Anda di halaman 1dari 2

Keruntuhan Kesultan Banjarmasin

Kemunduran Kesultanan Sebagai sebuah pusat perdagangan, dapat dibagi menjadi dua
faktor yaitu eksternal dan internal.
Faktor eksternal
yang mendorong kemunduran perdagangan adalah penguasaan jaringan perdagangan
yang semula berada ditangan raja atau sultan kemudian direbut oleh kelompok-kelompok dagang
bangsa Eropa. Kemunduran perdagangan di Banjarmasin terjadi sesudah VOC mendapatkan hak
penuh atas monopoli perdagangannya di tahun 1787.
Faktor internal
yang menyebabkan kemunduran perdagangan pada kerajaan-kerajaan di masa lalu yaitu
disebabkan oleh konflik politik antar keluarga penguasa. konflik ini biasanya dipicu oleh faktor
ekonomi yang pada umumnya mengakibatkan keguncangan dalam suatu lembaga politik. Dalam
kerangka ini pertikaian keluarga di Kesultanan Banjarmasin sendiri sering terjadi
perselisihan paham antar golongan penguasa, terutama antar putra mahkota dengan
mangkubumi, perselisihan ini sering terjadi terkait masalah pergantian sultan. di tahun 1734
setelah sultan Hamidullah meninggal, peristiwa ini terjadi antara Sultan Tamjidillah (m. 17341759) dengan Sultan Muhammad (m. 1759- 761), dan berlanjut terus hingga keturunan
keduanya.
Sebenarnya perjalanan sejarah kesultanan Banjarmasin yang terpaksa harus berakhir di
abad ke-19 tidak berbeda jauh dengan yang dialami kerajaan-kerajaan pribumi lainnya di
Nusantara. Faktor utama yang bisa ditilik dengan penyebabnya adalah umumnya mereka
memiliki kelemahan institusi dalam menghadapi masuknya pengaruh politik dari luar lantaran
sistem pemerintahan Kesultanan pribumi bertopang pada kharisma dari Sultan, yang berkuasa
berdasarkan klaim mendapatkan Wahyu Tuhan atau Dewa. Sebaliknya, institusi pemerintah
Hindia Belanda dan lembaga-lembaga sosial ekonomi dari luar lainnya, terutama dari Eropa,
memiliki suatu sistem pemerintah berdasarkan organisasi dan keteraturan.
Selain itu, sultan yang berkuasa di Kesultanan Banjarmasin tidak mempunyai pengaruh
di dalam dan di luar bidang kekuasaannya. Padahal, Sultan sebagai pemimpin tradisional harus
mampu mengalahkan kekuatan fisik dan mengorganisasi orang banyak atas dasar suatu sistem
sanksi. Sementara, pemerintah Hindia Belanda sebagai penguasa berhasil menerapkan unsur
politik tersebut sehingga dapat mencapai tujuan untuk berekspansi di wilayah Kalimantan

Dengan demikian, terlihat bahwa kehancuran Kesultanan Banjarmasin pada tahun 1860
akibat faktor dari luar, yaitu masuk ke pemerintah Hindia Belanda, dan faktor dari dalam rupa
konflik perebutan Tahta kesultanan di antara keluarga Sultan.