Anda di halaman 1dari 10

PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA MELALUI BUKU BACAAN

BERJENJANG, BENGKEL MENULIS, DAN BELAJAR TALKSHOW


(Dibuat untuk memenuhi tugas Ujian Tengah Semester Mata Kuliah Isu-Isu Pembelajaran Bahasa
Indonesia)

Dosen Pengampu:
Dr. Hj. Missriani, M.Pd.
Yesi Fitriani, M.Pd.

Disusun oleh:
Ria Uli (20156011028)

Program Pascasarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra


Universitas PGRI Palembang
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pengajaran bahasa Indonesia di lingkungan pendidikan telah melalui berbagai proses yang
panjang dan akan terus mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan jaman. Mulai dari
yang sederhana sampai yang modern. Pada intinya, seluruh metode pengajaran yang digunakan
para pendidik adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menguasai keterampilan
berbahasa secara maksimal. Metode pengajaran tersebut dikatakan berhasil bila hasil yang
dicapai sesuai dengan yang diharapkan.
Suatu metode pembelajaran mungkin bisa diterapkan di satu tempat tetapi, tidak bisa
diterapkan di tempat lain. Hal ini bisa dikarenakan perbedaan sarana dan prasarana, sasaran yang
ingin dicapai, dan sebagainya.
Akhir-akhir ini di beberapa daerah misalnya di Toraja, Makassar, Wajo, dan beberapa daerah
lain dengan bantuan USAID PRIORITAS sedang mengembangkan program yang disebut Buku
Bacaan Berjenjang atau yang disingkat B3. Buku ini ditujukan untuk membantu siswa tingkat
awal belajar membaca. Tak hanya itu, buku bacaan berjenjang juga memotivasi siswa untuk
membaca. Program ini disambut positif oleh para pengajar bahasa Indonesia di wilayah tersebut.
Meski belum diterapkan di seluruh wilayah Indonesia, program ini diharapkan bisa menjadi
salah satu referensi bagi pengajar dalam mengajar bahasa Indonesia.
1.2. Rumusan Masalah
Adapun masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah metode pembelajaran bahasa
seperti apa yang sedang berkembang di Indonesia.
1.3. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui metode pembelajaran bahasa
seperti apa yang sedang berkembang di Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Keterampilan Berbahasa.


Bahasa merupakan salah satu media untuk menyampaikan ide, gagasan, maksud dan
tujuan seseorang baik secara lisan maupun tulisan. Penggunaan bahasa yang baik dan benar akan
membantu lawan bicara mengerti dan memahami maksud si pembicara sehingga terhindar dari
kesalahpahaman. Agar dapat menyampaikan sesuatu hal dengan baik dan benar diperlukan
penguasaan beberapa keterampilan, seperti kemampuan menulis, berbicara, membaca, dan
mendengar. Hal ini berlaku bagi setiap bahasa di dunia.
Demikian pula halnya dengan bahasa Indonesia. Di sekolah, mulai dari jenjang dasar
sampai tinggi para siswa diajarkan berbagai hal kemampuan berbahasa seperti yang telah
disebutkan di atas. Berbagai metode pengajaran pun telah digunakan para guru untuk
meningkatkan kemampuan siswa. Dari sekian banyak metode tersebut, akhir-akhir ini muncul
beberapa metode yang digalakkan di beberapa wilayah di Indonesia antara lain pengembangan
Gerakan Bengkel Menulis, belajar talkshow di kelas, dan Buku Bacaan Berjenjang (B3). Selain
itu, ada pula beberapa metode lain yang sedang digalakkan di beberapa sekolah di Indonesia.

2.2. Bengkel Menulis: Meningkatkan Kemampuan Menulis Siswa


SDN 7 Letta di Bantaeng, Sulawesi Selatan mengembangkan gerakan literasi untuk siswa
kelas IV, V, dan VI bernama Bengkel Menulis. Bengkel Menulis adalah pelatihan menulis yang
diadakan SDN Letta untuk siswa kelas tinggi, dengan jadwal dua minggu sekali dan selama dua
jam per pertemuan.
Untuk meningkatkan literasi anak, guru-guru SDN Letta menggunakan strategi curah
gagasan dan peta konsep dalam tulisan. Salah satu siswa yang ikut kegiatan tersebut adalah Sri
Puji Lestari, siswa kelas VI yang belajar membuat tulisan tentang berkebun. Lewat curah
gagasan, dia menulis secara acak segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan berkebun.
Setelah Puji selesai menuliskan semua gagasan mengenai berkebun, guru meminta dia
mengelompokkan gagasan tersebut ke dalam kategori-kategori yang lebih umum, misalnya tanah

dan air masuk kategori lahan, buah-buahan masuk kategori tanaman, dan seterusnya. Kategorikategori itu dibuatkan mind mapping. Dia tulis besar-besar berkebun di tengah kertas,
dilingkari, dan ditulis tanda panah menunjuk ke masing-masing kategori: tanaman, lahan, pupuk,
dan sabit.
Gurunya, Hasnawiyah, meminta dia menentukan kategori mana yang paling sesuai untuk
dikembangkan menjadi paragraf pertama. Puji mengembangkan kategori lahan menjadi tulisan
seperti berikut:Kakekku mempunyai lahan di samping rumah. Lahan itu sangat luas.Aku biasa
ikut bersama kakek ke lahan.Untuk paragraf kedua dia pilih sabit, dan dia menulis:Kakekku
biasa membawa cangkul dan sabit. Cangkul biasa ia gunakan untuk menggali tanah atau
menanam tanaman.
Semua kategori yang ada dikembangkan menjadi paragraf-paragraf. Tulisan tersebut
masih berupa draf dan mesti dikoreksi guru. Guru yang bertindak sebagai editor mengoreksi tata
bahasa yang digunakan, menambah beberapa kata yang kurang, dan memberi saran
pengembangan kalimat.
Berdasarkan hasil edit guru, siswa merevisi kembali tulisan itu menjadi lebih tertata dan
panjang. Semua rangkaian tulisan ini dimulai dari brainstorming, pra penulisan, pembuatan draf,
dan disatukan. Selanjutnya di bagian depan diberi sampul dengan gambar bertema berkebun
yang dibuat oleh Puji.
2.3. Belajar Talkshow: Melatih Keterampilan Membaca, Berbicara, dan Menulis Siswa
Materi wawancara dalam kurikulum mata pelajaran bahasa Indonesia kelas VIII di salah
satu sekolah di Wajo, Sulawesi Selatan merupakan salah satu kompetensi dasar (KD) yang
berorientasi pada keterampilan berbicara.Tujuan dari pembelajaran ini adalah memberi
pengetahuan kepada siswa untuk melakukan wawancara dengan narasumber dengan
memperhatikan etika wawancara.
Untuk mencapai tujuan tersebut, penulis mencoba merancang PBM dengan mereplikasi
model talkshow agar siswa dapat menguasai tiga aspek keterampilan berbahasa (membacaberbicara-menulis). Secara terintegrasi siswa membaca sumber informasi, membicarakan dan
menanyakan relevansi informasi dalam bentuk wawancara, dan terakhir menulis laporan
(resume) hasil wawancara. Adapun langkah-langkah kegiatan pembelajarannya sebagai berikut:

1. Siswa dibentuk 4 kelompok, yang jumlah anggotanya sama. Setiap kelompok memiliki peran
berbeda. Misalnya, kelompok I berperan sebagai pewawancara, kelompok II berperan
sebagai narasumber dari tim SAR BNPB, kelompok III sebagai anak buah kapal (ABK)
Marina Baru, dan kelompok IV dari keluarga korban.
2. Setelah kelompok terbentuk, siswa diajak menonton video talkshow di Youtube. Siswa
mengamati dan mengidentifikasi ciri-ciri talkshow: sikap pewawancara, gesture tubuh dan
model pertanyaan yang diajukan dan cara narasumber menjawab. Hal ini bertujuan agar
siswa mengetahui cara membawakan acara talkshow yang profesional.
3. Setelah mengidentifikasi ciri-ciri talkshow, masing-masing kelompok mempresentasikan
hasil identifikasi di depan kelas, yang lain menanggapi. Hasil identifikasi ini diresumekan
guru dan menjadi alat menilai kualitas talkshow yang akan dipraktikkan siswa.
4. Untuk menggiring siswa memahami topik wawancara yang akan diadakan, masing-masing
kelompok mendapat bahan bacaan dengan topik Tenggelamnya KM Marina Baru. Mereka
diberi kesempatan membaca senyap selama beberapa menit, dan berdiskusi di kelompok
masing-masing agar mereka menguasai isinya.
5. Fokus diskusi kelompok I (pewawancara) adalah menyusun daftar pertanyaan yang akan
diajukan ke masingmasing kelompok narasumber. Kelompok tersebut juga memprediksi
jawaban yang akan diberikan dan tanggapan balik terhadap jawaban tersebut. Demikian juga
kelompok II, III, dan IV berdiskusi dengan fokus menyusun/menyiapkan daftar jawaban atas
pertanyaan yang kemungkinan diajukan oleh kelompok I (pewawancara). Mereka juga
mempersiapkan model gesture yang sesuai dengan pertanyaan dan memprediksi pertanyaanpertanyaan yang akan diajukan.
6. Selesai berdiskusi kelompok, siswa membentuk talkshow yang terdiri atas 4 orang dengan
rincian 1 orang perwakilan dari kelompok I (pewawancara) dan 3 orang narasumber
(perwakilan kelompok II, III, dan IV masing-masing 1 orang). Secara bergiliran, selama 15
menit setiap kelompok talkshow tampil mempraktikan proses wawancara.
Talkshow tampak riuh dan menyenangkan. Semua berupaya menunjukkan
kemampuannya. Bagaimana KM Marina Baru bisa tenggelam padahal cuaca di laut saat itu
sedang cerah? tanya pewancara kepada ABK Marina Baru.Kami sudah melakukan
perawatan kapal sesuai prosedur. Kondisi kapal sebenarnya baik-baik saja, kami juga tidak
tahu mengapa tiba-tiba terjadi kebocoran di lambung kapal sehingga membuat kapal

tenggelam, kilah ABK Marina Baru. Demikian proses talkshow yang dilakukan siswa.
Kelompok talkshow yang tidak tampil memberikan penilaian kepada kelompok yang sedang
tampil sesuai identifikasi talkshow yang sudah disepakati para siswa.
7. Usai talkshow, pewawancara dan narasumber menyusun resume. Hasilnya dipresentasikan di
kelas, dipajang di dinding kelas.
Siswa merasa senang dan aktif mengikuti pembelajaran. Siswa membaca, menulis, dan
berbicara secara terintegrasi dalam suasana yang menyenangkan. Siswa mampu mencari dan
mengolah informasi melalui kegiatan rmembaca, mampu mengeskpresikan ide dan gagasannya
secara lisan (wawancara) dan tertulis (resume). Selain itu, siswa juga belajar tentang pentingnya
etika dan kesantunan berbahasa berdasarkan konteks.
2.4. Buku Bacaan Berjenjang (B3): Memotivasi Siswa Membaca
Beberapa waktu yang lalu USAID PRIORITAS melalui perwakilannya di Indonesia
menyerahkan secara simbolis Buku Bacaan Berjenjang (B3) kepada beberapa sekolah di wilayah
Indonesia. Buku Bacaan Berjenjang adalah buku yang dirancang untuk menjawab kebutuhan
mendesak dalam menyediakan buku bacaan untuk level awal. Penggunaan buku ini akan lebih
efektif membantu anak untuk meningkatkan kemampuannya membaca. Penggunaan buku ini
bukan berdasarkan kelas, tetapi tingkat kemampuan anak.
Buku-buku yang dihibahkan USAID PRIORITAS ini menurut para guru yang telah
menggunakannya terbukti melecut siswa bergerak mengembangkan keterampilan literasinya
semenjak dini. Di SDN 07 Letta Bantaeng, setelah ikut sesi pembelajaran membaca dengan
buku tersebut, siswa kelas awal atas fasilitasi ibu Idayani berinisiatif membuat buku kecil
sendiri.
Di Pangkep, Ibu Hasni Hasan secara kreatif meminta siswa bermain peran sebagai guru
mengajar menggunakan buku bacaan berjenjang pada teman-temannya sendiri. Di Pinrang, ibu
guru Nurhayati memanfaatkan buku bacaan berjenjang mengajar siswa bahkan pada waktu
liburan sekolah, karena siswa-siswa memintanya.
Di Makassar, bapak Akbar guru kelas III SD Inpres Tamalanrea 4 menggunakannya
untuk mengajar siswa berkebutuhan khusus yang mengalami kesulitan membaca. Pustakawan di
SDN. 108 Taulan Enrekang menggunakan buku bacaan berjenjang untuk bimbingan khusus
bagi siswa-siswi kelas satu dan dua yang masih lamban membaca saat menunggu kakak-kakak

kelas mereka untuk bersama-sama pulang. Pak Muhsin, guru SD Kakatua Mariso Makassar,
menjadikan buku bacaan berjenjang sebagai media gerakan literasi untuk anak-anak kurang
mampu di lorong di jalan Manuruki Makassar. Anak-anak tersebut menjadi bergairah belajar
membaca dan sering membawa buku bacaan saat bermain di lorong tersebut. Sedang Ibu Eny di
MI Al Abrar Makassar memfasilitasi siswa-siswi menggunakan buku bacaan berjenjang untuk
mengajar teman-temannya sendiri yang kurang bisa membaca.

BAB III
KESIMPULAN

Ada begitu banyak metode yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Mulai
dari yang sederhana sampai yang modern. Tidak hanya dari pihak pemerintah Indonesia, upaya
untuk meningkatkan kemampuan siswa Indonesia dalam berbahasa juga dilakukan oleh pihak
lain antara lain USAID PRIORITAS dari Amerika Serikat.
Melalui bantuan USAID, sekarang ini sedang dikembangkan program Buku Bacaan
Berjenjang bagi siswa tingkat dasar untuk meningkatkan minat dan kemampuan membaca.
Metode dengan menggunakan buku ini disambut positif oleh para guru penerima bantuan karena
dinilai sangat efektif.
Selain program buku bacaan berjenjang, secara mandiri, para guru juga sedang
menerapkan program belajar talkshow di kelas untuk melatih kemampuan berbicara, menulis,
dan membaca siswa dan juga mengadakan gerakan Bengkel Menulis.

DAFTAR PUSTAKA

http://medan.tribunnews.com/2015/08/13/tingkatkan-literasi-usaid-prioritas-rancang-bukuberjenjang
http://www.prioritaspendidikan.org/id/post/897/belajar-talkshow-dalam-pembelajaran-bahasaindonesia
http://www.prioritaspendidikan.org/id/post/898/tingkatkan-kemampuan-literasi-anak-denganbengkel-menulis