Anda di halaman 1dari 34

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)
Satuan Pendidikan

: SMA Al Islam 1 Surakarta

Kelas/Semester

: XI / I

Mata Pelajaran

: Sejarah Peminatan

Materi Pembahasan

: Perlawanan Rakyat dalam Menentang Kolonialisme


Barat di Berbagai Daerah

Alokasi Waktu

: 2 x 45 menit

Pertemuan ke

:1

A. Kompetensi Inti
1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
2. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung
jawab, peduli

(gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun,

responsif, dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari


solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif
dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri
sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
3. Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual,
konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin
tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan
humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan,
dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta
menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik
sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah
abstrak

terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di

sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai


kaidah keilmuan.

B. Kompetensi Dasar
1.1 Menghayati nilai-nilai peradaban dunia yang menghargai perbedaan
sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa.
2.2 Mengembangkan sikap jujur, rasa ingin tahu, tanggung jawab, peduli,
santun, cinta damai dalam

mempelajari

peristiwa sejarah sebagai

cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.


3.7 Menganalisis pengaruh imperialisme dan kolonialisme Barat di
Indonesia dalam bidang politik, ekonomi, sosial- budaya, pendidikan
dan agama serta perlawanan kerajaan Indonesia terhadap imperialisme
dan kolonialisme Barat.
C. Indikator Pencapaian Kompetensi
1.1.1 Menunjukkan nilai-nilai syukur pada ciptaan Tuhan YME tentang
2.1.1
2.1.2
2.1.3

paham-paham yang mempengaruhi kehidupan manusia


Menunjukkan rasa ingin tahu dalam pembelajaran sejarah
Menunjukkan sikap santun dalam pembelajaran sejarah
Menunjukkan sikap tanggungjawab dalam mengerjakan tugas-tugas

3.3.1

dari pembelajaran sejarah


Menjelaskan latar belakang

3.3.2
3.3.3

kolonialisme Barat di berbagai daerah.


Menjelaskan jalannya perlawanan di masing masing daerah.
Menjelaskan akhir perlawanan terhadap kolonialisme Barat di masing-

terjadinya

perlawanan

terhadap

masing daerah.
3.3.4 Membuat peta konsep sesuai materi
D. Materi Ajar
Perlawanan Rakyat dalam Menentang Kolonialisme Barat di Berbagai
Daerah (terlampir)
E. Pendekatan, Strategi dan Metode Pembelajaran
1. Pendekatan : Saintific
2. Model
: Contextual Teaching Learning
3. Metode
: Ceramah, diskusi, penugasan
F. Media, Alat dan Sumber Pembelajaran

Media

Video
LKS
Peta Konsep
Alat
Laptop
Proyektor
Sumber Pembelajaran
a) Farid, Samsul. 2014. Sejarah 2 untuk SMA/MA Kelas XI. Bandung:
Yrama Widya
b) Mardikaningsih, Rini dan Sumaryanto. 2014. Sejarah 2A untuk
Kelas XI SMA dan MA. Surakarta: PT Tiga Serangkai Pustaka
Mandiri
c) Mustofo, M. Habieb. 2014. Sejarah 2. Bogor: Yudhistira
d) Supriatna, Nana. 2014. Advance Learning History 2. Bandung:
Grafindo
e) Tim Masmedia Buana Pustaka. 2013. Sejarah untuk Kelas XI.
Masmedia Buana Pustaka: Sidoarjo
f) Sumber dari Internet

G. Deskripsi Kegiatan Pembelajaran


Rincian Kegiatan
Pendahuluan

Waktu

Memberi Salam
Menanyakan kepada peserta didik kesiapan dan kenyamanan
untuk belajar
Menanyakan kehadiran peserta didik
Mempersilakan salah satu peserta didik memimpin doa
Menyampaikan tujuan pembelajaran dan kompetensi yang harus
dikuasai peserta didik melalui power point
Kegiatan Inti dengan menggunakan model CTL
Mengamati

Peserta didik bekerja sendiri dan mengkonstruksi sendiri


pengetahuan

dan

kemampuannya

mengenai

materi

yakni

10 menit

60 menit

Rincian Kegiatan
Waktu
Perlawanan Rakyat dalam Menentang Kolonialisme Barat di
Berbagai Daerah

Melihat video dan gambar-gambar terkait materi

Guru menilai keterampilan siswa mengamati


Menanya

Peserta didik berdialog secara interaktif dengan guru tentang

materi serta nilai-nilai apa saja yang dapat diambil


Peserta didik berdiskusi untuk memahami apa sajakah nilai-nilai
yang terkandung di dalamnya.

Mencoba/mengeksplorasi

Peserta didik dibagi ke dalam tujuh kelompok.


Selanjutnya menjelaskan langkah-langkah kegiatan pembelajaran
dilanjutkan dengan membagikan lembar kerja siswa, untuk
dikerjakan secara kelompok dan mengaktualisasikan nilai-nilai
demokrasi

pada

peserta

didik.

Masing-masing

kelompok

membahas:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Perlawanan Pattimura
Perlawanan Kaum Padri
Perlawanan Diponegoro
Perang Bali
Perang Banjar
Perang Aceh
Perang Tapanuli

Guru menilai sikap siswa dalam kerja kelompok


Mengasosiasi

Memberi kesempatan peserta didik untuk berdiskusi, dan


mencatat hasil dari permasalahan sesuai yang telah diberikan
kelompok lawan, dan kelompok lain berhak memberikan
tanggapan terhadap perwakilan yang menyampaikan gagasan di

Rincian Kegiatan
depan kelas.

Waktu

Guru membimbing/menilai kemampuan siswa mengolah data dan


merumuskan kesimpulan
Mengomunikasikan

Perwakilan kelompok menyampaikan hasil diskusi melalui

presentasi.
Peserta didik diberi kesempatan bertanya jawab mengenai materi

yang telah dibahas


Sebelum dijawab oleh guru, Peserta didik lain diberi kesempatan

untuk menjawab pertanyaan tersebut


Setiap kelompok mengumpulkan hasil diskusinya kepada guru

Guru menilai kemampuan siswa berkomunikasi lisan dan tulisan


Penutup

Peserta didik menyimak penjelasan guru mengenai inti materi

yang telah didiskusikan sebagai hasil kesimpulan


Sebagai bahan refleksi, guru meminta Peserta didik untuk
mengungkapkan perasaan mereka sewaktu belajar (menghargai

prestasi)
Peserta didik mengutarakan perasaan tentang pembelajaran yang

dialami
Peserta didik mengerjakan tes yang diberikan guru sebagai bahan

umpan balik
Peserta didik memperhatikan tindak lanjut guru mengenai tugas
untuk pelajaran berikutnya
H. Penilaian Proses dan Hasil Belajar
1) Penilaian sikap
a. Jenis dan Teknik Penilaian:
1) Jenis penilaian : penilaian sikap
2) Teknik
: observasi guru
b. Bentuk Instrumen
a) Bentuk
: Rubrik observasi

20 menit

b) Instrumen

: terlampir

2) Penilaian pengetahuan
a. Jenis dan Teknik Penilaian:
1) Jenis penilaian : Penilaian pengetahuan
2) Teknik
: Tes tertulis
b. Bentuk Instrumen
Bentuk
: Tes tertulis

Lampiran 1 Materi Ajar


Perlawanan Di Berbagai Daerah Di Indonesia Dalam Menentang Dominasi Asing
Pada Abad 19. Untuk mempertahankan kedaulatannya muncullah perlawanan bangsa
Indonesia antara abad 16-18. Yang melakukan perlawanan terhadap Portugis antara
lain adalah Sultan Hairun dari ternate, kemudian Demak. Kerajaan yang bangkit
menentang VOC antara lain Mataram, banten dan Gowa/Makassar.
Perlawanan Rakyat Maluku ( Patimura) tahun 1817

Tindakan sewenang-wenang yang dilakukan VOC di Maluku kembali dilanjutkan


oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda setelah berkuasa kembali pada tahun 1816
dengan berakhirnya pemerintah Inggris di Indonesia tahun 1811-1816. Berbagai
tindakan yang dilakukan oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda di bawah ini
menyebabkan timbulnya perlawanan rakyat Maluku.

Penduduk wajib kerja paksa untuk kepentingan Belanda misalnya di


perkebunan-perkebunan dan membuat garam.

Penyerahan wajib berupa ikan asin, dendeng dan kopi.

Banyak guru dan pegawai pemerintah diberhentikan dan sekolah hanya


dibuka di kota-kota besar saja.

Jumlah pendeta dikurangi sehingga kegaitan menjalankan ibadah menjadi


terhalang.

Secara khusus yang menyebabkan kemarahan rakyat adalah penolakan


Residen Van den Berg terhadap tuntutan rakyat untuk membayar harga perahu
yang dipisah sesuai dengan harga sebenarnya.

Tahun 1817 rakyat Saparua mengadakan pertemuan dan menyepakati untuk memilih
Thomas Matulessy (Kapitan Pattimura) untuk memimpin perlawanan. Keesokan
harinya mereka berhasil merebut benteng Duurstede di Saparua sehingga residen Van
den Berg tewas. Selain Pattimura tokoh lainnya adalah Paulus Tiahahu dan puterinya
Christina Martha Tiahahu. Anthoni Reoak, Phillip Lattumahina, Said Perintah dan
lain-lain. Perlawanan juga berkobar di pulau-pulau lain yaitu Hitu, Nusalaut dan
Haruku penduduk berusaha merebut benteng Zeeeland.
Untuk merebut kembali benteng Duurstede, pasukan Belanda didatangkan dari
Ambon dibawah pimpinan Mayor Beetjes namun pendaratannya digagalkan oleh
penduduk dan mayor Beetjes tewas. Pada bulan Nopember 1817 Belanda
mengerahkan tentara besar-besaran dan melakukan sergapan pada malam hari
Pattimura dan kawan-kawannya tertangkap. Mereka menjalani hukuman gantung
pada bulan Desember 1817 di Ambon. Paulus Tiahahu tertangkap dan menjalani
hukuman gantung di Nusalaut. Christina Martha Tiahahu dibuang ke pulau Jawa.
Selama perjalanan ia tutup mulut dan mogok makan yang menyebabkan sakit dan
meninggal dunia dalam pelayaran pada awal Januari tahun 1818.
Perang Padri ( Tuanku Imam Bonjol) tahun 1821-1837

Mengapa perlawanan di Sumatra Barat disebut Perang Padri? Istilah Padri berasal
dari kata Padre yang berarti Ulama. Pada mulanya perang Padri merupakan Perang
Saudara antara para Ulama berhadapan denegan Kaum Adat. Setelah Belanda ikut
campur yang semula membantu kaum adat berubahlah perang itu menjadi perang
Kolonial.

Pertentangan antara Kaum Padri dan Kaum Adat itu dapat dikemukankan
sebab-sebabnya sebagai berikut :

Kaum Adat adalah kelompok masyarakat yang walaupun telah memeluk


agama islam namun masih teguh memegang adat dan kebiasaan-kebiasaan
lama yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Contoh :
Menurut adat Minangkabau, warisan diberikan menurut aturan Matrilineal (menurut
garis Ibu).
Menurut hukum Islam maka pembagian warisan itu berdasarkan garis patrilineal
(garis keturunan ayah). Sedangkan kebiasaan lama yang buruk dan bertentangan
dengan agama adalah berjudi, menyabung ayam serta meminum minuman keras.
Salah seorang pemimpin kaum Adat ialah Datuk Sati.

Kaum Padri adalah kelompok masyarakat Islam di Sumatra Barat yang telah
menunaikan ibadah haji di Mekkah serta membawa pandangan baru.

Terpengaruh oleh gerakan Wahabi mereka berusaha hidup sesuai dengan


ajaran Alquran dan Hadist, berusaha melakukan pembersihan terhadap
tindakan-tindakan masyarakat yang menyimpang dari ajaran tersebut.
Beberapa tokoh kaum Padri adalah Haji Miaskin, Haji Sumanik, Haji
Piobang. Tokoh lainnya adalah Malin Basa ( terkenal dengan nama Imam
Bonjol), Tuanku Mesiangan, tuanku Nan Renceh dan Datok Bandaharo.
Dengan perbedaan yang cukup mendasar tersebut terjadilah perebutan pengaruh
antara kaum adat dan kaum Padri di tengah-tengah masyarakat. Pernah diadakan
pertemuan untuk mengakhiri perbedaan tadi di Koto Tengah namun tidak berhasil dan
bahkan memicu pertikaian. Untuk menghadapi kaum Padri maka kaum Adat meminta
bantuan kepada Belanda pada tahun 1821 yang dapat Anda perlajari pada uraiannya
berikut ini.
Jalannya Perang Padri Tahun 1821-1825

Pada bulan April tahun 1821 terjadi pertempuran antara kaum Padri melawan
Belanda dan kaum Adat di Sulit Air dekat danau Singkarak.

Belanda mengirimkan tertaranya dari Batavia di bawah pimpinan Letkol Raaf


dan berhasil menduduki Batusangkar dekat Pagaruyung lalu mendirikan
benteng yang bernama Fort Van der Capellen.

Pada tahun 1824 dan 1825 terjadi perjanjian perdamaian antara Belanda
dengan kaum Padri di Padang yang pada pokoknya tidak akan saling
menyerang.

Tahun 1825-1830

Pada periode ini Belanda juga sedang menghadapi perang Diponegoro


sehingga perjanjian perdamaian di atas sangat menguntungkan Belanda.
Untuk menghadapi Kaum Padri, Belanda membangun benteng disebut Fort de
Kock (nama panglima Belanda) di Bukittinggi.

Tahun 1831-1837

Belanda bertekad mengakhiri perang Padri setelah dapat memadamkan Perang


Diponegoro. Tindakan yang dilakukan Belanda adalah mendatangkan pasukan
dipimpin oleh Letnan Kolonel Elout kemudian Mayor Michaels dengan tugas
pokok menundukkan Kaum Padri yang berpusat di Ketiangan dekat Tiku.
Selain itu Belanda juga mengirim Sentot Ali Basa Prawirodirdjo ( bekas

panglima Diponegoro ) serta sejumlah pasukan dari pulau Jawa walaupun


kemudian berpihak kepada kaum Padri.
Sejak tahun 1831 kaum Adat bersatu dengan kaum Padri untuk menghadapi Belanda.
Pada tanggal 25 Oktober 1833 Belanda menawarkan siasat perdamaian dengan
mengeluarkan Plakat Panjang yang isinya sebagai berikut :

Belanda ingin menghentikan perang

Tidak akan mencampuri urusan dalam negeri Minangkabau

Tidak akan menarik cukai dan iuran-iuran.

Masalah kopi, lada dan garam akan ditertibkan.

Imam Bonjol tetap waspada dengan siasat Belanda itu. Setelah tahun 1834 terjadi lagi
serangan sasaran utama serangan Belanda adalah benteng Bonjol yang dapat
direbutnya pada tanggal 16 Agustus 1837. Belanda mengajak Imam Bonjol berunding
namun kemudian ditangkap. Ia dibawa ke Batavia lalu dipindahkan ke Miinahasa
sampai wafatnya tahun 1864 dalam usia 92 tahun. Perlawanan dilanjutkan oleh
Tuanku Tambusai yang dapat dikalahkan Belanda tahun 1838.
Perang Diponegoro 1825-1830
Latar Belakang Perlawanan
Nama asli Pangeran Diponegoro adalah Raden Mas Ontowiryo, putra Sultan
Hamengku Buwono III. Karena pengaruh Belanda sudah sedemikian besarnya di
istana maka Diponegoro lebih senang tinggal di rumah buyutnya di desa Tegalrejo.
Secara umum sebab-sebab perlawanan Diponegoro dan para pengikutnya adalah
sebagai berikut :

Adat kebiasaan keraton tidak dihiraukan para pembesar Belanda duduk sejajar
dengan Sultan.

Masuknya pengaruh budaya Barat meresahkan para ulama serta golongan


bangsawan. Misalnya pesta dansa sampai larut malam, minum-minuman
keras.

Para bangsawan merasa dirugikan karena pada tahun 1823 Belanda


menghentikan sistem hak sewa tanah para bangsawan oleh pengusaha swasta.
Akibatnya para bangsawan harus mengembalikan uang sewa yang telah
diterimanya.

Banyaknya macam pajak yang membebani rakyat misalnya pajak tanah, pajak
rumah, pajak ternak.

Selain hal-hal tersebut ada kejadian yang secara langsung menyulut kemarahan
Diponegoro yaitu pemasangan patok untuk pembuatan jalan kereta api yang melewati
makam leluhur Diponegoro di Tegal Rejo atas perintah Patih Darunejo IV tanpa seijin
Diponegoro. Peristiwa tersebut menimbulkan sikap terang-terangan Diponegoro
melawan Belanda.
Perang Bali (I Gusti Ngurah Rai) tahun 1846-1849
Apakah Anda pernah berkunjung atau wisata ke Pulau Bali? Jika Anda berkunjung ke
Bali biasanya akan menuju kota Denpasar yang terletak di wilayah Badung. Selain
Badung pada abad 19 yang lalu terdapat beberapa kerajaan lain seperti Buleleng,
Klungkung dan seterusnya. Pada abad 19 sesuai dengan cita-citanya mewujudkan Pax

Netherlandica (perdamaian di bawah Belanda), Pemerintah Hindia Belanda berusaha


membulatkan seluruh jajahannya atas Indonesia termasuk Bali. Upaya Belanda itu
dilakukan antara lain melalui perjanjian tahun 1841 dengan kerajaan Klungkang,
Badung dan Buleleng. Salah satu isinya bebunyi: Raja-raja Bali mengakui bahwa
kerajaan-kerajaan di Bali berada di bawah pengaruh Belanda. Perjanjian ini
merupakan bukti keinginan Belanda untuk menguasai Bali.

Apakah faktor yang menyebabkan timbulnya perang Bali antara tahun 1846- 1849?
Masalah utama adalah adanya hak tawan karang yang dimiliki raja-raja Bali. Hak ini
dilimpahkan kepada kepala desa untuk menawan perahu dan isinya yang terdampar di
perairan wilayah kerajaan tersebut. Antara Belanda dengan pihak kerajaan Buleleng
yaitu Raja I Gusti Ngurah Made Karang Asem besarta Patih I Gusti Ketut Jelantik
telah ada perjanjian pada tahun 1843 isinya pihak kerajaan akan membantu Belanda
jika kapalnya terdampar di wilayah Buleleng namun perjanjian itu tidak dapat
berjalan dengan semestinya.
Pada tahun 1844 terjadi perampasan terhadap kapal-kapal Belanda di pantai Prancah
(Bali Barat) dan Sangsit (Buleleng bagian Timur). Belanda menuntut agar kerajaan
Buleleng melepaskan hak tawan karangnya sesuai perjanjian tahun 1843 itu namun
ditolak. Kejadian tersebut dijadikan alasan oleh Belanda untuk menyerang Buleleng.
Bagaimana jalannya perang Bali? Pantai Buleleng diblokade dan istana raja
ditembaki dengan meriam dari pantai. Satu persatu daerah diduduki dan istana
dikepung oleh Belanda. Raja Buleleng berpura-pura menyerah kemudian perlawanan
dilanjutkan oleh Patih I Gusti Ketut Jelantik.
Perang Buleleng disebut juga pertempuran Jagaraga karena pusat pertahanannya
adalah benteng di desa Jagaraga. Perang ini disebut pula Perang Puputan mengapa?
Karena perang dijiwai oleh semangat puputan yaitu perang habis-habisan. Bagi
masyarakat Bali, puputan dilakukan dengan prinsip sebagai berikut :

Nyawa seorang ksatri berada diujung senjata kematian di medan pertempuran


merupakan kehormatan.

Dalam mempertahankan kehormatan bangsa dan negara maupun keluarga


tidak dikenal istilah menyerah kepada musuh.

Menurut ajaran Hindu, orang yang mati dalam peperangan, rohnya akan
masuk surga.

Benteng Jagaraga berada di atas bukit, berbentuk Supit Urang yang dikelilingi
dengan parit dan ranjau untuk menghambat gerak musuh. Selain laskar Buleleng
maka raja-raja Karangasam, Mengwi, Gianyar dan Klungkung juga mengirim bala
bantuan sehingga jumlah seluruhnya mencapai 15000 orang. Semangat para prajurit
ditopang oleh isteri Jelantik bernama Jero Jempiring yang menggerakkan dan
memimpin kaum wanita untuk menyediakan makanan bagi para prajurit yang
bertugas digaris depan.
Pada tanggal 7 Maret 1848 kapal perang Belanda yang didatangkan dari Batavia
dengan 2265 serdadu mendarat di Sangsit. Pasukan Belanda dipimpin oleh Mayor
Jendral Van der Wijck menyerang Sangsit lalu menyerbu benteng Jagaraga. Serangan
Belanda dapat digagalkan. Setelah gagal, bagaimana upaya Belanda untuk
menundukkan Bali? Pada tanggal 1849 Belanda mendatangkan pasukan yang lebih
banyak berjumlah 15000 orang lebih terdiri dari pasukan infanteri, kavaleri, artileri
dan Zeni dipimpin oleh Jendral Mayor A.V Michiels dan Van Swieten. Benteng
Jagaraga dihujani meriam dengan gencar. Tak ada seorangpun laskar Buleleng yang
mundur, mereka semuanya gugur pada tangal 19 April 1849 termasuk isteri Patih
Jelantik yang bernama Jero Jempiring. Dengan jatuhnya benteng Jagaraga maka
Belanda dapat menguasai Bali utara. Selain puputan Buleleng, perlawanan rakyat
Bali juga terjadi melalui puputan Badung, Klungkung dan daerah lain walaupun
akhirnya pada tahun 1909 seluruh Bali jatuh ke tangan Belanda.
Perang Banjar (Pangeran Antasari) tahun 1859-1863
Perang Banjar merupakan perlawanan rakyat terhadap Belanda di Kalimantan
Selatan. Seperti halnya di daerah lain di Indonesia sebab-sebab perang adalah :

Faktor ekonomi. Belanda melakukan monopoli perdagangan lada, rotan,


damar, serta hasil tambang yaitu emas dan intan. Monopoli tersebut sangat
merugikan rakyat maupun pedagang di daerah tersebut sejak abad 17. Pada
abad 19 Belanda bermaksud menguasai Kalimantan Selatan untuk
melaksanakan Pax Netherlandica. Apalagi di daerah itu diketemukan tambang
batu bara di Pangaronan dan Kalangan.

Faktor politik. Belanda ikut campur urusan tahta kerajaan yang menimbulkan
berbagai ketidak senangan. Pada saat menentukan pengganti Sultan Adam
maka yang diangkat adalah Pangeran Tamjidillah yang disenangi Belanda.
Sedangkan Pangeran Hidayatullah yang lebih berhak atas tahta hanya
dijadikan Mangkubumi karena tidak menyukai Belanda.

Campur tangan Belanda di keraton makin besar dan kedudukan Pangeran


Hidayatullah makin terdesak maka ia melakukan perlawanan terhadap Belanda
bersama Pangeran Antasari, sepupunya. Siapakah para pengikut perjuangan tersebut?
Tidak kurang dari 3000 orang bersedia membantu termasuk tokoh-tokoh agama
seperti Kyai Demang Leman, Haji Langlang, Haji Nasrum dan Haji Buyasih. Pasukan
Antasari berusaha menyerang pos-pos Belanda di Martapura dan Pangaron.
Sebaliknya pada pertempuran tanggal 27 September 1859 Belanda dapat menduduki
benteng pasukan Pangeran Antasari di Gunung Lawak.
Tindakan Belanda berikutnya adalah menurunkan Sultan Tamjidillah dari tahta
sementara itu Pangeran Hidayatullah menolak untuk menghentikan perlawanan lalu
perti meninggalkan kraton, maka pada tahun 1860 kerajaan Banjar dihapuskan dan
daerah tersebut menjadi daerah kekuasaan Belanda. Apakah tindakan Belanda terebut
menyurutkan perlawanan Pangeran Antasari? Ternyata tidak. Walaupun Kyai Damang
Laman menyerah dan Pangeran Hidayatullan tertangkap alalu dibuang ke Cianjur

namun Pangeran Antasari tetap memimpin perlawanan bahkan ia diangkat oleh rakyat
menjadi pemimpin tertinggi agama dengan gelar Panembahan Amirudin Khalifatul
Mukminin pada tanggal 14 Maret 1862. Ia dibantu oleh para pemimpin yang lain
yaitu Pangeran Miradipa, Tumenggung Surapati dan Gusti Umah yang memusatkan
pertahanan di Hulu Teweh. Perlawanan Antasari berakhir sampai meninggal dunia
tanggal 11 Oktober 1862 kemudian dilanjutkan oleh puteranya bernama Pangeran
Muhamad Seman.
Perbandingan antara Perang Diponegoro dengan Perang Banjar dalam tiga hal berikut
ini :

Sebab perang

Jalan perang

Akhir perlawanan

Uraian :
Kesamaan :

Sebab ekonomi yaitu Belanda ingin mengeruk kekayaan di kedua kerajaan


tersebut termasuk monopoli dagang, pajak dan lain-lain.

Sebab politik tentang campur tangan soal jabatan. Di Mataram: pengangkatan


Patih Danudirjo IV di Banjar Pangeran Tamjudilah.

Jumlah pasukan beribu-ribu orang menggunakan berbagai peralatan/senjata


tradisional menghadapi meriam Belanda. Ada benteng pertahanan.

Perbedaan :

Perang Diponegoro: dihentikan secara licik melalui penangkapan dan


pembuangan para pemimpin perlawanan.

Perang Banjar: Antasari mangakhiri perlawanan karena sakit dan meninggal


dunia.

Perang Aceh tahun 1873-1904


Sampai abad 19 Aceh merupakan daerah yang berdaulat dan dihormati oleh dua
imperialis di Indonesia dan sekitarnya yaitu Inggris dan Belanda. Berdasarkan
Traktat/perjanjian London 1824 maka Aceh dijadikan daerah penyangga (Bufferstate)

antara kekuasaan Inggris di Malaka dengan Bengkulu yang diserahkan Inggris kepada
Belanda. Tahukah Anda negara penyangga jajahan Inggris dengan Perancis di Asia
Tenggara? Ya benar, negara itu adalah Muangthai yang tidak pernah dijajah. Keadaan
tersebut tidak dapat bertahan lama karena adanya kepentingan Belanda yang berniat
menduduki Aceh sehingga timbullah perlawanan rakyat Aceh.

Sebab-sebab Perang Aceh :

Belanda merasa berhak atas daerah Sumatra Timur yang diperoleh dari Sultan
Siak sebagai upah membantu Sultan dalam perang saudara melalui Traktat
Siak tahun 1858, sementara Aceh berpendapat daerah terebut merupakan
wilayahnya.

Sejak Terusan Suez dibuka tahun 1869 perairan Aceh menjadi sangat penting
sebagai jalur pelayaran dari Eropa ke Asia.

Keluarnya Traktat Sumatra tahun 1871 yang menyatakan bahwa Inggris tidak
akan menghalangi usaha Belanda untuk meluaskan daerah kekusaannya
sampai di Aceh dalam rangka Pax Netherlandica

Bagaimana reaksi Aceh menanggapi Traktat Sumatra yang mengancam


kedaulatannya? Aceh berusaha untuk mencari bantuan dengan mengirim utusan ke
Turki. Selain itu juga dijalin hubungan ke perwakilan negara Amerika Serikat dan
Italia di Singapura. Tindakan Aceh ini mencemaskan Belanda lalu menuntut Aceh
agar mengakui kedautalan Belanda. Aceh menolak tututan tersebut sehingga Belanda
melakukan penyerangan.

Sifat perlawanan Aceh ada dua macam yaitu politik dan keagamaan. Perlawanan
politik bertujuan untuk mempertahankan kedaulatan Aceh. Perlawanan politik
dipimpin oleh para bangsawan yang bergelar Teuku. Siapakah tokoh-tokoh
bangsawan tersebut? Mereka antara lain Teuku Umar dan isterinya bernama Cut
Nyak Dien, Panglima Polim, Sultan Dawutsyah, Teuku Imam Lueng Batta. Perang
juga bersifat keagamaan yaitu menolak kedatangan Belanda yang akan menyebarkan
agama kristen di Aceh. Tokoh keagamaan adalah para ulama yang bergelar Teungku
contoh Teungku Cik Di Tiro. Golongan ulama tidak mudah menyerah dan kompromi
terhadap Belanda.
Jalan perang

Pada bulan April tahun 1873 pasukan Belanda dipimpin oleh Mayor Jendral
JHR Kohler menyerang Aceh namun gagal bahkan Jendral Kohler tewas
dalam pertempuran memperebutkan masjid Raya.

Pada bulan Desember 1873 pasukan Belanda dipimpin oleh Letnan Jendral
Van Swieten dapat menduduki istana serta memproklamirkan bahwa kejaraan
Aceh sudah takluk. Nama Banda Aceh kemudian diganti kota raja. Apakah
Aceh benar-benar sudah takluk kepada Belanda? Ternyata tidak demikian.
Raja Aceh yaitu Sultan Mahmudsyah wafat karena sakit. Putranya yang
bernama Muhammad Dawotsyah menjalankan pemerintahan di Pagar Aye.
Rakyat Aceh tetap melanjutkan perlawanan dipimpin oleh Panglima Polim.

Fase berikutnya sejak tahun 1884 Belanda mempertahankan kekuasaan hanya


di daerah yang didudukinya saja. Disitu dibentuk pemerintahan sipil. Sistem
ini disebut Konsentrasi Stelsel.

Pada tahun 1893 Teuku Umar melakukan siasat menyerah kepada Belanda dan
memperoleh kepercayaan memimpin 250 orang pasukan bersenjata lengkap lalu
diberi gelar Teuku Umar Johan Pahlawan. Apakah tindakan Teuku Umar merupakan
penghianaatan bagi bangsanya ? Ternyata siasat itu hanya untuk mendapatkan senjata
yang cukup guna menghadapi Belanda berikutnya.

Belanda cukup sulit menghadapi perlawanan rakyat Aceh. Bagaimana


tindakan Belanda selanjutnya? Guna mengetahui sistem sosial serta rahasia
keuletan rakyat Aceh maka dikirimlah Dr. Snouck Hurgronye seorang ahli
dalam agama islam untuk menyelidiki hal itu.Hasil penyelidikannya
dibukukan dengan judul De Atjehers menurut Hurgronye ada dua cara
untuk menundukkan Aceh yaitu melakukan pendekatan kepada para
bangsawan dan mengangkat putra-putra mereka menjadi pamong praja pada
pemerintah Belanda. Kaum ulama harus dihadapi dengan kekuatan senjata
sampai menyerah.

Sejak 1896. Belanda bertekad menyelesaikan perang dengan mengirim


pasukan marsose (polisi militer) dengan panglimanya Letnan Kolonel Van
Geuts. Dalam pertempuran di Meulaboh pada tanggal 11 Pebruari 1899 Teuku
Umar gugur. Perlawanan masih berlanjut sampai akhirnya bulan Januari 1903
Sultan Dawutsyah menyerah, September 1903 Panglima Polim juga
menyerah. Mengapa Sultan Aceh menyerah kepada Belanda? Ternyata hal itu
karena kelicikan Belanda yaitu mengultimatum Sultan untuk menyerah
setelah menangkap isteri dan anak-anaknya.

Belanda masih melanjutkan pembersihan terhadap daerah yang terakhir bergolak


yaitu Gayo Alas (Aceh Tenggara) dipimpin oleh Letkon Van Daalen tahun 1904,
rakyat yang gugur 2922 orang. Perlawanan Cut Nyak Dien masih berlanjut selama 5
tahun. Ia memimpin pasukan keluar masuk hutan rimba dengan tekad rela
mengorbankan jiwa raga demi kemerdekaan bangsanya serta mengusir Belanda.
Perlawanan Cut Nyak Dien berakhir tahun 1905. Ia ditangkap dan dibuang ke Cianjur
lalu Sumedang hingga wafat 6 Nopembeer 1908, sedangkan Cut Meutia gugur tahun
1910.
Perang Tapanuli 1878-1907
Di wilayah Tapanuli terdapat beberapa kerajaan suku Batak salah satunya berpusat di
Bakkara. Raja terakhir di Bakkara ialah Sisingamangaraja XII.
Sebab-sebab terjadi perang Tapanuli :

Raja Sisingamangaraja tidak senang daerah kekuasaannya dikuasai Belanda


yaitu Tapanuli Selatan.

Untuk mewujudkan Pax Netherlandica, Belanda berniat menguasai Tapanuli


Utara pada saat yang sama Belanda juga melancarkan peperangan di Aceh.

Perang dimulai ketika Belanda menempatkan pasukannya di Tarutung, untuk


melindungi penyebaran agama kristen yang dilakukan oleh Nommensen yang
berkebangsaan Jerman. Sisingamangaraja XII menyerang kedudukan Belanda di
Tarutung. Selama 7 tahun terjadi peperangan di Tapanuli Utara yaitu di daerah Bahal
Batu, Soborong-borong, Balige Laguboti dan Lumban Julu.
Bagaimana tindakan Belanda menghadapi perlawanan rakyat Tapanuli? Pada tahun
1894 pasukan Belanda dikerahkan untuk merebut Bakkara sebagai pusat kekusaan

Sisingamangaraja XII. Akibat penyerangan terebut Sisingamangaraja pindah ke Dairi


Pakpak.
Pada tahun 1904 pasukan Belanda pimpinan Van Daalen dari Aceh Tengah
melanjutkan gerakannya ke Tapanuli Utara dan berhasil mendesak pertahanan
Sisingamangaraja XII. Pada tahun1907 pasukan marsose dipimpin oleh Kapten Hans
Christoffel berhasil menangkap Boru Sagala, isteri Sisingamangaraja XII serta dua
orang anaknya, sementara itu ia dan para pengikutnya menyelamatkan diri ke hutan
Simsim. Bujukan agar raja mau menyerah ditolaknya. Akhirnya dalam pertempuran
tanggal 17 Juni 1907 Sisingamangaraja XII gugur juga Lopian puterinya dan dua
orang puteranya yaitu Sutan nagari dan Patuan Anggi. Jenasahnya dimakamkan di
depan markas militer Belanda di Tarutung lalu dipindahkan ke Balige. Gugurnya
Sisingamangaraja XII telah menambah deretan pahlawan perjuangan kemerdekaan.
Perang Tapanuli adalah perang terakhir menghadapi Belanda dengan senjata. Setahun
kemudian perlawanan bangsa Indonesia ditandai dengan munculnya pergerakan
nasional melalui lahirnya Budi Utomo.
Struktur perlawanan bangsa Indonesia dalam menentang dominasi asing
Ditinjau dari segi waktu lamanya perlawanan daerah di Indonesia menentang Belanda
pada abad 19 yang paling lama adalah Aceh
Kaum Bangsawan

Pattimura ( Maluku ) Jelantik ( Bali ) - Teuku Umar ( Aceh )

Jawa ( Diponegoro ) P. Antasari ( Banjar )

Sisingamangajara XII ( Tapanuli )

Kaum Agama

Jawa: Kyai Mojo - Padri : Imam Bonjol

Aceh: Teungku cik Di Tiro

Tokoh Sentral, Maluku, Bali, Tapanuli

Kelompok: Diponegoro, Banjar, Aceh, Padri

Pengikut perang

Anggota keluarga bangsawan, dan raja

Rakyat umumnya petani

Secara umum contoh senjata tradisional adalah : Tumbuh pedang dan panah serta
senjata Khas daerah misalnya :

Jawa, Keris, Aceh, rencong, Banjar, mandau

Padri: Kalewang

Senjata Api: dari hasil pembelian atau rampasan

Bentuk pertahanan: Sistem benteng ( Jagaraga di Bali )


Taktik perlawanan:

Perang gerilya

Perang puputan ( khusus di Bali )

Serangan mendadak

Strategi Belanda

Devide et impera

Tawaran yang menyerah mendapat kedudukan

Penyusupan dan penyelidikan: contoh Dr. Snouck Hurgronye

Benteng stelsel dan konsentrasi stelsel

Menangkap keluarga pemimpin perang agar mudah menyerah

Penaklukan

Secara licik diajak berunding kemudian di tangkap

Perlawanan bangsa Indonesia mudah dipatahkan karena :

Sporadis: terpencar tanpa koordinasi, masih bersifat kedaerahan

Tergantung pemimpin, jika pemimpin tewas atau tertangkap atau menyerah


maka perlawanan akan terhenti.

Persenjataan kalah maju karena mengandalkan senjata tradisional

Kurang terorganisir dengan baik.

Lampiran 2
LEMBAR PENGAMATAN SIKAP
Mata Pelajaran
Kelas/Program
Kompetensi
No.

: Sejarah
: XI IIS.2
: KD 3.7

Nama Peserta

Kriteria

Profil

Didik

SIkap
Santun

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

ADYA INGGARA
NARESWARI
AIDA
FAHKRUNNISA'
NUHDI ALWI
ANNISA PUTRI
RAHAYU
ARDINA
AULIA ARMEILITA
MULASELA
CINDY HANNA
TASYA
DINDA NADILLA
SANDY
ELSA RILIANA

Rasa Ingin tahu

9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.

HANTIKA DHEWI
KARIMA
KHOFIFAH
CIPTANING
SARDENA PUTRI
LENI WIDIA
LESTIA NINGSIH
LULUK ARUNI
SYAHIDDAH
NABILA
KHAIRUNNISA
NABILA
NURLAILA
FATONAH
NAVILATURROH
MAH
RIMA DWI
CAHYANI
SALMA NUR
FATIHA
SALSABILLA
SHAUMA
ZULFIQA
SALWINAR APRIN
NITAMI
TESYA
RAHMATIKA
AGUSTIN
AL ADIAT
RUSSETYA
TAMORA
ALVIN JIBRAN
ASEP
WALUYOJATI
GIANG RAKA
SATYANENDRA
IMAM SINATRYA
IRFAN ARYA
WIBISONO
JULIO ARMANDO
FADILIO

28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.

MUHAMMAD
HANIF
KEVIN NOVARIO
DAMAR
PRAKOSO
MUHAMMAD
ABDUMMUNIB
MUHAMMAD
ALFAN FAJRUL
FALAH
MUHAMMAD
FATKUR
ROHMAN
MUHAMMAD
IRFANSYAH
RAMADHANI
RIZKYANDRI
REZZA HANAN
MUHAMMAD

Keterangan :
4. Sangat tinggi
3. Tinggi
2. Cukup Tinggi
1. Kurang

Jurnal
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Nama Siswa
ADYA INGGARA
NARESWARI
AIDA
FAHKRUNNISA'
NUHDI ALWI
ANNISA PUTRI
RAHAYU
ARDINA
AULIA ARMEILITA
MULASELA
CINDY HANNA
TASYA

Waktu

Kejadian / Perilaku

+/-

Nilai

7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.

DINDA NADILLA
SANDY
ELSA RILIANA
HANTIKA DHEWI
KARIMA
KHOFIFAH
CIPTANING
SARDENA PUTRI
LENI WIDIA LESTIA
NINGSIH
LULUK ARUNI
SYAHIDDAH
NABILA
KHAIRUNNISA
NABILA NURLAILA
FATONAH
NAVILATURROHMA
H
RIMA DWI CAHYANI
SALMA NUR FATIHA
SALSABILLA
SHAUMA ZULFIQA
SALWINAR APRIN
NITAMI
TESYA RAHMATIKA
AGUSTIN
AL ADIAT
RUSSETYA TAMORA
ALVIN JIBRAN
ASEP WALUYOJATI
GIANG RAKA
SATYANENDRA
IMAM SINATRYA
IRFAN ARYA
WIBISONO
JULIO ARMANDO
FADILIO
MUHAMMAD HANIF
KEVIN NOVARIO
DAMAR PRAKOSO
MUHAMMAD

30.
31.
32.
33.
34.

ABDUMMUNIB
MUHAMMAD ALFAN
FAJRUL FALAH
MUHAMMAD
FATKUR ROHMAN
MUHAMMAD
IRFANSYAH
RAMADHANI
RIZKYANDRI
REZZA HANAN
MUHAMMAD

Rubrik Tugas Individu


Aspek
Berdiri tegap menghadap dan dapat menjaga kontak mata dengan guru
Dapat menyampaikan pendapat dengan suara yang baik, bahasa yang santun
dan sistematis
Menyampaikan pendapat dengan intonasi dan bahasa tubuh yang
meyakinkan
Pendapat mencerminkan penerapan konsep yang dijelaskan
Nilai rata-rata
Kriteria Penilaian
Nilai Kualitatif
A
B
C
D

Nilai Kuantitatif
4
> 80
3
75 80
2
72 - 74
1
< 72

Nilai

Rubrik Pengamatan Sikap Diskusi Kelompok


Aspek

Nilai

A. Isi Materi
Ketikan menarik dan mudah dimengerti serta sistematis
Hasil diskusi menggambarkan konsep penginderaan jauh
Terlihat hubungan antara jenis, aspek, manfaat dan keunggulan
penginderaan jauh
B. Kerjasama Kelompok
Semua anggota kelompok berpartisipasi aktif dalam diskusi
Semua anggota kelompok mengerti dan memahami mengenai
materi yang di diskusikan
C. Presentasi
Berdiri tegap menghadap dan dapat menjaga kontak mata dengan

audien
Dapat menyampaikan materi dengan suara yang baik, bahasa yang

santun dan sistematis


Menyampaikan materi dengan intonasi dan bahasa tubuh yang

menyakinkan audien
Memberikan tanggapan/jawaban yang benar dan sesuai pemecahan
masalah
Nilai rata-rata

Kriteria Penilaian:
Nilai
Kualitatif
A
B
C
D

No
1

Nilai Kuantitatif
4
3
2
1

> 80
75 80
72 - 74
< 72

Aspek yang dinilai


Menunjukkan rasa syukur kepada Tuhan

Keterangan

2
3

memiliki rasa ingin tahu (curiosity)


menunjukkan ketekunan dan tanggungjawab
dalam belajar dan bekerja baik secara individu
maupun berkelompok
Rubrik Penilaian Sikap

No
1

Aspek yang dinilai


Menunjukkan rasa syukur
kepada Tuhan YME

Rubrik
3: menunjukkan ekspresi rasa syukur kepada Tuhan
YME pada satu atau lebih kesempatan (topik)
2: belum secara eksplisit menunjukkan ekspresi atau
ungkapan syukur, namun menaruh minat terhadap
kebesaran Tuhan saat refleksi
1: belum menunjukkan ekspresi rasa syukur, atau
menaruh minat terhadap terhadap kebesaran

Menunjukkan rasa ingin


tahu

Tuhan saat refleksi


3: menunjukkan rasa ingin tahu yang besar, antusias,
terlibat aktif dalam kegiatan kelompok
2: menunjukkan rasa ingin tahu, namun tidak terlalu
antusias, dan baru terlibat aktif dalam kegiatan
kelompok ketika disuruh
1: tidak menunjukkan antusias dalam pengamatan,
sulit terlibat aktif dalam kegiatan kelompok

Menunjukkan ketekunan
dan tanggungjawab

walaupun telah didorong untuk terlibat


3: tekun dalam menyelesaikan tugas dengan hasil
terbaik yang bisa dilakukan, berupaya tepat waktu.

dalam belajar dan

2: berupaya tepat waktu dalam menyelesaikan tugas,

bekerja baik secara

namun belum menunjukkan upaya terbaiknya

individu maupun
berkelompok

1: tidak berupaya sungguh-sungguh dalam


menyelesaikan tugas, dan tugasnya tidak selesai

Deskripsi sikap ini digunakan untuk pertimbangan dalam menentukan profil


siswa.
Keterampilan

11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.

ADYA INGGARA NARESWARI


AIDA FAHKRUNNISA' NUHDI ALWI
ANNISA PUTRI RAHAYU
ARDINA
AULIA ARMEILITA MULASELA
CINDY HANNA TASYA
DINDA NADILLA SANDY
ELSA RILIANA HANTIKA DHEWI
KARIMA
KHOFIFAH CIPTANING SARDENA
PUTRI
LENI WIDIA LESTIA NINGSIH
LULUK ARUNI SYAHIDDAH
NABILA KHAIRUNNISA
NABILA NURLAILA FATONAH
NAVILATURROHMAH
RIMA DWI CAHYANI
SALMA NUR FATIHA
SALSABILLA SHAUMA ZULFIQA
SALWINAR APRIN NITAMI
TESYA RAHMATIKA AGUSTIN
AL ADIAT RUSSETYA TAMORA
ALVIN JIBRAN
ASEP WALUYOJATI
GIANG RAKA SATYANENDRA
IMAM SINATRYA
IRFAN ARYA WIBISONO

Penguasaan
Materi

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Menjawab

Kegiatan
Berargumentas
i

Nama
Presentasi

No

Nilai

27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.

JULIO ARMANDO FADILIO


MUHAMMAD HANIF
KEVIN NOVARIO DAMAR PRAKOSO
MUHAMMAD ABDUMMUNIB
MUHAMMAD ALFAN FAJRUL FALAH
MUHAMMAD FATKUR ROHMAN
MUHAMMAD IRFANSYAH
RAMADHANI RIZKYANDRI
REZZA HANAN MUHAMMAD

Lampiran 3
Soal Postest
1. Salah satu latar belakang terjadinya perlawanan di Maluku adalah
a. Pemerintah colonial Belanda memberlakukan kembali penyerahan wajib
dan kerja wajib
b. Belanda ikut campur dalam pemerintahan di Maluku
c. Politik adu domba
d. Terjadinya perjanjian antara Belanda dengan Inggris untuk menguasai
Maluku
e. Hilangnya kepercayaan rakyat Maluku terhadap Belanda
2. Serangan rakyat Maluku yang pertama berhasil merebut kembali sebuah
benteng yang bernama
a. Fort Van Der Cappellen
b. Vastenburg
c. Vredenburg
d. Duurstede

e. Willem
3. Pasukan Pattimura semakin terdesak, Belanda membujuk Pattimura untuk
kejasama, tetapi ditolak. Apa yang dilakukan Belanda terhadap Pattimura
a. Diasingkan di Saparua
b. Ditembak mati
c. Tidak peduli dan membiarkan hidup bebas
d. Dihukum gantung di depan benteng Victoria Ambon
e. Bersiap untuk perang lagi
4. Apa yang melatarbelakangi perang saudara antara Kaum Adat dan Kaum
Padri di Sumatra Barat
a. Terjadinya perebutan kekuasaan daerah
b. Kaum Padri berusaha menghentikan kebiasaan buruk Kaum Adat
c. Belanda mengadu domba kedua golongan tersebut
d. Berpihaknya Kaum Adat pada Belanda
e. Kaum Adat menolak berkuasanya Kaum Padri di Sumatra Barat
5. Siapa yang membangun benteng Fort De Kock di bukit Tinggi
a. Tuanku Imam Bonjol
b. Mayor Michiels
c. Kolonel De Stuers
d. Tuanku nan Cerdik
e. Johanes Mattulessi
6. Kaum Padri dan Kaum Adat akhirnya bersatu dengan tujuan
a. Mereka menyadari arti pentingnya pertahanan dan bersatu melawan
Belanda
b. Menghancurkan Benteng yang telah dibangun Belanda di Bukit Tinggi
c. Membangun kekuasaan bersama di Minangkabau
d. Memukul mundur pasukan Inggris
e. Bekerja sama dengan Belanda untuk memipimpin kekuasaan di Sumatra
Barat
7. Pergolakan terbesar yang dihadapi Belanda di Jawa adalah
a. Perlawanan Kaum Padri
b. Perang Tapanuli
c. Perang Banjar
d. Perlawanan Yogyakarta
e. Perlawanan Diponegoro
8. Pada jalannya perlawanan tersebut, pusat pertahanan Diponegoro dipindahkan
ke
a. Tegalreja
b. Plered
c. Yogyakarta
d. Madiun
e. Kalisoka

9. Belanda menggunakan siasat perang baru untuk melawan pasukan


Diponegoro, dikenal dengan
a. Perang Gerilya
b. Perang Meriam
c. Benteng Stelsell
d. Benteng Bonjol
e. Benteng De Kock
10. Apa yang dimaksud Hak Tawan karang yang dimiliki raja-raja di Bali
a. Hak untuk medapatkan kebebasan berdagang di perairan wilayah
kerajaannya.
b. Hak untuk menawan hasil laut para nelayan
c. Hak yang dimiliki raja memungut pajak bagi perahu yang lewat daerah
wilayah perairannya
d. Hak untuk menawan perahu dan isinya yang terdampar di wilayah
perairan kerajaannya
e. Hak untuk mendapatkan upeti dari daerah tawanan perangnya
11. Alasan Belanda menyerang wilayah Buleleng dikarenakan
a. Belanda menginginkan wilayah Buleleng menjadi daerah kekuasaannya
b. Buleleng merupakan wilayah strategis untuk monopoli perdagangan
c. Buleleng kaya akan sumber daya alam
d. Belanda merasa dihianati oleh raja Buleleng karena tidak mau melepaskan
hak tawan karangnya.
e. Belanda ingin terbebas dari perjanjian dengan kerajaan Buleleng
12. Pusat pertahanan kerajaan Buleleng adalah benteng Jagaraga. Dengan
jatuhnya benteng Jagaraga, apa yang didapatkan Belanda
a. Belanda dapat menguasai Bali Utara
b. Belanda dapat menguasai wilayah Jagaraga
c. Belanda menjadi penguasa Buleleng
d. Belanda dapat menguasai daerah kekuasaan raja Buleleng
e. Belanda mendapatkan hak tawan karang yang dimiliki raja-raja di Bali
13. Salah satu penyebab perang Banjar dari segi ekonomi adalah
a. Belanda ikut campur urusan tahta kerajaan
b. Campur tangan Belanda di Kraton makin besar
c. Belanda menentukan pengganti Sultan Adam
d. Belanda Mendirikan perkebunan dan Pabrik
e. Belanda melakukan monopoli perdagangan
14. Penyebab Pangeran Hidayatullah meninggalkan kraton
a. Diusir oleh pasukan Belanda
b. Kerajaan Banjar menjadi milik Belanda
c. Kalah dalam perang melawan Belanda
d. Menolak menghentikan perlawanan
e. Kurangnya dukungan dari saudara-saudaranya

15. Siapa tokoh yang mendapat gelar Panembahan Amirudin Khaifatul


Mukminin
a. Pangeran Hidayatullah
b. Sultan Adam
c. Pangeran Antasari
d. Pangeran Tamjidillah
e. Pangeran Miradipa
16. Tuntutan colonial Belanda terhadap Aceh adalah
a. Aceh memutuskan hubungan dagang dengan Negara lain
b. Aceh mengakui kedaulatan Belanda
c. Aceh mau menjadi pasukan bantuan Belanda
d. Aceh memberikan hak politik dan ekonomi pada Belanda
e. Aceh menjadi daerah strategis bagi Belanda untuk berdagang
17. Salah satu penyebab Belanda sulit menghadapi perlawanan rakyat Aceh
ialah
a. Para Pemimpin perang yang cerdik
b. Aceh merupakan daerah strategis yang sulit ditaklukan
c. Kaum Ulama mempunyai tekat yang kuat dan pantang menyerah
d. Rakyat Aceh sulit diepngaruhi
e. Aceh mendapat bantuan dari luar negeri
18. Perlawanan Cut Nyak Dien berlangsung dalam kurun waktu
a. 2 tahun
b. 3 tahun
c. 4 tahun
d. 5 tahun
e. 6 tahun
19. Salah satu penyebab perang Tappanuli adalah
a. Raja Sisingamaraja XII menyerang kedudukan Belanda di Taratung
b. Belanda tidak senang dengan pemerintahan raja
c. Tidak percayanya raja terhadap Belanda
d. Untuk mewujudkan Pax Netherlandica
e. Untuk menguasai daerah kekuasaan raja Tappanuli
20. Belanda merebut pusat kekuasaan Sisingamaraja XII yakni di wilayah
a. Dairi Kepak
b. Bakkara
c. Balige
d. Tarutung
e. Bahal Batu

Lampiran 4
KUNCI JAWABAN
1. A
2. D
3. D
4. B
5. C
6. A
7. E
8. B
9. C
10. D

11. D
12. A
13. E
14. D
15. C
16. B
17. C
18. D
19. D
20. B