Anda di halaman 1dari 52
dengan Mobile Training Unit (MTU) Versi buku : July 2014
dengan Mobile Training Unit (MTU) Versi buku : July 2014
dengan Mobile Training Unit (MTU) Versi buku : July 2014
dengan Mobile Training Unit (MTU) Versi buku : July 2014
dengan Mobile Training Unit (MTU) Versi buku : July 2014

dengan Mobile Training Unit (MTU)

Versi buku : July 2014

KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR B uku Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Pelatihan Konstruksi Berbasis Kompetensi, menggunakan Mobil

B uku Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Pelatihan Konstruksi Berbasis Kompetensi, menggunakan Mobil Pelatihan Keliling (Mobile Training Unit) merupakan salah satu pedoman penyelenggaraan pelatihan konstruk-

si bagi Kabupaten/ Kota yang diterbitkan oleh Pusat Pembinaan

Kompetensi dan Pelatihan Konstruksi (Pusbin KPK). Buku ini

berisikan peraturan, ketentuan dan kebijakan yang terkait dengan

mekanisme dan tatacara pengelolaan pelatihan konstruksi yang

diselenggarakan mengggunakan kendaraan pelatihan keliling

MTU. Buku ini perlu diketahui dan dipelajari oleh semua

pemangku kepentingan, untuk kemudahan dan kelancaran penye-

lenggaraan kegiatan, mulai dari persiapan, perencanaan, pelaksan-

aan dan pasca pelaksanaan. Perlu diketahui juga oleh semua para

pihak yang terkait/ stakeholder dan bagi segenap petugas di

lingkungan Pusbin KPK, bahwa untuk kelancaraan operasional

kegiatan pelatihan konstruksi mengunakan kendaraan pelatihan

keliling MTU dilapangan, terdapat juga pedoman yang lebih terper-

inci, yakni buku Petunjuk Opererasional Pelatihan Konstruksi

Berbasis Kompetensi Menggunakan Kendaraan Pelatihan Keliling

MTU, yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan buku

ini. Peraturan dan ketentuan yang ada sebelumnya dan yang berten-

tangan dengan yang tercantum dalam buku Petunjuk Teknis Penye-

lenggaraan Pelatihan Konstruksi Berbasis Kompetensi ini dinyata-

kan tidak berlaku lagi.

Dengan membaca, memahami dan mengikuti petunjuk-petunjuk

yang dicantumkan dalam buku Pedoman Perencanaan, Penyeleng-

garaan, dan Evaluasi Pelatihan Konstruksi ini, diharapkan akan

membantu kelancaran penyelenggaraan pelatihan konstruksi yang

pada gilirannya akan menunjang suksesnya penyediaan tenaga

kerja konstruksi di Indonesia yang handal dan profesional.

Pusat Pembinaan Kompetensi dan Pelatihan Konstruksi

Dr. Ir. Masrianto, MT Ka.Pusbin KPK
Dr. Ir. Masrianto, MT
Ka.Pusbin KPK

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

i

DAFTAR ISI

ii

DAFTAR LAMPIRAN

iii

DAFTAR ISTILAH

iv

ii DAFTAR LAMPIRAN iii DAFTAR ISTILAH iv   BAB I 1 BAB IV 15   PENDAHULUAN
ii DAFTAR LAMPIRAN iii DAFTAR ISTILAH iv   BAB I 1 BAB IV 15   PENDAHULUAN
 

BAB I

1

  BAB I 1 BAB IV 15  

BAB IV

15

 

PENDAHULUAN

PENYELENGGARAAN KEGIATAN

 
 

A. Latar Belakang

2

A. Kebijakan Penyelenggaraan

16

B. Maksud dan Tujuan

2

B. Mekanisme Penyelenggaraan

16

C. Sasaran

3

D. Ruang Lingkup

3

 

BAB V

18

E. Lokasi Kegiatan

3

F. Ketentuan Lain

3

PEMANTAUAN dan EVALUASI

   
  A. Pemantauan 19
 

A. Pemantauan

19

 
 

BAB II

4

 

B. Evaluasi

19

C. Pelaksanaan dan Evaluasi

20

PEMANFAATAN KEGIATAN

 

D. Mekanisme Pemantauan dan Evalausi

20

 
 

A. Dasar Hukum

5

B. Kebijakan Pemanfaatan

5

 

BAB VI

21

C. Lingkup Pemanfaatan

6

D. Jabatan Kerja

7

PELAPORAN

   

E. Standar Peralatan

8

A. Jadwal Pelaporan

22

  B. Pelaporan Elektronik 22
 

B. Pelaporan Elektronik

22

 

9

 

C. Mekanisme Pelaporan

22

 

BAB III

 

TATA LAKSANA

 
 

A. Perencanaan dan Pemrograman

10

 

LAMPIRAN

23

 

B. Pelaksanaan Pelatihan

11

C. Organisasi Tata Laksana

12

D. Pembiayaan

13

DAFTAR LAMPIRAN

DAFTAR LAMPIRAN
 

E. Pengelolaan Kegiatan dan Aset

14

12 D. Pembiayaan 13 DAFTAR LAMPIRAN   E. Pengelolaan Kegiatan dan Aset 14 ii | Daftar
12 D. Pembiayaan 13 DAFTAR LAMPIRAN   E. Pengelolaan Kegiatan dan Aset 14 ii | Daftar
12 D. Pembiayaan 13 DAFTAR LAMPIRAN   E. Pengelolaan Kegiatan dan Aset 14 ii | Daftar

DAFTAR LAMPIRAN

DAFTAR LAMPIRAN Daftar Istilah | iii

DAFTAR ISTILAH

DAFTAR ISTILAH iv | Daftar Istilah

iv | Daftar Istilah

BAB I

PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG

Pembinaan kompetensi dan pelatihan tenaga kerja konstruksi saat ini dan ke depan akan menghadapi tantangan yang semakin besar. Tantangan yang nyata juga akan kita hadapi dalam waktu dekat dengan diberlakukannya AFTA 2010 dan ASEAN Community 2015 yang akan membawa konsekuensi semakin besarnya peluang tenaga kerja asing lebih berperan di bidang industri konstruksi di Indonesia.Hal tersebut berdampak terhadap tenaga kerja lokal Indonesia harus semakin dapat berkompetisi dengan tenaga kerja asing dalam hal kompetensi konstruksi dan produktivitasnya.

Kondisi ketenagakerjaan di bidang konstruksi saat ini masih sangat perlu banyak perha-

tian dan perlu upaya percepatan dalam memenuhi kesenjangan ketersediaan maupun

kesenjangan kualitas kompetensi tenaga kerja konstruksi sesuai dengan yang dibutuhkan

industri konstruksi ke depan.

Kementerian Pekerjaan Umum melalui Badan Pembinaan Konstruksi terus berupaya

mendukung percepatan pemenuhan tenaga kerja konstruksi terutama di tingkat terampil.

Melalui program Gerakan Nasional Pelatihan Konstruksi (GNPK) yang telah dicanang-

kan Pemerintah, maka di tahun 2014 ini dimulai kegiatan Pelatihan Konstruksi menggu-

nakan kendaraan pelatihan keliling (MTU). Kegiatan ini diarahkan untuk dapat melaku-

kan percepatan penyediaan tenaga kerja konstruksi di tingkat terampil di lokasi

kantong-kantong tenaga kerja.

Mengingat penyelenggaraan kegiatan ini akan dilaksanakan secara nasional dengan

melibatkan seluruh stakeholder terkait, maka diperlukan suatu petunjuk teknis penye-

lenggaraan pelatihan konstruksi dengan menggunakan kendaraan pelatihan keliling

(MTU).

B.
B.

MAKSUD dan TUJUAN

Petunjuk teknis penyelenggaraan pelatihan konstruksi dengan menggunakan kendaraan

pelatihan keliling (MTU) dimaksudkan untuk memberikan kesamaan persepsi dan mem-

berikan acuan bagi seluruh stakeholder terkait dalam penyelenggaraan kegiatan agar

sesuai dengan ketentuan dan tertib administrasi dalam pengelolaan, serta tepat dengan

sasaran yang direncanakan.

Tujuan yang diharapkan dengan adanya petunjuk teknis ini adalah:

1. Menjamin tertib penyelenggaran, pelaksanaan dan pengelolaan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh seluruh stakeholder terkait,

2. Menjamin terlaksananya koordinasi antar stakeholder sesuai dengan kewenangan dan tugasnya,

3. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan kegiatan terutama dalam mensinergikan seluruh sumber daya dan peran kontribusi aktif seluruh stakeholder,

4. Meningkatkan kemanfaatan upaya percepatan penyediaan tenaga kerja konstruksi kompeten yang dapat menumbuhkan daya saing tenaga kerja lokal.

2 | BAB 1 Pendahuluan

C.
C.

SASARAN

 

Sasaran yang ingin dicapai adalah, untuk mempercepat peningkatan tenaga kerja/ tukang terampil yang bersertifikat kompetensi dibidang konstruksi, agar mempu- nyai daya saing yang tinggi dipasaran tenaga kerja konsturuksi baik nasional maupun internasional.

D.
D.

RUANG LINGKUP

 

Ruang lingkup pengaturan dalam petunjuk teknis ini meliputi: arah pemanfaatan

kegiatan, tata laksana perencanaan dan pemrograman, koordinasi penyelengga-

raan, organisasi tata laksana, pembiayaan, pengelolaan kegiatan dan aset, persia-

pan dan pelaksanaan kegiatan, pemantauan dan evaluasi pelaksanaan, pengenda-

lian, pelaporan, serta penilaian kinerja.

 
E.
E.

LOKASI KEGIATAN

 

Lokasi kegiatan pelatihan konstruksi berbasis kompetensi keliling dengan

kendaraan keliling (MTU) ini, meliputi 7 (tujuh) wilayah provinsi, yakni : Jambi,

Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan dan Papua.

F.
F.

KETENTUAN LAIN

Ketentuan lain dan pengaturan tambahan untuk melengkapi petunjuk teknis ini

akan diatur lebih lanjut dan merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan dari

petunjuk teknis ini.

PEMANFAATAN KEGIATAN
PEMANFAATAN KEGIATAN
PEMANFAATAN KEGIATAN

PEMANFAATAN

KEGIATAN

DASAR HUKUMBeberapa peraturan dan perundangan yang terkait dengan kegiatan pelatihan tenaga kerja konstruksi menggunakan kendaraan

Beberapa peraturan dan perundangan yang terkait dengan kegiatan pelatihan tenaga kerja konstruksi menggunakan kendaraan pelatihan keliling (MTU), meliputi :

a. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi;

b. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan

c. Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara;

d. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor: 31 Tahun 2006 tentang Sistem Pelatihan Kerja Nasional;

e. Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi

Nasional Indonesia;

f. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 08/PRT/M/2010 tanggal 8

Juli 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan

Umum;

g. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 21/PRT/M/2010 tanggal 31

Desember 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis

Kementerian Pekerjaan Umum;

h. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK.02/2013 tentang Standar

Biaya Tahun Anggaran 2014.

i. Peraturan Lembaga Pengembangan Konstruksi Nasional Nomor 7 Tahun

2013, tanggal 16 September 2013 tentang Perubahan Ketiga Atas Peratur-

an Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nomor 05 Tahun 2011,

tentang Tata Cara Registrasi Ulang, Perpanjangan Masa Berlaku dan

Permohonan Baru sertifikat Tenaga Kerja Terampil Konstruksi.

j. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Satuan Kerja Pusat Pembi-

naan Kompetensi Pelatihan Konstruksi Nomor :

SP DIPA-033.13.1622280/2014 Tanggal 5 Desember 2013.

KEBIJAKAN PEMANFAATANNomor : SP DIPA-033.13.1622280/2014 Tanggal 5 Desember 2013. Pemanfaatan kegiatan pelatihan tenaga kerja konstruksi

Pemanfaatan kegiatan pelatihan tenaga kerja konstruksi menggunakan kendaraan keliling (MTU) yang diarahkan berdasarkan prinsip kebijakan pemanfaatan sebagai berikut :

a. Mendekatkan sarana pelatihan/uji kompetensi di kantong-kantong tenaga kerja konstruksi,

b. Meminimalkan biaya pelaksanaan yang diperlukan dibandingkan dengan pelaksanaan kegiatan dengan mekanisme regular terutama dalam efisien- si biaya perjalanan dinas bagi perangkat penyelenggara,

c. Mengurangi resiko terganggunya kegiatan proyek fisik konstruksi akibat mobilisa- si tenaga kerja dalam jumlah banyak dan waktu relatif lama guna mengikuti pelati- han/uji kompetensi tenaga kerja konstruksi,

d. Melakukan upaya percepatan pelatihan/uji kompetensi tenaga kerja konstruksi dengan memanfaatkan seluruh sumber daya secara optimal sebagai bagian dari dukungan terhadap Gerakan Nasional Pelatihan Konstruksi (GNPK),

e. Menjadi stimulus dan percontohan bagi instansi teknis yang membidangi jasa konstruksi di daerah dalam percepatan penyediaan tenaga kerja konstruksi,

f. Memperluas akses pelatihan dan uji kompetensi bagi tenaga kerja konstruksi yang

belum terjangkau oleh instansi/lembaga pelatihan konstruksi yang ada,

g. Memberdayakan masyarakat konstruksi secara mandiri dalam hal peningkatan

apresiasi kompetensi kerja bidang konstruksi melalui pelatihan dan uji kompetensi.

C.
C.

LINGKUP PEMANFAATAN

Lingkup pemanfaatan kegiatan pelatihan tenaga kerja konstruksi menggunakan

kendaraan pelatihan keliling (MTU) meliputi kegiatan pelatihan, uji kompetensi, dan

pemberdayaan masyarakat dalam bidang keterampilan tenaga kerja konstruksi.

1. PEMBERDAYAAN

Kegiatan pemberdayaan bagi masyarakat direncanakan untuk memberikan fasilita-

si bagi tenaga kerja konstruksi untuk memperoleh pengenalan pengetahuan dan

keterampilan pemula tenaga kerja bidang konstruksi. Kegiatan ini diinisiasi dalam

rangka bentuk pendampingan dari kegiatan fisik konstruksi yang menggunakan

tenaga kerja swadaya masyarakat yang bukan pekerja konstruksi. Kegiatan ini

mencakup pula kegiatan sosialisasi dan diseminasi mengenai peraturan perundan-

gan di bidang jasa konstruksi, pemahaman terhadap apresiasi kompetensi tenaga

kerja, pengetahuan keselamatan dan keamanan kerja, pemanfaatan teknologi bahan

konstruksi, dan informasi jasa konstruksi lainnya.

2. PELATIHAN KONSTRUKSI

Pelatihan konstruksi adalah kegiatan pelatihan bagi tenaga kerja konstruksi yang sedang tidak sedang bekerja di proyek. Kegiatan yang diselenggarakan adalah pelatihan materi kompetensi dengan teori dan praktek, yang difasilitasi oleh instruktur yang berkompeten. Setelah selesai mengikuti pelatihan, dilakukan evalu- asi teori dan praktek untuk mengukur pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan.

6 | BAB 2 Pemanfaatan Kegiatan

Peserta yang “kompeten” lulus ujian pelatihan tersebut dapat langsung difasilitasi untuk mengikuti kegiatan uji kompetensi dan sertifikasi ke USTK terdekat, atau ditindaklanjuti dengan kegiatan fasilitasi uji kompetensi di tempat. Peserta yang “belum kompeten” tidak lulus pelatihan, dirujuk untuk mengikuti pelatihan regular pada jabatan kerja terkait di lembaga/ institusi pelatihan konstruksi terdekat.

3. UJI KOMPETENSI / SERTIFIKASI

Uji kompetensi/ sertifikasi dapat merupakan kegiatan lanjutan dari

kegiatan pelatihan konstruksi yang telah dilakukan sebelumnya atau

melalui fasilitasi yang dilakukan bagi tenaga kerja konstruksi, dan

diutamakan bagi nakerkon yang sedang bekerja di lokasi proyek fisik

infrastruktur atau pada proyek yang melibatkan partisipsi masyarakat.

Kegiatan uji kompetensi dilakukan oleh asesor yang yang kompeten

dan direkomendasikan oleh USTK terkait, melalui pembekalan secara

teori, praktek dan wawancara. Peserta yang lulus uji kompetensi akan

mendapatkan SKA/ SKT, sedangkan yang tidak lulus akan diberikan

kesempatan 1X untuk mengikuti pelatihan sejenis pada perioda berikut-

nya (selama masih ada kesempatan kegiatan MTU) atau dirujuk untuk

mengikuti pelatihan regular pada jabatan kerja terkait di lembaga/

institusi pelatihan konstruksi terdekat.

Gambar 2.1 Kegiatan MTU

pelatihan konstruksi terdekat. Gambar 2.1 Kegiatan MTU Keseluruhan skema yang diberikan diatas dapat dilihat secara

Keseluruhan skema yang diberikan diatas dapat dilihat secara lebih jelas pada Lampiran 2.1.

C.

C.

JABATAN KERJA

Jabatan Kerja yang diselenggarakan untuk pelatihan tenaga kerja konstruksi dengan menggunakan kendaraan pelatihan keliling (MTU) terdiri dari bidang kompetensi bagi tenaga kerja terampil bidang kayu, besi, batu (bata, plester, keramik/ ubin), dan bidang umum.

Penambahan jabatan kerja lainnya dapat diberikan dengan sebelumnya mengajukan permohonan kebutuhan jabatan kerja dalam rencana kegiatan/ kerja MTU (RK-MTU) yang diusulkan untuk dipersiapkan kesesuaiannya dengan karakteristik peralatan dan mekanisme pelaksanaannya.

Informasi detail mengenai profil ringkas jabatan kerja yang diberikan sesuai dengan ketentuan dalam Lampiran 2.2. yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari petunjuk teknis ini.

D.
D.

STANDAR PERALATAN

Standar peralatan pendukung kegiatan yang telah disediakan dalam kendaraan keliling

(MTU) terdiri dari:

1. Peralatan Kerja

Peralatan kerja adalah peralatan yang digunakan untuk bekerja dalam

memenuhi kegiatan praktikal dari pelatihan sesuai jabatan kerja terkait.

Peralatan kerja terdiri dari peralatan untuk tukang kayu, peralatan untuk

tukang batu (pasang bata, plester dan pasang ubin/keramik), dan peralatan

untuk tukang besi,

2. Peralatan Peraga

Peralatan peraga adalah peralatan yang digunakan sebagai peraga atau

sampel media pembelajaran kepada para peserta. Alat peraga ini juga terdiri

dari peraga tukang batu (pasang bata, plester dan pasang ubin/keramik), dan

peralatan untuk tukang besi,

3. Peralatan Penunjang dan Aksesoris lainnya

Peralatan penunjang dan aksesoris adalah peralatan yang digunakan untuk

mendukung operasional kegiatan pelatihan tenaga kerja konstruksi menggu-

nakan kendaraan keliling (MTU) antara lain peralatan audio visual : TV,

internet, LCD, laptop, sound system dan peralatan kendaraan : dongkrak

hidrolik, kunci pas, GPS.

Standar peralatan yang diberikan merupakan barang inventaris milik Kementerian

Pekerjaan Umum. Perubahan, penggantian, dan perbaikan standar peralatan tersebut harus dikonsultasikan kepada pengelola BMN yang ditunjuk di Kementerian Pekerjaan Umum. Informasi detail mengenai kelengkapan peralatan yang diberikan sesuai dengan ketentu- an dalam Lampiran 2.3. yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari petunjuk teknis ini.

8 | BAB 2 Pemanfaatan Kegiatan

TATA LAKSANA
TATA LAKSANA
TATA LAKSANA

TATA LAKSANA

A.
A.

PERENCANAAN DAN PEMROGRAMAN

Kementerian Pekerjaan Umum melaksanakan penyusunan perencanaan dan pemrogra- man kegiatan pelatihan tenaga kerja konstruksi menggunakan kendaraan pelatihan keliling (MTU) setiap tahun anggaran bersama dengan instansi teknis yang membidangi jasa konstruksi di daerah dibawah koordinasi Badan Pembinaan Konstruksi (Bapekon).

Perencanaan dan pemrograman kegiatan pelatihan tenaga kerja konstruksi menggunakan kendaraan pelatihan keliling (MTU) mengacu pada ketentuan prioritas nasional dan kebijakan pemerintah di bidang jasa konstruksi serta kebijakan operasional yang ditetap- kan oleh Kepala Bapekon.

Kepala Bapekon menetapkan kriteria perencanaan dan pemrograman kegiatan pelatihan

tenaga kerja konstruksi menggunakan kendaraan pelatihan keliling (MTU) yang akan

dilaksanakan di daerah.

Berdasarkan perencanaan dan pemrograman yang telah ditetapkan oleh Kepala Bape-

kon, instansi teknis yang membidangi jasa konstruksi di daerah menyusun dan

mengusulkan rencana kegiatan MTU (RK-MTU) pelatihan tenaga kerja konstruksi

menggunakan kendaraan pelatihan keliling (MTU) kepada Kepala Bapekon cq Kepala

Pusat Pembinaan Kompetensi dan Pelatihan Konstruksi.

Dalam rangka meningkatkan sinergi dan sinkronisasi rencana dan program pembinaan

kompetensi dan pelatihan tenaga kerja konstruksi di pusat dan daerah, instansi teknis

yang membidangi jasa konstruksi di daerah harus menyusun dan menetapkan Rencana

Pembinaan Kompetensi dan Pelatihan Konstruksi (RPKP) jangka menengah. Rencana

kegiatan MTU (RK-MTU) pelatihan tenaga kerja konstruksi tahunan yang diusulkan

harus sinergi dengan RPKP yang telah ditetapkan.

Penyusunan RK-MTU pelatihan tenaga kerja konstruksi harus memperhatikan tahapan

penyusunan program, penyaringan, dan penentuan lokasi kegiatan yang akan dilaksana-

kan, penyusunan pembiayaan serta metoda pelaksanaan yang berpedoman pada standar

dan peraturan serta ketentuan yang berlaku.

Usulan RK-MTU yang diusulkan menggunakan dukungan anggaran Pemerintah, dikon-

sultasikan dengan Pusat Pembinaan Kompetensi dan Pelatihan Konstruksi untuk

mendapatkan penetapan persetujuan perjanjian pelaksanaan kegiatan (SPK).

Mekanisme perencanaan dan pemrograman sesuai dengan ketentuan dalam Lampiran 3.1. s/d Lampiran 3.4. yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari petunjuk teknis ini.

10 | BAB 3 Tata Laksana

B.
B.

PELAKSANAAN PELATIHAN

Menteri membentuk Tim Koordinasi Pusat penyelenggaraan kegiatan pelati- han tenaga kerja konstruksi menggunakan kendaraan keliling yang terdiri dari unsur Sekretariat Jenderal, Inspektorat Jenderal, dan Unit Kerja Eselon I di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum, serta Unit Kerja Eselon I Kemen- terian terkait dan LPJK Nasional, yang mempunyai tugas dan tanggungjawab sebagai berikut:

a. Menyusun petunjuk penyelenggaraan,

b. Memfasilitasi pelaksanaan koordinasi, sosialisasi, diseminasi dan

pembinaan penyelenggaraan,

c. Memfasilitasi pelaksanaan pemantauan dan evaluasi terhadap

penyelenggaraan,

d. Memberikan saran, masukan, maupun rekomendasi kepada

Menteri dalam evaluasi kebijakan penyelenggaraan,

e. Menyiapkan laporan tahunan kepada Menteri terkait

penyelenggaraan.

Gubernur membentuk Tim Koordinasi Provinsi penyelenggaraan kegiatan

pelatihan tenaga kerja konstruksi menggunakan kendaraan keliling yang

terdiri dari unsur Bappeda, Dinas Teknis yang membidangi jasa konstruksi,

dan LPJK Provinsi, yang mempunyai tugas dan tanggungjawab sebagai

berikut :

f. Memberikan masukan terhadap penyusunan petunjuk

penyelenggaraan,

g. Membantu pelaksanaan koordinasi, sosialisasi, diseminasi dan

pembinaan penyelenggaraan,

h. Melaksanakan pemantauan dan evaluasi terhadap penyelengga-

raan,

i. Memberikan saran, masukan, maupun rekomendasi kepada Tim Koordinasi Pusat dalam evaluasi kebijakan penyelenggaraan,

j. Menyiapkan laporan triwulanan, semester, dan tahunan kepada Tim Koordinasi Pusat terkait penyelenggaraan.

Tim Koordinasi Pusat dan Tim Koordinasi Provinsi membentuk Tim Teknis Pusat dan Tim Teknis Provinsi yang mempunyai terdiri dari unsur-unsur yang sama di tingkat yang lebih operasional. Tim Teknis tersebut mempunyai tugas dan tanggung jawab membantu Tim Koordinasi terutama dalam hal perencanaan dan pemrograman dan hal teknis operasional lainnya, yang akan diatur lebih lanjut oleh Kepala Bapekon.

Biaya operasional Tim Koordinasi Pusat/ Provinsi, Tim Teknis Pusat/ Provinsi pada tahun angga- ran 2014 ini dibebankan pada Satuan Kerja di lingkungan Badan Pembinaan Konstruksi.

C.
C.

ORGANISASI TATA LAKSANA

Penyelenggaraan pelatihan tenaga kerja konstruksi menggunakan kendaraan pelatihan keliling (MTU) yang dilaksanakan di tahun anggaran 2014 ini dengan menggunakan metoda kegiatan swakelola dengan pola dilaksanakan oleh instansi Pemerintah Provinsi.

Kementerian Pekerjaan Umum cq. Badan Pembinaan Konstruksi cq. Kepala Satker

Pembinaan Kompetensi dan Pelatihan Konstruksi sebagai penanggung jawab anggaran

(KPA) mempunyai tugas dan tanggungjawab sebagai berikut :

a. Mengidentifikasi kebutuhan rencana dan program kegiatan yang akan dilak-

sanakan.

b. Menetapkan rencana pengadaan kegiatan yang akan dilaksanakan dengan

swakelola.

c. Menyampaikan rencana kegiatan kepada instansi pelaksana di provinsi

termasuk menetapkan sasaran, tujuan dan besaran anggaran swakelola.

PPK Pelaksana Pelatihan Strategis dibawah Satker Pembinaan Kompetensi dan Pelati-

han Konstruksi selanjutnya sebagai PPK mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai

berikut :

a.

Melaksanakan kebijakan KPA berkaitan dengan pelaksanaan pengadaan

kegiatan melalui swakelola.

b.

Membentuk dan mengangkat tim swakelola yang terdiri dari tim perencana

dan tim pengawas.

c.

Mengangkat tim perencana dan tim pengawas dari instansi pelaksana provinsi.

d.

Mengadakan kontrak pelaksanaan pengadaan kegiatan secara swakelola dengan instansi pelaksana.

Instansi teknis yang membidangi jasa konstruksi menunjuk tim pelaksana kegiatan selanjutnya disebut sebagai IPL-PS mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut :

a. Bertanggungjawab atas pelaksanaan swakelola yang sudah disepakati.

b. Mengangkat tim pelaksana.

12 | BAB 3 Tata Laksana

c. Mengusulkan anggota tim swakelola yang akan duduk dalam tim perencana dan tim pengawas.

d. Menetapkan Unit Layanan Pengadaan (ULP) sebagai panitia/pejabat pengadaan barang/jasa yang dibutuhkan dalam pelaksanaan swakelo- la.

Tim Perencana ditetapkan oleh PPK mempunyai tugas dan tanggung jawab

dalam menyusun KAK, membuat rencana kerja, spesifikasi teknis, rincian

biaya, dan jadwal rencana pelaksanaan kegiatan.

Tim Pelaksana ditetapkan oleh IPL-PS mempunyai tugas dan tanggung

jawab dalam melaksanakan kegiatan sesuai yang direncanakan yang disepa-

kati dalam SPK beserta perubahan-perubahannya serta membuat laporan

pelaksanaan kegiatan.

Tim Pengawas ditetapkan oleh PPK mempunyai tugas dan tanggung jawab

dalam pelaksanaan pengawasan terhadap pelaksanaan dan pelaporan baik

fisik maupun administrasi dan keuangan kegiatan swakelola.

Dalam melaksanakan kebijakan yang ditetapkan oleh KPA, maka PPK diban-

tu oleh tim pendampingan manajemen (KMP) untuk melaksanakan

pengendalian dan pemantauan pelaksanaan di lapangan yang tugas dan

tanggung jawabnya ditetapkan oleh PPK.

Diagram organisasi tata laksana dan persyaratan teknis sesuai dengan ketentu-

an dalam Lampiran 3.5. yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari

petunjuk teknis ini.

D.
D.

PEMBIAYAAN

Penyelenggaraan pelatihan tenaga kerja konstruksi menggunakan kendaraan

pelatihan keliling (MTU) yang dilaksanakan di tahun anggaran 2014 ini

dengan menggunakan metoda kegiatan swakelola dengan pola dilaksanakan

oleh instansi Pemerintah Provinsi.

Pembiayaan penyelenggaraan kegiatan pelatihan tenaga kerja konstruksi menggunakan kendaraan pelatihan pelatihan keliling (MTU) di tahun angga- ran 2014 dibebankan pada anggaran APBN Satuan Kerja Pembinaan Kompe- tensi dan Pelatihan Konstruksi, Badan Pembinaan Konstruksi, Kementerian Pekerjaan Umum.

Sebagai bentuk peran aktif dan kontribusi Pemerintah Daerah dan stakeholder dalam komitmen percepatan penyediaan tenaga kerja konstruksi di daerah, dimungkinkan sinergitas pembiayaan bersama antara sumber pendanaan APBN dan APBD Pemerintah Daerah ataupun sumber pendanaan lainnya sebagaimana diatur dalam peraturan dan ketentuan yang berlaku.

Pembiayaan bersama tersebut terlebih dahulu direncanakan berdasarkan pembagian tugas, kewajiban, dan kewenangannya, diusulkan dalam RK dan ditetapkan dalam SPK yang disepakati oleh pihak-pihak terkait sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku.

E.
E.

PENGELOLAAN KEGIATAN dan ASET

Tim Pelaksana Provinsi atau IPL-PS bertugas melaksanakan kegiatan sebagaimana

ditetapkan dalam SPK beserta perubahan-perubahannya yang telah ditetapkan. Tim

IPL-PS bertanggungjawab secara fisik dan keuangan terhadap pelaksanaan kegiatan

sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, IPL-PS

memanfaatkan aset barang milik Kementerian Pekerjaan Umum berupa kendaraan

pelatihan keliling (MTU) beserta kelengkapannya secara optimal sesuai dengan rencana

kerja MTU (RK-MTU) yang telah ditetapkan.

Aset barang milik Kementerian Pekerjaan Umum berupa kendaraan keliling (MTU)

beserta kelengkapannya sebagaimana ditentukan dalam Lampiran 2.3. yang merupa-

kan bagian yang tidak terpisahkan dari petunjuk teknis ini.

Pengelolaan aset barang milik Kementerian Pekerjaan Umum berupa kendaraan pelati-

han keliling (MTU) dilaksanakan bersama dengan Pemerintah Daerah bersangkutan,

dan diatur oleh pengaturan lebih lanjut yang ditetapkan oleh Kepala Bapekon.

14 | BAB 3 Tata Laksana

BAB IV

PENYELENGGARAAN

KEGIATAN

KEBIJAKAN PENYELENGGARAANPenyelenggaraan pelatihan tenaga kerja konstruksi menggunakan kendaraan keliling (MTU) dilaksanakan dengan prinsip

Penyelenggaraan pelatihan tenaga kerja konstruksi menggunakan kendaraan keliling (MTU) dilaksanakan dengan prinsip kebijakan sebagai berikut:

1. Penyelenggaraan kegiatan pelatihan tenaga kerja konstruksi harus dilaku- kan dengan mengoptimalkan peran serta seluruh stakeholder sesuai dengan tugas dan kewenangannya,

2. Penyelenggaraan kegiatan diupayakan sedapat mungkin memberikan manfaat langsung kepada masyarakat setempat dan memanfaatkan seopti-

mal mungkin sumber daya setempat/lokal,

3. Pembinaan penyelenggaraan kegiatan harus dilakukan dalam upaya

meningkatkan kapasitas kemampuan stakeholder secara sistematis dan

bertahap, meliputi: pembinaan kapasitas dari Pemerintah kepada Pemerin-

tah Provinsi, Pemerintah Provinsi kepada Pemerintah Kabupaten/Kota,

dan pembinaan kapasitas kepada masyarakat jasa konstruksi,

4. Pembinaan penyelenggaraan terhadap masyarakat jasa konstruksi antara

lain peningkatan kapasitas masyarakat jasa konstruksi dalam penyediaan

jasa penyelenggaraan pelatihan dan manajemen pelatihan, jasa penyediaan

keprofesionalan keinstrukturan bidang konstruksi, dan jasa lainnya yang

diperlukan.

MEKANISME PENYELENGGARAANbidang konstruksi, dan jasa lainnya yang diperlukan. Mekanisme penyelenggaraan pelatihan tenaga kerja konstruksi

Mekanisme penyelenggaraan pelatihan tenaga kerja konstruksi menggunakan kendaraan

keliling (MTU) mengacu kepada Pedoman Perencanaan, Penyelenggaran dan Evaluasi

Pelatihan Konstruksi yang membagi mekanisme tersebut menjadi 3 (tiga) kegiatan yaitu:

1. Perencanaan Program Pelatihan

2. Penyelenggaraan Pelatihan

3. Evaluasi Pelatihan

1. Perencanaan Program Pelatihan MTU

Perencanaan Program Pelatihan dilaksanakan untuk menghasilkan desain program yang secara teknis memadai dan dapat diterima. Perencanaan Program Pelatihan pelatihan tenaga kerja konstruksi menggunakan kendaraan keliling (MTU) melibat- kan:

Kementerian Pekerjaan Umum, dalam hal ini Badan Pembinaan Konstruksi cq. Pusbin KPK sebagai Pembina Jasa Konstruksi Nasional.

Badan Pembinaan Konstruksi cq. Pusbin KPK sebagai Pembina Jasa Konstruksi Nasional. 16 | BAB 4 Penyelenggaraan

16 | BAB 4 Penyelenggaraan Kegiatan

Pembina Jasa Konstruksi Daerah, meliputi Pemda, Dinas PU Provinsi, SKPD di tempat pelaksanaan kegiatan pelatihan MTU.Institusi pemerintahan selain sektor Pekerjaan Umum yang memiliki program-program di daerah yang bisa diselaraskan dengan

Institusi pemerintahan selain sektor Pekerjaan Umum yang memiliki program-program di daerah yang bisa diselaraskan dengan kegiatan pelatihan MTU.Provinsi, SKPD di tempat pelaksanaan kegiatan pelatihan MTU. Langkah dibawah ini: yang dilakukan dalam perencanaan

Langkah

dibawah ini:

yang

dilakukan

dalam

perencanaan

program

diberikan

dalam

bagan

Gambar 4.1. Langkah Perencanaan Kegiatan MTU

Konsolidasi

Gambar 4.1. Langkah Perencanaan Kegiatan MTU Konsolidasi Rancang Program 2. Penyelenggaraan Pelatihan Penetapan

Rancang

Program

Perencanaan Kegiatan MTU Konsolidasi Rancang Program 2. Penyelenggaraan Pelatihan Penetapan SDM Penetapan

2. Penyelenggaraan Pelatihan

Penetapan

SDM

Program 2. Penyelenggaraan Pelatihan Penetapan SDM Penetapan   Evaluasi Biaya Rencana

Penetapan

 

Evaluasi

Biaya

Biaya Rencana

Rencana

Pelatihan

Program

Penyelenggaraan Pelatihan dilaksanakan berdasarkan program pelatihan

yang telah disusun. Sumber daya manusia dan keuangan dimobilisasi dan

diorganisir untuk menjamin terlaksananya Penyelenggaraan Pelatihan yang

optimal.

Penyelenggaraan Pelatihan dilaksanakan dengan tahapan Konsolidasi &

Perencanaan, Pelaksanaan dan Pasca Pelaksanaan.

3. Evaluasi Pelatihan dengan MTU

Evaluasi pelatihan membantu merumuskan tujuan pelatihan dengan lebih

tajam, membuang muatan pelatihan yang tidak diperlukan, memastikan

metode pelatihan memenuhi tuntutan peserta, mengaitkannya dengan kebu-

tuhan pelatihan dan menurunkan biaya pelatihan. Evaluasi dilakukan oleh

seluruh pihak sebagai suatu mekanisme secara terus menerus.

Mekanisme penyelenggaraan pelatihan konstruksi tersebut diatas secara

rinci diuraikan sebagaimana dalam Lampiran 4. yang merupakan bagian

yang tidak terpisahkan dari petunjuk teknis ini. Hasil utama dari Perenca- naan Program Pelatihan ialah susunan lokasi pelaksanaan pelatihan dan jabatan kerja yang akan dilatihkan.

BAB V

PEMANTAUAN DAN

EVALUASI

Pemantauan dan evaluasi penyelenggaraan kegiatan pelatihan tenaga kerja konstruksi menggunakan kendaraan pelatihan keliling (MTU) ditujukan untuk pemantauan teknis pelaksanaan dan evaluasi pemanfaatan program dan kegiatan secara terpadu, efektif, dan efisien.

PEMANTAUANprogram dan kegiatan secara terpadu, efektif, dan efisien. Pemantauan teknis penyelenggaraan kegiatan adalah untuk: 1.

Pemantauan teknis penyelenggaraan kegiatan adalah untuk:

1. Memastikan pelaksanaan kegiatan di daerah tepat waktu dan tepat

sasaran sesuai dengan rencana kegiatan MTU (RK-MTU) yang telah

ditetapkan dan sesuai dengan ketentuan pelaksanaan yang berlaku.

2. Mengidentifikasi permasalahan yang muncul dalam pelaksanaan

kegiatan dalam rangka perbaikan dan pengelolaan rencana tindak

turun tangan.

Ruang lingkup pemantauan teknis penyelenggaraan kegiatan adalah:

1. Kesesuaian RK-MTU dengan arahan pemanfaatan program dan

kegiatan serta kriteria prioritas nasional.

2. pelaksanaan

Kesesuaian

kegiatan

dengan

RK-MTU

yang

telah

ditetapkan.

3. Kesesuaian proses pelaksanaan kegiatan sesuai dengan peraturan dan

ketentuan yang berlaku.

4. Kesesuaian hasil pelaksanaan kegiatan dengan dokumen kontrak /

SPK yang telah ditetapkan.

EVALUASIkegiatan dengan dokumen kontrak / SPK yang telah ditetapkan. Evaluasi penyelenggaraan kegiatan adalah untuk: a.

Evaluasi penyelenggaraan kegiatan adalah untuk:

a. Memberikan masukan pengukuran penilaian kinerja atas pencapaian sasaran, hasil, dan kemanfaatan kegiatan yang dilaksanakan,

b. Menilai kinerja kepatuhan pelaporan dan disiplin tertib administrasi pelaksanaan kegiatan sebagai masukan dalam penyusunan program dan kegiatan pada tahun berikutnya.

Ruang lingkup evaluasi penyelenggaraan kegiatan adalah:

a. Evaluasi penilaian kinerja pencapaian sasaran kegiatan berupa penambahan jumlah ketersediaan tenaga kerja konstruksi di daerah yang diukur dari kondisi baseline pada saat perencanaan,

b. Evaluasi penilaian kinerja daerah dalam keberhasilan pelaksanaan pembinaan kapasitas masyarakat jasa konstruksi yang diukur berdasarkan penambahan jumlah penyedia jasa penyelenggaraan pelatihan dan manajemen pelatihan, jasa penyediaan keprofesionalan keinstrukturan bidang konstruksi, dan jasa lainnya, dari kondisi baseline saat perencanaan.

c. Evaluasi penilaian kinerja daerah dalam tingkat akuntabilitas pelaporan dan

penyebar luasan informasi bagi masyarakat jasa konstruksi.

PELAKSANAAN dan EVALUASIpenyebar luasan informasi bagi masyarakat jasa konstruksi. Tim Teknis Pusat dan Daerah bersama-sama melakukan

Tim Teknis Pusat dan Daerah bersama-sama melakukan pemantauan teknis dan

evaluasi terhadap penyelenggaraan pelatihan tenaga kerja konstruksi menggu-

nakan kendaraan pelatihan keliling (MTU) secara periodik.

Tim Koordinasi Pusat dan Daerah dapat melakukan pemantauan teknis dikoor-

dinasikan bersama Tim Teknis jika diperlukan.

MEKANISME PEMANTAUAN dan EVALUASIteknis dikoor- dinasikan bersama Tim Teknis jika diperlukan. Mekanisme pemantauan dan evaluasi adalah sebagaimana

Mekanisme pemantauan dan evaluasi adalah sebagaimana ditentukan dalam

Lampiran 5. yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari petunjuk

teknis ini. Adapun untuk format monitoring dan evaluasi, dapat dibaca pada

“Buku Petunjuk Operasional Pelatihan Konstruksi Berbasis Kompetensi Meng-

gunakan Kendaraan Pelatihan Keliling MTU”.

20 | BAB 5 Pemantauan dan Evaluasi

BAB VI

PELAPORAN

Hasil pemantauan dan evaluasi yang dilakukan oleh Tim Teknis Pusat / Provinsi dilaku- kan pada setiap kali penyelenggaraan kegiatan MTU berlangsung, pemantauan dapat menggunakan format monev yang tedapat pada “Buku Petunjuk Operasional Pelatihan Konstruksi Berbasis Kompetensi Menggunakan Kendaraan Pelatihan Keliling MTU”. Pemantauan dan evaluasi dilakukan secara bertahap, mengikuti proses kegiatan MTU dan hasilnya direkapitulasi sampai dengan kegiatan MTU berakhir, sehingga datanya dapat dipergunakan untuk kebutuhan laporan akhir yang merupakan hasil dari penye- lenggaraan MTU.

A.
A.

JADWAL PELAPORAN

Tim Teknis Pusat/ Provinsi menyampaikan laporan kepada Tim Koordinasi Pusat/

Provinsi pada setiap kali penyelenggraan kegiatan MTU selesai dan sebelum kegiatan

MTU lainnya dimulai. Penyampaian laporan tersebut maksimal 10 hari setelah tahapan

kegiatan selesai.

Pelaporan Tim Koordinasi Provinsi kepada Tim Koordinasi Pusat, dan pelaporan Tim

Koordinasi Pusat kepada Menteri, dilakukan maksimal 10 hari setelah pelaporan Tim

Teknis Provinsi atau Tim Koordinasi Provinsi diterima.

B.
B.

PELAPORAN ELEKTRONIK

Penyampaian pelaporan secara elektronik dilakukan dengan menggunakan pelaporan

on-line melalui http:/www.pusbinkpk.net/portal.

C.
C.

MEKANISME PELAPORAN

Mekanisme pelaporan adalah sebagaimana ditentukan dalam Lampiran 5. yang merupa-

kan bagian yang tidak terpisahkan dari petunjuk teknis ini. Adapun untuk format laporan,

dapat dibaca pada “Buku Petunjuk Operasional Pelatihan Konstruksi Berbasis Kompe- tensi Menggunakan Kendaraan Pelatihan Keliling MTU”.

22 | BAB 6 Pelaporan

LAMPIRAN

LAMPIRAN 2.1.

POLA PEMANFAATAN MTU

FASILITASI UJI / SERTIFIKASI

2.1. POLA PEMANFAATAN MTU FASILITASI UJI / SERTIFIKASI A Lokasi Proyek Infrastruktur B Lokasi Proyek
A Lokasi Proyek Infrastruktur
A
Lokasi
Proyek
Infrastruktur
B Lokasi Proyek Infrastruktur
B
Lokasi
Proyek
Infrastruktur

Durasi

Target Peserta

Jumlah Peserta

Kegiatan

: Maksimal 3 Hari

: Tenaga Kerja Proyek

: ± 50 Peserta

: Pembekalan

-

-

-

-

Wawancara

Ujian Praktek

Serti kasi

POLA PEMANFAATAN MTU

PELATIHAN KONSTRUKSI

POLA PEMANFAATAN MTU PELATIHAN KONSTRUKSI A Lokasi Kantong Tenaga Kerja Konstruksi B Lokasi Kantong Tenaga Kerja
A Lokasi Kantong Tenaga Kerja Konstruksi
A
Lokasi
Kantong
Tenaga Kerja
Konstruksi
B Lokasi Kantong Tenaga Kerja Konstruksi
B
Lokasi
Kantong
Tenaga Kerja
Konstruksi

Durasi

Target Peserta

Jumlah Peserta

Kegiatan

: Maksimal 6 Hari

: Masyarakat / Calon Nakerkons

: ± 25 Peserta

: Pembelajaran Teori

-

-

Pembelajaran Praktek

-

Evaluasi

-

Pemberian Rujukan ke LPJKD Setempat dalam penerbitan SKTK

POLA PEMANFAATAN MTU

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

POLA PEMANFAATAN MTU PEMBERDAYAAN MASYARAKAT A Lokasi Infrastruktur Dasar / PNPM B Lokasi Proyek Infrastruktur
A Lokasi Infrastruktur Dasar / PNPM
A
Lokasi
Infrastruktur
Dasar / PNPM
B Lokasi Proyek Infrastruktur
B
Lokasi
Proyek
Infrastruktur

Durasi

Target Peserta

Jumlah Peserta

Kegiatan

: Maksimal 3 Hari

: Masyarakat / Calon Nakerkons

: ± 25 Peserta

: Sosialisasi K3 Konstruksi

-

-

Sosialisasi UU Jasa Konstruksi Khusus Serti kasi dan Kecelakaan Bangunan

-

Pembelajaran Teori Konstruksi

-

Evaluasi

LAMPIRAN 2.2.

PROFIL JABATAN KERJA PELATIHAN KONSTRUKSI KELILING

Pro l kompetensi dan persyaratan rekrutmen Jabatan Kerja dijelaskan sebagai berikut:

rekrutmen Jabatan Kerja dijelaskan sebagai berikut: 1. PROFILE KOMPETENSI TUKANG KAYU Uraian Singkat Pelatihan
rekrutmen Jabatan Kerja dijelaskan sebagai berikut: 1. PROFILE KOMPETENSI TUKANG KAYU Uraian Singkat Pelatihan

1. PROFILE KOMPETENSI TUKANG KAYU

Uraian Singkat Pelatihan Jabatan kerja TUKANG KAYU KONSTRUKSI adalah melaksanakan

pekerjaan konstruksi kayu sesuai dengan gambar kerja, spesi kasi dan metode

kerja yang telah ditetapkan.

kerja, spesi kasi dan metode kerja yang telah ditetapkan. 1. Kesehatan dan Keselamatan Kerja & Lingkungan

1. Kesehatan dan Keselamatan Kerja & Lingkungan (K3L)

2. Menggunakan peralatan manual, dan peralatan listrik

3. Menyiapkan proses konstruksi kayu

4. Membuat komponen bangunan

5. Memasang perancah dan bekisting kayu

6. Memasang rangka plafon dan penutup plafon

7. Merakit kuda-kuda dan memasang rangka atap

8. Memasang dan menyetel kusen, daun pintu dan jendela

9. Merakit dan memasang tangga serta railing dari kayu

10. Merakit dan memasang konstruksi lantai kayu

11. Memasang lantai parket

12. Merakit dan memasang dinding kayu

Kompetensi yang dipersyaratkan :

dan memasang dinding kayu Kompetensi yang dipersyaratkan : Lama pelatihan : 48 JPL (13 teori+31 praktek

Lama pelatihan : 48 JPL (13 teori+31 praktek + 4 evaluasi/uji)

Persyaratan peserta Pelatihan : Lulusan SLTP

2. PROFILE KOMPETENSI TUKANG BESI

 
 

Uraian Singkat Pelatihan Jabatan kerja TUKANG BESI KONSTRUKSI adalah melaksanakan

pekerjaan konstruksi besi sesuai dengan gambar kerja, spesi kasi dan metode

kerja yang telah ditetapkan.

kerja, spesi kasi dan metode kerja yang telah ditetapkan.         Kompetensi yang dipersyaratkan
 
 
 
kasi dan metode kerja yang telah ditetapkan.         Kompetensi yang dipersyaratkan : 1.
 
 

Kompetensi yang dipersyaratkan :

1. Kesehatan dan Keselamatan Kerja & Lingkungan (K3L)

2. Melaksanakan Pekerjaan Persiapan

3. Melakukan Pekerjaan Penulangan

4. Membersihkan dan Merapikan Lingkungan Kerja

5. Evaluasi

4. Membersihkan dan Merapikan Lingkungan Kerja 5. Evaluasi   Lama pelatihan : 48 JPL ( 23
 

Lama pelatihan : 48 JPL ( 23 Teori + 31 Praktek + 4 Evaluasi / Uji ) Persyaratan peserta Pelatihan : Lulusan Sekolah Dasar (Bisa Baca Tulis), Berpengalaman Minimal 3 Tahun sebagai Tukang.

3. PROFILE KOMPETENSI TUKANG BATU (PASANG BATA) Uraian Singkat Pelatihan Jabatan kerja Tukang Pasang Bata
3. PROFILE KOMPETENSI TUKANG BATU (PASANG BATA) Uraian Singkat Pelatihan Jabatan kerja Tukang Pasang Bata
3. PROFILE KOMPETENSI TUKANG BATU (PASANG BATA) Uraian Singkat Pelatihan Jabatan kerja Tukang Pasang Bata

3. PROFILE KOMPETENSI TUKANG BATU (PASANG BATA)

Uraian Singkat Pelatihan Jabatan kerja Tukang Pasang Bata adalah melaksanakan pekerjaan pemasangan bata sesuai dengan gambar kerja, spesi kasi dan metode kerja yang telah ditetapkan.

kerja, spesi kasi dan metode kerja yang telah ditetapkan. 1. Kesehatan dan Keselamatan Kerja & Lingkungan

1. Kesehatan dan Keselamatan Kerja & Lingkungan (K3L)

2. Penyiapan Material dan Peralatan

3. Menyiapkan Lokasi Pekerjaan

4. Membuat Adukan Semen

5. Melaksanakan Pekerjaan Pasangan Bata

6. Membuat kolom Pasangan Bata

7. Membuat Pasangan Bata Lengkung

8. Membuat Pasangan Bata Dekoratif

9. Evaluasi

Kompetensi yang dipersyaratkan :

Lama pelatihan : 48 JPL ( 13 Teori + 31 Praktek + 4 Evaluasi / Uji ) Persyaratan peserta Pelatihan : Lulusan Sekolah Dasar (Bisa Baca Tulis)

4. PROFILE KOMPETENSI TUKANG BATU (PLESTER) Uraian Singkat Pelatihan Jabatan kerja Tukang Plester adalah melaksanakan
4. PROFILE KOMPETENSI TUKANG BATU (PLESTER) Uraian Singkat Pelatihan Jabatan kerja Tukang Plester adalah melaksanakan
4. PROFILE KOMPETENSI TUKANG BATU (PLESTER) Uraian Singkat Pelatihan Jabatan kerja Tukang Plester adalah melaksanakan

4. PROFILE KOMPETENSI TUKANG BATU (PLESTER)

Uraian Singkat Pelatihan Jabatan kerja Tukang Plester adalah melaksanakan pekerjaan plesteran bidang dan sudut nishing plesteran pada bangunan.

bidang dan sudut nishing plesteran pada bangunan. Kompetensi yang dipersyaratkan : 1. Kesehatan dan

Kompetensi yang dipersyaratkan :

1. Kesehatan dan Keselamatan Kerja & Lingkungan (K3L)

2. Membaca gambar sederhana

3. Mengarahkan layanan/kenek untuk membuat adukan plesteran

4. Menggunakan peralatan

5. Mengerjakan plesteran bidang datar dan sudut

6. Evaluasi

Lama pelatihan : 48 JPL ( 13 Teori + 31 Praktek + 4 Evaluasi / Uji )

Persyaratan peserta Pelatihan : Lulusan Sekolah Dasar (Bisa Baca Tulis)

5. PROFILE KOMPETENSI TUKANG BATU (KERAMIK/UBIN) Uraian Singkat Pelatihan Jabatan kerja TUKANG BESI KONSTRUKSI adalah
5. PROFILE KOMPETENSI TUKANG BATU (KERAMIK/UBIN)
Uraian Singkat
Pelatihan Jabatan kerja TUKANG BESI KONSTRUKSI adalah melaksanakan
pekerjaan konstruksi besi sesuai dengan gambar kerja, spesi kasi dan metode
kerja yang telah ditetapkan.
Kompetensi yang dipersyaratkan :
1. Kesehatan dan Keselamatan Kerja & Lingkungan (K3L)
2. Memilih dan menggunakan bahan Ubin
3. Menggunakan dan merawat alat
4. Membaca dan membuat sketsa gambar
5. Mengatur bidang plesteran
6. Menghitung Volume Bahan
7. Evaluasi
Lama pelatihan : 48 JPL ( 13 Teori + 31 Praktek + 4 Evaluasi / Uji )
Persyaratan peserta Pelatihan : Pendidikan formal Minimal SMP,
Berpengalaman Min 3 Tahun sebagai Tukang.

6. PROFILE KOMPETENSI TUKANG BANGUNAN UMUM

 

Uraian Singkat

Pelatihan Jabatan kerja PELATIHAN TUKANG BANGUNAN UMUM melakukan tugas-tugas pengecoran beton, pemasangan batu bata, pertukangan kayu dan tugas pekerjaan konstruksi lainnya.

pertukangan kayu dan tugas pekerjaan konstruksi lainnya.         Kompetensi yang dipersyaratkan :
 
 
 
kayu dan tugas pekerjaan konstruksi lainnya.         Kompetensi yang dipersyaratkan : 1. Kesehatan
 
 

Kompetensi yang dipersyaratkan :

1. Kesehatan dan Keselamatan Kerja & Lingkungan (K3L)

2. Melakukan pekerjaan konstruksi kayu mulai dari mengetam,

membuat pen sambungan kayu, memahat, mengebor kayu sampai

dengan menghaluskan permukaan kayu.

3. Memasang bowplank.

4. Melakukan pekerjaan pembesian.

5. Membuat bekisting untuk sloof.

6. Mengecor beton bertulang pada kolom, sloof, lantai beton,

dan pondasi beton.

7. Menyetel kusen pintu dan jendela.

8. Memasang pasangan batu bata di dinding, di atas pintu

dan jendela juga dalam macam-macam sambungan.

9. Memasang lantai/ubin/keramik.

10. Memasang pondasi batu kali.

11. Memplester dinding tembok.

Memasang pondasi batu kali. 11. Memplester dinding tembok. Lama pelatihan : 48 JPL ( 13 Teori

Lama pelatihan : 48 JPL ( 13 Teori + 31 Praktek + 4 Evaluasi / Uji )

Persyaratan peserta Pelatihan : Lulusan SLTP

LAMPIRAN 2.3.

DAFTAR ASET dan PERALATAN

A. Peralatan MTU Daftar Peralatan Tukang Besi

No

Jenis Alat

Volume

Satuan

1

Alat potong Type tuas tangan ( Bar Cutter uk. 18")

21

buah

2

Catut/Gegep (Pincer)

70

buah

3

Gergaji besi (Two Angels Hacksaw)

35

buah

4

Jangka Mal 1/2 Lingkaran

14

buah

5

Kabel Listrik roll uk. 50m

14

buah

6

Mesin potong kawat beton + mata (angel grinder)

14

buah

7

meteran/alat ukur P = 5 m (meassuring)

70

buah

8

Paron uk. 25 kgl (anvil) / tatakan

14

buah

9

Roll Binder (pembengkok besi rakitan pabrik)

35

buah

10

sigmat (varnier caliper 8"x200/0,05 mm

35

buah

11

Tang uk. 8" (combination plier)

70

buah

12

Tool kit BOOK ukuran Besar

35

buah

13

Tool kit book Alat

7

buah

14

Dudukan Tiang Merakit pembesian

35

pasang

15

Kunci besi uk. 6" + tangkai (manual angel binder)

70

buah

16

kunci besi uk. 8" + tangkai (manual angel binder)

70

buah

17

kunci besi uk. 10" + tangakai ( manual anger binder)

70

buah

18

kunci besi uk. 12 " + Tangkai ( manual angel binder)

70

buah

19

meja tempat pembengkokan besi

35

buah

Daftar Peralatan Tukang Kayu

No

Jenis Alat

Volume

Satuan

1

Batu Asahan Uk. P = 25 cm

35

buah

2

Compressor 2 HP Portable + Air Spray Gun (Gravity)

7

buah

3

Gergaji Belah (manual)

35

buah

4

Gergaji Potong (manual)

35

buah

5

Klem press kayu bentuk F uk. P = 40cm (F Clamp 40cm)

35

buah

6

Klem press kayu bentuk F uk. P = 120cm (F Clamp 120cm)

35

buah

7

Klem press kayu bentuk G uk. P = 120cm (G Clamp 120cm)

35

buah

8

Kape perlengkapan finishng 1 set

35

buah

9

Kikir Ukuran Besar L = 2,4 cm P = 25 cm bentuknya

35

buah

setengah lingkaran kasar

10

Kikir uk. Besar L = 2,4 cm P = 25 cm Bentuknya setengah

35

buah

lingkaran jenis halus

11

Kikir kecil 1 set (Needle File)

35

buah

12

Kikir bulat 10' (Bastard)

35

buah

13

Kikir bulat 10" (Smooth)

35

buah

14

Mata pisau ketam (mesin ketam portable)

35

buah

15

Mata bor kayu 1 set uk. = 0,3 s/d 10 mm

35

buah

16

Meteran/Alat ukur (5m)

35

buah

17

Mesin Amplas

7

unit

18

Mesin Bor (Impact Drill 13 mm)

7

unit

19

Mesin Ketam (Planner)

7

unit

20

Mesin profil (signal ruter)

7

unit

21

Mesin potong kayu (circular saw 190 mm)

7

unit

22

Penggaris/Mistar baja uk. P = 100 cm

7

unit

23

Penggaris/Mistar baja uk. P = 35 cm

7

unit

24

Pahat 1 set Uk. 0,5", 1", 2" (6 pcs)

35

buah

25

Siku ( 90) uk. Kecil

35

buah

26

Alat Ketam Manual Uk.P = 35 cm Bahan Kayu

35

buah

27

Alat Ketam Manual Uk. P = 56 cm Bahan Kayu

35

buah

28

Palu kayu bentuk bulat

35

buah

29

palu kayu bentuk persegi

35

buah

30

Prusut kayu

35

buah

Daftar Peralatan Tukang Batu (pasang bata,plester dan keramik / ubin)

No

Jenis Alat

Volume

Satuan

1

Alat Pemotong Keramik Manual

21

Buah

2

Benang Besar Type Nylon

35

buah

3

Bak Air 25 ltr

35

buah

4

Cangkul

35

buah

5

Ember Kecil Ukuran 5 - 7 ltr

35

buah

6

Ember Kecil Ukuran 8 - 10 ltr

35

buah

7

Gergaji Potong Kayu

35

buah

8

Gergaji Potong Baja

35

buah

9

Gerobak Sorong

7

buah

10

Golok/Parang Ukuran Kecil

35

buah

11

Jointer

35

buah

12

Line Bobin

35

buah

13

Lemkra Serok Gigi Pendek

35

buah

14

Lampu senter Ukuran Kecil

7

buah

15

Lampu Senter Ukuran Besar

7

buah

16

Mesin Potong Keramik

7

Unit

17

Meteran 5 M

70

buah

18

Mortal Towel/ Bright lying

35

buah

19

Palu Uk. 1 Kg

35

buah

20

Palu Uk. 1,5 Kg

35

buah

21

Palu 2 Kg

35

buah

22

Palu Uk. 0, Kg

35

buah

23

Palu Karet

35

buah

24

Roskam baja

35

buah

25

Sekop

35

buah

26

Selang Air Besar 3/4"

7

Roll

27

Selang Waterpass

7

Roll

28

Siku Besar

35

buah

29

Siku Kecil

35

buah

30

Sendok Spesi (cetok) Bentuk Oval

140

buah

31

Sendok Spesi (cetok) Bentuk Persegi

35

buah

32 Siku Kecil Dengan Uk. 90

35

buah

33 Unting-unting/Lot

35

buah

34 Waterpass Air Raksa Untuk 50 cm

35

buah

35 Waterpass Air Raksa Untuk120 cm

35

buah

36 Bak (Dolak) Baja Uk. 70x70x20 cm

35

Buah

37 Jidar

35

buah

38 Roskam Kayu

35

buah

39 Tempat adukan Bahan Plat Besi Uk. 40x30x15

35

buah

Daftar Alat Peraga

 

No

Jenis Alat

Volume

Satuan

I

TUKANG BATU

7

unit

1

Pasangan bata lurus

7

unit

2

Pasangan bata siku

7

unit

3

Pasangan Kolom bata

7

unit

4

Pasangan bata lingkar segmental

7

unit

5

Pasangan bata 1/2 lingkaran

7

unit

6

Pasangan keramik dinding

7

unit

7

Pasangan keramik lantai

7

unit

8

Pasangan keramik sudut dalam

7

unit

9

Pasangan keramik sudut luar

7

unit

10

Pasangan keramik pertemuan sudut

7

unit

11

Plesteran dinding

7

unit

12

Plesteran sudut dalam

7

unit

13

Plesteran sudut luar

7

unit

14

Plesteran Kop

7

unit

15

Plesteran profil

7

unit

II

TUKANG KAYU

1

Kusen Pintu tunggal

7

unit

2

Kusen pintu gendong

7

unit

3

Daun pintu panel

7

unit

4

Daun jendela

7

unit

5

Kuda - kuda kayu

7

unit

6

contoh - contoh sambungan ;

7

unit

III

TUKANG BESI

1

Pembesian pondasi sudut

7

unit

2

Pembesian pondasi tepi tengah

7

unit

3

Pembesian pondasi tengah

7

unit

4

Pembesian sambungan kolom

7

unit

5

Pembesian pertemuan sloof dengan kolom

7

unit

6

pembesian sambungan sloof

7

unit

7

Pembesian kolom

7

unit

8

Pembesian Sloop

7

unit

9

Contoh besi ulir 8-10-13-16

7

unit

10

Contoh bengkokan 45-90-180

7

unit

11

Mal diameter 8 mm

7

unit

12

Mal diameter 10 mm

7

unit

13

Mal diameter 12 mm

7

unit

LAMPIRAN 3.1.

BAGAN ALUR PENGUSULAN KEGIATAN & FORMAT (1)

Rentra

Rentra RKP

RKP

Kementerian

Kementerian

PU

PU

RKP

RKP Rentra

Rentra

Provinsi

Provinsi

Penjabaran Prioritas RPKP Kementerian PU Nasional
Penjabaran
Prioritas
RPKP
Kementerian
PU
Nasional

KAK / RAB

Prioritas RPKP Kementerian PU Nasional KAK / RAB Sinergi Rencana Kegiatan MOU SPK DAN SPTJM Penjabaran

Sinergi

Rencana

Kegiatan

MOU

SPK

DAN SPTJMNasional KAK / RAB Sinergi Rencana Kegiatan MOU SPK Penjabaran Data RPKP Provinsi Teknis / RK

Penjabaran Data RPKP Provinsi Teknis / RK RK-MTU DAN RMP
Penjabaran
Data
RPKP
Provinsi
Teknis / RK
RK-MTU
DAN RMP

Pengendalian

Pelaksanaan

KegiatanData RPKP Provinsi Teknis / RK RK-MTU DAN RMP Pengendalian Pelaksanaan Pemantauan Pelaporan dan 38 |

Pemantauan

Pelaporan danData RPKP Provinsi Teknis / RK RK-MTU DAN RMP Pengendalian Pelaksanaan Kegiatan Pemantauan 38 | Lampiran

LAMPIRAN 3.2.

BAGAN ALUR PENGUSULAN KEGIATAN & FORMAT (2)

LAMPIRAN 3.2. BAGAN ALUR PENGUSULAN KEGIATAN & FORMAT (2) Lampiran 3.2 | 39

LAMPIRAN 3.3.

BAGAN ALUR PENGUSULAN KEGIATAN & FORMAT (3)

LAMPIRAN 3.3. BAGAN ALUR PENGUSULAN KEGIATAN & FORMAT (3) 40 | Lampiran 3.3

LAMPIRAN 3.4.

BAGAN ALUR PENGUSULAN KEGIATAN & FORMAT (4)

LAMPIRAN 3.4. BAGAN ALUR PENGUSULAN KEGIATAN & FORMAT (4) Lampiran 3.4 | 41

LAMPIRAN 3.5.

STRUKTUR ORGANISASI TATA LAKSANA

Koordinasi PENGARAH PUSAT: KA SATKER PIMPINAN INSTANSI PEMERINTAH DAERAH Kontrak PPK TIM PENYELENGGARA : ULP
Koordinasi
PENGARAH PUSAT: KA
SATKER
PIMPINAN INSTANSI
PEMERINTAH DAERAH
Kontrak
PPK
TIM PENYELENGGARA :
ULP
1. PENGARAH
2. PENANGGUNG JAWAB
3. PELAKSANA ADMINISTRASI
KEGIATAN
TIM TEKNIS
a. ketua
PERENCANA DAN
b. sekretaris
PENGAWAS
c. anggota
4. PELAKSANA OPERASIONAL MTU
a. Ketua
b. Supir
PANITIA PELAKSANA
- KETUA
- SEKRETARIS
- ANGGOTA

LAMPIRAN 4.

MEKANISME PENYELENGGARAAN KEGIATAN MTU

LAMPIRAN 4. MEKANISME PENYELENGGARAAN KEGIATAN MTU Lampiran 4 | 43

LAMPIRAN 5.

BAGAN ALUR MONEV, EVALUASI dan PELAPORAN

LAMPIRAN 5. BAGAN ALUR MONEV, EVALUASI dan PELAPORAN 44 | Lampiran 5
PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN KONSTRUKSI BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM REPUBLIK

PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN KONSTRUKSI BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA