Anda di halaman 1dari 43

Radiasi Pengion

Disusun Sebagai Salah Satu Tugas Makalah Mata Kuliah Higiene Industri 2

Satu Tugas Makalah Mata Kuliah “ Higiene Industri 2 ” Dosen Mata Kuliah : dr. Bing

Dosen Mata Kuliah :

dr. Bing Wantoro MS, SpOk

Oleh :

dr. Ratih Nurdiany Sumirat (1506692913) dr. Arnold Fernando (1506692844)

MAGISTER KEDOKTERAN KERJA SUB DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN OKUPASI DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA JAKARTA MEI 2016

KATA PENGANTAR

Makalah “Radiasi Pengion” ini disusun sebagai salah satu bahan tugas mata kuliah Higiene Industri 2.

Makalah ini dibuat berdasarkan studi literatur ilmiah yang kemudian dikembangkan lebih lanjut sebagai bahan pembahasan.

Penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada dosen Mata Kuliah Higiene Industri 2, dr. Bing Wantoro MS, SpOk, atas kesempatan yang telah diberikan kepada penulis untuk menyusun makalah ini sehingga dapat mempertajam analisis penulis dalam aplikasi penerapan Higiene Industri, terutama mengenai Identifikasi, Evaluasi dan Pengelolaan Bahaya Radiasi Pengion di tempat kerja.

Penulis menyadari akan banyaknya kekurangan dalam penyusunan makalah ini sehingga kritik dan saran yang membangun akan sangat penulis hargai.

Jakarta, Mei 2016 Penulis,

dr. Ratih Nurdiany Sumirat (1506692913) dr. Arnold Fernando (1506692844)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

 

ii

DAFTAR ISI

iii

BAB I PENDAHULUAN

1

1.1 Latar Belakang

 

1

1.2 Identifikasi Masalah

2

1.3 Tujuan

 

3

 

1.3.1 Tujuan

Umum

3

1.3.2 Tujuan

Khusus

3

1.4

Manfaat

3

1.4.1 Bagi

Pekerja

3

1.4.2 Bagi

Perusahaan

3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

4

2.1

Definisi dan Terminologi

4

2.1.1 Radiasi

4

2.1.2 Atom

5

2.1.3 Isotope

6

2.1.4 Radioisotope

6

2.2

Gelombang Elektromagnetik dan Jenis Radiasi

9

2.2.1 Radiasi bukan pengion

12

2.2.2 Radiasi pengion

12

2.3

Sumber Radiasi Pengion

14

2.3.1 Radiasi pengion yang berasal dari alam

14

2.3.2 Radiasi Pengion Artificial

16

2.4 Identikasi dan Evaluasi dosis radiasi

17

2.5 Dampak Kesehatan Akibat Paparan Radiasi

22

2.6 Penanggulangan Paparan Radiasi Pengion

36

2.7 Pemantauan dan Pengawasan Kesehatan Tenaga Kerja

37

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

39

3.1 Kesimpulan

 

39

3.2 Saran

39

DAFTAR PUSTAKA

40

1.1 Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Masalah keselamatan dan kesehatan kerja secara umum masih sering terabaikan. Hal ini ditunjukkan dengan masih tingginya angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja, baik secara global maupun regional. Menurut data sensus Amerika Serikat pada tahun 1990, terdapat 12,8 juta orang berusia 16-64 tahun yang mengalami disabilitas akibat pekerjaan selama 6 bulan ataupun lebih. (Anderrson & Cocchiarella , 2001)

Kewajiban untuk menyelenggarakaan Sistem Manajemen K3 pada perusahaan-perusahaan besar melalui UU Ketenagakerjaan, baru menghasilkan 2,1% saja dari 15.000 lebih perusahaan berskala besar di Indonesia yang sudah menerapkan Sistem Manajemen K3. Minimnya jumlah itu sebagian besar disebabkan oleh masih adanya anggapan bahwa program K3 hanya akan menjadi tambahan beban biaya perusahaan. Padahal jika diperhitungkan besarnya dana kompensasi/santunan untuk korban kecelakaan kerja sebagai akibat diabaikannya Sistem Manajemen K3, yang besarnya mencapai lebih dari 190 milyar rupiah di tahun 2003, jelaslah bahwa masalah K3 tidak selayaknya diabaikan. (Wirahadikusumah, 2014)

Seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi, manusia telah berhasil menciptakan banyak peralatan listrik dan elektronik seperti pemancar radio, radar, telepon seluler, diatermi, pemanas, dll. Peralatan listrik dan elektronik tersebut banyak digunakan di lingkungan industri, perhubungan, kesehatan, militer dan lain-lain. Kenyataannya di dalam penggunaannya alat-alat tersebut dapat memancarkan gelombang elektromagnetik ke lingkungan tempat kerja, sehingga dapat memaparkan dan membahayakan keselamatan serta kesehatan tenaga kerja.

Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya pengendalian terhadap radiasi gelombang elektromagnetik tersebut dalam rangka memberikan perlindungan kepada tenaga kerja, agar tenaga kerja tetap sehat, selamat dan mampu bekerja secara produktif dan efisien. (Moeljosoedarmo, 2008)

Radiasi adalah energi dalam bentuk gelombang atau pancaran partikel, disekitar kita ada banyak sekali radiasi. Radiasi gelombang elektromagnetik secara garis besar dibagi atas radiasi mengion dan radiasi tidak mengion. Radiasi mengion memiliki kemampuan untuk memecah molekul yang dilaluinya. Termasuk di dalam jenis radiasi mengion, adalah sinar X dan sinar Gamma. Pajanan radiasi mengion terhadap pekerja dapat menimbulkan efek somatik dan efek genetic, sehingga proses pemantauan dan pengawasan kesehatan tenaga kerja yang terpajan radiasi mengion mutlak diperlukan (Moeljosoedarmo, 2008)

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan pembahasan lebih lanjut mengenai Radiasi Pengion ; Identifikasi, Evaluasi serta Pengelolaannya di Tempat Kerja.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan tingginya risiko efek samping pajanan radiasi pengion terhadap pekerja, yang dapat mengakibatkan penurunan kinerja dan produktivitas, diperlukan penanganan bahaya Radiasi Pengion di tempat kerja yang memadai, termasuk identifikasi bahaya, evaluasi dan proses pemantauan serta pengendalian bahaya radiasi pengion yang tepat di tempat kerja. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang baik oleh para praktisi keselamatan dan kesehatan kerja dalam melakukan pengendalian bahaya radiasi pengion di tempat kerja

1.3

Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui

dan

Memahami

secara

komprehensif

mengenai

Radiasi

Elektromagnetik, terutama Radiasi Pengion di tempat kerja.

1.3.2 Tujuan Khusus

Diketahuinya definisi Radiasi dan komponen penyusunnya

Diketahuinya jenis dan sumber Radiasi

Diketahuinya dampak radiasi pengion terhadap kesehatan

Diketahuinya dosis radiasi pengion dan evaluasi radiasi pengion di tempat kerja

Diketahuinya cara pengendalian dan perlindungan pekerja terhadapa paparan radiasi pengion di tempat kerja

1.4 Manfaat

1.4.1

Bagi Pekerja

Dapat mengenal bahaya atau penyakit-penyakit yang dapat terjadi akibat pajanan radiasi di tempat kerja.

Dapat melakukan deteksi dini tanda-tanda penyakit yang dapat terjadi akibat pajanan radiasi di tempat kerja.

Dapat melakukan langkah perlindungan diri yang tepat terhadap paparan radiasi pengion.

1.4.2

Bagi Perusahaan

Dapat melindungi pekerja, tempat kerja dan lingkungan di sekitar kerja dari paparan radiasi pengion.

Dapat menerapkan program keselamatan dan kesehatan kerja yang komprehensif di tempat kerja.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi dan Terminologi

2.1.1 Radiasi

Radiasi adalah pancaran energi melalui suatu materi atau ruang dalam bentuk panas, partikel atau gelombang elektromagnetik/cahaya (foton) dari sumber radiasi. Ada beberapa sumber radiasi yang kita kenal di sekitar kehidupan kita, contohnya adalah televisi, lampu penerangan, alat pemanas makanan (microwave oven), komputer, dan lain-lain.

Radiasi dalam bentuk gelombang elektromagnetik atau disebut juga dengan foton adalah jenis radiasi yang tidak mempunyai massa dan muatan listrik. Misalnya adalah gamma dan sinar-X, dan juga termasuk radiasi tampak seperti sinar lampu, sinar matahari, gelombang microwave, radar dan handphone

tampak seperti sinar lampu, sinar matahari, gelombang microwave, radar dan handphone Gambar 1 – Jenis-Jenis Radiasi

Gambar 1 Jenis-Jenis Radiasi

2.1.2 Atom

Atom adalah bentuk dasar dari segala sesuatu. Dengan kata lain segala sesuatu didunia ini terdiri dari Atom, yaitu terdiri dari elemen-elemen seperti oksigen, hidrogen, dan karbon

Atom sendiri terdiri dari terdiri atas inti atom serta awan elektron bermuatan negatif yang mengelilinginya. Inti atom terdiri atas proton yang bermuatan positif, dan neutron yang bermuatan netral (kecuali pada inti atom Hidrogen-1, yang tidak memiliki neutron). Elektron-elektron pada sebuah atom terikat pada inti atom oleh gaya elektromagnetik. Sekumpulan atom demikian pula dapat berikatan satu sama lainnya, dan membentuk sebuah molekul. Atom yang mengandung jumlah proton dan elektron yang sama bersifat netral, sedangkan yang mengandung jumlah proton dan elektron yang berbeda bersifat positif atau negatif dan disebut sebagai ion. Atom dikelompokkan berdasarkan jumlah proton dan neutron yang terdapat pada inti atom tersebut. Jumlah proton pada atom menentukan unsur kimia atom tersebut, dan jumlah neutron menentukan isotope unsur tersebut.

dan jumlah neutron menentukan isotope unsur tersebut. Gambar 2. Ilustrasi model Atom Atom satu dengan atom

Gambar 2. Ilustrasi model Atom

Atom satu dengan atom elemen yang sama dan atau atom elemen lainnya dapat bergabung membentuk suatu molekul, misalnya saja molekul air dibentuk oleh dua atom hidrogen dan satu atom oksigen (H 2 O). Sedangkan nuklida adalah tipe spesifik dari atom yang karakteristiknya ditentukan oleh jumlah proton dan

neutron di nukleusnya. Misalnya saja suatu nuklida dengan jumlah 6 proton dan 6 neutron disebut dengan karbon-12

2.1.3 Isotope

Isotope adalah unsur yang memiliki Nomor Atom (Proton) sama tapi Nomor massanya (Neutron) berbeda. Karena nomor atom merupakan identitas sebuah unsur, maka Isotope meski mempunyai nomor massa berbeda tetap di golongkan dalam satu unsur sama. Karena itu dalam tabel periodik, seluruh Isotope dari sebuah unsur terletak di tempat yang sama. Isotope dari setiap elemen akan memiliki jumlah elektron valensi yang sama sehingga mau tidak mau akan memiliki sifat kimia yang sama pula.

Contohnya, hidrogen mempunyai tiga isotope

Hidrogen-1 (terdiri dari satu proton dan tidak memiliki neutron)

HIdrogen-2 atau deuterium (terduri dari satu proton dan satu neutron)

Hidrogen-3 atau tritium (terdiri dari satu proton dan dua neutron)

Suatu isotope akan dikatakan stabil apabila jumlah neutron dan protonnya seimbang. Contohnya dari nuklida yang sabil adalah carbon-12 dimana terdiri dari 6 proton dan 6 neutron sehingga total massanya adalah 12.

2.1.4 Radioisotope

Suatu Isotope yang tidak stabil dan menghasilkan radiasi disebut sebagai radioisotope atau radioaktif, Dimana radioisotope ini secara spontan akan menyebabkan radiasi dimana saat terjadi proses radiasi tersebut, atom tersebut perlahan akan menjadi berkurang radiasinya dan perlahan menjadi stabil. Dan ketika atom telah mencapai konfigurasi stabilnya, atom tersebut tidak akan memancarkan radiasi. Hal ini terjadi karena sumber radioaktif berbentuk radiasi pengion sebagai hasil dari proses peluruhan atom yang tidak stabil, dan akan terus melemah seiring berjalannya waktu. Sehinga semakin lama radiasi yang dihasilkan dari aktifitas material tersebut berkurang perlahan hingga menjadi nol

Waktu yang dibutuhkan radioisotope untuk luruh menjadi setengah dari aktifitas awalnya disebut sebagai radiological half-life yang dilambangkan dengan t ½. Setiap radioisotope mempunyai paruh waktu yang berbeda, bisa saja membutuhkan waktu beberapa detik hingga sampai milyaran tahun. Sebagai contoh, iodine-131 mempunyai waktu paruh selama 8 hari, sementara plutonium- 239 mempunyai waktu paruh 24.000 tahun.Suatu radioisotope yang mempunyai waktu paruh lebih pendek memiliki kemampuan radioaktif lebih tinggi dibandingkan dengan radioisotope yang paruh waktunya lebih lama

Peluruhan radioaktif dibagi menjadi tiga kategori

1. Peluruhan Alpha Peluruhan alpha terjadi ketika suatu atom mengeluarkan suatu partikel dari nukelusnya, dimana nukleus tersebut terdiri dari dua neutron dan dua proton. Ketika hal ini terjadi jumlah atom berkurang menjadi 2 sedangkan massa atom berkurang menjadi. Contohnya adalah radium, radon, uranium dan thorium

2. Peluruhan Beta Pada peluruhan beta suatu neutron berubah menjadi proton dan suatu elektron dipancarkan dari nukelus. Sehingga jumlah atom meningkat satu sedanhgkan massanya hanya berkurang sedikit. Contoh darri peluruhan beta ini adalah strontium-90, carbon-14, tritium dan sulphur-35

3. Peluruhan Gamma Peluruhan gamma terjadi akibat adanya energi yang tersisa di nukelus diikutin dengan peluruhan alpha atau peluruhan beta. Atau juga karena adanya neutron yang tertangkap (jenis reaksi nuklir) di reaktor nuklir. Energi sisa ini mekudian terlepas sebagai sinar radiasi gamma. Peluruhan gamma umumnya tidak mempengaruhi massa dan jumlah atom dari suatu radioisotope. Contoh dari peluruhan gamma adalah iodine-131, cesium- 137, cobal-60, radium-226 dan technetium-99m

Jumlah penguraian nuklir pada suatu material radioaktif per unit waktu disebut dengan aktifitas. Dimana aktifitas ini biasanya diukur berdasarkan jumlah radionuclide, dan radionuclide tersebut di ukur dalam becquerels (Bq). 1Bq = 1 penguraian per detik Jika sumber asli dari suatu radioaktif diketahui maka dapat diprediksi butuh berapa lama waktu peluruhan tersebut. Peluruhan ini sendiri harus melalui berkali-kali paruh waktu untuk dapat menjadi tidak reaktif. Sehingga walaupun suatu radioisotop dengan aktifitas yang tinggi telah luruh beberapa kali paruh waktu. Tingkatan radioaktif yang tersisa belum tentu aman. Pengukuran dari material aktifitas radioaktif diperlukan suatu perkiraan potensi dari dosis radiasi

aktifitas radioaktif diperlukan suatu perkiraan potensi dari dosis radiasi Gambar 3. Kurva proses peluruhan carbon-14 8

Gambar 3. Kurva proses peluruhan carbon-14

2.2 Gelombang Elektromagnetik dan Jenis Radiasi

Spektrum Elektromagnetik : Karakteristik Fisik Dasar

Bentuk yang paling mudah dari energi elektromagnetik adalah cahaya matahari. Frekuensi dari cahaya matahari (sinar tampak) merupakan batas antara radiasi pengion yang poten (x ray, sinar kosmik) dengan radiasi non pengion yang lebih tidak berbahaya dengan frekuensi yang lebih rendah. Spektrum electromagnet dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

electromagnet dapat dilihat pada gambar dibawah ini : Seperti halnya suara ataupun sinar tampak ( visible

Seperti halnya suara ataupun sinar tampak (visible light) menembus lingkungan kita tinggal dan bekerja, energi dari gelombang elektromagnetik juga secara terus menerus memberi paparan kepada manusia dalam kehidupan sehari- hari. Serupa juga dengan energi suara dimana kita terpapar akibat adanya aktivitas manusia, maka kita juga selalu terpapar dengan adanya gelombang elektromagnetik; dari gelombang yang paling lemah seperti yang dipancarkan oleh radio dan TV, sampai ke gelombang yang lebih kuat seperti yang banyak digunakan oleh praktisi kesehatan (mis; alat untuk diatermi). Pada umumnya, kekuatan dari energi tersebut akan menurun apabila sumbernya menjauh.

Radiasi non pengion mencakup seluruh radiasi dan lapang spectrum electromagnet yang tidak memiliki cukup energi untuk mengionisasi sebuah bahan. Hal ini diakibatkan karena radiasi non-pengion tidak memiliki cukup energi untuk memecah molekul atau atom dengan mendisrupsi struktur atom atau

ion tersebut dengan melepaskan satu buah elektronnya. Batas antara Radiasi Non Pengion dan Radiasi Pengion biasanya berada pada panjang gelombang sekitar 100 nanometer.

Seperti halnya bentuk energi yang lain, Radiasi Non Pengion memiliki potensi untuk berinteraksi dengan sistem biologis dan hasilnya dapat bervariasi, dari mulai tidak memiliki dampak yang signifikan, berbahaya dengan derajat yang berbeda-beda ataupunbahkan bermanfaat bagi makhluk hidup.

Jumlah dan Unit Gelombang Elektromagnet

Frekuensi dibawah 300 mHz dikatakan memiliki kekuatan medan Elektro/Listrik (E) DAN kekuatan Magnetik (H). E diekspresikan dalan satuan Volt per Meter (V/M) dan H dinyatakan dalam Ampere per Meter (A/M). Keduanya adalah gelombang vector, dimana memiliki karakteristik besaran (magnitude) dan arah pada masing-masing titik.

Untuk gelombang magnetik yang berada pada frekuensi rendah, biasanya dinyatakan dengan densitas flux, B, dengan SI Unit berupa Tesla (T). Pada beberapa literatur , densitas flux dinyatakan dalam Gauss (G) dan konversi antara kedua unit tersebut adalah ; 1 T = 10 4 G.

Radiasi secara singkat berarti energi yang ditransmisikan melalui gelombang. Gelombang elektromagnetik adalah gelombang yang memiliki medan listrik dan medan magnetic sehingga arah gerakan gelombang didefinisikan sebagai propagasi dari gangguan pada bentuk fisik kedua gelombang tersebut. Perubahan pada medan listrik akan diikuti perubahan pada medan magnet dan begitu pula sebaliknya.

Gelombang elektromagnetik memiliki karakter yang dapat diukur melalui beberapa parameter; yaitu frekuensi (f), panjang gelombang, kekuatan medan listrik, kekuatan medan magnet, polarisasi elektrik (P) yang merupakan arah dari medan magnet (E). Bagan dibawah ini menunjukkan korelasi antara parameter dari gelombang electromagnet ;

Frekuensi gelombang electromagnet didefinisikan sebagai jumlah perubahan medan magnet atau medan listrik per detik dan

Frekuensi gelombang electromagnet didefinisikan sebagai jumlah perubahan medan magnet atau medan listrik per detik dan diekspresikan dalam satuan Hertz (Hz). Panjang gelombang (λ) merupakan jarak antara dua gelombang. Hubungan antara laju rambat gelombang (v) dengan f dan λ adalah sebagai berikut ;

v = f . λ

Perubahan frekuensi dan panjang gelombang akan memberikan perubahan pada sifat suatu gelombang, salah satunya adalah kemampuan untuk melakukan ionisasi pada sebuah bahan, dimana dengan panjang gelombang 100 nano meter dan frekuensi lebih dari 3x10 15 Hz, maka gelombang tersebut akan memiliki energi yang cukup untuk melakukan ionisasi dan menjadi golongan radiasi pengion.

Makalah ini akan selanjutnya mengupas lebih dalam mengenai radiasi pengion sedangkan radiasi non pengion akan dibahas secara umum seperti dibawah ini;

2.2.1 Radiasi bukan pengion

Radiasi bukan pengion mempunyai energi yang lebih sedikit daripada radiasi pengion, misalnya radiasi bukan pengion adalah sinar cahaya yang terlihat, infra merah, gelombang radio, microwaves, dan cahaya matahari.

Gelombang telephon selular, gelombang televisi, gelombang AM dan FM radio adalah salah satu contoh dari penggunaan tekonologi gelombang bukan pengion. sedangkan gelombang elektromagnetic seperti pada penggunaan kabel dan alat listrik termasuk kedalam gelombang Extremly low-frequency (ELF) sehingga tidak berpotensi berbahaya bagi kesehatan.

2.2.2 Radiasi pengion

Radiasi pengion adalah kemampuan mengeluarkan elektron dari orbit atom, sehingga terjadinya gangguan keseimbangan elektron/proton dan membuat atom memiliki energi positif. Perubahan molekul dan atom ini yang disebut sebagai ion. Radiasi pengion ini dapat terjadi alami dan juga akibat buatan manusia melalui material radioactive.

Dimana radiasi pengion ini terdiri dari beberapa jenis yaitu;

2.2.2.1 Radiasi Alpha

Radiasi alpha terdiri dari partikel alpha yang dibuat dari 2 proton dan 2 neutron dimana masing-masing membawa dua energi positif. dimana radiasi ini memiliki keterbatasan untuk dapat menembus unsur lainnya. Radiasi Alpha dapat dihentikan oleh sepotong kertas atau juga lapisan kulit terluar yang sudah mati. Sehingga radiasi alpha yang berasal dari luar tubuh tidak menjadi suatu bahaya radiasi. Namun ketikan suatu penghasil radiasi alpha ini masuk kedalam tubuh (misalnya terhirup ke dalam pernafasan atau juga tertelan) energi dari radiasi

alpha ini diserap sepenuhnya oleh jaringan tubuh. Sehingga radiasi alpha ini hanya akan menyebabkan internal hazard. Sebagai contohnya adalah Radon-222 yang ketika terjadi kerusakan akan menjadi polonium-218

2.2.2.2 Radiasi Beta

Radiasi beta terjadi dari muatan partikel yang keluar dari nukleus atom dan secara bentuk identik dengan elektron. Partikel beta ini umumnya memiliki muatan negatif, dimana ukurannya sangat kecil dan dapat menembus lebih dalam daripada partikel alpha. Meskupun demikian radiasi beta kebanyakan dapat dihentikan oleh sejumlah kecil pelindung, misalnya adalah selembar pelastik, gelas, ataupun metal. Ketika sumber radiasi berada diluar tubuh dan memiliki cukup energi dapat menembus lapisan luar kulit dan akan perlahan akan tersimpan didalam sel kulit yang aktif. Substansi penghasil radiasi beta dapat berbahaya jika masuk kedalam tubuh. Salah satu contoh dari penghasil radiasi beta adalah Tritium (Hidrogen-3) yang akan luruh menjadi helium-3 Radiasi Gamma

2.2.2.3 Radiasi Photon (gamma dan X-ray)

Radiasi photon adalah radiasi elektromagnetik. Dimana terdapat dua tipe dari radiasi photon yaitu gamma dan X-ray. Radiasi Gamma terjadi akibat photon yang berasal dari nukleus, sedangkan radiasi X-ray terjadi akibat photon yang berasa dari luar nukleus dan biasanya memiliki energi yang lebih lemah daripada radiasi gamma. Radiasi photon dapat menembus sangat dalam sehingga terkadang hanya dapat dikurangi oleh material yang cukup padat dan tebal seperti timah atau baja. Umumnya radiasi photon dapat mempunyai jangkaun area yang lebih luas daripada radiasi alpha dan beta. Dan dapat menembus jaringan tubuh dan organ ketika sumber radiasi berada diluar tubuh. Radiasi photon juga berbahaya jika zat penghasil radiasi tersebut masuk kedalam tubuh. Sebagai contoh zat nuklir penghasil pancaran photon adalah cobalt-60 dimana peluruhannya akan menghasilkan nickel-60

2.2.2.4 Radiasi Neutron

Selain dari akibat radiasi kosmik, pembelahan spontan adalah satu-satunya sumber penghasil neutron. Umumnya penghasil neutron adalah reaktor nuklir. Dimana dengan membelah nukelus uranium atau nukleus plutonium disertai dengan pancaran neutron. Neutron yang dipancarakan dari suatu pembelahan dapat menyerang nukelus dari atom yang berdekatan dan menyebabkan pembelahan lainnya, sehingga memicu terjadi reaksi berantai. Produksi energi nuklir berdasarkan dari prinsip ini.

Neutron dapat menembus jaringan kulit, otot dan organ tubuh manusia ketika sumber radiasi berada diluar tubuh. Neutron juga dapat berbahaya jika zat yang memancarkan nuklir mengendap didalam tubuh. Perlindungan terbaik terhadap radiasi neutron adalah menggunakan materi pelindung atau materi penyerap seperti yang mengandung atom hidrogen, contohnya adalah paraffin wax dan plastik. Hal ini karena neutron dan atom hidrogen memiliki kemiripan berat atom dan mudah terjadinya tumbukan keduanya.

kemiripan berat atom dan mudah terjadinya tumbukan keduanya. Gambar 4. Kemampuan penetrasi dari radiasi pengion 2.3

Gambar 4. Kemampuan penetrasi dari radiasi pengion

2.3 Sumber Radiasi Pengion

2.3.1 Radiasi pengion yang berasal dari alam

Radiasi selalu hadir disekitar kita dan memiliki banyak bentuk. Kehidupan sendiri telah berkembang dengan adanya radiasi pengion dimana tubuh manusia

14

telah beradaptasi untuk hal tersebut. Banyak radioisotope muncul karena proses alami dan berasal akibat pembentukan sistemt tata surya dan melalui interaksi sinar kosmis dengan molekul di atmosfer. Tritium misalnya adapah suatu radioisotope yang dibentuk oleh sinar kosmis yang berinteraksi dengan molekul atmosfer. Beberapa radioisotope seperti uranium dan thorium terbentuk ketika sistem tata surya terbentuk dan memiliki paruh waktu satu milyar tahun, dan hingga saat ini masih ada di lingkungan kita.

Menurut United Nations Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation (UNSCEAR) membagi radiasi alami menjadi 4 sumber utama, yaitu

Radiasi kosmis

Radiasi radiasi dari bumi

Inhalasi

Ingesti

yaitu  Radiasi kosmis  Radiasi radiasi dari bumi  Inhalasi  Ingesti Gambar 5. Sumber

Gambar 5. Sumber radiasi dari alam

2.3.2 Radiasi Pengion Artificial

Seiring dengan perkembangan teknologi manusia juga membuat suatu radiasi untuk berbagai tujuan yang melibatkan material radioaktif. Radioisotopes diproduksi melalui suatu reaktor nuklir dan radioisotope generator seperti cyclotrons. Banyak dari radioisotop buatan manusia ini digunakan dalam kedokteran nuklir, biokimia, industri pabrik dan pertanian. Berikut ini adalah contoh sumber radiasi yang paling sering dipakai;

2.3.2.1 Radiasi dari bidang Kedokteran

Salah satu sumber radiasi terkemuka yang diciptakan oleh manusia adalah energi tinggi yang dikeluarkan oleh Particle Accelerator. Akselerator seperti ini dapat menimbulkan suatu bahaya radiasi potensial yang bermacam-macam tergantung pada partikel yang dipercepat, interaksi dengan target dan mode percepatan. Namun, selain dari bahaya yang ditimbulkan, akselerator ini dapat menghasilkan sinar X yang dapat digunakan dalam dunia kedokteran.

Radiasi telah banyak digunakan dalam kedokteran.yang paling terkenal adalah penggunaan sinar-X, dimana prosesnya menggunakan radiasi untuk mengetahui adanya kerusakan tulang atau mendiagnosis suatu penyakit. Contoh lainnya adalah nuclear medicine, dimana menggunakan isotop radioaktif untuk mendiagnosis dan memberikan pengobatan seperi kanker.

untuk mendiagnosis dan memberikan pengobatan seperi kanker. Gambar 6. Gamma camera yang digunakan pada tekonologi

Gambar 6. Gamma camera yang digunakan pada tekonologi nuclear medicine untuk menegakan diagnosis

2.3.2.2 Radiasi dari bidang industri

Sumber radiasi buatan manusia yang banyak digunakan dalam industri adalah reaktor nuklir sebagai tenaga pembangkit listrik, ataupun industri uranium yang banyak digunakan dalam pertambangan, pabrik penggilingan, fabrikasi dan pemrosesan ulang bahan bakar.

Secara praktis Radiasi telah digunakan dalam berbagai jenis industri, misalnya untuk membangun suatu jalan dan mengukur kerapatan dan ketebalannya, material radioaktif juga digunakan pada smoke detectors, material glow-in-the dark pada tanda keluar darurat, memperkirakan cadangan minyak yang ada dilapangan ataupun penggunaan dalam proses sterilisasi juga menggunakan proses radiasi ini.

2.4 Identikasi dan Evaluasi dosis radiasi

Radiasi tidak dapat dilihat, didengar, dicium, dirasakan atau diraba. Indera manusia tidak dapat mendeteksi radiasi sehingga seseorang tidak dapat mengetahui kapan ia dalam bahaya atau tidak. Radiasi hanya dapat diketahui dengan menggunakan alat, yang disebut monitor radiasi. Monitor radiasi terdiri dari detektor radiasi dan rangkaian elektronik penunjang. Pada umumnya, monitor radiasi dilengkapi dengan alarm yang akan mengeluarkan bunyi jika ditemukan radiasi. Bunyi alarm semakin keras apabila tingkat radiasi yang ditemukan semakin tinggi. Monitor radiasi umumnya digunakan hanya untuk mengetahui ada atau tidaknya radiasi. (BATAN, 2015)

Monitor radiasi yang digunakan untuk mengukur jumlah radiasi atau dosis yang diterima oleh seseorang disebut dosimeter perorangan dan monitor radiasi yang digunakan untuk mengukur kecepatan radiasi atau laju dosis di suatu area dikenal dengan survaimeter. Alat-alat tersebut dapat disamakan dengan indikator jarak dan speedometer pada mobil. Indikator jarak menunjukkan berapa km atau mil yang telah dijalani oleh mobil, seperti halnya dosimeter perorangan menunjukkan berapa dosis radiasi yang telah diterima oleh seseorang.

Speedometer menunjukkan pada kita beberapa km atau mil kecepatan mobil perjam, seperti survaimeter menunjukkan berapa laju dosis radiasi. (BATAN,

2015)

Salah satu cara untuk mengukur dosis radiasi pada dosimeter perorangan adalah berdasarkan pada tingkat kehitaman film jika terkena radiasi. Dengan memproses film dan mengukur tingkat kehitamannya, dosis radiasi yang diterima oleh seseorang dapat diperkirakan. (BATAN, 2015)

Cara lain untuk mengukur dosis adalah berdasarkan pada jumlah cahaya yang dihasilkan pada bahan tertentu akibat oleh radiasi setelah dilakukan proses pemanasan. Dosimeter perorangan ini disebut TLD (Thermo Luminescence Dosimeter). TLD lebih peka dan akurat daripada dosimeter film dan dapat digunakan kembali setelah dilakukan proses pembacaan dosis.

Berbeda dengan dosimeter perorangan yang memberikan informasi dosis radiasi yang telah diterima, survaimeter memberikan informasi laju dosis radiasi pada suatu area pada suatu saat. Hasil perkalian antara laju dosis yang ditunjukkan survaimeter dan lama waktu selama berada di area merupakan perkiraan jumlah radiasi atau dosis yang diterima bila berada di suatu area selama waktu tersebut. Dengan survaimeter ini seseorang dapat menjaga diri agar tidak terkena radiasi yang melebihi batas yang diizinkan.

Sebagai tujuan dari perlindungan terhadap suatu radiasi, kuantitas dosis di gambarkan menjadi 3 cara yaitu dosis absobsi, dosis ekuivalen dan dosis efektif terhadap kesehatan (BATAN, 2015)

1. Dosis Absorpsi Ketika radiasi pengion menembus tubuh manusia atau objek, radiasi tersebut menyimpat energi. Energi yang di absorpsi dari paparan radiasi yang disebut dosis yang diserap. Dosis ini diukuran dalam satuan unit gray (Gy). Dosis dari satu gray ini setara dengan satu unit energi (joule) yang tersimpa didalam 1 kilogram suatu zat

2. Dosis ekuivalen Ketika suatu radiasi terserap oleh suatu mahluk hidup, dampak biologis dapat saja diamati, namun begitu kesetaraan dosis yang di absorbsi tidak selalu menghasilkan gangguan biologis yang bermakna. Hal ini dikarenkan bergantung terhadap jenis radiasinya (misalnya alpha, beta, gamma). Contohnya 1 Gy dari alpha radiation lebih berbahaya daripada 1 Gy radiasi beta. Untuk mendapatkan dosis padanan yang setara, dosis absorbsinya dikalikan oleh alat specified radiation weightng factor.

dikalikan oleh alat specified radiation weightng factor. Tabel 1- Nilai Faktor Bobot-Radiasi 3. Dosis efektif Setiap

Tabel 1- Nilai Faktor Bobot-Radiasi

3. Dosis efektif Setiap jaringan dan organ memiliki sensitifitasi terhadap radiasi yang berbeda, misalnya sumsum tulang lebih radiosensitif dibandingkan otak dan jaringan saraf. Untuk dapat mengetahui berapa besarkah paparan radiasi yang dapat membahayakan diri. Pengukuran ini dengan cara mengalikan penjumlahan dari dosis ekivalen yang diterima oleh setiap organ utama tubuh dengan tissue weigthing factor (w T ). Biasanya berhubungan dengan risiko dari pada bagian jaringan tertentu dan efektifitas dosisnya. Satuan unit untuk dosis efektif ini disebut dengan sievert

Tabel 2- Niali Faktor bobot organ Adapun menurut ACGIH, Nilai Ambang Batas (NAB) dosis efektif

Tabel 2- Niali Faktor bobot organ

Adapun menurut ACGIH, Nilai Ambang Batas (NAB) dosis efektif radiasi pengion yang dapat diterima pekerja dalam setahun adalah sbb; (ACGIH, 2015)

pengion yang dapat diterima pekerja dalam setahun adalah sbb; (ACGIH, 2015) Tabel 3 Nilai Ambang Batas

Tabel 3 Nilai Ambang Batas Dosis Radiasi

Terdapat tiga prinsip utama dalam proteksi terhadap radiasi pengion, diantaranya adalah; (ACGIH, 2015)

Justifikasi Seluruh kegiatan yang melibatkan paparan radiasi pengion harus memiliki keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan kerugian yang mungkin diterima oleh pekerja ataupun masyarakat sekitar.

Optimisasi Paparan Radiasi Pengion harus dipertahankan serendah mungkin, As Low As reasonably Achievable (ALARA).

Limitasi Dosis efektif radiasi yang diterima dari semua sumber tidak boleh memiliki risiko menginduksi terjadinya kanker lebih dari 10 -3 per tahun selama masa hidup pekerja yang terpajan. Risiko ini berdasarkan ICRP (2007) dan NCRP (1993) yang mengestimasi terjadinya 5% risiko terjadinya kanker setiap pajanan 1 Sv dan rata-rata pajanan pekerjaan 20 mSv per 5 tahun.

Di Indonesia, berdasarkan nilai yang dikeluarkan oleh Badan Pemantauan Tenaga Nuklir (BAPETEN), nilai batas dosis dalam satu tahun untuk pekerja radiasi adalah 50 mSv (5 rem), sedang untuk masyarakat umum adalah 5 mSv (500 mrem). Menurut laporan penelitian UNSCEAR, secara rata-rata setiap orang menerima dosis 2,8 mSv (280 mrem) per tahun, berarti seseorang hanya akan menerima sekitar setengah dari nilai batas dosis untuk masyarakat umum. (BATAN, 2015)

Ada dua catatan yang berkaitan dengan nilai batas dosis ini. Pertama, adanya anggapan bahwa nilai batas ini menyatakan garis yang tegas antara aman dan tidak aman. Hal ini tidak seluruhnya benar. Nilai batas ini hanya menyatakan batas dosis radiasi yang dapat diterima oleh pekerja atau masyarakat, sejauh pengetahuan yang ada hingga saat ini. Yang lebih penting dari pemakaian nilai batas ini adalah diterapkannya prinsip ALARA pada setiap pemanfaatan radiasi. Kedua, adanya perbedaan nilai batas dosis untuk pekerja radiasi dan masyarakat umum. Nilai batas ini berbeda karena pekerja radiasi dianggap dapat menerima

risiko yang lebih besar (dengan kata lain, menerima keuntungan yang lebih besar) daripada masyarakat umum, antara lain karena pekerja radiasi mendapat pengawasan dosis radiasi dan kesehatan secara berkala. (BATAN, 2015)

2.5 Dampak Kesehatan Akibat Paparan Radiasi

Cedera jaringan bisa terjadi akibat pemaparan singkat radiasi tingkat tinggi

atau pemaparan jangka panjang radiasi tingkat rendah. Beberapa efek yang merugikan dari radiasi hanya berlangsung singkat, sedangkan efek lainnya bisa menyebabkan penyakit menahun. Efek dini dari radiasi dosis tinggi akan tampak jelas dalam waktu beberapa menit atau beberapa hari. Efek lanjut mungkin baru tampak beberapa minggu, bulan atau bahkan bertahun-tahun kemudian. Mutasi (pergeseran) bahan genetik dari sel-sel organ kelamin akan tampak jelas hanya jika korban pemaparan radiasi memiliki anak, dimana anaknya mungkin terlahir dengan kelainan genetik. Efek kerusakan yang terjadi tergantung kepada:

a. Jumlah (dosis) Dosis tunggal yang diberikan dalam waktu singkat bisa berakibat fatal, tetapi dosis yang sama yang diberikan selama beberapa minggu atau beberapa bulan bisa hanya menimbulkan efek yang ringan.

b. Lamanya pemaparan

c. Kecepatan pemaparan. Jumlah dosis total dan kecepatan pemaparan menentukan efek radiasi terhadap bahan genetik pada sel.

d. Banyaknya bagian tubuh yang terkena radiasi Jika disebarluaskan ke seluruh permukaan tubuh, radiasi yang lebih besar dari 6 gray biasanya menyebabkan kematian, tetapi jika hanya diarahkan kepada sebagian kecil permukaan tubuh (seperti yang terjadi pada terapi kanker), maka 3-4 kali jumlah tersebut bisa diberikan tanpa menimbulkan efek yang berbahaya bagi tubuh.

e. Penyebarluasan radiasi di dalam tubuh

Bagian tubuh dimana sel-sel membelah dengan cepat (misalnya usus dan sumsum tulang), lebih mudah mengalami kerusakan akibat radiasi daripada sel-sel yang membelah secara lebih lambat (misalnya otot dan tendo). Oleh karena itu, selama menjalani terapi radiasi untuk kanker, diusahakan agar bagian tubuh yang lebih peka terhadap radiasi dilindungi sehingga bisa digunakan radiasi dosis tinggi. Kecepatan dosis adalah jumlah radiasi yang diterima seseorang selama periode waktu tertentu. Kecepatan dosis radiasi dari lingkungan yang tidak dapat

dihindari adalah rendah, yaitu sekitar 1-2 miligray/tahun (1 miligray sama dengan 1/1,000 gray), yang tidak menimbulkan efek pada tubuh. Efek radiasi sifatnya kumulatif, setiap pemaparan baru akan ditambahkan kepada pemaparan sebelumnya untuk menentukan dosis total dan kemungkinan efeknya pada tubuh. Semakin tinggi kecepatan dosis atau dosis totalnya, maka semakin besar kemungkinan timbulnya resiko. ICRP publikasi 60 (1991) mengklasifikasikan efek radiasi yang menimbulkan reaksi pada jaringan sebagai efek deterministik. Dan menggunakan istilah efek stokastik untuk efek radiasi yang menimbulkan kanker dan penyakit yang dapat diwariskan kepada keturunannya. Energi radiasi pengion yang diterima jaringan/organ dapat mengakibatkan perubahan pada molekul, kerusakan pada elemen selular dan gangguan fungsi atau kematian sel. Kerusakan pada jaringan hidup diakibatkan oleh adanya transfer energi radiasi pengion ke atom dan molekul dalam struktur sel. Radiasi pengion menjadikan atom dan molekul tersebut terionisasi dan menyebabkan:

a. terbentuknya radikal bebas

b. terpecahnya ikatan kimia

c. terbentuknya ikatan kimia baru dan ikatan silang antar molekul

d. kerusakan molekul yang sangat berperan dalam proses di dalam tubuh (seperti DNA, RNA, dan protein)

Aspek biologi terhadap proteksi radiasi pada umumnya efek paparan radiasi terhadap kesehatan dapat dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu:

a. Efek deterministik (reaksi jaringan yang berbahaya) yaitu sebagian besar sel jaringan mengalami kematian atau fungsi sel rusak karena dosis radiasi tinggi. b. Efek stokastik, yaitu kanker atau efek keturunan berupa pengembangan kanker pada individu yang terpapari karena mutasi sel somatik atau penyakit keturunan pada keturunan individu yang terpapari karena mutasi sel reproduktif. Efek biologi akibat paparan radiasi diperhitungkan pula pada embrio, janin dan penyakit lainnya selain kanker.

Sel-sel yang telah rusak pada tingkat kerusakan tertentu dapat mengalami perbaikan, misalnya pada dosis rendah sebagaimana yang kita terima dari dosis radiasi latar, kerusakan selular dapat segera diperbaiki. Namun pada tingkat dosis yang lebih tinggi, dapat terjadi kematian sel bahkan pada dosis yang sangat tinggi sel tidak dapat tergantikan, jaringan menjadi rusak dan organ tidak berfungsi.

1. Induksi Efek Deterministik Induksi reaksi jaringan pada umumnya ditandai dengan adanya dosis ambang. Alasan ditetapkannya dosis ambang adalah bahwa kerusakan radiasi (gangguan fungsi yang serius atau kematian sel) suatu populasi kritis sel pada suatu jaringan perlu dipertahankan sebelum terlanjur jaringan tersebut cedera atau rusak. Di atas dosis ambang akan terjadi cedera atau kerusakan jaringan. Semakin besar dosis radiasi semakin meningkat terjadinya keparahan pada jaringan dan daya pemulihan jaringanpun akan terganggu. Reaksi jaringan terhadap radiasi dini (beberapa hari hingga beberapa minggu) yang melampaui dosis ambang mungkin akan terjadi peradangan yang diakibatkan pelepasan faktor seluler atau mungkin reaksi yang mengakibatkan hilangnya sel-sel.

Reaksi jaringan tunda (orde bulan hingga tahunan) dapat berupa jenis umum jika muncul sebagai akibat langsung dari kerusakan jaringan. Sebaliknya, reaksi tunda ini dapat berupa jenis akibat jika muncul sebagai akibat kerusakan selular dini. Tinjauan data biologi dan klinis telah mendorong perkembangan penilaian ICRP terhadap mekanisme jaringan dan sel yang mendasari reaksi jaringan dan dosis ambang yang berlaku untuk organ dan dan jaringan utama. Walaupun demikian, untuk dosis serap hingga sekitar 100 mGy (LET rendah atau tinggi) tidak ada jaringan yang dinyatakan memperlihatkan gangguan klinis. Pernyataan ini berlaku untuk paparan akut tunggal dan juga untuk dosis rendah pada paparan radiasi kronik. Efek deterministik selain ditandai dengan adanya dosis ambang juga pada umumnya timbul tidak lama setelah paparan radiasi terjadi, adanya penyembuhan spontan dan tergantung pada tingkat keparahan dan besarnya paparan radiasi yang diterima mempengaruhi tingkat keparahan. Contoh efek deterministik antara lain kerusakan kulit, eritema, epilepsi, katarak dan kemandulan.

2. Induksi Efek Stokastik Efek stokastik adalah efek radiasi yang munculnya tidak memerlukan dosis ambang, pada umumnya timbul setelah melalui masa tenang yang lama, tidak ada penyembuhan spontan, tingkat keparahan tidak dipengaruhi oleh besarnya dosis radiasi dan peluang terjadinya dipengaruhi oleh besarnya dosis. Contoh efek stokastik adalah kanker dan penyakit yang diwariskan kepada keturunannya. Pada kasus kanker, studi eksperimen dan epidemologi memberikan fakta adanya risiko radiasi sekali pun dengan ketidakpastian pada dosis sekitar 100 mSv atau kurang. Meskipun tidak ada bukti langsung risiko radiasi pada manusia untuk kasus penyakit yang diturunkan, hasil pengamatan eksperimen menunjukkan menguatnya pendapat yang menyatakan bahwa risiko untuk generasi mendatang harus diperhitungkan dalam sistem proteksi.

3. Induksi Penyakit selain Kanker Sejak tahun 1990 akumulasi fakta menunjukkan bahwa frekuensi penyakit non-kanker meningkat pada beberapa populasi yang terpapar radiasi. Fakta statistik yang paling kuat untuk induksi efek non-kanker pada dosis efektif dalam orde 1 Sv yang diturunkan dari analisis mortalitas terkini survivor bom atom Jepang setelah tahun 1968. Studi tersebut memperkuat bukti statistik mengenai hubungan antara dosis dengan terutama penyakit jantung, stroke, gangguan pencernaan dan penyakit pernafasan.

4. Efek Radiasi pada Embrio dan Fetus Risiko reaksi jaringan dan kecacatan dalam embrio dan janin yang terpapari telah diulas di ICRP publikasi 90 (2003). Ulasan ini memperkuat penilaian risiko di dalam rahim (ICRP publikasi 60). Berdasarkan ICRP publikasi 90, risiko cedera jaringan dan kecacatan di dalam rahim pada dosis di bawah 100 mGy dari radiasi LET rendah. Data terbaru menunjukan bahwa embrio rentan terhadap efek mematikan pada periode pra-implantasi dari perkembangan embrio. Pada dosis di bawah 100 mGy, efek mematikan pada embrio sangat jarang terjadi. Sehubungan dengan kecacatan pada embrio, data terbaru menunjukan bahwa ada pola radiosensitivitas dalam rahim yang tergantung pada usia kehamilan dengan sensitivitas maksimum terjadi pada masa pembentukan organ utama. Berdasarkan data pengamatan pada hewan diperoleh ada dosis ambang sekitar 100 mGy untuk induksi kecacatan, untuk tujuan praktis ICRP menilai bahwa risiko kecacatan setelah paparan dalam rahim pada dosis di bawah 100 mGy adalah tidak ada (tidak terjadi efek kecacatan pada embrio). ICRP publikasi 90 meninjau data korban bom atom mengenai induksi keterbelakangan mental yang berat setelah terpapari radiasi pada periode pra-natal paling sensitif

(8-15 minggu setelah pembuahan) mendukung dosis ambang paling tidak 300 mGy. Jadi, di bawah 300 mGy tidak terjadi efek keterbelakangan mental yang berat.

5. Judgement dan Ketidakpastian Walaupun ICRP menyadari potensi pentingnya efek sinergistik antara radiasi dan perantara (agent) yang lain, hingga saat ini tidak ada bukti yang kuat tentang interaksi tersebut pada dosis rendah yang membenarkan modifikasi perkiraan risiko radiasi yang ada. Dengan mempertimbangkan informasi terkini, ICRP merekomendasikan sistem proteksi radiasi yang praktis dengan berasumsi bahwa pada dosis di bawah sekitar 100 mSv, kenaikan dosis proporsional dengan peluang timbulnya kanker atau efek keturunan.

GEJALA Pemaparan radiasi menyebabkan 2 jenis cedera, yaitu akut (segera) dan kronik (menahun). Sindroma radiasi akut bisa menyerang berbagai organ yang berbeda:

Sindroma otak terjadi jika dosis total radiasi sangat tinggi (lebih dari 30 gray) dan selalu berakibat fatal. terjadi jika dosis total radiasi sangat tinggi (lebih dari 30 gray) dan selalu berakibat fatal. Gejala awal berupa mual dan muntah, lalu diikuti oleh lelah, ngantuk dan kadang koma. Gejala ini kemungkinan besar disebabkan oleh adanya peradangan otak. Beberapa jam kemudian akan timbul tremor (gemetar), kejang, tidak dapat berjalan dan kematian.

Sindroma saluran pencernaan terjadi akibat dosis total radiasi yang lebih rendah (tetapi tetap tinggi, yaitu 4 gray atau terjadi akibat dosis total radiasi yang lebih rendah (tetapi tetap tinggi, yaitu 4 gray atau lebih). Gejalanya berupa mual hebat, muntah dan diare, yang menyebabkan dehidrasi berat. Pada awalnya gejala timbul akibat kematian sel-sel yang melapisi saluran pencernaan. Gejala tetap ada akibat lepasnya lapisan saluran pencernaan secara progresif dan akibat infeksi bakteri. Pada akhirnya, sel-sel yang menyerap zat gizi dihancurkan seluruhnya dan darah merembes dari daerah yang terluka ke dalam usus. Mungkin akan tumbuh sel-sel yang baru, biasanya dalam waktu 4-6 hari setelah pemaparan. Tetapi meskipun

terjadi pertumbuhan sel yang baru, penderita sindroma ini kemungkinan akan meninggal karena adanya gagal sumsum tulang, yang biasanya terjadi 2-3 minggu kemudian. Sindroma hematopoeitik menyerang sumsum tulang, limpa dan kelenjar getah bening, yang kesemuanya merupakan tempat pembentukan sel-sel darah yang utama. Sindroma ini terjadi jika dosis total mencapai 2-10 gray dan diawali dengan berkurangnya nafsu makan, apati, mual dan muntah. Gejala yang paling berat terjadi dalam waktu 6-12 jam setelah pemaparan dan akan menghilang dalam waktu 24-36 setelah pemaparan. Selama periode bebas gejala, sel penghasil darah di dalam limpa, kelenjar getah bening dan sumsum tulang, mulai berkurang sehingga sel-sel darah merah dan putihpun sangat berkurang. Kekurangan sel darah putih seringkali menyebabkan terjadinya infeksi yang berat. Jika dosis total lebih dari 6 gray, maka biasanya kelainan fungsi hematopoietik dan saluran pencernaan akan berakibat fatal.

hematopoietik dan saluran pencernaan akan berakibat fatal. 2.5.1 Gangguan hematologi akibat radiasi Mengevaluasi

2.5.1 Gangguan hematologi akibat radiasi Mengevaluasi disabilitas pada penderita dengan gangguan hematologi lebih kompleks daripada mengevaluasi disabilitas pada gangguan organ tubuh lainnya. Dimana bila seseorang dengan gangguan hematologi akan berlanjut dengan mengalami gangguan fungsi organ tubuh lainnya dan mempengaruhi kemampuannya dalam beraktifitas dan bekerja. Gangguan hematologi dikelompokkan berdasarkan gangguan yang ditimbulkan pada tubuh yang berdampak terhadap aktifitas sehari hari Activities of Daily Living (ADLs), yaitu Red blood cell diseases, White blood cells diseases, Coagulation diseases, thrombosis dan AIDS. Pada makalah ini akan dijelaskan gangguan hematologi terbanyak yang disebabkan oleh radiasi yaitu yaitu Red blood cell diseases, White blood cells diseases, beserta penetapan kecacatan yang ditimbulkannya.

a. Red blood cell diseases Anemia didefinisikan sebagai penurunan jumlah sel darah merah dengan berkurangnya hemoglobin (Hb) yang menyebabkan gangguan yang disebabkan menurunnya kapasitas sel darah merah mengikat oksigen. Penyebab dari anemia sangat bermacam macam, bagaimanapun tingkat gangguan lebih berhubungan dengan keparahan anemianya sendiri daripada etiologinya. Tanda dan gejala Anemia diantaranya :

1.

Sesak dan sulit bernafas

2.

Pusing

3.

Berdebar debar/Palpitasi

4.

Mudah lelah/fatique

5.

Kulit terlihat pucat/anemis

6.

Takikardi

7.

Systolic Ejection murmur

Gangguan pada RBC atau sel darah merah akan menyebabkan anemia, dimana terjadi penurunan kemampuan membawa oksigen yang akan menyebabkan cepat lelah dan fatique. Mekanisme yang terjadi terdiri dari gangguan produksi di sumsum tulang (seperti pada leukemia), meningkatnya destruksi sel darah merah (Anemia Hemolytics), atau perdarahan (gangguan sistem pembekuan). Apapun penyebabnya anemia akan menyebabkan hendaya dan disabilitas yang berarti . Cardiopulmonary Exercise Stress Test (CPEST) sangat berguna untuk mengukur disabilitas yang disebabkan oleh anemia. Kemampuan exercise maksimum seseorang bisa dihitung dan dibandingkan dengan jenis pekerjaannya berdasarkan energi yang terpakai untuk setiap aktifitasnya. Anemia paling sering terjadi pada penderita leukemia akut, dan sering pula terjadi pada penderita leukemia kronis. Tingkat hemoglobin dalam darah biasanya berhubungan dengan level fatique, walaupun kadang ada perbedaan antar individu untuk suatu jenis pekerjaan yang sama dan level anemia yang sama.

Klasifikasi yang dianjurkan untuk penentuan ADLs untuk gangguan hematologi

terdapat pada tabel di bawah ini, dengan mengambil riwayat penyakit penderita,

pemeriksa menentukan kemampuan pekerja sebelum sakit dan

membandingkannya dengan aktivitas pada saat evaluasi dengan kadar hemoglobin

yang rendah.

Klasifikasi Fungsional Gangguan Sistem Hematologi

Kelas

Deskripsi

I ( None )

Tidak ada tanda/gejala, hasil lab (+), dapat bekerja seperti biasa

II (Minimal)

Tanda/ Gejala (+), ada sedikit kesulitan dan melakukan pekerjaan biasa

III

Tanda/ Gejala (+), kadang kadang membutuhkan bantuan dalam melakukan pekerjaan sehari hari

(Moderate)

IV (Marked)

Tanda/ Gejala (+), membutuhkan bantuan dalam melakukan pekerjaan sehari hari hampir setiap waktu

Petunjuk dari AMA, edisi 5 juga menggunakan pengelompokan berdasarkan

transfusi darah untuk menentukan tingkat impairment. Frekuensi transfusi darah

yang diperlukan seorang penderita Anemia digolongkan dari penyebab

anemianya. Anemia Hemolitik dan anemia yang disebabkan perdarahan akut akan

memerlukan transfuse yang lebih sering, sedangkan anemia yang lebih stabil

seperti Sickle cell anemia and hemoglobinopathy lainnya lebih jarang.

Maka dari itu, bagaimanapun mekanisme terjadinya anemia, setelah

keadaan hematologinya stabil, dengan menetukan CPEST, frekuensi transfusi dan

Tabel Klasifikasi Fungsional Gangguan Hematologi maka pemeriksa dapat

membuat assessment ketidakmampuannya. Parameter yang digunakan untuk

menunjukkan tingkat gangguan/impairment ditunjukkan oleh tabel di bawah ini:

Kriteria Rating Gangguan Fungsi Permanent yang disebabkan Anemia

Kelas I

Kelas II

Kelas III

Kelas IV

0% - 10 % gangguan fungsi pada seseorang

11% -30%

31% -70%

 

gangguan

gangguan

11% -30% gangguan fungsi pada seseorang

fungsi pada

fungsi pada

seseorang

seseorang

 

Gejala (-)

Gejala

Gejala

Gejala moderate severe

minimal

moderate

Hemoglobin

Hemoglobin

Hemoglobin

Hemoglobin 5-8 g/dl

10-12 g/dl

8-10 g/dl

5-8 g/dl

   

Transfusi 2-3

 

Tidak

diperlukan

transfusi

Tidak

diperlukan

transfusi

U diperlukan

tiap 4-6

minggu

Transfusi 2-3 U diperlukan tiap 2 minggu

Cara yang paling mudah untuk mengestimasi ganguan/impairment secara

klinis ialah dengan skala kemampuan yang dibuat untuk pasien dengan kanker.

Karnofsky Performance Status Scale

Kemampuan

fungsional

Tingkat aktivitas

Mampu beraktivitas normal, tidak memerlukan perawatan khusus

100% normal, keluhan (-), tidak ada gejala penyakit. 90% gejala penyakit minor. 80% aktivitas normal dengan bantuan, gejala penyakit terlihat.

Tidak mampu untuk bekerja,bisa untuk tetap di rumah,kebutuhan pribadi masih bisa dilakukan,membutuhkan bantuan kadang kadang

70% bisa mengurus diri sendiri,tidak bisa beraktivitas secara normal,atau bekerja dengan aktif 60% membutuhkan bantuan sesekali, tapi masih bisa mengurus dirinya sendiri 50% membutuhkan bantuan setiap saat dan sering membutuhkan pertolongan medis

Tidak bisa mengurus diri sendiri, membutuhkan perawatan di Rumah sakit

40% Tidak mampu, membutuhkan bantuan medis. 30% sangat tidak mampu,indikasi untuk dirawat. 20% sangat sakit,dibutuhkan perawatan di Rumah Sakit, dan perawtan yang intensif 10% fatal 0% mati

b. White Blood Cell Diseases

Keabnormalitasan proliferasi dari sel darah putih (leukosit) menyebabkan

apa yang disebut Leukemia. Dimana penderita Leukemia akan lebih mudah

mengalami infeksi. Sebuah infeksi sederhana akan mematikan bagi penderita

Leukemia. Leukemia dibagi menjadi, akut dan kronik, myeloid, lymphoid dan

monisitoid.

Leukemia Akut timbul secara cepat dan apabila tidak diobati secara

tuntuas dapat berakibat kematian dalam beberapa bulan. Leukemia kronik lebih

tidak nyata saat timbulnya dan individu tersebut bisa terus bekerja. Sampai remisi

total dicapai, orang dengan Leukemia tetap dianggap belum mampu.

Hitung leukosit biasanya belum meningkatkan resiko terkena infeksi

sampai jumlahnya turun dibawah 5000/cc. Penurunan Hitung Leukosit biasanya

terjadi pada keganasan (Leukemia), reaksi obat (agranulositosis),idiopatik atau

karena bahan kimia (anemia aplastik).

Leukemia kronik pembagiannya tergantung pada derajat ketidakmampuan

yang dimiliki oleh masing masing orang. Beberapa pasien dengan CML (Chronic

Lymphocytic Leukemia) memerlukan intervensi yang lama. Dan oleh sebab itu

ketidakmampuan pada Leukemia Kronik terbatas pada periode perawatan intensif

yang diperlukan atau pada stage akhir ketika sudah sampai keadaan terminal.

Beberapa parameter yang digunakan untuk untuk menilai ketidak mampuan pada

penderita gangguan White Blood Cell (Sel Darah Putih).

Kriteria Rating Gangguan Fungsi Permanent yang disebabkan Gangguan Sel Darah Putih

Kelas I

Kelas II

Kelas III

Kelas IV

0% - 15 % gangguan fungsi pada seseorang

16% -30%

31% -55%

56% -100% gangguan fungsi pada seseorang

gangguan fungsi

gangguan

pada seseorang

fungsi pada

seseorang

 

Gejala (+)

Gejala (+)

Memerlukan

Gejala (+) abnormalitas leukosit

abnormalitas

abnormalitas

perawatan

leukosit

leukosit

berkelanjutan

 

Tidak

Bisa melakukan kegiatan sehari hari namun memerlukan perawatan berkelanjutan

Kemampuan

Memerlukan

memerlukan

melakukan

perawatan

pearwatan

kegiatan sehari

berkelanjutan

Bisa melakukan

hari kadang

Mengalami kesulitan untuk melakukan kegiatan sehari hari,memerlukan bantuan dari orang lain.

hamper seluruh

terganggu dan

kegiatan sehari

memerlukan

hari

 

bantuan

Walaupun penyebab leukemia belum sepenuhnya diketahui, sejumlah faktor

terbukti berpengaruh dan dapat menyebabkan leukemia, baik faktor

intrinsik (host) ataupun faktor ekstrinsik (lingkungan).

A. Faktor intrinsic

- Keturunan

Leukemia tidak diwariskan, tetapi sejumlah individu memiliki faktor predisposisi

untuk mendapatkannya. Risiko terjadinya leukemia meningkat pada kembar

identik penderita luekemia akut, demikian pula walaupun jarang, pada saudara

lainnya.

- Kelainan kromosom

Kejadian leukemia meningkat pada penderita dengan kelainan fragilitas

kromosom (Sindrom Bloom dan Anemia Fanconi) atau pada penderita dengan

jumlah kromosom yang abnormal seperti pada Sindrom Down, Klinefelter dan

Turner.

- Defisiensi imun

Sistim imunitas tubuh kita memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi scl yang berubah menjadi sel ganas. Gangguan pada sistim tersebut dapat menyebabkan beberapa sel ganas lolos dan selanjutnya berproliferasi hingga menimbulkan penyakit. - Disfungsi sumsum tulang, seperti sindrom mielodisplastik, mieloproliferatif, anemia aplastik dan hemoglobinuria nokturnal paroksismal.

B. Faktor Lingkungan

- Radiasi

Adanya efek leukemogenik dan ionisasi radiasi, dibuktikan dengan tingginya insidens leukemia pada ahli radiologi (sebelum ditemukannya alat pelindung), penderita dengan pembesaran kelenjar timus, ankilosing spondilitis, dan penyakit

Hodgkin yang mendapat terapi radiasi. Diperkirakan 10 persen penderita leukemia memiliki latar belakang radiasi. Bukti yang kuat adalah tingginya insidens leukemia setelah peristiwa pemboman Hiroshima dan Nagasaki.

- Bahan kimia dan obat-obatan

Pemaparan terhadap benzen dalam jumlah besar dan berlangsung lama dapat menimbulkan leukemia. Kejadian ini akan sangat meningkat pada penderita anemia aplastik. Demikianpula halnya setelah pengobatan dengan obat golongan antrasiklin.

- Infeksi

Belum dapat dibuktikan bahwa penyebab lekemia pada manusia adalah virus, walaupun ada beberapa penelitian yang menyokong teori tersebut antara lain

dengan ditemukannya enzim reverse transcriptase dalam darah penderita leukemia.

2.5.2 Keganasan akibat radiasi

Ketidakmampuan yang disebabkan oleh keganasan bisa terjadi akibat dari kanker primer, proses metastase, atau efek toksik dari radiasi, kemoterapi dan

imunoterapi.

Radiasi yang yang dihasilkan dari radioterapi dihubungkan dengan

terjadinya fatique, perubahan warna kulit, fibrosis jaringan, supresi sumsum

tulang. Efek ini biasanya sementara, namun pada beberapa orang bisa menetap

lama.

Daripada itu pasien dengan keganasan dapat memiliki ketidakmampuan

sementara, parsial, atau permanent tergantung pada multifaktor, timbulnya

penyakit pertama kali, derajat perluasan penyakit, toksisitas yang timbul dari

terapi, dan respons keseluruhan terhadap terapi.

2 skala yang umum digunakan untuk status performance adalah Karnofsky

Scale dan Eastern Cooperative Oncology Group Performance Status Scale. Hal

ini merujuk pada level kapasitas kemampuan individu tersebut.

Pada skala Karnofsky, pasien dengan status performans 90-100% (atau

ECOG skala 0) harusnya bisa bekerja pada segala jenis pekerjaan., pasien dengan

status performans 80% (atau ECOG skala 1) bisa melaukan minimal pekerjaan di

kantor. Sementara pasien dengan status performans dibawah 70% dan ECOG

diatas 2 biasanya tidak mampu untuk bekerja.

Eastern Cooperative Oncology Group Performance Status Scale

Grade

Tingkat aktifitas

0

Sangat aktif, dapat melakukan pekerjaan apa saja tanpa pantangan (Karnofsky 90-100%)

 

Dilarang untuk melakukan aktivitas yang memberatkan, aktifitas ringan

1

masih diperbolehkan contoh pekerjaan rumah yang ringan dan pekerjaan kantor (Karnofsky 70-80%)

2

Mampu untuk mengurus diri sendiri, namun tidak dapat melakukan aktivitas lebih dari 12 jam sehari (Karnofsky 50-60%)

3

Mampu mengurus diri namun terbatas,berada di tempat tidur atau kursi lebih dari 12 jam sehari. (Karnofsky 30-40%)

4

Tidak mampu melakukan kegiatan apa apa, berada di tempat tidur atau kursi sepanjang hari (Karnofsky 10-20%)

2.6 Penanggulangan Paparan Radiasi Pengion

Dekontaminasi adalah suatu proses untuk menghilangkan bahan radioaktif dari benda (termasuk udara lingkungan dan air) atau orang-orang yang terkontaminasi, Sumber penyinaran atau radiasi dapat berasal dari luar ataupun dari dalam. Radiasi yang berasal dari luar, misalnya sinar gamma atau radiasi sinar beta dari radionukleotida yang bernergi tinggi atau berasal dari benda (=pakaian) atau udara/air yang telah terkontaminasi oleh bahan radioaktif. Radiasi yang berasal dari dalam, misalnya disebabkan oleh masuknya bahan yang terkontaminasi melalui mulut, saluran pernafasan atau kulit. (Moeljosoedarmo,

2008)

Cara-cara dekontaminasi dapat dilakukan sebagai berikut ;

Dekontaminasi mekanis, menghilangkan lapisan radioaktif dengan scrubbing, sand blasting, mencuci dengan air dan sebagainya

Dekontaminasi secara fisik (penguapan, pengenceran, menyaring, Ultrasonik, dsb)

Dekontaminasi secara kimia, dengan menggunakan senyawa-senyawa yang tidak dapat terkontaminasi dengan menggunakan larutan asam atau basa, senyawa kompleks, resin penukar ion atau bahan lainnya.

Dekontaminasi secara biologis, didasarkan pada absorbs permukaan sel bakteri (active slime, biological film) yang dilarutkan dalam bahan organic atau koloid yang mengandung kontaminan. Cara ini digunakan dalam bentuk gabungan dengan cara lain untuk melakukan dekontaminasi terhadap saluran pembuangan.

Cara-cara dan bahan-bahan yang digunakan untuk mengadakan dekontaminasi dipilih sesuai dengan macam kontaminan serta tipe benda yang terkontaminasi, kondisi fisik dan sifat fisik maupun kimia dari bahan radioaktif (cairan, padat, isotop pendek atau panjang umurnya, pemancar sinar alpha, beta,

atau beta-gamma) dan aspek ekonomi dari dekontaminasi. (Moeljosoedarmo,

2008)

2.7 Pemantauan dan Pengawasan Kesehatan Tenaga Kerja

Proteksi radiasi sangat berkaitan dengan program pengawasan lingkungan kerja dan usaha menjamin bahwa perisai penahan radiasi yang memadai tersedia. Meskipun demikian, sama pentingnya ialah pemantauan tenaga kerja secara berkala yang harus dilaksanakan secara terus menerus untuk menjamin agar para pekerja tidak menerima penyinaran yang tidak perlu dan untuk menjamin bahwa tindakan proteksi memang telah memadai.

Mengingat panca indra manusia tidak dapat mengetahui ada tidaknya radiasi, dan untuk mengetahui tingkat penyinaran yang diterimanya memerlukan instrument, maka program pemantauan yang baik harus merupakan bagian yang terpadu dari program proteksi radiasi di industry yang mempergunakan bahan radioaktif.

Pemantauan perorangan (Personal Dosimeter) adalah pengukuran nilai penyinaran total yyang diterima oleh seorang tenaga kerja selama jangka waktu tertentu yang pengukurannya menggunakan alat ukur yang selalu dibawa oleh tenaga kerja yang bersangkutan. Tujuan utama dari penggunaan alat tersebut ialah untuk mengetahui penerimaan dosis radiasi dari setiap tenaga kerja karena itu merupakan dasar yang terbaik bagi tenaga kerja untuk menilai risiko sebenarnya dari pekerjaannya.

Sudah seharusnya semua tenaga kerja diberitahu sebelumnya mengenai pentingnya tingkat penyinaran sehingga hal ini akan menghindarkan kegelisahan atau perasaan tidak aman yang sebenarnya tidak perlu. Dosimeter saku yang terbaik ialah yang dilengkapi dengan elektrometer yang memungkinkan pembacaan langsung, sehingga seluruh sistem dapat dibuat tanpa bocor. Hal ini akan dapat memberikan peringatan dini bila bekerja dalam kondisi yang membahayakan. (Moeljosoedarmo, 2008)

Gambar 7 – Personal Dosimeter Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja dimulai saat seseorang tenaga kerja akan

Gambar 7 Personal Dosimeter

Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja dimulai saat seseorang tenaga kerja akan mulai bekerja di suatu tempat kerja dan secara berkala diulangi. Hal ini dimaksudkan agar dapat ditentukan derajat kesehatan tenaga kerja cukup memadai dengan tugas yang dilaksanakan para tenaga kerja yang mempunyai kemungkinan menerima penyinaran lebih dari dosis yang dianjurkan, memerlukan pengawasan yang lebih teliti dengan cara pemeriksaan darah tepi secara teratur.

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan

Radiasi pengion adalah kemampuan mengeluarkan elektron dari orbit atom, sehingga terjadinya gangguan keseimbangan elektron/proton dan membuat atom memiliki energi positif. Perubahan molekul dan atom ini yang disebut sebagai ion.

Radiasi pengion terdiri dari radiasi alpha, beta, photon (Gamma dan X-Ray)

Sumber radiasi pengion bisa berasal dari alam ataupun buatan manusia yang digunakan dalam berbagai macam industri (Kedokteran, pertambangan, sumber daya energy, dll)

Monitor radiasi yang digunakan untuk mengukur jumlah radiasi atau dosis yang diterima oleh seseorang disebut dosimeter perorangan dan monitor radiasi yang digunakan untuk mengukur kecepatan radiasi atau laju dosis di suatu area dikenal dengan survaimeter.

Apabila dosis yang diterima oleh pekerja melebihi batas yang diperkenankan, paparan radiasi pengion dapat menimbulkan efek kesehatan, yaitu efek deterministic dan stokastik

Dekontaminasi adalah suatu proses untuk menghilangkan bahan radioaktif dari benda (termasuk udara lingkungan dan air) atau orang-orang yang terkontaminasi, bisa dilakukan dengan cara mekanis, fisik, kimia atau biologis.

3.2 Saran

Proteksi radiasi sangat berkaitan dengan program pengawasan lingkungan kerja dan usaha menjamin bahwa perisai penahan radiasi yang memadai tersedia. Pemantauan tenaga kerja secara berkala yang harus dilaksanakan secara terus menerus untuk menjamin agar para pekerja tidak menerima penyinaran yang tidak perlu dan untuk menjamin bahwa tindakan proteksi memang telah memadai.

DAFTAR PUSTAKA

ACGIH. (2015). Threshold Limit Values for Chemical Substances and Physical Agents & Biological Exposure Indices. Cincinnati: ACGIH.

Anderrson , G., & Cocchiarella , L. (2001). AMA Guides to the evaluation of Permanent Impairment. 5th edition. Chicago: America Medical Association.

BATAN. (2015, May 19). BATAN. Retrieved from http://www.batan.go.id/pusdiklat/elearning/proteksiradiasi/pengenalan_radiasi

/2-1.htm

Moeljosoedarmo, S. (2008). Higiene Industri. Jakarta: Balai Penerbit FK Universitas Indonesia.

Wirahadikusumah, R. (2014). Tantangan Masalah Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Proyek Konstruksi di Indonesia. Bandung: Institut Teknologi Bandung.