Anda di halaman 1dari 7

88

Susunan Dalam Satu Naskah

Undang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata


Cara Perpajakan

Susunan Dalam Satu Naskah

89

Undang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan

pajak,
kantor
admini
strasi,
dan/at
au
pihak
ketiga
lainny
a,
yang
memp
unyai
hubun
gan
denga
n
Wajib
Pajak
yang
dilaku
kan
pemer
iksaan
pajak,
penagi
han
pajak,
atau
penyid
ikan
tindak
pidana
di
bidang
perpaj
akan,
atas
permi
ntaan
tertulis
dari
Direkt
ur
Jende
ral
Pajak,
pihakpihak
terseb
ut
wajib
memb
erikan
ketera
ngan
atau

bukti
yang
dimint
a. ***)
(2)

Dalam
hal
pihakpihak
sebag
aiman
a
dimak
sud
pada
ayat
(1)
terikat
oleh
kewaji
ban
merah
asiaka
n,
untuk
keperl
uan
pemeri
ksaan,
penagi
han
pajak,
atau
penyid
ikan
tindak
pidana
di
bidang
perpaj
akan,
kewaji
ban
merah
asiaka
n
terseb
ut
ditiada
kan,
kecual
i untuk
bank,
kewaji
ban
merah
asiaka

n
ditiad
akan
atas
permi
ntaan
tertuli
s dari
Mente
ri
Keuan
gan.
***)
(3)

P
e
n
j
e
l

Tata
cara
permi
ntaan
ketera
ngan
atau
bukti
dari
pihakpihak
yang
terikat
oleh
kewaji
ban
merah
asiaka
n
sebag
aiman
a
dimak
sud
pada
ayat
(2)
diatur
denga
n atau
berda
sarka
n
Perat
uran
Mente
ri
Keuan
gan.
***)

a
s
a
n
P
a
s
a
l
3
5
A
y
a
t
(
1
)
Untuk
menjalanka
n
ketentuan
peraturan
perundangundangan
perpajakan
,
atas
permintaan
tertulis
Direktur
Jenderal
Pajak,
pihak
ketiga yaitu
bank,
akuntan
publik,
notaris,
konsultan
pajak,
kantor
administras
i, dan pihak
ketiga
lainnya
yang
mempunyai
hubungan
dengan
kegiatan
usaha
Wajib
Pajak yang
dilakukan
pemeriksa
an
pajak
atau
penagihan
pajak atau
penyidikan
tindak

pidana di
bidang
perpajakan
harus
memberika
n
keterangan
atau buktibukti yang
diminta.
Yang
dimaksud
dengan
konsultan
pajak
adalah
setiap
orang yang
dalam
lingkungan
pekerjaann
ya secara
bebas
memberika
n
jasa
konsultasi
kepada
Wajib
Pajak
dalam
melaksana
kan
hak
dan
memenuhi
kewajiban
perpajakan
nya sesuai
dengan
ketentuan
peraturan
perundangundangan
perpajakan
.

Menteri
Keuangan
berwenang
mengeluark
an perintah
tertulis
kepada
bank agar
memberika
n
keterangan
dan
memperliha
tkan buktibukti
tertulis
serta
surat-surat
mengenai
keadaan
keuangan
nasabah
penyimpan
tertentu
kepada
pejabat
pajak.
A
y
a
t
(
3
)
C
u

A
y
a
t
(
2
)
Untuk
kepentinga
n
perpajakan
, pimpinan
Bank
Indonesia
atas
permintaan

k
u
p
j
e
l
a
s
.

Pasal 3

(1)

(2)

Setiap
instan
si
pemer
intah,
lemba
ga,
asosia
si, dan
pihak
lain,
wajib
memb
erikan
data
dan
inform
asi
yang
berkait
an
denga
n
perpaj
akan
kepad
a
Direkt
orat
Jende
ral
Pajak
yang
ketent
uanny
a
diatur
denga
n
Peratu
ran
Pemer
intah
denga
n
memp
erhatik
an
ketent
uan
sebag
aiman
a
dimak
sud
dalam
Pasal
35
ayat
(2).
Dalam

hal
data
dan
inform
asi
sebag
aiman
a
dimak
sud
pada
ayat
(1)
tidak
mencu
kupi,
Direkt
ur
Jender
al
Pajak
berwe
nang
meng
himpu
n data
dan
inform
asi
untuk
kepent
ingan
peneri
maan
negar
a yang
ketent
uanny
a
diatur
denga
n
Peratu
ran
Pemer
intah
denga
n
memp
erhatik
an
ketent
uan
sebag
aiman
a
dimak
sud
dalam
Pasal
35

ayat
(2).

P
e
n
j
e
l
a
s
a
n
P
a
s
a
l
3
5
A
A
y
a
t
(
1
)
Dalam
rangka
pengawasa
n
kepatuhan
pelaksanaa
n
kewajiban
perpajakan
sebagai
konsekuen
si
penerapan
sistem self
assessmen
t, data dan
informasi
yang
berkaitan
dengan
perpajakan
yang
bersumber
dari
instansi
pemerintah
, lembaga,
asosiasi,
dan pihak
lain sangat
diperlukan
oleh
Direktorat

Jenderal
Pajak. Data
dan
informasi
dimaksud
adalah
data dan
informasi
orang
pribadi
atau
badan
yang
dapat
menggamb
arkan
kegiatan
atau
usaha,
peredaran
usaha,
penghasila
n dan/atau
kekayaan
yang
bersangkut
an,
termasuk
informasi
mengenai
nasabah
debitur,
data
transaksi
keuangan
dan
lalu
lintas
devisa,
kartu
kredit,
serta
laporan
keuangan
dan/atau
laporan
kegiatan
usaha
yang
disampaik
an kepada
instansi
lain di luar
Direktorat
Jenderal
Pajak.
Dalam
rangka
pelaksana
an
ketentuan
ini,

sumber,
jenis, dan
tata
cara
penyampai
an
data
dan
informasi
kepada
Direktorat
Jenderal
Pajak
diatur
dengan
Peraturan
Pemerinta
h.
A
y
a
t
(
2
)
Apabila
data
dan
informasi
yang
berkaitan
dengan
perpajakan
yang
diberikan
oleh
instansi
pemerintah
, lembaga,
asosiasi,
dan pihak
lain belum
mencukupi
,
untuk
kepentinga
n
penerimaa
n negara,
Direktur
Jenderal
Pajak
dapat
menghimp
un
data
dan
informasi
yang
berkaitan
dengan
perpajakan
sehubunga

n dengan
terjadinya
suatu
peristiwa
yang
diperkiraka
n berkaitan
dengan
pemenuha
n
kewajiban
perpajakan
Wajib
Pajak
dengan
memperhat
ikan
ketentuan
tentang
kerahasiaa
n atas data
dan
informasi
dimaksud.
Pasal 36
(1)
Direktur
Jenderal
Pajak
karena
jabatan
atau atas
permohona
n
Wajib
Pajak
dapat:
***)
a.
m
e
n
g
u
r
a
n
g
k
a
n
a
t
a
u
m
e
n
g

h
a
p
u
s
k
a
n
s
a
n
k
s
i
a
d
m
i
n
i
s
tr
a
s
i
b
e
r
u
p
a
b
u
n
g
a
,
d
e
n
d
a
,
d
a
n
k
e
n
a
i
k
a
n
y
a
n
g
t
e
r

u
t
a
n
g
s
e
s
u
a
i
d
e
n
g
a
n
k
e
t
e
n
t
u
a
n
p
e
r
a
t
u
r
a
n
p
e
r
u
n
d
a
n
g
u
n
d
a
n
g
a
n
p
e
r

p
a
j
a
k
a
n
d
a
l
a
m
h
a
l
s
a
n
k
s
i
t
e
r
s
e
b
u
t
d
i
k
e
n
a
k
a
n
k
a
r
e
n
a
k
e
k
h
il
a
f
a
n
W
a
ji
b
P
a
j

a
k
a
t
a
u
b
u
k
a
n
k
a
r
e
n
a
k
e
s
a
l
a
h
a
n
n
y
a
;
b.
mengu
rangka
n atau
memba
talkan
surat
ketetap
an
pajak
yang
tidak
benar;
c.
m
e
n
g
u
r
a
n
g
k
a
n
a
t
a
u

m
e
m
b
a
t
a
l
k
a
n
S
u
r
a
t
T
a
g
i
h
a
n
P
a
j
a
k
s
e
b
a
g
a
i
m
a
n
a
d
i
m
a
k
s
u
d
d
a
l
a
m
P
a
s
a
l
1
4
y

a
n
g
ti
d
a
k
b
e
n
a
r
;
a
t
a
u
d.
m
e
m
b
a
t
a
l
k
a
n
h
a
s
il
p
e
m
e
r
i
k
s
a
a
n
p
a
j
a
k
a
t
a
u
s
u
r

a
t
k
e
t
e
t
a
p
a
n
p
a
j
a
k
d
a
ri
h
a
s
il
p
e
m
e
ri
k
s
a
a
n
y
a
n
g
d
il
a
k
s
a
n
a
k
a
n
t
a
n
p
a
:
1
.
p
e
n
y

a
m
p
a
i
a
n

m
eri
ks
aa
n
de
ng
an
W
aji
b
Pa
ja
k.

s
u
r
a
t
p
e
m
b
e
r
i
t
a
h
u
a
n

(1a)
Permo
honan
sebag
aiman
a
dimak
sud
pada
ayat
(1)
huruf
a,
huruf
b, dan
huruf
c
hanya
dapat
diajuk
an
oleh
Wajib
Pajak
paling
banya
k
2
(dua)
kali.
***)

h
a
s
i
l
p
e
m
e
r
i
k
s
a
a
n
;
a
t
a
u
2.
pe
m
ba
ha
sa
n
ak
hir
ha
sil
pe

(1b)
Permo
honan
sebag
aiman
a
dimak
sud
pada
ayat
(1)
huruf
d
hanya
dapat
diajuk
an

oleh
Wajib
Pajak
1
(satu)
kali.
***)
(1c)
Direkt
ur
Jende
ral
Pajak
dalam
jangk
a
waktu
paling
lama
6
(enam
)
bulan
sejak
tangg

al
permo
honan
sebag
aiman
a
dimak
sud
pada
ayat
(1)
diteri
ma,
harus
memb
eri
keput
usan
atas
permo
honan
yang
diajuk
an.
***)