Anda di halaman 1dari 28

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi Sistem Pencernaan
Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang
terletak di antara lambung dan usus besar. Usus halus terdiri dari tiga
bagian yaitu usus dua belas jari (duodenum), usus kosong (jejunum), dan
usus penyerapan (ileum). Pada usus dua belas jari terdapat dua muara
saluran yaitu dari pancreas dan kantung empedu (Wijaya, Andra dan
Yessie, 2013).
Usus halus merupakan saluran berkelok-kelok yang panjangnya
sekitar 6-8 meter, lebar 25mm dengan banyak lipatan yang disebut vili atau
jonjot-jonjot usus. Vili ini berfungsi memperluas permukaan usus halus
yang berpengaruh terhadap penyerapan makanan.
Kimus yang berasal dari lambung mengandung molekul-molekul pati
yang telah dicernakan di mulut dan lambung, molekul-molekul protein
yang telah dicernakan di lambung, molekul-molekul lemak yang belum
dicernakan serta zat-zat lain. Selama di usus halus, semua molekul pati
dicernakan lebih sempurna menjadi molekul-molekul glukosa.
Sementara itu, molekul-molekul protein dicerna menjadi molekulmolekul asam amino, dan semua molekul lemak dicerna menjadi molekul
gliserol dan asam lemak. Pencernaan makanan yang terjadi di usus halus
lebih banyak bersifat kimiawi. Berbagai macam enzim diperlukan untuk
membantu proses pencernaan kimiawi ini. Hati, pancreas, dan kelenjarkelenjar yang terdapat di dalam dinding usus halus mampu menghasilkan
getah pencernaan. Getah ini bercampur dengan kimus di dalam usus halus.
Getah pencernaan yang berperan di usus halus ini berupa cairan empedu,
getah pancreas, dan getah usus (Wijaya, Andra dan Yessie, 2013).
1. Cairan empedu
Cairan empedu berwarna kuning kehijauan, 86% berupa air, dan
tidak mengandung enzim. Akan tetapi, mengandung mucin dan garam
empedu yang berperan dalam pencernaan makanan.

Empedu mengalir dari hati melalui saluran empedu dan masuk ke


usus halus. Dalam proses pencernaan ini, empedu berperan dalam
proses pencernaan lemak, yaitu sebelum lemak dicernakan, lemak
harus bereaksi dengan empedu terlebih dahulu. Selain itu, cairan
empedu

berfungsi

menetralkan

asam

klorida

dalam

kimus,

menghentikan aktivitas pepsinpada protein, dan mernagsang gerak


peristaltic usus.
2. Getah pancreas
Getah pancreas dihasilkan di salam organ pancreas. Pancreas ini
berperan sebagai kelenjar eksokrin yang menghasilkan getah pancreas
ke dalam saluran pencernaan dan sebagai kelenjar endokrin yang
menghasilkan hormone insulin. Hormone ini dikeluarkan oleh sel-sel
berentuk pulau-pulau yang disebut [pulau-pulau Langerhans. Insulin
ini berfungsi menjaga gula darah agar tetap normal dan mencegah
diabetes militus. Getah pancreas ini dari pancreas mengalir melalui
saluran pancreas masuk ke usus halus. Dalam pancreas terdapat tiga
macam enzim, yaitu lipase yang membantu dalam pemecahan lemak,
tripsin membantu dalam pemecahan protein, dan amylase membantu
dalam pemecahan hati.
3. Getah usus
Pada dinding usus halus banyak terdapat kelenjar yang mampu
menghasilkan getah usus. Getah usus mengandung enzim-enzim
seperti berikut:
a. Sukrase, berfungsi membantu mempercepat proses pemecahan
b.

sukrosa menjadi galaktosa dan fruktosa


Maltase, berfungsi membantu mempercepat proses pemecahan

c.

maltosa menjadi dua molekul glukosa


Lactase, berfungsi membantu mempercepat proses pemecahan

d.

laktosa menjadi glukosa dan galaktosa


Enzim peptidase, berfungsi membantu mempercepat proses
pemecahan peptide menjadi asam amino
Monosakarida, asam amino, asam lemak, dan gliserol hasil

pencernaan terakhir di usus halus mulai diabsorpsi atau diserap


melalui dinding halus terutam di bagian jejunum dan ileum. Selain itu

vitamin dan mineral juga diserap. Vitamin-vitamin yang larut dalam


lemak, penyerapannya bersama dengan pelarutnya, sedangkan vitamin
yang larut dalam air penyerapannya dilakukan oleh jonjot usus.
Penyerapan mineral sangat beragam berkaitan dengan sifat kimia
tiap-tiap mineral dan perbedaan struktur bagian-bagian usus.
Sepanjang usus halus sangat efisisen dalam penyerapan Na+, tetapi
tidak untuk Cl-,HCO3-, dan ion-ion bivalen. Ion K+ penyerapannya
terbatas di jejunum. Penyerapan Fe++ terjadi di duodenum dan
jejenum. Proses penyerapan di usus halus ini dilakukan oleh villi
(jojot-jonjot usus). Di dalam villi ini terdapat pembuluh darah,
pembuluh kil (limfa), dan sel goblet, di sini asam amino dan glukosa
diserap dan diangkut oleh darah menuju hati melalui system vena
porta hepatikus, sedangkan asam lemak bereaksi terlebih dahulu
dengan garam empedu membentuk emulsi lemak. Emulsi lemak
bersama gliserol diserap ke dalam villi. Selanjutnya, di dalam villi,
asam lemak dilepaskan, kemudian asam lemak mengikat gliserin dan
membentuk lemak kembali. Lemak yang terbentuk masuk ke tengah
villi, yaitu ke dalam pembuluh kil (limfa). Melalui pembuluh kil,
emulsi lemak menuju vena sedsangkan garam empedu masuk ke
dalam darah menuju hati dan dibentuk lagi menjadi empedu. Bahanbahan yang tidak dapat diserap di usus halus akan didorong menuju
usus besar (kolon).
B. Demam Typhoid
1. Pengertian
Menurut Arif mansjoer (2003) sebagaimana dikutip oleh Wijaya,
Andra dan Yessie (2013), typus abdominalis adalah penyakit infeksi
akut usus halus yang disebabkan oleh kuman Salmonella Typhi, typus
abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai
saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan
kesadaran dan saluran pencernaan.

Demam tifoid merupakan penyakit infeksi akut pada usus halus


dengan demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran
pencernaan dengan atau tanpa gangguan kesadaran. Penyakit ini
disebabkan oleh Salmonella typhosa dan hanya didapatkan pada
manusia. Penularan penyakit ini hampir selalu terjadi melalui makanan
dan minuman yang terkontaminasi (Rampengan, 2007).
Demam tifoid atau sering disebut dengan tifus abdominalis adalah
penyakit infeksi akut pada saluran pencernaan yang berpotensi menjadi
penyakit multisistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhi
(Muttaqin dan Sari, 2011).
Demam typhoid adalah sebuah penyakit infeksi pada usus yang
menimbulkan

gejala-gejala

sistematik

yang

disebabkan

oleh

Salmonella Typhosa, Salmonella ParatyphiA, B, dan C. penularan


terjadi secara fekal oral, melalui makanan dan minuman yang
terkontaminasi. Sumber infeksi terutama carrier ini mungkin
penderita yang sedang sakit (carrier akut), carrier menahun yang
terus mengeluarkan kuman atau carrier pasif yaitu mereka yang
mengeluarkan kuman melalui eksketa tetapi tak pernah sakit, penyakit
ini endemic di Insonesia (Ngastiyah, 2005)
2. Etiologi
Etiologi typus abdominalis adalah salmonella typhi, salmonella
paratyphi A, salmonella paratyphi B, salmonella paratyphi C (Arif
Mansjoer, 2003), sedangkan menurut Rampengan (2007) menyatakan
bahwa penyakit ini disebabkan oleh infeksi kuman salmonella
typhosa/Eberthella typosa yang merupakan kuman gram negatif, tidak
berkapsul, mempunyai flagella, dan tidak membentuk spora. Kuman
ini dapat hidup baik sekali pada suhu tubuh manusia maupun suhu
yang sedikit lebih rendah, serta mati pada suhu 70 0C ataupun oleh
antiseptik. Sampai saat ini, diketahui bahwa kuman ini hanya
menyerang manusia.
Salmonella typhosa mempunyai tiga macam antigen, yaitu:
a. Antigen O= Ohne Hauch= antigen somatik (tidak menyebar)

b.

Antigen H= Hauch (menyebar), terdapat pada flagella dan bersifat

c.

termolabil
Antigen V1= Kapsul = merupakan kapsul yang meliputi tubuh
kuman dan melindungi antigen O terhadap fagositosis.
Ketiga jenis antigen tersebut di dalam tubuh manusia akan

menimbulkan pembentukan tiga macam antibody yang lazim disebut


aglutinin.
3. Epidemiologi
Demam tifoid dijumpai kosmopolitan, saat ini terutama
ditemukan di negara sedang berkembang dengan kepadatan penduduk
tinggi, serta kesehatan lingkungan yang tidak memenuhi syarat. Angka
kejadian penyakit ini tidak berbeda antara laki-laki dan perempuan.
Pengaruh cuaca terutama meningkat pada musim hujan, sedangkan
dari kepustakaan barat dilaporkan terutama pada musim panas
(Rampengan, 2007).
4. Patogenesis
Menurut Hornick (1978) sebagaimana dikutip oleh Muttaqin
(2011), transmisi Salmonella typhi ke dalam tubuh manusia dapat
melalui hal-hal berikut :
a. Transmisi oral, melalui makanan yang terkontaminasi kuman
Salmonella typhi.
b. Transmisi dari tangan ke mulut, dimana tangan yang tidak higienis
yang mempunyai Salmonella typhi langsung bersentuhan dengan
makanan yang dimakan.
c. Transmisi kotoran, dimana kotoran individu yang mempunyai basil
Salmonella typhi ke sungai atau dekat dengan sumber air yang
digunakan sebagai air minum yang kemudian langsung diminum
tanpa dimasak.
5. Patofisiologi
Kuman Salmonella thypi yang masuk ke saluran cerna akan di
telan oleh sel-sel fagosit ketika masuk melewati mukosa dan oleh
makrofag yang yang ada di dalam lamina propia. Sebagian dari
salmonella thypi ada yang masuk ke usus halus mengadakan
invaginasi ke jaringan limfoid usus halus (plak Peyer) dan jaringan

limfoid mesenterika. Kemudian Salmonella thypi masuk melalui


folikel limpa ke saluran limpatik dan sirkulasi darah sisitemik
sehingga terjadi bakterimia. Bakteremia pertama-tama menyerang
sistem retikulo endothelial (RES) yaitu : hati, limpa dan tulang
kemudian selanjutnya mengenai seluruh organ di dalam tubuh yaitu
sistem saraf pusat, ginjal, dan jaringan limpa.
Usus yang terserang umumnya ileum distal, tetapi kadang bagian
usus halus yang lain dan kolon proksimal juga terserang. Pada
mulanya, plakat Peyer penuh dengan fagosit, membesar, menonjol,
dan tampak seperti infiltrate atau hyperplasia di mukosa usus.
Pada akhir minggu pertama infeksi, terjadi nekrosis dan tukak.
Tukak ini lebih besar di ileum daripada di kolon sesuai dengan ukuran
plak Peyer yang ada di sana. Kebanyakan tukaknya dangkal, tetapi
kadang lebih dalam sampai menimbulkan perdarahan. Perforasi terjadi
pada tukak yang menembus serosa. Setelah penderita sembuh,
biasanya ulkus membaik tanpa meninggalkan jaringan parut dan
fibrosa. Masuknya kuman dalam intestinal terjadi pada minggu
pertama dengan tanda dan gejala suhu tubuh naik turun khususnya
suhu akan naik pada malam hari dan akan menurun menjelang pagi
hari. Demam yang terjadi pada masa ini deisebut demam intermitten.
Disamping penmingkatan suhu tubuh, juga akan terjadi obstipasi
sebagai akibat penurunan motilitas usus, namun hal ini tidak selalu
terjadi.

Setelah kuman melewatai fase awal intestinal, kemudian

masuk ke sirkulasi sistemik dengan tanda peningkatan suhu tubuh


yang sangat tinggi dan tanda-tanda infeksi pada RES seperti nyeri
perut kanan atas, splenomegali, dan hepatomegali.
Pada minggu selanjutnya dimana infeksi fokal intestinal terjadi
dengan tanda-tanda suhu tubuh masih tetap tinggi, tetapi nilainya
lebih rendah dari fase bakterimia dan berlangsung terus-menerus
(demam kontinu), lidah kotor, tepi lidah hiperemis, penurunan
peristaltic, gangguan digesti dan absorbsi sehingga akan terjadi

distensi, diare dan pasien merasa tidak nyaman. Pada masa ini dapat
terjadi perdaraha usus, perforasi dan peritonitis dengan tanda distensi
abdomen berat, peristaltic menurun bahkan hilang, melena, syok, dan
penurunan kesadaran. (Muttaqin, 2011)
6. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis demam tifoid pada anak tidak khas dan sangat
bervariasi. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi manifestasi
klinis dan beratnya penyakit adalah strain salmonella typhi, jumlah
mikro organisme yang tertelan, keadaan umum dan status nutrisi,
status imunologi faktor genetik. Pemberian antibiotika khususnyya
kloram fenikol dapat mengubah perjalan penyakit, mengurangi
komplikasi dan angka kematian. Dalam 48 jam setelah pemberian
antibiotika penderita akan merasa lebih baik dan dalam 4-5 hari suhu
badan kembali normal.
Masa inkubasi demam tifoid berlangsung selama 7-14 hari
(bervariasi antara 3-60 hari) bergantung jumlah strain kuman yang
tertelan. Selama masa inkubasi penderita tetap dalam keadaan
asimptomatis.
Setelah masa inkubasi penderita menujukkan gejala klinis. Onset
penyakit berjalan secara perlahan tetapi bisa juga timbul secara tibatiba. Demam makin lama makin tinggi tetapi dapat pula remiten atau
menetap. Pada awalnya suhu meningkat secara bertahap menyerupai
anak tangga selama 2-7 hari, lebih tinggi pada sore dan malam hari.
Akan tetapi demam bisa pula mendadak tinggi.
Setelah suhu mencapai sekitar 400C kemudian akan menetap
selama minggu kedua, mulai menurun secara tajam pada minggu
ketiga dan mencapai normal kembali pada minggu keempat.
Sedangkan bayi dan anak kecil mempunyai pola panas yang tidak
beraturan. Pada anak besar demam sering kali disertai menggigil.
Pada awal demam penderita biasanya mengalami gejala yang
mirip sindroma flu (flu like syndrome) yaitu sakit kepala, malaise,
nyeri menelan, anoreksia, nyeri perut, nyeri otot dan nyeri sendi.
Nyeri menelan disebabkan karena iritasi mukosa mulut yang

mengering. Selama hari pertama beberapa pasien mengalami batuk


dan keadaannya menyerupai bronkitis akut (15%). Penderita dapat
mengalami diare, tetapi lebih sering didapatkan konstipasi. Epistaksis
yang biasa ditemukan sebelum era antibiotika sekarang lebih jarang
ditemukan pada anak-anak dibandingkan orang dewasa. Dilaporkan
juga adanya kejang dan gejala meningeal, biasanya pada anak
berumur dibawah 5 tahun terutama dengan disertai riwayat kejang
berulang (Soegeng, 2002).
7. Komplikasi
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi, antara lain (Soewandojo,
2002):
a. Komplikasi Intestinal
1) Perdarahan usus
2) Perforasi Usus
3) Illeus paralitik
b. Komplikasi Ekstra Intestinal
1) Kardiovaskuler: syok septic, miokarditis, trombophlebitis
2) Darah:
anemia
hemolitik,
trombositopeni
dan/atau
disseminated intra vascular coagulation (DIC), sindroma
3)
4)
5)
6)
7)

uremia hemolitik
Paru: empyema, pleuritis
Hati dan kandung empedu: hepatitis dan kolesistisis
Ginjal: glomerulonefritis, pyelonefritis, perinefritis
Tulang: osteomielitis, periostitis, spondilitis, dan artritis
Neuropsikiatri:
delirium,
meningismus,
meningitis,
polineuritis, sindroma Guillain Barre, psikosis, sindroma

katatonic.
8. Pemeriksaan Diagnosa
Menegakkan diagnosis demam tifoid dibutuhkan pemeriksaan
bakteriologis dan serologis.
a. Pemeriksaan Bakteriologis
Diagnosis pasti ditemukan kuman Salmonella typhosa pada salah
satu biakan darah, feses, urine, sumsum tulang belakang ataupun
cairan duodenum. Waktu pengambilan sampel sangat menentukan
keberhasilan pemeriksaan bakteriologis tersebut. Misalnya biakan
darah biasanya positif pada minggu pertama perjalan penyakit,
biakan feses dan urine positif biasanya pada minggu kedua dan

ketiga, biakan sumsum tulang paling baik, tidak dipengaruhi waktu


pengamb

ilan

ataupun

pemberian

antibiotika

sebelumnya.

Kemungkinan ditemukannya biakan yang pofitif pada sumsum


tulang 84%, pada darah 44 %, pada feces 65%, cairan duodenum
42%.
1) Urine: Albuminuria (Soewandojo, 2002)
a) Tes Diazo positif
b) Urine + Reagens Diazo + beberapa tetes ammonia 30%
(dalam tabung reaksi) dikocokbuih berwarna merah
atau merah muda.
c) Biakan kuman.( paling tinggi pada minggu II/III diagnosis
pasti atau sakit carier).
3) Tinja (Soewandojo, 2002)
a) Ditemukan banyak eritrosit dalam tinja (Pra-Soup Stool),
kadang-kadang darah (bloody stool)
b) Biakan kuman (diagnosis pasti atau carrier post typhi)
pada minggu II/III sakit.
4) Darah
Untuk mengidentifikasi adanya

anemia

karena

asupan

makanan yang terbatas, malabsorpsi, hambatan pembentukan


darah dalam sumsum, dan penghancuran sel darah merah
dalam peredaran darah. Leukopenia dengan jumlah leukosit
antara 3000-4000/mm3 ditemukan pada fase demam. Hal ini
diakibatkan oleh penghancuran leukosit oleh endotoksin.
Aneosinofilia yaitu hilangnya eosinofil dari darah tepi.
Trombositopenia terjadi pada stadium panas yaitu pada minggu
pertama. Limfositosis, umumnya jumlah limfosit meningkat
akibat rangsangan endotoksin. Laju endap darah meningkat
(Muttaqin, 2011).
5) Sumsum Tulang
a) Biakan sumsum tulang
b) Sangat sensitif (95%)
c) Tidak dipengaruhi oleh pemberian antibiotika dan fase
penyakit
d) Invasif (perlu tenaga ahli) biopsi sumsum tulang)

Hasil pemeriksaan biakan positif dari sampel darah penderita


digunakan

untuk

menegakkan

diagnosis,

sedangkan

hasil

pemeriksaaan biakan negatif dua kali berturut-turut pemeriksaan


feses atau urine digunakan untuk menetukan bahwa penderita telah
sembuh atau belum atau karier.
b. Pemeriksaan Serologis
Sampai saat ini tes widal merupakan reaksi serologis yang
digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis demam tifoid.
Dasar tes Widal adalah reaksi aglutinasi antara antigen Salmonella
typhosa dan antibodi yang terdapat dalam serum penderita (Wijaya,
Andra dan Yessie, 2013).
Menurut Arif Mansjoer (2003) sebagaimana dikutip oleh Wijaya,
Andra dan Yessie (2013), biakan darah positif memastikan demam
typoid, tetapi biakan darah negative tidak menyingkirkan demam
typhoid. Biakan tinja positif menyokong diagnosis klinis typhoid.
Peningkatan titer uji widal tes 4 kali lipat selama 2-3 minggu
memastikan diagnose demam typhoid. Reaksi widal tes tunggal
dengan titer antibody O 1/320 atau titer antibody H 1/640
menyokong diagnois demam typhoid pada pasien dengan gambaran
klinis yang khas. Pada beberapa pasien, uji widal tes tetap nefatif
pada pemeriksaan ulang walaupun biakan darah positif
Menurut rampengan (1999) sebagaimana dikutip oleh Wijaya,
Andra dan Yessie (2013), ada 2 macam metode yang decanal yaitu:
1) Widal cara tabung (konvensional)
2) Salmonella slide test (cara slide)
Nilai sensitifitas, spesifisitas serta ramal reaksi widal tes sangat
bervariasi dari satu laboratorium dengan laboratorium lainnya.
Disebut tidak sensitive karena adanya sejunlah penderita dengan
hasil biakan positif tetapi tidak pernah dideteksi adanya antibody
dengan tes ini, bila dapat dideteksi adanya titer antibody sering titer
naik

sebelum

timbul

gejala

klinis,

sehingga

sulit

untuk

memperhatikan terjadinya kenaikan titer yang berarti. Disebut tidak


spesifikasi oleh karena semua grup D salmonella mempunyai

antigen O, demikian juga grup A dan B salmonella. Semua grup D


salmonella mempunyai fase H antigen yang sama dengan
salmonella tyfosa, titer H tetap meningkat dalam waktu sesudah
infeksi. Untuk dapat memberikan hasil yang akurat, widal tes
sebaiknya tidak hanya dilakukan satu kali saja melainkan perlu satu
sari pemeriksaan, kecuai bila hasil tersebut sesuai atau melewati
nilai standar setempat. Nilai titer pada penderita typhoid adalah :
a) Jika hasil titer widal tes terjadi pada antigen O (+) positif >1/200
maka sedang aktif
b) Jika hasil titer widal tes terjadi pada antigen H dan V1 (+) positif
>1/200 maka dikatakan infeksi lama
9. Penatalaksanaan
Rampengan (2007) menyatakan bahwa penderita yang dirawat
dengan diagnosis praduga demam tifoid harus dianggap dan dirawat
sebagai penderita demam tifoid yang secara garis besar ada 3 bagian,
yaitu:
a.
Perawatan
Penderita demam tifoid dirawat di rumah sakit untuk isolasi,
observasi serta pengobatan. Penderita harus istirahat 5-7 hari bebas
panas, tetapi tidak harus tirah baring sempurna seperti pada
perawatan demam tifoid di masa lalu. Mobilisasi dilakukan
sewajarnya, sesuai dengan situasi dan kondisi penderita. Pada
penderita dengan kesaadaran yang menurun harus diobservasi agar
tidak terjadi aspirasi. Tanda komplikasi demam tifoid yang lain
termasuk buang air kecil dan buang air besar juga perlu mendapat
perhatian.
Mengenai lamanya perawatan di rumah sakit, sampai saat ini
sangat bervariasi dan tidak ada keseragaman. Hal ini sangat
bergantung pada kondisi penderita serta adanya komplikasi selama
penyakitnya berjalan.
b. Diet
Di masa lalu, penderita diberi diet yang terdiri dari bubur saring,
kemudian bubur kasar dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkat
kesembuhan penderita. Banyak pendderita tidak senang diet

demikian karena tidak sesuai dengan selera dan ini mengakibatkan


keadaan umum dan gizi penderita semakin mundur dan masa
penyembuhan menjadi semakin lama.
Beberapa peneliti menganjurkan makanan padat dini yang wajar
sesuai dengan keadaan penderita dengan memperhatikan segi
kualitas ataupun kuantitas dapat diberikan dengan aman. Kualitas
makanan disesuaikan kebutuhan baik kalori, protein, elektrolit,
vitamin, maupun mineral, serta diusahakan makanan yang
rendah/bebas selulosa dan menghindari makanan yang sifatnya
iritatif. Pada penderita dengan gangguan kesadaran pemasukan
makanan harus lebih diperhatikan.
Pemberian makanan padat dini banyak memberikan keuntungan,
seperti dapat menekan turunnya berat badan selama perawatan,
masa di rumah sakit lebih diperpendek, dapat menekan penurunan
kadar albumin dalam serum dan dapat mengurangi kemungkinan
c.

kejadian infeksi lain selama perawatan.


Obat-obatan
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi dengan angka kematian
yang tinggi sebelum adanya obat-obatan antimikroba (10-15%).
Sejak adanya obat antimkroba terutama kloramfenikol angka
kematian menurun secara drastis (1-4%).
Obat-obatan yang sering digunakan yaitu Wijaya, Andra dan Yessie
(2013):
1) Klorampenikol
Di Indonesia klorampenikol masih merupakan obat pilihan
utama untuk pengobatan demam typhoid. Dosis yang diberikan
4 x 500mg perhari dapat diberikan oeroral atau intravena,
diberikan samapi dengan 7 hari bebas demam.
2) Tiampenikol
Dosis dan efektivitas tiampenikol pada demam typhoid hanpir
sama dengan klorampenikol. Akan tetapi kemungkinan terjadi
anemia aplastic lebih rendah dari klorampenikol. Dosis 4 x
500mg diberikan sampai hari ke 5 dan ke 6 bebas demam.
3) Kotrimoksazol

Dosis untuk orang dewasa 2 x 2 tablet dan diberikan selama 2


mingggu.
4) Ampicillin dan amoksisislin
Kemampuan obat ini untuk menurunkan demam lebih rendah
dibandingkan dengan klorampenkol, dosis diberikan 50150mg/kgBB dan digunakan selama 2 minggu.
5) Seflosporin generasi ke tiga
Hingga saat ini golongan sefalosprin generasi ketiga yang
terbukti efektif untuk demam typhoid adalah safelosforin, dosis
yang dianjurkan adalah 3-4 gram dalam dektrose 100cc
diberikan selama jam perinfus sekali sehari selama 3 sampai
5 hari.
10. Pencegahan
Menurut Rampengan (2007) usaha pencegahan dapat dibagi atas:
a. Usaha terhadap lingkungan hidup
1) Penyediaan air minum yang memenuhi syarat
Kuman Salmonella typhi yang
2) Pembuangan kotoran manusia yang higienis
masuk ke saluran gastrointestinal
3) Pemberantasan lalat
4) Pengawasan terhadap penjual makanan
Invaginasi ke jaringanb.
limfoid
usus haus
Invaginasi retikulo endoteleal
Usaha
terhadap manusia
(Plak Peyer) dan jaringan limfoid
(RES)
1) Imunisasi
2) Menemukan dan mengobati karier
Tifoid
3) Pendidikan kesahatan Demam
masyarakat
11. Prognosis
Prognosis tergantung pada umur, keadaan umum, gizi, derajad
Penyebaran
kuman ke
saluran lympatik
dan sirkulasi

kekebalan penderita, cepat dan tepat dalam pengobatan serta

Respon
Inflamasi
RES
komplikasi

Sensitifitas
serabut
saraf
ada. (Rampengan,
lokal

Respon inflamasi
2007). local intestinal

Respon
inflamasi
sistemik

Respon
Psikososial

yang
Umumnya prognosis tifus abdomilais pada anak baik, asal pasien

cepat
berobat. Mortalitas
yang
dirawat ialah
6%.
Distensi, pada pasienMual,
Hipertermi
Splenomegali
muntah,
Ke system saraf
pusat

Meningitis
ensefalopati

ketidaknyamanan

anoreksia,
dan
Prognosis
menjadi tidakabdomen
baik bila terdapat gambaran
klinik yang berat
penurunan
hepatomegali

motilitas
Terbentuknya
seperti:
nekrosis dan
a. Demam tinggi (hiperpireksia)
tukak di ileum
Nyeri Akutatau febris kontinua.
system
Tidak
adekuat
b. Ke
Kesadaran
sangat menurun (sopor, koma atau
delirium).
nutrisidan asidosis,
c.musculoskeletal
Terdapat komplikasi yang berat misalnya asupan
dehidrasi
dan integumen

Nyeri Akut

perforasi. (Ngastiyah,
2005)
Mendesak

Malaise,
kram
Web Of Caution
(WOC)
otot, penurunan
turgor,
kelemahan fisik
umum

Risiko
Kerusakan
Integritas
Jaringan

Gangguan
Aktivitas Seharihari

diafragma

Perforasi terjadi
pada tukak yang
menembus serosa

Ketidak
seimbangan
nutrisi

Risiko terjadi
infeksi

Ketidak seimbangan
cairan dan elektrolit

Cemas

Kurang
pemenuhan
informasi

Sesak napas

C. Asuhan Keperawatan
Pengkajian Keperawatan (Sodikin, 2011):
Gangguan pola
1. Identifikasi. Penyakit ini sering ditemukan pada anak berumur di atas
napas

satu tahun.
2. Keluhan utama berupa demam dengan atau tidak disertai menggigil,
perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan kurang
bersemangat, serta nafsu makan berkurang (terutama selama masa
inkubasi).
3. Riwayat penyakit sekarang
Adanya keluhan yaitu demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot,
anoreksia, mual, muntah, lidah yang berselaput (kotor di tengah, tepi
dan ujung merah serta tremor), obstipasi atau diare, perasaan tidak
enak di perut, batuk dan epitaksis, serta suhu badan meningkat. Sifat
demam adalah meningkat perlahan lahan dan terutama pada sore
hingga malam hari. (Widodo, 2010)
4. Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat penyakit tifus sebelumnya. (Muttaqin, 2011)
5. Riwayat kesehatan lingkungan
Kebiasaan mengkonsumsi makanan yang tidak diolah dengan baik,
sumber air minum yang tidak sehat dan kondisi lingkungan rumah

tempat tinggal yang tidak sehat, serta kebersihan perorangan yang


kurang baik. (Muttaqin, 2011)
6. Pengkajian psikososial
Adanya kecemasan dengan kondisi sakit dan keperluan pemenuhan
informasi tentang pola hidup bersih.
7. Pengkajian Pola fungsi kesehatan
a. Pola nutrisi dan metabolism
Biasanya nafsu makan klien berkurang jarena terjadi gangguan
pada usus halus
b. Pola istirahat dan tidur
Selama sakit pasien merasa tidak dapat istirahat karena pasien
merasakan sakit

pada perutnya, mual, muntah kadang diare

(Wijaya, Andra dan Yessie, 2013).


8. Pemeriksaan fisik
a. Tingkat kesadaran

Umumnya kesadaran pasien menurun walaupun tidak seberapa


dalam, yaitu apatis sampai somnolen; jarang terjadi stupor, koma
atau gelisah (kecuali bila penyakit berat dan terlambat mendapat
pengobatan). Selain gejala tersebut, mungkin dapat ditumukan
gejala lainnya seperti pada punggung dan anggota gerak dapat
ditemukan reseola (bintik-bintik kemerahan karena emboli basil
dalam kapiler kulit yang dapat ditemukan pada minggu pertama
demam), kadang ditemukan juga bradikardi dan epistaksis pada
anak yang lebih besar.
b. TTV
Suhu

: Pada kasus yang khas, demam berlangsung selama


tiga minggu, bersifat febris remiten dan suhunya tidak
tinggi sekali. Selama minggu pertama, suhu tubuh
berangsur-angsur

baik

setiap

harinya,

biasanya

menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore


dan malam hari. Pada minggu kedua, pasien terus
berada dalam keadaan demam. Saat minggu ketiga,

suhu berangsur-angsur turun dan normal kembali pada


akhir minggu ketiga.
Nadi

: Pada pemeriksaan nadi ditemukan penurunan


frekuensi nadi (bradikardi relatif)

c.

RR

: Meningkat

TD

: Cenderung menurun

Pengkajian
1) B1 : Sistem Pernapasan (Breathing)
Sistem pernapasan biasanya tidak ditemukan adanya
kelainan, tetapi akan mengalami perubahan jika terjadi
respon akut dengan gejala batuk kering. Pada beberapa
kasus berat bisa didapat adanya komplikasi tanda dan gejala
pneumonia.
2) B2 : Sistem Kardiovaskuler dan hematologi (Blood)
Penurunan tekanan darah, keringat dingin, dan diaphoresis
sering didapatkan pada minggu pertama. Kulit pucat dan
akral

dingin

berhubungan

dengan

penurunan

kadar

hemoglobin.
Pada minggu ketiga, respon toksin sistemik dapat mencapai
otot jantung dan terjadi miokarditis dengan manifestasi
penurunan curah jantung dengan tanda denyut nadi lemah,
nyeri dada, dan kelemahan fisik
3) B3 : Neurosensori dan Fungsi Sistem Saraf Pusat (Brain)
Pada pasien dengan dehidrasi berat akan terjadi penurunan
perfusi serebral dengan manifestasi sakit kepala, perasaan
lesu, gangguan mental seperti halusinasi dan delirium.
Pada beberapa pasien bisa didapatkan kejang umum yang
merupakan respon terlibatnya sistem saraf pusat oleh infeksi
S. typhi. Didapatkan ikterus pada sklera terjadi pada kondisi
berat.
4) B4 : Sistem Genitourinarius (Bladder)

Pada kondisi berat akan didapatkan penurunan urin output


respon dari penurunan curah jantung
5) B5 : Sistem Gastrointestinal (Bowel)
Inspeksi :
a) Lidah kotor berselaput putih dan tepi hiperemis disertai
stomatitis. Tanda ini jelas mulian nampak pada minggu
kedua berhubungan dengan infeksi sistemik dan
endotoksin kuman.
b) Sering muntah
c) Perut kembung
d) Distensi abdomen
Auskultasi : Didapat penurunan bising usus kurang dai 5
kali per menit pada minggu pertama dan terjadi konstipasi,
serta selajutnya meningkat akibat diare.
Perkusi : Didapatkan suara timpani abdomen akibat
kembung
Palpasi :
a)

Hepatomegali dan splenomegali. Pembesaran hati dan


limpa mengindikasikan infeksi RES yang mulai terjadi
pada minggu kedua.

b) Nyeri tekan abdomen, merupakan tanda terjadinya


perforasi dan peritonitis.
6) B6 : Sistem Muskuluskeletal dan Integumen (Bone)
Respon sistemik akan menyebabkan malaise, kelemahan
fisik umum, dan didapatkan kram otot ekstremitas.
Pemeriksaan integument sering didapatkan kulit kering,
turgor kulit menurun, muka tampak pucat, rambut agak kusam,
dan yang terpenting sering didaptakan tanda roseola (bintik
merah pada leher, punggung dan paha). Roseola merupakan
suatu nodul kecil sedikit meninjil dengan diameter 2-4mm,
berwarna merah, pucat, serta hilang pada penekanan, lebih

sering terjadi pada akhir minggu pertama dan awal minggu


kedua. Roseola ini merupakan emboli kuman diamana
didalamnya mengandung kuman salmonella dan terutama
didapatkan didaerah perut, dada, dan terkadang bokong
maupun bagian fleksor dari lengan atas.
Diagnosis Keperawatan
1. Hipertermi berhubungan dengan respon sistemik dari inflamasi
gastrointestinal
2. Ketidakseimbangan

nutrisi

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

berhubungan dengan kurangnya asupan makanan yang adekuat.


3. Nyeri berhubungan dengan iritasi saluran gastrointestinal
4. Resiko kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan
penekanan setempat, tirah baring lama, kelemahan fisik umum.
5. Risiko terjadinya infeksi berhubungan dengan tukak pada mukosa
intestinal.
6. Kecemasan

berhubungan

dengan

prognosis

penyakit,

misinterpretasi informasi.
7. Kurang

pemenuhan

informasi

berhubungan

dengan

ketidakadekuatan informasi penatalaksanaan perawatan dan


pengobatan, rencana perawatan rumah.
8. Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kelemahan
fisik umum.
9. Risiko kekurangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan mual
muntah
Intervensi Keperawatan
1.

Hipertermi berhubungan dengan respons inflamasi sistemik


a. Tujuan: Dalam 1x24 jam terjadi penurunan suhu rubuh.
b. Kriteria hasil:
1) Pasien

mampu

menjelaskan

kesehatan yang diberikan

kembali

pendidikan

2) Pasien

mampu

termotivasi

untuk

melasksanakan

penjelasan yang telah diberikan


c. Intervensi:
1) Observai TTV setiap 4 jam
Rasional:

Sebagai

pengawasan

terhadap

adanya

perubahan keadaan umum pasien sehingga dapat


dilakukan penanganan dan perawatan secara cepat dan
tepat.
2) Kaji pengetahuan pasien dan keluarga tentang cara
menurunkan suhu tubuh.
Rasional:

Sebagai

data

dasar

untuk

memberiakn

intervensi selanjutnya.
3) Lakukan tirah baring total
Rasional: Penurunan aktivitas akan menurunkan laju
metabolism yang tinggi pada fase akut, dengan demikian
membantu menurunkan suhu tubuh.
4) Atur lingkungan yang kondusif
Rasional: kondisi ruangan yang tidak panas, tidak bising,
dan sedikit pengunjung memberikan efektivitas terhadap
proses penyembuhan. Pada suhu ruangan kamar yang
tidak panas, akan terjadi perpindahan sudu tubuh dari
tubuh pasien ke ruangan. Proses pengeluaran ini disebut
radiasi dan konveksi. Proses radiasio merupakan
pengeluaran suhu tubuh yang efektif, dimana sekitar
60% suhu tubuh dapat berpindah melalui proses radiasi,
sedangkan konveksi sekitar 15%.
5) Beri kompres denagn air dingin (air biasa) pada daerah
aksila, lipat paha, dan temporal.
Rasional: secara konduksi panas tubuh alan berpindah ke
material yang dingin. Pengeluaran suhu tubuh dengan
cara konduksi berkisar antara 3%. Area yang digunakan

merupakan tempat diamana pembuluh arteri besar berada


sehingga meningkatkan efektivitas proses konduksi.
6) Ajurkan keluarga untuk memakaikan pakaian yang tipis
dan menyerap keringat.
Rasional: pengeluaran suhu tubuh denga cara evaporasi
berkisar 22% dari pengeluaran suhu tubuh. Pakaian yang
mudah menyerap keringat sangat efektif meningkatkan
efek dari evaporasi.
7) Anjurkan keluarga untuk memberikan masase pada
ekstremitas.
Rasional: masase digunakan untuk melancarkan aliran
darah ke perifer dan terjadi vasodilatasi perifer yang
akan meningkatkan efek evaporasi.
8) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antipiretik.
Rasional: antipiretik bertujuan untuk memblok respon
panas sehingga suhu tubuh pasien dapat lebih cepat
turun.
2.

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


berhubungan dengan kurangnya asupan makanan yang adekuat.
a. Tujuan:

Dalam

waktu

3x24

jam

pasien

mampu

mempertahankan kebutuhan nutrisi yang adekuat.


b. Kriteria hasil:
1) Membuat pilihan diet untuk memenuhi kebutuhan nutisi
dalam situasi individu.
2) Menunjukkan peningkatan BB
c. Intervensi:
1) Kaji pengetahuan pasien mengenai asupan nutisi
Rasional: dengan mengetahui tingkat pengetahuan pasien
dan keluarga, perawat dapat lebih terarah dalam
memberiakn pendidikan kesehatan yang sesuai denan
pengetahuan pasien secara efektif dan efisien.

2) Berikan

nutrisi

oral

secepatnya

setelah

rehidrasi

dilakuakan.
Rasional: pemberian sejak awal setelah rehidrasi
dilakukan dengan memberikan makanan lunak yang
mengandung kompleks karbohidrat seperti nasi lembek,
roti, kentang, dan sedikit daging. Studi menunjukkan
bahwa pemberian makanan padat dini, yaitu nasi dengan
lauk pauk rendah selulosa dapat diberikan dengan amam
pada pasien demam typhoid.
3) Monitor perkembangan berat badan
Rasional: penimbangan berat badan dilakuakn sebagai
evaluasi atas intervensi yang diberikan.
3.

Nyeri berhubungan dengan iritasi saluran gastrointestinal


a. Tujuan: Dalam waktu 1x24 jam nyeri berkurang/hilang atau
teradaptasi
b. Kriteria Hasil:
1) Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat
diadaptasi.
2) Skala nyeri 0-4. Dapat mengidentifikasi aktivitas yang
meningkatkan atau menurunkan nyeri.
3) Pasien tidak gelisah.
c. Intervensi:
1) Jelaskan dan bantu pasien dengan tidakan nyeri
nonfarmakologis dan noninvasi.
Rasional: pendekatan dengan menggunakan relaksasi
telah menunjukka keefektifan dalam mengurangu nyeri.
2) Lakukan menejemen nyeri keperawatan :
(a) Istirahatkan pasien saat nyeri muncul.
Rasional: istirahat secara fisiologis akan menurunkan
kebutuhan oksigen yang dibutuhkan untuk memenuhi
kebutuhan metabolisme basal.

(b) Ajarkan relaksasi pernapasan dalam pada saat nyeri


muncul
Rasional: meningkatkan asupan oksigen sehingga akan
menurunkan nyeri sekunder dari iskemia spina.
(c) Ajarkan teknik distraksi saat nyeri.
Rasional: distraksi dapat emngurangi stimulus internal.
(d) Manajemen lingkungan : liignkungan yang tenang, batasi
pengunjung dan istirahatkan pasien.
Rasional: lingkungan tenang akan menurunkan stimulus
nyeri eksternal dan pembatasan pengunjung akan
membantu meningkatkan kondisi oksigen ruangan yang
akan berkurang apabila banyak pengunjung yang ada di
ruangan. Istirahat akan mnurunkan kebutuhan oksigen
jaringan perifer.
3) Tingkatkan pengetahuan tentang sebab-sebab nyeri.
Rasional: pengetahuan akan membantu mengembangkan
kepatuhan pasien terhadap rencana terpeutik.
4.

Resiko kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan


penekanan setempat, tirah baring lama, kelemahan fisik umum.
a. Tujuan : dalam waktu 5x24 jam resiko dekubitus tidak terjadi
b. Kriteria evaluasi :
1) pasien terlihat mampu melakukan pencegahan dekubitus.
2) area yang beresiko tinggi penekanan setempat tidak
hiperemi atau tidak ada gejala dekubitus.
c. Intervensi :
1) Kaji tinkat pengetahuan pasien tentang cara dan teknik
peningkatan kondisi mobilisasi.
Rasional: perawat dapat lebih terarah dalam memberikan
pendidikan yang sesuai dengan pengetahuan pasien secara
efektif dan efisien.

2) Lakukan mobilisasi miring kiri dan miring kanan setiap 2


jam.
Rasional: mencegah penekanan setempat yang berlanjut
dengan nekrosis jaringan lunak.
3) Jaga kebersihan dang anti sprei bila kotor atau basah.
Rasional: mencegah stimulus kerusakan pada area bokong
yang beresiko terjadi dekubitus.
4) Bantu pasien melakukan latihan rom dan perawatb diri
sesuai toleransi.
Rasional: untuk memelihara fleksibilitas sendi sesuai
kemampuan dan meningkatkan aliran darah ke ekstremitas.
5) Lakukan masase pada daerah yang menonjol yang baru
mengalami tekanan pada waktu berubah posisi.
Rasional: menghindari kerusakan kapiler-kapiler.
6) Observasi terhadap eritema dan kepucatan, serta palpasi
area sekitar terhadap kehangatan dan pelunakan jaringan
tiap mengubah posisi.
Rasional: deteksi dini adanya gangguan sirkulasi dan
hilangnya sensasi resiko tinggi kerusakan integritas kulit
memungkinkan komplikasi bedrest total dan imobilisasi.
Hangat dan pelunakan merupakan tanda kerusakan jaringan.
5. Risiko terjadinya infeksi berhubungan dengan tukak pada mukosa
intestinal.
a. Tujuan

: Dalam waktu 3x24 jam tidak terjadi infeksi pada

mukosa intestinal.
b. Kriteria evaluasi:
1) Tidak ada tanda-tanda infeksi
2) Tidak terjadi perforasi maupun peritonitis
c. Intervensi :
1) Tingkatkan prosedur mencuci tangan yang baik dengan staf
dan pengunjung yang mengalami infeksi.

Rasional: melindungi pasien dari sumber-sumber infeksi,


seperti pengunjug dan staf.
2) Tekankan higiene personal.
Rasional: membantu potensial sumber infeksi dan/atau
pertumbuhan sekunder.
3) Pantau suhu.
Rasional: peningkata suhu terjadi karena beberapa faktor
misalnya, efek samping kemoterapi, proses penyakit, atau
infeksi. Identifikasi dini proses infeksi memungkinkan
terapi yang tepat untuk dimulai dengan segera.
4) Kaji semua system, misalnya, kulit, dan pernapasan
terhadap tanda atau gejala infeksi secara kontinu.
Rasional: pengenalan dini dan intervensi segera dapat
mencegah progresi pada situasi atau sepsis yang lebih
serius.
5) Tekankan pentingnya hiegine oral yang baik.
Rasional: terjadinya stomatitis meningkatkan

risiko

terhadap infeksi atau pertumbuhan sekunder.


6) Hindari atau batasi prosedur invasif. Taati teknik aseptik.
Rasional: menurunkan risiko kontaminasi, membatasi entri
portal terhadap agen infeksius.
7) Berikan antibiotik sesuai indikasi.
Rasional: mungkin digunakan untuk mengidentifikasi
infeksi atau diberikan secara profilaktik pada pasien
imunosupresi.
6. Kecemasan

berhubungan

dengan

prognosis

penyakit,

misinterpretasi informasi
a. Tujuan : secara subjektif melaporkan rasa cemas berkurang.
b. Kriteria evaluasi :
1) Pasien

mampu

mengungkapkan

perasaannya

kepada

perawat.
2) Pasien dapat mendemontrasikan ketrampilan pemecahan
masalahnya dan perubahan koping yang digunakan sesuai
situasi yang dihadapi.

3) Pasien dapat mencatat penurunan kecemasan/ketakutan di


bawah standart.
4) Pasien dapat rileks dan tidur/istirahat dengan baik.
c. Intervensi :
1) Monitor respon fisik seperti kelemahan, perubahan tanda
vital, gerakan yang berulang-ulang, catat kesesuaian respon
verbal dan non verbal selama komunikasi.
Rasional: digunakan untuk mengevaluasi derajat/tingkat
konsentrasi, khusunya ketika melakukan komunikasi verbal.
2) Anjurkan pasien dan keluarga untuk mengungkapkan dan
mengekspresikan rasa takutnya.
Rasional: kesempatan diberikan kepada pasien untuk
mengungkapkan rasa takut dan kekhawatiran tentang akan
adanya perasaan malu akibat kurang control terhadap
eliminasi usus. Ketakutan akan rasa malu ini sering menjadi
masalah utama.
3) Berikan kesempatan untuk mendiskusikan perasaannya dan
harapan masa depan.
Rasional: anggota keluarga dengan responnya pada apa
yang terjadi dan kecemasannya dapat disampaikan.
4) Anjurkan aktivitas pengalihan perhatian sesuai kemampuan
individu.
Rasional: meningkatkan distraksi pasien dari kondisi sakit.
7. Kurang

pemenuhan

informasi

berhubungan

dengan

ketidakadekuatan informasi penatalaksanaan perawatan dan


pengobatan, rencana perawatan rumah.
a. Tujuan : dalam waktu 1x24 jam pasien mampu melaksanakan
apa yang telah diinformasikan.
b. Kriteria evaluasi :
1) Pasien mampu mengulangi kembali informasi penting yang
diberikan.

2) Pasien

terlihat

termotivasi

terhadap

informasi

yang

dijelaskan.
c. Intervensi :
1) Kaji kemampuan pasien untuk mengikuti pembelajaran
(tingkat kecemasan, kelelahan umum, pengetahuan pasien
sebelumnya, suasana yang tepat)
Rasional: keberhasilan proses pembelajaran dipengaruhi
oleh kesiapan fisik, emosional, dan lingkungan yang
kondusif.
2) Jelaskan pola hidup sehat.
Rasional: pasien diberi informasi tentang penyediaan
makanan sehat, pengolahan makanan sesuai cara sehat,
menggunakan air bersih yang sehat, dan menghindari
mengkonsumsi

makanan

yang

tidak

terjamin

kebersihannya. Cara higienis meliputi mencuci tangan


sebelum makan, kuku selalu pendek dan bersih, mecuci
tangan setelah BAB.
8. Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kelemahan
fisik umum.
a. Tujuan

: dalam waktu 3x24 jam setelah dilakukan tindakan

keperawatan tidak terjadi gangguan aktivitas.


b. Kriteria Evaluasi :
1) Klien

dapat

melakukan

kegiatan

mandiri

sesuai

kemampuan.
2) Klien mampu mengidentivikasi beberapa alternative untuk
membantu mempertahankan aktivitas saat sekarang.
3) Mampu melakukan kegiatan perawatan diri sendiri dalam
tingkat kemampuan yang dimiliki secara optimal.
c. Intervensi :
1) Kaji kemampuan klian dalam melakukan aktivitas.

Rasional : menjadi data dasar untuk menentukan intervensi


selanjutnya.
2) Atur cara beraktivitas klien sesuai kemampuan.
Rasional : sasaran klien adalah memperbaiki kekuatan dan
daya tahan. Menjadi partisipan dalam pengobatan.
3) Lakukan perubahan posisi secara teratur ketika pasien tirah
baring di tempat tidur.
Rasional : menurunkan tekanan terus menerus pada daerah
yang sama.
4) Buat rencana perawatan dengan periode istirahat konsisten
diantara aktivitas.
Rasional : menurunkan kelelahan yang berlebihan.
9. Risiko kekurangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan
mual muntah.
a. Tujuan : dalam waktu 2x24 jam setelah dilakukan tindakan
keperawatan tidak terjadi kekurangan cairan dan elektrolit.
b. Kriteria evaluasi :
1) Haluaran urine adekuat, tanda vital stabil, membrane
mukosa lembab, turgor kulit baik.
2) Keluarga dan pasien paham dengan hal yang dilakukan
untuk memperbaiki devisit cairan.
c. Intervensi :
1) Awasi tanda vital, status membrane mukosa dan turgor
kulit.
Rasional : mengetahui tanda dehidrasi secara dini.
2) Awasi jumlah dan tipe masukan cairan. Ukur haluaran urine
dengan adekuat.
Rasional : pasien tidak mengonsumsi cairan sama sekali
mengakibatkan dehidrasi atau mengganti cairan untuk
masukan kalori yang berdampak pada keseimbangan
elektrolit.

3) Diskusikan strategi untuk menghentikan muntah dan


penggunaan laksatif atau diuretic.
Rasional : membantu pasien mengerti bahwa muntah dapat
mengakibatkan kehilangan cairan.
4) Kaji hasil tes fungsi elektrolit/ginjal.
Rasional : untuk mengetahui status cairan dan elektrolit
sehingga dapat digunakan untuk menentukan intervensi
selanjutnya.