Anda di halaman 1dari 33

Makalah Ilmiah

Keselamatan Kesehatan Kerja di


Ruang Rawat Inap Saraf
Gelima 1 RSUDZA
Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas dalam Menjalankan Kepaniteraan Klinik
Senior Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat / Ilmu Kedokteran
Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala

Disusun Oleh:
Affra Cahyo W
Asti Uki Utari
Cut Nanda Fitri
Fadillah Idris
Nurul Atikah Sinaga

1407101030055
1307101030250
1407101030110
1407101030065
14071010300

Pembimbing:
dr. Liza Salawati, M. Kes

BAGIAN/SMF ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
RSUD dr.ZAINOEL ABIDIN
BANDA ACEH
2016

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayahNya penulis dapat menyelesaikan penulisan laporan kasus yang berjudul Kesehatan
dan Keselamatan Kerja di Ruang Rawat Inap Saraf Gelima 1 RSUDZA. Shalawat
dan salam penulis haturkan kepada Nabi Muhammad SAW. yang telah membimbing
umat manusia dari alam kegelapan ke alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
Penyusunan laporan kasus ini disusun sebagai salah satu tugas dalam
menjalani Kepaniteraan Klinik pada Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat/ Ilmu
Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.
Ucapan terima kasih dan penghargaan penulis sampaikan kepada dr. Liza
Salawati, M. Kes yang telah bersedia meluangkan waktu membimbing penulis dalam
penulisan laporan kasus ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada para
sahabat dan rekan-rekan yang telah memberikan dorongan moril dan materil sehingga
tugas ini dapat selesai.
Akhir kata penulis berharap semoga laporan kasus ini dapat menjadi
sumbangan pemikiran dan memberikan manfaat bagi semua pihak khususnya bidang
kedokteran dan berguna bagi para pembaca dalam mempelajari dan mengembangkan
ilmu. Semoga Allah SWT selalu memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita
semua, Amin.

Banda Aceh, 26 April 2016

Penulis

DAFTAR ISI

JUDUL.....................................................................................................................1
KATA PENGANTAR...............................................................................................2
DAFTAR ISI............................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................4
1.1 Latar Belakang.......................................................................................4
1.2 Tujuan Penulisan....................................................................................5
BAB II TINJAUAN PUSTAKAN...........................................................................6
2.1 Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja......................................6
2.2 Prinsip Kebijakan Pelaksanaan dan Program Kesehatan dan
Keselamatan Kerja (K3) Di Rumah Sakit.............................................8
2.3 Standar Pelayanan K3 di Rumah Sakit.................................................8
BAB III ANALISA MASALAH...........................................................................11
BAB IV KESIMPULAN.......................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................17

BAB I
PENDAHULUAN
Pelayanan kesehatan merupakan sektor yang sangat cepat berkembangnya. Di US
terdapat 18 juta pekerja terlibat didalamnya, dan wanita merupakan 80% darinya.
Hazard yang terlibat dalam aktifitas ini sangat beragam, seperti needlestick injuries,
back injuries, latex allergy, violence, dan stress. Walaupun hal ini sangat mungkin
dicegah, namun kejadian injury maupun infeksi tetap saja terjadi. Upaya pelayanan
kesehatan seperti pemeriksaan kesehatan selama bekerja belum banyak dilakukan.1
Menurut WHO, dari 35 juta petugas kesehatan, ternyata 3 juta diantaranya
terpajan oleh bloodborne pathogen, dengan 2 juta dianatanya tertular virus hepatitis
B, dan 170.000 diantaranya tertular virus HIV/AIDS. Menurut NIOSH, untuk kasuskasus yang non-fatal baik injury maupun penyakit akibat kerja, sarana kesehatan
sekarang semakin meningkat, berbanding terbalik dengan sektor konstruksi dan
agriculture yang dulu paling tinggi, sekarang sudah sangat menurun. Selain itu Infeksi
nosokomial masih menjadi isu cukup signifikan dikalangan pelayanan kesehatan,
sehingga pengembangan program patient safety sangat relevan dikembangkan.
Karena itu pengembangan program keselamatan dan kesehatan kerja di sarana
kesehatan seperti rumah sakit dan sarana kesehatan lainnya perlu dikembangkan
dalam upaya melindungi baik tenaga kesehatan sendiri maupun pasien. 1
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah suatu program yang dibuat sebagai
upaya mencegah timbulnya kecelakaan dan penyakit akibat kerja dengan cara
mengenali hal-hal yang berpotensi menimbulkan kecelakaan dan penyakit akibat
kerja serta tindakan antisipatif apabila terjadi kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Upaya penanganan faktor potensi berbahaya yang ada di rumah sakit serta metode
pengembangan program kesehatan dan keselamatan kerja perlu dilaksanakan, seperti
misalnya perlindungan baik terhadap penyakit infeksi maupun non-infeksi,
penanganan limbah medis, penggunaan alat pelindung diri dan lain sebagainya.
Selain terhadap pekerja di fasilitas medis/klinik maupun rumah sakit, kesehatan dan

keselamatan kerja di rumah sakit juga concern keselamatan dan hak-hak pasien,
yang masuk kedalam program patient safety.1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja 1
Ada beberapa pengertian tentang kesehatan dan keselamatan kerja diantaranya ;
a. Kesehatan Kerja Menurut WHO / ILO (1995)
Kesehatan kerja bertujuan untuk peningkatan dan pemeliharaan derajat
kesehatan fisik, mental, dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di
semua jenis pekerjaan, pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja
yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan; perlindungan bagi pekerja dalam
pekerjaannya dari risiko akibat faktor yang merugikan kesehatan; dan
penempatan serta pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang
disesuaikan dengan kondisi fisiologi dan psikologisnya. Secara ringkas
merupakan penyesuaian pekerjaan kepada manusia dan setiap manusia
kepada pekerjaan atau jabatannya. 1
b. Kesehatan dan keselamatan kerja adalah upaya untuk memberikan jaminan
keselamatan dan meningkatkan derajat kesehatan para pekerja/buruh
dengan

cara

pencegahan

kecelakaan

dan

penyakit

akibat

kerja,

pengendalian bahaya di tempat kerja, promosi kesehatan, pengobatan, dan


rehabilitasi.1
Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Kesehatan,
Pasal 23 dinyatakan bahwa upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) harus
diselenggarakan di semua tempat kerja, khususnya tempat kerja yang
mempunyai risiko bahaya kesehatan, mudah terjangkit penyakit atau
mempunyai karyawan paling sedikit 10 orang. Jika memperhatikan isi dari
pasal di atas maka jelaslah bahwa Rumah Sakit (RS) termasuk ke dalam kriteria
tempat kerja dengan berbagai ancaman bahaya yang dapat menimbulkan
dampak kesehatan, tidak hanya terhadap para pelaku langsung yang bekerja di

RS, tapi juga terhadap pasien maupun pengunjung RS. Sehingga sudah
seharusnya pihak pengelola RS menerapkan upaya-upaya K3 di RS. 1
2.2

Prinsip Kebijakan Pelaksanaan dan Program Kesehatan dan Keselamatan Kerja


(K3) Di Rumah Sakit 2
Pembahasan difokuskan pada prinsip K3RS, program K3RS, dan
kebijakan pelaksanaan K3RS, yang di bagi dalam 3 (tiga) bagian yaitu2;
1. Prinsip kesehatan dan keselamatan kerja di ruma sakit (K3RS)
Agar kesehatan dan keselamatan kerja di ruma sakit (K3RS), dapat di
pahami secarah utuh, perlu diketahui pengertian 3 (tiga) komponen yang
saling ber interaksi, yaitu:
1) Kapasitas kerja adalah status kesehatan kerja dan gizi kerja yang baik
serta kemampuan fisik yang prima setiap pekerja agar dapat
melakukan pekerjaannya dengan baik. Contoh: Bila seorang pekerja
kekurangan zat besi yang menyebabkan anemia, maka kapasitas kerja
Akan menurun karna pengaruh kondisi fisik lemah dan lemas.
2) Beban kerja adalah beban fisik dan beban mental yang harus di
tanggung oleh pekerja dalam melaksanakan tugasnya. Contoh: pekerja
yang bekerja melebihi waktu kerja maksimum.
3) Lingkungan kerja adalah lingkungan yang terdekat dari seorang
pekerja. Contoh: Seorang yang bekerja di bagian instalasi radiologi
(kamar X Ray, kamar gelab, kedokteran, nuklir dan lain-lain).
2. Program kesehatan dan keselamatan kerja di rumah sakit (K3RS)
Program K3 di rumah sakit (K3RS) bertujuan untuk melindungi
kesehatan dan keselamatan kerja serta meningkatkan produktifitas tenaga
kerja, melindungi keselamatan pasien, pengunjung dan masyarakat serta
lingkungan rumah sakit. Kinerja setiap pengunjung kesehatan dan non
kesehatan merupakan resultante dari 3 (tiga) komponen yaitu kapasitas
kerja, beban kerja dan kapasitas kerja. Program K3RS yang harus
diterapkan adalah:
1) Pengembangan kebijakan Kesehatan dan Keselamatan Kerja di rumah
sakit (K3RS).

a. Pembuatan atau revitalisasi organisasi K3RS.


b. Merencanakan program K3RS selama 3 (tiga) tahun kedepan.
Setiap 3 tahun dapat di revisi kembali sesuai dengan
kebutuhan.
2) Pembudayaan perilaku Kesehatan dan Keselamatan Kerja di rumah
sakit (K3RS).
a. Advokasi sosialisasi K3 pada seluruh jajaran rumah sakit, baik
bagi pekerja,pasien serta pengunjung rumah sakit.
b. Penyebaran media informasi dan komunikasi baik melalui
film , leaflet, poster, pamflet dll.
c. Promosi K3 pada setiap pekerja yang bekerja disetiap unit di
Rumah Sakit.
3) Pengembangan sumber daya manusia (SDM) K3RS.
a. Pelatihan umum K3RS,
b. Pelatihan itern Rumah Sakit, seperti pekerja perunit rumah
sakit
c. Pengiriman SDM untuk pendidikan formal, pelatihan lanjutan,
seminar dan workshop yang berkaitan dengan K3.
4) Pengembangan pedoman dan Standar Operational Procedure (SOP)
K3RS.
a. Penyusunan pedoman praktek Ergonomi di rumah sakit.
b. Penyusunan pedoman pelaksanaan pelayanan kesehatan kerja.
c. Penyusunan pedoman pelaksanaan tanggap darurat di rumah
sakit.
d. Penyusunaan

pedoman

pelaksanaan

penanggulangan

kebakaran.
e. Penyusunan pedoman pengelolaan penyehatan lingkungan
rumah sakit.
f. Penyusunan pengelolaan faktor resiko dan pengelolaan limbah
rumah sakit.
g. Penyusunan kontrol terhadap penyakit infeksi.
h. Penyusunan konrol terhadap bahan berbahaya dan beracun
(B3).
i. Penyusunan SOP kerja dan pelatihan di masing-masing unit
kerja rumah sakit.
5) Pemantauan dan evaluasi kesehatan lingkungan tempat kerja.
a. Mampping lingkungan tempat kerja.

b. Evaluasi lingkungan tempat kerja (wawancara pekerja, survei


dan kuesioner).
6) Pelayanan kesehatan kerja
a. Melakukan pemeriksaan

kesehatan

sebelum

bekerja

,pemeriksaan secara khusus, dan secara berkala bagi pekerja


sesuai pajananya di rumah sakit.
b. Melakukan pemeriksaan kesehatan khususnya pada pekerja di
Rumah sakit yang akan pensiun atau pindah kerja.
c. Pemeriksaan pengobatan dan perawatan serta rehabilitasi bagi
pekerja yang menderita sakit.
d. Meningkatkan kesehatan badan, kondisi, mental (rohani) dan
kemampuan fisik pekerja
7) Pelayanan keselamatan kerja
a. Pembinaan dan pengawasan keselamatan/keamanan sarana
prasarana dan peralatan kesehatan di rumah sakit.
b. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan keselamatan kerja di
rumah sakit.
c. Pengelolaan dan pemeliharaan serta sertifikasi sarana prasarana
dan pemeliharaan peralatan rumah sakit
d. Pengadaan peralatan rumah sakit.
8) Pengembangan program pemeliharaan pengelolaan limbah padat,cair
dan gas.
a. Penyediaan fasilitas untuk penanganan dan pengelolaan limbah
padat, cair dan gas.
b. Pengelolaan limbah medis dan non medis
9) Pengelolaan jasa bahan berbahaya, beracun dan barang berbahaya
a. Inventarisasi bahan beracun, berbahaya dan barang berbahaya
(Permennaker No 427 tahun 1996).
b. Membuat kebijakan prosedur pengadaan, penyimpanan dan
penaggulangan bila terjadi kontaminasi dengan acuan Material
Safety Data Sheet (MSDS).
10) Pengembangan manajemen tanggap darurat
a. Menyusun rencana tanggap darurat (survei bahaya, membentuk
tim tanggap darurat, menetapkan prosedur penanganan tanggap
darurat, pelatihan dll).
b. Pembentukan organisasi/tim kewaspadaan bencana.

c. Pelatihan dan uji coba terhadap kesiapan petugas tanggap


darurat
2.3. Standar Pelayanan K3 di Rumah Sakit 3
Pelayanan K3 RS harus dilaksanakan secara terpadu melibatkan berbagai
komponen yang ada di rumah sakit. Pelayanan K3 di rumah sakit sampai saat ini
dirasakan belum maksimal.Hal ini dikarenakan masih banyak rumah sakit yang
belum menerapkan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan kerja
(SMK3).
1)

Standar Pelayanan Kesehatan Kerja di Rumah Sakit Setiap Rumah Sakit


wajib melaksanakan pelayanan kesehatan kerja seperti tercantum pada
pasal 23 UU kesehatan no.36 tahun 2009 dan peraturan Menteri tenaga
kerja dan Transmigrasi RI No.03/men/1982 tentang pelayanan kesehatan
kerja. Adapun bentuk pelayanan kesehatan kerja yang perlu dilakukan,
sebagai berikut :
a. Melakukan pemeriksaan kesehatan sebekum kerja bagi pekerja.
b. Melakukan pendidikan dan penyuluhan/pelatihan tentang kesehatan
kerja dan memberikan bantuan kepada pekerja di rumah sakit dalam
penyesuaian diri baik fisik maupun mental terhadap pekerjanya.
c. Melakukan pemeriksaan berkala dan pemeriksaan khusus sesuai dengan
pajanan di rumah sakit
d. Meningkatkan kesehatan

badan,

kondisi

mental

(rohani)

dan

kemampuan fisik pekerja


e. Memberikan pengobatan dan perawatan serta rehabilitasi bagi pekerja
yang menderita sakit
f. Melakukan pemeriksaan kesehatan khusus pada pekerja rumah sakit
yang akan pension atau pindah kerja
g. Melakukan koordinasi dengan tim Panitia Pencegahan dan Pengendalian
Infeksi mengenai penularan infeksi terhadap pekerja dan pasien
h. Melaksanakan kegiatan surveilans kesehatan kerja

i. Melaksanakan pemantauan lingkungan kerja dan ergonomi yang


berkaitan dengan kesehatan kerja (Pemantauan/pengukuran terhadap
faktor fisik, kimia, biologi, psikososial, dan ergonomi)
j. Membuat evaluasi, pencatatan dan pelaporan kegiatan kesehatan kerja
yang disampaikan kepada Direktur Rumah Sakit dan Unit teknis terkait
2)

di wilayah kerja Rumah Sakit.


Standar pelayanan Keselamatan kerja di Rumah Sakit
Pada prinsipnya pelayanan keselamatan kerja berkaitan erat dengan
sarana, prasarana, dan peralatan kerja. Bentuk pelayanan keselamatan kerja
yang dilakukan :
a. Pembinaan dan pengawasan keselamatan/keamanan sarana, prasarana,
dan peralatan kesehatan.
b. Pembinaan dan pengawasan atau penyesuaian peralatan kerja terhadap
c.
d.
e.
f.
g.

pekerja.
Pembinaan dan pengawasan terhadap lingkungan kerja.
Pembinaan dan pengawasan terhadap sanitasi air.
Pembinaan dan pengawasan perlengkapan keselamatan kerja.
Pelatihan/penyuluhan keselamatan kerja untuk semua pekerja.
Memberi rekomendasi/masukan mengenai perencanaan, pembuatan
tempat

kerja

dan

pemilihan

alat

serta

pengadaannya

terkait

keselamatan/keamanan.
h. Membuat sistem pelaporan kejadian dan tindak lanjutnya
i. Pembinaan dan pengawasan Manajemen Sistem Penanggulangan
Kebakaran (MSPK).
j. Membuat evaluasi, pencatatan, dan pelaporan kegiatan pelayanan
keselamatan kerja yang disampaikan kepada Direktur Rumah Sakit dan
3)

Unit teknis terkait di wilayah kerja kerja rumah sakit.


Standar K3 Sarana, Prasarana, dan Peralatan di Rumah Sakit3
Sarana didefinisikan sebagai segala sesuatu benda fisik yang dapat
tervisualisasi oleh mata maupun teraba panca indera dan dengan mudah
dapat dikenali oleh pasien dan umumnya merupakan bagian dari suatu
bangunan gedung (pintu, lantai, dinding, tiang, kolong gedung, jendela)
ataupun bangunan itu sendiri. Sedangkan prasarana adalah seluruh
jaringan/instansi yang membuat suatu sarana bisa berfungsi sesuai dengan
tujuan yang diharapkan, antara lain : instalasi air bersih dan air kotor,

instalasi listrik, gas medis, komunikasi, dan pengkondisian udara, dan


4)

lainlain.
Pengelolaan Jasa dan Barang Berbahaya 3
Barang Berbahaya dan Beracun (B3) adalah bahan yang karena sifat
dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun
tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup,
dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan
hidup manusia serta makhluk hidup lainnya.
a. Kategori B3
Memancarkan radiasi, Mudah meledak, Mudah menyala atau terbakar,
Oksidator,

Racun,

Korosif,

Karsinogenik,

Iritasi,

Teratogenik,

Mutagenic, Arus listrik.


b. Prinsip dasar pencegahan dan pengendalian B3
1. Identifikasi semua B3 dan instalasi yang akan ditangani untuk
mengenal ciri-ciri dan karakteristiknya.
2. Evaluasi, untuk menentukan langkah-langkah atau tindakan yang
diperlukan sesuai sifat dan karakteristik dari bahan atau instalasi yang
ditangani sekaligus memprediksi risiko yang mungkin terjadi apabila
kecelakaan terjadi.
3. Pengendalian sebagai alternatif berdasarkan identifikasi dan evaluasi
yang dilakukan meliputi pengendalian operasional, pengendalian
organisasi administrasi, inspeksi dan pemeliharaan sarana prosedur
dan proses kerja yang aman, pembatasan keberadaan B3 di tempat
kerja sesuai jumlah ambang.
4. Untuk mengurangi resiko karena penanganan bahan berbahaya.
c. Pengadaan Jasa dan Bahan Berbahaya Rumah sakit harus melakukan
seleksi rekanan berdasarkan barang yang diperlukan. Rekanan yang
akan diseleksi diminta memberikan proposal berikut company profile.
Informasi yang diperlukan menyangkut spesifikasi lengkap dari material
atau produk, kapabilitas rekanan, harga, pelayanan, persyaratan K3 dan
lingkungan serta informasi lain yang dibutuhkan oleh rumah sakit.
Setiap unit kerja / instalasi / satker yang menggunakan, menyimpan,
mengelola B3 harus menginformasikan kepada instalasi logistic sebagai

unit pengadaan barang setiap kali mengajukan permintaan bahwa barang


yang diminta termasuk jenis B3. Untuk memudahkan melakukan proses
seleksi, dibuat form seleksi yang memuat kriteria wajib yang harus
dipenuhi oleh rekanan serta sistem penilaian untuk masingmasing
kriteria yang ditentukan.
5)

Standar SDM K3 di Rumah Sakit 4


Kriteria tenaga K3
a. Rumah Sakit Kelas A
1. S3/S2 K3 minimal 1 orang yang mendapat pelatihan khusus yang
terakreditasi mengenai K3 RS.
2. S2 kesehatan minimal 1 orang yang mendapat pelatihan khusus yang
terakreditasi mengenai K3 RS.
3. Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi (SpOk) dan S2 Kedokteran
Okupasi minimal 1 orang yang mendapat pelatihan khusus yang
terakreditasi mengenai K3 RS.
4. Tenaga Kesehatan Masyarakat K3 DIII dan S1 minimal 2 orang yang
mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS.
5. Dokter/dokter gigi spesialis dan dokter umum/dokter gigi minimal 1
orang dengan sertifikasi K3 dan mendapat pelatihan khusus yang
terakreditasi mengenai K3 RS
6. Tenaga paramedis dengan sertifikasi dalam bidang K3 (informal)
yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS.
7. Tenaga paramedis yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi
mengenai K3 RS minimal 2 orang.
8. Tenaga teknis lainnya dengan sertifikasi K3 (informal) mendapat
pelatihan khusus terakreditasi mengenai K3 RS minimal 1 orang.
9. Tenaga teknis lainnya mendapat pelatihan khusus terakreditasi
mengenai K3 RS minimal 2 orang.
b. Rumah Sakit Kelas B
1. S2 kesehatan minimal 1 orang yang mendapat pelatihan khusus
terakreditasi mengenai K3 RS.
2. Tenaga Kesehatan Masyarakat K3 DIII dan S1 minimal 1 orang yang
mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS.

3. Dokter/dokter gigi spesialis dan dokter umum/dokter gigi minimal 1


orang dengan sertifikasi K3 dan mendapat pelatihan khusus yang
terakreditasi mengenai K3 RS.
4. Tenaga paramedis dengan sertifikasi dalam bidang K3 (informal)
yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS
minimal 1 orang.
5. Tenaga paramedis yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi
mengenai K3 RS minimal 1 orang.
6. Tanaga teknis lainnya dengan sertifikasi K3 (informal) mendapat
pelatihan khusus terakreditasi mengenai K3 RS minimal 1 orang
7. Tenaga teknis lainnya mendapat pelatihan khusus terakreditasi
mengenai K3 RS minimal 1 orang.
c. Rumah Sakit kelas C
1. Tenaga Kesehatan Masyarakat K3 DIII dan S1 minimal 1 orang yang
mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS.
2. Dokter/dokter gigi spesialis dan dokter umum/dokter gigi minimal 1
orang dengan sertifikasi K3 dan mendapat pelatihan khusus yang
terakreditasi mengenai K3 RS.
3. Tenaga paramedis yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi
mengenai K3 RS minimal 1 orang.
4. Tenaga teknis lainnya mendapat pelatihan khusus terakreditasi
6)

mengenai K3 RS minimal 1 orang.


Pembinaan, Pengawasan, Pencatatan, dan Pelaporan
a. Pembinaan dan pengawasan
Pembinaan
dan
pengawasan
dilakukan

melalui

sistem

berjenjang.Pembinaan dan pengawasan tertinggi dilakukan oleh


Departemen Kesehatan. Pembinaan dapat dilaksanakan antara lain
dengan melalui pelatihan, penyuluhan, bimbingan teknis, dan temu
konsultasi.

Pengawasan

pelaksanaan

Standar

Kesehatan

dan

Keselamatan Kerja di rumah sakit dibedakan dalam dua macam, yakni


pengawasan internal, yang dilakukan oleh pimpinan langsung rumah
sakit yang bersangkutan, dan pengawasan eksternal, yang dilakukan
oleh Menteri kesehatan dan Dinas Kesehatan setempat, sesuai dengan
fungsi dan tugasnya masingmasing.

b. Pencatatan dan pelaporan


Pencatatan dan pelaporan adalah pendokumentasian kegiatan K3 secara
tertulis dari masing-masing unit kerja rumah sakit dan kegiatan K3RS
secara keseluruhan yang dilakukan oleh organisasi K3RS, yang
dikumpulkan dan dilaporkan / diinformasikan oleh organisasi K3RS, ke
Direktur Rumah Sakit dan unit teknis terkait di wilayah Rumah
Sakit.Tujuan kegiatan pencatatan dan pelaporan kegiatan k3 adalah
menghimpun dan menyediakan data dan informasi kegiatan K3,
mendokumentasikan hasil-hasil pelaksanaan kegiatan K3; mencatat dan
melaporkan setiap kejadian / kasus K3, dan menyusun dan
melaksanakan pelaporan kegiatan K3.
Pelaporan terdiri dari : pelaporan berkala (bulanan, semester, dan
tahunan) dilakukan sesuai dengan jadual yang telah ditetapkan dan
pelaporan

sesaat/insidentil,

yaitu

pelaporan

yang

dilakukan

sewaktuwaktu pada saat kejadian atau terjadi kasus yang berkaitan


dengan K3. Sasaran kegiatan pencatatan dan pelaporan kegiatan k3
adalah mencatat dan melaporkan pelaksanaan seluruh kegiatan K3, yang
tercakup di dalam :
1. Program K3, termasuk penanggulangan kebakaran dan kesehatan
lingkungan rumah sakit.
2. Kejadian/kasus yang berkaitan
penanggulangan dan tindak lanjutnya.

dengan

K3

serta

upaya

BAB III
PEMBAHASAN
Meningkatnya pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh masyarakat,
maka rumah sakit dituntut untuk melaksanakan pengelolaan program Keselamatan
dan Kesehatan Kerja di Rumah Sakit (K3RS) yang baik dan terstrandarisasi. Dampak
dari proses pelayanan kesehatan tersebut sangat berpengaruh terhadap petugas
kesehatan, pasien, pengunjung/pengantar pasien, dan masyarakat sekitar rumah sakit
yang ingin mendapatkan perlindungan dari gangguan kesehatan dan kecelakaan kerja,
maupun karena kondisi sarana dan prasarana rumah sakit yang tidak memenuhi
standar.(1)
Keselamatan pasien rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah sakit
membuat asuhan pasien lebih aman. Sistem tersebut meliputi penilaian risiko,
identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan
dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindaklanjutnya serta
implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko. Sistem tersebut
diharapkan dapat mencegah terjadinya cedera yan disebabkan oleh kesalahan akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak melakukan tindakan yang seharusnya
dilakukan. Kejadian yang mengacu pada keselamatan pasien diantaranya pasien
terjatuh dari tempat tidur, pasien diberi obat salah, tidak ada obat/alat emergensi,
tidak ada oksigen, tidak ada alat penyedot lendir, tidak tersedia alat pemadam
kebakaran, dan pemakaian obat. (3)
Potensi bahaya di Rumah Sakit selain penyakit-penyakit infeksi juga ada
potensi bahaya-bahaya lain yang mempengaruhi situasi dan kondisi di Rumah Sakit,
yaitu radiasi, bahan-bahan kimia yang berbahaya, gas-gas anestesi, gangguan
psikososial, ergonomi, dan kecelakaan (peledakan, kebakaran, kecelakaan yang
berhubungan dengan instalasi listrik, dan sumber-sumber cidera lainnya). Semua
potensi bahaya tersebut di atas, jelas mengancam jiwa dan kehidupan bagi para
karyawan di Rumah Sakit, para pasien maupun para pengunjung yang ada di
lingkungan Rumah Sakit.

(6)

Disamping itu, keselamatan pasien (patient safety)

merupakan tanggung jawab petugas kesehatan baik dokter maupun perawat yang ada

di rumah sakit. Pengetahuan tentang kesehatan dan keselamatan kerja diharapkan


mampu memberikan perlindungan kesehatan dan keselamatan pasien (patient safety)
salah satunya dalam mencegah terjadinya infeksi nosokomial.
Infeksi nosokomial atau nosocomial infection adalah penyakit yang didapat
selama dalam proses perawatan di rumah sakit setelah 3x24 jam. Infeksi nosokomial
umumnya terjadi karena rendahnya sanitasi di rumah sakit, buruknya perilaku petugas
maupun penderita atau pengunjung yang ada di rumah sakit, sehingga untuk
menghilangkan infeksi nosokomial tidak cukup dengan memakai antiseptik saja.
Namun lingkungan rumah sakit yang meliputi lingkungan fisik, biotik dan sosial juga
harus dikelola secara baik dan benar. Risiko terjadinya infeksi nosokomial dapat
dicegah dengan merubah perilaku petugas kesehatan dengan cara meningkatkan
pengetahuan melalui pendidikan dan pelatihan serta merubah sikap dan cara
penggunaan alat pelindung diri yang baik dan benar, misal pemakaian sarung tangan
yang benar dengan memperhatikan teknik septik dan aseptik.
Bahaya potensial di rumah sakit dapat menimbulkan dampak kesehatan bagi
warga rumah sakit, yaitu pekerja medis, non medis, pasien bahkan pengunjung dan
pengantar pasien. Bahaya potensial di rumah sakit berkaitan dengan factor-faktor
berikut :
1. Faktor fisik dalam dosis kecil yang terus menerus (panas pada kulit, tegangan
tinggi pada sistem reproduksi, radiasi pada sistem pemroduksi darah),
2. Faktor kimia (pemaparan dalam dosis kecil namun gterus menerus seperti
antiseptik pada kulit, gas anestasi pada hati),
3. Faktor biologik (kuman patogen yang berasal umumnya dari pasien),
4. Faktor ergonomi (cara duduk salah, cara mengangkat pasien salah),
5. Faktor psikososial (ketegangan di kamar bedah, penerimaan pasien, gawat
darurat dan bangsal penyakit jiwa).
Pengelolaan K3 di Rumah Sakit dianggap cukup penting dalam

upaya

peningkatan lingkungan kerja Rumah Sakit agar aman, sehat, dan nyaman baik bagi
karyawan, pasien, pengunjung, ataupun masyarakat di sekitar RS. Pengelolaan K3 di
Rumah Sakit dapat berjalan dengan baik, bila para pimpinan seperti Direktur Rumah
Sakit memiliki komitmen yang tinggi terhadap jalannya pelaksanaan K3 di Rumah

Sakit. Selain itu perlu juga pemahaman, kesadaran, dan perhatian yang penuh dari
semua pihak yang terlibat di Rumah Sakit, sehingga tujuan penerapan K3 di Rumah
Sakit bisa tercapai. (7)
Melaksanakan pemantauan lingkungan kerja dan ergonomi yang berkaitan
dengan kesehatan kerja (pemantauan /pengukuran terhadap faktor fisik, kimia,
biologi, psikososial dan ergonomi). Semua keadaan yang terdapat disekitar, seperti
suhu udara, kelembaban udara, sirkulasi udara, pencahayaan, kebisingan, getaran
mekanis, bau-bauan, warna akan berpengaruh secara signifikan tehadap hasil kerja
manusia tersebut. (7)
3.1

Faktor dan Potensi Bahaya


Faktor dan potensi bahaya tidak dapat dihindari, namun diupayakan

pengendaliannya. Pengendalian diupayakan untuk meminimalisir dampak yang


timbul. Faktor dan Potensi Bahaya di Rumah Sakit meliputi sebagai berikut:
3.1.1

Faktor Bahaya

a. Faktor FisikFaktor bahaya fisik meliputi bising, listrik, getaran, debu dan radiasi.
1) Bising
Kebisingan adalah level suara yang melebihi tingkat daya dengar manusia
yang dapat diukur dalam satuan desibel. Kebisingan tidak terdengar adanya
kebisingan di area sekitar ruang rawat tersebut. Kebisingan ruang bangunan yang
digunakan untuk ruang perawatan mempunyai tingkat kebisingan <45 dBA. Upaya
pengendalian kebisingan di ruang rawat geulima I di RSUD Zainoel Abidin adalah
isolasi sumber bahaya seperti boiler-genset diletakkan pada ruang khusus jauh dari
ruang pasien, kebijakan tentang pemakaian APD. Hal ini sudah sesuai dengan
pendapat Tarwaka (2008) tentang pengendalian resiko bahaya secara isolasi. Serta
UU No. 1 Tahun 1970, pasal 12 sub b yang menyebutkan bahwa dengan peraturan
perundang-undangan diatur kewajiban dan hak-hak tenaga kerja untuk memakai alat
perlindungan diri yang diwajibkan.

2) Listrik

Di ruang rawat Geulima I RSUD Zainoel Abidin sudah terdapat pencahayaan


umum dengan lampu yang dipasang pada langit-langit, pencahayaan alami didapat
dari kaca jendela, tidak ada pencahayaan darurat. Penerangan pada siang hari
beberapa jendela tampak memberi pencahayaan yang cukup ke dalam ruangan
tersebut, bila malam hari pencahayaan ini didapat dari beberapa lampu yang
terpasang, pencayahaan ini sudah cukup memberi penglihatan yang jelas pada semua
barang dan alat yang ada di ruang tersebut.
3) Getaran
Efek getaran memang tidak bisa secara langsung dirasakan, namun dengan
pemajanan lama akan menimbulkan nyeri yang berkelanjutan. Getaran atau vibrasi
merupakan bahaya potensial yang dapat dijumpai pada pekerjaan dengan
menggunakan alat yang bergetar. Pekerjaan tersebut antara lain adalah penggunaan
bur gigi oleh dokter gigi, alat bur kayu atau tembok oleh teknisi pemeliharaan gedung
atau pada kegiatan konstruksi. Gangguan kesehatan yang dapat terjadi adalah
sindroma getaran tangan dan lengan. Hal ini tidak didapatkan pada ruang rawat
geulima I.
4) Radiasi
Penggunaan sinar radiasi merupakan hal yang sangat penting di rumah sakit.
Acuan pengendalian radiasi yang digunakan di RSUD Zainoel Abidin adalah
Kepmenkes No. 1204/MENKES/SK/2004 tentang perlindungan radiasi. Secara
keseluruhan standar tersebut telah diterapkan dengan baik oleh RSUD Zainoel Abidin
mengenai konstruksi bangunan dan pemakaian APD, dalam pemakaian APD hal ini
sesuai dengan UU No. 1 Tahun 1970, pasal 12 poin (b) yang menyebutkan bahwa
dengan peraturan perundang-undangan diatur kewajiban dan hak-hak tenaga kerja
untuk memakai alat perlindungan diri yang diwajibkan. Hal ini tidak didapatkan di
ruangan rawat geulima I, karena paparan radiasi tidak mencapai ruang rawat ini.

5) Panas
Sirkulasi udara semua ruangan dilengkapi dengan ventilasi berupa jendela dan
pintu, serta terpasang air conditioner (AC) sentral. Terdapat jendela yang dapat
dibuka sehingga ventilasi alami baik dan juga terdapat ventilasi mekanik

Foto 1: Lorong ruang rawat inap penyakit saraf RSUDZA dengan penerangan
pada pagi hari tampak pencahayaan yang cukup di dalam ruangan
3.1.2

Faktor Kimia
Bahan kimia dalam bentuk tunggal maupun campuran yang berdasarkan sifat

fisik, kimia atau toksikologi dapat menimbulkan PAK seperti iritasi, muntah, asma,
dan gangguan lainnya. Oleh karena itu, diperlukan suatu upaya pengendalian untuk
mencegah atau mengurangi dampak yang timbul. Pengendalian dilakukan dengan
penanganan yang tepat dalam penyimpanan, pengangkutan, pengolahan, dan
penggunaannya. Ruang rawat geulima I di dr. Zainoel Abidin telah melakukan

pengendalian bahan kimia sesuai Kepmenaker No. Kep. 187/MEN/1999 tentang


Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya di Tempat Kerja, dalam pasal 4 tentang
MSDS, dan Penyediaan APD bagi tenaga kerja sesuai Undang-undang No. 1 Tahun
1970, pasal 14 sub c yang menyebutkan bahwa pengurus diwajibkan menyediakan
secara cuma-cuma, semua APD yang diwajibkan kepada tenaga kerja yang berada di
bawah pimpinannya dan menyediakan bagi setiap orang lain yang memasuki tempat
kerja tersebut, disertai petunjuk-petunjuk yang diperlukan menurut petunjuk pegawai
atau ahli keselamatan kerja. Ruang rawat Geulima I di RSUDZA juga didapatkan
menggunakan desinfektan setiap kali melakukan tindakan medis dan non-medis.
3.1.3

FaktorBiologi

Kuman Atau Mikroorganisme


Ruang rawat geulima I di RSUD Zainoel Abidin telah melakukan upaya
pengendalian yaitu penyediaan APD bagi tenaga kerja sesuai Undang-undang No. 1
Tahun 1970, pasal 14 sub c yang menyebutkan bahwa pengurus diwajibkan
menyediakan secara cuma-cuma, semua APD yang diwajibkan kepada tenaga kerja
yang berada di bawah pimpinannya dan menyediakan bagi setiap orang lain yang
memasuki tempat kerja.
Nama umum
Q fever
Psittacosis

Organisme penyebab
Coxiella burnetti
Chlamidya psittacia

Histoplasmosis

Histoplasma capsulatum

Blastomycosis

Blastomyces dermatitidis

Coccidioidomycosis
Anthrax

Coccidioides immitis
Bacillus anthracis

tersebut, disertai petunjuk-petunjuk yang diperlukan menurut petunjuk pegawai atau


ahli keselamatan kerja.Pemeriksaan angka kuman atau mikroorganisme dilakukan

secara rutin setahun sekali ke laboratorium Mikrobiologi UGM.


Air Limbah
Rumah sakit Dr. Sardjito Yogyakarta telah memiliki Instalasi Pengolahan Air
Limbah (IPAL) sendiri mengingat besarnya jumlah limbah cair yang dihasilkan dari
setiap unit kerja. Dengan dibangunnya instalasi ini, rumah sakit Dr. Sardjito
Yogyakarta telah memenuhi Kepmenkes No. 1204/MENKES/SK/2004 tentang
Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, Keputusan Mentri Negara
Lingkungan Hidup No. 56/MEN/12/1995 tentang Persyaratan Bahan Baku Mutu
Limbah Cair Bagi Kegiatan Rumah Sakit, dan Surat Keputusan Gubernur Daerah
Istimewa Yogyakarta No. 65 Tahun 1999 tentang Baku Mutu Limbah Bagi Pelayanan
Kesehatan Untuk Wilayah Propinsi Daerah Istemewa Yogyakarta.
Sampah
Pengolahan sampah di ruang rawat geulima I di RSUD Zainoel Abidin adalah
untuk sampah medis dimusnahkan dengan incenerator, sedangkan untuk sampah non
medis ditampung pada tong sampah kemudian dikumpulkan dan dibawa ke TPA
umum. Serta dengan pembedaan plastik pengumpul. Hal ini telah sesuai dengan
Kepmenkes No. 1204/MENKES/SK/2004 tentang pengelolaan limbah.
3.1.4

Ergonomi
Ergonomi adalah keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, cara kerja dan

proses kerjanya (UU No. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja pasal 3 ayat 1 poin
(m)
Di rumah sakit, penerapan ergonomi agak berbeda dengan penerapan
ergonomi di industri. Hal ini, karena ada beberapa hal yang tidak pasti dalam
lingkungan kerja rumah sakit, padahal tenaga kerja harus selalu dapat menyesuaikan
diri dengan keadaan tersebut. Beberapa sifat pekerjaan di rumah sakit tidak selalu
dapat disesuaikan dengan kapsitas kerja dokter dan perawat. Misalnya jumlah dan
jenis penyakit yang tidak dapat diduga sebelumnya. Sehingga pada ergonomi rumah
sakit, termasuk bagaimana tenaga kerja menyesuaikan diri terhadap ketidakpastian
tersebut (Tim Penyusun, 1996).

Upaya yang dilakukan di ruang rawat geulima I di RSUD Zainoel Abidin


untuk menyerasikan manusia, alat atau mesin, lingkungan kerja dan proses produksi
dengan diadakan pembagian shift kerja. Shift kerja yang diberikan kepada tenaga
kerja meliputi shift pagi, siang dan malam.
Sikap kerja tenaga kerja di ruang rawat geulima I di RSUD Zainoel Abidin
adalah memindahkan, mengangkat, memandikan, membersihkan pasien, dan
mendorong kereta pasien adalah contoh nyata. Untuk menghindari sikap monotomi
dalam bekerja dan penyakit akibat kerja serta kecelakaan kerja maka diadakan
tindakan pengendalian. Tindakan pengendalian yang dilakukan adalah alat-alat kerja
dan penyediaan tempat duduk yang digunakan juga dianjurkan untuk dapat
disesuaikan dengan postur tubuh (antropometris), protap dan usaha-usaha yang lain.
Hal ini telah sesuai UU No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
3.1.5

PotensiBahaya
Potensi bahaya merupakan keadaan bahaya yang dapat menimbulkan

kecelakaan kerja. Yang termasuk dalam potensi bahaya adalah :


a)

Kebakaran
Kebakaran merupakan insiden akibat dari api yang tidak diinginkan, dapat

menimbulkan kerugian dan membahayakan kesehatan manusia. Upaya pengendalian


kebakaran yang diterapkan di ruang rawat RSUD Zainoel Abidin telah sesuai dengan
Kepmenaker No. Kep. 186/MEN/1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di
Tempat Kerja, terbukti disediakannya APAR, pilar hidrant didekat pos satpam, alarm
sistem dan spinkler, pelatihan pemadam kebakaran dan penetapan jalur evakuasi.
b) Peledakan
Bahaya peledakan dapat timbul karena tekanan berlebih dan suhu ekstrim.
Upaya pengendalian bahaya peledakan dilakukan dengan penerapan Kepmenkes No.
1204/MENKES/SK/2004 terutama mengenai konstruksi bangunan.
c) Terpeleset
Potensi bahaya terpeleset kebanyakan timbul karena penerapan housekeeping
yang kurang tepat dan ulah manusia. Banyak karyawan yang menganggap terpeleset

dan terjatuh merupakan hal biasa jadi tidak perlu dilaporkan. Upaya pengendalian
dilakukan dengan penerapan housekeepingyang lebih optimal dan pemasangan karet
pada jalan miring atau beralur. Hal ini sesuai UU No. 1 Tahun 1970 tentang
Keselamatan Kerja, dalam pasal 3 mengenai syarat-syarat keselamatan kerja.
d) Tergores dan tertusuk
Sebagian besar potensi bahaya seperti tergores dan tertusuk karena human
error. Ruang rawat geulima I RSUDZA berupaya melakukan pengendalian dengan
mengadakan penyuluhan K3 kepada petugas terkait yang merupakan kegiatan rutin,
penggunaan APD, dan penerapan housekeeping yang baik. Hal ini telah sesuai UU
No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
3.2

Gizi Kerja
Penyediaan gizi kerja bagi tenaga kerja rumah sakit berbeda-beda sesuai

dengan jenis dan pekerjaan saat bekerja. Untuk karyawan yang bekerja pada shift
malam disediakan minum dan snack sekali waktu dari rumah sakit, sedangkan tenaga
kerja yang bekerja pada shift pagi dan siang tidak disiapkan makanan ataupun
minuman. Ini dilakukan dengan perhitungan bahwa pagi hari tenaga kerja telah
makan pagi di rumah, dan siang harinya mereka dapat keluar untuk mencari makan
siang di kantin waktu istirahat. Hal ini belum sesuai dengan SE Menakertrans No.
01/MEN/1976 tentang Pengadaan Kantin dan Ruang Tempat Makan. Selain itu juga
disediakan extrafoodingbagi tenaga kerja yang bekerja dengan resiko tinggi seperti :
radiologi, ICU, OK, IGD, petugas loundry dan penanganan limbah padat medis yang
mengeluarkan energi dan daya konsentrasi lebih besar, sehingga membutuhkan
tambahan makanan lebih banyak.
Pelayanan gizi kerja di ruang rawat geulima I RSUD Zainoel Abidin
dimaksudkan untuk menjaga kesehatan tenaga kerja sehingga tenaga kerja dapat
bekerja dengan optimal. Hal ini sesuai UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan.
3.3

KeselamatanKerja

Keselamatan kerja adalah keselamtan yang bertalian dengan mesin, pesawat,


alat kerja, bahan dan proses pengolahan, landasan tempat kerja, dan lingkungan serta

cara-cara melakukan pekerjaan.


Hal utama untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja adalah dengan
perlindungan tenaga kerja yang sehat dan aman. Pihak rumah sakit telah melakukan
berbagai upaya untuk melindungi keselamatan tenaga kerja dan mesyarakat rumah
sakit. Upaya-upaya tersebut meliputi :
PenyediaanAPD
Standar manajemen perbekalan kesehatan Rumah Sakit meliputi beberapa hal
diantaranya setiap bahan dan peralatan dalam penyelenggaraan upaya kesehatan di
Rumah Sakit harus dilengkapi dengan Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai,
tersedia, dan layak pakai, sistem alarm, sistem pendeteksi api/kebakaran dan
penyediaan alat pemadam api/kebakaran, rambu-rambu K3 seperti rambu larangan
dan rambu penunjuk arah, fasilitas sanitasi yang memadai dan memenuhi persyaratan
kesehatan, fasilitas penanganan limbah padat, cair dan gas.

(7)

Tujuan dari penyediaan

APD adalah untuk melindungi keselamatan tenaga kerja dari faktor bahaya dan
potensi bahaya yang dapat mengancam keselamatan maupun kesehatan tenaga kerja.
Hal ini sesuai UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, dalam pasal 14 sub
c mengenai kewajiban pengurus untuk menyediakan secara cuma-cuma semua APD
yang diwajibkan pada tenaga kerja yang berada dibawah pimpinannya dan
menyediakan bagi orang lain yang memasuki tempat kerja tersebut, disertai dengan
petunjuk-petunjuk yang diperlukan menurut petunjuk pengawas atau ahli K3.

Foto 2: Pntu masuk ruangan, jalur evakuasi bencana, alat pelindug kepala, APAR,
westafel, tempat sampah medis dan non medis
Dari segi lainnya tindakan yang tidak sesuai dengan keselamatan dan kesehatan
kerja seperti bersentuhan dengan pasien atau alat kesehatan lain tanpa menggunakan
sarung tangan, masker atau mencuci tangan sebelum tindakan. Hal ini selain
merugikan pasien juga dapat merugikan petugas kesehatan dari penyakit akibat kerja.
Bahaya potensial di RS yang dapat mengakibatkan penyakit dan kecelakaan akibat
kerja, dapat dari faktor biologi seperti penularan virus, bakteri dan jamur, faktor

kimia seperti pemaparan dalam dosis kecil namun terus-menerus seperti antiseptik
pada kulit, faktor ergonomi seperti cara mengangkat pasien yang salah.

Foto 3: Tampak tenaga kesehatan tidak menggunakan APD yang lengkap


Berdasarkan pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar
tenaga kerja sudah menggunakan APD. APD tersebut disediakan secara cuma-cuma
setiap unit kerja. APD yang disediakan sudah sesuai dengan jumlah kebutuhan dan
rata-rata masih dalam keadaan baik. Akan tetapi masih banyak tenaga kerja masih
kurang nyaman ketika memakai APD.
3.4

EmergencyResponses
Bahaya yang berkelanjutan berpengaruh pada kerugian materiil maupun

manusia. Oleh karena itu, emergency responses sangat diperlukan untuk


meminimalkan kerugian tersebut.
Emergencyresponsedi ruang rawat RSUD Zainoel Abidin melalui :
1. Prosedur tindakan jika terjadi bencana keadaan darurat.
2. Penyediaan saran komunikasi berupa telepon untuk memperlancar komunikasi
dengan pihak terkait bila terjadi keadaan darurat.
3. Penetapan alur pelaporan bila terjadi bencana atau keadaan darurat.
4. Disediakan peralatan untuk mengatasi keadaan darurat dan menyelamatkan
penghuni rumah sakit, terdiri atas APAR, tangga, lift, dan pintu darurat.
5. Petunjuk arah menuju pintu keluar.

Pelaksanaan prosedur tersebut diatas telah sesuai dengan Peraturan Mentri


Tenaga Kerja No. Per 05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja.
3.5

Kondisi Umum Ruang Rawat Inap Geulima I (Saraf) RSUDZA

Terletak pada lokasi yang tenang, aman, udaranya cukup sejuk dan ada tirai

pembatas yang menjaga privasi pasien.


Luas ruang perawatan ruangan kelas III adalah sekitar 7x6 m2 dan memuat 6
pasien, luas ruangan kelas II sekitar 5x4 m 2 dan memuat 3 pasien, ruangan

kelas I sekitar 5x4m2 dan memuat 2 pasien


Ruang konsultasi tidak ada
Terdapat ruang isolasi untuk penyakit tropik infeksi
Lokasi pos perawat cukup dekat dengan ruang rawat
Lantai tertutup keramik, namun pertemuan dinding dan lantai tegak lurus,

tidak melengkung.
Langit-langit tertutup plafon
Pintu masuk ruang rawat inap terdiri dari pintu ganda yang dilengkapi kaca

pengintai.
Tidak ada kamar mandi khusus untuk penyandang cacat
Kamar mandi pasien terdiri dari kloset, terdapat shower dan wastafel
Terdapat APAR, jalur evakuasi bencana, dll
Outlet vakum, udara tekan medik, dan oksigen terpasang pada bed-head

pasien, namun bel emergensi tidak berfungsi


Sumber air bersih berasal dari air keran, kualitas air bersih dan jernih
Limbah cair dibuang ke kamar mandi atau wastafel
Pembuangan sampah dipisahkan ke dalam 2 jenis; sampah medis dan non
medis

Foto 4: Pasien dengan resiko jatuh : Pengaman tempat tidur yang tidak di dipasang
dan Tanda Resiko jatuh tidak dipasang

Foto 5: Pasien safety yang kurang


a. Keluarga pasien yang terlalu ramai disaat bukan jam kunjungan

b. Pasien dengan pemantaun khusus di geulima 1 Bel Emergensi yang tidak


berfungsi
c. Tiang Infus resiko jatuh yang bisa menyebabkan cedera sekunder pada pasien,
dan juga cedera pada kelurga pasien dan tenaga medis
d. Letak tempat sampah bisa membuat pasien tersandung
e. Lantai kamar mandi inap terlalu licin dan tidak ada tempat pegangan
f. Identitas pasien yang terlepas
3.6

PK3
RSUD Zainoel Abidin telah membentuk PK3RS. Susunan organisasi PK3RS

terdiri dari Ketua, Sekretaris, dan Anggota. Ketua PK3RS adalah seorang dokter
sekaligus direktur, sekretaris PK3RS adalah staf ahli K3, dan anggota PK3RS adalah
terdiri dari perwakilan setiap unit kerja.
Di bentuknya PK3RS di RSUD Zainoel Abidin, maka dalam hal ini sudah
sesuai dengan Permenaker RI. No. Per. 04/MEN/1987 tentang P2K3 dan Tata Cara
Penunjang Ahli Keselamatan Kerja, dalam pasal 1 poin (d) disebutkan, Panitia
Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah badan pembantu di tempat kerja
yang merupakan wadah kerja sama antara pengusaha dan pekerja untuk
mengembangkan kerja sama, saling pengertian dan partisipasif efektif dalam
penerapan keselamatan dan kesehatan kerja.
Untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan para anggota PK3RS,
maka diadakan pendidikan dan pelatihan K3 dengan cara pengiriman delegasi atau
pelatihan didalam rumah sakit. PK3RS mempunyai tugas dan fungsi kerja yang telah
ditetapkan dan disesuaikan dengan peraturan-peraturan yang berlaku.
Pelayanan K3RS harus dilaksanakan secara terpadu melibatkan berbagai
komponen yang ada di rumah sakit. Pelayanan K3 di rumah sakit sampai saat ini
dirasakan belum maksimal. Hal ini dikarenakan masih banyak rumah sakit yang
belum menerapkan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan kerja (SMK3).
Penyelesaian masalah penyelenggaraan K3 di rumah sakit dapat efektif jika
SMK3 melakukan risk assesment terlebih dahulu terhadap kasus. Setelah itu, maka
kebijakan yang sudah terencana dapat diberlakukan sesuai dengan hasil assesment.
Penentuan kebijakan yang baik dan efektifjuga harus disertai dengan pembuatan

program yang mendukung kebijakan itu sendiri. Hal yang tak kalah penting adalah
sosialisasi terhadap target yang bersangkutan seperti tenaga medis dan non medis di
rumah sakit. Setelah sosialisasi dilakukan maka proses pembudayaan perilaku K3
sudah mulai dapat diprogramkan, seperti pembiasaan memakai APD (sarung tangan,
kacamata pelindung, gaun pelindung, dan lain-lain ) agar tidak terkena paparan bahan
atau gas kimia.
Pembinaan dan pengawasan terhadap proses K3 juga harus digencarkanuntuk
mencegah adanya ketidakdisiplinan yang akan mengakibatkan risiko bahaya.
Pencatatan dan pelaporan hasil program juga akan sangat berguna untuk mengetahui
proses pelaksanaan K3 setelah dibentuk kebijakan dan program baru. Selain itu,
pelaksanaan evaluasi terhadap hasil program harus selalu dilakukan agar pihak SMK3
mengetahuiapakah diperlukanadanya perbaikan maupunpengembangan dalam rangka
untuk meningkatkan Kesehatan dan Keselamatan Kerja terhadap pekerja di Rumah
Sakit tersebut.

BAB IV
KESIMPULAN
Program Kesehatan dan Keselamatan kerja di rumah sakit (K3RS) merupakan
upaya untuk melindungi Kesehatan dan Keselamatan kerja serta meningkatkan
produktifitas tenaga kerja, melindungi keselamatan pasien, pengunjung dan
masyarakat serta lingkungan rumah sakit dari berbagai potensi bahaya yang ada.
Rumah Sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan
karakteristik tersendiri dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan kesehatan,
kemajuan teknologi, dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat harus tetap mampu
meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu dan terjangkau oleh masyarakat agar
terwujud derajat kesehatan setinggi-tingginya. Selain itu Rumah Sakit juga dituntut
harus melaksanakan dan mengembangkan program K3 di Rumah Sakit (K3RS).
Pengelolaan K3 di Rumah Sakit dianggap cukup penting dalam upaya peningkatan
lingkungan kerja Rumah Sakit agar aman, sehat, dan nyaman baik bagi karyawan,
pasien, pengunjung, ataupun masyarakat di sekitar RS. Agar kesehatan dan
keselamatan kerja di rumah sakit tercapai penting dibuat perencanaan, organisasi,
pelaksanaan dan pengawasan yang kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi
penerapan budaya K3 di rumah sakit. Penerapan program K3 di Rumah Sakit
RSUDZA terutama ruang rawat inap saraf kenyataannya masih perlu banyak
perbaikan, sehingga diharapkan sosialisasi dan pengawasan mengenai K3 di Rumah
Sakit harus lebih ditingkatkan lagi. Harusnya SMK3 juga menerapkan prinsip AREC
(Anticipation, Recognition, Evaluation dan Control) dari metode kerja, pekerjaan dan
lingkungan kerja, agar tupoksi K3RS sendiri dapat tercapai.

DAFTAR PUSTAKA
1. Duma K. Studi Kebijakan Sistem Manajemen Kesehatan Dan Keselamatan Kerja

(SMK3) di Popinsi Kalimantan Timur. Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia.


2014 Juni; 3(93).
2. Organitation IL. Keselamatan dan Kesehatan Kerja Sarana Untuk Produktivitas.

SCORE. 2013;: P. 1-111.


3. Ibanah I. Sistem Pelaksanaan Keselamatan Pasien di Ruang Rawat Inap dan

Kejadian Kecelakaan Pasien Di Rumah Sakit Al-Huda Genteng Kabupaten


Banyuwangi. Skripsi. 2013;: P. 1-14.
4. Ann-Nafi' AF. Pengaruh Kenyamanan Lingkungan Fisisk Ruang Rawat Inap Kelas

III Terhadap Kepuasan Pasien Di RSUI Kustati Surakarta. Skripsi. 2009;: P. 1-46.
5. Rahayuningsih PW, Hariyono W. Penerapan Manajemen Keselamatan Dan

Kesehatan Kerja (MK3) di Instalasi Gawat Darurat. Penerapan Manajemen


Keselamatan dan Kesehatan Kerja. 2011 Januari; 5(1).
6. Republik Indonesia MK. Pedoman Manajemen Kesehatan Republik Indonesia

Nomor 432/Menkes/SK/IV/2007. Menteri Kesehtan Republik Indonesia. 2007;: P.


1-15.
7. Republik Indonesia MK. Standar dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit.

Keputusan
Menetri
Kesehatan
Republik
1087/Menkes/SK/VIII/2010. 2010;: P. 1-44.

Indonesia

Nomor: