono (2000) di Rumah Sakit Ciptomangunkusumo dan beberapa
rumah sakit umum lain. Menurut Sudarsono (2000), MPKP dikembangkan
beberapa jenis sesuai dengan kondisi sumber daya manusia yang ada yaitu:
1; Model praktek Keperawatan Profesional III
Tenaga perawat yang akan bekerja di ruangan ini semua
profesional dan ada yang sudah doktor, sehingga praktik keperawatan
berdasarkan evidence based. Di ruangan tersebut juga dilakukan
penelitian keperawatan, khususnya penelitian klinis.
2;

Model Praktek Keperawatan Profesional II


Tenaga perawat yang bekerja di ruangan ini mempunyai
kemampuan spesialis yang dapat memberikan konsultasi kepada perawat
primer. Di ruangan ini digunakan hasil-hasil penelitian keperawatan dan
melakukan penelitian keperawatan.

3;

Model Praktek Keperawatan Profesional I


Model ini menggunakan 3 komponen utama yaitu ketenagaan,
metode pemberian asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan.
Metode yang digunakan pada model ini adalah kombinasi metode
keperawatan primer dan metode tim yang disebut tim primer.

4;

Model Praktek Keperawatan Profesional Pemula


Model ini menyerupai MPKP I, tetapi baru tahap awal
pengembangan yang akan menuju profesional I.

I;

Peran Staf MPKP


1; Kepala Ruangan, tugasnya :
Merencanakan pekeriaan, menentukan kebutuhan perawatan
pasein, membuat penugasan, melakulan supervisi, menerima instruksi
dokter.
2;

Perawat staf :

a; Melakukan askep langsung pada pasien


b; Membantu supervisi askep yang diberikan oleh pembantu tenaga
3;

keperawatan
Perawat Pelaksana :
Melaksanakan askep langsung pada pasien dengan askep sedang,
pasein dalam masa pemulihan kesehatan dan pasein dengan penyakit
kronik dan membantu tindakan sederhana (ADL)

4;

Pembantu Perawat :
Membantu pasien dengan melaksanakan perawatan mandiri untuk
mandi, menbenahi tempat tidur, dan membagikan alat tenun bersih.

5;

Tenaga Administrasi ruangan


Menjawab telpon, menyampaikan pesan, memberi informasi,
mengerjakan pekerjaan administrasi ruangan, mencatat pasien masuk dan
pulang, membuat duplikat rostertena ruangan, membuat permintaan lab
untuk obat- obatan/persediaan yang diperlukan atas instruksi kepala
ruangan.

J;

Kegiatan MPKP
1; Timbang terima
Timbang terima adalah suatu cara dalam menyampaikan dan
menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan kedaan klien,
bertujuan:
a; Menyampaikan kondisi atau keadaan secara umum klien
b; Menyampaikan hal-hal penting yang perlu ditindaklanjuti oleh dinas

berikutnya
c; Tersusunnya rencana kerja untuk dinas berikutnya
Prosedur timbang terima, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
prosedur ini meliputi :
a; Persiapan
1;

kedua kelompok dalam keadaan siap

kelompok yang akan bertugas menyiapkan buku catatan


b; Pelaksanaan
2;

Dalam penerapannya, dilakukan timbang terima kepada masingmasing penanggung jawab:


1;
2;

3;

timbang terima dilaksanakan setiap penggantian shift/operan


dari nurse station perawat berdiskusi untuk melaksanakan timbang
terima dengan mengkaji secara komprehensif yang berkaitan
tentang masalah keperawatan klien, rencana tindakan yang sudah
dan belum dilaksanakan serta hal-hal penting lainnya yang perlu
dilimpahkan.
hal-hal yang sifatnya khusus dan memerlukan perincian yang
lengkap sebaiknya dicatat secara khusus untuk kemudian
diserahterimakan kepada perawat yang berikutnya
Hal-hal yang perlu disampaikan pada saat timbang terima adalah :

1;
2;
3;
4;
5;

identitas klien dan diagnosa medik


masalah keperawatan yang kemungkinan masih muncul
tindakan keperawatan yang sudah dan belum dilaksanakan
intervensi kolaborasi dan dependensi
rencana umum dan persiapan yang perlu dilakukan dalam kegiatan
selanjutnya,
misalnya
operasi,
pemeriksaan
laboratorium/pemeriksaan penunjang lainnya, persiapan untuk
konsultasi atau prosedur lainnya yang tidak dilaksanakan secara
rutin.
Perawat yang melakukan timbang terima daat melakukan

klarifikasi, tanya jawab dan melakukan validasi terhadap hal-hal yang


kurang jelas. Penyampaan pada saat timbang terima secara singkat dan
jelas. Lama timbang terima untuk setiap klien tidak lebih dari 5 menit
kecuali pada kondisi khusus dan memerlukan penjelasan yang lengkap
dan rinci. Pelaporan untuk timbang terima dituliskan secara langsung
pada buku laporan ruangan oleh perawat. Penyampaian operan di atas
(point c) harus dilakukan secara jelas dan tidak terburu-buru. Perawat

penanggung jawab dan anggotanya dari kedua shift bersama-sama


secara langsung melihat keadaan kien.
2; Preconference

Komunikasi kepala primer dan perawat pelaksana setelah selesai


operan untuk rencana kegiatan pada shift tersebut yang dipimpin oleh ka
primer atau penanggung jawab primer. Jika yang dinas pada primer
tersebut hanya 1 orang, maka pre conference ditiadakan. Isi pre conference
adalah rencana tiap perawat (rencana harian) dan tambahan rencana dari
kepala primer dan penanggung jawab primer. (modul mpkp,2006)
Waktu : setelah operan
b; Tempat : meja masing-masing perawat primer
c; PJ
: kepala primer atau penanggung jawab primer
d; Kegiatan :
1; Kepala primer atau penanggung jawab primer membuka acara
2; Kepala primer atau penanggung jawab primer menanyakan rencana
harian masing-masing perawat pelaksana
3; Kepala primer atau penanggung jawab primer memberikan
masukan dan tindakan lanjut terkait dengan asuhan yang diberikan
saat itu
4; Kepala primer atau penanggung jawab primer memberikan
reinforcement
5; Kepala primer atau penanggung jawab primer menutup acara
3; Post conference
a;

Komunikasi kepala primer dan perawat pelaksana tentang hasil


kegiatan sepanjang shift dan sebelum operan kepada shift berikutnya.
Isinya adalah hasil asuhan keperawatan tiap perawatan dan hal penting
untuk operan (tindak lanjut). Post conference dipimpin oleh kepala primer
atau penanggung jawab primer. (modul mpkp, 2006)
a;
b;
c;
d;

Waktu : sebelum operan ke dinas berikutnya


Tempat : meja masing-masing primer
PJ
: kepala primer atau penanggung jawab primer
Kegiatan :

1; Kepala primer atau penanggung jawab primer membuka acara


2; Kepala primer atau penanggung jawab primer menanyakan kendala

dalam asuhan yang telah diberikan


3; Kepala primer atau penanggung jawab primer menyakan tindakan
lanjut asuhan klien yang harus dioperkan kepada perawat shift
berikut nya
4; Kepala primer atau penanggung jawab primer menutup acara
4; Ronde keperawatan
Suatu

kegiatan

yang

bertujuan

untuk

mengatasi

masalah

keperawatan klien yang dilaksanakan oleh perawat, disamping klien


dilibatkan untuk membahas dan melaksanakan asuhan keperawatan akan
tetapi pada kasus tertentu harus dilakukan oleh penanggung jawab jaga
dengan melibatkan seluruh anggota tim.
Karakteristik :
a; klien dilibatkan secara langsung
b; klien merupakan fokus kegiatan
c; perawat asosiet, perawat primer dan konsuler melakukan diskusi

bersama
d; kosuler memfasilitasi kreatifitas
e; konsuler membantu mengembangkan kemampuan perawat asosiet,
perawat primer untuk meningkatkan kemampuan dalam mengatasi
masalah.
Tujuan :
a; menumbuhkan cara berfikir secara kritis
b; menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang berasal
c;
d;
e;
f;

dari masalah klien


meningkatkan vadilitas data klien
menilai kemampuan justifikasi
meningkatkan kemampuan dalam menilai hasil kerja
meningkatkan kemampuan untuk emodifikasi rencana perawatan.

Peran perawat primer dan perawat asosiet

Dalam menjalankan pekerjaannya perlu adanya sebuah peranan


yang bisa untuk memaksimalkan keberhasilan yang bisa disebutkan antara
lain :
a; Menjelaskan keadaan dan adta demografi klien
b; Menjelaskan masalah keperawatan utama
c; Menjelaskan intervensi yang belum dan yang akan dilakukan
d; Menjelaskan tindakan selanjtunya
e; Menjelaskan alasan ilmiah tindakan yang akan diambil

Peran perawat primer lain dan atau konsuler


a; memberikan justifikasi
b; memberikan reinforcement
c; menilai kebenaran dari suatu masalah, intervensi keperawatan

serta,tindakan yang rasional


d; mengarahkan dan koreksi
e; mengintegrasikan teori dan konsep yang telah dipelajari
Tahap pelaksanaan ronde keperawatan
a;

b;

c;

Pesiapan
1; Penetapan kasus minimal 1 hari sebelum waktu pelaksanaan
ronde
2; Pemberian informed consent kepada klien/keluarga
Pelaksanaan ronde
1; Penjelasan tentang klien oleh perawat dalam hal ini penjelasan
difokuskan pada masalah keperawatan dan rencana tindakan yang
akan atau telah dilaksanakan dan memilih prioritas yang perlu
didiskusikan
2; Pemberian justifikasi oleh perawat tentang masalah klien serta
rencana tindakan yang akan dilakukan
3; Tindakan keperawatan pada masalah prioritas yang telah dan yang
akan ditetapkan
Pasca ronde
Mendiskusikan hasil temuan dan tindakan pada klien tersebut serta
menerapkan tindakan yang perlu dilakukan.

d;

Case studi

Menurut bogdan dan bikien (1982) studi kasus merupakan


pengujian secara rinci terhadap satu latar atau satu orang subjek atau
satu tempat penyimpanan dokumen atau satu peristiwa tertentu .
Surachrnad (1982) membatasi pendekatan studi kasus sebagai suatu
pendekatan dengan memusatkan perhatian pada suatu kasus secara
intensif dan rinci. Sementarayin (1987) memberikan batasan yang
lebih bersifat teknis dengan penekanan pada ciri-cirinya. Ary, jacobs,
dan razavieh (1985) menjelasan bahwa dalam studi kasus hendaknya
peneliti berusaha menguji unit atau individu secara mendalarn. Para
peneliti berusaha menernukan sernua variabel yang penting.
Berdasarkan batasan tersebut dapat dipahami bahwa batasan
studi kasus meliputi: (1) sasaran penelitiannya dapat berupa manusia,
peristiwa, latar, dan dokumen; (2) sasaran-sasaran tersebut ditelaah
secara mendalam sebagai suatu totalitas sesuai dengan latar atau
konteksnya masing-masing dengan maksud untuk mernahami
berbagai kaitan yang ada di antara variabel-variabelnya.
Jenis-jenis studi kasus
a;

b;

c;

Studi kasus kesejarahan mengenai organisasi, dipusatkan pada


perhatian organisasi tertentu dan dalam kurun waktu tertentu, dengan
rnenelusuni perkembangan organisasinya. Studi ini sering kurang
memungkinkan untuk diselenggarakan, karena sumbernya kunang
mencukupi untuk dikerjakan secara minimal.
Studi kasus observasi, mengutamakan teknik pengumpulan datanya
melalul observasi peran-senta atau pelibatan (participant observation),
sedangkan fokus studinya pada suatu organisasi tertentu.. Bagianbagian organisasi yang menjadi fokus studinya antara lain: (a) suatu
tempat tertentu di dalam sekolah; (b) satu kelompok siswa; (c)
kegiatan sekolah
Studi kasus sejarah hidup, yang mencoba mewawancarai satu onang
dengan maksud mengumpulkan narasi orang pertama dengan
kepemilikan sejarah yang khas. Wawancara sejarah hiclup biasanya
mengungkap konsep karier, pengabdian hidup seseorang, dan lahir

d;

e;

f;

hingga sekarang. Masa remaja, sekolah. Topik persahabatan dan topik


tertentu lainnya.
Studi kasus kemasyarakatan, merupakan studi tentang kasus
kemasyarakatan (community study) yang dipusatkan pada suatu
lingkungan tetangga atau masyarakat sekitar (kornunitas), bukannya
pada satu organisasi tertentu bagaimana studi kasus organisasi dan
studi kasus observasi.
Studi kasus analisis situasi, jenis studi kasus ini mencoba menganalisis
situasi terhadap peristiwa atau kejadian tertentu. Misalnya terjadinya
pengeluaran siswa pada sekolah tertentu, maka haruslah dipelajari dari
sudut pandang semua pihak yang terkait, mulai dari siswa itu sendiri,
teman-temannya, orang tuanya, kepala sekolah, guru dan mungkin
tokoh kunci lainnya.
Mikroethnografi, merupakan jenis studi kasus yang dilakukan pada
unit organisasi yang sangat kecil, seperti suatu bagian sebuah ruang
kelas atau suatu kegiatan organisasi yang sangat spesifik pada anakanak yang sedang belajar menggambar.

Langkah-langkah penelitian studi kasus


a;

b;

c;

Pemilihan kasus: dalam pemilihan kasus hendaknya dilakukan secara


bertujuan (purposive) dan bukan secara rambang. Kasus dapat dipilih
oleh peneliti dengan menjadikan objek orang, lingkungan, program,
proses, dan masvarakat atau unit sosial. Ukuran dan kompleksitas
objek studi kasus haruslah masuk akal, sehingga dapat diselesaikan
dengan batas waktu dan sumbersumber yang tersedia
Pengumpulan data: terdapat beberapa teknik dalarn pengumpulan
data, tetapi yang lebih dipakai dalarn penelitian kasus adalah
observasi, wawancara, dan analisis dokumentasi. Peneliti sebagai
instrurnen penelitian, dapat menyesuaikan cara pengumpulan data
dengan masalah dan lingkungan penelitian, serta dapat mengumpulkan
data yang berbeda secara serentak
Analisis data: setelah data terkumpul peneliti dapat mulai
mengagregasi, mengorganisasi, dan mengklasifikasi data menjadi

d;

e;

unit-unit yang dapat dikelola. Agregasi merupakan proses


mengabstraksi hal-hal khusus menjadi hal-hal umum guna
menemukan pola umum data. Data dapat diorganisasi secara
kronologis, kategori atau dimasukkan ke dalam tipologi. Analisis data
dilakukan sejak peneliti di lapangan, sewaktu pengumpulan data dan
setelah semua data terkumpul atau setelah selesai dan lapangan
Perbaikan (refinement): meskipun semua data telah terkumpul, dalam
pendekatan studi kasus hendaknya clilakukan penvempurnaan atau
penguatan (reinforcement) data baru terhadap kategori yang telah
ditemukan. Pengumpulan data baru mengharuskan peneliti untuk
kembali ke lapangan dan barangkali harus membuat kategori baru,
data baru tidak bisa dikelompokkan ke dalam kategori yang sudah
ada.
Penulisan laporan: laporan hendaknya ditulis secara komunikatif,
rnudah dibaca, dan mendeskripsikan suatu gejala atau kesatuan sosial
secara jelas, sehingga rnernudahkan pembaca untuk mernahami
seluruh informasi penting. Laporan diharapkan dapat membawa
pembaca ke dalam situasi kasus kehidupan seseorang atau kelompok.