Anda di halaman 1dari 2

RESPON FISIOLOGIS TERHADAP STRESS

1. KOMPONEN FISIOLOGI
Riset klasik yang telah dilakukan oleh Selye (1946, 1976) telah mengidentifikasi dua
respons fisiologis terhadap stress; sindrom adaptasi lokal (LAS) dan sindrom
adaptasi umum (GAS). LAS adalah respon dari jaringan, organ atau bagian tubuh
terhadap stress karena trauma, penyakit atau perubahan fisiologis lainnya. GAS
adalah respons pertahanan dari keseluruhan tubuh terhadap stress.
a. LAS (Lokal Adaptation Syndrome)
Tubuh menghasilkan banyak respons setempat terhadap stress. Respons setempat
ini termasuk pembekuan darah, penyembuhan luka, akomodasi mata terhadap
cahaya dan respon tekanan. Semua bentuk LAS mempunyai karakteristik berikut :
Respon yang terjadi adalah setempat, respon ini tidak melibatkan seluruh sistem
tubuh
Respon adalah adaptif, berarti bahwa stressor diperlukan untuk menstimulasinya.
Respon adalah berjangka pendek. Respon tidak terdapat terus menerus.
Respon adalah restorative, berarti bahwa LAS membantu dalam memulihkan
homeostasis region atau bagian tubuh.
Dua respon setempat , yaitu respons refleks nyeri dan respons inflamasi adalah
contoh dari LAS. Perawat menghadapi respons ini dibanyak lingkungan perawatan
kesehatan.
Respon refleks nyeri
Respon refleks nyeri adalah respon setempat dari sistem saraf pusat terhadap nyeri.
Respon ini adalah respons adaptif dan melindungi jaringan dari kerusakan lebih
lanjut. Respons ini melibatkan reseptor sensoris, saraf sensoris yang menjalar ke
medulla spinalis, neuron penghubung dalam medulla spinalis, saraf motorik yang
menjalar dari medulla spinalis dan otot efektif. Misalnya , sebut saja di bawah sadar,
yaitu refleks menghindarkan tangan dari permukaan panas. Contoh lainnya adalah
kram otot.
Respons inflamasi
Respons inflamasi distimuli oleh trauma atau infeksi. Respons ini memusatkan
inflamasi , sehingga dengan demikian menghambat penyebaran inflamasi dan
meningkatkan penyembuhan. Respons inflamasi dapat mengakibatkan nyeri
setempat, pembengkakan, panas, kemerahan dan perubahan fungsi.Respons
inflamasi terbagi dalam tiga fase yaitu perubahan dalam sel-sel dan sistem
sirkulasi, pelepasan eksudat dari luka dan perbaikan jaringan oleh regenerasi atau
pembentukan jaringan parut.
b. GAS (General Adaptation Syndrome)
GAS adalah respon fisiologis dari seluruh tubuh terhadap stress. Respon ini
melibatkan beberapa sistem tubuh, terutama sistem saraf otonom dan sistem
endokrin. Beberapa buku menyebutkan GAS sebagai respon neuro-endokrin. GAS
terdiri atas reaksi peringatan , tahap resisten dan tahap kehabisan tenaga.
GAS diuraikan dalam tiga tahapan berikut :

Alarm reaction (AR, reaksi cemas).


Selama tahap ini tubuh menyadari penyebab ketegangan dan secara sadar atau
tidak sadar dipicu untuk bertindak. Kekuatan pertahanan tubuh dikerahkan dan
tingkat yang normal dari perlawanan tubuh menurun. Kalau penyebab ketegangan
itu cukup keras, tahap ini dapat mengakibatkan kematian. Contohnya adalah luka
bakar yang hebat.
Reaksi alarm melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh dan pikiran
untuk menghadapi stressor. Kadar hormon meningkat untuk meningkatkan volume
darah dan dengan demikian menyiapkan individu untuk bereaksi. Hormon lainnya
dilepaskan untuk meningkatkan kadar glukosa darah untuk menyiapkan energi
untuk keperluan adaptasi. Meningkatkan kadar hormon lain seperti efinefrin dan
norefinefrin mengakibatkan peningkatan frekwensi jantung, meningkatkan aliran
darah ke otot, meningkatkan ambilan oksigen dan memperbesar kewaspadaan
mental.
Aktivitas hormonal yang luasini menyiapkan individu untuk melakukan respon
melawan atau menghindar. Curah jantung, ambilan oksigen dan frekwensi
pernapsan meningkat, pupil mata berdilatasi untuk menghasilkan bidang visual
yang lebih besar, dan frekwensi jantung meningkat untuk menghasilkan energi lebih
banyak. Dengan peningkatan kewaspadaan dan energi mental ini, seseorang
disipkan untuk melawan atau menghindari stressor.
State of Resistance (SR, Perlawanan)
Tahap ini ditandai oleh penyesuaian dengan penyebab ketegangan. Tubuh melawan
reaksi cemas, karena dalam keadaan ini tidak ada orang yang terus menerus dapat
bertahan. Tingkat perlawanan tubuh naik di atas normal untuk melawan penyebab
ketegangan dengan harapan adanya penyesuaian. Disamping itu perlawanan tubuh
terhadap rangsangan selanjutnya meningkat.
Jika stress dapat diatasi, tubuh akan memperbaiki kerusakan yang telah terjadi.
namun demikian, jika stressor tetap terus menetap, seperti pada kehilangan darah
terus menerus, penyakit yang melumpuhkan, penyakit mental parah jangka
panjang, dan ketidakberhasilan dalam beradaptasi, maka individu memasuki tahap
ketiga dari GAS yaitu tahap kehabisan tenaga.
State of Exhausting (SE, tahap keadaan sangat lelah/ kehabisan tenaga)
Tahap ini ditandai dengan terjadinya kelelahan karena tubuh tidak mampu lagi
menanggung stress dan habisnya energi untuk beradaptasi. Tubuh tidak mampu
melindungi dirinya sendiri terhadap stressor, regulasi fisiologis menurun, dan jika
stress berkelanjutan dapat menyebabkan kematian.