Anda di halaman 1dari 19

KELELAHAN OTOT

KELELAHAN OTOT Disusun Oleh Nur Azizah Hadi 021511133047 Adriani Sari Fadillah 021511133048 Aisyah Rachmadni

Disusun Oleh

Nur Azizah Hadi

021511133047

Adriani Sari Fadillah

021511133048

Aisyah Rachmadni Putri G

021511133049

Nancy Cynthia Sudiartha

021511133053

Widya Rizky Romadhona

021511133055

Ahmad Fauzi

021511133070

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga

2016

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Otot rangka atau otot skelet, juga di biasanya disebut otot bergaris adalah organ somatik, yang fungsinya dipengaruhi oleh kemauan. Fungsi utama otot rangka adalah berkontraksi dalam rangka menggerakkan anggota tubuh dan fungsi yang lain adalah menghasilkan panas tubuh, memberi bentuk tubuh serta melindungi organ yang lebih dalam. Otot dapat berkontraksi dan berelaksasi karena tersedianya energi. Energi yang digunakan oleh otot untuk melakukan kerja otot diperoleh dari metabolisme otot. Kerja otot yang berlebihan dan melebihi kerja otot steady state dapat menyebabkan kelelahan otot.

Kelelahan otot adalah ketidakmampuan otot untuk meneruskan kontraksi. Seseorang dapat merasakan kelelahan otot secara mental. Saat seseorang masih mampu melakukan kontraksi namun orang tersebut merasa tidak mampu. Kelelahan tersebut disebut kelelahan sentral atau kelelahan psikologis. Kelelahan sentral disebabkan oleh perubahan di sistem saraf pusat. Namun penjelasan mendetail tentang mekanisme kelelahan otot sentral belum diketahui sampai saat ini.

Selain kelelahan sentral terdapat pula kelelahan otot dan kelelahan neuromuskular. Salah satu kelelahan otot disebabkan oleh penimbunan asam laktat. Penimbunan asam laktat menyebabkan otot menjadi kurang responsif terhadap rangsangan. Penyebab lainnya adalah kehabisan cadangan energi. Kelelahan neuromuskular sesuai namanya terjadi di percabangan saraf dengan otot. Kelelahan neuromuskular disebabkan oleh ketidakmampuan neuron motorik aktif untuk mensintesis asetilkolin (AcH) secara cepat, sehingga kebutuhan AcH tidak terpenuhi untuk meneruskan potensial aksi dari saraf ke otot. Melihat betapa pentingnya peranan otot tersebut, kita perlu mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi kontraksi otot dan yang menyebabkan kelelahan otot. Dalam percobaan ini akan dilakukan pemeriksaan terhadap kerja otot dengan beberapa perlakuan seperti: kerja dengan frekuensi rendah dan tinggi, pengaruh hambatan aliran darah (ischaemia), pengaruh istirahat dan pemijatan, nyeri akibat iskemia.

1.2

Rumusan Masalah

1. Bagaimana proses pemulihan sempurna dari kelelahan otot akibat melakukan kerja dengan frekuensi rendah?

2. Bagaimana pengaruh perubahan peredaran darah pada tubuh terhadap kelelahan?

3. Bagaimana pengaruh istirahat dan pemijatan (massage) terhadap kelelahan?

4. Apa pengaruh timbulnya rasa sakit karena kekurangan darah (ischaemia) dengan kelelahan akibat melakukan kerja?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui pemulihan sempurna dari kelelahan otot akibat melakukan kerja dengan frekuensi rendah.

2. Untuk mengetahui pengaruh perubahan peredaran darah, istirahat dan pemijatan terhadap kelelahan.

3. Untuk membuktikan pengaruh timbulnya rasa sakit karena kekurangan darah (ischaemia) ketika melakukan kerja

BAB 2

METODE KERJA

2.1 Alat Praktikum

a. Ergograf jari

b. Manset sphygmomanometer

c. Metronom

d. Beban

a

jari b. Manset sphygmomanometer c. Metronom d. Beban a Gambar 1. Ergograf jari c Gambar 3.

Gambar 1. Ergograf jari

c

c. Metronom d. Beban a Gambar 1. Ergograf jari c Gambar 3. Metronom d b Gambar

Gambar 3. Metronom

d

b

Metronom d. Beban a Gambar 1. Ergograf jari c Gambar 3. Metronom d b Gambar 2.

Gambar 2. Manset sphygmomanometer

Metronom d. Beban a Gambar 1. Ergograf jari c Gambar 3. Metronom d b Gambar 2.

Gambar 4. Beban

2.2 Cara Kerja 2.2.1 Pemulihan Sempurna dari Kelelahan Otot setelah Melakukan Kerja Frekuensi Rendah

a. Ergograf dan alat alat praktikum lainnya disiapkan (perhatikan kertas, penulis, panjang tali, dan sebagainya).

b. Lengan bawah kanan orang coba diletakkan di atas meja, kemudian memegang pegangan ergograf, sedangkan jari telunjuknya diletakkan/ dimasukkan pada penarik.

c. Beban dipasang 1/3 dari beban maksimal yang dapat ditarik.

d. Kemudian tarikan dilakukan setiap 4 detik mengikuti irama metronom sampai melampaui ½ panjang kertas pencatat.

e. Orang percobaan memusatkan perhatian pada tugas ini tanpa melihat hasilnya pada kertas pencatat dan melakukan setiap tarikan sekuat kuatnya dengan jari telunjuk tanpa mengikutsertakan otot jari lainnya, seperti otot tangan dan otot lengan.

otot jari lainnya, seperti otot tangan dan otot lengan. Gambar 5. Orang coba melakukan percobaan 1

Gambar 5. Orang coba melakukan percobaan 1 yaitu pemulihan sempurna dari kelelahan otot setelah melakukan kerja frekuensi rendah.

2.2.2 Pengaruh Gangguan Sirkulasi Darah terhadap Kelelahan

a. Percobaan ini menggunakan kertas ergograf baru.

b. Manset sphygmomanometer dipasangkan pada lengan atas kanan orang percobaan yang sama.

c.

Besarnya beban tetap seperti pada percobaan pertama yaitu 1/3 dari beban maksimal.

d. Kemudian tarikan dilakukan setiap 4 detik mengikuti irama metronom sebanyak 12 tarikan.

e. Pada tarikan ke 13 manset mulai dipompa sampai denyut arteria radialis tidak teraba lagi.

f. Tarikan tetap dilakukan sehingga amplitudo mengecil hingga ¼ amplitudo awal, lalu tekanan dalam manset diturunkan agar peredaran darah pulih kembali. Pada ergograf diberikan tanda pada saat tekanan di dalam manset mulai dinaikkan dan diturunkan.

g. Tarikan dilakukan terus sehingga amplitudo kembali seperti pada awal percobaan.

2.2.3 Pengaruh Istirahat dan Pemijatan ( Massage ) terhadap Kelelahan

a. Percobaan ini dilakukan oleh orang coba lain,

b. Beban dipasang sebesar 1/3 dari beban maksimal yang dapat ditarik.

c. Kemudian tarikan dilakukan setiap 1 detik mengikuti irama metronom hingga amplitudo tarikan mengecil hingga ¼ amplitudo awal.

hingga amplitudo tarikan mengecil hingga ¼ amplitudo awal. Gambar 6. Orang coba melakukan tarikan setiap 1

Gambar 6. Orang coba melakukan tarikan setiap 1 detik dengan mengikuti irama metronom

d. Orang coba beristirahat selama 3 menit (selama istirahat lengan tetap di tepat semula), dan sambil dilakukan pemijatan pada lengan orang coba ke arah proksimal oleh temannya.

Gambar 7. Orang coba diberikan istirahat selama 3 menit dan sambil dilakukan pemijatan oleh temannya

Gambar 7. Orang coba diberikan istirahat selama 3 menit dan sambil dilakukan pemijatan oleh temannya

e. Tarikan kembali dilakukan setiap 1 detik mengikuti irama metronom hingga amplitudo tarikan mengecil hingga ¼ amplitudo awal.

f. Kemudian, orang coba beristirahat lagi selama 3 menit, lengan tetap di tempat semula tanpa dipijat (massage).

g. Tarikan dilakukan lagi setiap 1 detik mengikuti irama metronom hingga amplitudo tarikan mengecil hingga ¼ amplitudo awal.

2.2.4 Timbulnya Rasa Nyeri karena Kekurangan Aliran Darah (Ischemia)

a. Percobaan ini dilakukan oleh orang coba lain dan dilakukan tanpa menggunakan kertas pencatat.

b. Pembebanan diberikan sedemikan rupa sehingga penarikan hanya akan memberikan amplitudo tarikan yang kecil saja.

c. Manset sphygmomanometer dipasang pada lengan atas kanan orang coba dan manset dipompa sehingga denyut arteria radialis tidak teraba lagi.

d. Kemudian tarikan dilakukan setiap 1 detik mengikuti irama metronom sampai terjadi kelelahan sempurna atau terjadi rasa nyeri yang tidak tertahankan.

sempurna atau terjadi rasa nyeri yang tidak tertahankan. Gambar 8. Manset dipasang pada lengan atas kanan

Gambar 8. Manset dipasang pada lengan atas kanan orang coba dan dipompa sampai arteri radialis tidak teraba dan kemudiantarikan dilakukan.

7

e. Tekanan di dalam manset diturunkan apabila terjadi rasa nyeri yang tidak tertahankan.

f. Selama percobaan, suhu dan warna lengan bawah kanan diperhatikan. Suhu ditentukan dengan meraba dan membandingkannya dengan lengan bawah kiri orang coba (amati perubahan yang terjadi selama 8 detik).

BAB 3

HASIL PRAKTIKUM

A. Pemulihan sempurna dari kelelahan otot setelah melakukan kerja frekuensi rendah

dari kelelahan otot setelah melakukan kerja frekuensi rendah Gambar 9. Hasil percobaan A Subyek pada percobaan

Gambar 9. Hasil percobaan A

Subyek pada percobaan ini adalah seorang wanita berusia 18 tahun yang bernama Azizah Hadi (Zizul). Beban yang digunakan seberat 550 g. Dari hasil percobaan yang pertama didapat data dari kertas pencatat bahwa orang coba memiliki amplitudo yang tidak stabil, menandakan bahwa orang coba mengalami kelelahan otot setelah melakukan kerja frekuensi rendah.

B. Pengaruh gangguan sirkulasi darah terhadap kelelahan otot

kerja frekuensi rendah. B. Pengaruh gangguan sirkulasi darah terhadap kelelahan otot Gambar 10. Hasil percobaan B

Gambar 10. Hasil percobaan B

Subyek adalah seorang wanita berusia 18tahun, orang yang sama dengan percobaan pertama yaitu Azizah Hadi (Zizul), beban yang digunakan seberat 550 g. Dari hasil percobaan

yang kedua didapat data dari kertas pencatat kedua orang coba bahwa pada 12 tarikan awal menghasilkan ampliudo yang stabil, namun pada tarikan ke-13 yang bersamaan dengan dipompanya manset spyghmomanometer, orang coba menghasilkan amplitudo yang lebih kecil dan semakin lama semakin menurun, namun masih terdapat garis amplitude sama seperti semula. Setelah manset dikurangi tekanannya, kerja otot secara perlahan mulai pulih kembali.

C. Pengaruh istirahat dan pemijatan (massage) terhadap kelelahan

istirahat dan pemijatan (massage) terhadap kelelahan Gambar 11. Percobaan C pada keadaan awal sebelum diberikan

Gambar 11. Percobaan C pada keadaan awal sebelum diberikan istirahat dan pemijatan

pada keadaan awal sebelum diberikan istirahat dan pemijatan Gambar 12. Percobaan C pada keadaan setelah diberikan

Gambar 12. Percobaan C pada keadaan setelah diberikan istirahat dan pemijatan

Gambar 13. Percobaan C pada keadaan awal setelah diberikan istirahat yang kedua tanpa pemijatan Subyek

Gambar 13. Percobaan C pada keadaan awal setelah diberikan istirahat yang kedua tanpa pemijatan

Subyek adalah seorang wanita berusia 19 tahun yang bernama Adriani (Dilla) . Beban yang digunakan seberat 1500 g. Dari hasil percobaan yang ketiga didapatkan hasil bahwa grafik amplitudo tarikan pada kertas ergograf setelah dilakukan istirahat selama 3 menit dengan pemijatan lengan kearah proksimal pada subyek jauh lebih besar daripada penarikan setelah dilakukan istirahat selama 3 menit tanpa dilakukan pemijatan. Grafik amplitudo yang semula mengecil akibat kelelahan otot setelah dilakukan istirahat dengan pemijatan grafiknya cenderung naik dengan ketinggian grafik hampir sama dengan tinggi grafik amplitudo pada tarikan awal.

D. Timbulnya rasa nyeri karena kekurangan aliran darah ( ischemia ) Subyek adalah seorang laki laki berusia 19 tahun yang bernama Ahmad Fauzi. Beban yang digunakan seberat 3500 g. Sebelum melakukan kontraksi aliran darah yang menuju ke otot dihentikan terlebih dahulu. Lalu kontraksi otot penarikan beban dilakukan berturut turut setiap 1 detik sampai subjek merasakan nyeri atau kelelahan sempurna pada ototnya. Gejala ischemia bisa diamati secara fisik melalui warna, suhu, dan keringat dari kulit yang ada pada sekitar otot yang bekerja. Dalam percobaan ini didapatkan warna kulit

pada detik ke 1- 32 masih normal (kuning-coklat). Lalu mulai membiru dan semakin gelap sampai akhirnya mencapai kelelahan sempurna. Pada pengamatan gejala suhu, perubahan suhu terjadi saat memasuki detik ke-40. Suhu pada sekitar otot menjadi semakin hangat dan terus lebih hangat sampai akhirnya mencapai kelelahan sempurna. Pada pengamatan keluarnya keringat dari kulit, keringat baru terasa keluar pada detik ke-40. Keringat mulai keluar di daerah telapak tangan. Selain mengamati gejala fisik dari luar, subjek (orang coba) juga bisa merasakan gejala ischemia menurut apa yang ia rasakan. Dari tabel dibawah, subjek merasakan daerah otot kontraksi semakin hangat pada detik ke-40. Lalu timbul rasa nyeri pada detik ke-48. Hingga akhirnya merasakan kelelahan sempurna pada detik ke-80. Pada saat itu rasa panas dan kesemutan sangat terasa sehingga tidak bisa mengangkat beban lagi. Jika diamati, maka gejala fisik dari luar dan dalam terjadi secara beriringan. Seiring bertambahnya suhu, semakin gelap dan biru pula warna kulit, diikuti keluarnya keringat serta perasaan hangat dari subyek dan begitu seterusnya.

Tabel 1. Hasil pengamatan praktikum ischemia

   

Gejala

 
 

Obyektif

Subyektif yang

 

dirasakan oleh

Detik ke:

Warna

Suhu

Keringat

orang coba

1

-

-

-

Biasa

8

-

-

-

Biasa

16

-

-

-

Biasa

24

-

-

-

Biasa

32

-

-

-

Biasa

40

-

+

+

Lelah

48

-

++

++

Nyeri

56

+

+++

+++

Sakit

64

++

+++

+++

Sakit

72

+++

+++

+++

Nyeri

80

++++

+++++

++++

Lelah, Kesemutan pada jari

80 ++++ +++++ ++++ Lelah, Kesemutan pada jari Gambar 14. Perbandingan warna lengan bawah kanan dan

Gambar 14. Perbandingan warna lengan bawah kanan dan lengan bawah kiri orang coba

BAB 4

PEMBAHASAN

Kelelahan adalah suatu tanda yang berfungsi sebagai tanda untuk menginformasikan tubuh bahwa kerja yang dilakukan telah mendekati atau melewati batas maksimal kemampuannya. Aktifitas kontraksi di otot tidak bisa berlangsung terus-menerus. Pada akhirnya ketegangan otot menurun seiring dengan timbulnya kelelahan. Kontraksi otot yang berlangsung lama atau terus-menerus, dapat mengakibatkan keadaan yang dikenal sebagai kelelahan otot yang diakibatkan, karena ketidakmampuan proses kontraksi dan metabolisme serabut-serabut otot untuk melanjutkan suplai output kerja yang sama. Saraf terus bekerja dengan baik, impuls saraf berjalan secara normal melalui hubungan otot-saraf masuk ke dalam serabut-serabut otot, tetapi kontraksi makin lama makin lemah, karena dalam serabut-serabut otot sendiri kekurangan ATP. Hambatan aliran darah yang menuju ke otot yang sedang berkontraksi mengakibatkan kelelahan otot hampir sempurna dalam 1 menit atau lebih karena kehilangan suplai nutrient dengan nyata (Guyton, 1992). Perasaan tegang atau lelah pada tubuh merupakan indikasi menumpuknya asam laktat di otot. Pada saat proses pembakaran terjadi, selain dihasilkan energi juga didapat sisa pembakaran, yaitu berupa asam laktat, sehingga makin lama aktivitas dijalankan, energi yang dihasilkan semakin kecil sementara sisa pembakaran berupa asam laktat itu justru menumpuk. Penumpukan asam laktat inilah yang menyebabkan rasa lelah, sehingga dapat mengganggu alat-alat tubuh, terutama pembuluh darah, pembuluh limpa, dan persyarafan. Akibatnya, peredaran darah menjadi kurang lancar dan syaraf menjadi kurang sensitif.

Pada praktikum kelelahan otot ini terdapat empat macam percobaan. Percobaan pada praktikum ini mencakup faktor-faktor yang berpengaruh pada kelelahan otot serta akibat yang dapat ditimbulkan dari kelelahan otot. Berikut ini merupakan hasil diskusi kelompok kami terhadap topik-topik pada praktikum faal kelelahan otot.

1. Pemulihan Sempurna dari Kelelahan Otot Setelah Melakukan Kerja dengan Frekuensi Rendah Pada percobaan ini, otot pada jari telunjuk orang coba mengangkat beban setiap 4 detik mengikuti metronom. Jari telunjuk dapat mengangkat beban tersebut dan tercatat

pada ergograf. Selama 4 detik terjadi pemulihan sempurna dari kelelahan otot, sehingga tidak terjadi kelelahan pada otot. Jika otot berkontraksi terlalu cepat, energi akan digunakan dengan jumlah yang banyak untuk mengatasi gaya gesek yang keras dari otot itu sendiri, sehingga menurunkan efektivitas kontraksi (Guyton, A. C. & Hall, J. E., 2006:

80).

Energi untuk melakukan kerja diperoleh dari hasil metabolisme. Metabolisme anaerob menghasilkan sisa asam, salah satunya asam laktat. Asam laktat yang dihasilkan berlebih akan menumpuk dan menyebabkan kelelahan. Pada percobaan ini, orang coba tidak mengalami kelelahan otot. Dilihat dari grafik yang tercatat pada ergograf cenderung stabil. Hal ini menunjukkan sumber energi yang dimiliki orang coba masih ada, sehingga tidak terjadi penumpukan asam laktat. Dari percobaan pertama ini, subyek tidak mmengalami kelelahan akibat kerja otot dengan frekuensi rendah, hal ini dikarenakan kerja otot yang dilakukan dalam frekuensi rendah dan tidak melebihi kerja otot steady state sehingga asam laktat yang merupakan hasil sampingan dari kerja otot tidak menumpuk, sehingga pemulihan berlangsung sempurna.

2. Pengaruh Gangguan Sirkulasi Darah terhadap Kelelahan

Pada percobaan ini masih dilakukan oleh orang coba yang sama. Hal yang berbeda, pada percobaan ini dilakukan pemompaan manset yang bertujuan menghambat aliran darah untuk mengetahui dampaknya pada kelelahan otot. Otot pada jari telunjuk orang coba yang sama tetap mengangkat beban dan pengangkatan beban terjadi setiap 4 detik sebanyak 12 tarikan. Pada 12 tarikan ini, ergograf jari menunjukkan frekuensi yang stabil dan amplitudo yang cukup tinggi. Ketika tarikan ke 13, manset sphygmomanometer dipompa, sehingga arteri radialis tidak teraba lagi. Otot jari telunjuk mengangkat beban dan terjadi kelelahan otot, karena tidak adanya darah yang mengalir. Hal ini berhubungan dengan persyarafan fungsi kardiovaskuler yaitu mengangkut oksigen dan nutrisi lain yang dibutuhkan otot untuk melakukan metabolisme otot sehingga menghasilkan energi yang digunakan untuk berkontraksi. Ketika aliran darah otot lengan di tekan, terjadi penyumbatan aliran darah yang berakibat berkurangnya pengangkutan oksigen dan nutrisi yang cukup selama kontraksi terus-menerus. Terlihat setelah tarikan ke 13 terjadi penurunan secara bertahap, kertas ergograf jari

menunjukkan amplitudo yang rendah dan pada tarikan ke 19 terjadi kelelahan otot, maka manset sphygmomanometer dilepaskan. Pada saat itu otot kembali mendapat pasokan nutrisi, sehingga otot mendapat kan energi untuk melakukan kerja lagi.

Peran aliran darah pada kelelahan otot sangat menentukan. Salah satunya untuk membawa nutrisi dan oksigen, sehingga otot jari telunjuk dapat mengangkat beban. Otot yang berkontraksi membutuhkan energi dan dalam peristiwa kontraksi ini oksigen darah akan berkurang dan terjadi penimbunan sisa metabolisme seperti asam laktat di otot. Kelelahan terjadi karena tidak ada darah yang mengalir pada jari telunjuk. Pemompaan manset pada lengan membendung aliran darah ke daerah ekstrimitas suplai darah yang mengandung nutrisi dan O 2 . Pada kondisi ini, darah masih dapat membuang hasil metabolisme namun darah tidak dapat menerima nutrisi karena arteri radialis tertutup. Interupsi aliran darah menuju otot yang berkontraksi dapat menyebabkan kelelahan otot yang hampir sempurna selama satu atau dua menit dikarenakan hilangnya pasokan nutrisi, terutama oksigen (Guyton A. C. & Hall, J. E., 2006: 82). Pada percobaan ini didapatkan hasil otot bekerja lebih lambat dan terasa lelah, dapat dibuktikan dari kertas ergograf yang semakin mengecil amplitudonya.

3. Pengaruh Istirahat dan Pemijatan (Massage) terhadap Kelelahan

Pada hasil praktikum ketiga dilpakukan percobaan pada orang coba yang berbeda dengan orang coba sebelumnya, dimana orang coba diberi beban dan melakukan tarikan setiap 1 detik mengikuti irama metronome hingga amplitudo tarikan mengecil hingga ¼ amplitudo tarikan awal. Pada percobaan ini, waktu kerja ototnya lebih cepat, artinya kerja yang dilakukan otot adalah kerja berat. Setelah itu orang coba diberi 3 menit untuk beristirahat sambil dilakukan pemijatan lengan ke arah proksimal, dan selanjutnya melakukan tarikan kembali setiap 1 detik sampai amplitude sebesar ¼ tarikan awal dan orang coba diberi 3 menit beristirahat tanpa dilakukan pemijatan. Selanjutnya, orang coba melakukan tarikan kembali.

Dari percobaan tersebut didapatkan hasil bahwa grafik amplitudo tarikan pada kertas ergograf menunjukkan amplitudo penarikan setelah dilakukan istirahat selama 3

menit dengan pemijatan lengan ke arah proksimal pada orang coba jauh lebih besar dan lebih lama daripada penarikan setelah dilakukan istirahat selama 3 menit tanpa dilakukan pemijatan. Grafik amplitudo yang semula mengecil akibat kelelahan otot setelah dilakukan istirahat dengan pemijatan grafiknya cenderung naik dengan ketinggian grafik hampir sama dengan tinggi grafik amplitudo pada tarikan awal. Selain itu grafik amplitudonya jauh lebih tinggi durasinya dibandingkan dengan grafik amplitudo istirahat tanpa pemijatan. Hal ini menunjukkan menunjukkan bahwa kelelahan otot lebih teratasi setelah diberi massage. Pemberian massage bertujuan untuk memperlancar aliran oksigen ke jaringan otot selama masa istirahat. Dengan pemberian massage, pemulihan sirkulasi darah lebih cepat daripada membiarkannya pulih dengan sendirinya. Aliran darah yang lebih lancar dapat mengakibatkan lebih cepatnya proses pemulihan otot, sehingga otot dapat bekerja lagi dengan lebih baik. Itulah sebabnya setelah dilakukan pemijatan, otot dapat menarik lebih baik dan lebih lama, sedangkan yang tanpa pemijatan merasakan lelah yang lebih cepat. Dalam hal ini, waktu istiharat juga berpengaruh, apabila waktu istirahat terlalu pendek dan kemudian langsung melakukan aktivitas kerja otot kembali, maka sebagian besar asam laktat masih akan tertumpuk di otot dan tidak diubah menjadi sumber energi, sehingga lebih cepat lagi menimbulkan kelelahan.

Kelelahan otot merupakan keadaan fisiologis yang dapat dipulihkan dengan beberapa cara, seperti beristirahat dan perlakuan massage atau pemijatan. Rasa lelah pada otot bisa diminimalisasi dengan pemijatan selama beberapa menit. Melalui pemijatan, proses pengeluaran sisa-sisa pembakaran (asam laktat) ke dalam aliran darah dipercepat, sehingga pemulihan juga akan menjadi lebih cepat. Pengaruh utama dari pemijatan adalah adanya stimulasi pada sirkulasi darah, memperlancar peredaran darah dan mempercepat proses pembuangan hasil-hasil sisa pembakaran (asam laktat). Hal ini terjadi, karena manipulasi yang diberikan kepada otot tangan akan meningkatkan suhu tubuh atau tangan sehingga mempercepat aliran darah menuju tangan. Darah segar yang mengandung oksigen dan nutrisi akan cepat dibawa oleh pembuluh darah ke tangan karena dorongan atau manipulasi dari pemijatan dan timbunan asam laktat akan

terdorong keluar dari otot, masuk ke dalam pembuluh darah untuk segera dibuang, sehingga rasa lelah akan berkurang.

4. Timbulnya Rasa Nyeri karena Kekurangan Aliran Darah (Ischemia) Pada percobaan ini, manset sphygmomanometer dipasang dan diberikan tekanan hingga arteri radialis tidak terasa lagi. Otot pada jari telunjuk mengangkat beban maksimal sedemikian rupa dan ditarik setiap 1 detik. Dari hasil percobaan ini didapatkan kelelahan yang luar biasa akibat beban berat yang diterima oleh otot, sehingga otot harus bekerja secara maksimal. Selain itu, setelah manset dipompa, aliran darah menjadi terhambat dan menyebabkan otot kekurangan suplai oksigen dan nutrisi dari darah untuk metabolisme.

Pada detik ke-80 warna otot pada lengan bawah tangan kanan orang coba terlihat sangat pucat dibandingkan kulit orang normal (++++) berbeda dengan warna pada lengan bawah tangan kirinya. Suhu pada otot lengan bawah tangan kanannya menjadi sangat panas (++++) dan banyak keringat yang dihasilkan (++). Subyek tidak bisa menarik beban lagi dan merasakan nyeri yang tidak tertahankan. Nyeri tersebut terjadi karena adanya respon ischaemic dari sistem saraf pusat. Ischaemia adalah suatu keadaan kekurangan oksigen yang bersifat sementara dan reversibel. Penurunan suplai oksigen akan meningkatkan mekanisme metabolisme anaerobik. Ischemia yang lama dapat mendapat menyebabkan kematian otot (nekrosis). Ischaemia yang berlangsung lebih dari 30 menit dapat menyebabkan kerusakan sel yang ireversibel dan kematian otot (nekrosis). Respon ini baru terlihat signifikan pada saat tekanan arteri jatuh dibawah normal, yaitu sekitar 60 mm Hg dan dibawahnya, mencapai derajat tertingginya untuk stimulasi pada tekanan 15 sampai 20 mm Hg. (Guyton A. C. & Hall, J. E., 2006: 213).

DAFTAR PUSTAKA

Guyton, A. C. & Hall, J. E. 2006. Textbook of Medical Physiology. 11 th ed. Pennsylvania: Elsevier Inc.

Wignjosoebroto, S. 2000. Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu: Teknik Analisis untuk Meningkatkan Produktivitas Kerja. Jakarta: PT. Gunawidya