Anda di halaman 1dari 12

Takut Berada di Dapur atau Kamar Mandi

Laporan ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Analisis Perubahan Tingkah Laku
Dosen Pengampu: 1. Dr. Muhammad Japar, M.Si, Kons.
2. Nofi Nur Yuhenita, M.Psi.

Disususn oleh:
Filaeli Fatmawati

( 13.0301.0027 )

BIMBINGAN DAN KONSELING


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG
2016

BAB I. IDENTITAS KONSELI


A. Identitas siswa
1. Nama lengkap
2. Nama panggilan
3. Kelas
4. Tempat dan tanggal lahir
5. Agama
6. Anak ke
7. Tinggi dan berat badan
8. Alamat rumah
9. Hobi
10. Cita-cita
B. Identitas Orang Tua
1. Identitas Ayah
a. Nama lengkap
b. Tempat, tanggal lahir
c. Agama
d. Pendidikan
e. Pekerjaan
f. Alamat
g. Status ayah
2. Identitas Ibu
a. Nama lengkap
b. Tempat, tanggal lahir
c. Agama
d. Pendidikan
e. Pekerjaan
f. Alamat
g. Status ibu

: YPD
:Y
: 3 (Tiga) SD Negeri Sucen 1
: Temanggung, 04 Mei 2006
: Islam
: 1 dari 2 bersaudara
:138 cm dan 32 kg
: Sucen Rt 05 Rw 04, Gemawang, Temanggung
: Sepak bola, dan bermain kelereng
: PNS
: Mujiyanto
: Temanggung, 17 Februari 1979
: Islam
: SMP/Sederajat
: Tani
: Sucen Rt 05 Rw 04, Gemawang, Temanggung
: Kandung
: Parmiyah
: Temanggung, 10 Januari 1981
: Islam
: SMA/Sederajat
: Tani
: Sucen Rt 05 Rw 04, Gemawang, Temanggung
: Kandung

BAB II. Analisis Perilaku


A. Target Perilaku
Dalam target perilaku ini hal yang harus dilakukan pertama kita mengidentifikasi
masalah dan kedua perilaku yang akan dikurangi dari konseli tersebut. Target perilaku
yang pertama yaitu perilaku yang akan dikurangi berdasarkan perilaku konseli yaitu
ketika ingin mendapatkan sesuatu tidak dipenuhi maka anak tersbut sellau marahmarah dan tidak bias control emosi. Target perilaku yang diharapkan adalah agar

konseli tidak gampang marah ketika tidak terpenuhinya sesuatu yang diharapkan.
Analisis Fungsi dengan Formula ABC :
1. Antecedent
Antecedent ini berfungsi untuk menekankan pada pencetus atau latar belakang
perilaku bermasalah tersebut muncul. Berdasarkan hasil pengumpulan data, maka
yang melatarbelakangi perilaku konseli adalah
a. Konseli pada saat TK selalu dimanja dengan orang disekitar
b. Konseli dibiasakan kebutuhannya terpenuhi dengan baik
c. Orang tuanya selalu memberikan uang jajan sesuai permintaan konseli
2. Behavior
Menekankan pada perlaku yang terjadi berdasarkan frekuensi dan durasinya.
a. Frekuensi/intensitas
Frekuensi/intensitas disini menekankan pada seberapa sering perilaku itu
muncul. Dalam permasalahan konseli, permasalahan konseli terjadi kapan saja
ketika berkeinginan untuk mendapatkan sesuatu yang diharapkan oleh dirinya
baik itu waktu ingin berangkat sekolah maupun pulang sekolah. Dan
keinginan itu tidak terpenuhi maka konseli langsung marah-marah.
b. Durasi
Dalam hal ini, konseli sering mengalami sikap marah-marah setiap ingin
mendapatkan sesuatu yang disukai.
c. Consequences
Akibat diperoleh konseli dari perilaku yang dilakukan adalah
a. Menjadi pribadi yang pemanja
b. Sering bersikap marah
c. Tidak dapat mengontrol emosinya secara lebih stabil
B. Deskripsi Perilaku
Konseli merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Konseli bernama YPD,
yang biasa dipanggil Y merupakan anak dari pasangan bapak Mujiyanto dan ibu
Parmiyah. Konseli tinggal di desa Sucen RT.05/RW.04, Gemawang, Temanggung.
Konseli sekarang duduk dibangku sekolah dasar kelas III SD Negeri Sucen 1.
Perilaku bermasalah yang dialami konseli adalah menjadi pribadi yang pemarah
ketika keinginan tidak terpenuhi.
Perilaku itu muncul dilatar belakangi oleh konseli yang pada duduk dibangku
TK selalu dimanja oleh orang tuanya dan keinginan apapun harus terpenuhi, karena
orang tuanya tersebut merasa kasihan kepada konseli ketika ingin sesuatu tidak
terpenuhi. Hal ini dilakukan oleh orang tuanya karena konseli sendiri dari umur 1
bulan sampai 2 tahun sakit-sakitan dan dalam jangka waktu 2 tahun tersebut konseli
masuk Rumah Sakit sebanyak 3 kali dan diumur 1 bulan nyawa konseli tidak akan
tertolong karena penyakit kejang yang sangat tinggi ketika dirawat di ICU RS

Temanggung. Dan konseli menjadi anak yang sehat tersebut ketika sudah masuk
taman kanak-kanak. Prestasi yang didapat konseli termasuk diatas rata-rata semua dan
sampai kelas 3 ini konseli sering masuk 10 besar dan sering juga mewakili sekolah
dalam lomba sebagai contoh lomba Pramuka tingkat Kab. Temanggung.
Kemudian dari pemahaman diatas orang tua selalu memanjakan konseli,
karena kalau tidak terpenuhi maka konseli akan melakukan hal-hal yang aneh seperti
keluar dari rumah tanpa pamit dan membawa pakaian yang banyak serta konseli juga
pernah mengatakan bahwa dirinya ingin pergi jauh ketika orang tuanya tidak
memnuhi apa yang diinginkan. Dengan hal ini orang tua merasa takut dengan
tindakan yang dilakukan konseli. Dan ketika anak tersebut disuruh melakukan sesuatu
oleh orang tuanya, maka konseli selalu meminta hadiah berupa Uang, dan hal ini
dilakukan beberapa kali dalam setiap harinya. Akan tetapi kadang konseli
mendapatkan uang tersebut dari orang tuanya selalu dikumpulkan untuk membeli
sesuatu yang dikehendaki sebagai contoh untuk membeli peliharaan Ayam. Kegiatan
ini tidak mesti dilakukan oleh konseli.
Konseli dalam setiap harinya selalu mmeinta uang sebanyak 5 kali dalam
setiap harinya, pada saat mau berangkat dan pulang sekolah kemudian berangkat dan
pulang mengaji serta malam habis maghrib dan sepulang mengaji, akan tetapi ketika
orang tuanya tidak memberikan konseli uang, maka konseli tersebut akan marahmarah dan kadang berteriak didalam rumah. Kemudian dalam konteks umum ketika
konseli ingin membeli sesuatu tidak terpenuhi misalnya membeli ayam, ataupun
sepeda ontel maka konseli kadang mengamuk dan marah-marah, hal ini dapat
mmebuat orang tua konseli jadi ikut marah karena terbawa suasana anak yang belum
bisa dapat diatur.
BAB III. Pengumpulan Data
A. Sumber Pengumpulan Data dan Hasilnya ;
1. Observasi (berapa kali):
Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan
melakukan pengamatan secara langsung dilapangan. Dan dari observasi yang telah
dilakukan, maka hasilnnya dapat diperoleh sebagai berikut
a. Topografi
Mengacu pada bentuk tingkah laku yang paling khas saat perilaku bermasalah
muncul. Dan topografi yang dimunculkan konseli adalah raut mukanya
memerah serta berteriak sekuatnya ketika tidak diijinkan melakukan sesuatu
ataupun tidak diberikan hal ingin diinginkan.

b. Stimulus yang harus dikontrol


Menekankan pada perangsang yang menyebabkan perilaku tersebut muncul
atau segala sesuatu yang menjadi rangsangan. Stimulus yang harus dikontrol
dari permasalahan konseli adalah bagaimana konseli tersebut dapat
mengurangi perilaku marahnya dan mengurangi sikap berteriaknya ketika
tidak diijinkan melakukan sesuatu.
c. Latency
Mengacu pada berapa lama waktu yang diperlukan untuk memunculkan
tingkah laku. Dan perilaku konseli muncul kapan saja ketika konseli
berkeinginan mendapatkan sesuatu yang diinginkan tidak terpenuhi.
2. Wawancara
Wawancara merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang dilakukan
melalui pertemuan langsung dengan memberikan sejumlah pertanyaan yang
digunakan untuk memperoleh data mengenai suatu objek yang diteliti. Wawancara
yang dilakukan dengan ayah, ibunya dan konseli. Hasil wawancara itu adalah
sebagai berikut :
a. Ayah
Menurut hasil wawancara dengan ayahnya bahwa adiknya lebih berani
atau tidak penakut seperti konseli. Adiknya berani untuk mengambil makanan
yang berada di dapur atau ketika buang air kecil juga sering sendirian. Tetapi
kakanya selalu takut untuk melakukan kegiatan di dapur seperti mengambil
makan, minum dan meletakkan piring atau gelas di dapur. Selain itu ketika
mandi atau buang air besar harus ada yang menemaninya. Jika tidak ada yang
menemani saat dia mandi pada waktu sore hari, dia akan mandi sampai ada
orang yang mau menemaninya atau ada orang yang di dapur, karena kamar
mandinya dekat dengan dapur. Ketika ditanya ayahnya, konseli selalu
menjawab, ya takut, merinding dan seperti ada hal yang mengawasinya atau
melihatnya. Awalnya, ayahnya sering menemani konseli ketika berada di
dapur atau kamar mandi. Tetapi lama kelamaan, ayahnya merasa ada sesuatu
kebiasaan yang kurang baik padanya. Konseli menjadi penakut dan manja
sampai sekarang. Ketakutan konseli akan hantu atau setan, membawa
keprihatinan tersendiri bagi ayahnya. Lalu ayahnya memberikan nasihat atau
pemahaman kepadanya bahwa kakak kan orang yang bisa membaca Alquran, setiap sore selalu mengaji, dan selalu berjamaah di masjid. Setan atau
hantu itu takut atau tidak akan mendekati orang-orang yang selalu rajin

beribadah dan dekat dengan Allah. Dengan harapan bahwa anak laki-lakinya
menajdi tidak takut lagi dan tidak manja.
b. Ibu
Menurut hasil wawancara dengan ibunya, konseli menjadi pribadi yang
penakut semenjak dia menonton film horor. Semenjak itu, dia menjadi takut
untuk ke dapur atau kamar mandi. Selain itu juga, karena ulah adiknya yang
jail dimana adiknya sering menakut-nakuti kakaknya (konseli). Karena
adiknya ini memiliki kemampuan yang lebih dibanding kakaknya, jadi sering
menakut-nakuti kakaknya dan itu menurut adiknya hanya sebuah bercandaan
saja. Ibunya juga sering marah-marah ketika konseli sangat manja dan susah
untuk makan apabila tidak diambilkan makan. Dan ketika mandi banyak
alasan yang dikeluarkan supaya ada orang yang mau menemaninya mandi.
Ibunya juga bilang bahwa sampai jengkel, emosi ketika menghadapi dia
seperti itu. Lalu ibunya membicarakan hal ini kepada ayahnya, bahwa sebagai
orang tuanya tidak mungkin membentuk anak menjadi seperti ini. Lalu dengan
perasaan tega tidak tega, setiap waktunya makan tidak ada yang
mengambilkan

makan

dan

minum.

Sampai

dia

mengambil

sendiri

makanannya dengan melihatnya dari kejauhan dengan tidak mengantarkan ke


dapur tetapi hanya melihatnya saja dari kejauhan.
c. Hafizh
Hasil wawancara dengan hafizh adalah bahwa hafizh awal mula
menonton film horor pada saat dia duduk dibangku sekolah dasar kelas 3. Film
yang dia tonton adalah Lawang Sewu. Semenjak itu dia selalu terbayangbayang dan berfikir bahwa ada yang mengawasinya, ada yang melihatnya, ada
bayangan yang sekelebatan baik di dapur maupun di kamar mandi. Selain itu,
dia juga menjadi pengamat atau pendengar jika ada orang yang mengalami
hal-hal yang kurang masuk akal seperti dilihatin setan di dekat pohon durian,
dipersimpangan jalan dan lain-lain. Pernah ada acara di sekolahnya,
menurutnya ada orang-orang yang berfoto-foto di taman dekat dengan kamar
mandi, ketika mau foto tidak apa-apa tetapi ketika hasil foto itu dilihat ada
tambahan orang menurutnya. Dan itu yang membuat dia tidak pernah buang
air kecil di kamar mandi sekolah. Ketika terpaksa harus kencing, dia akan
meminta izin kepada gurunya untuk pegi ke kamar mandi. Tetapi dia malah
kencing di rumah. Menurutnya, dia selalu merasa merinding jika berada di
dapur atau di kamar mandi, seperti ada hal-hal yang mengawasi, banyak yang

melihat, ada bayangan-bayangan. Lalu untuk mengurangi rasa takut itu, dia
tidak pernah lagi menonton film-film horor atau acara-acara teleivisi yang ada
hantu-hantunya. Rajin sholat dan mengaji, sering menyendiri untuk melatih
keberaniannya.
3. Self-Monitoring
Pengawasan dan pengamatan kepada konseli dilakukan selama 4 Minggu. Setiap
hari Minggu dari bangun Tidur sampai mau Tidur lagi
a. Behavior Assets
Behavior assets merupakan semua hal positif yang ada dalam diri konseli
yang mampu membuat perilaku pemarah itu berkurang yaitu bentuk usaha
konseli dalam mendapatkan sesuatu dengan cara menabung dan mandiri yang
dilakukan oleh dirinya.
b. Behavior Limitation
Behavioral limitation merupakan hal negative yang ada dalam diri konseli
yang mendukung rasa pemarah tersebut muncul yaitu ketergantungan pada
hadiah yang ingin dikasih dari orang tuanya serta keinginan yang harus ia
c.

dapatkan.
Enviromental Support
Perilaku pemarah dapat dikurangi dengan baik. Dengan hal ini orang tua
untuk mengurangi perilaku manjanya kepada anak laki-lakinya dan ketika
anak tersebut melakukan sesuatu hal yang baik jangan langsung dikasih

hadiah berupa uang.


d. Environmental Restriction
Keadaan orang tuanya belum bisa melepaskan anaknya secara mandiri
diumur yang maish tergolong rendah dan pihak orang tua maupun keluarga
yang lain masih mengingat keadaan konseli ketika memperjuangkan
nyawanya diumur 1 bulan tersebut dan masih terbayang-bayang dengan
e.

keadaan konseli waktu dulu


Motivational Analysis
Motivasi yang sangat besar pada diri konseli untuk

menghilangkan

pemarahnya tersebut ketika konseli dibiasakan tidak mendapatkan hadiah


yang maksimal dan orang tua mengurangi sikap manjanya secara sedikitsedikit dan memberikan pemahaman kepada anak dengan cara yang baik agar
konseli tidak terpancing emosinya lagi.
B. Data Pendukung
BAB IV. Pendekatan Program APTL
A. Pendekatan yang digunakan

Pendekatan yang dipakai dalam membantu konseli untuk mengurangi rasa


pemarah dan mengurangi emosi yang berlebihan yaitu menggunakan teknik konseling
Behavioral dan teknik Kognitif.
Dimana Pendekatan behavioral didasari oleh pandangan ilmiah tentang
tingkah laku manusia yaitu pendekatan yang sistematik dan terstruktur dalam
konseling. Pandangan ini melihat individu sebagai produk dari kondisioning sosial,
sedikit sekali melihat potensi manusia sebagai produser lingkungan.
Konseling behavioral dikenal juga dengan modifikasi perilaku yang dapat
diartikan sebagai tindakan yang bertujuan untuk mengubah perilaku. Modifikasi
perilaku dapat pula diartikan sebagai usaha menerapkan prinsip-prinsip belajar
maupun prinsip-prinsip psikologi hasil eksperimen lain pada perilaku manusia.
B. Rencana yang ingin dilakukan
Tujuan konseling behavioral berorientasi pada pengubahan atau modifikasi
perilaku konseli, yang diantaranya untuk :
1.
2.
3.
4.

Menciptakan kondisi kondisi baru bagi proses belajar


Menghapus hasil belajar yang tidak adaptif
Memberi pengalaman belajar yang adaptif namun belum dipelajari
Membantu konseli membuang respon respon yang lama yang merusak
diri atau maladaptif dan mempelajari respon-respons baru yang lebih sehat

dan sesuai (adjustive).


5. Konseli belajar perilaku baru dan mengeliminasi perilaku yang mal
adaptive, memperkuat serta mempertahankan perilaku yang diinginkan
6. Penetapan tujuan dan tingkah laku serta upaya pencapaian sasaran
dilakukan bersama antara konseli dan konselor.
C. Alasan yang mendukung dalam teknik Behavioral
1. Konseling ini membantu konseli mempelajari tingkah laku baru untuk
memecahkan masalahnya.
2. Konseling ini menggunakan prinsip-prinsip belajar dan prosedur belajar yang
efektif untuk membentuk dasar-dasar pemberian bantuan kepada konseli.
3. Konseling ini menggunakan observasi sistematis, kuantitatif data dan kontrol yang
tepat.
4. Perincian pelaksanaan dapat diubah selama treatment disesuaikan dengan
kebutuhan konseli.

BAB V. Langkah-langkah Program


Langkah-langkah Program APTL

Program Analisis Perubahan Tingkah Laku (APTL) ini dilakukan kurang lebih selama 4
minggu, yaitu mulai tanggal 25 April 2016 sampai 21 Mei 2016. Berikut merupakan
langkah-langkah yang praktikan lakukan :
1. Kegiatan analisis ini dilakukan setiap hari Minggu dari bangun pagi sampai mau tidur
lagi.
2. Memberikan teknik penghapusan dalam mengurangi sikap manjanya yang dilakukan
oleh orang tuanya.
3. Kadang kala anak diberikan reinforcement ketika tidak melakukan perilaku marahmarah
4. Praktikan bekerja sama dengan orang tuanya untuk memantau perkembangan anak
tersebut.
5. Kemudian praktikan dan orang tua membuat Magic Word untuk menambah semangat
pada anak ketika anak tersebut tidak melakukan perilaku emosi dan marah-marah.
6. Hadiah tersebut dilakukan ketika anak dalam 1 minggu mendapatkan Magic Word
sebanyak 6 buah.
BAB V. Evaluasi dan Tindak Lanjut
A. Evaluasi
Ada beberapa hambatan dan pendukung dalam melakukan proses pengubahan tingkah
laku pada konseli yaitu :
1. Hambatan
a. Rasa marah yang berlebihan pada konseli
b. Keinginan yang harus selalu terpenuhi pada konseli
c. Orang tuanya belum bisa melepaskan dan tidak tega ketika anaknya ingin
sesuatu tidak dipenuhi secara maksimal
d. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengubah perilaku konseli.
2. Pendukung perubahan
a. Kemauan dari konseli untuk mengurangi rasa marahnya tersebut
b. Orang tua yang mendukung untuk mengurangi rasa marahnya agar stabil
c. Konseli harus selalu diberikan pemahaman dan motivasi yang tinggi, karena
konseli sendiri mempunyai bentuk usaha yang baik.
3. Efektif atau tidak pendekatannya
Pendekatan cukup efektif, dapat dibuktikan bahwa konseli sudah berani pergi ke
dapur atau kamar mandi di siang hari. Ketergantungan terhadap kedua orang
tuanya sudah berkurang, ketika konseli lapar konseli mengambil sendiri
makanannya di dapur. Ketika waktunya mandi di sore hari, konseli mandi meski
tidak ada yang menemani. Walaupun konseli terkadang juga masih tergesa-gesa
ketika mengambil makan atau ke kamar mandi, setidaknya hal ini perlu diberi
apresiasi ketika konseli berani untuk pergi ke kamar mandi atau dapur. Perubahan

yang dilakukan konseli untuk mengendalikan rasa takutnya belum sepenuhnya


berhasil, tetapi konseli sudah memiliki keberanian untuk melakukan aktivitas di
dapur atau kamar mandi pada siang hari dan pada malam hari terkadang konseli
masih memisnta ayah atau ibunya atau adiknya juga untuk mengantar konseli ke
dapur atau kamar mandi.
B. Tindak Lanjut
Komunikasi dan pemantauan tetap praktikan lakukan sampai saat ini. Terkadang
praktikan bermain ke rumahnya, untuk melihat perkembangan konseli. Praktikan juga
bekrjasama kepada orang tua konseli untuk tetap melanjutkan treatment dengan
harapan konseli benar-benar menunjukan pertilaku yang diinginkan sesuai dengan
tujuan yang telah ditetapkan.

Dokumentasi

Wawancara dengan Konseli

Wawancara dengan Ayah Konseli

Wawancara dengan Ibu Konseli