Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM LAPANGAN

TPI BLANAKAN, SUBANG, JAWA BARAT

Oleh
Kelompok 14-B
Ratna Wulandari
Atika Nastaina U.
Vidyatami Hanum P.
Nadia Fitriana
M.Binawan S.
Ayumi Yusida
Aziza Nova A.

C34110021
C34110022
C34110023
C34110024
C34110025
C34110026
C34110027

THP
THP
THP
THP
THP
THP
THP

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kondisi perikanan di Subang tepatnya di Blanakan memiliki manajemen
tersendiri dalam pengaturannya. TPI Blanakan merupakan tempat pendaratan
sekaligus tempat pelelangan ikan. Di tempat ini mahasiswa dapat melihat
pendaratan ikan dari kapal, menginventarisir ikan yang ada, dan berbincangbincang langsung dengan nelayan.
Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) di Blanakan Subang dikelola sepenuhnya
oleh KUD Mandiri Mina Fajar Sidik. KUD Mandiri Mina Fajar Sidik diharapkan
dapat berperan dalam memenuhi keperluan nelayan melalui unit-unit usaha KUD,
penentuan harga jual ikan di TPI, dan meningkatkan pendapatan nelayan. (Rio
2011)
TPI sendiri merupakan tempat untuk melelang ikan hasil tangkapan,
dimana terjadi pertemuan antara penjual dengan pembeli (pedagang atau agen
perusahaan perikanan). Keberadaan TPI di daerah produksi baik di pusat
pendaratan ikan maupun pelabuhan perikanan sangatlah penting.
Pemanfaatan KUD Mandiri Mina Fajar Sidik oleh nelayan ini tentunya
mensyaratkan nelayan harus menjadi anggota KUD Mandiri Mina Fajar Sidik
terlebih dahulu. Hasil analisis menunjukan bahwa unit-unit usaha KUD Mandiri
Mina Fajar Sidik sangat dirasakan peranannya untuk menunjang kebutuhan
nelayan. Terdapat hubungan yang signifikan antara status keanggotaan KUD
Mandiri Mina Fajar Sidik dengan karakteristik nelayan. Tingkat pendapatan per
trip nelayan anggota KUD Mandiri Mina Fajar Sidik mayoritas tergolong dalam
kategori sedang dan tingkat pendapatan per trip nelayan bukan anggota KUD
Mandiri Mina Fajar Sidik mayoritas tergolong dalam kategori rendah. (Rio 2011)
Keadaan di PPI Blanakan dilihat dari segi sarana dan prasarana yang ada
seperti BBM, tangki air bersih, dan depot es di PPI Blanakan masih jauh dari
layak untuk dipergunakan sehingga dibutuhkan beberapa upaya untuk
melayakkannya.

1.2 Tujuan
Tujuan praktikum lapangan ini adalah untuk mengenal jenis ikan yang
tertangkap di sekitar Blanakan dan didaratkan di TPI Belanakan. Juga mampu
mendeskripsikan informasi biologis dan ekologis beberapa spesies ikan. Serta
mampu mengkoleksi ikan berdasarkan kaidah-kaidah yang tepat.

BAHAN DAN METODE

Pelaksanaan inventarisasi dan pembuatan koleksi ikan dilakukan pada tanggal


12 Mei 2012 yang berlokasi di Tempat Pelelangan Ikan, Blanakan, Subang, Jawa
Barat. Adapun alat-alat yang digunakan pada pelaksanaan praktikum lapangan ini
diantaranya adalah alat bedah lengkap, satu buah styrofoam, satu paket jarum
pentul, dua buah kuas lukis, dan satu buah wadah berukuran 30 x 20 x 15 cm3.
Bahan yang digunakan pada pelaksanaan praktikum lapangan ini yaitu
pengawet (formalin) dan 37 jenis ikan yang tersedia di TPI Belanakan, Subang,
Jawa Barat yaitu: Etong, Kaci-kaci, Cucut, Pari, Tenggiri, Barakuda, Kuniran,
Tongkol, Cakalang, Lutjanus vitta, Lamkau, Kerapu totol, Kerapu lumpur, Selar
kuning, Pepetek, Kapasan, Beloso, Utik/kutik, Manyung, Lemadang, Lamkau
(ikan sebelah), Ikan lidah (Cynoglossus sp.), Bawal hitam, Bawal putih, Kantong
semar, Kiper, Cangkurengan, Tembang, Kakap merah, Parang-parang, Remang,
Layang, Kembung, Kurisi, Tunul, Touka-touka, dan Demang/Swangi/Mata Besar.
Ada enam macam ikan yang praktikan koleksi, yaitu: Ikan Manyung, Ikan
Kapasan, Ikan Kakap Merah, Ikan Cakalang, dan Ikan Barakuda, serta ikan yang
telah diinventarisasi praktikan yaitu Ikan Pari.
Ada dua metode dalam melaksanakan kegiatan ini, yaitu metode pengumpulan
data dan metode pengawetan ikan. Metode pengumpulan data dimulai dari
mengunjungi lokasi tempat pelelangan ikan, mendokumentasikan 37 spesies ikan
menggunakan kamera, dan melakukan wawancara singkat dengan nelayan
mengenai ikan tersebut.
Metode pengawetan ikan dimulai dari memilih ikan yang akan dikoleksi,
mencuci ikan dengan bersih, menyuntikkan formalin ke dalam tubuh ikan melalui
anus, membentangkan ikan di atas styrofoam dengan menggunakan jarum pentul,
mengoleskan formalin secara perlahan pada sekujur tubuh ikan termasuk sirip,
lalu tunggu hingga larutan formalin meresap ke dalam ikan, kemudian masukkan
ikan ke dalam bak yang berisi larutan formalin.

DESKRIPSI IKAN

3.1 Ikan Manyung


Arius maculatus (Thunberg, 1792)

Gambar 1. Ikan Manyung (Arius maculatus)


Sumber : Dokumentasi Pribadi
Karakteristik: Bentuk badan memanjang, kuat. Kepala picak (gepeng).
Bersungut tiga pasang (dua pasang pada rahang bawah, dan satu pasang pada
rahang atas). Perisai kepala beralur dan berbintik-bintik. Gigi pada langit-langit
tersusun dalam tiga kelompok. Terdapat sirip lemak di belakang sirip punggung.
D.I, P.I, A.I, dan mengandung bisa. (Direktorat Jendral Perikanan 1979).
Habitat:Hidup di dasar, muara sungai, daerah pantai sampai tempat-tempat yang
agak dalam. Kadang-kadang membentuk gerombolan besar. (Direktorat Jendral
Perikanan 1979).
Aspek Biologi: Termasuk ikan buas, makanannya organisme dasar (kerangkerangan, udang, ikan) dapat mencapai panjang 150cm, umumnya 25-70cm. Ikan
ini berwarna merah sawo atau keabuan bagian atas, putih merah maya-maya
bagian bawah. Sirip-siripnya (punggung, dubur) ujungnya gelap. (Direktorat
Jendral Perikanan 1979).
Distribusi:

Seluruh perairan pantai, lepas pantai Indonesia terutama Jawa,

Sumatera, Kalimantan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Arafuru. Ke utara


meliputi sepanjang India, Thailand, sepanjang Pantai Laut Cina Selatan. Ke
selatan sampai Australia kecuali bagian selatan benua tersebut. (Direktorat Jendral
Perikanan 1979).

Sumber : http://www.fishbase.org
Pemanfaatan: Ikan ini termasuk ke dalam ikan demersal. Alat tangkap yang
digunakan untuk menangkap ikan ini yaitu trawl, pancing, jaring insang, dan
rawai dasar. Dipasarkan dalam bentuk segar, umumnya dalam bentuk asin kering
yang biasa disebut jambal roti yang mahal harganya. Gelembung udaranya

dipasarkan dalam bentuk kering yakni kerupuk perut ikan. (Direktorat Jendral
Perikanan 1979).
3.2 Ikan Kapasan
Gerres oyena (Forsskl, 1775)

Gambar 2. Ikan Kapasan (Gerres oyena)


Sumber: Dokumentasi pribadi
Karakteristik: Badan lonjong, gepeng, mirip dengan peperek tetapi sisiknya
lebih jelas dan kepalanya bersisik. Moncong lancip, dapat disembulkan kedepan.
Sisik-sisik garis rusuk 45-50, sisik tranversal diatas garis rusuk (5-6), sedang
dibawahnya (12-13). D.XI.10-12, jari-jari keras kedua tumbuh memanjang berupa
serabut melebihi panjang kepala. A.III.7-8. Sirip dada panjang. Termasuk ikan
buas, makanannya binatang-binatang dasar.
Habitat: Hidup di perairan pantai, dangkal sampai kedalaman 30 m, bergerombol
besar.
Aspek Biologi: Dapat mencapai panjang 25 cm umumnya 15 cm. Bagian atas biru
keabuan, putih perak bagian bawah. Totol-totol warna keabuan atau gelap,
lonjong, membentuk garis terputus-putus melintang badan. Sirip punggung
berpinggiran hitam. (Direktorat Jendral Perikanan 1979).
Distribusi: Seluruh perairan pantai Indonesia terutama Laut Jawa, bagian timur
Sumatera, sepanjang Pantai Kalimantan, Sulawesi Selatan, Selat Tiworo,
Arafuru.Ke utara sampai Teluk Benggala, Teluk Siam, sepanjang Laut Cina
Selatan, ke selatan sampai Pantai Utara Australia. (Direktorat Jendral Perikanan
1979).

Sumber :

http://www.fishbase.org

Pemanfaatan: tergolong ikan dasar. Alat tangkap menggunakan trawl, cantrang


dan sejenisnya, pukat tepi dan sejenisnya, juga sering masuk jermal, sero.
Dipasarkan dalam bentuk asin-kering, segar. Harga murah. (Direktorat Jendral
Perikanan 1979).
3.3 Ikan Cakalang
Katsuwonus pelamis (Linneus, 1758)

Gambar 3. Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis)


Sumber : Dokumentasi pribadi
Karakteristik: Badan memanjang, seperti cerutu, agak bulat. Tapisan insang 5363. Terdapat dua lidah/cuping diantara sirip perutnya. Badan tanpa sirip kecuali
korselet dan garis rusuknya. Satu lunas (tonjolan sisik yang mengeras yang
terdapat di kedua sisi batang ekor seperti lunas yang terdapat di kedua sisi bawah
kapal) kuat pada batang ekor diapit dua lunas kecil diujung belakangnya. Dua
sirip punggung dengan jarak antara tidak melebihi diameter mata. D1.XIV-XVI,
D2.14-16, diikuti 7-9 jari-jari sirip lepas (finlet), sirip duburnya diikuti 7-8 jarijari sirip tambahan. Termasuk ikan buas, predator, karnivor. Hidup bergerombol,
besar.
Aspek Biologi: Dapat mencapai panjang 100cm, umumnya 40-60cm. Bagian atas
biru kehitman, putih perak bagian bawah. Empat sampai enam ban warna hitam
terdapat pada bagian bawah, memanjang badan. (Direktorat Jendral Perikanan
1979).

Distribusi: daerah pantai laut dalam, kadar garam tinggi, daerah tropis. Di
Indonesia terutama perairan Indonesia Timur, Selatan Jawa, Barat Sumatera,
Filipina, Kepulauan Hawai, dan daerah perairan tropis Australia. (Direktorat
Jendral Perikanan 1979).

Sumber : http://www.fishbase.org
Pemanfaatan: Tergolong ikan pelagis besar. Alat tangkap menggunakan pole dan
line, pancing tonda, jaring insang hanyut. Dipasarkan dalam bentuk segar, fufu
(panggang), asin-kering. Harganya mahal.
3.4 Ikan Barakuda
Sphyraena barracuda (Cuvier, 1829)

Gambar 4. Ikan Barakuda (Sphyraena barracuda)


Sumber: Dokumentasi pribadi
Karakteristik: Ikan Barakuda memiliki tubuh ramping yang bulat di bagian
pertengahan. Bagian atas kepala antara mata hampir datar. Mulutnya besar, berisi
banyak gigi besar dan tajam. Sirip dadanya mirip dengan sirip perut. Sirip
punggung yang keras dan lunak secara terpisah jauh. Sirip ekornya berlekuk
ganda.pewarnaan Tubuh dari barakuda besar adalah kecoklatan atau kebiruan abuabu pada punggung dan sisi atas, dengan corak kehijauan naungan untuk
keperakan pada sisi dan perut putih. Sisi atas mungkin telah gelap 18-23 bar
paling sering diamati saat ikan sedang beristirahat atau di atas substrat beraneka
ragam. Bintik-bintik hitam di sisi bawah barakuda besar membedakannya dari
spesies lain barakuda. Sirip punggung kedua, dubur, dan sirip ekor yang ungu
sampai hitam dengan tips keputihan.

Habitat: Ikan barakuda inibesar umumnya hidup di perairan dekat pantai terumbu
karang, rumput laut, dan mangrove. Ikan ini juga berada di lautan terbuka,
terutama hidup pada atau dekat permukaan, meskipun ikan ini pertama kali
ditemukan di kedalaman 325 kaki (100m). Barakuda cenderung untuk
menyendiri. Kadang-kadang ditemukan di agregasi kecil di atas terumbu karang
dan dasar berpasir. Selama tahun kedua kehidupannya, barakuda pindah ke habitat
terumbu karang yang lebih dalam.
Aspek Biologi: Barakuda memiliki mulut besar yang berisi dua set gigi tajam,
menjadikannya sebagai predator yang efisien. Ada sederetan gigi setajam silet
kecil sepanjang bagian luar rahang. Ikan ini meraih mangsanya, menelan korban
kecil keseluruhan dimana mangsa yang lebih besar dipotong-potong untuk ditelan
secara terpisah.Waktu dan lokasi pemijahan barakuda belum terdokumentasi
dengan baik. Hal ini diyakini bahwa pemijahan ikan baracuda berlangsung di
perairan dalam, di perairan lepas pantai. Terdapat bukti bahwa barakuda adalah
petelur musiman.
Distribusi: Barakuda dapat ditemukan di seluruh dunia, dekat pantai laut tropis
dan subtropis (30 LU - 30 S). barakuda berukuran besar banyak ditemukan di
Samudera Atlantik barat dari Massachusetts (AS) sampai Brasil. Ikan ini juga
ditemukan di Teluk Meksiko dan Laut Karibia serta Samudera Atlantik bagian
timur, Indo-Pasifik, dan Laut Merah. Namun ikan ini jarang atau tidak ada di
wilayah Samudra Pasifik bagian timur.

Sumber : http://www.fishbase.org
Pemanfaatan: Meskipun tidak dihargai
sebagai ikan komersial di perairan Amerika Utara, barakuda kerap berkelahi, oleh
karena itu dihargai oleh beberapa pemancing sebagai sebuah gamefish. Akan
tetapi ikan ini pun cocok untuk dikonsumsi karena mengandung protein yang
cukup tinggi.
3.5 Ikan Kakap Merah
Lutjanus argentimaculatus (Saanin,1984)

Gambar 5. Ikan Kakap Merah (Lutjanus argentimaculatus)


Sumber: Dokumentasi pribadi
Karakteristik: Ikan kakap merah (Lutjanus argntimaculatus) yaitu mempunyai
tubuh yang memanjang dan melebar, gepeng atau lonjong, kepala cembung atau
sedikit cekung. Jenis ikan ini umumnya bermulut lebar dan agak menjorok ke
muka, gigi konikel pada taring-taringnya tersusun dalam satu atau dua baris
dengan serangkaian gigi caninnya yang berada pada bagian depan. Ikan ini
mengalami pembesaran dengan bentuk segitiga maupun bentuk V dengan atau
tanpa penambahan pada bagian ujung maupun penajaman. Bagian bawah pra
penutup insang bergerigi dengan ujung berbentuk tonjolan yang tajam. sirip
punggung berjari-jari keras 11 dan lemah 14, sirip dubur berjari-jari keras 3 lemah
8-9. Sirip punggung umumnya berkesinambungan dan berlekuk pada bagian
antara yang berduri keras dan bagian yang berduri lunak. Batas belakang ekornya
agak cekung dengan kedua ujung sedikit tumpul. (Direktorat Jendral Perikanan
1979).
Habitat: Ikan kakap merah (Lutjanus argentimaculatus) umumnya menghuni
daerah perairan karang ke daerah pasang surut di muara, bahkan beberapa spesies
cenderung menembus sampai ke perairan tawar. Jenis kakap merah berukuran
besar umumnya membentuk gerombolan yang tidak begitu besar dan beruaya ke
dasar perairan menempati bagian yang lebih dalam daripada jenis yang berukuran
kecil.
Aspek Biologi: Warna sangat bervariasi, mulai dari yang kemerahan, kekuningan,
kelabu hingga kecoklatan. Ada yang mempunyai garis-garis berwarna gelap dan
terkadang dijumpai adanya bercak kehitaman pada sisi tubuh sebelah atas tepat di
bawah awal sirip punggung berjari lunak. Pada umumnya berukuran panjang

antara 25 50 cm, walaupun tidak jarang mencapai 90 cm. Ikan kakap merah
menerima berbagai informasi mengenai keadaan sekelilingnya melalui beberapa
inderanya, seperti melalui indera pengelihatan, pendengaran, penciuman, peraba,
linea lateralis dan sebagainya.
Distribusi: Penebaran ikan ini yaitu di perairan pantai seluruh Indonesia, meluas
ke Utara sampai Teluk Benggala, teluk Siam, sepanjang pantai Laut Cina Selatan,
ke Selatan sampai periran tropis Australia. (Direktorat Jendral Perikanan 1979).

Sumber :

http://www.fishbase.org

Pemanfaatan: Ikan kakap merah ini tergolong ke dalam ikan demersal (dasar).
Penagkapannya dengan menggunakan pancing, trawl dasar, bubu. Dipasarkan
dalam bentuk segar, asin-kering,. Harganya sedang. (Direktorat Jendral Perikanan
1979).pPPPP
3.6 Ikan Pari
Dasyatis sephen (Forsskl, 1775)

Gambar 6. Gambar Ikan Pari (Dasyatis sephen)


Sumber: Dokumentasi pribadi
Klasifikasi: Ordo: Rajiformes, Famili: Dasyatidae, Genus: Dasyatis, Spesies:
Dasyatis sephen.
Karakteristik: Ikan ini memiliki bentuk tubuh picak (deppressed). Diskus atau
bentuk badan yang ceper itu kurang lebih seperti segiempat. Lubang penyemburan

air besar letaknya tepat di belakang mata, kurang lebih sama dengan dua kali
besar mata. Gigi-gigi kecil, berbintil-bintil seperti amplas. Pada punggungnya
terdapat duri-duri berupa tonjolan yang terpusat di dua tempat. Ekor panjang
seperti cambuk dan dilengkapi dengan duri-duri beracun. Di bagian bawah
cambuk tersebut terdapat selaput kulit menyerupai umbul-umbul. (Direktorat
Jendral Perikanan 1979).
Habitat: ikan ini termasuk ikan demersal biasanya terdapat di pasir, pasir campur
lumpur. (Direktorat Jendral Perikanan 1979).
Aspek Biologi: ikan ini termasuk ke dalam golongan ikan buas, makanannya
organisme dasr seperti ikan, moluska, crustacea. (Direktorat Jendral Perikanan
1997).
Distribusi:Ikan ini memiliki daerah penyebaran di perairan pantai, kadangkadang masuk periran pasang surut. Seluruh Indonesia, terutama Laut Jawa,
Sumtera, Kalimantan,Sulawesi selatan, Arafuru. (Direktorat Jendral Perikanan
1979).

Sumber :
http://www.fishbase.org
Pemanfaatan: Ikan ini biasanya ditangkap dengan menggunakan trawl, pancing,
rawai dasar, pancing garit. Dan dipasarkan untuk kebutuhan konsumsi dalam
bentuk segar dan asin-kering. (Direktorat Jendral Perikanan 1979)
Kondisi ikan setelah diberi formalin: ikan terlihat lebih segar, kenyal, tidak
berbau amis, berbau menyengat.

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Praktikan mampu menjelaskan berbagai jenis ikan laut, mendeskripsikan
bentuk beragam jenis-jenis ikan laut, mengetahui alat tangkap yang digunakan

untuk menangkap ikan laut tersebut, distribusi beragam jenis ikam laut, dan nilai
ekonomis beragam jenis ikan laut yang merupakan hasil tangkapan nelayan di TPI
Blanakan, Subang, Jawa Barat
4.2 Saran
Sebaiknya pengarahan dalam pelaksanaan fieldtrip lebih efektif dan efisien
agar praktikan dapat melaksanakan fieldtrip dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Jendral Perikanan. 1979. Buku Pedoman Pengenalan Sumber
Perikanan laut Bagian 1. Jakarta: Departemen Pertanian.
Hasanuddin Saanin. 1968. Taksonomi dan Kunci Determinasi Ikan, I & II.
Bandung: Bina Cipta Karya.
FAO. 2004. Threadfins of The World. Species Identification sheets for fisheries
purpose. FAO, UN, Rome, III [20 Mei 2012]
Fish Base. 2011. Arius maculatus (Thunberg, 1792). (terhubung berkala).
http://www.fishbase.org/summary/Arius-maculatus.html. [31 Mei 2012].

________. 2011. Gerres oyena

(Forsskl, 1775). (terhubung berkala).

http://www.fishbase.org/Summary/SpeciesSummary.php?
ID=5996&genusname=Gerres&speciesname=oyena. [31 Mei 2012].
________. 2011. Katsuwonus pelamis

(Linnaeus, 1758). (terhubung berkala).

fishbase.org/summary/Katsuwonus-pelamis.html. [3 Juni 2012].


________. 2011. Lutjanus argentimaculatus

(Forsskl, 1775).

(terhubung

berkala). fishbase.org/summary/Lutjanus-argentimaculatus.html. [3 Juni


2012].
________. 2011. Pastinachus sephen

(Forsskl, 1775). (terhubung berkala).

http://www.fishbase.org/summary/Pastinachus-sephen.html.

[31

Mei

2012].
________. 2011. Sphyraena barracuda (Edwards, 1771). (terhubung berkala).
fishbase.org/summary/Sphyraena-barracuda.html. [3 Juni 2012].
Fish Wise. 2007. Dasyatis sephen (Forsskl 1775), (terhubung berkala).
www.fishwise.co.za/Default.aspx?
TabID=110&GenusSpecies=Dasyatis_sephen&SpecieConfigId=272255.
[3 Juni 2012]