Anda di halaman 1dari 9

Langkah Menuju ISO 9001 seri 9001:2015

Oleh: Drs. H. Darmansyah Hasibuan, S.H., M.H.


(Wakil Ketua Pengadilan Agama Stabat)
A. PENDAHULUAN
International Standardization Organization 9001 (ISO 9001) merupakan model sistem
jaminan kualitas dalam desain/pengembangan, produksi, instalasi, dan pelayanan atau sering
disebut dengan istilah Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO 9001. (M.N. Nasuton, 2001).
Atau dengan kata lain ISO 9001 adalah merupakan standar internasional yang mengatur
tentang Sistem Manajemn Mutu (Quality Management System). (Sugeng Listyo Prabowo,
2009).
Dengan pengertian di atas dapat dipahami bahwa Sistem Manajemen Mutu adalah
kemampuan suatu perusahaan atau penyedia jasa/produk dalam menjaga kualitas mutu dari
produk maupun jasa yang dijualnya. Jika suatu perusahaan sudah memiliki sertifikasi ISO
9001, maka dapat dikatakan bahwa produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan tersebut
sudah tentu memiliki mutu yang terjamin. Dengan demikian manfaat dari ISO 9001 sangat
banyak, antara lain: 1. Menjamin kepuasan pelanggan terhadap produk/jasa yang dijual, 2.
Meningkatkan kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan, 3. Menanamkan rasa bangga
bagi karyawan sehingga memotivasi mereka untuk bekerja lebih baik lagi, 4. Mempermudah
perusahaan untuk memperoleh bisnis dan mitra yang lebih baik dan lebih banyak, 5. Sebagai
materi untuk menganalisa kemampuan suatu perusahaan, 6. Meningkatkan manajemen
pengendalian resiko sehingga perusahaan lebih stabil, dan 7. Sistem perusahaan jadi semakin
rapi dan terarah
Walaupun ISO 9001 2008 telah lama dimunculkan sebagai suatu system yang dapat
menjamin mutu suatu perusahaan atau lembaga, akan tetapi penerapannya bagi warga
peradilan di Indonesia masih merupakan hal yang baru. Sebab selama ini ada sebagian orang
beranggapan bahwa Sistem Manajemen Mutu tersebut hanya relevan bagi sebuah perusahaan
dan bukan bagi lembaga peradilan.
Anggapan tersebut pada tahun 2014 dapat ditepis oleh Pengadilan Agama Stabat Kls I B,
dengan diterapkannya ISO 9001: 2008 di pengadilan tersebut, yang pada saat itu Pengadilan
Agama Stabat dipimpin oleh seorang tokoh visioner YM. Drs. H. Saifuddin, S.H., M. Hum.
Dan dibantu seorang Wakil Ketua sebagai seorang Ahli SIADPA, YM. Drs. H. Tarsi, S.H.,
M.HI. Sebab bagi beliau berdua tidak ada yang mustahil dapat dilakukan sepanjang pekerjaan
itu menjadi kewenangan manusia untuk melakukannya.
Tulisan singkat ini akan mencoba menelusuri langkah menuju ISO seri 9001: 2015, yang
sudah barang tentu akan ditopang dengan uraian sejarah singkat ISO 9001 sejak tahun 1987,
sampai dengan ISO 9001 tahun 2008, sekaligus melihat perbedaan yang signifikan antara
ISO 9001 seri 2008 dengan seri 2015.
B. SEJARAH ISO 9001: 2008
ISO 9001 lahir pertama kali pada tahun 1987 yang dikenal dengan nama Sistem Manajemen
Mutu (SMM) ISO:1987. Ada tiga seri pilihan implementasi pada seri 1987 ini, yaitu yang
menekankan pada aspek Quality Assurance, aspek QA and Production dan Quality Assurance
for Testing. Konsentrasi utamanya adalah inspection product di akhir sebuah proses, atau
yang dikenal dengan final inspection. (Sugeng Listyo Prabowo, 2009)
Berdasarkan uraian Sugeng Listyo Prabowo di atas, dapat dipahami bahwa ISO:1987, ada
tiga hal yang menjadi aspek penekanan, yakni Quality Assurance yakni suatu sistem
pengendalian yang harus dipenuhi di dalam pembuatan produk dari mulai proses awal hingga
proses akhir. Kedua adalah QA and Production, yakni pengendalian kualitas dan bersifat

produksi. Sedang yang ketiga adalah QA for testing, artinya pengendalian kualitas yang
disertai dengan pengujian.
Setelah ISO:1987 berlangsung 7 tahun, maka muncul pengembangan berikutnya dengan
diterbitkannya seri 9001:1994. Hal ini lahir karena adanya kebutuhan penjaminan suatu
kualitas (guaranty quality), sehingga bukan hanya pada aspek final inspection sebagai
konsentrasi utama seri 1987, akan tetapi lebih jauh ditekankan perlunya suatu proses kegiatan
atau aksi pencegahan (preventive action) untuk menghindari kesalahan pada proses yang
menyebabkan ketidaksesuaian pada produk. Kalau diambil contoh sederhana pada lembaga
peradilan agama, bahwa bukan hanya terfokus pada selesainya perkara ditangani dengan
terbitnya sebuah produk putusan atau penetapan, akan tetapi perlu juga ada upaya penekanan
agar ada tindakan preventive untuk menjaga tidak ada kesalahan pada proses melahirkan
putusan atau penetapan tersebut yakni dengan adanya hukum acara yang diatur secara rinci
dalam SOP.
Akibat perkembangan dunia semakin melaju, maka ISO seri 9001:1994 hanya berusia 6
tahun dan pada lahir kembali seri 9001:2000. Kalau pada seri 9001:1994 lebih fokus pada
proses manufacturing atau proses industri dengan suatu pabrik, sehingga sangat sulit
diterapkan pada organisasi bisnis berskala kecil, maka pada seri 9001:2000 tidak lagi dikenal
ada 20 klausul wajib, tetapi lebih pada proses bisnis yang terjadi dalam organisasi. Sehingga
walaupun kecil suatu organisasi tetap dapat menginplementasikan ISO 9001:2000, dengan
berbagai pengecualian pada proses bisnisnya. Oleh karena itu seri 9001:2000 ini mewajibkan
6 prosedur yang harus terdokumentasi, yakni: Control of Document, Control of Record,
Control of Non conforming Product, Internal Audit, Corrective Action, dan Preventif Action.
Pada perkembangan berikutnya kemudian dimunculkan, seri ISO 9001:2008 lahir sebagai
bentuk penyempurnaan atas revisi tahun 2000. Perbedaan secara signifikan antara seri
9001:2000 dengan seri 9001:2008 lebih menekankan pada efektivitas proses yang
dilaksanakan dalam organisasi tersebut. Jika pada seri ISO 9001:2000 harus dilakukan
corrective dan preventif action, maka seri 9001:2008 menetapkan bahwa proses corrective
dan preventif yang dilakukan harus secara efektif berdampak positif pada perubahan proses
yang terjadi dalam organisasi. Selain itu, penekanan pada control proses outsourcing menjadi
bagian yang disoroti dalam seri ISO 9001:2008.(Wawan Setyawan, 2009).
Pada seri ISO 9001:2008 ini dikenal dengan 8 Prinsip Manajemen, lalu dalam
operasioanalnya diurai dalam 8 klausul yang diserta dengan bagian dan sub bagian dari 8
klausul tersebut. Maka pada reformasi birokrasi ada dikenal dengan 8 area perubahan, maka
dalam ISO 9001:2008 ini dikenal dengan 8 prinsip manajemen. Adapun 8 prinsip manajemen
yang dimaksud adalah:
1. Customer Focus, yakni semua aktifitas perencanaan dan implementasi system sematamata untuk memuaskan customer. (memuaskan para pihak dalam dunia peradilan)
2. Leadership, yakni Top Manajemen berfungsi sebagai Leader dalam mengawal
implementasi system bahwa semua gerak organisasi selalu terkontrol dalam satu
komando dengan komitmen yang sama dan gerak yang sinergy pada setiap elemen
organisasi. Bila dikaitkan dengan lembaga peradilan, maka Ketua Pengadilan menjadi
pemimpin untuk mengawal pelaksanaan SOP yang telah ditetapkan dan gerak para
pejabat dan pegawai dalam setiap sub bagian, selalu terkontrol oleh Ketua dan tetap
berada dalam satu komando.
3. Keterlibatan semua orang (Involvement of people), yakni semua elemen dalam
organisasi terlibat dan concern dalam implementasi system manajemen mutu sesuai

fungsi kerjanya masing-masing, bahkan hingga office boy sekalipun hendaknya


senantiasa melakukan yang terbaik dan membuktikan kinerjanya layak serta
berkualitas pada fungsinya. Bila dikaitkan dengan lembaga peradilan, maka mulai dari
pimpinan, hakim, pejabat kepaniteraan, pejabat kesekreteriatan, kejurusitaan, sampai
pada honorer harus semuanya terlibat secara langsung ikut mengimplementasikan
system manajemen mutu pada lembaga tersebut, sesuai dengan tugas pokok dan
fungsinya masing-masing. Contoh, seorang Ketua Majelis yang mempunyai
TUPOKSI membuat PHS, maka Ketua Majelis hakim itu sendiri lah yang membuat
PHS tersebut, bukan minta dibuatkan kepada pegawai atau staf, karena
ketidakmampuan hakim tersebut menggunakan perangkat IT yang ada di pengadilan
itu sendiri.
4. Pendekatan Proses (Process approach), yakni aktivitas implementasi system selalu
mengikuti alur proses yang terjadi dalam organisasi. Pendekatan pengelolaan proses
dipetakan melalui bisnis proses. Dengan demikian pemborosan karena proses yang
tidak perlu bisa dihindari atau sebaliknya, ada proses yang tidak terlaksana karena
pelaksanaan yang tidak sesuai dengan alur atau jalannya proses (flow proces) itu
sendiri yang berdampak pada hilangnya kepercayaan pelanggan. Bila hal ini dikaitkan
dengan lembaga peradilan khususnya peradilan agama tentu Pendekatan Proses ini
dapat diselaraskan dengan prosedur penanganan perkara, mulai dari penerimaan
perkara sampai pencari keadilan mendapatkan produk dari pengadilan. Prosedur
penyelesaian perkara tersebut harus dibuat seefisien mungkin agar tidak ada
pemborosan.
5. Pendekatan system ke Manajemen (system approach to management), yakni
implementasi system mengedepankan pada cara pengelolaan (manajemen) proses
bukan sekedar menghilangkan masalah yang terjadi. Karena itu usaha-usaha
berkelanjutan yang dilakukan untuk mengembangkan dan memperbaiki produk,
pelayanan, ataupun proses. (kaizen continual improvement). Pola pengelolaannya
bertujuan memperbaiki cara dalam menghilangkan akar penyebab masalah dan
melakukan improvement (usaha memperbaiki) untuk menghilangkan potensi masalah.
Contoh sederhana dalam lembaga peradilan, apabila proses minutasi berkas terjadi
keterlambatan disebabkan banyaknya jumlah perkara yang diputus, pimpinan tidak
hanya sekedar mengatasi masalah dengan memaksa si petugas untuk
menyelesaikannya dengan lembur. Pimpinan harus berusaha memperbaikinya dengan
menghilangkan akar penyebab masalah. Apakah dengan membuat suatu aplikasi yang
dapat memudahkan petugas untuk menyelesaikan minutasinya, atau juga membuat
regulasi yang dapat mengantisipasi potensi keterlambatan yang akan terjadi.
6. Perbaikan berkelanjutan (Continual improvement), dalam hal ini improvement, harus
tetap berkelanjutan, karena improvement, adalah roh implementasi ISO 9001:2008.
Oleh karena itu SOP yang telah disusun dengan bagus, jangan dianggap sebagai
barang antik yang tidak dapat diperbaiki, akan tetapi tetap membuka peluang untuk
direviw atau dikaji ulang untuk disesuaikan dengan perkembangan yang ada.
7. Pendekatan Fakta sebagai Dasar Pengambilan Keputusan (Factual approach to
decision making), yakni: setiap keputusan dalam implementasi system selalu
didasarkan pada fakta dan data. Tidak ada data (bukti implementasi) sama dengan
tidak dilaksanakan system ISO 9001:2008. Oleh karena itu setiap mengambil

keputusan bukan didasarkan kepada asumsi-asumsi, tapi selalu melihat fakta realitas
yang ada. Kemudian seluruh implementasi yang dilakukan selalu dibuktikan dengan
dokumen atau data yang lengkap, atau dengan ungkapan kerjakanlah apa yang telah
anda tulis, dan tulislah apa yang telah anda kerjakan.
8. Kerjasama yang saling menguntungkan dengan pemasok (Mutually beneficial
supplier relationships). Pemasok (suplier) bukanlah pembantu, tetapi mitra usaha
(business fartner), karena itu harus terjadi pola hubungan saling menguntungkan.
Sepertinya klausul yang ke delapan ini lebih mudah diterapkan dalam sebuah
perusahaan industri, yakni dalam mengelola perusahaannya dia memerlukan pemasok
sebagai bahan baku, dan mengahasilkan produk untuk customer.
C. MENGENAL ISO 9001 2015
Secara garis besar terdapat enam perubahan standard ISO 9001:2015, yakni:
1. Penggunaan istilah-istilah yang lebih umum
Dibandingkan versi lama ISO 9001:2008, standar versi terbaru ISO 9001:2015
menggunakan istilah-istilah yang lebih umum. Seperti kata produk tidak ada lagi
dalam versi terbaru, istilah ini diganti dengan Barang dan Jasa.
2.

Konteks Organisasi.
Standar ISO 9001:2015 memperkenalkan persyaratan yang berkaitan dengan konteks
organisasi, yang ditempatkan pada klausul 4.1 dan 4.2., yakni: 4.1. Understanding the
organization and its context (Memahami organisasi dan konteksnya) dan klausul
4.2.Understanding the needs and expectation of interested parties (Memahami
kebutuhan dan harapan dari pihak yang berkepentingan).

3. Process Approach
ISO 9001:2015 mempertegas model Process Approach (pendekatan proses) sebagai
model yang harus diterapkan perusahaan (baca lembaga peradilan). Hal ini sangat
diperlukan dan sangat baik untuk diterapkan di perusahaan, agar perusahaan mampu
mengidentifikasi, mengukur dan mengevaluasi aktivitas di setiap proses, sehingga
perusahaan dapat mencapai output yang diharapkan. Artinya bila hal ini diterapkan di
lembaga peradilan, maka aktivitas setiap proses mulai dari pendaftaran perkara,
register perkara, penetapan majelisnya, penetapan hari sidangnya, proses
pemanggilannya, proses persidangannya, sampai keluar produk berupa putusan
maupun penetapan, dan bahkan sampai kepada proses pemberian akta cerai (khusus
perkara perceraian), pihak lembaga harus mampu mengidentifikasi, mengukur dan
mengevaluasinya. Berarti kalau pada ISO 9001:2008, lebih menitik beratkan kepada
kelengkapan documen, maka pada ISO 9001:2015 ini lebih menekankan kepada
proses yang berjalan, kendatipun semua proses ini harus terdokumentasi. Pada ISO
9001 :2015 klausul 4.4.2 Process Approach memuat ketentuan penerapan model
process approach. (http://zulkiflinasution.blogspot.co.id/2013/12/ini-dia-perubahaniso-90012015.html, dilihat pada Tanggal 30 Nopember 2015)
4. Risk and Preventive Action (Resiko dan upaya pencegahannya)
ISO 9001:2015 ini menjadikan Risk and Preventive Action, sebagai persyaratan
standard. Perusahaan diwajibkan mengidentifikasi resiko yang berkaitan dengan
mutu. Hasil dari identifikasi ini nanti akan berujung kepada upaya

preventif (Preventive Action).


5. Documented Information (informasi yang terdokumentasi)
ISO 9001:2015 ini tidak lagi menggunakan istilah Document dan Record, akan
tetapi yang dipakai adalah istilah Document Information. Penggantian istilah ini guna
menghindari kesalahpahaman pengertian dokumen dan rekaman dalam penerapan
ISO 9000.
6. Control of external provision of goods and services. (Pengendalian penyediaan
eksternal barang dan jasa .
Pada ISO 9001:2008, masalah Pengendalian penyediaan barang dan jasa juga sudah
ada, yakni ada pada klausul 7.5., namun pada ISO 9001:2015 ini lebih dipertegas lagi,
dan ditempatkan pada klausul 8.4.
Selain perubahan prinsip yang ada pada ISO 9001:2015, terdapat juga beberapa perubahan
yang antara lain:
1. Seperti
diketahui
ISO
9001-2008
mewajibkan
bahwa management
representative (MR) harus berasal dari manajemen perusahaan itu sendiri, sedangkan
dalam standar terbaru ISO9001-2015 tidak lagi mensyaratkan management
representative harus dari jajaran manajemen perusahaan.
2. ISO 9001 : 2015 tidak mewajibkan perusahaan memiliki quality manual (manual
mutu)
Bagi perusahaan yang mengadopsi ISO 9001 versi baru (2015), quality manual tidak perlu
dibuat. Standar versi terbaru tidak mewajibkan dokumen itu.
Oleh karena itu dokumen yang wajib dibuat guna penerapan ISO 9001 versi 2015:, antara
lain ialah

Kebijakan Mutu
Kebijakan mutu merupakan dokumen pertama yang harus dibuat: Kebijakan mutu
adalah dokumen yang berisi kebijakan manajemen terhadap mutu. Kebijakan mutu
suatu dokumen yang isinya hampir mirip dengan visi misi dengan sedikit perbedaan.

Sasaran Mutu
Sasaran mutu atau target tiap-tiap unit kerja merupakan dokumen yang harus dibuat
setelah kebijakan mutu. Sasaran mutu harus terukur dan senantiasa dimonitor secara
berkala. Orang sering menyebut sasaran mutu dengan istilah KPI (key performance
index).

Ruang Lingkup sistem manajemen mutu (SMM)


Harus ada dokumen yang menyatakan ruang lingkup penerapan sistem manajemen
mutu. Ruang lingkup pada Pengadilan adalah meliputi seluruh kegiatan di Pengadilan,
baik yang ada dikepaniteraan maupun yang ada di kesekretariatan.

Rekaman Kalibrasi (Calibration): Bukti kalibrasi atau verifikasi alat ukur harus
tersedia (klausul 7.1.5.2). Kalibrasi adalah kegiatan untuk menentukan kebenaran
konvensional nilai penunjukkan alat ukur dan bahan ukur dengan cara
membandingkan terhadap standar ukur yang mampu telusur (traceable) ke standar

nasional maupun internasional untuk satuan ukuran dan/atau internasional dan bahanbahan acuan tersertifikasi.

Rekaman Kompetensi: Dokumen yang menunjukkan bukti kompetensi personil


(klausul 7.2). Harus ada dokumen yang menunjukkan bahwa personil memiliki
kompetensi dalam bidang tugasnya. Adanya sertifikat pendidikan Hakim, sertifikat
Mediator, sertifikat pendidikan Panitera Pengganti, Juru Sita, sertifikat Pengadaan
Barang dan Jasa, sertifikat kebendaharaan, dan lain-lain adalah merupakan dokumen
yang membuktikan personil yang memiliki kompetensi.

Review order dan Perubahan order: Bukti review order atau perubahan order harus
ada. Ketika order diterima, order tersebut harus direview untuk menilai order dapat
dipenuhi atau tidak. Dokumen ini biasanya terdapat di bagian sales atau marketing.
Bukti review order bisa dalam bentuk notulen rapat atau tanda tangan yang
berwenang dalam dokumen order(klausul 8.2.3). Mungkin dalam hal ini, berbeda
dengan lembaga peradilan yang mempunyai asas tidak boleh menolak suatu perkara
yang diajukan. Namun dapat juga dianalogikan, yakni dengan mereviu atau memberi
kesempatan kepada pelanggan (pencari keadilan) untuk memperbaiki surat gugatan
atau surat permohonannya, karena belum memenuhi standar untuk dilanjutkan dalam
pemeriksaan selanjutnya.

Bukti seleksi dan evaluasi supplier: Dokumen yang menunjukkan bahwa seleksi
dan evaluasi supplier telah dilakukan (klausul 8.4.1).
(http://zulkiflinasution.blogspot.co.id/2014/02/iso-90012015-tidak-mewajibkanquality.html, 30 Nopember 2015.
Bila dilihat dari klausul atau sturktur organisasi antara ISO 9001:2008 dengan ISO
9001:2015, ada perbedaan jumlah dan pengistilahannya. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada Tabel berikut ini:
STRUKTUR ISO 9001:2008
0. Pendahuluan
1. Ruang Lingkup
2. Referrensi Normatif
3. Terminologi dan Defenisi
4. Sistem Manajemen
Kualitas
5. Tanggung jawab
Manajemen
6. Manajemen Sumber Daya
7. Realisasi Produk
8. Pengukuran, Analisis, dan
Perbaikan/Peningkatan
(Improvement)

STRUKTUR ISO 9001: 2015


0. Pendahuluan
1. 1. Ruang Lingkup
2. Referensi Normatif
3. Terminologi dan Defenisi
4. Konteks Organisasi
5. Kepemimpinan
6. Perencanaan
7. Pendukung (support)
8. Operasional
9. Evaluasi Kinerja
10. Perbaikan Peningkatan
(Improvement)

D. RENCANA PENERAPAN ISO 9001: 2015.


1. Masa Berlaku ISO 9001:2008
Biasanya apabila terbit Sistem Manajemen Mutu yang terbaru, maka masa berlaku
ISO sebelumnya adalah selama tiga tahun. Oleh karena ISO 9001:2015, telah terbit

pada tahun 2015, maka masa berlaku ISO versi 9001:2018 akan berakhir tahun 2018.
Dengan demikian bagi perusahaan atau lembaga yang sudah mendapatkan sertifikat
ISO 9001:2008, harus dapat meraih sertifikat ISO 9001:2015, sebelum berakhir tahun
2018, apabila perusahaan atau lembaga tersebut masih menginginkan sertifikat Sistem
Manajemen Mutu tidak hilang dari perusahaan atau lembaga dimaksud.
Oleh karena itu dengan terbitnya ISO 9001:2015, pada Oktober 2015, maka mulai
Maret atau April 2017, perusahaan atau lembaga yang telah bersertifikat ISO
9001:2008, harus melakukan transisi ke ISO 9001:2015, dan sejak Oktober 2018
sertifikat ISO 9001:2008 tidak berlaku lagi.
Sehubungan dengan itu maka Pengadilan Agama Stabat Kls I B yang telah mendapat
sertifikat ISO 9001:2008 pada tahun 2014, Pengadilan Agama Jakarta Selatan KLs I
A, dan Pengadilan Agama Jakarta Pusat yang telah mendapatkan sertifikat ISO
9001:2008 pada tahun 2015 ini, harus bergegas untuk melakukan transisi paling
lambat pada bulan Maret atau April tahun 2017.
2. Langkah-langkah mendapatkan ISO 9001:2015
Berikut ini kami sampaikan panduan atau langkah-langkah mendapatkan sertifikat
ISO 9001:2015, sebagai berikut:
a. Mengetahui siapa yang mengeluarkan sertifikat ISO.
Sertifikat ISO 9001:2015 dikeluarkan oleh lembaga yang disebut badan sertifikasi.
Badan sertifikasi yang eksis di Indonesia cukup banyak. Sebut saja diantaranya
Sucofindo, SAI Global, TUV NORD, SGS, BVQI, Lloyd, DQS, MSA, ICSN, GIC.
Dengan mengetahui lembaga yang berhak mengeluarkan sertifikat ISO tersebut, maka
sejak awal sudah mulai melakukan kerja sama dengan lembaga tersebut. Sertifikat
ISO 9001:2008 yang diperoleh Pengadilan Agama Stabat Kls I B, adalah dari Badan
sertifikasi SAI Global.
b. Cara mendapatkan sertifikat ISO 9001
Ada dua syarat untuk mendapatkan sertifikat ISO 9001: 2015, yakni, Telah
menerapkan sistem manajemen mutu IS0 9001:2015 sekurang-kurangnya tiga bulan,
dan lulus audit sertifikasi.
c. Mekanisme mengajukan audit sertifikasi
Setelah organisasi kita menerapkan ISO 9001 sekurang-kurangnya 3 bulan, baru kita
boleh mengajukan diri untuk diaudit ke badan sertifikasi yang dipilih. Badan
sertifikasi akan meminta kita untuk mengirimkan dokumen ISO 9001 seperti pedoman
mutu, kebijakan mutu, sasaran mutu, 6 prosedur wajib, prosedur kerja
departemen/bagian. Kita juga diminta untuk mengirimkan bukti pelaksanaan internal
audit dan rapat tinjauan manajemen.
d. Berapa lama proses audit sertifikasi
Lamanya waktu audit ditentukan oleh ruang lingkup dan bidang pekerjaan lembaga
kita. Biasanya, audit dilakukan dalam 2 stage; stage 1 untuk memeriksa pemenuhan
persyaratan dokumentasi, stage 2 untuk memeriksa pemenuhan persyaratan
implementasi secara keseluruhan.
e. Standar kelulusan untuk audit sertifikasi
Organisasi atau lembaga kita dinyatakan lulus jika tidak ada temuan yang bersifat

majour (fatal). Temuan yang bersifat majour terjadi karena adanya sistem yang tidak
berjalan sama sekali atau ada persyaratan ISO 9001 yang tidak diterapkan tanpa
alasan. Temuan lain disebut minor dan observasi. Temuan minor terjadi bila organisasi
kita hanya tidak konsisten dalam menjalankan sistem atau hanya sebagian persyaratan
yang diterapkan dari yang seharusnya. Adapun temuan observasi hanya bersifat saransaran perbaikan. Temuan minor dan observasi tidak menyebabkan kegagalan
melainkan hanya perlu perbaikan-perbaikan kecil saja.
f. Lama sertifikat ISO 9001 diterima dari dinyatakan lulus
Lembaga kita diwajibkan untuk melakukan perbaikan terhadap temuan-temuan yang
disampaikan terlebih dahulu sebelum proses pencetakan sertifikat. Setiap badan
sertifikasi memiliki lama waktu pencetakan sertifikat yang berbeda-beda mengingat
ada beberapa badan sertifikasi yang menginduk ke luar negeri. Tapi biasanya
waktunya berkisar antara 2 minggu sampai 1 bulan.
g. Lama masa berlaku sertifikat ISO 9001
Sertifikat ISO 9001: 2015 berlaku untuk 3 tahun. Setelah 3 tahun, lembaga kita akan
re-sertifikasi. Dalam masa 3 tahun, kita akan diaudit dalam periode tertentu (6 bulan
sekali atau setahun sekali) yang disebut dengan surveilance diaudit audit.
h. Biaya sertifikasi ISO 9001:2015
Biaya sertifikasi ISO 9001:2015, berbeda-beda tergantung bidang pekerjaan dan besar
organisasi anda. Setiap badan sertifikasi memiliki standar harga yang berbeda-beda.
Namun yang jelas, ada 2 komponen biaya yang harus kita bayar, yakni: biaya audit
sertifikasi, yang dikeluarkan di awal. Kemudia biaya audit surveilance. ini
dikeluarkan dalam jangka waktu tertentu (6 bulan sekali atau setahun sekali).
Sertifikat ISO 9001 dapat didapatkan dengan mudah bila kita telah secara konsisten
menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9001: 2015.
(http://konsultanisosemarang.com/cara-mendapatkan-sertifikat-iso-90012015/, 30
Nopember 2015)
E. PENUTUP
Sebagai warga peradilan agama yang selalu bekerja untuk mendapatkan ridha Allah SWT,
apabila kita bekerja keras dan punya komitmen bersama, maka untuk mendapatkan sertifikasi
ISO 9001, khususnya ISO 9001:2015, tentu akan dapat kita raih.
Pentingnya lembaga kita mendapatkan sertifikat ISO, tentu bukan dimaksudkan untuk gagahgahan atau pamer kemampuan, akan tetapi dengan menerapkan Sistem Manajemen Mutu,
tentu tujuan utamanya untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat pencari
keadilan. Sebab dengan menerapkan Sistem Manajemen Mutu di lembaga peradilan, maka
pelayanan lembaga tersebut kepada masyarakat akan dapat dilakukan dengan tepat waktu,
efisien, biaya murah dan berkeadilan.
Kemudian dengan diterapkannya Sistem Manajemen Mutu di lembaga peradilan, maka
tujuan SPIP yang tertuang dalam PP Nomor 60 tahun 2008, tentang Sistem Pengendalian
Intern Pemerintah dapat tercapai, yakni efektif dan efisien, kehandalan pelaporan keuangan,
pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan.
Penerapan SPIP adalah salah satu dari pelaksanaan reformasi birokrasi yang merupakan
tuntutan yang harus dilaksanakan oleh semua lembaga dan kementerian di negara tercinta ini.
Sumber Rujukan:

1. Manual Mutu ISO 9001:2008 Pengadilan Agama Stabat Kls I B.


2. Website Badilag
3. M.N. Nasuton, 2001
4. Sugeng Listyo Prabowo, 2009).
5. http://zulkiflinasution.blogspot.co.id/2014/02/iso-90012015-tidak-mewajibkanquality.html
6. PP Nomor 60 Tahun 2008