Anda di halaman 1dari 20

1. SISTEM DISTRIBUSI

PENGENALAN JARINGAN DISTRIBUSI

Jaringan distribusi merupakan rangkaian terakhir dari sistem jaringan listrik yang besar sekali dan berfungsi mendistribusikan tenaga listrik kepada pelanggan. Disini terdapat dua titik pertemuan antara dua kepentingan dengan persyaratan-persyaratannya masing-masing. Pihak pelanggan membutuhkan listrik dengan mutu yang baik, sedangkan pihak perusahaan listrik dihadapkan pada masalah kemampuan dan kesanggupan jaringan distribusi.

Tetapi sebenarnya kedua kepentingan tersebut tidak bertentangan, malahan mempunyai tujuan yang sama. Bagi pelanggan mutu tenaga listrik yang baik akan memberikan kepuasan sedangkan bagi perusahaan listrik menyedian listrik dengan mutu dan keandalan dalamj menditribusikan berarti menekan kerugian-kerugian jaringan sehingga akan beroperasi secara optimal.

Pada sisi lain jaringan distribusi tergantung pada mutu dan keandalan jaringan transmisinya. Mutu dan keandalan yang baik dari sisi transmisi akan memberikan dampak yang baik pula disisi jaringan distribusi.Oleh karena itu dalam mengoperasikan jaringan kedua sisi ini haruslah selalu berkoordinasi agar penyaluran tenaga listrik dapat berjalan dengan baik.

Suatu jaringan distribusi dinyatakan sebagai jaringan yang baik apabila memenuhi kriteria-kriteria tertentu dalam Kelangsungan penditribusian, Tegangan dan Frekuensi. Untuk sampai kepada tujuan tersebut harus dan perlu dikenal dengan baik jaringan distribusi secara fungsional, pada keadaan normal maupun keadaan gangguan. Pada keadaan normal masalah faktor daya rendah dan penurunan tegangan jaringan yang berlebihan sedangkan pada keadaan gangguan masalahnya adalah manuver beban yang mengalami pemadaman. Gangguan itu sendiri sedapat mungkin dicegah

terjadinya, atau apabila tetap terjadi maka harus dapat dihilangkan dalam waktu yang singkat.

Perkembangan jaringan distribusi yang semakin banyak dan kompleks bila pengendalian dan supervisi dilaksanakan secara manual maka akan dibutuhkan SDM yang cukup besar untuk melaksanakannya agar persyaratan mutu dan keandalannya dapat dipenuhi belum lagi kesalahan pengopersian akibat manusia. Perkembangan teknologi SCADA memungkinkan pengendalian dan pegoperasian jaringan distribusi dilaksanakan melalui komputer sehingga memudahkan dalam pengoperasian secara efektif dan efisien. Human error akan dapat diminimalisasi.

Operasi jaringan distribusi dilaksanakan secara terpusat dengan bantuan teknologi SCADA yang menyangkut segala macam masalah supervisi, pengendalian, pencatatan-pencatatan dan setting semua kondisi dan semua peralatan termasuk tindakan-tindakan selama keadaan darurat karena gangguan sampai pemulihan.

Untuk mencapai tujuan operasi faktor-faktor berikut harus dapat dipenuhi yaitu :

Pengenalan yang baik atas jaringan distribusi, termasuk segala macam kondisinya.

Pedoman operasi yang mencakup tujuan, aturan, tugas, aturan pelengkap dan gambar/tabel/formulir.

Pengenalan Sistem SCADA dan mengusasai penggunaan workstation (komputer) dengan baik sehingga dapat mengoperasikan jaringan distribusi dengan baik dan benar.

Organisasi pelaksanaan.

DASAR DASAR SISTEM JARINGAN DITRIBUSI TENAGA LISTRIK

Konfigurasi Jaringan Distribusi

Sistem distribusi merupakan bagian dari sistem tenaga listrik yang berada paling dekat dengan sisi beban/pelanggan dan bertugas menyalurkan dan mendistribusikan tenaga listrik dari sisi hulu yaitu pembangkit ke pusat-puat

beban dalam hal ini gardu distribusi dan pelanggan melalui jaringan primer dan sekunder.

Sistem distribusi dibagi menjadi dua klasifikasi yaitu :

Sistem Distribusi Primer

Sistem Distribusi Sekunder.

A. Sistem Distribusi Primer

Sistem distribusi primer merupakan system yang menyalurkan tenaga listrik dari suatu sumber daya besar atau suatu Gardu Induk sampai ke pusat-pusat beban (gardu distribusi). Pada sistem ini mempunyai daerah tegangan 6 kV sampai dengan 30 kV atau disebut Jaringan Tegangan Menengah.

Faktor keandalan merupakan hal yang penting karena memberikan supply tenaga listrik secara kontinyu maka tidak terlepas dari system jaringan yang dipergunakan. Oleh sebab itu harus menggunakan cara dan bentuk atau tipe saluran yang tepat dan faktor-faktor yang mempengaruhi adalah:

Faktor Ekonomi

Faktor tempat (lokasi)

Faktor Kelayakan

Jadi suatu system distribusi akan berhasil bila dipergunakan secara tepat, bila digunakan cara dan bentuk/tipe system distribusi yang berbeda-beda dan disesuaikan terutama dalan keadaan beban dengan keadaan beban maupun hal lainnya yang mempengaruhi system seperti gangguan.

B. Sistem Distribusi Sekunder.

Sistem Distribusi sekunder adalah

system distribusi yang bertugas

menyalurkan tenaga listrikdari Gardu Distribusi sampai ke konsumen/pemakai.

Tegangan distribusi sekunder disalurkan dari tegangan system menegah yang diturunkan tegangannya adalah 220 Volt untuk tagangan fasa netral, dan 380 Volt untuk tegangan tiga fasa.

Gambar.1 Jaringan Tegangan Menengah Radial. Suatu Jaringan Distribusi akan lebih berhasil bila digunakan bentuk/tipe

Gambar.1 Jaringan Tegangan Menengah Radial.

Suatu Jaringan Distribusi akan lebih berhasil bila digunakan bentuk/tipe jaringan distribusi yang berbeda-beda dan disesuaikan, terutama dengan keadaan beban.

Dasar Sistem Tenaga Listrik

Untuk keperluan penyediaan tenaga listrik bagi para pelanggan, diperlukan berbagai peralatan listrik. Berbagai peralatan listrik tersebut dihubungkan satu sama lain yang mempunyai interrelasi dan secara keseluruhan membentuk suatu sistem tenaga listrik.

Yang Dimaksud dengan Sistem Tenaga Listrik adalah sekumpulan Pusat Listrik dan Gardu Induk (Pusat Beban) yang satu sama lain dihubungkan dengan Jaringan Transmisi sehingga merupakan sebuah kesatuan interkoneksi

Tenaga listrik dibangkitkan oleh Pusat-pusat Listrik seperti PLTA, PLTU, OLTG, PLTP dan PLTD kemudian disalurkan melalui saluran transmisi setelah terlebih dahulu dinaikkan tegangangnya oleh step up transformator yang ada di pusat listrik dan digambarkan oleh gambar 2. Saluran transmisi tegangan tinggi kebanyakan mempunyai tegangan 70 kV, 150 kV, dan 500 kV.

kebanyakan mempunyai tegangan 70 kV, 150 kV, dan 500 kV. Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta

Gambar 2. Skema Pusat Listrik yang duhubungkan melalui saluran Transmisi ke Gardu Induk.

Setelah tenaga listrik disalurkan melalui saluran transmisi maka sampai pada Gardu Induk (GI) untuk diturunkan tegangannya melalui step down transformator menjadi tegangan menengah atau disebut tegangan distribusi primer dan biasa dipakai adalah 20 kV.

Sistem Radial

Merupakan jaringan sistem distribusi primer yang sederhana dan murah biaya investasinya. Pada jaringan ini arus yang paling besar adalah yang paling dekat dengan Gardu Induk. Tipe ini dalam penyaluran energi listrik kurang handal karena bila terjadi gangguan pada penyulang maka akan menyebabkab terjadinya pemadaman pada penyulang tersebut.

PMT INCOMING PMT OUT GOING
PMT INCOMING
PMT OUT GOING

Gambar 3. Pola Radial

Sistem Spindle

Jaringan ini merupakan jaringan distribusi primer gabungan dari struktur radial yang ujung-ujungnya dapat disatukan pada gardu hubungdan terdapat penyulang ekspres. Penyulang ekspres (express feeder) ini harus selalu dalam keadaan bertegangan, dan siap terus menerus untuk menjamin bekerjanya system dalam menyalurkan energi listrik ke beban pada saat terjadi gangguan atau pemeliharaan. Dalam keadaan normal tipe ini beroperasi secara radial.

Feeder Express
Feeder Express
Feeder Express Gambar 4. Sistem Spindel. Sistem Ring/Loop Tipe ini merupakan jaringan distribusi primer, gabungan dari

Gambar 4. Sistem Spindel.

Sistem Ring/Loop

Tipe ini merupakan jaringan distribusi primer, gabungan dari dua tipe jaringan radial dimana ujung kedua jaringan dipasang PMT. Pada keadaan normal tipe ini bekerja secara radial dan pada saat terjadi gangguan PMT dapat dioperasikan sehingga gangguan dapat terlokalisir. Tipe ini lebih handal dalam penyaluran tenaga listrik dibandingkan tipe radial namun biaya investasi lebih mahal.

dibandingkan tipe radial namun biaya investasi lebih mahal. PMT LBS Gambar 5. Loop/Ring Sistem Sistem Mesh
dibandingkan tipe radial namun biaya investasi lebih mahal. PMT LBS Gambar 5. Loop/Ring Sistem Sistem Mesh
dibandingkan tipe radial namun biaya investasi lebih mahal. PMT LBS Gambar 5. Loop/Ring Sistem Sistem Mesh

PMT

PMT
tipe radial namun biaya investasi lebih mahal. PMT LBS Gambar 5. Loop/Ring Sistem Sistem Mesh Struktur

LBS

Gambar 5. Loop/Ring Sistem

Sistem Mesh

Struktur jaringan distribusi primer ini dibentuk dari beberapa Gardu Induk yang saling dihubungkan sehingga daya beban disuplai oleh lebih dari satu gardu Induk dibandingkan dengan dua tipe sebelumnya, tipe ini lebih handal dan biaya investasi lebih mahal.

Gambar 6. System Mesh SistemCluster. Struktur jaringan primer pola cluster ini pada dasarnya sama dengan

Gambar 6. System Mesh

SistemCluster.

Struktur jaringan primer pola cluster ini pada dasarnya sama dengan jaringan spindle, tetapi gardu hubungnya lebih dari satu. Biaya investasi pembangunannya lebih mahal dari struktur spindle tetapi kehandalannya lebih tinggi.

dari struktur spindle tetapi kehandalannya lebih tinggi. Gambar 7. Sistem Cluster. Sistem Margerithe. Struktur

Gambar 7. Sistem Cluster.

Sistem Margerithe.

Struktur jaringan primer pola Margerithe merupakan gabungan dari struktur jaringan spindle. Apabila salah satu sisi terjadi gangguan maka beban dapat

disuplai dari sisi yang lain. Biaya investasinya lebih mahal dari struktur jaringan lain

Pola Operasi Jaringan Distribusi

Kontinuitas pelayanan merupakan salah satu unsur dari mutu pelayanan yang tergantung pada macam jaringan distribusi dan peralatan proteksi. Jaringan distribusi mempunyai tingkat kontinuitas pelayanan yang tergantung pada susunan saluran/jaringan dan cara pengaturan operasinya yang hakekatnya direncanakan dan dipilih untuk memenuhi kebutuhan serta sifat beban. Seperti dijelaskan pada point 1.1. perihal pola jaringan distribusi.

Tingkat kontinuitas pelayan dari suatu sistem jaringan disusun berdasarkan lamanya upaya menghidupkan kembali suplai setelah mengalami pemutusan karena adanya gangguan secara umum dinyatakan dengan SAIDI dan SAIFI.

Masalah utama dalam operasi sistem distribusi adalah bagaimana mengatasi gangguan dengan cepat karena gangguan yang terdapat dalan sistem jaringan sistem distribusi primer ditentukan oleh macam atau jenis saluran distribusi dan sistem jaringan distribusi.

Gangguan pada sistem distribusi tenaga listrik dapat didefinisikan sebagai kejadia-kejadian yang dapat meyebabkan bekerjanya rele dan menyebabkan Circuit Breaker (CB) bekerja di luar kehendak operator, yang mengakibatkan putusnya aliran daya yang melalui pemutus tersebut

Macam-macam gangguan pada sistem distribusi tergantung pada jenis dan macam sistem saluran distribusinya yaitu SKTM atau SUTM. Pada SKTM gangguan dapat disebabkan dari dalam sistem dan luar sistem yaitu :

a. Gangguan dari dalam sistem, antara lain :

Tegangan dan arus abnormal

Pemasangan yang kurang baik.

Penuaan

Beban lebih

b. Gangguan dari luar sistem,antara lain :

Gangguan mekanis (pekerjaan penggalian dlsb)

Kendaraan yang lewat diatasnya.

Impuls petir lewat saluran udara.

Deformasi tanah.

Sedangkan pada SUTM gangguan dapat disebabkan karena :

Pohon dan binatang

Cuaca (hujan, angin dan petir).

Kegagalan atau kerusakan peralatan dan saluran.

Manusia dll.

SOP Operasi Jaringan Distribusi

Kegiatan operasi jaringan distribusi untuk suatu daerah tertentu dikoordinir oleh Pusat Pengatur Distribusi atau Area Pengatur Distribusi yang bertugas mengkoordinir operasi jaringan tegangan menengah.

Operasi jaringan distribusi menyangkut segala macam masalah pengawasan, pengendalian dan pencatatan dan setting semua peralatan, termasuk dalam hal ini melakukan tindakan-tindakan selama keadaan darurat karena gangguan.

Untuk mencapai tujuan operasi diharuskan memenuhi faktor-faktor berikut :

Mengenal dengan baik jaringan distribusi, termasuk kondisinya.

Menyusun pedoman operasi yang mencakup tujuan, aturan, tugas, aturan pelengkap dan gambar/tabel/formulir.

Organisasi pelaksana.

Faktor-faktor tersebut sangat terbantu dengan adanya fasilitas SCADA (Supervisory, Control and Data Acquisition). Pola Operasi sesuai dengan keadaan di lapangan sudah diantisipasi dengan faslitas ini. Jadi faktor-faktor yang menyebabkan kesalahan operasi dapat diminimalisir. Pola operasi sesuai konfigurasi jaringan distribusi direprentasikan dalam bentuk Single

Line Diagram dengan peralatan-peralatan manuver atau switching. Untuk mengoperasikan peralatan tersebut harus memenuhi kriteria-kriteria yang telah ditetapkan dalam tahapan-tahapan yang harus dipenuhi, apabila salah satu tahapan tidak terpenuhi maka eksekusi atau menuver jaringan tersebut tidak dapat dilaksanakan. Jadi kesalahan yang diakibatkan oleh faktor manusia dapat dihilangkan.

Standing Operation Prosedure (SOP) jaringan distribusi meskipun telah dibantu dengan faslitas SCADA, operator harus tetap mengetahui prosedur operasi pengaturan dan pengusahaan Jaringan Tegangan Menegah karena pada dasarnya merupakan pedoman dasar teknis pengoperasian jaringan distribusi tegangan menengah untuk menjamin kelangsungan pendistribusian tenaga listrik, mempercepat penyelesaian gangguan-gangguan yang timbul, serta menjaga keselamatan petugas pelaksana operasi dan instalasinya.

Peralatan Jaringan Distribusi

Jaringan Distribusi sebagian besar terdiri dari Saluran Tegangan Menengah dalam menyalurkan tenaga listrik yang dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:

Sistem Saluran Udara

Sistem Saluran Bawah Tanah.

Sistem Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) memiliki keuntungan sebagai berikut:

Lebih ekonomis.

Lebih praktis dan mudah dalam pengerjaannya.

Bila terjadi gangguan mudah mencarinya, karena semuanya dapat terlihat langsung.

Sedangkan kelemahannya adalah sebagai berikut:

Mudah terganggu dari luar seperti petir, pepohonan, kendaraan, layang- layang dan faktor pencurian.

medan

Mudah

menimbulkan

gangguan

seperti

kawat

putus

dan

elektromagnetik.

Dari segi estetika dapat mengurangi keindahan.

Sistem Saluran Kabel Tegangan Menegah (SKTM) adalah penyaluran tenaga listrik dengan menggunakan saluran bawah tanah dan memiliki keuntungan sebagai berikut :

Umur lebih panjang dibanding saluran udara.

Sistem bebas dari pemadaman, yang disebabkan oleh gangguan luar seperti pepohonan, layang-layang dll.

Tidak menggangu saluran telekomunikasi.

Dari segi estetika tidak ada masalah.

Sedangkan kelemahannya adalah sebagai berikut :

Biaya investasi besar.

Jika terjadi gangguan, sulit mencari karena tidak terlihat secara langsung.

Kemungkinan rusak karena penggalian.

Jaringan Tegangan Menengah atau disebut juga penyulang atau feeder sepanjang pangkal penyulang sampai hilir terdapat peralatan-peralatan yang mempunyai fungsi-fungsi sebagai pengaman (proteksi), manuver jaringan, menaikkan tegangan atau sebagai memperbaiki faktor kerja. Diantara peralatan-peralatan tersebut adalah :

Cubicle

PMT/LBS

Recloser

Capacitor

ABSW

Arrester

Fuse Cut Out (FCO)

Secsionaliser.

Cubicle

Cubicle atau sel 20 kV merupakan pemutus tenaga yang memiliki kemampuan pembukaan atau penutupan yang besar yaitu pada keadaan abnormal kondisi pembukaan dam penutupan pada keadaan hubung singkat. Pemutus tenaga cubicle memiliki karakteristik pembukaan dan penutupan

cepat yang tidak diatur secara manual. Perbedaannya adalah bahwa pemutus tenaga dapat bekerja dengan rele proteksi maupun reclosing rele.

Pemutus tenaga cubicle umumnya terpasang secara semi dengan berfungsi untuk memisahkan bagian yang beroperasi normal dan tidak dan juga untuk keperluan pemeliharaan dan inspeksi.

Penempatan pemutus tenaga harus didahului dengan perhitungan hubung singkat maksimum guna menempatkan kapasitas dan rating pemutusannya dan harus memiliki kemampuan penutupan dan pembukaan sekurang- kurangnya sama dengan daya hubung singkat di tempat tersebut.

PMT/LBS

Jenis pemutus beban tergantung dari penggunaan bahan dan cara pemadaman busur api yang timbul pada waktu pembukaan atau penutupan kontak pemutus misalnya pemutus minyak, magnetis, tekanan udara dll. Kemampuan dalam pemutus biasanya disesuaikan dengan rating arus nominal saluran dimana ditempatkan, tetapi harus mampu melakukan tugas penutupan dengan arus sangat bear (arus hubung singkat) tanpa mengalami kerusakan.

Jenis-jenis PMT/LBS (pemutus beban) dapat dibedakan dalam beberapa kategori:

Menurut cara kerjanya yaitu otomatis atau manual.

Menurut cara pemasangannya yaitu pasangan gardu atau pasangan luar.

Menurut penempatannya di jaringan yaitu pemutus beban trafo distribusi biasanya juga dilengkapi sekring sebagai pengaman trafo, pemutus beban untuk jaringan yang meliputi beberapa gardu.

Cara pengoperasian pemutus beban tidak sama dengan pemisah tetapi melalui suatu peralatan penggerak mekanis yang memperoleh tenaga torsi pegas. Operator harus memutar poros engkol terlebih dahulu baru kemudian mengeksekusi pemasukan atau pengeluaran pemutus beban. Dengan demikian kecepatan pemutus maupun pemasukan yang diperlukan ditentukan secara mekamis.

Recloser

Recloser pada dasarnya adalah pemutus tenaga yang dilengkapi dengan peralatan kontrol. Peralatan ini dapat merasakan arus gangguan dan memerintahkan opersi buka tutup kepada pemutus tenaga.

Arester

Proteksi Tegangan Lebih Surja, Pada system distribusi saluran udara, gangguan tegangan lebih surja disebabkan oleh sambaran petir. Akibat gangguan ini isolasi dari system dapat menagalami beakdown. Oleh karena itu dipakai suatu peralatan proteksi untuk melindungi jaringan dan peralatan yang ada pada jaringan tersebut.

Peralatan proteksi yang digunakan yaitu:

Dengan kawat pelindung (ground wire)

Dengan lightning Arester.

Capasitor

Kapasitor merupakan peralatan di jaringan yang berfungsi utama memperbaiki fak tor kerja (Cos phi). Kapasitor dipasang secara paralel (shunt capacitor) pada jaringan fasa netral. Kapasitor juga dapat menaikkan tegangan yang besarnya sama dengan arus kapasitif dikalikan dengan reaktansi jaringan.

Fuse Cut Out

Merupakan proteksi bagian peralatan saluran dari gangguan hubung singkat antar fasa dan hubung tanah. Proteksi lebur/PL (fuse cut off), dipasang pada jaringan cabang atau pada tranformator distribusi yang tidak berproteksi sendiri yang fungsinya untuk mengamankan cabang jaringan yang mengalami gangguan permanent dan transformator.

Secsionaliser

Skakelar Seksi Otomatis/SSO (sectionalizer), dipasang pada jaringan utama dan jaringan cabang yang fungsinya untuk melokalisasi gangguan (khususnya) untuk jaringan cabang yang kecil.

ABSW (Air Break Switch)

Peralatan ini berfungsi untuk membuka dan menutup rangkaian dalam keadaan berbeban maupun tanpa beban dengan media pemutus udara. Alat ini dioperasikan secara manual dan dalam pemasangannya dapat dioperasikan dalam keadaan terbuka (normally open) atau tertutup (normally closed) sesuai keperluan.

Pemasangan ABSW pada jaringan, antara lain digunakan untuk :

Penambahan beban pada lokasi jaringan

Pengurangan beban pada lokasi jaringan

Pemutusan aliran listrik secara manual pada saat jaringan mengalami gangguan

OPERASI REAL TIME SISTEM DISTRIBUSI

Operasi Sistem Distribusi Tenaga Listrik berlangsung secara terus menerus selama 24 jam sehari sehingga perlu ada operator Sistem Distribusi Tenaga Listrik atau Dispatcher yang bekerja secara bergiliran 24 jam sehari. Biasanya dibagi dalam 3 regu piket dalam 24 jam. Setiap regu piket yang menggantikan regu sebelumnya harus mengadakan persiapan-persiapan sebelum melakukan tugasnya yaitu melaksanakan operasi harian dalam Real Time.

Persiapan-persiapan yang harus dilaksanakan adalah:

Mempelajari Rencana Operasi Harian dari Sistem Transmisi, baik yang menyangkut rencana pembangkitan maupun yang menyangkut penyaluran. Dispatcher pengatur distribusi harus mengetahui kondisi penyaluran dalam keadaan Normal, Siaga atau Darurat. Hal ini diperlukan untuk melaksanakan operasi pengaturan beban sistem distribusi. Sumber Informasi ini didapat dari P3B.

Mempelajari penyimpangan-penyimpangan yang terjadi terhadap Rencana Operasi Harian Sistem terutama yang menyangkut gangguan yang terjadi dalam Sistem Transmisi. Kondisi Sistem transmisi harus

diketahui setiap saat apakah dalam kondisi Normal, Siaga atau Darurat, Sumber Informasi ini didapatkan dari P3B baik melalui Web site, atau informasi lainnya.

Mempelajari pekerjaan-pekerjaan pemeliharaan dan perbaikan yang dilaksanakan akan memerlukan pemadaman sehingga ada manuver jaringan. Apabila ada perubahan perubahan jaringan maka hal ini memerlukan perhatian khusus agar jangan sampai terjadi kesulitan dalam operasi.

Mengecek kesiapan fasilitas untuk operasi seperti alat komunikasi, telemetering dan telekontrol SCADA sehingga Dispatcher yang akan melaksanakan tugas mengetahui kondisi fasilitas tersebut yang sangat diperlukan untuk pelaksanaan tugas.

Pelaksanaan operasi di dalam real time adalah pelaksanaan Rencana Operasi Harian dan apabila terjadi penyimpangan dari kondisi Normal maka penyimpangan ini harus dikendalikan dalam Real Time Operation dengan mengikuti Pedoman-pedoman Operasi atau Standing Operation Procedure disingkat SOP.

Prosedur pengaturan jaringan tegangan menengah secara umum dengan menggunakan fasilitas SCADA dilaksanakan dengan:

Manuver atau manipulasi jaringan melalui fasilitas telekontrol SCADA dimana telah disesuaikan dengan pola operasi konfigurasi jaringan distribusi yang ada

Menerima informasi-informasi yang berhubungan dengan keadaan jaringan dari Workstation dan kemudian membuat penilaian atau observasi seperlunya untuk menetapkan tindak lanjut.

Memonitor besaran-besaran pengukuran dengan fasilitas telemetering SCADA pada jaringan dan kemudian membuat penilaian atau observasi seperlunya untuk menetapkan tindak lanjut.

Mengkoordinasikan pelaksanaannya dengan pihak-pihak lain yang berhubungan dengan operasi jaringan yaitu : Region P3B, Petugas Pelayanan Gangguan, Petugas Pemeliharaan dan Operator Gardu Induk bila ada.

Mengawasi jaringan secara terus menerus dan tidak terputus putus oleh operator/dispatcher dibantu oleh fasilitas SCADA yang berfungsi sebagai supervisi jaringan dimana bila terjadi kondisi abnormal akan memberi masukan berupa alarm.

Mengusut dan melokalisasi jaringan terganggu dengan fasilitas SCADA melalui perintah telekontrol dengan memperhatikan besaran-besaran telemeter yang ada pada workstation.

Mendeteksi gangguan sehingga titik gangguan dapat diketemukan untuk diperbaiki.

Mode operasi sitem tenaga listrik dalam kondisi real time ada 4 (empat)

dan

digambarkan

keadaan

pemulihan.

seperti di bawah ini.

mode

operasi

yaitu,

keadaan normal, gangguan, dapat NORMAL
keadaan
normal,
gangguan,
dapat
NORMAL

darurat

Mode

tersebut

PEMULIHAN GANGGUAN
PEMULIHAN
GANGGUAN
DARURAT
DARURAT

Gambar 8 : Empat keadaan sistem operasi tenaga listrik.

Seperti dijelaskan diatas bahwa sistem distribusi bila terjadi gangguan sedapat mungkin diatasi, sehingga kembali pada keadaan normal dan waktu yang diperlukan juga semakin singkat, apabila dibantu dengan peralatan SCADA. Apabila gangguan semakin meluas dapat menyebabkan sistem pada keadaan darurat yang berakibat meluasnya pemadaman. Bila kondisi ini sampai terjadi akan memerlukan waktu lama untuk memulihkannya. Jadi sedapat mungkin sistem dijaga pada kondisi normal.

Kondisi Normal

Pada kondisi ini sistem jaringan distribusi berjalan normal tanpa gangguan eksternal. Pencatatan data-data temetering akan terrecord secara otomatis pada server SCADA dalam bentuk historical data.

Pada kondisi ini yang harus diperhatikan oleh dispatcher adalah sebagai berikut:

Harus mengetahui pelaksanaan/pengeluaran PMT-PMT penghantar 150 kV, kopel 150 dan 70 kV dan trafo 150 dan 70 kV yang dilaksanakan oleh Region P3B apabila hal tersebut dapat mempengaruhi penyaluran kepada konsumen

Memonitor posisi normal PMT 20 kV, trafo TT/TM dan semua penyulang/feeder TM 20 kV dari GI adalah dalam keadaan masuk

Melakukan pencatatan data-data operasional yang diperlukan atas sel 20 kV dari workstation bila diperlukan.

Menerima pemberitahuan mengenai perubahan keadaan jaringan di GI dari Region P3B (Pengatur Beban).

Berkoordinasi dengan petugas P3B Region terkait dalam hal pengeluaran/pemasukan PMT-PMT sampai sistem kembali seperti kondisi normal.

Memonitor kondisi jaringan dimana posisi titik switch atu manuver sesuai dengan pola operasi dari konfigurasi jaringan yang ada.

Kondisi Gangguan

Pada kondisi ini dispatcher menerima informasi dari workstation berupa alarm kondisi abnormal dari sistem jaringan distribusi.

Pada kondisi ini yang harus dilaksanakan oleh dispatcher adalah :

Menerima perintah acknowledge yang berarti menerima dan mengetahui adanya kondisi abnormal jaringan dengan cara mengklik acknowledge.

Melihat penyulang, zone atau section yang mengalami gangguan dari workstation dan sebab gangguan dengan melihat informasi bekerjanya rele, kemudian membuat penilaian atau observasi seperlunya untuk menetapkan tindak lanjut.

Melaksanakan perintah reset rele dari workstation dengan cara memilih perintah reset rele.

Melaksanakan isolasi jaringan terganggu dengan perintah eksekusi peralatan switching atau manuver jaringan setelah mengetahui penyulang, zone atau section terganggu. Perintah ini akan melalui tahapan-tahapan yang sudah diprogram sesuai keadaan operasional jaringan, untuk mengantisipasi kesalahan operator/dispatcher.

Menginformasikan terjadinya gangguan kepada petugas pelayanan gangguan, untuk segera melaksanakan pencarian dan perbaikan pada lokasi terganggu sesuai informasi dari dispatcher. Petugas Pelayanan gangguan selalu berkoordinasi dengan distpatcher selama percarian dan perbaikan melalui fasilitas komunikasi suara.

Setelah perbaikan selesai adalah melaksanakan pemulihan jaringan sesuai kondisi normal dengan perintah eksekusi peralatan switching atau manuver setelah penyulang, zone atau section terganggu telah diperbaiki. Perintah ini akan melalui tahapan-tahapan yang sudah diprogram sesuai keadaan operasional jaringan, untuk mengantisipasi kesalahan operator/dispatcher.

Melaksanakan pencatatan atau record waktu dan lokasi terganggu serta manuver jaringan yang telah dilaksanakan pada form yang telah disediakan atau komputer. Pencatatan ini diperlukan untuk informasi dan evaluasi lebih lanjut. Seperti informasi Tingkat Mutu Pelayanan (TMP), pemeliharaan dan Energi tidak terjual.

Kondisi Emergency

Pada kondisi ini system mengalami degradasi dengan banyaknya PMT-PMT yang trip (tebuka) parameter lain adalah turunnya tegangan dan frekuensi sehingga pemadaman meluas. Sehingga diperlukan tindakan yang cepat untuk mengatasi system yang mengalami degradasi. Kondisi ini bila dialami oleh Sistem Transmisi akan menimbulkan dampak yang luas yang berakibat pula pada sistem distribusi.

Pada kondisi ini yang harus dilaksanakan oleh dispatcher adalah :

Memonitor kondisi penyulang yang pada sistem distribusi pada kondisi seperti ini dibantu oleh Under Frequency Relay (UFR) atau Rele Tegangan yang secara otomatis akan melepaskan beban.

Apabila rele bekerja maka akan menerima perintah acknowledge yang berarti menerima dan mengetahui adanya kondisi abnormal jaringan dengan cara mengklik acknowledge.

Melihat penyulang yang padam dari workstation dan sebab gangguan dengan melihat informasi bekerjanya rele, kemudian membuat penilaian atau observasi seperlunya untuk menetapkan tindak lanjut.

Melaksanakan perintah reset rele dari workstation dengan cara memilih perintah reset rele.

Berkoordinasi dengan petugas P3B Region terkait dalam hal pengeluaran/pemasukan PMT-PMT sampai sistem kembali seperti kondisi normal.

Melaksanakan pencatatan atau record waktu dan lokasi terganggu serta pengeluaran/pemasukan PMT-PMT yang telah dilaksanakan pada form yang telah disediakan atau komputer. Pencatatan ini diperlukan untuk informasi dan evaluasi lebih lanjut. Seperti informasi Tingkat Mutu Pelayanan (TMP), pemeliharaan dan Energi tidak terjual

Kondisi Pemulihan

Setelah terjadi trip secara simultan, sebagian atau pemadaman total pemulihan sistem harus dilaksanakan.

Pada kondisi ini yang harus dilaksanakan oleh dispatcher adalah :

Berkoordinasi dengan petugas P3B Region terkait dalam hal pengeluaran/pemasukan PMT-PMT sampai sistem kembali seperti kondisi normal.

Melaksanakan pencatatan atau record waktu dan lokasi terganggu serta pengeluaran/pemasukan PMT-PMT yang telah dilaksanakan pada form yang telah disediakan atau komputer. Pencatatan ini diperlukan untuk informasi dan evaluasi lebih lanjut. Seperti informasi Tingkat Mutu Pelayanan (TMP), pemeliharaan dan Energi tidak terjual