Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesusastraan bali secara etimologis berasal dari kata sastra. Kata sastra berasal dari
akar kata sas yan berarti mengajarkan dan memberitahuan dan tra artinya alat. Jadi sastra
adalah alat untuk mengajarkan tentang kebaikan.
Kesusastraan Bali adalah hasil karya atau cipta seorang pengarang atau pujangga yang
menceritakan dinamika kehidupan masyarakat Bali serta mengandung nilai estetika yang
menggunakan bahasa sebagai mediumnya.
Kesusastraan Bali dapat dibagi menjadi dua (2), yaitu :
1.
2.
3.

Kesusastraan Bali Purwa atau Klasik atau Tradisional


Kesusastraan Bali Anyar atau Modern
Kesusastraan Bali Purwa atau Klasik atau Tradisiona
Adalah hasil karya atau cipta seorang pengarang atau pujangga yang menceritakan
tentang dinamika kehidupan masyarakat Bali pada saat atau belum dipengaruhi oleh
kebudayaan asing atau luar. Kesusastraan Bali Anyar atau Modern Adalah hasil karya atau
cipta seorang pengarang atau pujangga yang menceritakan kehidupan masyarakat Bali yang
sudah dipengaruhi oleh dunia luar. Tujuan mempelajari kesusastraan yaitu untuk
memudahkan membaca atau mempelajari isi kesusastraan. Yang kedua untuk mengetahhui
sejarah Bali tempo dulu dan yang terakhir yaitu untuk menghibur diri.
1.2 Rumusan masalah
1.2.1 Berikan Penjelasan Lebih Dalam Tentang Kesusastraan Bali ?
1.2.1 Berikan Penjelasan Lebih Lanjut Tentang Aksara Bali ?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kasusatraan Bali

Kesusastraan Bali adalah karya tulis yang berisi ungkapan dari pikiran, kepandaian, serta
menggunakan gaya bahasa yang bagus, yang keluar dari pikiran yang berbudi luhur. Dan
ditulis memakai Bahasa Bali, serta boleh ditulis dalam tulisan Bali atau latin.
2.1.1 Pembagaian Kesusastraan Bali
2.1.1.1. Menurut Bentuk / Rupa
2.1.1.1.1. Sastra Tembang (Gending / sekar)
Tembang adalah karya sastra mengguakan Bahasa Bali, Tulisan Bali atau Latin. Dan
dalam pembuatannya menuruti aturan-aturan tembang yang berupa bait. Seperti aturan aturan banyak baris, banyak suku kata pada baris dan aturan suara. Tembang adalah salah
satu cabang kesenian daerah Bali yang termasuk seni vocal tradisional sebagai pencetusan
estetika melalui rangkaian nada-nada yang berlaraskan pelog / peluselendra baik yang
dibawakan dengan suara maupun instrumentalia (alat musik).
A. Fungsi Tembang
Tembang memiliki berbagai fungsi diantaranya :
tebagai hiburan Manusia;
sebagai sarana untuk mengiringi upacara keagamaan / upacara Yadnya;
sebagai sarana utuk melestarikan budaya;
sebagai sarana untuk menyampaikan nasehat.
B. Pembagian Tembang
Mengenai pembagian tembang para sastrawan pada saat munculnya tembang mempunyai
pendapat yang berbeda-beda sesuai dengan pandangan dan pendapatnya masing-masing.
Dalam hal ini kita mengambil salah satu pendapat dari bapak I Ketut Sukrata, beliau
membagi tembang menjadi 4 bagian yaitu :
Sekar Rare
Sekar Rare adalah nyanyian atau lagu-lagu yang juga disebut gegendingan. Biasa
dinyanyikan oleh anak-anak, dipakai mengiringi gambelen menggunakan bahasa daerah,
memakai sajak bebas, isinya sebuah cerita samapi selesai, setiap lagu punya nama tersendiri
dan didalamnya selalu diselipkan ajaran- ajaran susila.
Sekar Alit
Sekar Alit adalah nyanyian atau lagu-lagu yang juga disebut geguritan berupa pupuh
(macapat) yang susunannya terikat pada banyak baris pada setiap pupuh, banyak suku kata
pada setiap baris, labuh suara (lingsa) kata terakhir setiap baris dan berisi ajaran-ajaran
agama. Pupuh (tembang) itu dapat dibedakan antara lain : (a) sinom, (b) semarandhana, (c)
pucung, (d) pungkur, (e) ginada, (f) ginanti, (g) durma, (h) dandang dula, (i) maksumambang,
(j) mijil.

Sekar Madya
Sekar Madya adalah nyanyian atau lagu-lagu yang berisikan puji-pujian terhadap Ida
Sang Hyang Widhi Wasa. Yang termasuk Sekar Madya adalah kidung. Kidung adalah
nyanyian suci yang dilagukan pada waktu upacara keagamaan. Kidung biasanya dilagukan
bersama-sama. Sayair kidung merupakan susunan kata-kata dan kalimat yang indah. Syair itu
dilantunkan dengan lagu yang merdu dan suara yang baik sehingga menampilkan karya seni
yang bermutu. Nyanyian suci yang hikmat dapat menghantarkan fikiran dan hati kita sujud
bhakti kehadapan Sang Hyang Widhi. Kidung biasaya dilantunkan pada upacara keagamaan
yaitu Panca Yadnya. Masing-masing upacara Yadnya memiliki jenis kidung yang berbedabeda. Kidung juaga dapat dibedakan menjadi 5 macam seperti:
Kidung Dewa Yadnya adalah kidung yang dipakai mengiringi upacara Dewa Yadnya.
Kidung Bhuta Yadnya adalah kidung yang dipakai mengiringi upacara Bhuta yadnya.
Kidung Manusa Yadnya adalah kidung yang dipakai mengiringi upacara Manusa Yadnya.
Kidung Pitra Yadnya adalah kidung yang dipakai mengiringi upacara Pitra Yadnya
Kidung Rsi Yadnya dalah kidung yang dipakai untuk mengiringi upacara Rsi Yadnya.

(a)
(b)
(c)
(d)
(e)

Sekar Agung
Sekar agung adalah nyanyian atau lagu-lagu atau tembang yang terkait pada susku kata
dalam setiap baris (wrtta), letak guru lagu atau (matra) dan purwa kanti, tembangnya bebas
asal enak didengar dan tidak meninggalkan guru lagu, berisi ajaran agama. Yang termasuk
Sekar Agung adalah :
(a) Palawakya seperti membaca skola-sloka Sarasamuscaya.
(b) Kekewin seperti : Kekawin ramayana, Kekawin Arjuna Wiwaha, dll.

2.1.1.1.2. Sastra Gancaran


Gancaran adalah karya sastra yang menggunakan Bahasa Bali yang ditulis tidak mengikuti
aturan-aturan dalam tembang. Gancaran Bali purwa dibagi menjadi 6 diantaranya :
a) cerita (Dongeng)
b) cerita badbad (Hikayat)
c) cerita wiracarita (Epos)
d) cerita dewa-dewa (Mitos)
e) cerita tempat (Legenda)
f) palawakya (Prosalisasi)
2.1.1.2 Menurut Jaman
2.1.1.2 .1) Sastra Bali Purwa (klasik,kuna)
Kesusastraan Bali Purwa, ialah kesusastraan yang telah diwarisi sejak jaman lampau dan
lekat sekali kaitannya dengan Pustaka Suci Agama Hindu, misalnya : Buku-buku Weda, yang
telah menjelma menjadi kesusastraan Nusantara Kuna diantaranya Kesusastraan Bali Purwa.
Selanjutnya Kesusastraan Bali Purwa itu kalau dilihat dari bentuk dapat dibagi menjadi tiga
bagian sebagai tersebut dimuka, yaitu : tembang, gancaran dan palawakya.

2.1.1.2 .2) Sastra Bali Anyar (Moderen)


Kesusastraan Bali Anyar, ialah Kesusastraan Bali yang telah mendapat pengaruh dari
Kesusastraan Nasional yaitu kesusastraan Indonesia. Kesusastraan Bali Anyar dapat
dibedakan berupa : (a) Satua Bawak (Cerpen), (b) Satua Dawa (Novel), (c) Puisi Bali Anyar ,
dan (d) Lelampahan (Drama).
2.1.1.3 Kesustraan Bali Menurut Cara Menuturkan
2.1.1.3.1) Sastra Gantian
Sastra gantian ini pada umumnya anonim dan cara penyampaiannya merupakan bahasa
lisan secara turun temurun. Bentuknya ada yang merupakan tembang ada yang berupa
gancaran.
2.1.1.3.2) Sastra Sesuratan
Sastra sesuratan ini timbul setelah orang-orang Bali mengenal huruf, baik huruf Bali
maupun huruf latin. Bentuknya ada berupa tembang, gancaran dan palwakya. Selanjutnya
setelah mendapat pengaruh dari kesusastraan Indonesia munculah kesusastraan Bali Modern.
2.1.1.4 Menurut Bahasa Yang Dipakai Mengarang
2.1.1.4.1) Sastra Bali Berbahasa Jawa Kuno
Contohnya : Kekawin Ramayana, Arjuna Wiwaha, Krsnayana, Gatotkaca Sraya, Arjuna
Wijaya, Krsna Duta
2.1.1.4.2) Sastra Bali Berbahasa Sansekerta
Yang berkaitan dengan mantram-mantram
2.1.1.4.3) Sastra Bali Berbahasa Bali Aga
Aga yang artinya gunung, mula. Jadi sastra bali berbahasa Bali Aga adalah karya sastra
yang menggunakan bahasa yang sudah ada, bahasa bali Aga ini dipakai oleh masyarakat di
desa Pedawa, Sidatapa dan Trunyan.
2.1.4.4) Sastra Bali Berbahasa Bali Kuno
Yaitu karya sastra yang menggunakan Bahasa Bali Kuno yang biasanya dipakai untuk
menulis prasasti. Dan dibagi ke dalam 3 zaman yaitu: zaman Prabhu Warmadewa, zaman
Dalem Samprangan, dan zaman Dalem Malinggih ring Puri Sueca Pura (Gelgel). Contohnya
Kidung Warga Sari.
2.1.1.4.5) Sastra Bali Berbahasa Bali Tengahan
Yaitu karya sastra yang berisi kosa bahasa Bali Tengahan. Sekitar tahun 1700 sampai
1915. Arjuna Pralabda.
2.1.1.4.6) Sastra Bali Berbahasa Bali Anyar
Sastra Bali Anyar ini yaitu pada zaman sekarang. Yang berisi sor singgih Bahasa dan
sastra-sastra yang berisi unsur sastra Indonesia, yang diterbitkan setelah kemerdekaan RI.

2.1.2 Pengaruh mempengaruhi dalam puisi Bali moderen


Pengarang-pengarang sastra Bali modern, kususnya bentuk puisi Bali modern, pada
mulanya adalah para pengarang yang awalnya menulis hasil-hasil karya dalam bahasa
Indonesia. Artinya pengalaman yang yang diperoleh dari kehidupan cipta sastra Indonesia
dialihkan kelingkungan sastra Bali modern, mengenai cara penciptaannya, corak, bentuk, ide,
gaya, pengaruh, sikap hidup pengarang, kondisi bacaan dan ciptaan, serta situasi dan yang
lain hal itu tiada lain, karena terdapat persamaan antara pengadaan sastra Indonesia akan
sama peroses penciptaannya dengan karya sastra Bali modern.
Keberadaan sastra Bali modern, kususnya bentuk puisi Bali modern, tiada lepas dari
pengaruh- pengaruh yang di miliki seorang yang pernah menulis sastra Indonesia oleh karna
itu, tidak mungkin penyair Bali akan mampu langsung menulis puisi Bali modern tanpa
sebelumnya pernah melihat, membaca (menulis puisi-puisi dalam bahasa indonesia).
2.1.3 Contoh Kesusastraan bali
Contoh Tembang dan Gancaran Beserta Dengan Unsur-Unsur Instrinsiknya
Dalam pembuatan makalah ini, penulis sepakat untuk mengambil beberapa contoh
tembang dan gancaran serta bagaimana mengapresiasi atau menganalisis dan untuk puisi dan
gancaran kami juga mencari unsur-unsur intrinsik yang terkandung didalamnya. Adapun
contoh tembang dan gancaran tersebut adalah sebagai berikut:
2.1.3.1. Sekar Rare
Seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa sekar rare adalah tembang atau nyanyian
untuk anak-anak. Dimana nuansa pendidikan sangat penting untuk ditanamkan sejak usia
dini. Untuk lebih mempemudah mengajar anak-anak salah satunya adalah dengan
menyanyikan tembang. Adapun salah satu tembang sekar rare yang masih bernuansa
pendidikan adalah tembang dibawah ini.
Kaki-kaki de nguda mabok,
Di beten cunguhe ken dijagute,
Neked dipipine bek misi ebok,
Buin putih buka kapase.
Apresiasi sekar rare diatas adalah sebagai berikut:
Kaki adalah sebutan bagi orang yang sudah tua. Dimana orang yang sudah tua harus
kita hormati, dengan alasan orang yang lebih tua dari kita tentunya sudah memiliki
pengalaman yang lebih dari yang kita miliki. Namun dalam lagu ini kata kaki lebih dititik
beratkan pada orang yang telah menguasai ilmu pengetahuan. Dimana dengan ilmu
pengetahuan, manusia akan mampu meningkatkan kwalitas jasmani maupun rohaninya
sehingga menjadi manusia yang patut dihormati.
De nguda mabok artinya janganlah berambut. Rambut/bok disini dimaksudkan sebuah
kekotoran. Artinya orang yang sudah memiliki pengetahuan sudah seharusnya mampu
mengurangi sifat-sifat yang kurang baik. Karena orang yang berpengetahuan dan memiliki
intelektual sudah pasti mampu untuk membedakan baik dan buruk.
Di beten cunguhe ken di jagute artinya dibawah hidung dan di dagu. Kalau dianalisis
diantara dagu dan dibawah hidung adalah mulut. Makna yang terkandung adalah menjaga
5

kebersihan perkataan yang tentunya melalui mulut. Seperti pepatah mengatakan bahwa lidah
tidak bertulang. Ucapan itu lebih tajam daripada pisau, apabila tidak dikendalikan akan
berakibat fatal. Dalam kekawin Nitisastra disebutkan bahwa:
Wasita nimitanta manemu laksmi
Wasita nimitanta manemu pati kapangguh
Wasita nimitanta manemu duka
Wasita nimitanta manemu mitra
Terjemahan:
Karena perkataan yang menyebabkan orang selamat
Karena perkataan menyebabkan kematian
Karena perkataan menyebabkan kesengsaraan
Karena perkataan kita juga bisa mendapatkan teman (Surada, 2006:177)
Seperti itulah kekuatan ucapan. Bila tidak mampu membawa perkataan dengan baik,
pasti akan menemukan malapetaka. Seperti yang sudah disebutkan diatas, lidah itu tidak
ubahnya seperti pisau yang tajam. Bila pisau tersebut dibawa oleh perampok atau pembunuh,
maka kematian yang dihasilkan, tetapi bila pisau tersebut dibawa oleh seorang koki, maka
akan menghasilkan masakan yang lezat yang mampu membuat orang lain senang.
Neked dipipine bek misi ebok artinya sampai ke pipi ditumbuhi oleh rambut. Bila
rambut-rambut itu menumbuhi wajah, tentu saja akan terlihat kurang rapi. Maknanya adalah
jika manusia yang selalu diliputi oleh sifat-sifat adharma, mukanya akan terlihat kusam.
Buin putih buka kapase artinya putih bagaikan kapas. Putih adalah warna yang
melambangkan kesucian, artinya ketika sebagai manusia sudah mampu menjaga kebersihan
diri dan hatinya dengan ilmu pengetahuan, maka dia akan menjadi manusia yang suci dan
mulia.
2.1.3.2. Sekar Alit (Pupuh)
Untuk Sekar Alit (Pupuh) kami sepakat untuk membuat Pupuh Ginada yang bertema
pendidikan, seperti disebutkan dibawah ini:
Swadharmane dados sisya
Malajahang raga sai
Pitutur guru pirengang
Solah dharma ne kagugu
Setata metingkah melah
Apang pasti
Dados sisya mautama
Teges ipun:
Ingih kaceritayang titiyang ne mangkin, indik perikrama dados sisya.
Sumngdana setata melajahang awak sai-sai.
Liana ring punika, patut pisan mirengang bebaos utawi pawuruh sang maha guru.
Sane anggon gagisain ten je wenten tios wantah solah sane dharma.
Lianan malih, mangda setata melaksana becik tur rahayu.
Mangda sumeken dados sisya sane pinih utama.

Terjemahan:
Kewajiban seorang siswa
Agar selalu tekun belajar
Harus mendengarkan nasehat dari seorang guru
Prilaku yang baik harus selalu menjadi pedoman
Selalu berbuat yang baik
Agar pasti
Menjadi siswa yang utama/baik
Adapun unsur-unsur instrinsik yang terkandung dalam pupuh ginada diatas adalah sebagai
berikut:
Tema
: Pendidikan
Alur
: Menceritaskan tentang kewajiban-kewajjiban yang harus
dilaksanakan oleh seorang siswa, selalu berbuat baik agar menjadi sisiwa teladan.
Penokohan
: Pelaku menguraikan tentang kewajiban-kewajiban seorang tentang siswa
Sudut pandang : Pengarang sebagai pencerita
Amanat
: Kewajiban seorang siswa harus selalu belajar, menghormaati dan
mendengarkan nasehat guru terutama guru rupaka dan guru pengajian. Dan selalu berbuat
yang baik agar menjadi siswa teladan.
2.1.3.3. Sekar Madya (Kidung)
Dalam pembuatan makalah ini, kami juga mengambil contoh sekar madya (kidung)
yang kami apresiasikan dan kami kaitkan dalam dunia pendidikan, adalah sebagai berikut:
MEGATRUH
Atur titiang, para sisya lintang jugul
Panembahing maring widhi
Tanpa mantra tanpa jugul
Bhakti antuk manah eling
Eling maring raga belog
Artinya:
Lihatlah sembah bhakti kami. Kami adalah para siswa yang sangat lugu. Sembah bhakti ini
kami persembahkan untuk Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sembah bhakti kami, kami
persembahkan tanpa pengetahuan mantra dan juga tanpa persembahan makanan. Sembah
bhakti ini diperesmbahkan dari pikiran yang selalu sadar akan keberadaan-Mu dan sadar akan
kebodohan diri kami.
Sekar madya/ kidung (megatruh) diatas, dapat kami apresiasikan bahwa sebagai
seorang manusia harus menyadari kemampuan diri kita yang tiada berarti dihadapan Tuhan
sebagai pencipta alam semesta beserta segala isinya. Dengan sembah sujud bhakti kepada
Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi dan meyakini bahwa Tuhan akan memberikan anugrah kepada
umat salah satunya yaitu ilmu pengetahuan.

2.1.3.4. Puisi Bali Anyar


Puisi masih termasuk dalam kategori tembang. Namun kami mengambil contoh puisi
Bali Anyar yang bertema pendidikan seperti dibawah ini:
Jendela Kayun
Iriki ring sor jendelane,
Tiang melengok ngaksinin sang surya sane mengingsir ka bucun galah,
Umbarane barak nyanggra sandikala sane rauh magpangin wengi,
Nutdutin manah sane katepesin rasa kangen,
Kangen teken munyine rerama, kangen teken embahan pitresnan rerama,
Ejoh didi tiang manongos, ngisinin raga antuk widya,
Mangda maguna, dados sudih ring keluarga,
Yadiastun sunarnyane reramane nanging setata ngangenin,
Ngukir kenyem bangga ring cangkem reramane,
Suryane engseb ninggalin lawat I punyan waru,
Sang Hyang Bayu budal tan ngesirin kampid I paksi malih,
Jendelane kasineb, I paksi maparama santi,
Adapun ulasan dari puisi diatas adalah sebagai berikut:
Bahwa dalam puisi diatas menceritakan seorang anak yang tinggal jauh dari orang tua
untuk menuntut ilmu pengetahuan. Dikala senja sang surya akan tenggelam dengan sinarnya
yang kemerah-merahan, dia termenung di bawah jendela melihat sang surya, yang
membangunkan rasa rindunya pada suara dan kasih sayang orang tuanya. Dan dia ingin agar
mampu menjadi sinar di tengah-tengah keluarganya. Walau sinarnya redup tetapi
memberikan kehangatan dengan ilmu pengetahuan yang dia miliki akan membuat orang
tuanya bangga. Sang Surya telah tenggelam meninggalkan banyangan pepohonan begitu juga
dengan Sang Hyang Bayu tidak mendesir pada sayap burung. Jendela ditutup.
Unsur-unsur instrinsik dari puisi diatas adalah sebagai berikut
Judul
: Jendela Kayun
Latar
: Ditempat Kos Sore Hari
Penokohan
: Seorang anak yang bersedih
Amanat
: Jangan menyia-nyia kepercayaan yang telah diberikan oleh orang tua untuk
bisa merantau. Meski jauh dari orang tua namun ilmu pengetahuan harus digapai dan diraih.
Agar mampu membuat orang tua bangga dan dengan pengetahuan yang dimiliki harus
mampu menjadi anak yang suputra dalam keluaraga.
Tema puis
: Pendidikan
Sajak
: Bebas
Prasaan
: Prasaan sediah dan kerinduan terhadap keluarga
Gaya bahasa : Bahasa Bali
Tipografi
: Sederhana

2.1.3.5. Satua
Seperti yang sudah dijelaskan diatas, satua adalah termasuk jenis gancaran. Contoh
satua yang kami gunakan dalam pembuatan makalah ini jenis satua dongeng (binatang).
Adapun ceritanya adalah sebagai berikut
I CICING GUDIG
Kacrita ada tutur-tuturan satua I Cicing Gudig. I Cicing Gudig, buka adanne berag
tegres tur keskes gudig. Asing solahanga, yadiastun tuah mlispisin sisan-sisan nasi di tekore,
ada dogen kone anak ngesekang wiadin pet lacuran nasibene kanti ia kena lantig. Ento ke
makrana sai-sai kone ia maselselan, nyelselang buat kalacurane tumbuh dadi cicing makejang
anake tuara ngiyengin. Di kenkene nujang I buyung mataluh di tatunne, bengu malekag kone
ambunne I Cicing Gudig. Yan suba kaeto, asing anake impasina makejang nekep cunguh
krana tusing nyidaang ngadek bonne.
Sedek dina anu, I Cicing Gudig mlispisin di pekene. Ada kone anak sedeng madaar di
dagang nasine, ento lantas nengnenga menek tuun kanti telah baana nolih tur metek ukudan
anake ane sedeng madaar ento. Sambilanga bengong dadi pesu kenehne I Cicing Gudig ane
boya-boya, Yan pet pade i dewek dadi manusa buka anake tenenan, kenken ya legan kenehe
ngamah, mabe soroh ane melah-melah. Ngamah masi di tongose ane bersih tur matatakan
tekor. Yan dewek begbeg ngantosang ngalih sisan-sisane dogen. Ah, do ento sebetange kene
baan melaksana, nyanan petenge lakar mabakti ka Pura Dalem mapinunas teken Betari Durga
pang dadi manusa. Keto pangaptinne I Cicing Gudig sambilanga nlektekang anake ane
sedek madaar kanti ngetel kone paesne ka tanahe.
Gelisang crita, suba peteng, mabakti kone lantas I Cicing Gudig di Pura Dalem. Dadi
medal laut Ida Betari Durga tur ngandika teken I Cicing Gudig, Ih, iba Cicing Gudig, dadi
iba ngacep Manira, apa lakar tunasang Cai tekening Manira? Mara keto pangandikan Ida
Betari Durga lantas I Cicing Gudig matur: Inggh nawegang titiang ping banget ring
bukpadan ratu Betari sesuhunan titiang, ampurayang padewekan titiang duaning ageng
pinunas titiang ring Cokor I Ratu. Mungguing pinunas titiang, yening paduka Betari ledang,
titiang mapinunas mangda prasida titiang dados manusa!
Olih: W. Suardina
Unsur-unsur intrinsik Satua I Cicing Gudig
Tema
: Pendidikan
Plot atau alur
: Alur ceritanya adalah alur maju
Penokohan
: I Cicing Gudig sebagai pelaku utama, dia tidak mudah putus asa dan
sabar.
Latar atau setting : di pasar dan di Pura Dalem
Sudut Pandang
: orang ke-tiga
Gaya Bahasa
: Bahasa Bali Kepara
Amanat
: Amanat atau pesan yang terkandung dalam satua diatas adalah pesan
pendidikan kehidupan yang sangat berharga, dimana walau bagaimanapun buruknya
kehidupannya saat ini, ia menyadari itulah karma yang harus ia terima di kehidupan sekarang.
Walau sempat putus asa dan berandai-andai menyesali semua keadaan akan miskin dan
buruknya kehidupan yang ia terima, tetapi ia tetap tegar dan berusaha untuk bisa bertahan
hidup. Biar bagaimanapun ia disakiti, dihina dan dicaci maki oleh semua orang, dia meyakini
bahwa dengan tetap sabar dan selalu mendekatkan diri pada Tuhan, maka ia akan

mendapatkan keadilan dan kebesaran Tuhan/Sang Hyang Widhi bahwa dimasa yang akan
datang ia akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari pada saat ini.
2.1.3.6. Cerpen
Cerpen juga termasuk jenis gancaran atau bisa juga disebut dengan satua bawak. Berikut
adalah contoh cerpen yang masih bertema pendidikan.
GURU GUYU
Uli pidan I Wayan Sugih Artha Lacur Braya ngaku dot dadi guru. Pang kuda kaden ia
milu test pegawe negeri, pang monto ia sing lulus. Ma nak belog cara ci ee kanti nyidang
dadi guru, man kenken ya padadinne murid-murid, keto I Nyoman Blek Tukang Walwk
nyacadin. Prajani barak biing muanne I Wayan. Ia tersinggung sajan-sajan tersinggung. Das
sajan botol arake anggona nimpungin I Nyoman. Mirib man sing sekaa tuak ane lenan
nambakin, sinah suba bocor tenggekne I Nyomanb, sinah suba maganti adanne. Dadi I
Nyoman red pesu getih. Man cang orahang ci belog, ci kenken?, man ci mrasa dueg mai
mapadu, pang karuan, krama sekaa tuake dadi juri, keto abetne I Wayan sambilanga muding
I Nyoman nganggo lima tengebot. Lima tengawanne suba magemelan, siap kal nyagur.
I Nyoman Blek Tukang walek nguntul, ngobanne barak biing. Miriba ya nyesel
mesuang munyi muka keto. Ia sing madaya, ulian walekanne kal ngranang I Wayan Sugih
Artha Lacur Braya pedih. Jani krama sekaa tuake sing ada ane bani pesu munyi, takut I
Wayan ngancan pedih. Konyangan iteh nuruang tuak, sambilanga nyaru-nyaru matoog.
Sajan Ci sing nawang labak tegeh, amonto uli pidan suba matimpal. Nak sing dadi ngwalek
ane pesajanne. Mlajah buin ngae walek-walekan pang misi masih ngajum. Yan suba misi
ngajum, sinah walekanne sing bes dingehanga, ajum-ajumne dogen ane masukanga ka ati, I
Made Dabdab Kereng Gradab-Gradam mamunyi kisi-kisi di kupingne I Nyoman Blek
Tukang Walek.
Ada dasa menit, sepi jampi sekan tuake. Sing ada ane bani ngamaluin mamunyi.
Konyangan ngaku-ngaku prihatin ke nasibne I Wayan Sugih Harta Lacur Braya. Cang sing
nyidaang dadi guru, jani pianak cangge orain cang nyobak milu test calon Guru. Mara kal test
ada anak mulih ngaku-ngaku anak ane nyidang ngalulusang. Kone man dot lulus, man sarjana
patut mayah satus selai juga. Man sing ngelah pis amonto, lima juta dogen kone bayah malu.
Man suba seken lulus, tuur suba maan SK, SK-ne ngadiang di bank, silihang satus duang
dasa, mara gajihe anggon nyilcil. Peh jeg aluh sajan anake ento mamunyi, kewala pengeng
baana icang ningehang, keto i Wayan sambilanga mecik pelengan.
Krama sekaa tuake milu mecik pelengan. Konyangan mautsaha ngenehang unduk ane
orange teken I Wayan. Pamuputne konyangan kitak-kituk ngaku sing kresep. Maksudne
kenken? man dadi guru, patut mautang malu, man keto sing guru guyu ya adane, memeh
bandingan ke dadi guru mautang, luungan dadi Guru Wayan, Guru Made, Guru Candra lan
guru ane lenan dogen, keto I Made Dabdab Kereng gradab-Gradab mamunyi sambilanga
kedek. Krama sekaa tuake milu kedek.
To awinan tiang sing buin percaya teken guru-guru cara janinne. Luungan suba cucuncucun tiange maguru ken alam. Apang sing uli cenik bisa ia miara alam, sing uli cenik
adepanga buku, apang liu reramanne ngelah utang. Man keto dog kwalitas calon-calon
gurune, pantesan tiang dadi guru teh, ko I Wayan mamunyi sambilanga majujuk nitgtig
tangkah. Buin siep krama sekaa tuake. Konyangan takut pelih mamunyi.
Kaketus saking : *http://www.balipost.com
10

Unsur-unsur intrinsik dalam cerpen Guru Guyu


Tema
: Pendidikan
Plot atau alur
: alur ceritanya adalah alur maju
Penokohan
: 1) I Wayan Sugih Artha
Sifatnya: mudah tersinggung dan gampang emosi.
2) I Nyoman Blek
Sifatnya: tidak bisa memilah-milah perkataan, maksud-nya ingin bercanda tetapi malah
menyinggung perasaan orang lain.
3) I Made Dabdab
Sifatnya: bijaksana dalam menghadapi dan mempertimbangkan suatu masalah atau persoalan
yang sedang dihadapi sesuai dengan kemampuan.
Latar atau setting : di tempat orang minum tuak
Sudut Pandang
: orang ketiga
Gaya Bahasa
: Bahasa Bali Kepara
Amanat
: Pesan atau Amanat yang terkandung dalam cerpen diatas, bahwa kita
sebagai manusia harus bisa berhati-hati dan mengendalikan setiap perkataan yang kita
ucapkan. Terkadang saat kita berbicara secara tidak sengaja niat kita untuk bercanda tetapi
malah menyinggung perasaan orang lain. Jangan mudah marah dan terrsingggung ketika
mendengar perkataan orang lain. Bila demikian energi negatif selalu berada dalam diri kita
dan kita akan mudah sakit hati apabila kita tidak sabar dan tenang.

11

2.2 AKSARA BALI

Suku kata /ka/ ditulis dengan satu huruf. Tanda baca mengubah, menambah, atau
menghilangkan vokal suku kata tersebut. Huruf mempunyai bentuk subskrip untuk menulis
tumpukan konsonan.
Aksara Bali adalah sebuah abugida. Tiap hurufnya merepresentasikan sebuah suku
kata dengan vokal /a/ atau // di akhir kata yang dapat diubah dengan penggunaan tanda
baca Aksara ditulis tanpa spasi (scriptio continua).
Aksara Bali memiliki 47 huruf. Bahasa Bali murni dapat ditulis dengan 18 huruf
konsonan dan 7 vokal saja, sementara terjemahan Sanskerta atau kata serapan dari bahasa
Sanskerta danKawi menggunakan keseluruhan set huruf. Huruf untuk menulis bahasa
Sanskerta dan Kawi ini umum diucapkan setara dengan padanan Bali-nya, walau dalam
bahasa Sanskerta huruf-huruf tersebut merepresentasikan bunyi yang berbeda. Semisal
pengucapan vokal panjang seringkali dibaca pendek, karena bahasa Bali tidak membedakan
arti kata dari panjang vokal.
Sejumlah tanda baca mengubah vokal (layaknya harakat pada abjad Arab),
menambahkan konsonan akhir, dan menandakan ejaan asing. Beberapa tanda baca dapat
digunakan bersama-sama, namun tidak semua kombinasi diperbolehkan. Tanda baca teks
termasuk koma, titik, titik dua, serta tanda untuk memulai dan mengakhiri bagian-bagian
teks. Notasi musik ditulis dengan simbol mirip-huruf dengan tanda baca untuk informasi metr
Terdapat pula sejumlah huruf suci yang disebut modre. Kebanyakan darinya dibentuk
dengan menambahkan tanda baca ulu candra pada huruf tertentu. Beberapa modre unik
masih dipelajari dan kemungkinan diproposalkan sebagai aksara Bali tambahan pada masa
mendatang.

12

2.2.1 Warga
Dalam aksara Bali, huruf dibagi berdasarkan pengucapannya dalam kelompok yang
disebut warga aksara. Pembagian ini didasarkan kaidah Sanskerta Panini. Terdapat
5 wargautama, yaitu:
Nama

Tempat
pengucapan

Keterangan

Kanthya
(Guttural)

Warga kanthya adalah kelompok fonem yang berasal dari


langit-langit dekat kerongkongan. Beberapa di antaranya
termasuk konsonan celah suara.

Talawya
(Palatal)

Warga talawya adalah kelompok fonem yang berasal dari


langit-langit mulut.

Murdhany
a
(Retroflex)

Warga murdhanya adalah kelompok fonem yang berasal dari


tarikan lidah ke belakang menyentuh langit-langit. Beberapa di
antaranya juga termasuk konsonan rongga-gigi.

Dantya
(Gigi)

Warga dantya adalah kelompok fonem yang berasal dari


sentuhan lidah dengan gigi. Beberapa di antaranya
termasuk konsonan rongga-gigi.

Osthya
(Bibir)

Warga osthya adalah kelompok fonem yang berasal dari


pertemuan bibir atas dan bawah.

13

2.2.2 Huruf Konsonan


Huruf konsonan disebut wyanjana (). Terdapat 33 huruf konsonan dalam
aksara Bali dengan 18 huruf dasar (disebut wres stra ) yang paling umum
digunakan. Sisanya biasa dipakai dalam kata serapan bahasa Sanskerta dan Kawi.
Aksara wianjana (Konsonan)
Pancawalimukha
Warga

Kanthya

Talawya

Murdhan
ya

Dantya

Ardhasua
ra
(Semivok
al)

Nirsuara

(Ka)
Ka1

(Kha)
Ka
mahapra
na

(Ga)
Ga1

(Gha)
Ga gora

(Nga)
Nga1

(Ca)
Ca1

(Cha)
Ca laca3

(Ja)
Ja1

(Jha)
Ja jera

(Nya)
Nya1

(Ya)
Ya1

(a)
Sa saga

(Ta)
Ta
latik

(Tha)
Ta latik
m.5

(Da)
Da
murd
a a.4

(Dha)
Da
murda
m.5

(Na)
Na
rambat

(Ra)
Ra1

(S a)
Sa sapa

(Ta)
Ta1

(Tha)
Ta tawa

(Da)
Da1

(Dha)
Da
madu

(Na)
(La)
Na
La1
kojong1

Bersuara

(Pa)
Pa1

(Pha)
Pa kapal

(Ba)
Ba1

(Bha)
Ba
kemban
g7

14

(Ma)
Ma1

Wisarg
a
(Frikati
f)

(Ha)
Ha12

,
Osthya

Usma
(Sibila
n)

Anusik
a
(Senga
u)

(Wa)
Wa1

(Sa)
Sa
danti16

^1Aksara wres stra. Dalam urutan tradisonal ialah: ha na ca ra ka / da ta sa wa la / ma ga ba


nga / pa ja ya nya.
^2 Konsonan /h/ kadang tidak dibaca. Semisal hujan dibaca ujan.
^3 Bentuk ca laca tidak diketahui pasti, karena hanya gantungan-nya yang masih dipakai.
[5]
Namun bentuk aksaranya diikut-sertakan dalam Unicode.
^4 alpaprana ^5 mahaprana
^6 Sebenarnya sebuah konsonan alveolar, tapi diklasifikasikan sebagai dental
^7 Bentuk pertama lebih sering digunakan.
2.2.3 Vokal
Aksara swara (Vokal)
Suara hresua
(vokal pendek)
Warga

Suara dirgha
(vokal panjang)

Nama

Aksa
Aksa
Transkri IP
Transkri IP
ra
ra
psi
A
psi
A
Bali
Bali

Kantya

[a]

[
A kara
]

Talawya

[i]

[i] I kara

Murdhan
ya

[ ]

[ ] Ra repa

Dantya

[l ]

[l ] La lenga

Osthya

[u]

[u
U kara
]

Kanthyatalawya

[e]
;
[]

Ai

E kara (E)
[aj
Airsanya (
]
Ai)

[o]
O kara (O)
[au
;
Au
Au
]
[]
kara (Au)
Nama untuk aksara dirgha dibuat dengan dengan menambahkan kata tedung setelah
nama hresua-nya, seperti a kara tedung dan i kara tedung, dengan pengecualian /e/ dan /o/
panjang yang menjadi sebuah diftong.
Kanthyaosthya

15

2.2.4 Pangangge
Pangangge (lafal: /page/) atau dalam bahasa Jawa disebut sandhangan, adalah
lambang yang tidak dapat berdiri sendiri, ditulis dengan melekati suatu aksara
wianjanamaupun aksara suara dan memengaruhi cara membaca dan menulis aksara Bali.
Ada berbagai jenis pangangge, antara lain pangangge suara, pangangge
tengenan (lafal:/tt nan/), dan pangangge aksara.
2.2.4.1 Pangangge suara
Bila suatu aksara wianjana (konsonan) dibubuhi pangangge aksara suara (vokal),
maka cara baca aksara tersebut akan berubah. Contoh: huruf Na dibubuhi ulu dibaca
Ni; Kadibubuhi suku dibaca Ku; Ca dibubuhi taling dibaca C. Untuk huruf Ha ada
pengecualian. Kadangkala bunyi /h/ diucapkan, kadangkala tidak. Hal itu tergantung pada
kata dan kalimat yang ditulis.

Warga aksara

Suara
hresua
(vokal
pende
k)

Alfabet
Letak
Fonetis
penulis Nama
Internasio
an
nal

[]

di atas
huruf

[a]

di
belakan tedung
g huruf

Suara
hresua
(vokal
pende
k)

[i]

di atas
huruf

ulu

Suara
dirgha
(vokal
panjan
g)

[i]

di atas
huruf

ulu sari

Kanthya
(tenggorok
an)
Suara
dirgha
(vokal
panjan
g)

Talawya
(langitlangit
lembut)

Hur
Aksa
uf
ra
Lati
Bali
n

e;

16

pepet

Suara
hresua
(vokal
Murdhany pende
a
k)
(langitSuara
langit
dirgha
keras)
(vokal
panjan
g)
Suara
hresua
(vokal
pende
k)
Dantya
(gigi)

Osthya
(bibir)

re; r [r]

di
bawah
huruf

guwung macelek

kombinas
i di
belakang
dan
bawah
huruf

guwung
macelek matedung

[r]

le; l [l]

kombin
asi di
gantungan
atas dan
La mapepet
bawah
huruf

Suara
dirgha
(vokal
panjan
g)

[l]

kombin
asi di
atas,
gantungan
bawah, La mapepet lanmate
dan
dung
belakan
g huruf

Suara
hresua
(vokal
pende
k)

[u]

di
bawah
huruf

suku

[u]

di
bawah
huruf

suku ilut

[e]; []

di
depan
huruf

taling

di
depan
huruf

taling detya

Suara
dirgha
(vokal
panjan
g)

Suara
hresua
Kanthya- (vokal
pende
talawya
(tenggorok k)
an &
langitSuara
langit
dirgha
lembut)
(vokal
panjan
g)

e;

e; ai [e]; [ai]

17

Suara
hresua
(vokal
pende
k)

Kanthyaosthya
(tenggorok
an & bibir) Suara
dirgha
(vokal
panjan
g)

[o]; []

o; au [o]; [au]

mengap
taling tedung
it huruf

mengap taling
it huruf detya matedung

2.2.4.2 Pangangge tengenan


Pangangge tengenan (kecuali adeg-adeg) merupakan aksara wianjana yang bunyi
vokal /a/-nya tidak ada. Pangangge tengenan terdiri dari: bisah, cecek, surang, dan adegadeg. Jika dibandingkan dengan aksara Dewanagari, tanda bisah berfungsi sama seperti
tanda wisarga; tanda cecek berfungsi seperti tanda anusuara; tanda adeg-adeg berfungsi
seperti tanda wirama.
Simbol

Alfabet Fonetis
Internasional

Letak penulisan

Nama

[h]

di belakang huruf

bisah

[r]

di atas huruf

surang

[]

di atas huruf

cecek

di belakang huruf

adeg-adeg

2.2.4.3 Pangangge aksara

18

Pangangge aksara letaknya di bawah aksara wianjana. Pangangge


aksara (kecuali La) merupakan gantungan aksara ardhasuara. Pangangge aksara terdiri
dari:
Simbol

Alfabet Fonetis
Internasional

Nama

[r]

guwung/cakra

[w]

suku kembung

[j]

nania

2.2.4.3 Gantungan
Karena adeg-adeg tidak boleh dipasang di tengah dan kalimat, maka agar aksara
wianjana bisa "mati" (tanpa vokal) di tengah kalimat
dipakailah gantungan. Gantunganmembuat aksara wianjana yang dilekatinya tidak bisa lagi
diucapkan dengan huruf "a", misalnya aksara Na dibaca /n/; huruf Ka dibaca /k/, dan
sebagainya. Dengan demikian, tidak ada vokal /a/ pada aksara wianjana seperti semestinya.
Setiap aksara wianjana memiliki gantungan tersendiri. Untuk "mematikan"
suatu aksara dengan menggunakan gantungan, aksara yang hendak dimatikan harus
dilekatkan dengan gantungan. Misalnya jika menulis kata "Nda", huruf Na harus dimatikan.
Maka, huruf Na dilekatkan dengan gantungan Da. Karena huruf Na dilekati oleh gantungan
Da, maka Na diucapkan /n/.
Gantungan dan pangangge diperbolehkan melekat pada satu huruf yang sama, namun
bila dua gantungan melekat di bawah huruf yang sama, tidak diperbolehkan. Kondisi dimana
ada dua gantungan yang melekat di bawah suatu huruf yang sama disebut tumpuk telu (tiga
tumpukan). Untuk menghindari hal tersebut maka penggunaan adeg-adegdi tengah kata
diperbolehkan.
2.2.4.4 Pasang pageh
Dalam lontar, kakawin dan kitab-kitab dari zaman Jawa-Bali Kuno banyak ditemukan
berbagai aksara wianjana khusus, beserta gantungannya yang istimewa.
Penulisan aksaraseperti itu disebut pasang pageh, karena cara penulisannya memang
demikian, tidak dapat diubah lagi.[8] Aksara-aksara tersebut juga memiliki nama, misalnya Na
rambat, Ta latik, Ga gora, Ba kembang, dan sebagainya. Hal itu disebabkan karena
setiap aksara harus diucapkan dengan intonasi yang benar, sesuai dengan nama aksara
19

tersebut. Namun kini ucapan-ucapan untuk setiap aksara tidak seperti dulu.[9] Aksara
mahaprana (hembusan besar) diucapkan sama seperti aksara alpaprana (hembusan
kecil). Aksara dirgha (suara panjang) diucapkan sama seperti aksara hrasua (suara
pendek). Aksara usma (desis) diucapkan biasa saja. Meskipun cara pengucapan sudah tidak
dihiraukan lagi dalam membaca, namun dalam penulisan, pasang pageh harus tetap
diperhatikan.

Pasang pageh berguna untuk membedakan suatu homonim. Misalnya:


Aksara Bali

Aksara Latin
(IAST)

Arti

asta

adalah

astha

tulang

as t a

delapan

pada

tanah, bumi

pda

kaki

padha

sama-sama

2.2.4.4 Aksara maduita

20

Aksara maduita khusus digunakan pada bahasa serapan. Umumnya orang


Bali menyerap kata-kata dari bahasa Sanskerta dan Kawi untuk menambah kosakata. Contoh
penggunaan aksara maduita:
Aksara Bali

Aksara Latin
(IAST)

Arti

Buddha

Yang telah sadar

Yuddha

perang

Bhinna

beda

Dengan melihat contoh di atas, ternyata ada huruf konsonan yang ditulis dua kali. Hal
tersebut merupakan ciri-ciri aksara maduita.

2.2.4.5 Angka
Aks
Aks
ara
ara
Lati
Bali
n

Nama
(dalam
bhs.
Bali)

Aks
Aks
ara
ara
Lati
Bali
n

Nama
(dala
mbhs.
Bali)

Bindu/
Windu

Lima

Siki/Bes
ik

Nem

Kalih/D
ua

Pitu

Tiga/Tel
u

Kutus

Papat

Sanga/
Sia

21

Menulis angka dengan menggunakan angka Bali sangat sederhana, sama seperti
sistem dalam aksara Jawa dan Arab. Bila hendak menulis angka 10, cukup dengan menulis
angka 1 dan 0 menurut angka Bali. Demikian pula jika menulis angka 25, cukup menulis
angka 2 dan 5. Bila angka ditulis di tengah kalimat, untuk membedakan angka dengan huruf
maka diwajibkan untuk menggunakan tanda carik, di awal dan di akhir angka yang ditulis.
Di bawah ini contoh penulisan tanggal dengan menggunakan angka Bali (tanggal: 1 Juli
1982; lokasi: Bali):

Aksara Bali

Transliterasi dengan Huruf Latin


Bali, 1 Juli 1982.

Pada contoh penulisan di atas, angka diapit oleh tanda carik untuk membedakannya dengan
huruf.

2.2.4.6 Tanda baca dan aksara khusus


Ada beberapa aksara khusus dalam aksara Bali. Beberapa di antaranya merupakan
tanda baca, dan yang lainnya merupakan simbol istimewa karena dianggap keramat.
Beberapa di antaranya diuraikan sebagai berikut:
Simbol Nama

Keterangan

Ditulis pada akhir kata di tengah kalimat. Fungsinya sama


Carik atau Carik
dengan koma dalam huruf Latin. Dipakai juga untuk mengapit
Siki.
aksara anceng.
Carik Kalih atau Ditulis pada akhir kalimat. Fungsinya sama
Carik Pareren.
dengan titik dalam huruf Latin.
Carik
pamungkah.

Dipakai pada akhir kata. Fungsinya sama dengan tanda titik


dua pada huruf Latin.

Pasalinan.

Dipakai pada akhir penulisan karangan, surat dan sebagainya.


Pada geguritan bermakna sebagai tanda pergantian tembang.

Panten atau
Panti.

Dipakai pada permulaan suatu karangan, surat dan sebagainya.

22

Pamada.

Dipakai pada awal penulisan. Tujuannya sama dengan


pengucapan awighnamastu, yaitu berharap supaya apa yang
dikerjakan dapat berhasil tanpa rintangan.

Ongkara.

Simbol suci umat Hindu. Simbol ini dibaca "Ong" atau "Om".

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesusastraan Bali adalah hasil karya atau cipta seorang pengarang atau pujangga yang
menceritakan dinamika kehidupan masyarakat Bali serta mengandung nilai estetika yang
menggunakan bahasa sebagai mediumnya.
Kesusastraan bali dibagi berdasarkan bentuk, berdasarkan waktu, berdasarkan cara
penuturan dan berdasarkan bahasa. Contoh-contoh kesusastraan bali antara lain yaitu
kekawin, pupuh, puisi, cerpen, satua, gending rare, lagu pop dan lain-lain. Tujuan
mempelajari kesusastraan yaitu untuk memudahkan membaca atau mempelajari isi
kesusastraan. Yang kedua untuk mengetahhui sejarah Bali tempo dulu dan yang terakhir yaitu
untuk menghibur diri.
3.2 Saran
Sedikit mengenyampingkan tugas ini, kami lebih menekankan makalah ini sebagai
salah satu ujud keprihatinan mendalam pada kesusastraan dan aksara local . Padahal
kebudayaan lokal adalah unsur terpenting dari dibangunnya peradaban yang lebih
pemahaman budaya setempat yang baik.
23