Anda di halaman 1dari 16

Analisis Geng Motor

Menurut Kriminologi

Kelompok :
1.
2.
3.
4.
5.

Advent Eden
Adzamayah S.B.
Alfian Nofandhi
Gregorius Yoga B.
M. Zulmi T.

E0012010
E0012011
E0012025
E0012171
E0012238

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2014

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kenakalan remaja tidak dapat dipisahkan dari perkembangan zaman dari era ke era.
Sebab setiap zaman memiliki ciri khas yang berbeda dan memiliki tantangan yang berbeda
khususnya kepada generasi mudanya, sehingga anak-anak muda ini bereaksi dengan cara
yang khas pula terhadap situasi atau zaman yang berbeda. Pada tahun 50 sampai pada tahun
60-an di Indonesia yang menjadi masalah rumit bagi orang muda ialah adaptasi terhadap
situasi sosial politik yang baru, yaitu setelah menjalani kemelut merebut kemerdekaan.
Kenakalan remaja pada saat itu umumnya berupa penodongan sekolah-sekolah untuk
mendapatkan ijazah dan penonjolan diri yang berlebihan bak pahlawan kesiangan. Selain itu,
kenalan remaja pada zaman ini juga berupa keberandalan dan tindak-tindak kriminal ringan
ala anak-anak jalanan, menirukan pola perilaku anak-anak muda di luar negeri yang mereka
hayati dengan hadirnya film-film impor dan buku-buku bacaan sadistis dan buku-buku porno.
Adapun faktor kejahatan mereka adalah karena ketidakmampuan anak memanfaatkan waktu
kosong dan kurangnya pengendalian terhadap dorongan meniru. Sayangnya yang mereka tiru
justru perbuatan yang tidak terpuji, misalnya; hidup bermalas-malasan dan hidup seperti
hippis, melakukan tindak kriminal untuk memuaskan ambisi sosial yang semakin meningkat.
Pada tahun 70-an keatas, kenakalan remaja di kota-kota besar di tanah air sudah menjurus
pada kejahatan yang lebih serius, antara lain berupa tidak kekerasan, penjambretan,
penggarongan, perbuatan seksual dalam bentuk perkosaan sampai pada perbuatan pembunuhan
dan perbuatan kriminal lain seperti pecandu narkotika. Kejahatan dan kenakalan tersebut erat
kaitannya dengan makin derasnya arus urbanisasi dan semakin banyaknya jumlah remaja desa
bermigrasi kedaerah perkotaan tanpa jaminan sosial yang mantap, ditambah sulitnya mencari
pekerjaan yang cocok dengan keinginan mereka.

Pada tahun berikutnya kenakalan remaja semakin meluas baik dalam frekuensinya
maupun dalam kualitas kejahatannya. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya pengedaran
dan penggunaan ganja dan narkotika ditengah masyarakat dan memasuki ruang sekolah.
Seiring dengan berkembangnya zaman, tak dapat kita pungkiri kenakan remaja pun
semakin berkembang. Pada masa sekarang ini yang dikenal dengan masa atau era reformasi dan
kebebasan sepertinya membawa dampak yang nyata dalam perkembangan kenakalan remaja.
Dimana pada masa sekarang ini remaja juga cenderung lebih berani mengutarakan keinginan
hatinya, lebih berani mengemukakan pendapatnya, bahkan akan mempertahankan pendapatnya
sekuat mungkin. Hal ini yang sering ditanggapi orang tua sebagai pembangkangan. Remaja tidak
ingin diperlakukan seperti anak kecil lagi, mereka lebih senang bergaul dengan kelompok yang
dianggapnya sesuai dengan kesenangannya. Mereka juga semakin berani menentang tardisi orang
tua yang dianggapnya kuno dan tidak/kurang berguna, maupun peraturan-peraturan yang menurut
mereka kurang beralasan.
Kenakalan remaja yang sedang populer di zaman sekarang ini adalah kenakalan remaja
geng motor. Remaja khususnya laki-laki, lebih suka membentuk sebuah kelompok yang dinamai
dengan geng motor, dimana para remaja ini merasa populer dan disegani oleh orang lain
apabila bergabung kedalam sebuah geng motor, karena banyak orang yang menganggap
berasumsi bahwa geng motor itu merupakan segerombolan pemuda yang brutal, sadis, tidak
berpendidikan dan memiliki hobi menyakiti orang lain. Namun, bagi remaja yang bergabung
dalam geng motor tersebut, malah menyukai asumsi masyarakat yang seperti itu. Semakin buruk
asumsi masyarakat terhadap geng motor, maka semakin senanglah para remaja yang tergabung
dalam geng tersebut. Geng motor ini,, cenderung melakukan kenakalannya dengan melakukan
aksi balap liar di jalan raya, perkelahian antar geng motor yang lain, penjambretan, dan
penganiayaan terhadap orang lain yang tidak mereka sukai.
Seiring dengan perkembangan dan pencarian identitas kepribadian, banyak wujud dan
perilaku yang dilakukan remaja baik yang diketahui ataupun yang tidak diketahui. Umumnya

perbuatan remaja yang tidak diketahui selalu tidak terjerat hukum yang disebabkan oleh
kejahatan yang dianggap sepele, tidak pernah dilaporkan kepada yang berwajib karena orang
malas dan segan berurusan dengan polisi dan pengadilan, orang takut akan adanya balas dendam.
Sementara itu wujud-wujud perilaku kenakalan remaja yang dapat diketahui dan terjerat hukum
adalah kebut-kebutan di jalanan yang mengganggu keamanan lalu lintas, dan membahayakan
jiwa sendiri serta orang lain. Perilaku ugal-ugalan, brandalan, urakan yang mengacaukan
ketentraman masyarakat sekitar. Perkelahian antar geng, antar kelompok, antar sekolah, antar
suku, sehingga kadang-kadang membawa korban jiwa. Membolos sekolah lalu bergelandangan
sepanjang jalan, atau bersembunyi di tempat-tempat terpencil sambil melakukan eksperimen
bermacam-macam kedurjanaan dan tindak asusila. Kriminalitas anak,
Dari uraian diatas maka dukungan dari teman-teman seperjuangan tidak dapat diabaikan
keberadaannya. Steven Box dalam bukunya yang berjudul Deviance, Reality, and Society
mengemukakan bahwa ada anak-anak dan remaja yang mempunyai kemauan untuk melakukan
kejahatan tetapi tidak pernah terwujud. Dalam kaitannya beberapa kasus kenakalan remaja

diatas kami akan membahas tentang kenakalan remaja yang terbentuk dalam kelompok Geng
motor.
B. RUMUSAN MASALAH
Dari uraian diatas, kami selaku penulis akan membahas :
1. Pengertian Geng Motor, Club motor dan Hukum yang mengaturnya.
2. Bridging Theory dan Pembagiannya.
3. Analisa kasus mengenai Geng motor menurut Labelling Theory dan Critikal Theory.

BAB II
PEMBAHASAN

A. CONTOH KASUS
Korban Tewas Aksi Geng Motor Anggota TNI AL
VIVAnews - Kasus pengeroyokan yang dilakukan geng motor di Jakarta masih didalami
penyidik Polda Metro Jaya. Polisi menduga aksi lanjutan yang terjadi secara beruntun
merupakan aksi balas dendam.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, aksi brutal
anggota geng motor di Jakarta sampai tiga kejadian. Aksi pertama pada 31 Maret 2012, dan
menyebabkan satu orang meninggal dunia.
"Korban atas nama Arifin, dia anggota TNI Angkatan Laut, pangkatnya Klasi. Kejadiannya di
Pademangen, Jakarta Utara," ujar Rikwanto, Selasa 10 April 2012.
Ditambahkan Rikwanto, setelah kejadian tanggal 31 Maret, kemudian terjadi lagi aksi lanjutan pada
7 April 2012 dan menewaskan satu orang bernama Soleh. Korban ditemukan tergeleak di SPBU
Shell, Danau Sunter, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Selain Soleh, ada dua korban lagi yang
mengalami luka berat.
Kejadian terakhir pada 8 April 2012, di Jalan Raya Benjamin Sueb, Kemayoran, Jakarta
Pusat. Dalam kejadian ini, lima orang mengalami luka tusuk dan satu motor dibakar.
"Untuk tanggal 7-8 April itu aksi balas dendam. Masih dilakukan pendalaman untuk korban
pertama dan kedua, karena kejadiannya bersamaan sekitar pukul 02.00-03.00 WIB dini hari,"
jelas Rikwanto.
Saat ini, Polda Metro Jaya dengan Polres Jakarta Utara dan Jakarta Pusat membentuk tim
untuk menyelidiki aksi saling serang kelompok geng motor ini. Sebagai tindakan preventif

langsung dilakukan patroli pada lokasi tempat balap liar. Sementara mengenai siapa
pelakunya, polisi sudah menemui titik terang dan segera dilakukan upaya penangkapan.
"Saksi-saksi di lapangan sudah ada yang diperiksa," kata dia.
Dihubungi terpisah, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Angkatan Laut, Laksamana
Untung Suropati, membenarkan bila dalam aksi geng motor, Klasi Satu (KLS) Arifin adalah
anggotanya. Arifin bertugas sebagai staf di Mako Armabar.
Terkait dengan keterlibatan rekan-rekan Arifin yang diduga melakukan aksi balas dendam,
Untung membantahnya. Menurutnya, kejadian tersebut memang beruntun, tetapi bukan
kejadian lanjutan.
"Kalau dibilang lanjutan tidak tepat juga. Kalau lanjutan, abis kejadian meninggal pasti hari itu
juga ada aksi balasan," kata Untung.
Sementara itu, pelaku yang diduga memiliki ciri-ciri badan tegap, rambutnya cepak dan
sebagainya, lanjut Untung, itu merupakan suatu hal yang kebetulan sama.
Sebenarnya aksi geng motor bukan baru ini terjadi. Aksi-aksi brutal yang dilakukan
oleh geng motor sudah terjadi sejak lama. Keberadaan geng motor pun saat ini sedang marakmaraknya, bahkan setiap kota-kota besar ada geng motor. Kita saksikan saja ketika malam
tiba, pada beberapa ruas jalan ada sekelompok anak muda kumpul dengan motor yang
dibawanya. Biasanya geng motor ini dikaitkan dengan adanya balapan liar yang memakai
jalanan kota. Biasanya balapan itu dilakukan dini hari, kala jalanan sunyi. Balapan tersebut
dilakukan untuk meraup keuntungan materi dari taruhan yang dilakukan. Jika terjadi
perselisihan maka dengan mudah terjadi perkelahian dan imbasnya terjadi penjarahan kepada
masyarakat atau tempat-tempat tertentu yang ada disekitar lokasi. Itulah geng motor, yang
sangat jauh berbeda dengan klub motor resmi di masyarakat yang melakukan tindakantindakan positiftidak melakukan kekerasan, tidak balapan liar.

B.

PENGERTIAN GENG MOTOR DAN HUKUM YANG MENGATUR


Pengertian geng motor ini sebenarnya berawal dari sebuah kecenderungan hobi yang
sama dari beberapa orang, namun belakangan geng motor semakin meresahkan masyarakat.
Anggota geng motor tidak lebih dari anak-anak yang kurang perhatian dari orang tua mereka.
Mereka itu ingin cari perhatian dan dipuji-puji rekan satu gengnya karena di rumah tidak
mendapat kasih sayang orang tua. Perlu dibedakan antara geng motor dengan Club Motor.
Club Motor biasanya mengusung merek tertentu atau spesifikasi jenis motor tertentu dengan
perangkat organisasi formal, seperti HDC (Harley Davidson Club), Scooter (kelompok
pecinta Vesva), kelompok Honda, kelompok Suzuki, Tiger, Mio. Ada juga Brotherhood
kelompok pecinta motor besar tua.
Geng motor mulanya kumpul-kumpul sesama pecinta motor, kemudian berubah jadi
geng yang beranggotakan puluhan bahkan ratusan orang. Di jalanan, mereka membentuk
gaya hidup yang terkadang menyimpang dari kelaziman demi menancapkan identitas
kelompok. Ngetrack, kebut-kebutan, dan tawuran adalah upaya dalam pencarian identitas
mereka.
Sekarang geng-geng motor sudah berada dalam taraf berbahaya, tak segan mereka
tawuran dan tak merasa berdosa para geng tersebut membunuh. Perbedaan mencolok dari
geng motor dan club motor adalah :
1.

Kebanyakan anggota geng motor tidak memakai perangkat safety seperti helm,
sepatu dan jaket.

2.

Membawa senjata tajam yang dibuat sendiri atau dari pabrik seperti samurai, badik
hingga bom Molotov.

3.

Biasanya hanya berkumpul pada malam hari dan tidak menggunakan lampu
penerang.

4.

Jauh dari kegiatan sosial.

5.

Anggota Geng Motor cenderung sering melakukan tindakan kriminal

6.

Memiliki motor yang kurang dari standar keamanan.

7.

Tidak memiliki tujuan yang jelas.


Geng motor, secara substansi merupakan perkumpulan orang-orang. Kebebasan untuk

berkumpul merupakan salah satu hak yang diakui dalam Undang-undang dasar 1945
amandemen ke-IV, yaitu pasal 28E ayat 3, yang menyebutkan setiap orang berhak atas
kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.
Dari pasal tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa sebagai warga negara Indonesia
berhak untuk berserikat, membentuk perkumpulan dan mengeluarkan pendapatnya. Setiap
ada hak tentu ada kewajiban. Ada peraturan yang membatasi prilaku dari perserikatan atau
perkumpulan tersebut. Dalam KUHP pasal 510 dan pasal 511, berbunyi sebagai berikut :
1. Pasal 510 KUHP Diancam dengan pidana denda paling banyak tiga ratus tujuh
puluh lima rupiah, barang siapa tanpa ijin kepala polisi atau pegawai negeri lain yang
ditunjuk untuk itu :
a. Mengadakan pesta atau keramaian untuk umum
b. Mengadakan arak-arakan di jalan umum. Jika arak-arakan diadakan untuk
menyatakan keinginan-keinginan secara menakjubkan, yang bersalah
diancam dengan pidana paling lama dua minggu atau pidana denda dua
2.

ribu dua ratus lima puluh rupiah.


Pasal 511 KUHP Barang siapa di waktu ada pesta arak-arakan dan sebagainya,
tidak menaati perintah dan petunjuk yang diadakan oleh polisi untuk mencegah
kecelakaan oleh kemacetan lalu lintas di jalan umum, diancam dengan pidana paling
banyak

tiga

ratus

tujuh

puluh

lima

rupiah

Walaupun semua orang berhak untuk berkumpul (geng motor) namun hal tersebut
tidak boleh bertentangan dengan perundang-undangan yang berlaku.
C. ANALISA KASUS GENG MOTOR

1. Pengertian dan Pembagian Bridging Theory


Bridging Theory adalah Sebagai alternative penjelasan terhadap kejahatan yang tidak
hanya berorientasi pada penjelasan tradisional (Micro dan Macro Teori) tetapi juga
memandang bahwa kejahatan itu terjadi karena apa yang dilakukan oleh orang-orang yang
berada dalam kekuasaan, khususnya mereka yang terlibat dalam sistem peradilan pidana.
Bridging Theory meliputi Labeling Theory, Conflict Theory dan Radical ( critical )
theory. Labeling theory beranggapan bahwa Para criminal bukan orang jahat yang terlibat
dalam perbuatan-perbuatan yang bersifat salah tetapi mereka adalah individu-individu yang
sebelumnya pernah berstatus jahat sebagai pemberian dari sistem peradilan pidana maupun
masyarakat secara luas. Labeling Theory juga beranggapan bahwa Perbuatan Kriminal
( Kejahatan ) dan Kontrol ( Reaksi Masyarakat ) atas penjahat terlibat dalam proses dan
merupakan pengaruh kunci terhadap tingkah laku berikutnya sehingga muncul dua
pertanyaan yaitu : Bagaimana dan mengapa seorang di cap / label sebagai penjahat dan Efek
labeling terhadap penyimpangan tingkah laku berikutnya.
Conflik Theory berorientasi pada kejahatan sebagai akibat dari eksistensi suatu sistem
yang diakui. Dalam teori ini hukum diciptakan oleh penguasa untuk melindungi kepentingankepentingan penguasa. Namun dalam proses tersebut selalu terjadi pertarungan ( Stuggle )
antara berbagai kelompok kepentingan yang berusaha mengontrol pembuatan dan penegakan
hukum.
Radikal ( Critical ) atau disebut juga Marxis Theory berasumsi bahwa penyebab
kejahatan hanya khusus pada kapitalisme, sehingga setiap perbuatan yang mengancam status
qua dari capitalist ruling class dianggap sebagai kejahatan. Walaupun memiliki kesamaa
dengan teori konflik khususnya pemikiran bahwa Hukum diciptakan oleh penguasa untuk
melindungi kepentingan penguasa, namun berbeda dalam hal kuantitas dari kekuatan yang

bersaing dalam pertarungan kekuasaan. Kritik atas Radikal ( Critical ) / Marxist Theory
sebagai berikut :
a. Pembagian masyarakat ke dlaam kelas-kelas social mungkin ada keuntungannya.
b. Standart-standart yang dibuat oleh sebagian orang untuk mengilhami anggota
masyarakat lain.
c. Terlalu terfokus pada kepentingan-kepentingan kelas dan melupakan fakta bahwa
masyarakat itu sendiri terdiri atas banyak kelompok kepentingan.
d. Bias Marxist ini membawa hasil-hasil yang tidak dapat dipercaya dan melupakan
realitas, menjelaskan isu-isu yang sudah dengan sendirinya terbukti ( contoh :
beberapa bisnisman rakus dan korup ) dan tidak menjelaskan isu-isu yang relevan
( contoh : mengapa Negara-negara sosialis memiliki kejahatan ).

2. Analisis Kasus Geng Motor Menurut Labeling Theory


Pada dasarnya setiap orang menginginkan pengakuan, perhatian, pujian, dan kasih
sayang dari lingkungannya, khususnya dari orang tua atau keluarganya, karena secara
alamiah orang tua dan keluarga memiliki ikatan emosi yang sangat kuat. Pada saat
pengakuan, perhatian, dan kasih sayang tersebut tidak mereka dapatkan di rumah, maka
mereka akan mencarinya di tempat lain. Salah satu tempat yang paling mudah mereka
temukan untuk mendapatkan pengakuan tersebut adalah di lingkungan teman sebayanya.
Sayangnya, kegiatan-kegiatan negatif kerap menjadi pilihan anak-anak broken home tersebut
sebagai cara untuk mendapatkan pengakuan eksistensinya.
Teori Labeling mengetengahkan pendekatan interaksionalisme berkonsentrasi kepada
konsekuensi interaksi antara penyimpangan dengan agen kontrol sosial. Dengan demikian,
penyimpangan ini disebabkan pemberian julukan, cap, etiket, merk yang diberikan oleh
masyarakat kepada Geng Motor tersebut. Geng Motor oleh masyarakat umum selalu
diidentikkan sebagai kelompak yang brutal, sehingga mereka melakukan perbuatan itu.
Kemudian mereka mengidentifikasikan dirinya sebagai penyimpang dan mengulangi lagi

perilaku penyimpangannya, sehingga mereka mulai menganut suatu gaya hidup menyimpang
yang menghasilkan suatu karier menyimpang.
Menurut kami, teori labelling disini berperan setelah munculnya cap / label pada geng
motor itu sendiri. Hal ini juga berdampak pada klub-klub motor lainnya yang ada, Susahnya
mengidentifikasi mana geng motor yang meresahkan warga dan mana yang tidak, seringkali
membuat warga sudah berprasangka buruk lebih dulu, sehingga seringkali kumpul-kumpul
geng

motor

selalu

dianggap

sesuatu

yang

bisa

mengancam.

Cap / label juga sampai kepada klub-klub motor yang baru akan dibentuk.
Pada umumnya klub motor-klub motor tersebut terdaftar

di kepolisian

(dalam arti medapat izin dari pihak kepolisian). Namun karena aksi-aksi geng motor
belakangan ini membuat pihak kepolisian tidak lagi memberikan izin terhadap pendirian klub
motor.

3. Analisis Kasus Geng Motor Menurut Teori Konflik


Teori dengan penjelasan norma, peraturan, dan hukum dari pada penjelasan perilaku
yang dianggap melanggar peraturan. Perilaku yang dilakukan oleh Geng Motor itu dikatakan
menyimpang oleh para kelompok berkuasa untuk melindungi kepentingan mereka. Dan
hukum merupakan pencerminan kelas yang berkuasa. Oleh karena itu yang dianggap
melakukan penyimpangan dan terkena hukuman kebanyakan golongan orang bawah yang
merupakan mayoritas anggota Geng Motor.
Hal ini tercermin dari metode yang dipakai oleh Geng motor dalam perekrutan
anggota dan aktifitas yang dilakukan oleh Geng motor. Masing-masing geng motor memiliki
cara sendiri dalam membina kemampuan dan keberanian anggotanya. Minuman, seks, obatobatan adalah hal biasa bagi anggota geng motor. Selain itu penggemblengan biasa dilakukan
di tempat-tempat tertentu (masing-masing geng memiliki tempat favoritnya), semisal

lembang atau tempat lainnya dimana anggota harus melakukan serangkaian aktivitas fisik
yang brutal termasuk duel sampai lawan tidak berkutik antar anggotanya.
Selain itu, setelah rangkaian aktivitas fisik dalam ospek biasanya masih ada satu
tambahan tes lagi. Tiap anggota diharuskan untuk menuruni jalan atau balapan dengan sepeda
motor tanpa rem. Murni mengandalkan kenekatan dan skill memainkan persneling kendaraan.
Latihan semacam inilah yang membuat para anggota terlatih melakukan aksi kejahatan,
perampasan, penyerangan dan perampokan (termasuk kabur dari kejaran aparat).
Cara geng-geng motor ini mendapatkan anggotanya sebenarnya simpel, mereka cukup
mendatangi sekolah-sekolah basis asal mereka. Senior sering kali tinggal mencomot anak
sekolah baru yang mereka temui dan membawanya untuk mengikuti serangkaian kegiatan.
Sebagai contoh sebagaimana yang dialami oleh Tio, Sabtu sepulang sekolah, sebutlah Tio,
tidak pulang kerumah. Minggu sore baru pulang dengan muka lusuh dan mengaku menginap
dirumah temannya. Setelah didesak oleh bapak dan ibu dia akhirnya Tio mengaku dibawa
ikut ke Garut mengikuti serangkaian kegiatan geng motor. Tio pun ikut saja karena ajakan itu
disertai ancaman akan dibuat sengsara disekolah kalau tidak mau ikut serta. Pola seperti
inilah yang membuat banyak anak usia sekolah nurut dan akhirnya menjadi anggota geng
motor.
Untuk keluar dari keanggotaan geng motor bukanlah perkara mudah. Bahkan ada
yang mengharuskan anggotanya memotong jari kelingking apabila ingin keluar dari
keanggotaan gengnya. Hal ini belum termasuk ancaman, teror dan beragam hal lainnya yang
menyurutkan mental walau banyak juga yang tak mau keluar karena sudah terlanjur keenakan
dengan beragam kegiatannya.
Sebenarnya hal ini terjadi bukan hanya karena pertikaian antara sesama geng. Adanya
perintah dari senior atau komandan adalah salah satu alasan lainnya sehingga anggota geng
menyerang masyarakat biasa. Dan hal ini belum termasuk hasutan, pengaruh minuman, dan
yang lainnya.
Dalam malam-malam tertentu para anggota geng sering kali berkumpul (sekali kumpul
bisa mencapai 100 motor lebih) untuk melakukan konvoi. Pada saat itu, anggota memiliki

keberanian lebih dan merusak tempat mana saja yang diperintahkan, yang kurang berkenan, atau
malah dicurigai sebagai lawan. Tapi ada kalanya juga penyerangan dilakukan oleh beberapa
anggota saja yang berkumpul, keliling mencari mangsa, memaksa orang lain (umumnya mereka
mengincar bapak-bapak yang menggunakan motor standar, berkendaraan pelan dan melewati
jalan gelap) untuk menyerahkan motor, dompet atau HP nya, apabila ada gelagat sengak dari
mangsa para anggota geng ini tidak segan menghabisi mangsa.
Perilaku menyimpang yang dilakukan oleh Geng Motor juga didasarkan pada sumpah
yang mereka buat meliputi :
1. Harus berani melawan polisi berpangkat komisaris ke bawah.
2. Anggota harus berani melawan orang tuanya sendiri.
3. Anggota harus bernyali baja dalam melakukan kejahatan.
Tiga sumpah anggota geng motor di Bandung itu tertuang dalam buku putihnya
yang ditemukan polisi pada tahun 1999. Dokumen setebal 20 halaman yang diamankan
Kapolwiltabes Bandung saat itu, Kolonel (Kombes-Red) Yusuf Mangga Barani, nampaknya
menjadi 'sumpah' atau patokan geng motor selama ini (Poskota,25 Oktober 2007). Meskipun
sebagian besar masih siswa SMA atau SMP, mereka sudah disumpah berani melawan orang
tua, polisi, dan melakukan kejahatan.
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam geng motor dari mulai
perekrutan anggota sudah kelihatan adanya upaya untuk melakukan penyimpangan dan
pelanggaran norma yang ada. Disini mereka mencoba melakukan hukum penegak hukum
yang dibuat oleh pemerentah. Padahal hukum yang dibuat pemerintah bertujuan untuk
terciptanya ketertiban dalam masyarakat. Disini hukum merupakan pencerminan kelas yang
berkuasa. Oleh karena itu geng motor yang dianggap melakukan penyimpangan terhadap
norma dan hukum harus terkena sanksi.
4. Cara Memecahkan Masalah Geng Motor

Untuk memecahkan masalah geng motor ini cukup rumit. Perlu dilakukan koordinasi
dari beragam pihak, terutama dari pihak sekolah, keluarga, kepolisian dan masyarakat. Pihak
sekolah bekerja dengan Dinas Pendidikan harus mampu memantau dan melindungi muridmuridnya yang potensial menjadi anggota geng. Razia, pencatatan nama, konseling bisa
dilakukan sesering mungkin untuk memantau dan mencegah murid terjerumus didalam aksi
geng motor.
Masyarakat sekitar harus memberi dukungan untuk perubahan geng motor untuk
melakukan perbuatan yang positif. Hal ini dapat dilakukan dengan menghilangkan anggapan
tentang perbuatan yang tidak baik terhadap perkumpulan pemuda motor atau yang disebut
dengan geng motor. Masyarakat harus mampu bertindak cepat untuk melaporkan kalau ada
gerombolan yang mencurigakan. Jangan takut untuk mengambil peran mengamankan
lingkungan sekitar. Jangan sampai korban-korban yang terpaksa kehilangan tangan,
kehilangan kaki, bahkan nyawa berjatuhan dimana-mana.
Keluarga harus jeli melihat perubahan dari anak dan mengarahkannya. Entah karena
kebiasaan atau pengaruh kehidupan perkotaan sering kali yang terjadi malah orang tua
cenderung membebaskan anak untuk bergaul tanpa memantau atau mengarahkan. Orang tua
harus ekstra hati-hati mencurigai apalagi kalau ada gelagat yang ditutup-tutupi dari anak
sendiri.
Dalam penegakan hukum lagi-lagi kepolisian dituntut tegas dalam melaksanakan
hukuman terhadap geng motor. Ada pandangan umum bahwa pentolan geng motor
kebanyakan adalah anak-anak orang berpangkat di kota Bandung dan dibiarkan. Selain itu,
kepolisian janganlah takut untuk menghukum walaupun faktanya para pelaku adalah anak
dibawah umur. Hukuman yang tegas kalau perlu ditembak ditempat harus diberlakukan guna
memberi efek jera dan jeri untuk para pelaku atau para calon pelaku.

BAB III
KESIMPULAN

1. Perilaku geng motor merupakan salah satu contoh kenalakan remaja (Juvenile
Delinquency) yang mengarah pada perbuatan kriminalitas
2. Jika dikaitkan dengan teori-teori kriminologi, maka geng motor, dapat dijelaskan
dengan teori labeling dan teori Konflik.

3. Dalam Teori Labelling, penyimpangan yang dilakukan gang motor disebabkan


pemberian julukan, cap, etiket, merk yang diberikan oleh masyarakat kepada Geng
Motor tersebut. Geng Motor oleh masyarakat umum selalu diidentikkan sebagai
kelompak yang brutal, sehingga mereka melakukan perbuatan itu.
4. Dalam Teori Konflik,

Perilaku yang dilakukan oleh Geng Motor merupakan

penyimopangan oleh para kelompak, dimana kelompok ini memiliki penguasa yang
mempengaruhi anggota kelompoknya. Dan hukum sebagai alat terciptanya
ketentraman dalam masyarakat dianggap mereka sebagai penghalang dalam
melaksanakan kegiatan geng motor.

Daftar Pustaka
1. Topo Santoso dan Eva Achjani, Kriminologi, Jakarta, PT RajaGrafindo Persada.
2. http://www.viva.co.id
3. http://nickhanickhuna.blogspot.com/