Anda di halaman 1dari 4

ASSET

Definisi Asset menurut IASB adalah sumber daya yang dikelola oleh entitas sebagai
hasil dari peristiwa masa lalu yang diharapkan akan menghasilkan/mendatangkan manfaat
ekonomi pada masa datang. Jadi ada 3 karakteristik aset:

manfaat ekonomi masa datang


dikelola oleh entitas
peristiwa masa lalu

Manfaat Ekonomi Masa Yang Akan Datang


Manfaat ekonomi untuk perusahaan bisnis berhubungan dengan aktivitas yang
menghasilkan profit, meskipun definisi ini berlaku juga untuk organisasi non profit. Paragraf
53 IASB Framework menyatakan aset yang diakui dalam manfaat masa datang sebesar yang
potensial menghasilkan aliran kas atau setara kas kepada entitas, baik secara langsung atau
tidak langsung. Ini bisa berarti jika sesuatu menghasilkan pendapatan operasi atau
kemampuan mengurangi pembayaran kas seperti mengurangi biaya produksi. Untuk
dikelompokan sebagai aset, manfaat ekonomi tersebut harus membantu entitas mencapai
tujuannya.
Ada 2 karakteristik manfaat ekonomi yaitu kelangkaan dan kegunaan (utility). Jika
suatu sumber daya tidak langka (tersedia dimana-mana), berarti sumber daya tersebut tidak
ekonomis. Kegunaan sebuah komoditas adalah kemampuannya memenuhi keinginan
manusia.
Dikelola Oleh Entitas
Kepemilikan biasanya bersamaan dengan kendali/kelola. Konsep hukum hanya
digunakan sebagai panduan dalam akuntansi. Akuntansi tidak fokus pada konsep hukum,
melainkan pada substansi ekonomi dari transaksi dan peristiwa yang mempengaruhi kinerja
dan kondisi keuangan perusahaan. Misalnya suatu perusahaan membeli sebuah truk seharga
$300,000, yang dibayar sebesar #150,000 dulu dan sisanya dibayar selama 3 tahun. Meskipun
perusahaan belum memiliki dokumen kepemilikan yang legal karena belum lunas, tetapi truk
tersebut sudah dapat diakui sebagai aset perusahaan tersebut.
Peristiwa Masa Lalu
Suatu unit usaha dapat menguasai suatu aset apabila telah terjadi transaksi atau peristiwa lain
yang menyebabkan suatu entitas memiliki pengendalian terhadap manfaat dari asset tersebut.

Jadi asset tersebut muncul karena transaksi masa lalu. Dengan kata lain, asset tersebut dapat
diakui apabila terdapat transaksi yang benar-benar terjadi bukan berasal dari transaksi yang
berupa hipotesis.
Pengakuan Aset
2 contoh aturan pengakuan aset konvensional:
1. Piutang dicatat sebagai aset jika terjadi penjualan kredit
2. Peralatan dicatat sebagai aset ketika dibeli.
Kriteria Non-Cancellable lease yang dapat dikapilatisir adalah sebagai berikut:
1. Kontrak sewa memindahkan kepemilikan aset kepada penyewa pada akhir periode
kontrak.
2. Penyewa memiliki pilihan untuk membeli aset pada harga yang diharapkan lebih
rendah daripada nilai wajar pada waktu pilihan dilakukan, pada awal sewa menyewa
option ini sudah dibuat.
3. Istilah sewa digunakan untuk kebanyakan bagian dalam umur ekonomis sebuah aset
meskipun tidak ada perpindahan kepemilikan.
4. Pada awal sewa, nilai sekarang dari pembayaran sewa minimum berjumlah sampai
dengan setidaknya sebesar nilai wajar dari aset yang disewa
5. Aset yang disewa memiliki syarat khusus yaitu hanya penyewa yang bisa
menggunakannya tanpa modifikasi yang berarti.
Aset yang tidak berwujud yang berasal dari pengembangan dapat diakui jika, dan hanya jika,
entitas dapat memperlihatkan:
kemampuan teknis melengkapi aset idak berwujud sehingga dapat digunakan atau

dijual.
tujuannya melengkapi aset tidak berwujud dan menggunakan atau menjualnya.
kemampuannya untuk menggunakan atau menjual aset tidak berwujud
bagaimana aset tidak berwujud dapat menghasilkan kemungkinan manfaat ekonomi
masa datang. Entitas dat memperlihatkan adanya pasar untuk hasil dari aset tidak
berwujud atau aset tidak berwujud itu sendiri, atau jika akan digunakan secara

internal, kegunaan dari aset tidak berwujud tersebut.


Adanya teknik-teknik, keuangan dan sumber daya lain yang memadai untuk

melengkapi pengembangan dan menggunakan atau menjual aset tidak berwujud.


Kemampuannya mengukur dengan terpercaya pengeluaran yang digunakan untuk aset
tidak berwujud selama pengembangannya.

Kriteria Pengakuan Aset:

Ketergantungan pada hukum; Jika informasi menampilkan dengan tepat transaksitransaksi dan peristiwa lain, seharusnya hal tersebut dihitung dan ditampilkan sesuai
dengan substansi dan kenyataan ekonominya, tidak hanya bentuk hukumnya. Adanya

hak hukum adalah sebuah indikator, bukan kriteria pengakuan aset.


Penentuan substansi ekonomi transaksi atau peristiwa; Berhubungan dengan tujuan
informasi laporan yang relevan dan reliable. Materialitas juga sebuah faktor: Cukup
penting untuk mencatat dan melaporkan peristiwa ekonomi signifikan. Informasi
dianggap materil jika mencantumkan atau salah melaporkannya dapat mempengaruhi

keputusan ekonomi yang diambil user berdasarkan laporan keuangan.


Konservatif (Prinsip kehati-hatian); mengantisipasi kerugian, bukan keuntungan.
Kewajiban harus segera dicatat, tidak sama halnya dengan aset.

Pengukuran Aset
Tangible Aset (Aset Berwujud)
Pada awalnya pengukuran di AS dilakukan dengan menggunakan
biaya historis. IASB juga menggunakan pengukuran biaya termasuk biaya
transaksi dalam mengukur properti, pabrik dan peralatan dan investasi
properti. Pengukuran subsequent berdasarkan pada biaya historis berarti
aset diukur pada biaya akuisisi dikurangi akumulasi penyusutan dan biaya
kerusakan.
IASB mengijinkan, tidak mensyaratkan, penggunaan model pengukuran nilai saat ini.
Manajer boleh memilih menggunakan model penilaian kembali untuk pengukuran
selanjutnya. Pengukuran dapat berdasarkan nilai pasar yang disediakan oleh appraisal atau
bisa diestimasi oleh entitas berdasarkan pendekatan "income atau biaya pengganti yang
disusutkan". Revaluasi harus tetap "up to date" pada tiap tanggal neraca.
Intangible Aset (Aset Tidak Bewujud)
Praktek akuntansi biasanya menggunakan prinsip konservatif dalam mengukur aset
tidak berwujud. Standar akuntansi mengatur pengukuran aset tidak berwujud pada biaya
akuisisi. Penggunaan model nilai sekarang untuk aset tidak berwujud jarang dilakukan. IAS
38 mengijinkan model revaluasi, tetapi berbeda dengan IAS 16, mensyaratkan nilai wajar
ditentukan dengan referensi pada pasar aktif. Karena kebanyakan aset tidak berwujud sifatnya
tidak memiliki pasar aktif, maka biasanya digunakan metode biaya (dikurangi amortisasi dan
kerusakan).

Instrumen Keuangan
IAS memisahkan kategori aset keuangan dan kewajiban serta aturan pengukurannya.
Model pengukuran yang dominan adalah biaya historis, tapi untuk instrumen turunannya
pengukuran ini dianggap tidak cocok karena tidak ada biayanya. FASB dan IASB
menyimpulkan bahwa untuk produk-produk derivative seharusnya diukur dengan nilai wajar.
Nilai wajar diartikan sebagai jumlah dimana aset dapat dipertukarkan atau kewajban dapat
diselesaikan, antara pihak-pihak yang memiliki pengetahuan dalam melakukan transaksi.
Sejak tahun 1980an FSAB telah mensyaratkan pengukuran nilai wajar (baik dalam laporan
keuangan maupun dalam pengungkapan catatan atas laporan keuangan). Standar kemudian
mengatur bagaimana cara menentukan nilai wajar. Pertama dengan harga pasar, tetapi
estimasi manajemen (berdasarkan harga pasar sekuritas yang sama atau estimasi nilai
sekarang dari aliran kasa masa datang dikurangi tingkat resiko yang disesuaikan) dapat
digunakan.
Klasifikasi dan Pengukuran Instrumen Keuangan
Tipe Aset Keuangan
Pinjaman Awal dan piutang

Metode Pengukuran
Biaya amortisasi. Aset tidak dimaksudkan

Investasti yang dimiliki hingga jatuh tempo

utuk dijual atau dimiliki hingga jatuh tempo


Biaya amortisasi untuk meninjau nilai

Sekuritas yang tersedia untuk dijual

penurunannya
Nilai wajar, dengan laba atau rugi dari

Aset

keuangan

yang

dimiliki

pengukuran diakui dalam ekuitas


untuk Nilai wajar, dengan gain and losses muncul

diperdagangkan, atau diklasifikasikan sebagai dengan dilakukannya pengukuran kembali


nilai wajar melalui profit and loss, dan
turunannya
Penyajian Aset
Aset disajikan di sisi debit atau kiri dalam neraca berformat akun atau di bagian atas dalam
neraca berformat laporan. Aset diklasifikasi menjadi aset lancar dan aset tetap. Aset diurutkan
penyajiannya atas dasar likuiditas atau kelancarannya, yang paling lancar dicantumkan pada
urutan pertama. Kebijakan akuntansi yang berkaitan dengan pos-pos tertentu harus
diungkapkan (misalnya metode depresiasi aset tetap dan dasar penilaian sediaan barang)