Anda di halaman 1dari 14

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

REFLEKSI KASUS UPD

A. Kasus
Seorang pasien datang ke rumah sakit karena badan panas, menggigil, dan berkeringat (trias
malaria). Riwayat berkunjung / tinggal di daerah endemik malaria (+), hasil lab apusan darah tepi
tidak ditemukan parasit malaria sama sekali dari semua jenis plasmodium dan semua fase
plasmodium.
B. Topik yang Dibahas
Apakah pasien tersebut menderita malaria? Bagaimanakah cara mendiagnosis malaria dan
menyingkirkan diagnosis malaria?
C. Pembahasan
GejalaaMalaria
Gejala
serangan
malaria
pada
penderita
terdiri
dari
beberapa
jenis,
yaitu:
1. Gejala klasik, biasanya ditemukan pada penderita yang berasal dari daerah non endemis malaria
atau yang belum mempunyai kekebalan (imunitas); atau yang pertama kali menderita malaria. Gejala
ini merupakan suatu parokisme, yang terdiri dari tiga stadium berurutan:
- menggigil (selama 15-60 menit), terjadi setelah pecahnya scizon dalam eritrosit dan keluar zat-zat
antigenik
yang
menimbulkan
menggigil-dingin.
- demam (selama 2-6 jam), timbul setelah penderita menggigil, demam dengan suhu badan sekitar
37,5-40 derajad celcius, pada penderita hiperparasitemia lebih dari 5 persen (biasanya terjadi pada
infeksi p. falcifarum) suhu meningkat sampai lebih dari 40 derajad celcius.
- berkeringat (selama 2-4 jam), timbul setelah demam, terjadi akibat gangguan metabolisme tubuh
sehingga produksi keringat bertambah. Kadang-kadang dalam keadaan berat, keringat sampai
membasahi tubuh seperti orang mandi. Biasanya setelah berkeringat, penderita merasa sehat kembali.
Di daerah endemis malaria dimana penderita telah mempunyai imunitas terhadap malaria, gejala klasik
di atas timbul tidak berurutan bahkan bisa jadi tidak ditemukan gejala tersebut- kadang muncul gejala
lain.
2. Gejala malaria dalam program pemberantasan malariaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa:
-aDemam
-aMenggigil
-aBerkeringat
-aDapat
disertai
dengan
gejala
lain:
Sakit
kepala,
mual
dan
muntah.
-aGejala khas daerah setempat: diare pada balita (di Timur - timur), nyeri otot atau pegal-pegal
pada orang dewasa (di Papua), pucat dan menggigil-dingin pada orang dewasa (di Yogyakarta).
3. Gejala malaria berat atau komplikasi, yaitu gejala malaria klinis ringan diatas dengan disertai salah
satu gejala di bawah ini :aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
- Gangguan kesadaran (lebih dari 30 menit) aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Kejang,
-beberapa
kali
kejang
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
- Panas tinggi diikuti gangguan kesadaranaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Mata
kuning
dan
tubuh
kuningaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
- Perdarahan di hidung, gusi atau saluran pencernaan aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Jumlah
kencing
kurang
(oliguri)
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
01

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

REFLEKSI KASUS UPD

Warna
urine
seperti
teh
tua
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Kelemahan umum (tidak bisa duduk/berdiri)
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Sesak
Nafas
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Seseorang bisa diketahui terserang penyakit malaria lewat penampakan klinis (seperti gejala-gejala di
atas) atau pemeriksaan laboratorium. Pada pemeriksaan laboratorium (Apusan Darah Tepi), seseorang
bisa
diketahui
terkena:aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Malaria
ringan
atau
tanpa
komplikasi:
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
a. Malaria falciparum (tropika), disebabkan p. falciparum aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
b. Malaria vivak/ovale (tertiana), disebabkan p. vivax/ovale aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
c. Malaria malariae (kuartana), disebabkan p. malariae aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
d. Malaria knowlesi, disebabkan p. Knowlesi (jenis terbaru)
Penegakan diagnosa
Diagnosa malaria didasarkan atas manifestasi klinis (termasuk anamnesis), uji imunoserologis dan
menemukan parasit (Plasmodium) malaria dalam darah penderita. Penegakan diagnosis melalui
pemeriksaan laboratorium memerlukan persyaratan tertentu agar mempunyai nilai diagnostik yang
tinggi yaitu : waktu pengambilan sampel harus tepat yaitu pada akhir periode demam memasuki
periode berkeringat, karena pada periode ini jumlah trophozoite dalam sirkulasi mencapai maksimal
dan cukup matur sehingga memudahkan identifikasi spesies parasit. Volume darah yang diambil
sebagai sampel cukup, yaitu darah kapiler. Kualitas preparat harus baik untuk menjamin identifikasi
spesies Plasmodium yang tepat. Diagnosa malaria dibagi dua, yaitu :
Secara Klinis (Tanpa Pemeriksaan Laboratorium)
Yaitu diagnosis berdasarkan gejala-gejala klinis malaria, yang gejala umumnya ditandai dengan Trias
Malaria, yaitu demam, menggigil dan berkeringat.
Secara laboratorium (Dengan Pemeriksaan Sediaan Darah)

Selain berdasarkan gejala-gejala klinis, juga dilakukan konfirmasi dengan pemeriksaan SD tetes tebal.
Apabila hasil pemeriksaan SD tetes tebal selama 3 kali berturut-turut negatif, diagnosa malaria dapat
disingkirkan. Bila dihitung parasit > 5% atau 5000 parasit/200 lekosit, maka didiagnosa sebagai
malaria berat. Di daerah yang tidak ada sarana laboratorium dan mikroskop, diagnosa malaria
ditegakkan hanya berdasarkan pemeriksaan klinis tanpa pemeriksaan laboratorium (anamnese dan
pemeriksaan fisik saja)..
Gejala klinis
Gejala dari penyakit malaria terdiri atas beberapa serangan demam dengan interval tertentu
(parokisme), yang diselingi oleh suatu periode (periode laten) dimana penderita bebas sama sekali dari
demam. Jadi gejala klinis utama dari penyakit malaria adalah demam, menggigil secara berkala dan
02

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

REFLEKSI KASUS UPD

berkeringat disebut Trias Malaria (Malaria paroxysm). Secara berurutan. Kadang-kadang


menunjukkan gejala klinis lain seperti : badan terasa lemas dan pucat karena kekurangan sel darah
merah dan berkeringat, napsu makan menurun, mual-mual, kadang-kadang diikuti muntah, sakit kepala
dengan rasa berat yang terus menerus, khususnya pada infeksi dengan falsiparum. Dalam keadaan
menahun (kronis) gejala tersebut diatas disertai dengan pembesaran limpa. Pada malaria berat, gejalagejala tersebut diatas disertai kejang-kejang dan penurunan kesadaran sampai koma. Pada anak, makin
muda usia makin tidak jelas gejala klinisnya, tetapi yang menonjol adalah diare dan anemia serta
adanya riwayat kunjungan atau berasal dari daerah malaria.

Stadium menggigil : Dimulai dengan menggigil dan perasaan sangat dingin, nadi cepat dan lemah,
bibir dan jari pucat/kebiruan. Penderita mungkin muntah dan pada anak-anak sering terjadi kejang.
Stadium ini berlangsung antara 15 menit sampai 1 jam.

Stadium demam : Setelah merasa kedinginan penderita merasa kepanasan, muka merah, kulit kering,
dan terasa sangat panas seperti terbakar, sakit kepala, nadi lebih kuat. Penderita merasa sangat haus dan
suhu tubuh bisa mencapai 41 C. Stadium ini berlangsung antara 2-4 jam.

Stadium berkeringat : Penderita berkeringat banyak, suhu badan menurun dengan cepat, kadangkadang sampai di bawah suhu normal, dapat tidur nyenyak dan setelah bangun tidur badan terasa lelah
tetapi tidak ada gejala lain. Stadium ini berlangsung antara 2-4 jam. Beberapa keadaan klinik dalam
perjalanan infeksi malaria adalah :

1). Serangan primer : Yaitu keadaan mulai dari akhir masa inkubasi dan mulai terjadi serangan
paroksismal yang terdiri dari dingin/menggigil; panas dan berkeringat. Serangan paroksismal ini dapat
pendek atau panjang tergantung dari perbanyakan parasit dan keadaan imunitas penderita.
2). Periode latent : Periode ini ditandai dengan tanpa gejala dan tanpa parasetemia selama terjadinya
infeksi malaria. Biasanya terjadi diantara dua keadaan paroksismal. Periode latent dapat terjadi sebelum
serangan primer atau sesudah serangan primer dimana parasit sudah tidak ada di peredaran darah tepi
tetapi infeksi masih berlangsung.

Rekrudensi (Recrudescense) : Berulangnya gejala klinik dan parasetemia dalam masa 8 minggu
sesudah berakhirnya serangan primer. Recrudescense dapat terjadi sesudah periode latent dari serangan
primer.

03

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

REFLEKSI KASUS UPD

Rekurensi (Recurrence) : Yaitu berulangnya gejala klinik atau parasetemia sesudah 24 minggu
berakhirnya serangan primer. Keadaan ini juga menerangkan apakah gejala klinik disebabkan oleh
kehidupan parasit berasal dari bentuk di luar eritrosit (hipnosist) atau parasit dari bentuk eritrosit.

Kambuh (Relaps atau Rechute) : Ialah berulangnya gejala klinik atau parasitemia yang lebih lama
dari waktu diantara serangan periodek dari infeksi primer. Istilah relaps dipakai untuk menyatakan
berulangnya gejala klinik setelah periode yang lama dari masa latent, samapai 5 tahun, biasanya terjadi
karena infeksi tidak sembuh atau oleh bentuk diluar eritrosit (hati). Kekambuhan (relaps) malaria dapat
digolongkan pada kekambuhan klinis atau kekambuhan parasit. Kekambuhan klinis adalah adanya
serangan klinis, terjadi tanpa disertai adanya reinfeksi. Sedangkan kekambuhan parasit adalah timbul
kembali atau terjadinya peningkatan jumlah parasit, yang terjadi sesudah periode sub-patency atau
parasetemia.

Masa Inkubasi : Masa inkubasi penyakit malaria dibedakan atas masa inkubasi ekstrinsik (= stadium
sporogani) dan masa inkubasi intrinsik.

Masa inkubasi ekstrinsik adalah mulai saat masuknya gametosit ke dalam tubuh nyamuk
sampai terjadinya stadium sporogani dalam tubuh nyamuk yaitu terbentuknya sporozoit yang
kemudian masuk ke dalam kelenjar air liur nyamuk. Masa inkubasi ekstrinsik dipengaruhi oleh
suhu udara. Pada suhu 26C, untuk setiap species adalah sebagai berikut : P. falcifarum 10-12
hari (15), P. vivaks : 8 11 hari, P. ovale 15 hari.
Masa inkubasi intrinsik adalah waktu mulai saat masuknya sporozoit ke dalam darah sampai
timbulnya gejala klinis/demam atau sampai pecahnya sizon darah. Masa inkubasi intrinsik
berbeda tiap spesies ; P. falcifarum 9-14 hari (12), P. vivaks : 12 17 (15) hari, P. ovale 16 18
(17) hari.

Masa inkubasi intrinsik berbeda dengan masa prepaten yang menggambarkan jarak waktu antara
masuknya sporozoit dan pemunculan parasit saat pertama kali ada di darah tepi. Masa subpaten
merupakan masa dimana jumlah parasit yang ada pada darah tepi sangat sedikit sehingga belum bisa
ditemukan pada pemeriksaan mikroskopik, masa ini biasanya disebut subpaten parasitemia.

Masa prepaten dan subpaten parasitemia selanjutnya diikuti oleh adanya gejala klinis yang biasanya
disertai oleh paten parasitemia (adanya parasit di darah tepi yang sudah bisa ditemukan pada
pemeriksaan mikroskopik). Serangan pertama terdiri dari beberapa parokisme (serangan demam
dengan interval waktu tertentu, tergantung pada lamanya siklus sisogoni darah setiap spesies). Bila
serangan pertama ini tidak diobati dengan sempurna mungkin timbul rekrudensi atau rekurensi.
Serangan klinis selanjutnya akan dipengaruhi oleh imunitas penderita yang kemudian timbul.
04

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

REFLEKSI KASUS UPD

Kekambuhan atau relapse (rekrudensi/rekurensi) tanpa disertai gejala klinis relapse parasit. Interval
antara waktu dua relaps disebut masa/periode laten.

FAKTOR HOST YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA PENYAKIT MALARIA

Umur : Anak-anak lebih rentan terhadap infeksi parasit malaria, terutama pada anak dengan gizi buruk.
Infeksi akan berlangsung lebih hebat pada usia muda atau sangat muda karena belum matangnya
system imun pada usia muda sedangkan pada usia tua disebabkan oleh penurunan daya tahan tubuh
misalnya oleh karena penyakit penyerta seperti Diabetes Melitus atau pada pengidap HIV. Perbedaan
angka kesakitan malaria pada berbagai golongan umur selain dipengaruhi oleh faktor kekebalan juga
dipengaruhi oleh faktor lain seperti pekerjaan , pendidikan dan migrasi penduduk.

Jenis kelamin : Perbedaan angka kesakitan malaria pada anak laki-laki dan perempuan dipengaruhi
oleh faktor pekerjaan, migrasi penduduk dan lain-lain. Pada dasarnya infeksi malaria pada jenis
kelamin laki laki relatif sama dengan jumlah yang terjadi pada perempuan. Namun pada perempuan
perlu dipertimbangkan secara khusus adanya infeksi malaria selama masa kehamilan.

Riwayat malaria sebelumnya : Orang yang pernah terinfeksi malaria sebelumnya biasanya akan
terbentuk imunitas sehingga akan lebih tahan terhadap infeksi malaria. Contohnya penduduk asli
daerah endemik akan lebih tahan dibandingkan dengan transmigran yang datang dari daerah non
endemis.

Ras : Beberapa ras manusia atau kelompok penduduk mempunyai kekebalan alamiah terhadap malaria,
misalnya siekle cell anemia merupakan kelainan yang timbul karena penggantian asam amino
glutamat pada posisi 57 rantai hemoglobin. Bentuk heterozigot dapat mencegah timbulnya malaria
berat, tetapi tidak melindungi dari infeksi. Mekanisme perlindungannya belum jelas, diduga karena
eritrosit Hb S (sickle cell train0 yang terinfeksi parasit lebih mudah rusak di system retikuloendothelial,
dan/atau karena penghambatan pertumbuhan parasit akibat tekanan O2 intraeritrosit rendah serta
perubahan kadar kalium intra sel yang akan mengganggu pertumbuhan parasit atau karena adanya
akulasi bentuk heme tertentu yang toksik bagi parasit. Selain itu penderita ovalositosis (kelainan
morfologi eritrosit berbentuk oval) di Indonesia banyak terdapat di Indonesia bagian timur dan sedikit
di Indonesia bagian barat. Prevalensi ovalosis mulai dari 0,25 % (suku Jawa) sampai 23,7 % suku Roti.
Kebiasaan : Kebiasaan sangat berpengaruh terhadap penyebaran malaria. Misalnya kebiasaan tidak
menggunakan kelambu saaat tidur dan senang berada diluar rumah pada malam hari. Seperti pada
05

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

REFLEKSI KASUS UPD

penelitian di Mimiki Timur, Irian Jaya ditemukan bahwa kebiasaan penduduk menggunakan kelambu
masih rendah menyebabkan besarnya angka kejadian malaria.

Status gizi : Status gizi ternyata berinteraksi secara sinergis dengan daya tahan tubuh. Makin baik
status gizi seseorang, makin tidak mudah orang tersebut terkena penyakit . Dan sebaliknya makin
rendah status gizi seseorang makin mudah orang tersebut terkena penyakit.

Pada banyak penyakit menular terutama yang dibarengi dengan demam, terjadi banyak kehilangan
nitrogen tubuh. Nitorgen tubuh diperoleh dari perombakan protein tubuh. Agar seseorang pulih pada
keadaan kesehatan yang normal, diperlukan peningkatan dalam protein makanan. Penting diperhatikan
pula bahwa fungsi dari semua pertahanan tubuh membutuhkan kapasitas sel-sel tubuh untuk
membentuk protein baru. Inilah sebabnya maka setiap defesiensi atau ketidak seimbangan zat makanan
yang mempengaruhi setiap system protein dapat pula menyebabkan gangguan fungsi beberapa
mekanisme pertahanan tubuih sehingga pada umumnya melemahkan resistensi host. Malnutrisi selalu
menyebabkan peningkatan insiden penyakit-penyakit infeksi dan terhadap penyakit yang sudah ada
dapat meningkatkan keparahannya.
Sosio ekonomi : Faktor sosial ekonomi sangat berkaitan dengan kemampuan sesweorang untuk
mencukupi kebutuhan dasarnya seperti : sandang, pangan, dan papan. Semakin tinggi sosial ekonomi
seseorang semakin mudah pula seseorang mencukupi segala kebutuhan hidupnya termasuk didalamnya
kebutuhan akan pelayanan kesehatan, makanan yang bergizi serta tempat tinggal yang layak dan lain
lain.
Semakin tinggi status sosial ekonomi seseorang maka pengeluaran cenderung bergeser dari bahan
makanan ke bahan non makanan. Jadi faktor sosial ekonomi seperti kemiskinan, harga barang yang
tinggi, pendapatan keluarga rendah, dan produksi makanan rendah merupakan resiko untuk
terjangkitnya malaria.
Immunitas : Immunitas ini merupakan suatu pertahanan tubuh. Masyarakat yang tinggal didaerah
endemis malaria biasanya mempunyai imunitas yang alami sehingga mempunyai pertahanan alami
terhadap infeksi malaria.
Faktor faktor yang mempengaruhi kekambuhan penyakit malaria :
Plasmodium vivaxatau P ovale pada siklus parasit di jaringan hati (sizon jaringan), sebagian parasit
yang berada dalam sel hati tidak melanjutkan siklusnya ke siklus erittrositer tetapi tertanam di
jaringan hati yang disebut hipnosit dan bentuk hipnosit inilah yang menyebabkan malaria. Penderita
yang mengandung hipnosit, apabila suatu saat dalam keadaan daya tahan tubuh menurun misalnya
akibat terlalu lelah, sibuk, stress, atau perubahan iklim (musim hujan) maka hipnosit akan terangsang
untuk melanjutkan siklus parasit dari dalam sel ke eritrosit.

06

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

REFLEKSI KASUS UPD

Setelah eritrosit yang berparasit pecah akan timbuk gejala penyakitnya kembali. Misalnya 1 2 tqhun
yanng sebelumnya pernah menderita P.Vivax / P. Ovale dan sembuh setelah diobati, jika suatu saat
orang tersebut pindah ke daerah bebas malaria dan tidak ada nyamuk maloaria, dalam keadaan
kelelahan / stress maka gejala malaria munncul kembali dan bila diperiksa sediaan darahnya akan
positif P. Vivax atau P. Ovale.
Umur : Anak anak lebih rentan terhadap infeksi parasit malaria, terutama pada anak dengan gizi
buruk. Infeksi akan berlangsung lebih hebat pada usia muda atau sangat muda karena belum matangnya
sistem imun pada usia muda, sedangkan pada usia tua disebabkan oleh penurunan daya tahan tubuh
misalnya oleh karena penyakit penyerta seperti diabetes mellitus. Perbedaan angka kesakitan malaria
pada berbagai golongan umur selain dipengaruhi oleh faktor kekebalan juga dipengaruhi oleh faktor
lain seperti pekerjaan, pendidikan dan migrasi penduduk.
Jenis Kelamin : Perbedaan angka kesakitan malaria pada anak laki laki dan perempuan dipengaruhi
oleh faktor pekerjaan, migrasi penduduk dan lain lain.
Kelelahan : salah satu akibat dari aktivitas fisik yang berlebihan adalah terjadinya kelelahan.
Kelelahan dapat mempengaruhi fungsi hati dan limpa dalam pembentukan limfosit B yang diperlukan
dalam pembentukan atau reaksi imunologi. Keadaan ini hingga dapat mengaktifkan kembali parasit
yang ada dalam sel hatiatau sebagai hipnosit
Stress : Pengaruh stres pada penderita adalah melalui hypothalamus akan kehilangan hormon
corticotrophin dan berakibat terganggunya metabolisme karbohidrat dan lemak pada hati. Sehingga
pembentukan immunoglobulin (antibody) seperti IgG, IgA, IgM, IgE dan gama globulin dari limfosit B
sebagai produk hepar mengalami gangguan.

Kebanyakan pasien tinggal atau baru saja bepergian ke daerah endemik, namun beberapa kasus
dilaporkan setiap tahun di mana pasien tidak memiliki riwayat perjalanan tersebut (misalnya, airport
malaria, dari nyamuk impor). Malaria bias saja muncul lebih dari 1 tahun setelah melakukan perjalanan
ke daerah endemik.Pasien yang sudah terinfeksi sebelumnya dapat berkembang menjadi malaria relaps
( kambuh), kambuhnya penyakit ini setelah diobati dan sembuh, hal ini disebabkan oleh reaktivasi
hypnozoites (tahap parasit yang dorman di hati), terjadi pada infeksi parasit malaria tipe P.vivax dan
infeksiaPaovale.
*Tentukan dulu status kekebalan pasien, umur, alergi, kondisi medis lainnya, pengobatan yang telah
dilakukan,adanastatusakehamilan.
* Pasien biasanya tetap asimptomatik selama seminggu atau lebih setelah gigitan nyamuk.
*Gejalaaklinisaantaraalainameliputi:
oBatuk
oKelelahan
oMalaise
oMenggigil
oArthalgia
07

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

REFLEKSI KASUS UPD

oMyalgia
ogejala yang muncul tiba-tiba, berupa demam, menggigil, dan berkeringat (setiap 48 atau 72
jam, tergantung pada spesies yang menginfeksi)

* Gejala klasik dimulai dengan periode kedinginan dan menggigil, yang berlangsung selama
kurang lebih 1-2 jam, dan diikuti dengan demam tinggi. Akhirnya, pasien mengalami diaforesis
berlebihan (berkeringat banyak), dan suhu tubuh pasien turun menjadi normal atau di bawah
normal.
* Banyak pasien, khususnya pada awal infeksi, tidak menampakkan gejala gejala klasik
tersebut tetapi mungkin memiliki beberapa kali demam dalam sehari dengan pola spike.
* Mempertahankan indeks kecurigaan yang tinggi pada setiap pasien yang menunjukkan
gejala malaria dan memiliki riwayat perjalanan ke daerah-daerah endemik untuk kemungkinan
menderitaamalaria.
*gejala umum yang kadang kadang muncul adalah sebagai berikut:aaaaaaaaaaaaaaaa
oAnorexiaadanalethargis
oMual-dan-muntah
oDiare
oSakit-kepala
oJaundice-(ikterik)
Pemeriksaan-Fisik
* tanda-tanda fisik yang
oTakikardia
oDemam
oHipotensi
oTanda-tanda-anemia
oSplenomegali
oikterus

mungkin

dapat

ditemukan

pada

infeksi

malaria

meliputi:

Penyebab
* Malaria paling sering disebabkan oleh gigitan nyamuk spesies Anopheles betina yang terinfeksi
dengan spesies protozoa genus Plasmodium. 5 spesies yang paling umum yang bisa menginfeksi
manusia
adalah
sebagai
berikut:aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
o P vivax: Jika jenis infeksi infeks ini tidak diobati, biasanya gejala berlangsung selama 2-3
bulan dengan frekuensi dan intensitas gejala paroxysms semakin berkurang. Pasien yang terinfeksi
parasit P.vivax , 50% mengalami relaps dalam beberapa minggu sampai 5 tahun setelah penyakit awal.
Ruptur limpa dapat dikaitkan dengan infeksi P vivax sekunder dengan splenomegali yang dihasilkan
dari penyerapan RBC. P vivax hanya menginfeksi sel darah merah yang immature, menyebabkan
parasitemia-terbatas.
08

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

REFLEKSI KASUS UPD

o P. ovale : Infeksi ini mirip dengan infeksi P vivax, meskipun mereka biasanya kurang parah.
infeksi P ovale sering sembuh tanpa pengobatan. Serupa dengan P vivax, P ovale menginfeksi hanya sel
darah merah immature dan parasitemia biasanya tidak separah yang terjadi pada infeksi P falciparum.
o P malariae: Mereka yang terinfeksi oleh spesies Plasmodium ini tetap asimptomatik untuk
jangka waktu lebih lama jika dibandingkan yang terinfeksi oleh P vivax atau ovale P. Recrudescence
umum terjadi pada mereka yang terinfeksi plasmodium malariae. Recrudescence ini sering dikaitkan
dengan
penyebab terjadinya sindrom nefrotik, hal ini mungkin terjadi karena keberadaan
recrudescence ini menghasilkan pengendapan kompleks antibodi-antigen pada glomeruli.
o P knowlesi: kasus ini telah didokumentasikan di Kalimantan, Malaysia, Thailand, Myanmar,
Singapura, dan di Filipina, dan negara-negara tetangga lainnya. Gambaran MDT pada p.knowlesi
sangat mirip dengan gambaran MDT pada P. Malaria. Diperkirakan bahwa kasus malaria ini mungkin
juga terjadi di Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Pasien yang terinfeksi plasmodium ini, atau
spesies lain yang mirip dengannya, harus ditangani secara serius sama seperti yang terinfeksi malaria
falciparum,
karena
P
knowlesi
dapat
menyebabkan
infeksi
yang
fatal.
o P falciparum: Bentuk infeksi malaria yang paling parah disebabkan oleh spesies ini. Infeksi P
falciparum tidak terbatas pada sel darah merah dari usia tertentu dan, karenanya,infeksinya merupakan
level tertinggi parasitemia antara 5 spesies Plasmodium. Infeksi P falcifarum ini juga menyebabkan
obstruksi pembuluh darah karena kemampuannya untuk menempel pada dinding sel endotel. Hal ini
menyebabkan sebagian besar komplikasi infeksi P falciparum. P falciparum dapat menyebabkan
malaria cerebral, edema paru, anemia yang berkembang pesat, dan masalah ginjal. Demam blackwater,
adalah urin yang terlihat gelap dengan hemolisis RBC parah akibat parasitemia berat, dan sering
merupakan
tanda
kegagalan
ginjal
yang
akan
datang
dan
penurunan
klinis.
* rute lain yang kurang umum terjadinya infeksi malaria adalah melalui transfusi darah dan
penularan ibu kepada janinnya. Ketika P vivax dan P. Ovale ditularkan melalui darah, tidak terjadi fase
hypnozoite laten dan pengebatan dengan primakuin tidak diperlukan, karena tidak terdapat sporozoit
yang membentuk hypnozoites dalam hepatosit orang yang terinfeksi tersebut.
Diferensial Diagnosis
akut HIV
Babesiosis
CBRNE - Plague
CBRNE - Demam Q
CBRNE Demam Berdarah Dengue
Demam Dengue
Ensefalitis
Endocarditis
Gastroenteritis
Giardiasis
Hipertermia (karena kepanasan), dan heatstroke
09

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

REFLEKSI KASUS UPD

Hepatitis
Hipotermia
Leishmaniasis
Meningitis
mononucleosis
Otitis Media
Penyakit inflamasi pelvis (PID)
Faringitis
Pneumonia, bakteri
Pneumonia, immunocompromised
Pneumonia, Mycoplasma
Pneumonia, Viral
Infeksi Salmonella
Sinusitis
Tetanus
Toxic Shock Syndrome
Toksoplasmosis
Yellow fever
Uji Laboratorium
* uji laboratorium yang bermanfaat untuk infeksi malaria meliputi panel CBC, elektrolit, tes fungsi
ginjal, tes kehamilan, urinalisis, serum haptoglobin bebas, kultur urin dan kultur darah, dan apusan
darah tebal dan tipis. Bagi pasien yang akan diberikan kina atau primakuin, tes G-6-PD harus
dilakukan. Pungsi Lumbal dapat diindikasikan pada pasien yang mengalami encephalopati dimana
diagnosis tidak jelas.. Rapid tes HIV mungkin juga diindikasikan pada kasus kasus tertentu, namun
pengujian ini memerlukan persetujuan dari pasien sehingga sering susah untuk di laksanakan di praktek
sehari.
* diagnosis laboratorium di UGD mungkin terbatas di rumah sakit yang tidak memiliki personel
yang terbiasa dengan tes malaria atau test khusus untuk deteksi cepat penyakit.
Imaging Studi
*Rontgen
thorax
dapat
membantu
jika
terjadi
gejala
gangguan
pernafasan.
*Jika muncul gejala SSP , CT scan kepala dapat dilakukan setelah kondisi pasien stabil untuk
mengevaluasi-bukti-adanya-edema-otak-perdarahan otak aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Tes Lain
Sentrifugasi mikrohematokrit
Menggunakan metode ini dengan tabung CBC merupakan metode sensitive
untuk deteksi infeksi malaria.
010

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

REFLEKSI KASUS UPD

Bagaimanapun, sentrifugasi mikrohematokrit tidak bisa mengidentifikasi jenis


plasmodiumnya. Untuk mengidentifikasi spesiesnya, harus diperiksa apusan
darah
tepinyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.
* Apusan tebal dan tipis darah tepi dengan pewarnaan Giemsa
o apusan ini merupakan criteria standar untuk deteksi malaria dan harus
dikirim ke laboratorium segera, karena malaria adalah infeksi yang berpotensi
mengancam nyawa, juga karena mencegah terjadinya auto fiksasi.
o Ketika membaca apusan, harus diperiksa 200-300 ladang pandang yang
telah diolesi minyak imersi (atau harus lebih banyak lapang pandang yang harus
diperiksa jika pasien telah mengkonsumsi obat profilaksis sebelumnya, karena
hal
ini
untuk
sementara
dapat
menurunkan
parasitemia).
o Satu apusan dengan hasil negatif tidak menyingkirkan malaria sebagai
diagnosis; apusan harus diulang setelah periode 36 jam (minimal 3 kali
pengujian dengan hasil negatif,diagnosis malaria baru boleh disingkirkan..
* pewarna Fluorescent / tes indikator ultraviolet: Beberapa pewarna yang
berbeda memungkinkan hasil laboratorium bisa diperoleh lebih cepat. Metode ini
memerlukan penggunaan mikroskop fluorescent (metode QBC II Sistem,
Becton-Dickinson's Kuantitatif Buffy Coat [QBC]). Fluorescent / tes ultraviolet
ini tidak menghasilkan informasi spesies plasmodiumnya ( tidak spesifik, namun
sensitifitasnya
tinggi
).aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
* PCR
o Polymerase reaksi berantai (PCR) adalah tes yang sangat spesifik dan
sensitif untuk menentukan apakah spesies Plasmodium yang hadir dalam darah
dari seorang individu yang terinfeksi. PCR biasanya tidak tersedia dalam situasi
klinis-yang-ada.
o PCR juga sangat efektif dalam mendeteksi spesies Plasmodium hadir
pada pasien dengan parasit serendah 10 parasit / mL darah.
*
Rapid tes diagnostik (RDTs) contoh termasuk uji Para Sight-F (Becton
Dickinson Advanced Diagnostics), ICT Malaria Pf / Pv (Binax Inc), Optimal
pLDH (DiaMed USA, LLC), Kat-Cepat (Katmedical CC), dan Rapimal MT Pf
Dipstick (Cellabs Pty Ltd) (tes dipstick). Catatan: Daftar ini tidak semua inklusif;
tes penelitian individu untuk keberhasilan komparatif dan biaya.
o Tes ini berguna dalam mendeteksi infeksi P falciparum, sementara
beberapa juga dapat mendeteksi antigen plasmodia lainnya. RDTs didasarkan
pada penemuan, antibodi kaya protein histidin 2 (HRP-2) antigen falciparum P
dan, dalam banyak kasus, pemeriksaan ini memiliki spesifikasi hampir sama
dengan penemuan P.falciparum dengan mikroskop. Sebuah hasil positif palsu
dapat terjadi untuk 2 minggu atau lebih setelah pengobatan karena masih adanya
antigen
yang
beredar
di
pembuluh
darah.
011

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

REFLEKSI KASUS UPD

o Beberapa RDTs mungkin dapat mendeteksi P falciparum parasit yang


berada di bawah ambang batas identifikasi spesies yang dapat dideteksi dengan
mikroskop.
o RDT tidak efektif ketika tingkat parasit di bawah 100 parasit / mL darah,
dan uji ini terkadang memberikan hasil negatif palsu pada mereka dengan
parasitemia derajat tinggi. Untuk alasan ini, selalu pastikan hasil tes RDT dengan
jenis kedua tes skrining bila memungkinkan.
o Dalam sebuah penelitian, penggunaan RDTs sebagai diagnosis laboratoris
lebih baik daripada mikroskop dalam kondisi rutin. Dari penelitian tersebut
didapatkan bahwa RDT memiliki nilai sensitifitas 91,7% (95% confidence interval
[CI], 80,8-100%) sensitif dan nilai spesifik 96,7% (95% CI, 92,8-100%). Sementara
Mikroskop nilai sensitifitasnya adalah 52,5% (95% CI, 33,2-71,9%) sensitif dan
nilai spesifisitasnya 77% (95% CI, 67,9-86,2%). [5]
a. Daftar Pustaka
1. Centers for Disease Control and Prevention. Malaria. Topic Home. Last updated May 21, 2009.
Available at http://www.cdc.gov/malaria/index.htm.
2. Cox-Singh J, Davis TM, Lee KS, et al. Plasmodium knowlesi malaria in humans is widely
distributed and potentially life threatening. Clin Infect Dis. Jan 15 2008;46(2):165-71.
[Medline].
3. [Guideline] Bailey JW, Williams J, Bain BJ, Parker-Williams J, Chiodini P. General
Haematology Task Force. Guideline for laboratory diagnosis of malaria. London (UK): British
Committee for Standards in Haematology. 2007;19. [Full Text].
4. Wongsrichanalai C, Barcus MJ, Muth S, Sutamihardja A, Wernsdorfer WH. A review of malaria
diagnostic tools: microscopy and rapid diagnostic test (RDT). Am J Trop Med Hyg. Dec
2007;77(6 Suppl):119-27. [Medline].
5. de Oliveira AM, Skarbinski J, Ouma PO, et al. Performance of malaria rapid diagnostic tests as
part of routine malaria case management in Kenya. Am J Trop Med Hyg. Mar 2009;80(3):470-4.
[Medline].
6.

[Guideline] World Health Organization. Guidelines for the Treatment of Malaria. 2006;[Full
Text].

7. [Guideline] Filler SJ, MacArthur JR, Parise M, Wirtz R, Eliades MJ, Dasilva A, et al. Locally
acquired mosquito-transmitted malaria: a guide for investigations in the United States. MMWR
Recomm Rep. Sep 8 2006;55:1-9. [Medline]. [Full Text].

012

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

REFLEKSI KASUS UPD

8. Centers for Disease Control and Prevention. Atlanta, GA: DHHS; 2009. Malaria and Travelers.
Available at http://www.cdc.gov/malaria/travel/index.htm.
9. Bledsoe GH. Malaria primer for clinicians in the United States. South Med J. Dec
2005;98(12):1197-204; quiz 1205, 1230. [Medline].
10. Busch MP, Kleinman SH, Nemo GJ. Current and emerging infectious risks of blood
transfusions. JAMA. Feb 26 2003;289(8):959-62. [Medline].
11. Carter R, Mendis KN. Evolutionary and historical aspects of the burden of malaria. Clin
Microbiol Rev. Oct 2002;15(4):564-94. [Medline].
12. Centers for Disease Control and Prevention. The Impact of Malaria, a Leading Cause of Death
Worldwide. Available at http://www.cdc.gov/malaria/impact/index.htm.
13. Humar A, Ohrt C, Harrington MA, Pillai D, Kain KC. Parasight F test compared with the
polymerase chain reaction and microscopy for the diagnosis of Plasmodium falciparum malaria
in travelers. Am J Trop Med Hyg. Jan 1997;56(1):44-8. [Medline].
14. Malaria in an immigrant and travelers -- Georgia, Vermont, and Tennessee, 1996. MMWR Morb
Mortal Wkly Rep. Jun 13 1997;46(23):536-9. [Medline].
15. Murphy GS, Oldfield EC 3rd. Falciparum malaria. Infect Dis Clin North Am. Dec
1996;10(4):747-75. [Medline].
16. Silver HM. Malarial infection during pregnancy. Infect Dis Clin North Am. Mar 1997;11(1):99107. [Medline].
17. World Health Organization.
http://www.who.int/malaria..

Global

18. World Health Organization. Malaria


http://www.wpro.who.int/sites/rdt/home.htm.

Malaria
Rapid

Programme
Diagnostic

(GMP).

Available

at

Tests.

Available

at

013

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

REFLEKSI KASUS UPD


Yogyakarta, 10 Mei 2011
Dokter Pembimbing,

Dr. Noegroho, Sp.PD

014