Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH KELOMPOK

KULTUR JARINGAN TUMBUHAN

KULTUR JARINGAN EMBRIONIK

OLEH KELOMPOK II :
1. RAMLAH (H411 12 002)
2. NUR RAMALIANI SAMSUL (H411 12 004)
3. IZMI AZIEZAH ASYWAD (H411 12 )
4. SYAHRIL (H411 12 )

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kultur adalah inisiasi umum dari tumbuh-tumbuhan yang memiliki
bagian-bagian yang dapat ditumbuhkan pada media kultur dan dapat disterilkan,
sementara eksplan adalah ketika dikulturkan pada medium yang sesuai, biasanya
media terdiri dari bahan-bahan auxin dan sitokinin, yang dapat memberikan suatu
nutrisi bagi tanaman agar dapat tumbuh dan berkembang menjadi suatu individu
baru (Hendaryono, dan Wijayati, 2006).
Penyerbukan dan pembuahan dapat berhasil namun setelah persilangan
buatan seringkali dijumpai permasalahan antara lain buah yang terbentuk gugur
saat embrio belum matang, terbentuk buah dengan endosperm yang kecil atau
terbentuk buah dengan embrio yang kecil dan lemah. Kondisi tersebut dapat
menghambat program pemuliaan tanaman karena embrio muda, embrio dengan
endosperm kecil atau embrio kecil dan lemah seringkali tidak dapat berkecambah
secara normal dalam kondisi biasa
Untuk mengatasi hal tersebut di atas maka embrio tersebut dapat
diselamatkan dan ditanam secara aseptis dalam media buatan sehingga dapat
berkecambah dan menghasilkan tanaman utuh. Teknik untuk menanam embrio
muda ini dikenal dengan sebutan penyelamatan embrio (embryo rescue) (Nickell,
1982).
Selain teknik penyelamatan embrio ini dikenal juga teknik kultur embrio
(embryo culture), yaitu penanaman embrio dewasa pada media buatan secara
aseptis. Embrio culture adalah salah satu teknik kultur jaringan yang pertama kali

berhasil. Aplikasi kultur embrio ini antara lain perbanyakan tanaman, pematahan
dormansi untuk mempercepat program pemuliaan serta perbanyakan tanaman
yang sulit berkecambah secara alami (Hendaryono, dan Wijayati, 2006)
1.2 Tujuan dan Manfaat
1.2.1 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini antara lain :
1. Mahasiswa mampu mengetahui manfaat dan tujuan kultur embrio
2. Mahasiswa mampu mengetahui teknik-teknik dalam kultur embrio
3. Mahasiswa mampu mengetahui teknik isolasi kultur embrio dengan baik dan
benar
1.2.2 Manfaat
Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah :
Agar mahasiswa dapat memilki ketrampilan secara pengetahuan mengenai
kultur embrio.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Definisi Kultur Jaringan

Kultur jaringan/Kultur In Vitro/Tissue Culture adalah suatu teknik untuk


mengisolasi, sel, protoplasma, jaringan, dan organ dan menumbuhkan bagian
tersebut pada nutrisi yang mengandung zat pengatur tumbuh tanaman pada
kondisi aseptik,sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan
beregenerasi menjadi tanaman sempurna kembali (Zulkarnain, 2009) .
Teori Dasar Kultur Jaringan (Nigel, and Fowler, 2007) antara lain :
a. Sel dari suatu organisme multiseluler di mana pun letaknya, sebenarnya sama
dengan sel zigot karena berasal dari satu sel tersebut (Setiap sel berasal dari satu
sel).
b. Teori Totipotensi Sel (Total Genetic Potential), artinya setiap sel memiliki
potensi genetik seperti zigot yaitu mampu memperbanyak diri dan berediferensiasi
menjadi tanaman lengkap.
Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur
jaringan (Zulkarnain, 2009) adalah:
1) Pembuatan media
2) Inisiasi
3) Sterilisasi
4) Multiplikasi
5) Pengakaran
6) Aklimatisasi
Aplikasi Teknik Kultur Jaringan
Saat ini teknik kultur jaringan digunakan bukan hanya sebagai sarana
untuk mempelajari aspek-aspek fisiologi dan biokimia tanaman saja. Akan tetapi

sudah berkembang menjadi metoda untuk berbagai tujuan (Yusnita, 2004)


seperti:
a. Mikropropagasi (Perbanyakan tanaman secara mikro)
Teknik kultur jaringan telah digunakan dalam membantu produksi
tanaman dalam skala besar melalui mikropropagasi atau perbanyakan klonal dari
berbagai jenis tanaman. Jaringan tanaman dalam jumlah yang sedikit dapat
menghasilkan ratusan atau ribuan tanaman secara terus menerus. Teknik ini telah
digunakan dalam skala industri di berbagai negara untuk memproduksi secara
komersial berbagai jenis tanaman seperti tanaman hias (anggrek, bunga potong,
dll.), tanaman buah-buahan (seperti pisang), tanaman industri dan kehutanan
(kopi, jati, dll).
Dengan menggunakan metoda kultur jaringan, jutaan tanaman dengan sifat
genetis yang sama dapat diperoleh hanya dengan berasal dari satu mata tunas.
Oleh karena itu metoda ini menjadi salah satu alternatif dalam perbanayakan
tanaman secara vegetatif.
b. Perbaikan tanaman
Seperti telah diketahui bahwa dalam usaha perbaikan tanaman melalui
metoda pemuliaan secara konvensional untuk mendapatkan suatu galur murni
akan memerlukan enam atau tujuh generasi hasil penyerbukan sendiri maupun
persilangan. Melalui teknik kultur jaringan, antara lain dengan cara memproduksi
tanaman haploid melalui kultur polen, antera atau ovari yang diikuti dengan
penggandaan kromosom, akan mempersingkat waktu untuk mendapatkan tanaman
yang homozigot.

c. Produksi tanaman yang bebas penyakit (virus)


Teknologi kultur jaringan telah memberikan kontribusinya dalam
mendapatkan tanaman yang bebas dari virus. Pada tanaman yang telah terinfeksi
virus, sel-sel pada tunas ujung (meristem) merupakan daerah yang tidak terinfeksi
virus. Dengan cara mengkulturkan bagian meristem pada media kultur yang cocok
akan diperoleh tanaman yang bebas virus. Teknik ini telah banyak digunakan
dalam memproduksi berbagai tanaman hortkultura yang bebas penyakit.
d. Transformasi genetik
Teknik kultur jaringan telah menjadi bagian penting dalam membantu
keberhasilan rekayasa genetika tanaman (transfer gen). Sebagai contoh transfer
gen bakteri (seperti gen cry dari Bacillus thuringensis) kedalam sel tanaman akan
terekspresi setelah regenerasi tanaman transgeniknya tercapai.
e. Produksi senyawa metabolit sekunder
Kultur sel-sel tanaman juga dapat digunakan untuk memproduksi senyawa
biokimia (metabolit sekunder) seperti alkaloid, terpenoid, phenyl propanoid dll.
Teknologi ini sekarang sudah tersedia dalam skala industri. Sebagai contoh
produksi secara komersial senyawa shikonin dari kultur sel Lithospermum
erythrorhizon.
Kultur Embrio
Pada program pemuliaan tanaman, biasanya dilakukan persilangan buatan
antara tanaman induk (P) untuk menghasilkan hibrid baru. Persilangan buatan
lebih mudah berhasil bila dilakukan antar tanaman dengan hubungan kekerabatan
yang dekat. Untuk memperoleh sifat-sifat yang diinginkan, seringkali penyilangan

dilakukan dengan tanaman liar atau bahkan persilangan dengan varietas yang
berbeda bila sifat-sifat tersebut tidak terdapat pada kerabat dekatnya (Zulkarnain,
2009).
Penyerbukan dan pembuahan dapat berhasil namun setelah persilangan
buatan seringkali dijumpai permasalahan antara lain buah yang terbentuk gugur
saat embrio belum matang, terbentuk buah dengan endosperm yang kecil atau
terbentuk buah dengan embrio yang kecil dan lemah. Kondisi tersebut dapat
menghambat program pemuliaan tanaman karena embrio muda, embrio dengan
endosperm kecil atau embrio kecil dan lemah seringkali tidak dapat berkecambah
secara normal dalam kondisi biasa (Widarto, 1996).
Untuk mengatasi hal tersebut di atas maka embrio tersebut dapat
diselamatkan dan ditanam secara aseptis dalam media buatan sehingga dapat
berkecambah dan menghasilkan tanaman utuh. Teknik untuk menanam embrio
muda ini dikenal dengan sebutan penyelamatan embrio (embryo rescue) (Widarto,
1996)..
Selain teknik penyelamatan embrio ini dikenal juga teknik kultur embrio
(embryo culture), yaitu penanaman embrio dewasa pada media buatan secara
aseptis. Aplikasi kultur embrio ini antara lain perbanyakan tanaman, pematahan
dormansi untuk mempercepat program pemuliaan serta perbanyakan tanaman
yang sulit berkecambah secara alami, misalnya anggrek (Yusnita, 2004).
Sejarah Kultur Embrio
Embryo Culture atau kultur embrio adalah isolasi steril dari embrio muda
(immature embryo) atau embrio dewasa/tua (mature embryo) secara invitro

dengan tujuan untuk memperoleh tanaman yang lengkap. Embrio culture adalah
salah satu teknik kultur jaringan yang pertama kali berhasil, (Widarto, 1996),
sejarahnya:
1. Tahun 1904, seorang ilmuwan bernama Hanning berhasil memperoleh tanaman
sempurna dari embryo Cruciferae yang diisolasi secara invitro
2. Tahun 1924 adalah saat pertama kali dilakukan penelitian untuk memecahkan
masalah dormansi biji secara invitro pada embrio Linum
3. Tahun 1933 Tuckey berhasil memperoleh tanaman dari immature embryo buah
batu.
Kultur Embrio
Kultur embrio berguna dalam menolong embrio hasil persilangan seksual
antara spesies atau genera yang berkerabat jauh yang sering kali gagal karena
embrio hibridanya mengalami keguguran. Kultur embrio telah digunakan untuk
menghasilkan hibrida untuk beberapa spesies tanaman. Media kultur embrio
mencakup garam-garam anorganik, sukrosa, vitamin, asam amino, hormon, dan
substansi yang secara nutrisi tidak terjelaskan seperti santan kelapa. Embrio yang
lebih muda membutuhkan media yang lebih kompleks dibandingkan dengan
embrio yang lebih tua. Perpindahan embrio dari lingkungan normal dalam biji
akan mengatasi hambatan yang ditimbulkan oleh kulit biji yang sulit ditembus
(Widarto, 1996).
Kultur embrio belum matang yang diambil dari biji memiliki 2 macam
aplikasi. Dalam beberapa hal, incompatibilitas antar spesies atau kultivar yang
timbul setelah pembentukan embrio akan menyebabkan aborsi embrio. Embryo

seperti ini dapat diselamatkan dengan cara mengkulturkan embrio yang belum
matang dan menumbuhkannya pada media kultur yang sesuai. Aplikasi lain kultur
embrio adalah untuk menyelamatkan embrio yang sudah matang agar tidak mati
akibat serangan hama dan penyakit (Widarto, 1996).
Proses perkecambahan pada kultur embrio dimulai dari Benih menyerap
air melalui testa, Embrio mengalami imbibisi, membengkak, pembelahan sel
dimulai, dan embrio menembus kulit biji, Protocorm terbentuk dari massa embrio,
Diferensiasi organ dimulai dg pembentukan meristem tunas & rhizoid, Jika ada
cahaya, daun terbentuk, diikuti oleh akar sejati. Rhizoid & protocorm tidak
berfungsi lagi dan terdegenerasi (Yusnita, 2004).
Selain teknik penyelamatan embrio inidikenal juga teknik kultur embrio
(embryo culture), yaitu penanaman embrio dewasa pada media buatan secara
aseptis. Aplikasi kultur embrio ini antara lain perbanyakan tanaman, pematahan
dormansi untuk mempercepat program pemuliaan serta perbanyakantanaman yang
sulit berkecambah secara alami, misalnya anggrek, kedelai, pepaya, kacang tanah
dan kelapa kopyor (Yusnita, 2004).
Embryo Culture atau kultur embrio adalah isolasi steril dari embrio muda(
immature embryo) atau embrio dewasa/tua ( mature embryo) secara in-vitro
dengan tujuan untuk memperoleh tanaman yang lengkap atau viabel. Kultur
embryo dapat dikatakan sebagai kultur biji (seed kultur) yaitu kultur yang bahan
tanamnnya menggunakan biji atau seedling. Kultur embryo dapat dilakukan untuk
menyelamatkan embrio yang sudah matang agar tidak mati akibat serangan hama

dan penyakit, penyelamatan embryo yang belum matang dan menumbuhkannya


pada media kultur yang sesuai (Yusnita, 2004).
Macam- Macam Kultur Embrio
Berdasarkan tujuan dan jenis embrio yang dikulurkan, kultur embrio
digolongkan (Nickell, 1982) menjadi:
1. Kultur Embrio Muda (Immature Embryo Culture)
Tujuan mengkulturkan embrio muda ini adalah menanam embrio yang
terdapat pada buah muda sebelum buah tersebut gugur (mencegah kerusakan
embrio akibat buahgugur) sehingga teknik ini disebut sebagai Embryo Rescue
(Penyelamatan Embrio).Kondisi seperti ini biasanya sering dijumpai pada buah
hasil persilangan, dimana absisi buah kerap kali dijumpai setelah penyerbukan dan
pembuahan. Contohnya adalah pada persilangan anggrek Vanda spathulata dimana
absisi atau gugur buah pada saat buahmasih muda yaitu setelah berumur 3 bulan
setelah persilangan padahal buah anggrek
Vanda spp. akan mengalami masak penuh setelah berumur 6 bulan.
Apabila buah initidak diselamatkan atau dipetik dan kemudian dikecambahkan
maka tidak akan diperoleh buah hasil persilangan. Perkecambahan biji yang masih
muda di lapangan sangat sulit bahkan pada beberapa kasus hampir tidak mungkin
bisa terjadi. Oleh karena itu, buahyang belum tua (2 4 bulan) pada anggrek
Vanda tersebut kemudian dipanen dandikecambahkan secara in-vitro.Budidaya
embrio muda ini lebih sulit dibandingkan dengan budidaya embrio yangtelah
dewasa. Embrio yang terdapat dalam biji belum sepenuhnya berkembang dan
belummembentuk radicula dan plumula yang sempurna. Selain itu, biji velum

memilikiendosperm atau cadangan makanan yang memadai dalam mendukung


perkembangan dan perkecambahan embrio. Oleh karena itu, perlu disediakan
media kultur yang memadai bagi perkembangan embrio muda ini. Pada beberapa
kasus kadangkala dijumpai embriomasih dorman sehingga perlu ditambahkan
hormon tanaman yang bisa memecahkandormansi biji ini, misalnya Giberellin.
2. Kultur Embryo Dewasa (Mature Embryo Culture)
Kultur embrio dewasa dilakukan dengan membudidayakan embrio yang
telahdewasa. Embrio ini diambil dari buah yang telah masak penuh dengan tujuan
merangsang perkecambahan dan menumbuhkan embrio tersebut secara in-vitro.
Teknik kultur iniumumnya dikenal dengan sebutan Kultur Embrio (Embryo
Culture).

Kultur

embrio

lebih

mudah

dilakukan

dibandingkan

dengan

penyelamatan embrio. Hal ini disebabkan karena embrio yang ditanam adalah
embrio yang telah berkembang sempurna sehingga media tanaman yang
digunakan juga sangat sederhana.
Tahapan Teknik Embryo Culture
Teknik embryo culture dan embryo rescue pada dasarnya melibatkan 3
tahapan (Yusnita, 2004) yaitu:
1). Sterilisasi eksplan
Embrio pada prinsipnya berada dalam keadaan steril. Hal ini disebabkan
karena embrio berada di dalam buah (di dalam biji) terlindung oleh jaringanjaringan buah dan biji yang berada di luar embrio, antara lain oleh kulit buah,
daging buah dan kulit biji. Keadaan ini menyebabkan sterilisasi embrio tidak perlu
dilakukan.

Sterilisasi permukaan perlu dilakukan pada buah ataupun biji untuk


mensterilkan permukaan buah/biji sehingga pada waktu isolasi embrio tidak
terdapat sumber kontaminan. Karena embrio berada di dalam, sterilisasi dapat
dilakukan dengan pembakaran buah/biji atau dengan sterilan kimia seperti sodium
hypochlorite dengan konsentrasi cukup tinggi (>2 %).
2). Isolasi dan penanaman embrio
Seringkali masalah timbul saat isolasi embrio terutama untuk embrio
berukuran kecil sehingga isolasinya harus dilakukan di bawah mikroskop. Untuk
embrio berukuran besar, isolasi embrio tidak menjadi masalah. Isolasi harus
dilakukan secara hati-hati agar embrio tidak rusak dan kehilangan salah satu atau
lebih bagian-bagiannya (radicula, plumula, hypocotil, coleoptyl, dll). Selain itu
harus tetap dijaga juga agar isolasi dilakukan dalam kondisi tetap aseptis. Embrio
yang telah diisolasi selanjutnya ditanam pada media yang telah dipersiapkan.
Media untuk pengecambahan embrio cukup sederhana. Kebutuhan nutrisi
di dalam media untuk pengecambahan embrio juga lebih sederhana dibandingkan
dengan media untuk tujuan teknik kultur yang lain. Pada prinsipnya media
diperlukan

untuk

menggantikan

peranan

endosperm

dalam

mendukung

perkecambahan embrio dan perkembangan bibit muda mengingat embrio yang


ditanam umumnya telah memiliki radicula dan plumula. Media yang umum
digunakan untuk pengecambahan embrio adalah media Knudson dan Vacin &
Went (untuk anggrek), Media MS dalam konsentrasi garam-garamnya.
Dalam

pengecambahan

embrio

dewasa

umumnya

vitamin

tidak

ditambahkan dalam media, namun sumber karbon tetap diperlukan meskipun

dalam konsentrasi yang lebih rendah (umumnya 20 g/l). Akan tetapi, dalam
pengecambahan embrio muda diperlukan media yang lebih kompleks.
Perkembangan embrio muda perlu didukung pada awalnya sehingga radicula dan
plumula dapat berkembang sempurna sebelum embrio ini berkecambah. Untuk
itu, nutrisi yang lebih lengkap beserta vitamin seperti nicotinic acid, biotin,
vitamin C, vitamin B perlu ditambahkan pada media kultur embrio muda ini.
Hormon tanaman umumnya tidak ditambahkan dalam media kultur embrio
karena

penambahan

hormon

tanaman

kemungkinan

dapat

merangsang

terbentuknya kalus pada embrio. Kalus umumnya tidak diinginan pada kultur
embrio mengingat tujuan kulturnya adalah untuk merangsang perkecambahan
embrio. Pada beberapa kasus, terutama untuk embrio muda atau embrio yang
mengalami dormansi, penambahan giberellin dalam media kultur dapat dilakukan.
Untuk pengecambahan embrio umumnya digunakan media padat sehingga
agar pada konsentrasi 0,8 sampai 1,6 % ditambahkan ke dalam media. Media cair
kadangkala diperlukan untuk pengecambahan, misalnya pada embrio kelapa.
Kondisi pengecambahan ini memodifikasi kondisi alamiah perkecambahan buah
kelapa dimana nutrisi tersedia dari endosperm yang cair yaitu berupa air kelapa.
Apabila media cair digunakan untuk pengecambahan, umumnya kultur
ditempatkan di atas shaker (alat penggojok) untuk menghindari kekurangan
oksigen pada eksplan yang dapat menyebabkan eksplan mati.
3). Aklimatisasi
Aklimatisasi dilakukan setelah embrio berkecambah dan diperoleh plantlet
yang siap untuk dipindahkan ke lapangan. Teknik aklimatisasi untuk plantlet hasil

regenerasi kultur embrio pada prinsipnya sama dengan aklimatisasi plantlet hasil
regenerasi dari teknik kultur jaringan lainnya.
Selain kultur embrio dan embrio rescue,terdapa pula beberapa tipe tipe
kultur lain ,yaitu: kultur kalus, kultur meristem,kultur suspensi sel, kultur
protoplas, kultur anther dan pollen, dan kultur spora paku.
Faktor yang Mempengaruhi Teknik Kultur Embrio
Faktor yang mempengaruhu kesuksesan kultur embrio (Zulkarnain, 2009)
adalah:
1.Genotipe
Pada suatu spesies, embrio mudah diisolasi dan tumbuh, sementara pada
tanaman lain agak lebih susah.
2.Tahap (stage) embrio diisolasi
Pada tahapan yang lebih besar (lebih tinggi) lebih baik bila dilakukan
pengisolasian embrio.
3.Kondisi tumbuhan
Sebaiknya ditumbuhkan di rumah kaca/ kondisi terkontrol. Embrio harus
cukup besar dan berkualitas tinggi.
4.Kondisi media

Hara makro dan mikro

pH 5.0 6.0c. Sukrosa sebagai sumber energi. Embrio yang belum matang
perlu 8 12%,embrio matang perlu 3%
Auksin dan sitokinin tidak diperlukan. GA diperlukan untuk memecahkan
dormansi

Vitamin (optional)

Senyawa organik (opt), air kelapa, casein hydrolisate, glutamin (penting)


5. Lingkungan
Oksigen (perlu oksigen tinggi)
Cahaya : kadang embrio perlu ditumbuhkan dalam gelap selama 14
hari,kemudian ditransfer ke cahaya untuk merangsang sintesa klorofil
Suhu : kadang perlu perlakuan dingin (vernalisasi, 40C) untuk memecah
dormansi
Tujuan Embryo Culture Dan Embryo Rescue
Kedua teknik ini (embryo culture dan embryo rescue) dewasa ini
dilakukan untuk berbagai tujuan (Yusnita, 2004) antara lain:
1) Mematahkan dormansi
Beberapa spesies tanaman memiliki masa dormansi yang panjang,
misalnya cherry, hazel nut, dll. Selain itu ada juga beberapa jenis tanaman yang
bisa menghasilkan biji namun tidak dapat dikecambahkan secara normal di alam
misalnya Musa balbislana. Untuk memecahkan masalah tersebut, maka biji
tanaman ini dapat dikecambahkan secara invitro. Dormansi fisik dapat dipatahkan
dengan cara mengisolasi embrio dari biji lalu mengecambahkannya, sedangkan
dormansi fisiologis dapat dipecahkan dengan perlakuan kimia seperti penambahan
giberellin (GA3) ke dalam media kultur.
2) Perkecambahan dari tanaman yang memerlukan bantuan/ parasit
Tanaman anggrek merupakan salah satu contoh tanaman yang bijinya
sangat sulit berkecambah di alam. Biji anggrek sangat kecil dan memiliki

endosperm yang sangat miskin sehingga tidak bisa mendukung perkecambahan


bijinya. Di alam, proses perkecambahan anggrek teresterrial (tanah) diawali
dengan simbiosis antara biji anggrek dengan jamur (mycorrizha) dimana hifa
jamur akan menembus kulit biji dan mensuplai makanan bagi biji anggrek. Tanpa
simbiosa ini, biji anggrek tidak memperoleh cukup bahan makanan untuk
perkecambahannya disebabkan karena endospermnya yang sangat kecil.
Meskipun anggrek epiphyt tidak memerlukan simbiosa ini, namun biji anggrek
epiphyt juga memiliki endosperm yang amat sangat kecil sehingga sulit
berkecambah secara alamiah. Dengan teknik kultur jaringan (embryo culture), biji
anggrek dikecambahkan secara invitro sehingga dewasa ini bisa diperoleh bibit
anggrek dengan mudah.
Produksi bibit anggrek dewasa ini merupakan industri yang berkembang
sangat pesat dan menguntungkan. Teknik ini biasanya didahului dengan
persilangan untuk memperoleh silangan-silangan. Dalam setahun, ribuan silangan
baru anggrek bisa diperoleh. Masing-masing nursery biasanya memiliki pohon
iinduk dengan keunggulan yang berbeda sehingga dihasilkan beragam varietas
baru dengan bentuk dan warna bunga yang beragam.
3) Memperpendek siklus pemuliaan tanaman
Dormansi biji dapat mengambat program pemuliaan tanaman. Pemecahan
dormansi dengan kultur embrio (embryo culture) merupakan salah satu upaya
untuk mempercepat perkecambahan biji hasil pemuliaan tanaman sehingga bisa
mempercepat proses pemuliaan tanaman.

4) Produksi tanaman haploid lewat penyelamatan embrio hasil persilangan antar


jenis tertentu
Salah satu cara yang dilakukan untuk memperoleh tanaman haploid adalah
silangan antar spesies tertentu. Contohnya adalah persilangan antara Hordeum
vulgare dengan H. bulbosum. Setelah penyilangan yang kemudian diikuti oleh
pembuahan, kromosom H. bulbosum tereliminasi sehingga hanya kromosom H.
bulbosum yang terekspresi, sehingga dapat dihasilkan biji haploid dari silangan
ini. Sayangnya persilangan ini mengakibatkan embrio gugur (buah gugur)
sebelum buah tersebut dewasa. Hasil silangan ini (buah haploid) tidak akan dapat
diperoleh apabila buah muda tersebut tidak diselamatkan dengan cara
memanennya sebelum gugur lalu mengecambahkan embrio muda (teknik embryo
rescue) ini secara invitro.
5) Mencegah gugurnya buah (embrio) pada buah
Gugurnya buah sebelum buah tersebut dewasa sangat umum ditemukan
pada persilangan. Berbagai macam faktor dapat menyebabkan buah tersebut gugur
sebelum masak. Pada persilangan buah-buah batu, transportasi air dan hasil
fotosintesa dari daun dan batang ke buah terhambat sehingga mengakibatkan
terbentuknya lapisan absisi pada tangkai buah. Akibatnya buah tidak memperoleh
nutrisi yang dibutuhkan untuk perkembangannya sehingga buah dengan embrio
yang terbentuk gugur sebelum dewasa. Teknik embryo rescue umumnya
dilakukan untuk menyelamatkan hasil silangan ini dengan cara memanen buah
muda hasil persilangan sebelum buah gugur kemudian mengecambahkannya
secara invitro.

6) Mencegah kehilangan biji setelah persilangan (interspesific)


Persilangan antar varietas tanaman dalam satu spesies seringkali
menghasilkan buah dengan endosperm yang miskin atau embrio lemah dan
berukuran kecil. Biji-biji dengan kondisi demikian seringkali sulit sekali atau
tidak bisa dikecambahkan dalam kondisi normal. Teknik kultur embrio dapat
digunakan untuk membantu perkecambahannya. Hal ini telah dilakukan pada
tomat, padi, barley, dan phaseolus.
7) Perbanyakan vegetatif
Embrio dapat digunakan sebagai bahan dasar perbanyakan vegetatif seperti
misalnya pada Poaceae dan paku-pakuan (menggunakan spora).
Kultur embrio adalah kultur jaringan tanaman dengan menggunakan
eksplan berupa embrio tanaman. Embrio tidak dimaksudkan untuk menumbuhkan
kalus dari embrio yang digunakan. Embrio diharapkan tetap mempertahankan
integritasnya dan tumbuh menjadi tanaman. Kultur embrio ditujukan untuk
membantu perkecambahan embrio menjadi tanaman lengkap
Embrio yang dikulturkan harus berada dalam kondisi Menunjukkan masa
dormansi yang panjang, Embrio hibrida hasil penyilangan interspesifik yang tidak
kompatibel dengan endospermnya, Embrio dengan endosperm yang rusak seperti
kelapa kopyor, Embrio tanpa endosperm seperti pada anggrek. 2 macam kultur
embrio: Kultur embrio yg belum matang, utk mencegah keguguran : embryo
rescue, Kultur embrio matang, utk merangsang perkecambahan : embryo culture.
Isolasi secara steril embrio matang ataupun belum matang, dengan tujuan
memperoleh tanaman yang viabel (Nickell, 1982).

Kondisi Lingkungan kultur embrio yaitu memerlukan Oksigen (perlu


oksigen tinggi), Cahaya : kadang embrio perlu ditumbuhkan dalam gelap selama
14 hari, kemudian ditransfer ke cahaya untuk merangsang sintesa klorofil, Suhu :
kadang perlu perlakuan dingin (vernalisasi, 4oC) untuk memecah dormansi
(Nickell, 1982).

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

III.1 Kesimpulan

Kesimpulan dari makalah ini antara lain :


1. Embryo Culture atau kultur embrio adalah

isolasi steril dari embrio

muda(immature embryo) atau embrio dewasa/tua ( mature embryo) secara invitro dengan tujuan untuk memperoleh tanaman yang lengkap atau viabel.
2. Macam-macam kultur embrio yaitu kultur embrio muda (immature embryo
Culture) dan kultur Embryo Dewasa (Mature Embryo Culture).
3. Faktor yang mempengaruhi kesuksesan kultur embrio adalah: Genotipe, Tahap
(stage) embrio diisolasi, Kondisi tumbuhan, Kondisi media, dan Lingkungan.
III.2 Saran
Sebaiknya sumber literatur ditambahkan dan juga sebaiknya ada format
penyusunan yang jelas dan baku sehingga dapat enjadi rujukan dalam pembuatan
makalah.

DAFTAR PUSTAKA

Hendaryono, D. P. S dan Wijayati, A., 2006. Teknik Kultur Jaringan. Kanisius.


Jakarta.
Nickell, L.G., 1982. Plant Growth Regulators. Berlin Heidelberg. New York.
Nigel, S.A and Fowler, M., 2007. Plant Biotechnology. Oxford. London.

Widarto, L., 1996. Perbanyakan Tanaman . Penerbit Kanisius. Jakarta.


Yusnita., 2004. Kultur Jaringan Tanaman. PT Agromedia Pustaka. Jakarta.
Zulkarnain., 2009. Kultur Jaringan Tanaman. Bumi Aksara. Jakarta.