Anda di halaman 1dari 10

LONG CASE

RHINITIS ALERGI

Disusun untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti


Ujian Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung dan Tenggorok
RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

Diajukan kepada Yth:


dr. Adnan Abdullah, Sp. THT-KL

Diajukan oleh:
Vitria Novita Sari
20100310191

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016

LEMBAR PENGESAHAN

LONG CASE
Rhinitis Alergi

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat


Mengikuti Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung dan Tenggorok
Di RS. PKU Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun oleh :
Vitria Novita Sari
20100310191

Mengetahui
Dosen Penguji Klinik

dr. Adnan Abdullah, Sp. THT-KL

BAB I
LAPORAN KASUS

I.

II.

IDENTITAS PASIEN
Nama Pasien

: An. MM

Umur

: 8 th

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Pendidikan

: Siswa kelas 3 SD

Alamat

: Yogyakarta

Tanggal Periksa

: 28-04-2016

ANAMNESIS
a. Keluhan Utama: Hidung berair dan sering bersin
b. Riwayat Penyakit Sekarang:
Seorang anak laki-laki berusia 8 tahun datang ke poli THT RS PKU
Muhammadiyah Yogyakarta diantar ibunya dengan keluhan hidungnya selalu
berair dan bersin-bersin pada pagi hari. Keluhan ini sudah dirasakan sejak
pasien masih balita. Ibu pasien mengatakan cairan yang keluar dari hidung
encer berwarna bening dan jika bersin dapat lebih dari 5 kali. Selain hidung
berair dan bersin-bersin, pasien juga kerap mengalami hidung tersumbat dan
merasakan tenggorokannya penuh dahak. Gejala-gejala tersebut timbul dan
memberat bila suhu sekitarnya rendah. Keluhan mereda bila suhu naik atau
menghangat. Pasien sudah pernah berobat sebelumnya tetapi tidak ada
perubahan. Pasien sering tidak masuk sekolah jika keluhannya memberat.
c. Riwayat Penyakit Dahulu: dermatitis atopik (-), asma (-), konjungtivitis alergi
(+)
d. Riwayat Penyakit Keluarga
- Ibu pasien mengatakan nenek pasien mengalami keluhan serupa saat masih
muda.
- Riwayat atopi (dermatitis atopik, asma, konjungtivitis) (-)
e. Anamnesis sistem
- Sistem serebrospinal
: tidak panas, pusing, tidak mual
- Sistem respiratorius
: tidak sesak nafas, batuk (-)
- Sistem kardiovaskuler
: tidak berdebar-debar
1

III.

Sistem gastrointestinal
Sistem anogenital
Sistem muskuloskeletal
Sistem integumentum

: tidak ada keluhan


: tidak ada keluhan
: tidak ada hambatan dalam bergerak
: suhu raba hangat, nyeri

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
: baik
Kesadaran
: Compos Mentis
Vital Sign
: tidak diperiksa
- Suhu
: afebris
- Nadi
: 88 x/menit
- Respirasi Rate
: 16 x/menit
Status Lokalis (Hidung dan Paranasal)
Inspeksi, Palpasi
Deviasi nasal (-), massa (-), rhinorrea (-/-), epistaksis
(-), nyeri tekan (-)
SPN : edema nasal (-), NT pipi/kelopak bawah (-),
NT pangkal hidung(-)/kelopak atas (-)

Rhinoskopi Anterior
Septum letak sentral, deformitas os nasal (-), sekret
serous (+/+), mukosa hiperemis (-/-), mukosa pucat (+/
+), edem concha (+/+), massa (-/-), nyeri tekan (-/-).
Rhinoskopi Posterior : tidak dilakukan

IV.
V.

DIAGNOSA KERJA
Rhinits alergi persisten sedang-berat DD rhinitis vasomotor
USULAN TERAPI
R/ Spray hidung Triamcinolone Acetonide No. I
S 1 dd II spray NDS
R/ Syr Cetirizine 5 mg/ml Lag Fl No. I
S 1 dd cth 1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA RHINITIS ALERGI
A. DEFINISI
Rhinitis alergi didefinisikan sebagai gejala yang meliputi bersin, hidung gatal,
tersumbatnya jalan nafas dan adanya discharge bening dari hidung dikarenakan
adanya reaksi dari IgE terhadap alergen dan melibatkan peradangan pada mukosa
yang dipicu oleh sel T-helper 2 (sel Th2) (Bousquet J. et al, 2008).
B. EPIDEMIOLOGI
Rhinitis alergi pernah dilaporkan mengenai 14% populasi dewasa di Amerika,
sedangkan pada populasi anak diperkirakan mencapai 42%. Kejadian rhinitis alergi
berkaitan dengan asma, dimana orang dengan asma kebanyakan memiliki rhinitis
(Shaaban R, et al. 2008). Pasien rhinitis alergi juga biasanya memiliki riwayat
eksim atopik atau konjungtivitis alergi (Bielory L. 2010).
C. ETIOLOGI
Rhinitis alergi pada dasarnya adalah proses dimana seseorang dengan
hipersensitifitas menghirup alergen sehingga timbul gejala. Alergen merupakan
semua hal yang memicu alergi, umumnya berupa serbuk bunga, bulu hewan, debu,
makanan, atau suhu.
D. GEJALA
Gejala yang mungkin muncul setelah seseorang terpapar alergen, antara lain:
- Hidung gatal
- Hidung berair
- Bersin
- Mata berair
- Gangguan penciuman
- Hidung tersumbat
- Nyeri tenggorok

E. PATOFISIOLOGI

A. Sensitization
Pada panel A, sensitization dimulai ketika alergen diterima oleh sel dendritik
pada mukosa. Proses ini memicu aktivasi sel T spesifik dan terjadilah
pengeluaran sitokin (thymic strmal lymphopoitein [TSLP], interleukin-25, dan
interleukin-33). Selanjutnya terjadi respon tehadap sel T-helper 2 (Th2) dan
dibantu oleh sel limfoid serta basofil yang mengakibatkan Th2 memicu
pengeluaran sitokin lain (interleukin-13 dan interleukin-4). Hasilnya terjadi
generasi dari sel Th2 dimana sel B berubah menjadi sel plasma yang
memproduksi IgE spesifik (Wheatley LM, Togias A. 2015).
B. Re-exposure
4

Pada panel B dapat dilihat IgE spesifik menempel pada reseptor pada
permukaan sel mast atau basofil sehingga terjadi pengeluaran mediator
neuroaktif dan vasoaktif (histamin dan leukotrien sistenil). Mediator tersebut
dapat menimbulkan gejala rhinitis alergi yang khas (Wheatley LM, Togias A.
2015).
C. Generation of Nasal Symptoms on Allergen Exposure
Pada panel C, mediator yang dilepaskan oleh sel mast dan basofil dapat
langsung mengaktivasi saraf sensori, pembuluh darah dan kelenjar. Histamin
mampu memberi efek langsung terhadap pembuluh darah (memicu kebocoran
plasama akibat peningkatan permiabilitas vaskuler) dan saraf sensori dimana
leukotrien dapat menyebabkan vasodilatasi. Aktivasi saraf sensori juga
menyebabkan gatal dan berbagai reflek seperti reflek motor (bersin), reflek
parasimpatetik (stimulasi kelenjar sekresi nasal dan vasodilatasi), dan reflek
simpatetik menimbulkan penekanan pada vena hidung sehingga terjadi
pembengkakan pembuluh darah dan penyumbayan saluran hidung (Wheatley
LM, Togias A. 2015).
F. KLASIFIKASI
Klasifikasi menurut Allergic Rhinitis and Its Impact on Asthma (ARIA), 2012,
berdasarkan karakteristik gejala, rhinitis alergi dibagi menjadi:
a. Ringan (mild), bila memenuhi syarat di bawah ini:
- Tidak ada gangguan tidur
- Tidak ada gangguan aktivitas sehari-hari
- Tidak ada gangguan pada pekerjaan dan aktivitas belajar
- Tidak ada gejala berat
b. Sedang-berat (moderete-severe), bila memenuhi satu atau lebih dari syarat
di bawah ini:
- Gangguan tidur
- Gangguan aktivitas sehari-hari, olahraga dan rekreasi
- Gejala berat
Berdasarkan frekuensi gejala, rhinitis alergi dibagi menjadi:
a. Intermiten : kurang dari 4 hari dalam seminggu ATAU kurang dari 4
minggu berturut-turut
b. Persisten : lebih dari 4 hari dalam seminggu DAN lebih dari 4 minggu
berturut-turut
G. PENEGAKAN DIAGNOSIS
Diagnosis rhinitis alergi dibuat secara klinis berdasarkan karakteristik
gejala dan respon baik terhadap pengobatan empiris antihistamin dan
5

glukokortikosteroid nasal. Formalnya diagnosis rhinitis alergi ditegakkan


berdasarkan bukti adanya sensitisasi yang diukur dengan hadirnya IgE spesifik
pada serum atau dengan skin test yang hasilnya positif.
Diagnosa banding rhinitis alergi meliputi noninflammatory rhinopathy
(rhinitis vasomotor) dan rhinosinusitis kronis non alergi (Sin B, Togias A. 2011).
Hanya satu dari 5 pasien rhinitis yang merupakan rhinitis non alergi, umumnya
pada pasien rhinitis alergi hasil skin test akan negatif atau produksi IgE alergen
spesifik pada mukosa terbatas (Rondon C, et al. 2012).
H. PENGOBATAN
Ada 2 pengobatan yang bisa diberikan pada pasien dengan rhinitis alergi:
1. Farmakologi
Ada beberapa pilihan terapi farmakologi yakni antihistamin

H1,

glukokortikosteroid intranasal, dan leukotriene-receptor antagonist. Terapi


biasanya dimulai dengan antihistamin oral. Antihistamin dapat dikombinasikan
dengan dekongestan oral sehingga dapat meningkatkan aliran udara di hidung
dapam waktu singkat (Nathan RA, et al. 2006). Sedangkan glukokortikosteroid
intranasal dibandingkan dengan antihistamin dalam menangani rhinitis alergi
tidak menunjukkan hasil yang lebih baik, hanya saja glukokortikosteroid
intranasal mampu meringankan gejala alergi pada okular lebih baik daripada
antihistamin (Bielory L. 2010).
2. Imunoterapi alergen
Sebuah survey pada populasi umum menunjukkan sepertiga pasien anak dan
hampir dua per tiga pasien dewasa dengan rhinitis alergi tidak mendapatkan
hasil yang diharapkan dari farmakoterapi (Meltzer EO, et al. 2009). Olehkarena
itu imunoterapi alergen diharapkan dapat menangani rhinitis alergi lebih baik
dari farmakoterapi. Dahulu, imunoterapi alergen dilakukan secara subkutaneus,
memaparkan alergen kepada pasien dengan konsentrasi yang semakin
meningkat sampai dosis maintanance tercapai. Imunoterapi sekarang adalah
secara sublingual dengan dosis tetap. Telah terbukti imunoterapi alergen
mampu menurunkan respon alergi terhadap alergen spesifik sehingga
imunoterapi dapat mengkontrol rhinitis alergi, asthma dan konjungtivitis (Lin
SY, et al. 2013).
Tatalaksana rhinitis alergi berdasarkan frekuensi dan derajat keparahannya
(ARIA, 2012)
FREKUENSI

DERAJAT KEPARAHAN

TATALAKSANA*
6

Intermiten

Persisten

Ringan

Sedang-berat
Ringan

Antihistamin H1 oral
Antihistamin H1

intranasal
Dekongestan
Antileukotrien**
Antihistamin H1 oral
Antihistamin
H1

intranasal
Kortikosteroid intranasal
Dekongestan
Antileukotrien**

Sedang berat

Kortikosteroid intranasal
Antihistamin H1
Antileukotrien**
Konjungtivitis: antihistamin oral, intraokular atau kromon intraokular
Edukasi: hindari pajanan alergen dan iritan
* evaluasi pengobatan dalam 2-4 minggu. Jika belum terdapat perbaikan,
evaluasi tingkat kepatuhan, kemungkinan infeksi atau diagnosa lainnya dan
tingkat intensitas pengobatan. Jika respon baik pantau dalam 1 bulan
berikutnya.
** Terutama diberikan pada kasus rhinitis alergi yang disertai asma.
BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien didiagnosis rhinitis alergi
persisten-sedang berat, olehkarena itu menurut ARIA, 2012 terapi yang dianjurkan
adalah:
1. Kortikosteroid

intranasal:

budesonide,

beclomethasone

dipropionate,

mometasone furoate
2. Antihistamin H1: cetirizine, ebastine, fexofenadine, loratadine, mizolastine
3. Antileukotrien**: montelukast, pranlukast, zafirlukast

REFERENSI

Bielory L. Allergic conjunctivitis and the impact of allergic rhinitis. Curr Allergy Asthma
Rep 2010;10:122-134
Bielory L. Allergic conjunctivitis and the impact of allergic rhinitis. Curr Allergy Asthma
Rep 2010;10:122-134
Bousquet J, Khaltaev N, Cruz AA, et al. Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma
(ARIA) 2008 update (in collaboration with the World Health Organization,
GA(2)LEN and AllerGen). Allergy 2008;63:Suppl 86:8-160
Lin SY, Erekosima N, Suarez-Cuervo C, et al. Allergen-specific immunotherapy for the
treatment of allergic rhinoconjunctivitis and/or asthma: comparative effectiveness
review. Rockville, MD: Agency for Healthcare Research and Quality, 2013
(http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0055886/pdf/TOC.pdf).
Meltzer EO, Blaiss MS, Derebery MJ, et al. Burden of allergic rhinitis: results from the
Pediatric Allergies in America survey. J Allergy Clin Immunol 2009;124:Suppl:S43S70
Nathan RA, Finn AF Jr, LaForce C, et al. Comparison of cetirizine-pseudoephedrine and
placebo in patients with seasonal allergic rhinitis and concomitant mild-to-moderate
asthma: randomized, double-blind study. Ann Allergy Asthma Immunol
2006;97:389-396
Rondon C, Campo P, Togias A, et al. Local allergic rhinitis: concept, pathophysiology, and
management. J Allergy Clin Immunol 2012;129:1460-1467
Sin B, Togias A. Pathophysiology of allergic and nonallergic rhinitis. Proc Am Thorac Soc
2011;8:106-114
Wheathley LM, Togias A. Allergic Rhinitis. N Engl J Med 2015; 372:456-463