Anda di halaman 1dari 52

PENELITIAN PRA

KLINIK

Dr. Farida Hayati, S.Si, M.Si, Apt


Arba P. Ramadani, S.Farm, M.Sc, Apt

Lead compound

Stability study
Pharmacokinet
ic
study on
animal
Product
development
Pharmacokinet
ic
study on
human

Screening
of
pharmacolo
gy
Advance
pharmacolo
gy
Phase I clinical
study
Phase II clinical
study
Phase III clinical
study
Registration
&
Marketing
Phase IV clinical
study

Acute toxicity
study
Sub acute
toxicity
studies
Carcinogenicity &
Mutagenicity
studies
Chronic
toxicity
studies

Toxicology

Pharmacological

Pharmaceutical

Preclinical
study

ANIMAL SPECIES

Rats, Mice, Dogs, Pigs


and Monkeys are the
most commonly used
animals in preclinical
studies.
Ideally , the species of
choice should have
the same
pharmacokinetic
profile as in humans,
however, this
information is either
incomplete or missing,
Under such
circumstance, select
the most sensitive
species for evaluating
the safety of the

PENELITIAN
FARMAKOLOGI PADA
HEWAN COBA

In vitro

UJI
FARMAKOLO
GI
In vivo

Uji Farmakologi pada hewan


coba

Jenis eksperimen disesuaikan dengan efek terapi


yang diharapkan
Bisa dilakukan secara in vitro maupun in vivo, hewan
uji dibuat pada kondisi sakit seperti yang diharapkan
untuk dapat dinilai keefektifan terapi obat
Aspek etik moral dari perlakuan terhadap hewan
coba dan atau spesimen uji lain harus dapat
dipertanggung jawabkana dan dilaksanakan sesuai
dengan pedoman etik penelitian

contoh

Uji analgetik
Uji anti inflamasi
Uji sedative
Uji antihiperglikemi
Uji antihipertensi
Uji antihiperkolesterol
Uji organ terisolasi : otot polos trachea,

Analgesic
1) Metode hot
plate : jumlah
respon loncat
2) Metode
geliat : respon
geliat

Anti
inflammation

Respon
pengamatan :
penurunan
volume udem

Sedativehipnotic
Respon
pengamatan :
reflek jatuh dari
rotarod

Anti
hypertensive

Metabolic
system

PENELITIAN TOKSISITAS
EKSPERIMENTAL PRA KLINIS

PENELITIAN TOKSISITAS
EKSPERIMENTAL PRA KLINIS

Penelitian toksikologi : mempelajari toksisitas


senyawa pada hewan utuh
Penelitian toksikodinamik : mempelajari toksisitas
pada aras seluler atau molekuler
Penelitian toksikokinetik : Profil kinetika senyawa
toksik dalam tubuh

TAK KHAS
Uji ketoksikan
yang dirancang
untuk
mengevaluasi
keseluruhan atau
spektrum efek
toksik suatu
senyawa pd
berbagai hewan uji
(Uji ketoksikan akut,
sub kronis, kronis)

KHAS
Uji ketoksikan yang
dirancang untuk
mengevaluasi
secara rinci efek
toksik yang khas
suatu senyawa pd
berbagai hewan uji
(Uji teratogenik, uji
reproduksi, uji
mutagenik, uji
karsinogenik, uji
ketoksikan pada
kulit)

UJI TOKSISITAS
TAK KHAS

UJI TOKSISITAS AKUT


UJI TOKSISITAS SUB KRONIS
UJI TOKSISITAS KRONIS

UJI TOKSISITAS AKUT

Toksisitas akut merupakan efek yang merugikan yang


timbul segera setelah pemberian suatu bahan sebagai
dosis tunggal yang diberikan dalam 24 jam
Mendapatkan informasi : gejala keracunan, penyebab
kematian, urutan proses kematian, dan rentang dosis
yang mematikan

Pemberian dosis tunggal


Hewan uji sebaiknya menggunakan mamalia,
sekurang-kurangnya dua jenis roden dan nirroden
jantan dan betina
Pengamatan 24 jam, dilanjut 7-14 hari

SISTEMATIKA

PENGAMATAN

Jumlah kematian
untuk menghitung nilai LD50
Gejala klinis
untuk memperkirakan penyebab kematian,
atau gejala-gejala ketoksikan
Makroskopik dan mikroskopik organ
untuk memastikan penyebab kematian, atau
gejala-gejala ketoksikan pada organ

Kontrol (-)

Dosis 1

Mati : o

0-10%

Dosis 2

Dosis 3

----------------------------

Dosis 4
90-100%

LD50 adalah dosis yang mematikan 50% hewan coba

Perhitungan LD50
Grafik Miller Tainter
Menggunakan analisis probit
Cara aritmatik Reed dan Muench
Cara aritmatik Karber
Cara Carol Weill

METODE OECD

(Organization for Economic Cooperation and Development)

OECD 401 : perjenis kelamin, jumlah subyek uji


masih banyak,

OECD 420 (fix dose procedur) : dikelompokkan


dalam 4 kelompok dosis yang fix, masing-masing
3 hewan coba

OECD 425 : fix dose procedur, perhitungan LD50


lebih kompleks

OECD 423 : fix dose procedur, perhitungan LD50


sederhana

OECD 423

LD 50 merupakan suatu nilai perkiraan (cut


off), tidak dengan menghitung yg sebenarnya
FIX DOSE : 4 dosis : 5, 50, 300, 2000
mg/kgBB
Dilakukan perjenis kelamin
1 kelompok 3 hewan coba
Start dose :
2000 mg : diperkirakan aman, misal herbal
300 mg : tidak ada data pendukung toksisitas
5 mg : diperkirakan toksik

PELAKSANAAN PENELITIAN METODE


OECD 423

PELAKSANAAN PENELITIAN METODE


OECD 423

PELAKSANAAN PENELITIAN METODE


OECD 423

Pengamatan gejala klinis


Sistem organ

Pengamatan dan pemeriksaan


Perilaku

SSP dan
somatomotor

Gerakan
Kereaktifan terhadap ransangan

Sistem saraf
otonom
Pernafasan

Reflek serebral dan spinal


Tonus otot
Ukuran pupil
Sifat dan laju nafas

Kardiovaskular

Palpitasi daerah kardiak

Saluran cerna

Peristiwa perut
Konsistensi tinja

Kulit dan bulu

Warna, keutuhan

Membran mukosa Konjungtiva, mulut

Tanda-tanda umum ketoksikan


Perubahan sikap terhadap
pengamat, vokalisasi luar biasa,
gelisah
Kedutan, tremor, ataksia,
katatonia, paralysis, konvulsi,
keterpaksaan gerak
Keberangasan, kepasifan,
anesthesia, hiperastesia
Lemah, tidak ada
Kekakuan, kelembekan
Miosis, midriasis
Bradipnea, dispnea
Bradikardi, aritmia, denyut lebih
kuat atau lemah
Diare, sembelit flatulen, kontraksi
Tidak terbentuk, warna hitam
Kelembekan, kemerahan,
pelepuhan, piloereksi
Kongesti, perdarahan, sianosis,
kekuningan

Pengamatan organ
Makroskopis : bentuk, warna, dan berat badan

Keterangan :

a. Paru- paru
d. Limpa

b. Hati
e. Lambung

c. Jantung
f. Ginjal

UJI TOKSISITAS SUB KRONIS

Pemberian dosis berulang selama 3 bulan


Hewan uji sekurang-kurangnya 1 jenis hewan uji
jantan dan betina
Jumlah hewan uji 10 ekor perkelompok dosis
Minimal 3 peringkat dosis, jalur pemberian sama dgn
jalur pada manusia
Pengamatan : perubahan BB, masukan mak-min,
gejala klinis, hematologi, kimia darah, analisis urin,
histopatologi , histopatologi organ

Masa pemberian pada


manusia

Masa pemberian pada


lebih dari satu jenis
hewan yang disarankan

Dosis tunggal atau


Beberapa kali

Paling tidak 2 minggu

Hingga 4 minggu

13-26 minggu

> 4 minggu

26 minggu
(tidak termasuk uji
karsinogenitas)

PENGAMATAN

Jumlah kematian, kenaikan berat badan, jumlah


pakan-minum, vol urin, berat tinja, Kadar Hb,
leukosit, eritrosit, trombosit, ureum, kreatinin,
SGOT, SGPT
Gejala klinis
untuk memperkirakan penyebab kematian,
atau gejala-gejala ketoksikan
Makroskopik dan mikroskopik organ
untuk memastikan penyebab kematian, atau

UJI TOKSISITAS KRONIS

Pemberian dosis berulang selama > 3 bulan


Hewan uji sekurang-kurangnya 1 jenis hewan uji
jantan dan betina
Jumlah hewan uji 10 ekor perkelompok dosis
Minimal 3 peringkat dosis, jalur pemberian sama dgn
jalur pada manusia
Pengamatan : perubahan BB, masukan mak-min,
gejala klinis, hematologi, kimia darah, analisis urin,
histopatologi , histopatologi organ

UJI TOKSISITAS
KHAS

UJI TERATOGENESIS
UJI EFEK TOKSIK PADA SISTEM REPRODUKSI
UJI EFEK TOKSIK LOKAL PADA KULIT

UJI TERATOGENESIS

Keteratogenikan : menentukan pengaruh senyawa


terhadap janin dalam hewan uji bunting
Hewan uji yg sering digunakan : mencit, tikus, kelinci
Jumlah hewan uji merupakan hal yang sangat penting,
terutama ketika malformasi yang ditemukan
kejadiannya sangat rendah
Jumlah kelompok minimal terdiri atas 3 kelompok
dosis perlakuan dan kelompok kontrol negatif
Kontrol positif dapat diberikan bahan yang diketahui
bersifat teratogenik

Teratogenicity test

During embryogenesis (on pregnant animals)

Repeated doses during organogenesis

Organogenesis
period of organogenesis, day of :

rat

6 - 15 22

mice 6 - 15 19
rabbit

6 - 18 33

guinea pig 10 - 18
human 16 - 56

66

267

borne at the day of :

PENGAMATAN
Biometrika janin : bobot janin, panjang janin, bobot
plasenta, resorpsi awal, resorpsi akhir, jumlah janin
mati
Sistem skeletal : membandingkan jumlah tulang janin
(cervical vertebrae, thoracic vertebrae (ribs), lumbar
vertebrae, sacral vertebrae, metacarpal dan
metatarsal)
Gross morfologi : kelengkapan dan kelainan tangan,
kaki, ekor, mata, bibir, celah langit dan telinga
Histopatologis : jantung janin, hati janin, ginjal janin,
paru-paru janin, plasenta janin dan uterus induk

Preparat Sistem Skeletal


Janin

Fetus yang mengalami hematoma


pada bagian kepala

Fetus mengalami resorpsi

Fetus yang mengalami meromelia

UJI EFEK TOKSIK LOKAL PADA


KULIT

Pengamatan efek toksik pada kulit :


1. Efek iritatif
1. Uji iritasi primer
2. Uji karsinogenik melalui kulit
2. Uji sensitivitas kulit
3. Uji phototoxicity dan photoallergy

UJI IRITASI PRIMER

Pengamatan toksisitas akut pada kulit berupa iritasi


yang muncul dalam bentuk : eritema dan edema
Dibagi dalam 4 kelompok dosis ditambah dengan
kontrol, disarankan menggunakan hewan dengan luas
punggung yang lebar (misal kelinci), masing-masing
kelompok digambarkan dalam kulit dengan luas 1x1
inci2
Pengamatan berupa skor eritema dan edema, yang
kemudian digunakan untuk menilai indeks iritasi primer

Evaluasi index iritasi primer


(Brossia, 1988)