Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Zakat merupakan satu-satunya ibadah yang dalam syariat islam
secara eksplisit dinyatakan ada petugasnya. Ada dua model pengelolaan
zakat. Pertama, zakat dikelola oleh negara dalam sebuah lembaga atau
departemen khusus yang dibentuk oleh pemerintah. Kedua, zakat yang
dikelola oleh lembaga non-pemerintah (masyarakat) atau semi pemerintah
dengan mengacuh pada aturan yang telah ditentukan oleh negara.
Zakat dikelola oleh negara maksudnya, bukan untuk memenuhi
keperluan negara, seperti membiayai pembangunan dan biaya-biaya
rutinitas lainya. Zakat dikelola oleh negara untuk dikumpulkan dan
dibagikan kepada yang berhak menerimanya. Jadi negara hanya sebagai
fasilitator, untuk memudahkan dalam pengelolaan zakat tersebut.
Yang mendorong masyarakat Islam melaksanakan pemungutan
zakat di Indonesia ini antara lain adalah: (1) Keinginan umat Islam
Indonesia untuk meyempurnakan pelaksanaan ajaran agamanya. Setelah
mendirikan shalat, berpuasa selama bulan Ramadhan dan bahkan
menunaikan ibadah haji ke Mekkah, umat Islam semakin menyadari
perlunya penunaian zakat sebagai kewajiban agama; kewajiban yang harus
dilaksanakan oleh setiap orang yang mampu melaksanakannya karena
telah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan. (2) Kesadaran yang
semakin meningkat di kalangan umat Islam tentang potensi zakat jika
dimanfaatkan sebaik-baiknya, akan dapat memecahkan berbagai masalah
sosial di Indonesia. (3) Usaha-usaha untuk mewujudkan pengembangan

dan pengelolaan zakat di Indonesia makin lama makin tumbuh dan


berkembang.
Sebenarnya sistem pengelolaan zakat sudah diatur oleh pemerintah.
Dimulai dengan regulasi zakat pertama di Indonesia yaitu Surat Edaran
Kementerian Agama No.A/VII/17367 tahun 1951 yang meyatakan bahwa
negara tidak mencampuri urusan pemungutan dan pembagian zakat, tetapi
hanya melakukan pengawasan. Tetapi ini menjadikan pengelolaan zakat di
Indonesia menjadi lambat. Selanjutnya Surat Keputusan Bersama Menteri
Dalam Negeri dan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 29 dan 47
Tahun 1991 tentang Pembinaan Badan Amil Zakat, Infaq dan shadaqah.
Dan diikuti dengan Instruksi Menteri Agama Nomor 5 Tahun 1991 tentang
Pembinaan Teknis Badan Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah dan Instruksi
Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 1998 tentang Pembinaan Umum
Badan Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah.
Seiring dengan keluarnya berbagai instruksi dan keputusan menteri
dan perkembangan BAZIS DKI tersebut, maka mendorong pertumbuhan
BAZIS maupun lembaga amil zakat yang dikelola masyarakat di daerahdaerah lain. Puncaknya adalah ketika pada tahun 1999, pemerintah
bersama DPR menyetujui lahirnya Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999
tentang Pengelolaan Zakat. UU Pengelolaan Zakat ini kemudian
ditindaklanjuti dengan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 581
tahun 1999 tentang Pelaksanaan UU No.38 tahun 1999 dan Keputusan
Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji Nomor D/291 tahun 2000 tentang
Pedoman Teknis Pengelolaan Zakat. Sebelumnya pada tahun 1997 juga
keluar Keputusan Menteri Sosial Nomor 19 Tahun 1998, yang memberi

wewenang kepada masyarakat yang menyelenggarakan pelayanan


kesejahteraan sosial bagi fakir miskin untuk melakukan pengumpulan dana
maupun menerima dan menyalurkan ZIS.
Namun UU No.38 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat sudah
direvisi dengan UU No. 23 tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat. Setelah
disahkannya UU Pengelolaan Zakat tersebut Indonesia telah memasuki
tahap

institusionalisasi

pengelolaan

zakat

dalam wilayah

formal

kenegaraan, meskipun masih sangat terbatas. Lembaga-lembaga pengelola


zakat mulai berkembang, termasuk pendirian lembaga zakat yang dikelola
oleh pemerintah, yaitu BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional), BAZDA
(Badan Amil Zakat Daerah) dan LAZ (Lembaga Amil Zakat) yang
dikelola masyarakat dengan manajemen yang lebih baik dan modern.
Setidaknya dengan UU Zakat tersebut telah mendorong upaya
pembentukan lembaga pengelola zakat yang amanah, kuat dan dipercaya
masyarakat. Tentu saja hal ini meningkatkan pengelolaan zakat sehingga
peran zakat menjadi lebih optimal. Lembaga-lembaga zakat telah mampu
mengelola dana hingga puluhan milyar rupiah, dengan cakupan
penyalurannya mencapai seluruh wilayah Indonesia.
Namun, jika kita melihat di zaman sekarang sebenarnya potensi
zakat di Indonesia sangatlah besar. dengan komposisi 87% muslim dan
asumsi 20% adalah muzaki atau pemberi zakat, nilai potensi zakat
berdasarkan penelitian Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dengan
Institut Pertanian Bogor pada Januari - April 2011 sekitar Rp217 triliun.
Namun, kenyataannya, dana zakat ditambah dengan infak, sedekah, serta
wakaf yang dihimpun berkisar Rp. 1,5 trilyun pertahun. Itu artinya
penghimpunan zakat belum mencapai 1 persen dari potensi zakat yang

ada. Tampaknya memang ada banyak hal yang harus dibenahi dalam
pengelolaan zakat di Indonesia. Padahal jumlah tersebut amat signifikan
untuk mengatasi kemiskinan.
Direktur Eksekutif BAZNAS Teten Setiawan mengemukakan ada
dua faktor penyebab belum optimalnya zakat. Pertama, masih banyak
orang kaya yang wajib berzakat tapi belum paham tentang zakat. Kedua,
zakat di Indonesia masih bersifat sukarela seperti tercantum pada UU No
23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat. Berbeda dengan Malaysia, ada
sanksi administratif bagi yang tidak berzakat, seperti perpanjangan paspor
dipersulit. Risikonya di Sudan malah penjara satu tahun.
Ada beberapa hal yang memang masih menjadi persoalan dalam
penghimpunan zakat. Diantaranya adalah pengelolaan zakat masih berciri
tradisional. Zakat umumnya diberikan langsung oleh muzakki kepada
mustahik. Biasanya amil zakat bukanlah sebuah profesi atau pekerjaan
yang permanen. Amil zakat hanya ditunjuk ketika ada aktivitas zakat
hanya terbatas pada zakat fitrah, kemudian zakat yang diberikan pada
umumnya hanya bersifat konsumtif dan harta objek zakat terbatas pada
harta yang secara eksplisit dikemukan dalam Al-Quran dan Hadist.
Sedangkan untuk pungutan zakat harta biasanya dilakukan oleh pengurus
masjid. Dengan sistem pengelolaan yang masih terbatas dan tradisional
itu, sulit untuk mengetahui berapa sebenarnya jumlah zakat yang telah
dihimpun.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan dalam latar belakang diatas, rumusan
masalah yang diangkat dalam penelitian tersebut adalah: Se-Efekif

apakah Penerapan Zakat Secara Tradisional Yang Sangat Digunakan Pada


Masyarakat Awam.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa
efekif apakah penerapan zakat secara tradisional yang digunakan pada
masyarakat awam di Perumnas Kubang Pratama Permai I, Desa Kubang
Jaya, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Zakat
Zakat berasal dari kata zaka yang bermakna al-Numuw
(menumbuhkan), al-Ziyadah (menambah), al-Barakah (memberkahkan),
dan al-Tathhir (menyucikan), maka ia merupakan ibadah dan kewajiban
harta benda dalam mencapai kesejahteraan ekonomi dan mewujudkan
keadilan sosial.
Dari pengertian diatas dapat dipahami, bahwa zakat adalah sarana
atau tali pengikat yang kuat dalam mengikat hubungan vertikal antara
manusia dengan Allah dan hubungan horizontal antar sesama manusia,
khususnya antara yang kaya dengan yang miskin, dengan saling member
keuntungan moril maupun materil, baik dari pihak pemerima (mustahiq)
maupun dari pihak pemberi (muzakki).
B. Jenis Jenis Zakat
a. Zakat Fitrah
Zakat ini merupakan zakat yang diwajibkan untuk setiap
pribadi Muslim. Menurut Qardhawi (Muhammad 2006: 32),
disebut zakat fitrah karena bertujuan untuk menyucikan diri orang
yang berpuasa dari ucapan dan perbuatan yang tidak berguna.
Zakat ini diwajibkan setelah terbenamnya matahari pada akhir
bulan Ramadhan hingga khatib naik mimbar pada shalat sunnah
hari raya Idul Fitri. Pelaksanaan zakat fitrah tidak mensyaratkan
kecuali beragama Islam dan adanya kelebihan dari makanan pada
hari dan malam hari raya. Dengan demikian zakat fitrah tidak
mensyaratkan nishab bagi yang mengeluarkannya. Disamping itu,

zakat fitrah didasarkan pada jumlahnya, yaitu satu sha (4 mud/2,5


kg/3,5 liter), baik keju, anggur, gandum, beras, kismis atau
makanan pokok lainnya.
b. Zakat Mal
i. Zakat Nuqud
ii. Zakat Barang Tambang dan Barang Temuan
iii. Zakat Harta Perdagangan
iv. Zakat Tanaman dan Buah-buahan
v. Zakat Binatang Ternak
C. Penerima Zakat
a. Fakir
b. Miskin
c. Amil Zakat
d. Muallaf
e. Riqab
f. Gharimin
g. Fi Sabilillah
h. Ibnu Sabil

BAB III
PENERAPAN ZAKAT
A. Zakat Fitrah
Pada tempat tinggal penulis Perumnas Kubang Pratama Permai I
RW 01 Dusun III Bencah Pudu Permai, Desa Kubang Jaya penerapan
zakat masih sangat tradisional. Mulai dari pemungutan, hingga
pembagianpun masih sangat tradisional. Namun, penerapan zakat yang
sangat terasa ialah pada penerapan zakat fitrah. Pada penerapan zakat
fitrah ditempat tinggal penulis badan amil dibentuk oleh ketua RW 01
setempat dan Pengurus Masjid. Dan badan amil ini mengatasnamakan

Badan Amil Zakat Masjid Nurul Farhan. Amil Zakat ini terdiri dari
masyarakat di lingkungan RW 01. Pembentukan Amil Zakat di RW 01 ini
dilakukan menjelang bulan puasa ramadhan.
Jumlah warga pada RW 01 1500 jiwa yang terdiri dari 300 kartu
keluarga. Namun angka tersebut dapat lebih dikarenakan masih ada warga
yang masih belum terdata karena ada warga yang mengontrak dan
menyewa rumah di lingkungan RW 01. Dari 1500 jiwa yang berada di
lingkungan RW 01 terdapat 800 jiwa warga yang beragama islam dan
selebihnya beragama lain.
a. Pemungutan
Proses pemungutan berlangsung selama bulan ramadhan
hingga 1 minggu sebelum 1 Syawal, yaitu sebelum malam
takbiran. Disebabkan Amil Zakat ingin membagikan zakat tersebut
agar dapat dimanfaatkan oleh mustahiq untuk melengkapi
perlengkapan pada saat hari raya Idul Fitri tiba. Selama bulan
ramadhan Amil Zakat membuka stand yang berada di masjid Nurul
Farhan di RW 01. Pada setiap bada dzuhur dan ashar, Amil Zakat
mengumumkan kepada warga RW 01 agar segera mungkin
membayar zakat yang telah ditentukan Amil Zakat.
Amil Zakat memberikan pilihan kepada warga RW 01 apa
yang dapat dizakatkannya. Jika warga 01 tidak ingin menzakatkan
beras, warga tersebut boleh menzakatkan uang yang seharga
dengan beras yang sering digunakan warga RW 01. Seperti contoh,
jika seorang warga tersebut menggunakan beras yang harga 1 kilo
nya Rp.12.000 jika warga tersebut ingin menzakatkan uang, maka

warga tersbut harus membayar uang seharga dengan 2.5 kilo harga
beras tersebut yaitu Rp. 30.000.
Amil zakat terkadang tidak hanya menerima zakat dari
warga RW 01 saja. Namun ada warga yang berzakat berasal dari
luar RW 01. Namun tidak banyak juga dari warga RW 01 yang
berzakat diluar RW 01. Maka dari itu jumlah zakat fitrah yang
terkumpul dari tahun ke tahun nya tidak stabil.
b. Pembagian
Dilingkungan RW 01 amil zakat memberikan hasil zakat
hanya kepada fakir dan miskin, amil zakat, fi sabilillah dan muallaf
saja. Karena hanya itu saja yang terdapat dilingkungan warga RW
01. Penerima zakat fakir dan miskin dipilih berdasarkan pelaporan
ketua RT masing-masing yang berada dilingkungan RW 01 yang
berdasarkan pendapatan warga tersebut dibawah 1-jt perbulan dan
pengeluaran yang lenih dari itu. Untuk amil zakat sendiri
mendapatkan bagian penerima zakat pada pembagian zakat di RW
01. Penerima zakat fi sabilillah terdiri dari guru PDTA dan guru
ngaji yang berada pada lingkungan RW 01. Dan untuk muallaf
terdiri dari warga yang masuk islam pada saat berada di lingkungan
RW 01.
B. Zakat Mal
Dalam penerapan zakat mal ini warga RW 01 tidak melakukannya
seperti zakat fitrah. Dan penerapan zakat mal hanya terjadi jika warga itu
menginginkan nya saja. Tidak ada pembentukan amilnya dan pembacaan
doa berzakatnya. Hanya terjadi antara pemberi zakat dan penerima zakat
lebih seperti sedekah. Namun warga RW 01 berniat bahwa itu ialah

berzakat. Zakat mal yang terjadi di lingkungan warga RW 01 lebih kepada


zakat pendapatan.

BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Pada penerapan zakat yang terjadi di lingkungan RW 01 hanya terfokus
kepada zakat fitrah saja. Dikarenakan pada penerapan zakat mal, warga RW 01
lebih menyukai pembagian zakat yang bersifat tradisional yang dikarenakan
masyarakat masih kaku ataupun masih belum paham mengenai zakat.
Namun pada penerapan zakat fitrah lumayan efektif yang terjadi di
lingkungan RW 01. Dikarenakan adanya amil yang menampung zakat dan
membagikan zakat kepada penerima zakat.
Alasan kenapa zakat di indonesia ataupun di daerah tempat tinggal penulis
kurang efektif dikarenakan kurangnya kesadaran bagi muzakki untuk berzakat dan
lebih menyukai zakat yang bersifat lebih tersedia, ataupun zakat yang bersifat
sukarela.

Daftar Pustaka
Buku rujukan
DR. Yusuf Al-Qardhawi, Studi Komparatif Mengenai Status dan Filsafat Zakat
Berdasarkan Qur'an dan Hadis, Litera AntarNusa dan Mizan, Jakarta
Pusat Cetakan Keempat 1996, Berasal dari Pustaka Online Media ISNET
dirubah ke dalam bentuk seperti ini oleh Pakdenono 2006
Muzdalifah, Siti Fatiya, Tinjauan Atas Pengelolaan Dana Zakat Pada Badan Amil
Zakat Nasional (Baznas) Kota Bogor Berdasarkan Psak No. 109, 2014,
Bab II
Website rujukan
http://www.baznaspekanbaru.or.id/2014/11/peraturan-perundang-undangan.html
Di akses Selasa 09 Mei 2016(12:03 WIB)
Orang Yang Terkait

Ketua RW 01
Ketua Pengurus Masjid Nurul Farhan
Mantan Ketua Amil Zakat tahun 2015