Anda di halaman 1dari 21

1

ADAT-ISTIADAT DALAM PERGAULAN ORANG MELAYU


Oleh : Wan Ghalib
Orang Melayu mengaku identitas kepribadiannya yang utama adalah
adat istiadat Melayu, dan agama Islam.Dengan demikian, seseorang
yang mengaku dirinya orang Melayu harus beradat-istiadat Melayu,
berbahasa Melayu, dan beragama Islam.Dari tiga ciri utama
kepribadian orang Melayu tersebut, yang menjadi pondasi pokok adalah
agama Islam, karena agama Islam menjadi sumber adat-istiadat
Melayu.Oleh karena itu, adat-istiadat Melayu Riau bersendikan syarak
dan syarak bersendikan kitabullah. Dalam bahasa Melayu berbagai
ungkapan, pepatah, perumpamaan, pantun, syair, dan sebagainya
menyiratkan norma sopan-santun dan tata pergaulan orang Melayu.
1. Pendahuluan
Orang Melayu menetapkan identitasnya dengan tiga ciri pokok, yaitu
berbahasa Melayu, beradat-istiadat Melayu, dan beragama Islam.
Dalam makalah ini, penulis akan mengemukakan beberapa hal pokok
yang berkaitan dengan adat istiadat Melayu Riau.
Seperti diketahui bersama, segala hal yang bersangkutan dengan adatistiadat Melayu belum banyak ditulis atau dicatat dengan jelas.Sejak
dulu segala ketentuan adat-istiadat disampaikan dari satu generasi ke
generasi berikutnya secara lisan.Saat ini ketentuan adat yang
disampaikan hanya terbatas pada adat sopan-santun saja.Untuk dapat
memahami adat-istiadat yang berlaku dalam pergaulan, perlu diketahui
sumbernya terlebih dahulu, yaitu adat yang disebut adat yang sebenar
adat. Sebelumnya, akan dibahas pengertian adat.
Buku yang membahas tentang adat sangat banyak, baik yang ditulis
oleh ahli Indonesia sendiri maupun ahli asing. Kata adat juga
tercantum dalam kamus-kamus Indonesia (baca: Melayu) dan
ensiklopedi-ensiklopedi. Akan tetapi, penulis berpendapat bahwa semua
buku itu belum dapat menjelaskan adat secara tuntas dan
fundamental.
2. Pengertian Adat Secara Umum
Banyak orang keliru mengartikan adat, terutama generasi muda. Adat
diartikan sama dengan kebiasaan lama dan kuno. Kalau mendengar
kata adat, maka yang terbayang dalam khayalan adalah orang tua
berpakaian daerah, upacara perkawinan, atau upacara-upacara

lainnya. Oleh karena itu, jangan heran jika media massa pun sering
keliru, sehingga pakaian daerah disebut pakaian adat atau rumah yang
berbentuk khas daerah disebut rumah adat. Tegasnya, apa yang
berbentuk tradisional dianggap adat.

Dalam Ensiklopedi Umum, kata adat diartikan sebagai:


Aturan-aturan tentang beberapa segi kehidupan manusia yang tumbuh
dari usaha orang dalam suatu daerah yang terbentuk di Indonesia
sebagai kelompok sosial untuk mengatur tata tertib tingkah-laku
anggota masyarakatnya. Di Indonesia, aturan-aturan tentang segi
kehidupan manusia itu menjadi aturan hukum yang mengikat dan
disebut hukum adat (Yayasan Kanisius, 1973).
Pengertian adat di sini sangat terbatas, karena hanya berupa aturanaturan tentang beberapa segi kehidupan. Hal ini berbeda dengan
pendapat Prof. Dr. J. Prins yang mengatakan, De adat overheerste tot
voor kort alle terrein van het leven juist wat de plichtenleer idealiter
beoogt te doen (Prins, 1954). Pendapat Prins ini lebih mendekati
pengertian yang sebenarnya, karena ia mengatakan bahwa adat
meliputi semua segi kehidupan dan hanya untuk jangka waktu yang
singkat.
Ensiklopedi Indonesia memberikan uraian yang lebih panjang, tetapi
sulit untuk diambil kesimpulan.Kata adat berasal dari bahasa Arab urf
dan Islam telah memberikan corak khusus dalam ketentuan-ketentuan
adat dalam lingkungan pemeluk agama Islam.
Pengertian adat di Riau sendiri adalah ketentuan-ketentuan yang
mengatur tingkah-laku dan hubungan antara anggota masyarakat
dalam segala segi kehidupan.Oleh karena itu, adat merupakan hukum
tidak tertulis dan sekaligus sebagai sumber hukum.Sebelum hukum
Barat masuk ke Indonesia, adat adalah satu-satunya hukum rakyat
yang kemudian disempurnakan dengan hukum Islam, sehingga disebut
adat bersendikan syarak. Menyatunya adat Melayu dengan hukum
syarak diperkirakan terjadi setelah Islam masuk ke Malaka pada akhir
abad ke-14, sebagaimana diungkapkan Tonel (1920):
Adat Melayu pada mulanya berpangkal pada adat-istiadat Melayu yang
digunakan dalam negeri Tumasik, Bintan, dan Malaka.Pada zaman
Malaka, adat itu menjadi Islam karena rajanya pun telah memeluk
Islam.

Ketentuan-ketentuan hukum syarak telah dianggap sebagai adat yang


dipatuhi oleh anggota masyarakat, sehingga sukar untuk membedakan
ketentuan-ketentuan yang berasal dari adat murni dan ketentuanketentuan yang berasal dari hukum syarak.
3. Adat Dalam Masyarakat Melayu Riau
Adat yang berlaku dalam masyarakat Melayu di Riau bersumber dari
Malaka dan Johor, karena dahulu Malaka, Johor, dan Riau merupakan
Kerajaan Melayu dan adatnya berpunca dari istana, seperti disebutkan
Tonel (1920) dalam bagian lain seperti berikut:
Maka segala adat-istiadat Melayu itu pun sah menurut syarak Islam
dan syariat Islam. Adat-istiadat itulah yang turun-temurun berkembang
sampai ke negeri Johor, negeri Riau, negeri Indragiri, negeri Siak, negeri
Pelalawan, dan sekalian negeri orang Melayu adanya. Segala adat yang
tidak bersendikan syariat Islam salah dan tidak boleh dipakai lagi.Sejak
itu, adat-istiadat Melayu disebut adat bersendi syarak yang berpegang
kepada kitab Allah dan sunah Nabi.
Dalam bagian lain juga dikatakan:
Adapun negeri Indragiri setelah Raja Narasinga masuk Islam sebab
dimenantukan oleh Sultan Mahmudsyah, Sultan Malaka, maka raja itu
pun dirajakan di Indragiri. Mulanya ia ditolak oleh orang Indragiri,
namun karena kedatangan orang Talang di sana yang mengangkatnya
sebagai raja, maka mufakatlah mereka membuat perjanjian. Perjanjian
itu menyatakan bahwa orang Talang mengaku sebagai rakyat
Indragiri.Raja pun memberi tahu mereka tentang adat Melayu, sehingga
mereka mufakat untuk memakai adat itu kala mereka hidup di dalam
negeri Indragiri.Di dalam kampungnya, mereka tetap memakai adat
mereka.Dengan demikian asal mula adat di negeri Siak dan negeri
Pelalawan itu adalah dari Johor jua.Apabila Raja Kecik menjadikan
dirinya raja di negeri Siak yang disebut Buantan, maka adat itulah yang
dipakainya, yang kemudian diwariskan ke semua anak cucunya, dan
daerah taklukannya (Tonel, 1920).
Walaupun kutipan-kutipan di atas diambil dari naskah tulisan tangan
yang belum diterbitkan, tetapi keterangan tersebut dapat dipercaya,
karena kenyataan yang dijumpai memang demikian.
Adat Melayu di Riau dapat dibagi dalam tiga tingkatan, yaitu adat
sebenar adat, adat yang diadatkan, dan adat yang teradat.

a. Adat Sebenar Adat


Yang dimaksud dengan adat sebenar adat adalah prinsip adat Melayu
yang tidak dapat diubah-ubah.Prinsip tersebut tersimpul dalam adat
bersendikan syarak.Ketentuan-ketentuan adat yang bertentangan
dengan hukum syarak tidak boleh dipakai lagi dan hukum syaraklah
yang dominan. Dalam ungkapan dinyatakan:
Adat
Adat
Adat
Adat
Adat
Adat

berwaris kepada Nabi


berkhalifah kepada Adam
berinduk ke ulama
bersurat dalam kertas
tersirat dalam sunah
dikungkung kitabullah

Itulah adat yang tahan banding


Itulah adat yang tahan asak
Adat terconteng di lawang
Adat tak lekang oleh panas
Adat tak lapuk oleh hujan
Adat dianjak layu diumbut mati
Adat ditanam tumbuh dikubur hidup
Kalau tinggi dipanjatnya
Bila rendah dijalarnya
Riaknya sampai ke tebing
Umbutnya sampai ke pangkal
Resamnya sampai ke laut luas
Sampai ke pulau karam-karaman
Sampai ke tebing lembak-lembakan
Sampai ke arus yang berdengung
Kalau tali boleh diseret
Kalau rupa boleh dilihat
Kalau rasa boleh dimakan
Itulah adat sebenar adat
Adat turun dari syarak
Dilihat dengan hukum syariat
Itulah pusaka turun-temurun

Warisan yang tak putus oleh cencang


Yang menjadi galang lembaga
Yang menjadi ico dengan pakaian
Yang digenggam di peselimut
Adat yang keras tidak tertarik
Adat lunak tidak tersudu
Dibuntal singkat, direntang panjang
Kalau kendur berdenting-denting
Kalau tegang berjela-jela
Itulah adat sebenar adat
Dari ungkapan di atas jelas terlihat betapa bersebatinya adat Melayu
dengan ajaran Islam. Dasar adat Melayu menghendaki sunah Nabi dan
Al Quran sebagai sandarannya.Prinsip itu tidak dapat diubah, tidak
dapat dibuang, apalagi dihilangkan, itulah yang disebut adat sebenar
adat.
b. Adat yang Diadatkan
Adat yang diadatkan adalah adat yang dibuat oleh penguasa pada
suatu kurun waktu dan adat itu terus berlaku selama tidak diubah
oleh penguasa berikutnya.Adat ini dapat berubah-ubah sesuai dengan
situasi dan perkembangan zaman, sehingga dapat disamakan dengan
peraturan pelaksanaan dari suatu ketentuan adat. Perubahan terjadi
karena menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan
perkembangan pandangan pihak penguasa, seperti kata pepatah
Sekali air bah, sekali tepian beralih. Dalam ungkapan disebutkan:
Adat
Adat
Adat
Adat
Adat

yang
yang
yang
yang
yang

diadatkan
turun dari raja
datang dari datuk
cucur dari penghulu
dibuat kemudian

Putus mufakat adat berubah


Bulat kata adat berganti
Sepanjang hari ia lekang
Beralih musim ia layu
Bertuhan angin ia melayang
Bersalin baju ia tercampak
Adat yang dapat dibuat-buat

(Nyanyian Panjang dan Bilang Undang)


Panuti H. M. Sujiman (1983) menyebutkan syarat dan sifat manusia
yang baik dan ideal berdasarkan pandangan adat Melayu adalah
sebagai berikut:
Adapun syarat menjadi raja sekurang-kurangnya memenuhi empat
perkara, pertama tua hati betul, kedua bermuka manis, ketiga berlidah
fasih, dan keempat bertangan murah. Demikian syarat bagi semua
raja.Hukum terdiri atas empat perkara juga, pertama hukum yang adil,
kedua hukum mengasihani, ketiga hukum kekerasan, dan keempat
berani.
Selanjutnya petuah-petuah yang diajarkan oleh Raja Ali Haji dalam
Gurindam Dua Belas juga memberikan bimbingan bagi anggota
masyarakat Melayu tentang seharusnya orang Melayu bersikap dan
bertingkah-laku
sesuai
dengan
yang
diinginkan
oleh
adat
Melayu.Gurindam Dua Belas memuat dua belas pasal. Sebagai
gambaran, berikut kutipan pasalnya :
Pasal lima
Jika hendak mengenal orang yang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia
sangat memeliharakan yang sia-sia
Jika hendak mengenal orang yang mulia
Lihat kepada kelakuan dia
Jika hendak mengenal orang berilmu
bertanya dan belajar tidaklah jemu
Jika hendak mengenal orang yang berakal
di dalam dunia mengambil bekal
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai
Lihat kepada ketika bercampur dengan orang ramai
Pasal dua belas
Raja bermufakat dengan menteri
seperti kebun berpagar duri
Betul hati kepada raja
tanda jadi sembarang kerja
Hukum adil kepada rakyat

tanda raja beroleh inayat


Kasihkan orang yang berilmu
tanda rahmat atas dirimu
Hormat akan orang pandai
tanda mengenal kasa dan cindai
Selanjutnya para penguasa (raja) mengatur hak dan kewajiban para
kawula menurut tingkat sosial mereka. Hak-hak istimewa raja dan para
pembesar diatur dan diwujudkan dalam bentuk rumah, bentuk dan
warna pakaian, kedudukan dalam upacara-upacara, dan larangan bagi
rakyat biasa untuk memakai atau mempergunakan jenis yang sama.
Dengan demikian tercipta ketentuan-ketentuan yang berisi suruhan
dan pantangan.Di samping itu juga tercipta kelas-kelas dalam
masyarakat yang pada umumnya terdiri dari raja dan anak raja-raja,
orang baik-baik, dan orang kebanyakan. Stratifikasi sosial dalam
masyarakat Melayu itu telah menciptakan hak dan kewajiban yang
berbeda bagi tiap-tiap tingkatan, sebagaimana kutipan berikut:
Pasal menyatakan, adat Raja-raja Melayu yang tidak boleh dipakai oleh
orang luar yaitu, rumah yang bersayap layang atau jamban dan pagar
kampung yang di atasnya tertutup; rumah beranak keluang dan rumah
yang tengahnya berpintu sama; geta yang bersulur bayung lima, tilam
berulas kuning, dan memakai bantal yang bersibar kuning; tikar
berhuma kuning dan baju pandakpun, yaitu baju lepas kuning; tilam
pandak dan tudung hidangan kuning; sapu tangan tuala kuning;
memakai kain yang tipis berbayang-bayang; tidak boleh memakai
payung di depan istana raja dan tidak boleh berhasut pada majelis balai
raja; tiada boleh membuang sapu tangan kepala di hadapan raja; tidak
boleh duduk bertelekan di hadapan raja; tiada boleh melintangkan
keris ketika menghadap raja; tidak boleh memakai hulu keris panjang
yang tutupnya berkunam; tidak boleh membawa senjata yang tidak
bersarung ke hadapan raja besar; di hadapan raja jangan banyak
tertawa-tawa dan berkipas-kipas; jangan menyangkutkan kain, baju,
atau sapu tangan di atas bahu di hadapan raja; tatkala duduk pada
majelis, jangan menentang kepada raja; jika raja menyorongkan sesuatu
(makanan atau piala minuman), hendaknya segera disambut dan
diletakkan ke bawah, kemudian disembah kewah duli seraya duduk
undur pada tempat kita sambil memberi hormat. Baru kita minum atau
makan.Sebenarnya tidak seperti itu adabnya, melainkan makanlah
dengan laku yang sederhana.Jika menerima pakaian dari baginda
sendiri atau dibawa oleh pegawainya, hendaknya pakailah pakaian itu
di hadapan majelis baginda, serta memberi hormat kepada raja. Jika

tidak kita pakai pun boleh, akan tetapi menurut Melayu disebut kurang
adab (Sujiman, 1983).
Contoh lain penulis kutip dari kitab Babul Qawaaid (1901) dari
Kerajaan Siak Sri Indrapura:
Pasal empat
Kuasa melarang orang yang hendak menghadap Sri Paduka Sultan
jikalau orang itu naik sahaja tidak memberi tahu kepada Penghulu
Balai waktu Sri Paduka Sultan bersemayam.
Pasal lima
Kuasa melarang dengan keras kepada sekalian orang besar- besar,
datuk-datuk, pegawai-pegawai, jurutulisjurutulis yang bekerja datang
ke balai tiada memakai baju kot, seluar pentalon, sepatu, dan kupiah.
Pasal tujuh
Jikalau hamba rakyat atau siapa juga tiada dikecualikan orangnya
hendak menghadap atau datang ke balai tiada boleh berkain gumbang
seperti yang tersebut dalam Ingat Jabatan bahagian yang kesebelas
pada pasal lima, maka jika berkain gumbang kuasa Penghulu Balai
menghalaunya dikecuali jikalau orang terkejut di tengah jalan karena
hendak meminta pertolongan kepada polisi apa-apa kesusahannya.
Ungkapan-ungkapan yang dikemukakan di atas adalah adat yang
diadatkan.Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa adat mengalami
perubahan dan perkembangan sesuai dengan kemajuan zaman.Seorang
tokoh ideal di zaman Malaka ialah orang yang telah memenuhi empat
sifat dan empat syarat. Empat sifat dan empat syarat itu di zaman
Kerajaan Riau telah disempurnakan oleh Raja Ali Haji dengan
Gurindam Dua Belas yang terdiri dari dua belas pasal dan tiap-tiap
pasal menggambarkan beberapa sifat baik dan tidak baik. Ukuran
sopan-santun pada zaman Kerajaan Malaka telah berkembang pada
zaman Kerajaan Siak Sri Indrapura yang menetapkan bahwa semua
pejabat kerajaan diharuskan berpakaian sesuai perkembangan zaman,
yaitu baju kot dan seluar pantalon.
Dalam perjalanan sejarah adat-istiadat Melayu, adat yang diadatkan
mengalami berbagai perubahan dan variasi.Hampir dapat dipastikan
bahwa adat ini merupakan adat yang paling banyak ragamnya, sesuai
dengan wilayah tumbuh dan berkembangnya.Adat yang diadatkan
yang terdapat di daerah Riau beragam, karena di daerah Riau pernah

terdapat kerajaan-kerajaan yang tersebar dari kepulauan sampai ke


hulu-hulu sungai. Setiap kerajaan tentu mempunyai corak dan
variasinya yang disesuaikan dengan kondisi dan latar belakang sejarah,
serta pengaruh yang masuk ke sana.
Jika adat yang diadatkan di seluruh wilayah Provinsi Riau dibahas
secara mendalam, akan dijumpai perbedaan dan persamaan antara
kerajaan-kerajaan tersebut. Akan tetapi, perbedaannya hanya terbatas
dalam masalah tingkat adat saja, sedangkan adat sebenar adat tetap
sama. Demikian pula dengan ketentuan-ketentuan dalam upacara,
seperti dalam upacara nikah kawin, upacara yang menyangkut daur
hidup, dan sebagainya.
c. Adat yang Teradat
Adat ini merupakan konsensus bersama yang dirasakan baik, sebagai
pedoman dalam menentuhan sikap dan tindakan dalam menghadapi
setiap
peristiwa
dan
masalah-masalah
yang
dihadapi
oleh
masyarakat.Konsensus itu dijadikan pegangan bersama, sehingga
merupakan kebiasaan turun-temurun.Oleh karena itu, adat yang
teradat ini pun dapat berubah sesuai dengan nilai-nilai baru yang
berkembang.Tingkat adat nilai-nilai baru yang berkembang ini
kemudian disebut sebagai tradisi. Dalam ungkapan disebutkan:
Adat yang teradat
Datang tidak bercerita
Pergi tidak berkabar
Adat disarung tidak berjahit
Adat berkelindan tidak bersimpul
Adat berjarum tidak berbenang
Yang
Yang
Yang
Yang

terbawa burung lalu


tumbuh tidak ditanam
kembang tidak berkuntum
bertunas tidak berpucuk

Adat yang datang kemudian


Yang diseret jalan panjang
Yang betenggek di sampan lalu
Yang berlabuh tidak bersauh
Yang berakar berurat tunggang

10

Itulah adat sementara


Adat yang dapat dialih-alih
Adat yang dapat ditukar salin
Pelanggaran terhadap adat ini sanksinya tidak seberat kedua tingkat
adat yang disebutkan di atas.Jika terjadi pelanggaran, maka orang yang
melanggar hanya ditegur atau dinasihati oleh pemangku adat atau
orang-orang yang dituakan dalam masyarakat.Namun, si pelanggar
tetap dianggap sebagai orang yang kurang adab atau tidak tahu
adat.Ketentuan
adat
ini
biasanya
tidak
tertulis,
sehingga
pengukuhannya dilestarikan dalam ungkapan yang disebut pepatah
adat atau undang adat.Apabila terjadi kasus, maka diadakan
musyawarah.Dalam musyawarah digunakan ungkapan adat yang
disebut bilang undang. Hal ini dijelaskan dalam ungkapan berikut:
Rumah ada adatnya
Tepian ada bahasanya
Tebing ditingkat dengan undang
Negeri dihuni dengan lembaga
Kampung dikungkung dengan adat
Kayu besar berkayu kecil
Kayu kecil beranak laras
Laut seperintah raja
Rantau seperintah datuk
Luhak seperintah penghulu
Ulayat seperintah batin
Anak rumah tangga rumah
Berselaras tangga turun
Bertelaga tangga naik
Pusaka banyak pusaka
Pusaka di atas tumbuh
Hilang adat karena dibuat
Hilang lembaga karena diikat
Selanjutnya bilang undang itu mempunyai sifat-sifat petunjuk, seperti
yang tersirat dalam ungkapan berikut:

11

Hukum sipalu palu ular


Ular dipalu tidak mati
Kayu pemalu tidak patah
Rumput dipalu tidak layu
Tanah terpalu tidak lembang
Hukum jatuh benar terletak
Gelak berderai timbal balik
Undang menarik rambut dalam tepung
Rambut ditarik tidak putus
Tepung tertarik tidak berserak
Minta
Minta
Minta
Minta
Minta
Minta

wasiat kepada yang tua


petuah kepada yang alim
akal kepada yang cerdik
daulat kepada raja
suara kepada enggang
kuat kepada gajah

Yang hesat diampelas


Yang berbongkol ditarah
Yang keruh dijernihkan
Yang kusut diuraikan
Dari uraian dapat disimpulkan bahwa ketentuan-ketentuan adat yang
lebih dikenal sebagai hukum tidak tertulis telah diwariskan dalam
bentuk undang-undang, ungkapan, atau pepatah-petitih.
4. Adat-Istiadat Dalam Pergaulan Orang Melayu Di Riau
Bertolak dari dasar pemikiran diadakannya Seminar Kebudayaan
Melayu ini, penulis mencoba mengemukakan pemikiran sebagai
sumbangan dalam penyempurnaan tata-pergaulan nasional. Berikut
satu alenia yang menjadi dasar pemikiran tersebut:
Interaksi sosial antara sesama warga negara dalam masyarakat
majemuk itu menuntut kerangka rujukan (term of reference) maupun
mekanisme pengendali yang mampu memberikan arah dan makna
kehidupan bermasyarakat, yaitu kebudayaan yang dapat menjembatani
pergaulan sesama warga negara secara efektif.

12

Adat-istiadat yang merupakan pola sopan-santun dalam pergaulan


orang Melayu di Riau sebenarnya sudah lama menjadi pola pergaulan
nasional sesama warga negara.Bahasa Melayu yang telah menjadi
bahasa nasional Indonesia mengikutsertakan pepatah, ungkapan,
peribahasa, pantun, seloka, dan sebagainya yang hidup dalam
masyarakat Melayu menjadi milik nasional dan dipahami oleh semua
warga negara Indonesia. Ajaran, tuntunan, dan falsafah yang diajarkan
melalui pepatah, peribahasa, dan sebagainya itu telah membudaya di
seluruh Indonesia, sehingga tidak mudah untuk mengidentifikasi
pepatah dan peribahasa yang berasal dari Melayu dan yang bukan dari
Melayu.
Dalam masyarakat Melayu di Riau, sikap dan tingkah-laku yang baik
telah diajarkan sejak dari buaian hingga dewasa.Sikap itu diajarkan
secara lisan dan dikembangkan melalui tulisan-tulisan. Raja Ali Haji,
pujangga besar Riau telah banyak meninggalkan ajaran-ajaran seperti
Gurindam Dua Belas, Samaratul Muhimmah, dan manuskripmanuskrip lainnya.
Sopan-santun dalam pergaulan sesama masyarakat menyangkut
beberapa hal, yaitu tingkah-laku, tutur-bahasa, kesopanan berpakaian,
serta sikap menghadapi orang tua/orang sebaya, orang yang lebih
muda, para pembesar, dan sebagainya.Tingkah-laku yang terpuji adalah
yang bersifat sederhana.Pola hidup sederhana yang dicanangkan oleh
pemerintah Republik Indonesia sejalan dengan sifat ideal orang Melayu.
Sebagaimana penggalan dalam kitab Adat Raja-raja Melayu:
Syahdan maka lagi adalah yang dikehendaki oleh istiadat orang Melayu
itu dan dibilang orang yang majelis yaitu apabila ada ia mengada ia atas
sesuatu kelakuan melainkan dengan pertengahan jua adanya. Yakni
daripada segala kelakuan dan perbuatan dan pakaian dan perkataan
dan makanan dan perjalanannya, sekalian itu tiada dengan berlebihlebihan dan dengan kekurangan, melainkan sekaliannya itu diadakan
dengan keadaan yang sederhana jua adanya.Maka orang itulah yang
dibilang anak yang majelis. Tambahan pula dengan adab pandai ia
menyimpan dirinya. Maka tambah-tambahlah landib atau sindib
adanya, seperti kata hukuman, Hendaklah kamu hukumkan
kerongkongan kamu tatkala dalam majelis makan, dan hukumkan
matamu tatkala melihat perempuan, dan tegahkan lidahmu dan pada
banyak perkataan yang siasia dan tulikan telingamu dan pada
perkataan-perkataan yang keji-keji. Maka apabila sampailah seseorang
kepada segala syarat ini ia itulah orang yang majelis namanya (Sujiman,
1983).

13

Kesederhanaan memang sudah menjadi sifat dasar orang Melayu


sehingga
terkadang
karena
salah
bawa
menjadi
sangat
berlebihan.Kesederhanaan ini membawa sifat ramah dan toleransi yang
tinggi dalam pergaulan. Kesederhanaan ini digambarkan pula dalam
pepatah Mandi di hilir-hilir, berkata di bawah-bawah, Ibarat padi, kian
berisi kian runduk .
Gotong-royong dan seia sekata sangat dianjurkan. Banyak pepatah dan
ungkapan yang menjadi falsafah hidup orang Melayu bertahan sampai
sekarang, seperti misalnya:
Berat sama dipikul
Ringan sama dijinjing
Ke bukit sama mendaki
Ke lurah sama menurun
Hati gajah sama dilapah
Hati tungau sama dicecah
Hidup jelang-menjelang
Sakit jenguk-menjenguk
Lapang sama berlegar
Sempit sama berhimpit
Lebih beri-memberi
Kalau berjalan beriringan
Yang
Yang
Yang
Yang
Yang
Yang
Yang
Yang
Yang
Yang
Yang
Yang
Yang

dulu jangan menunjang


tengah jangan membelok
di belakang jangan menumit
lupa diingatkan
bengkok diluruskan
tidur dijagakan
salah tegur-menegur
rendah angkat-mengangkat
tinggi junjung-menjunjung
tua memberi wasiat
alim memberi amanat
berani memberi kuat
berkuasa memberi daulat

14

Kuat lidi karena diikat


Kuat hati karena mufakat
Ungkapan-ungkapan yang menyangkut kebersamaan masih sangat
banyak, karena masalah gotong royong dan kerukunan bersama
merupakan masalah penting dalam pergaulan orang Melayu.
Ungkapan-ungkapan itu antara lain tercermin dalam.
a. Tutur-Kata
Dalam bertutur dan berkata, banyak dijumpai nasihat, karena kata
sangat berpengaruh bagi keselarasan pergaulan, Bahasa menunjukkan
bangsa.Pengertian bangsa yang dimaksud di sini adalah orang baikbaik atau orang berderajat yang juga disebut orang berbangsa. Orang
baik-baik tentu mengeluarkan kata-kata yang baik dan tekanan
suaranya akan menimbulkan simpati orang. Orang yang menggunakan
kata-kata kasar dan tidak senonoh, dia tentu orang yang tidak
berbangsa atau derajatnya rendah.
Bahasa selalu dikaitkan dengan budi, oleh karena itu selalu disebut
budi bahasa. Dengan demikian, ketinggian budi seseorang juga diukur
dari kata-katanya, seperti ungkapan:
Hidup sekandang sehalaman
tidak boleh tengking-menengking
tidak boleh tindih-menindih
tidak boleh dendam kesumat
Pantang membuka aib orang
Pantang merobek baju di badan
Pantang menepuk air di dulang
Hilang budi karena bahasa
Habis daulat karena kuasa
Pedas lada hingga ke mulut
Pedas kata menjemput maut
Bisa ular pada taringnya
Bisa lebah pada sengatnya
Bisa manusia pada mulutnya

15

Bisa racun boleh diobat


Bisa mulut nyawa padannya
Oleh karena kata dan ungkapan memegang peran penting dalam
pergaulan, maka selalu diberikan tuntunan tentang kata dan ungkapan
agar kerukunan tetap terpelihara. Tinggi rendah budi seseorang diukur
dari cara berkata-kata. Seseorang yang mengeluarkan kata-kata yang
salah akan menjadi aib baginya, seperti kata pepatah Biar salah kain
asal jangan salah cakap.
b. Sopan-Santun Berpakaian
Dari pepatah Biar salah kain asal jangan salah cakap juga tercermin
bahwa salah kain juga merupakan aib.Dalam masyarakat Melayu,
kesempurnaan berpakaian menjadi ukuran bagi tinggi rendahnya
budaya seseorang. Makin tinggi kebudayaannya, akan semakin
sempurna pakaiannya. Selain itu, sopan-santun berpakaian menurut
Islam telah menyatu dengan adat.
Orang yang sopan, pakaiannya akan sempurna, tidak bertelanjang
dada, dan lututnya tidak terbuka, seperti dinyatakan dalam ungkapan:
Elok sanggam menutup malu
Sanggam dipakai helat jamu
Elok dipakai berpatut-patut
Letak tidak membuka aib
Orang Melayu sejak dahulu sudah mengenal mode, terbukti dengan
adanya berbagai jenis pakaian, baik pakaian pria maupun
wanita.Demikian pula perhiasan sebagai pelengkap berpakaian. Melayu
mengenal penutup kepala bagi lakilaki yang disebut tengkolok atau
tanjak dengan 42 jenis ikatan.
Pakaian daerah atau pakaian tradisonal Melayu bermacam-macam dan
cara memakainya pun disesuaikan dengan keperluan. Cara berpakaian
untuk ke pasar, ke masjid, bertandang ke rumah orang, atau ke majelis
perjamuan dan upacara ada etikanya sendiri-sendiri. Sebagai
intermezo, penulis sajikan beberapa ungkapan mengenai pakaian
(Effendy, 1985):
Seluar panjang semata kaki
Goyang bergoyang ditiup angina

16

Kibarnya tidak lebih sejengkal


Pesaknya tidak dalam amat
Elok sanggam menutup malu
Kalau melangkah tidak menyemak
Kalau duduk tidak menyesak
Kaki diberi awan-awanan
Berkelingking berbenang emas
Bayang membayang pucuk rebung
Tabur bertabur tampuk manggis
Elok dipakai dalam majelis
Sanggam dipakai helat jamu
Patut bertempat nikah kawin
Peratama disebut teluk belanga
Tebuk leher bertulang belut
Cengkam dijalin menjari lipan
Buah baju tunggal-tunggalan
Kalau bulat menelur burung
Kalau bertangkai memudung petai
Atau bermata bagai cincin
Labuhnya sampai segenggam tangan
Lebar dapat kipas berkipas
Lapang tidak menyangkut ranting
Kedua kain tenun-tenunan
Bertabuh berkepala emas
Tabur berserak bunga hutan
Kepala pekat berpucuk rebung
Dipakai dalam helat jamu
Dalam mejelis yang patut-patut
Kalau dibuat kain samping
Kepala kain sebelah kanan
Atau membelit kepala belakang
Kalau dipakai labuh-labuhan
Kepala terletak di belakang
Seperti yang telah penulis ungkapkan pada bagian depan, Kerajaan
Siak Sri Indrapura telah menetapkan cara berpakaian bagi para pejabat
yang bekerja di balai (kantor) dan cara berpakaian rakyat yang datang

17

ke balai dalam Babul Qawaid. Dari uraian tersebut dapat ditarik


kesimpulan bahwa dalam pergaulan orang Melayu di Riau, kesopanan
berpakaian tidak boleh diabaikan.
c. Adab dalam Pergaulan
Kerangka acuan adab dan sopan-santun dalam pergaulan adalah
norma Islam yang sudah melembaga menjadi adat. Di dalamnya
terdapat berbagai pantangan, larangan, dan hal-hal yang dianggap
sumbang.Pelanggaran dalam hal ini menimbulkan aib besar dan si
pelanggar dianggap tidak beradab.
Terdapat beberapa sumbang, yaitu sumbang dipandang mata, sumbang
sikap, dan sumbang kata yang pada umumnya disebut tidak
baik.Karakter anggota masyarakat dibentuk oleh norma-norma ini.
Dengan demikian tercipta pola sikap dalam pergaulan, seperti sikap
terhadap orang tua, terhadap ibu bapak, terhadap penguasa atau
pejabat, terhadap orang sebaya, terhadap orang yang lebih muda,
antara pria dan wanita, bertamu ke rumah orang, dalam upacara, dan
sebagainya. Banyak ungkapan yang kita jumpai di dalam masyarakat
Melayu yang digunakan sebagai tuntunan, di antaranya sebagai berikut
(Effendy, 1985):
Guru kencing berdiri
Murid kencing berlari
Kalau menyengat kupiah imam
Akan melintang kupiah makmum
Berseloroh sama sebaya
Berunding sama setara
Bergelut di halaman
Berunding di rumah
Berbuat baik berpada-pada
Berbuat jahat jangan sekali
Yang
Yang
Yang
Yang

patut dipatutkan
tua dituakan
berbangsa dibangsakan
berbahasa dibahasakan

18

Kalau lepas ke halaman orang


Berkata dulu agak sepatah
Memberi tahu orang di rumah
Entah orang salah duduk
Entah orang salah tegak
Entah orang salah kain
Kalau betina turun di tangga
Surut selangkah kita dahulu
Jangan bersinggung turun naik
Kalau haus di kampung orang
Haus boleh minta air
Lapar boleh minta nasi
Tapi terbatas hingga di pintu
Sebelah kaki berjuntai
Sebelah boleh di atas bendul
Di
Di
Di
Di

mana bumi dipijak


situ langit dijunjung
mana air disauk
situ ranting dipatah

Karena begitu banyaknya ungkapan, maka tidak mungkin jika


semuanya dikemukakan di sini.Yang jelas, dalam masyarakat Melayu
Riau etika pergaulan sangat dipentingkan.
5. Penutup
Dengan kerangka rujukan adat bersendikan syarak adat-istiadat
Melayu Riau tidak statis dan tidak menutup diri terhadap
perkembangan zaman.Etika pergaulan orang Melayu Riau telah
memberikan saham dalam pergaulan antarwarga Indonesia. Ajaran
sopan-santun akhir-akhir ini telah diabaikan, sehingga kebiasaan ini
perlu dipulihkan dengan cara-cara yang sesuai dengan keadaan
sekarang, yakni dengan:

19

Menghidupkan dan menyebarluaskan ungkapan, pepatah, dan


sebagainya yang mengandung adab sopan-santun melalui media cetak
dan media massa.
Menerjemahkan dan menyebarluaskan pepatah,
manuskrip yang mengandung ajaran-ajaran.

ungkapan,

dan

Menulis buku pelajaran yang mengajarkan adab sopan-santun dengan


kerangka rujukan falsafah dan nilai yang terkandung dalam pepatah,
ungkapan, pantun, dan sebagainya, mulai dari tingkat dasar.

Daftar Pustaka
Effendy, T. 1985. Kumpulan Ungkapan. Naskah yang belum diterbitkan,
Pekanbaru.
Hoeve, I. B. van. 1984. Ensiklopedi Indonesia. Jakarta: Ichtiar Baru Van
Hoeve.
Kerajaan Siak. 1901. Babul Qawaid. Siak Sri Indrapura: Percetakan
Kerajaan Siak Sri Indrapura.
Prins, J. 1954. Adat en Islamietische Plichtenleer In Indonesia.
Bandung: W. Van Hoeve sGravenhage.
Sujiman, P. H. M. 1983. Adat Raja-raja Melayu. Jakarta: Universitas
Indonesia Press.
Tonel, T. 1920. Adat-istiadat Melayu.Naskah tulisan tangan huruf
Melayu Arab, Pelalawan.
Yayasan Kanisius. 1973. Ensiklopedi Umum. Yogyakarta: Kanisius.

20

ADAT-ISTIADAT DALAM PERGAULAN ORANG MELAYU

Oleh : Wan Ghalib

21

Diperbanyak oleh : Panitia Musda I, Pelantikan & Penabalan Gelar Adat


Lembaga Adat Melayu Riau Kabupaten Rokan Hilir

Bagansiapiapi, 22 24 Maret 2016 M


13 15 Jumadil Akhir 1437 H