Anda di halaman 1dari 8

Distribusi Salinitas, Karbondioksida, pH, dan Kesadahan di Perairan

Kesadahan
Kesadahan air adalah kandungan mineral-mineral tertentu di dalam air, umumnya ion
kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dalam bentuk garam karbonat. Air sadah atau air keras
adalah air yang memiliki kadar mineral yang tinggi, sedangkan air lunak adalah air dengan
kadar mineral yang rendah. Selain ion kalsium dan magnesium, penyebab kesadahan juga
bisa merupakan ion logam lain maupun garam-garam bikarbonat dan sulfat. Metode paling
sederhana untuk menentukan kesadahan air adalah dengan sabun. Dalam air lunak, sabun
akan menghasilkan busa yang banyak. Pada air sadah, sabun tidak akan menghasilkan busa
atau menghasilkan sedikit sekali busa. Kesadahan air total dinyatakan dalam satuan ppm
berat per volume (w/v) dari CaCO3.
Kesadahan (hadrness) adalah gambaran kation logam divalen (valensi dua). Kationkation ini dapat bereaksi dengan sabun (soap) membentuk endapan (presipitasi) maupun
dengan anion-aniaon yang terdapat di dalam air membentuk endapan atau karat pada
peralatan logam. Pada perairan tawar, kation divalen yang paling berlimpah adalah kalsium
dan magnesium, sehingga kesadahan pada dasarnya ditentukan oleh jumlah kalsium dan
magnesium. Kalsium dan magnesium berikatan dengan anion penyusun alkalinitas, yaitu
bikarbonat dan karbonat.
Kesadahan pada awalnya ditentukan dengan titrasi menggunakan sabun standar yang
dapat bereaksi dengan ion penyusun kesadahan. Dalam perkembangannya, kesadahan
ditentukan dengan titrasi menggunakan EDTA (ethylene diaminine tetra acetic acid) atau
senyawa lain yang dapat bereaksi dengan kalsium dan magnesium. Kesadahan perairan
berasal dari kontak air dengan tanah dan bebatuan. Air hujan sebenarnya tidak memiliki
kemampuan untuk melarutkan ion-ion penyusun kesadahan yang banyak terikat di dalam
tanah dan batuan kapur (limestone), meskipun memiliki kadar karbondioksida yang relatif
tinggi. Larutnya ion-ion yang dapat meningkatkan nilai kesadahan tersebut lebih banyak
disebabkan oleh aktivitas bakteri di dalam tanah, yang banyak mengeluarkan karbondioksida.
Perairan dengan nilai kesadahan tinggi pada umumnya merupakan perairan yang
berada di wilayah yang memiliki lapisan tanah pucuk (top soil) tebal dan batuan kapur.
Perairan lunak berada pada wilayah dengan lapisan tanah atas tipis dan batuan kapur relatif
sedikit atau bahkan tidak ada. Kesadahan diklasifikasikan berdasarkan dua cara, yaitu
berdasarkan ion logam (metal) dan berdasarkan anion yang berasosiasi dengan ion logam.
Berdasarkan ion logam, kesadahan dibedakan menjadi kesadahan kalsium dan magnesium.

Berdasarkan anion yang berasosiasi dengan ion logam, kesadahan dibedakan menjadi
kesadahan karbonat dan kesadahan non-karbonat (Efendi, 2001).
Klasifikasi Perairan Berdasarkan Nilai Kesadahan
Kesadahan(mg/liter CaCO3)
Klasifikasi Perairan
< 50
Lunak(soft)
50 150
Menengah(moderately hard)
150 300
Sadah(hard)
> 300
Sangat sadah(very hard)
Nilai kesadahan air diperlukan dalam penilaian kelayakan perairan untuk kepentingan
domestik dan industri. Kesadahan yang tinggi dapat menghambat sifat toksik dari logam
berat karena kation-kation penyusun kesadahan( kalsium dan magnesium) membentuk
senyawa kompleks dengan logam berat tersebut.
Air permukaan biasanya memiliki nilai kesadahan yang lebih kecil daripada air tanah.
Perairan dengan nilai kesadahan kurang dari 120 mg/liter CaCO3 dan lebih dari 500 mg/liter
CaCO3 dianggap kurang baik bagi peruntukan domestik, perairan, dan industri. Namun, air
sadah lebih disukai oleh organisme daripada air lunak (Efendi, 2001).
Karbondioksida
Karbon dioksida (rumus kimia: CO2) atau zat asam arang adalah sejenis senyawa
kimia yang terdiri dari dua atom oksigen yang terikat secara kovalen dengan sebuah atom
karbon. Ia berbentuk gas pada keadaan temperatur dan tekanan standar dan hadir di atmosfer
bumi. Meskipun presentase karbondioksida di atmosfir relative kecil, akan tetapi keberadaan
karbondioksida di perairan relatif banyak, karena karbondioksida memiliki sifat kelarutan
yang tinggi. CO2 yang terkandung dalam air berasal dari udara dan dari hasil dekomposisi zat
organik. Permukaan air biasanya mengandung CO2 bebas kurang dari 10 mg/L, sedangkan
pada dasar air konsentrasinya dapat lebih dari 10 mg/L.
Karbondioksida yang terdapat di perairan berasal dari berbagai sumber, yaitu sebagai
berikut:
1. Difusi dari atmosfer. Karbondioksida yang terdapat di atmosfer mengalami difusi
secara langsung ke dalam air.
2. Air hujan. Air hujan jatuh ke permukaan bumi seara teoritis memiliki kandungan
karbondioksida sebesar 0,55-0,60 mg/L, berasal dari karbondioksida yang terdapat di
atmosfir.
3. Air yang melewati tanah organik. Tanah organik yang mengalami dekomposisi
mengandung relative banyak karbondioksida sebagai hasil proses dekomposisi.
Karbondioksida hasil dekomposisi ini akan larut ke dalam air.

4. Respirasi tumbuhan, hewan dan bakteri aerob maupun anaerob. Respirasi tumbuhan
dan hewan mengeluarkan karbondioksida. Dekomposisi bahan organik pada kondisi
aerob menghasilkan karbondioksida sebagai salah satu produk akhir.
Demikian juga dekomposisi anaerob karbohidrat pada bagian dasar perairan akan
menghasilkan karbondioksida sebagai produk akhir. Karbondioksida dari udara selalu
bertukar dengan yang di air jika air dan udara bersentuhan. Pada air yang tenang pertukaran
ini sedikit, proses yang terjadi adalah difusi. Jika air bergelombang maka pertukaran berubah
lebih cepat. Gelombang dapat terjadi jika air di permukaan berpusar menuju ke bagian dasar
danau, sambil membawa gas yang terlarut. Karbondioksida juga terdapat dalam air hujan. Hal
ini terbawa waktu tetes air terjun dari udara.
Kandungan karbondioksida bebas (CO 2) dalam

suatu

perairan maksimal 20

ppm (Rahmatin , 1976). Kandungan karbondioksida bebas (CO 2) pada suatu perairan
melebihi 20 ppm, maka membahayakan biota laut bahkan meracuni kehidupan
organisme perairan. Kandungan karbondioksida bebas dalam suatu perairan lebih tinggi
dari 12 ppm dapat membahayakan kehidupan organisme perairan.
Karbondioksida bebas (CO2) merupakan salah satu gas respirasi yang penting
bagi system perairan, kandungan karbondioksida bebas di pengaruhi oleh kandungan bahan
organik terurai, agilasi suhu, pH, dan aktivitas fotosintesis. Sumber CO2 bebas berasal dari
proses pembagunan bahan organik

oleh

jasad

renik

dan

respirasi

organisme.

Karbondioksida bebas dalam perairan berasal dari hasil penguraian bahan-bahan organik
oleh bakteri decomposer atau mikroorganisme, naiknya CO 2 selalu d iringi oleh turunnya
kadar O2 terlarut yang diperlukan bagi pernapasan hewan-hewan air. Dengan demikian
walaupun CO2 belum mencapai kadar tinggi yang mematikan, hewan-hewan air sudah mati
karena kekurangan O2, kadar CO2 yang dikehendaki oleh ikan adalah tidak lebih dari 12
ppm dengan kandungan O2 terendah adalah 2 ppm (Asmawi, 1983).
Kadar karbon di perairan dapat mengalami penuranan bahkan hilang akibat
proses fotosintesis, evaporasi dan agitasi air. Perairan yang diperuntukan untuk kepentingan
perikanan

sebaiknya mengandung kadar karbodioksida bebas <5 mg/l . kadar

karbondioksida sebesar 10mg/l masih dapat ditolerir oleh organisme akuatik. Dengan oksigen
yang cukup, sebagian besar organisme akuatik dapat bertahan hidup hingga kadar
karbondioksida bebas mencapai sebesar 60 mg/l (Byod, 1988 dalam Mahida, 1948).
Salinitas
Salinitas didefinisikan sebagai jumlah berat garam yang terlarut dalam 1 liter air,
biasanya dinyatakan dalam satuan 0/00 (per mil, gram perliter). Di perairan samudera,
salinitas berkisar antara 340/00 350/00. Tidak semua organisme laut dapat hidup di air

dengan konsentrasi garam yang berbeda. Secara mendasar, ada 2 kelompok organisme laut,
yaitu organisme euryhaline, yang toleran terhadap perubahan salinitas, dan organisme
stenohaline, yang memerlukan konsentrasi garam yang konstan dan tidak berubah. Kelompok
pertama misalnya adalah ikan yang bermigrasi seperti salmon, eel, lain-lain yang beradaptasi
sekaligus terhadap air laut dan air tawar. Sedangkan kelompok kedua, seperti udang laut yang
tidak dapat bertahan hidup pada perubahan salinitas yang ekstrim. (Reddy, 1993).
Salinitas merupakan salah satu parameter lingkungan yang mempengaruhi proses
biologi dan secara langsung akan mempengaruhi kehidupan organisme antara lain yaitu
mempengaruhi laju pertumbuhan, jumlah makanan yang dikonsumsi, nilai konversi makanan,
dan daya kelangsungan hidup. (Andrianto, 2005).
Sebaran salinitas di laut
Sebaran salinitas di laut dipengaruhi oleh beberapa faktor menurut (Nontji, 1993) :

pola sirkulasi air


penguapan
curah hujan, dan
aliran air sungai.
Di perairan lepas pantai yang dalam, angin dapat pula melakukan pengadukan lapisan

atas hingga membentuk lapisan homogen sampai kedalaman 50-70 meter atau lebih
tergantung dari intensitas pengadukan.Di lapisan dengan salinitas homogen suhu juga
biasanya homogen, baru di bawahnya terdapat lapisan pegat dengan degradasi densitas yang
besar yang menghambat pencampuran antara lapisan atas dengan lapisan bawah. (Nontji,
1993).
Salinitas mempunyai peran penting dan memiliki ikatan erat dengan kehidupan
organisme perairan termasuk ikan, dimana secara fisiologis salinitas berkaitan erat dengan
penyesuaian tekanan osmotik ikan tersebut.
Faktor faktor yang mempengaruhi salinitas antara lain adalah :
1) Penguapan, makin besar tingkat penguapan air laut di suatu wilayah, maka
salinitasnya tinggi dan sebaliknya pada daerah yang rendah tingkat penguapan air
lautnya, maka daerah itu rendah kadar garamnya.
2) Curah hujan, makin besar/banyak curah hujan di suatu wilayah laut maka salinitas air
laut itu akan rendah dan sebaliknya makin sedikit/kecil curah hujan yang turun
salinitas akan tinggi.
3) Banyak sedikitnya sungai yang bermuara di laut tersebut, makin banyak sungai yang
bermuara ke laut tersebut maka salinitas laut tersebut akan rendah, dan sebaliknya
makin sedikit sungai yang bermuara ke laut tersebut maka salinitasnya akan tinggi.

Distribusi salinitas permukaan juga cenderung zonal. Air laut bersalinitas lebih tinggi
terdapat di daerah lintang tengah dimana evaporasi tinggi. Air laut lebih tawar terdapat di
dekat ekuator dimana air hujan mentawarkan air asin di permukaan laut, sedangkan pada
daerah lintang tinggi terdapat es yang mencair akan menawarkan salinitas air permukaannya.
Di perairan lepas pantai yang dalam, angin dapat pula melakukan pengadukan di
lapisan atas hingga membentuk lapisan homogen kira-kira setebal 50-70 m atau lebih
bergantung intensitas pengadukan. Di perairan dangkal, lapisan homogen ini berlanjut sampai
ke dasar. Di lapisan dengan salinitas homogen, suhu juga biasanya homogen. Baru di
bawahnya terdapat lapisan pegat (discontinuity layer) dengan gradasi densitas yang tajam
yang menghambat percampuran antara lapisan di atas dan di bawahnya. Di bawah lapisan
homogen, sebaran salinitas tidak banyak lagi ditentukan oleh angin tetapi oleh pola sirkulasi
massa air di lapisan massa air di lapisan dalam. Gerakan massa air ini bisa ditelusuri antara
lain dengan mengakji sifat-sifat sebaran salinitas maksimum dan salinitas minimum dengan
metode inti (core layer method).
Volume air dan konsentrasi dalam fluida internal tubuh ikan dipengaruhi oleh
konsentrasi garam pada lingkungan lautnya. Untuk beradaptasi pada keadaan ini ikan
melakukan proses osmoregulasi, organ yang berperan dalam proses ini adalah insang dan
ginjal. Osmoregulasi memerlukan energi yang jumlahnya tergantung pada perbedaan
konsentrasi garam yang ada antara lingkungan eksternal dan fluida dalam tubuh
ikan. Toleransi dan preferensi salinitas dari organisme laut bervariasi tergantung tahap
kehidupannya, yaitu telur, larva, juvenil, dan dewasa. Salinitas merupakan faktor penting
yang mempengaruhi keberhasilan reproduksi pada beberapa ikan dan distribusi berbagai
stadia hidup. (Reddy, 1993).
pH
Derajat keasaman atau pH merupakan suatu indeks kadar ion hidrogen (H+) yang
mencirikan keseimbangan asam dan basa. Derajat keasaman suatu perairan, baik tumbuhan
maupun hewan sehingga sering dipakai sebagai petunjuk untuk menyatakan baik atau
buruknya suatu perairan (Odum, 1971). Nilai pH juga merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi produktifitas perairan (Pescod, 1973). Nilai pH pada suatu perairan
mempunyai pengaruh yang besar terhadap organisme perairan sehingga seringkali dijadikan
petunjuk untuk menyatakan baik buruknya suatu perairan (Odum, 1971). Biasanya angka pH
dalam suatu perairan dapat dijadikan indikator dari adanya keseimbangan unsur-unsur kimia
dan dapat mempengaruhi ketersediaan unsur-unsur kimia dan unsur-unsur hara yang sangat
bermanfaat bagi kehidupan vegetasi akuatik. Tinggi rendahnya pH dipengaruhi oleh fluktuasi

kandungan O2 maupun CO2. Tidak semua mahluk bisa bertahan terhadap perubahan nilai
pH, untuk itu alam telah menyediakan mekanisme yang unik agar perubahan tidak terjadi
atau terjadi tetapi dengan cara perlahan (Sary, 2006).
Keberadaan pH di suatu perairan sangat penting sebagai parameter kualitas air yaitu:
a. Laut
Air laut mempunyai kemampuan menyangga yang sangat besar untuk mencegah
perubahan pH. Perubahan pH sedikit saja dari pH alami akan memberikan petunjuk
terganggunya sistem penyangga. Hal ini dapat menimbulkan perubahan dan ketidak
seimbangan kadar CO2 yang dapat membahayakan kehidupan biota laut. pH air laut
permukaan di Indonesia umumnya bervariasi dari lokasi ke lokasi antara 6.0 8,5.
Perubahan pH dapat mempunyai akibat buruk terhadap kehidupan biota laut, baik
secara langsung maupun tidak langsung. Akibat langsung adalah kematian ikan,
burayak, telur, dan lain-lainnya, serta mengurangi produktivitas primer. Akibat tidak
langsung adalah perubahan toksisitas zat-zat yang ada dalam air, misalnya penurunan
pH sebesar 1,5 dari nilai alami dapat memperbesar toksisitas NiCN sampai 1000 kali.
b. Danau
Perairan danau nilai pH berkisar pH 6,7 8,6 hal ini dkarenakan karena kedalaman
danau dangkal sehingga pH tanah sangat mempengaruhinya.
c. Waduk
Perairan waduk nilai pH berkisar 5,7-10,5 hal ini dikarenakan Pengkuran pH dan
konduktivitas menunjukkan bahwa penurunan pH sejalan dengan kedalaman, diikuti
kenaikan konduktivitas. Hal ini disebabkan proses dekomposisi bahan organik
menyebabkan terbentuknya senyawasenyawa asam organik yang akan menurunkan
pH, dan pelepasan senyawa anorganik yang akan memperkaya kandungan ion dalam
perairan sehingga meningkatkan konduktivitas.
d. Sungai
Nilai derajat keasaman (pH) suatu perairan mencirikan keseimbangan antara asam dan
basa dalam air dan merupakan pengukuran konsentrasi ion hidrogen dalam larutan
(Saeni, 1989). Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan
menyukai nilai pH sekitar 7-8,5 (Effendi, 2003).
Derajat Keasaman (pH) sangat penting sebagai parameter kualitas air karena pH
mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi beberapa bahan di dalam air. Selain itu organisme
akuatik dapat bertahan hidup pada kisaran ph tertentu. Fluktuasi pH sangat ditentukan oleh
alkaliniitas air tersebut. Suatu perairan yang produktif dan mendukung kelangsungan hidup
organisme akuatik terutama ikan menurut PP No. 82 (2001) yaitu berkisar 6-9. Syarat Hidup

dan Kebiasaan Hidup. Ikan sangat toleran terhadap derajat keasaman (pH) air. Ikan ini dapat
bertahan hidup di perairan dengan derajat keasamaan yang agak asam (pH rendah) sampai di
perairan yang basa (pH tinggi) dengan pH 5-9. Kandungan oksigen yaitu 02 terlarut yang
dibutuhkan bagi kehidupan patin adalah 3-6 ppm. Kadar karbondioksida (CO2) yang bisa
ditoleran adalah 9-20 ppm. Tingkat alkalinitas yang dibutuhkan 80-250 ppm. Secara
sederhana, pengertian pH menunjukkan kondisi asam atau basa dari suatu perairan. Derajat
keasaman juga merupakan indikator yang dapat mempengaruhi ketersediaan unsur-unsur lain
yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan ikan. Nilai pH yang rendah mengindikasikan
bahwa perairan asam, sedangkan pH yang tinggi mengindikasikan perairan basa. Kedua
kondisi ini tidak baik untuk kegiatan budidaya. Perubahan pH secara mendadak ditandai
dengan berenangnya ikan sangat cepat. Bila terjadi penurunan pH secara terus-menerus, akan
keluar lendir yang berlebihan atau iritasi kulit sehingga ikan akan mudah diserang penyakit.
Kondisi yang baik untuk ukuran keasaman perairan budidaya berada pada kisaran pH 6 8
(R. Eko Prihartono, 2004). pH atau kadar keasamaan air yang baik untuk budidaya lobster air
tawar adalah berada pada angka 6 sampai 8. (lihat gambar skala pH berikut). Kadar keasaman
ini dapat dijaga dengan total alkanitas, jumlah plankton yang tidak berlebihan dan kebersihan
dari DAS.

Referensi:
Asdak, 2007. Hidrologi Dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada University
Press. Yogyakarta.
Odum, E. P. 1971. Fundamental of Ecology. W. B. Sounders Company. Philadelphia, London.
Odum E. P. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Edisi ketiga. Yogayakarta. Gajah Mada University
press. Pescod, M. B. 1973. Investigation of Rational Effluent and Stream Standard for
Tropical Countries. AIT, London.
Sary, 2006. Bahan Kuliah Manajemen Kualitas Air. Politehnik vedca. Cianjur.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan
Perairan.Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Goldman, C. R. and A. J. Horne. 1983. Limnology. McGraw-Hill Book Company. United
State of America. America.

Rohman, Muhammad Ali. 2013. Pengaruh Suhu, Cahaya, Salinitas, Arus, dan Upwelling
Terhadap
Ikan.
http://alirohman11.blogspot.co.id/2013/03/bab-i-pengaruh-suhusalinitas-arus.html (diakses pada Rabu, 4 Nopember 2015 pukul 21:56 WIB).