Anda di halaman 1dari 5

PROFESOR

Prof Dr Dahnial Khumarga

”Perkiraan Kawan-kawan Benar,

Saya Peringkat Pertama”

PROFESOR

Orang lebih mengenalnya sebagai mantan Rektor Universitas Tarumanegara, Jakarta. Wajar saja, karena Prof Dr Dahnial Khumarga menduduki kursi rektor universitas tersebut selama 12 tahun (tiga periode). Di Untar, Khumarga memulai karier sebagai sekretaris fakultas hukum

(1965).

KHUMARGA memang identik dengan Untar. Menyebut nama Khumarga orang ingat Untar. Sebaliknya, menyebut nama Untar orang pun teringat Khumarga.

Ditemui di rumah kediamannya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, 13 April lalu, Khumarga sangat

antusias bicara soal pemberantasan praktik mafia hukum di Indonesia,

yang menjadi laporan utama majalah

INTEGRITAS edisi kali ini.

Selama memimpin Untar, banyak hal lain yang menarik (dan penting) dalam perjalanan hidup Khumarga. Termasuk, pemikiran dan perenungannya tentang kebangsaan.

Misalnya, soal jabatan presiden. Dia bercerita tentang seorang insinyur, yang katanya kebetulan orang Jawa, antek Belanda, dan setelah penyerahan kedaulatan bahkan melarikan diri ke Belanda.

”Seandainya anak-anaknya pulang

ke sini, mereka bisa saja jadi presiden

di Indonesia. Sedangkan saya,

yang kebetulan nonpri tidak bisa. Padahal, sekalipun sedikit, ayahanda

mempunyai saham dalam perjuangan kemerdekaan,” kata Khumarga

berseloroh. ”Jelas, ini suatu ironi

yang perlu direnungkan bersama.”

Khumarga ambisius? Cerita berikut

bisa menjelaskan dengan gamblang.

Menjelang Pemilihan Umum 2004 terjadi kemelut di tubuh Universitas Bung Karno (UBK), Jakarta. Khumarga, yang selaku Wakil Ketua Dewan Penyantun UBK merasa sudah tidak dibutuhkan lagi didesak mengambil alih jabatan rektor yang ketika itu masih dijabat resmi oleh Muchyar Yara, SH, MH. Ia langsung menolaknya, tanpa basa-basi atau sok berdiplomasi.

”Setelah

mendengar

sikap

saya

yang tegas dan terkesan final, baik Bapak Sri Mulyono maupun Bapak TS Lingga pun mulai melancarkan desakannya secara bertubi-tubi,” kata Khumarga.

Yang dimaksud Khumarga adalah Marsekal Sri Mulyono Herlambang (antara lain pernah menjadi Kepala Staf Angkatan Udara).

Sekalipun begitu, ia bergeming sehingga rapat pun buntu alias deadlock. Karena sejumlah pihak yang hadir mencoba mengetuk hati Khumarga dengan menyebutkan bahwa kurang lebih seribu wisudawan akan terbengkalai penandatangan ijazahnya maka didorong oleh rasa empati kepada para wisudawan, ia pun menyatakan bahwa untuk sekedar menandatangani ijazah ia tidak keberatan. Akan tetapi, dia mengajukan syarat: hanya satu bulan menjadi rektor. Sri Mulyono Herlambang segera menimpali sambil mengarahkan pandangan ke Ir Ristiyanto (Sekretaris Umum Yayasan Pendidikan Soekarno), ”Yang batas waktu satu bulan itu tidak usah dicantumkan!” Khumarga langsung merespons dengan sikap penolakan. Akhirnya, rapat pada hari itu berakhir dengan air muka hadirin yang tidak terlalu muram lagi.

Tak sampai satu minggu sesudah itu Sekum YPS Ristiyanto ke rumah Khumarga membawa SK dari YPS. Isinya, pengangkatan Khumarga sebagai Rektor UBK untuk masa jabatan 2006-2010.

Lho, saya kan sudah minta hanya satu bulan saja masa pengangkatan saya, yaitu hanya untuk menandatangani ijazah saja,” kata Khumarga spontan.

”Prof, tidak ada pengangkatan rektor yang masa kerjanya untuk satu bulan saja,” Ristiyanto menimpali.

”Ya menandatangani ijazah saya akan mengajukan pengunduran diri.” selesai sudah, begitu Tidak lama sesudah itu

”Ya

menandatangani ijazah saya akan mengajukan pengunduran diri.”

selesai

sudah,

begitu

Tidak lama sesudah itu Ristiyanto pamit meninggalkan rumah Khumarga. ”Mohon direnungkan kata-kata Pak Sri Mulyono Herlambang ketika kita rapat, Prof,” kata Ristiyanto.

Maksud Ristiyanto tentu kata-kata Sri Mulyono yang berpesan agar pengangkatan Khumarga tidak diberi batas waktu.

Ketika pada suatu hari, masih dalam kurun waktu satu bulan setelah menerima pengangkatan, Khumarga berkunjung ke kampus dan bertemu dengan para fungsionaris UBK. Hampir semuanya mengimbaunya agar bersedia menjabat rektor selama mungkin. Di antara mereka ada yang berucap dengan ekspresi wajah sangat berharap, “Bapak, kami sudah berikrar untuk mengusahakan agar Bapak kerasan, betah, di UBK ini.”

Setelah direnungkan masak-masak, apakah akan memilih sikap semula,

yaitu tetap tidak menerima desakan dan imbauan atau rayuan berbagai pihak atau akan melunakkan diri, maka akhirnya Khumarga bagai mendapat bisikan suara batin, ”Mengapa tidak dicoba dulu dalam kurun waktu satu tahun saja?” Perang batin pun terus berkecamuk karena dari pihak keluarga sama sekali tidak ada dukungan untuk menerima tantangan itu.

Cerita Khumarga soal penataran P4 juga sangat menarik. Pada masa Orde Baru,penataranPedomanPenghayatan dan Pengamalan Pancasila adalah hal wajib bagi para pemimpin organisasi kemasyarakatan, organisasi sosial politik, dan sebagainya. Sebagai pemimpin perguruan tinggi swasta alias Rektor Untar, Khumarga yang juga berkiprah di pemerintahan wajib mengikuti penataran P4. Penyelenggaranya adalah BP7 Pusat, yang berkantor di Jalan Pejambon, Jakarta Pusat.

Pada penutupan penataran, seluruh peserta dinilai dan dipililh 10 terbaik. Banyak kawan seangkatan Khumarga

yang memperkirakan Khumarga-lah lulusan terbaik.

”Sebaliknya, saya sendiri merasa banyak kawan yang kualifikasinya lebih baik dari saya. Ketika dilakukan pengumuman, dimulai dengan yang mendapat ranking ketiga, pembacaaan mulai diperlambat sehingga sampai disebutkannya nama peringkat kedua menuju peringkat pertama. Ternyata perkiraan kawan-kawan benar juga. Saya disebut terakhir, berarti sayalah ranking pertama,” tutur Khumarga, mengenang.

Masih segar dalam ingatannya, peringkat kedua adalah Letnan Kolonel Saleh Djasid, yang di kemudian hari menjabat Gubernur Riau dengan pangkat mayor jenderal TNI dan setelah pensiun menjadi anggota DPR dari Fraksi Golkar.

Menolak Bayar Kursi DPR

Cerita menarik lainnya adalah soal ”calon jadi”. Khumarga mendengar kabar akan dicalonkan menjadi

INTEGRITAS - Juni 2013

77

PROFESOR

anggota DPR oleh Golongan Karya. Ketika mendengar bahwa daftar ”calon jadi” anggota DPR telah disetujui oleh Pak Harto selaku Ketua Dewan Pembina Golkar, dia menyempatkan diri melihat dengan mata kepala sendiri pengumuman resminya yang ditempelkan di Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Ternyata memang benar namanya tercantum di dalam daftar ”calon jadi”.

”Patut dicatat, karena yang memutuskan Ketua Dewan Pembina yang dijabat oleh Presiden Republik Indonesia maka yang sudah tercantum di dalam daftar ‘calon jadi’ dapat dikatakan tinggal siap-siap saja menunggu pelantikan,” tuturnya.

Sekalipun begitu, menyadari iklim perpolitikan Indonesia, Khumarga tetap tidak yakin, apalagi hakulyakin. ”Saya rajin bertanya ke kiri-ke kanan, ke barat-ke timur, apakah memang kalau sudah diumumkan seperti itu berarti sudah 100 persen terjamin diangkat sebagai anggota DPR. Pada umumnya memang jawabannya demikian.”

Dia masih ingat betul, salah seorang yang dia tanyai adalah Mayjen TNI Sugeng Widjaya yang pernah menjabat Kepala Staf Satgas Mass Media Kopkamtib, yang kurang lebih tiga tahun menjadi rekan kerja/ atasannya. Di DPP Golkar, Sugeng adalah ketua.

”Yaah, sudah pasti, lha wong yang memutuskan kan Pak Harto selaku Ketua Dewan Pembina Golkar. Pokoknya siap-siap sajalah untuk dilantik, nanti saya akan hadir,” kata Sugeng ketika keduanya menghadiri pemakaman seorang perwira tinggi di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Orang- orang lain yang ditanyai Khumarga juga sekaliber Sugeng Widjaya dan

yang ditanyai Khumarga juga sekaliber Sugeng Widjaya dan menjawab hampir sama. Sementara menunggu proses pelantikan

menjawab hampir sama.

Sementara menunggu proses

pelantikan menjadi anggota DPR,

dia tetap menjalankan tugas sebagai

anggota DPP Golkar juga selaku

Rektor Untar. Suatu hari dia ditelepon seorang (perempuan) yang cukup aktif di DPP Golkar serta sebagai dosen di Untar. Katanya, ada pesan khusus yang perlu disampaikan dari seorang yang berkdudukan sangat senior di lingkungan Golkar dalam kaitan pengangkatan Khumarga sebagai calon anggota DPR. Ketika hari H-nya telah ditetapkan, sang penghubung menemui Khumarga

di rumah kediamannya. Intinya,

Khumarga diminta menyediakan dana sangat besar.

”Apakah itu syarat mutlak?”

”Ya, memang demikian,” jawab sang penghubung. ”Sebagian besar dari ‘calon jadi’ bahkan telah menyetorkan jumlah uang yang diminta.”

”Beri saya waktu untuk pikir-pikir.”

Sang penghubung pamit. ”Baik, nanti

menghubungi

saya

dua-tiga

Bapak lagi.”

hari

Selang dua hari setelah itu sang penghubung menelepon dan memberitahu bahwa jumlah uang b isa dikurangi 50 persen.

”Ya,

saya

pikir-pikir

dulu,”

kata

Khumarga.

 

Tibalah saat pengumuman daftar anggota DPR yang akan dilantik, dan memang namanya tidak ada di situ. ”Saya juga tidak pernah dihubungi lagi oleh sang penghubung. Saya tidak menyesal dan tetap membantu Golkar seperti biasa, tapi dari beberapa teman, saya tahu jatah kursi yang dialokasikan untuk saya diberikan kepada aktivis ICMI.”

ICMI atau Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia merupakan organisasi yang lahir di zaman Orde Baru dengan tokohnya BJ Habibie.

Terjemahan Bermasalah

Khumarga yang karena tugasnya di Dinas Penerangan Humas Kopkamtib pernah berhubungan erat dengan tokoh pers nasional, juga punya pengalaman tak terlupakan: ditegur Pangkopkamtib Jenderal Sumitro

karena masalah pengindonesiaan kata impose (Inggris) ke bahasa Indonesia.

Pada 1973, menjelang Rapim ABRI, Khumarga diminta Jenderal August Marpaung (atasannya langsung) menyusun pidato pengarahan Pangkopkamtib. Ketika menyusun pidato itu ia kesulitan menemukan padanan kata impose dalam kalimat berbahasa Inggris dalam konteks ”diberi sanksi”. Merasa menggunakan kata dikenakan sebagai padanan kata to impose kurang pas, Khumarga akhirnya menggabungkan kata dari bahasa Indonesia dan bahasa Inggris menjadi ‘diimposekan’ (tanda petik satu dari penulis, Red). Singkat cerita, naskah pidato diserahkan kepada sekretaris Pak Mitro.

Pagi hari sebelum Rapim ABRI dimulai, Pak Mitro menelepon Jenderal August Marpaung dan mempersoalkan naskah pidato hasil kerja Khumarga. August lalu meminta Khumarga segera melapor ke Pak Mitro, dans Khumarga bergegas menuju ruang kerja Pak Mitro. Dia cemas.

Setelah dipersilakan duduk, Khumarga ditanya Pak Mitro tentang kata ‘diimposekan’ yang ternyata diketik serangkai dan bukan ‘di- impose-kan’.

Setelah mendengar penjelasan Khumarga, Pak Mitro akhirnya maklum. Ternyata, Pak Mitro orangnya simpatik, kata Khumarga dalam hati.

”Seandainya ketika itu sudah ada komputer untuk mengetiknya, tentu kata impose -nya diketik italic. Namun, karena diketik dengan mesin ketik maka sulit dibedakan bahwa kata kerja yang diapit oleh awalan di dan akhiran kan sebetulnya kata kerja bahasa Inggris.”

MaksudKhumarga,kalausekarangdia tentu mengindonesiakan terjemahan menjadi ‘di-impose-kan’.

Yang juga tak kalah menarik adalah cerita Khumarga tentang asal-muasal rumah Soeharto di Jalan Cendana No 8, Menteng, Jakarta Pusat. Ketika bertugas di lingkungan Komando Operasi Tertinggi (KOTI), Khumarga diajak bicara oleh (ketika itu masih) Brigjen Sudharmono.

”Kalau tidak salah you kenal cukup baik dengan Profesor Mister Ting Swan Tiong,” kata Sudharmono.

”Iya, beliau guru besar saya ketika kuliah di Fakultas Hukum UI. Sesudah itu saya pernah magang di kantor advokat dan pengacara beliau di Jalan Kramat Raya kurang lebih tiga bulan. Apa yang bisa saya bantu, Pak?”

Sudharmono, SH, yang ketika itu seingat Khumarga sudah diangkat menjadi sekretaris pribadi (sespri) Presiden Soeharto menjelaskan bahwa keluarga Pak Harto berminat membeli rumah/persil yang terletak di Jalan Cendana No 8, yang letaknya bersebelahan dengan rumah keluarga Soeharto.

Khumarga kemudian mengontak Prof Mr Ting. Maka, Khumarga pun tahulah bahwa persil dimaksud milik NV Prapatan Oost, perusahaan kepunyaan seorang warga negara Indonesia yang bermukim di Negeri Belanda dan Prof Mr Ting dipercaya menjaganya.

Setelah bicara dengan Prof Mr Ting Khumarga menghadap Sudharmono (yang jabatan terakhirnya adalah Wakil Presiden RI) dan melaporkan pembicaraannya dengan Prof Mr Ting sembari memberi alamat kantor, nomor telepon, dan sebagainya. Di kemudian hari, Khumarga mendengar

kabar bahwa Soeharto jadi membeli rumah di Jalan Cendana No 8.

Di dalam bukunya, Untuk Negara, Masyarakat, dan Keluarga (2012), dengan sangat bagus Khumarga menggambarkan kepribadian Mayjen Ig Djoko Mulyono, atasannya semasa bertugas di Satgas Mass Media Kopkamtib. Setelah pensiun dari Angkat Darat Djoko Mulyono menjabat Dirjen Bimbingan Masyarakat Katolik Departemen Agama.

Sosok Djoko Mulyono selaku atasan memang tidak tergolong komandan yang karismatik atau menonjol kewibawaannya. Namun, oleh rekan dan bawahannya Djoko dikenal sebagai seorang yang menonjol sifat kebapakannya.

Masih segar dalam ingatan Khumarga petuahnya dalam bahasa Belanda, ”Laten ze ons nader kennen.” Artinya, ”Biarlah mereka akhirnya mengenal kita lebih jauh.” Maksudnya, kalau sikap kita dipermasalahkan secara tidak positif oleh kawan-kawan sekerja, kita tidak usah bereaksi lalu mengikuti sikap mereka yang mengkritik kita. Sebaliknya, biarlah kita menunjukkan sikap kita yang sebenarnya, demikian rupa, sampai akhirnya merkea merasa tidak sepatutnya menilai kita sebagaimana sebelumnya.

Ungkapan dalam bahasa Belanda itu menancap hati Khumarga, dalam sekali. ”Hingga sekarang saya sering menjadikannya sebagai pegangan hidup maupun untuk menasihati kawan-kawan, bawahan yang mengeluhkan sikap kawannya yang tidak positif.”

HENDRIK/ANDREAS/VICTOR