Anda di halaman 1dari 3

Ahmad Syarif(1506726271)

Judul

: Struktur Organisasi Kerajaan-Kerajaan

Data Publikasi

: Referensi: Poesponegoro, M.D., dan Notosusanto, Nugroho.

(2008). Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta: Balai Pustaka.


Kekuasaan raja, sultan, atau pun gelar raja lainnya memegang peranan penuh dalam kehidupan
organisasi kerajaan-kerajaan islam di Nusantara. Dengan datangnya pengaruh islam ke Nusantara
terutama di kepulauan Jawa, yang dibawa secara aktif oleh mubaligh-mubaligh atau pun ulamaulama lokal di Jawa. sedikit demi sedikit mereka mulai mengguncangkan kekuasaan para raja dan
kaum bangsawan yang ada .
Pada umumnya, sebutan raja sebagai kepala pemerintahan yang tertinggi pada kerajaan-kerajaan
Islam masih memakai nama-nama atau sebutan-sebutan seperti lazimnya untuk para raja pada
masa sebelum berdirinya kerajaan islam. Hal ini berkaitan dengan masih melekatnya pengaruh
hindu di istana bagi raja atau pun bangsawan lainnya. Sartono Kartodirdjo menyebutkan bahwa
yang dimaksud dengan pengertian raja adalah seseorang yang menyatukan pelaksanaan
kekuasaan tertinggi dan berbagai lambang yang bersifat magis dan mistis, yang menyatukan
kualitas perlengkapan-perlengkapan kekuasaan itu. Di Samudra Pasai, Malik as-Saleh telah
memakai gelar Sultan. Di Jawa sebutan raja masih dipakai dengan beberapa ragam nama dan
gelar lainnya, seperti susuhunan, sultan, penambahan, maulana, dan raja. Di Sulawesi sebutan
raja menggunakan gelar seperti datu, batara, tomanurung (seseorang yang diturunkan dari
kayangan), karaeng agung, dan matowa. Raja adalah seorang pemimpin sehingga kepadanya
dikenakan sejumlah syarat agar ia menjalankan fungsinya. Karena syarat-syarat yang tidak
sedikit dan kewajiban-kewajiban raja yang melebihi manusia biasa, terkadang martabat raja
dihubungkan dengan kedewaan, raja adalah penjelmaan dari dewa,.ini merupakan masih adanya
pengaruh dari ajaran Hindu yang mengkultuskan seorang raja, padahal dalam islam raja tidak
bisa bertindak sebagai dewa. Raja mengadili perkara-perkara yang berhubungan dengan
pemerintahan. Raja berkewajiban melindungi rakyat dari tindakan sewenang-wenang para
pejabat kerajaan. Ia mempunyai kekuasaan untuk mengangkat orang-orang yang ahli dalam
hukum (ulama), mengangkat orang cerdik pandai untuk mengurus kerajaan. Mengangkat orang
perkasa untuk pertahanan negeri. Dalam menjalankan kekuasaannya, sultan atau raja mendapat

kekuasaan dari alim ulama, kadi, dan dewan kehakiman, mereka terutama memberi peringatan
kepada raja terhadap pelanggaran pada adat atau syara. Babad Tanah Jawimemberikan sebuah
contoh tentang sebuah benda yang akan menjadi perlambang raja-raja Tanah Jawa. Pada suatu
hari para wali sedang berzikir di masjid Demak, tiba-tiba dari atas jatuh sebuah bungkusan yang
ternyata isinya adalah pasujudan dan selendang Rasullullah. Kedua benda tersebut oleh Sunan
Kalijaga disebut baju yang kelak disebut Antakusuma yang bergelar Ki Gundil. Baju inilah yang
menjadi perlambang pakaian resmi raja-raja di Jawa yang mulai dipakai sejak masa Senepati ing
Alaga di Mataram. Selain baju, benda lain yang menjadi perlambang adalah benda (gong).
Sementara di kerajaan Samudra Pasai, pada pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636)
menggunakan bendera resmi sebagai perlambang, yaitu berwarna merah dengan bagian atas
terdapat gambar bintang bersudut lima yang mengapit bulan sabit, kemudian di bagian bawahnya
terdapat gambar pedang. Selain itu, terdapat lambang kerajaan yang lain ialah stempel sultan
yang bercap halilintar dan keris milik raja. Dari Hikayat Banjar beberapa alat perlambang
kerajaan, adalah payung, keris (pada Kerajaan Kotawaringin keris kerajaan bernama si Mesa
Girang), rencak suci, umbul-umbul, dan panji kakenda. Adapun pejabat-pejabat kerajaan adalah
menteri, hulubalang, sida-sida, embuai, dan beberapa pembesar istana. Kepala kampung yang
membantu mengumpulkan orang-orang untuk berperang disebut pendikar atau pengulu. Adapun
nama-nama pejabat militer dalam kerajaan adalah panglima, kemudian di bawahnya menyusul
pahlawan dan ponggawa sedangkan pasukan kerajaan pada umumnya disebut laskar. Selain itu,
para ratu dan putri-putri raja terdapet pembantu-pembantu, seperti perwara; para menteri
mempunyai pembantu yang disebut inang, dayang-dayang, dan pengasuh. Terdapat juga
mobilitas golongan birokrat pada masyarakat yang dipengaruhi oleh terjadinya pergeseran kelas
sosial di kalangan masyarakat itu sendiri. Terjadinya mobilitas sosial diberbagai daerah di
Nusantara kalau tidak karena perang dinasti yang terus-menerus dan adanya ansir-ansir baru
dikalangan masyarakat, disebabkan adanya perebutan hegemoni di bidang politik dan
perdagangan.
Melihat pembahasan diatas, kekuasaan raja atau sultan memang dominan dalam kehidupan
organisasi kerajaan-kerajaan islam di Nusantara. Kekuasaan raja atau sultan yang memiliki
keistimewaan khusus membuat ia dihubungkan dengan dewa, atau pada kerajaan islam sultan
disebut sebagai wali Allah. Sebutan nama atau gelar raja dan perlambang kerajaan pada tiap-tiap
pulau di Nusantara juga berbeda-beda.

Referensi: Poesponegoro, M.D., dan Notosusanto, Nugroho. (2008). Sejarah Nasional Indonesia
III. Jakarta: Balai Pustaka.