Anda di halaman 1dari 11

ABSTRAK

Telah dilakukan percobaan mengenai penentuan orde reaksi dan tetapan laju,
dimana tujuan dari percobaan ini adalah untuk menunujukan bahwa reaksi
penyabunan etil asetat oleh ion hidroksida adalah reaksi orde kedua dan
menentukan tetapan laju reaksi penyabunan tersebut dengan cara titrasi
menggunakan NaOH standarisasi. Percobaan disini dilakukan pada variasi waktu
tertentu seperti 0, 10, 20 dan 30 menit, pada suhu 40 0C. Berdasarkan percobaan
yang telah di lakukan menunjukan bahwa semakin besar konsentrasi NaOH
tetapannya semakin besar. Hal ini menunjukan konsentrasi berpengaruh pada laju
reaksi tidak seperti laju reaksi orde nol yang tidak bergantung pada konsentrasi
reaktan. Dari hasil percobaan didapatkan volume titrasi masing-masing waktu
sebesar 16,5; 16,8; 17; 17,4; 18 ml. Dan nilai R R = 0,948 x 100% = 94,8%.
Kata Kunci: Orde reaksi, Tetapan laju, Titrasi, Reaksi penyabunan etil asetat.

I.

Data Pengamatan
I.1 standarisasi Naoh

Volume HCl
5 mL

Volume titrasi NaOH


6,3 mL

Perubahan yang terjadi


Merah muda

I.2 Percobaan
Waktu (menit)
0
10
20
30
40
II.

Titrasi (mL)
16,5
16,8
17
17,4
18

Volume Etil asetat


10 mL
10 mL
10 mL
10 mL
10 mL

NaOH
20 mL
20 mL
20 mL
20 mL
20 mL

Hasil dan Pembahasan


II.1Pembahasan
Kinetika kimia disebut juga dinamika kimia, karena adanya
gerakkan molekul, elemen atau ion dalam mekanisme reaksi dan
laju reaksi sebagai fungsi waktu. Mekanisme reaksi dapat
diramalkan dengan bantuan pengamatan dan pengukuran besaran
termodinamika suatu reaksi, dengan mengamati arah jalannya
reaktan maupun produk suatu system

(Siregar, 2008). Reaksi

kimia sendiri yaitu proses berubahnya pereaksi menjadi hasil


reaksi. Proses itu ada yang lambat dan ada yang cepat. Contohnya
bensin terbakar lebih cepat dibandingkan dengan minyak tanah.
Ada reaksi yang berlangsung sangat cepat, seperti membakar
dinamit yang menghasilkan ledakan, dan yang sangat lambat
adalah seperti proses berkaratnya besi. Pembahasan tentang
kecepatan (laju) reaksi disebut kinetika kimia. Dalam kinetika
kimia ini dikemukakan cara menentukan laju reaksi dan faktor apa
yang mempengaruhinya (Syukri,1999).
Laju reaksi adalah jumlah mol reaktan persatuan volume
dalam satu satuan waktu. Laju reaksi kimia terlihat dari perbahan
konsentrasi produk terhadap waktu. Laju reaksi kimia terlihat dari
perubahan konsentrasi molekul reaktan atau berubah-ubah seiring

dengan adanya perubahan konsentrasi (Chang,2004). Perubahan


laju reaksi juga terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor
yaitu seperti temperatur, konsentrasi, luas permukaan, adanya
katalis, dan tekanan (Keenan dkk,1980) dimana ke semua faktor
berbanding lurus laju reaksi. Konstanta laju reaksi di definisikan
sebagai laju reaksi bila konsentrasi dari masing-masing jenis
adalah satu. Satuannya terganttung pada orde reaksi. Suatu reaksi
yang merupakan proses satu tahap disebut reaksi dasar. Misalnya:
(Bird, 2003) :
H+ + Cl2

HCl + Cl-

Laju reaksi tidak terjadi begitu saja, tetapi ada beberapa


faktor yang berperan di dalam prosesnya, Faktor-faktor yang
mempengaruhi laju reaksi adalah (Keenan, dkk, 1980):
a.Konsentrasi pereaksi
Semakin besar konsentrasi pereaksi, maka tumbukkan yang
terjadi akan semakin banyak, sehingga menyebabkan laju reaksi
semakin cepat.
b.Suhu
Apabila suhu pada suatu reaksi yang berlangsung di
naikkan, maka menyebabkan partikel semakin aktif bergerak,
sehingga

tumbukkan

yng

terjadi

semakin

banyak

dan

menyebabkan laju reaksi semakin cepat atau besar.


c.Tekanan
Banyak reaksi melibatkan reaksi dalam wujud gas.
Kelajuan dari pereaksi seperti itu jika di pengaruhi tekanan.
Penambahan

tekanan

dengan

memperkecil

volume

akan

memperbesar konsentrasi dengan demikian dapat memperbesar


laju reaksi.
d.Katalis
Katalis adalah suatu zat yang dapat mempercepat laju reksi
pada suhu tertentu tanpa mengalami perubahan dari reaksi yang
terjadi.
Prosedur pertama yang dilakukan adalah membuat larutan NaOH dan
larutan etil asetat. Padatan NaOH ditimbang kemudian dilarutkan dengan

akuades dalam gelas beaker, kemudian pada gelas beaker terasa panas. Hal
ini menynjukan bahwa pada saat proses pelarutan terjadi peristiwa
eksoterm. Setelah dilakukan pelarutan selanjutnya di lakukan standarisasi
dengan menggukan HCl. Larutan NaOH merupakan larutan baku
sekunder

yang

tidak

stabil

dalam

penyimpanannya

sehingga perlu dilakukan standardisasi terlebih dahulu


sebelum

digunakan.

Setelah

dilakaukan

standarisasi,

selanjutnya diambil sebanyak 20 ml dan di panaskan pada


suhu 400C. Pada percobaan ini digunakan suhu 40 oC, hal ini
dilakukan agar laju reaksi yang dihasilkan tidak mengalami
perubahan yang besar. Laju reaksi dipengaruhi oleh suhu.
Kenaikan suhu akan menyebabkan tumbukan antarpartikel
berlangsung lebih cepat dikarenakan energi kinetiknya
meningkat. Selanjutnya etil asetat ditimbang dan dilarutkan kedalam air
250 ml dengan konsentrasi 0,02 M. Lalu dipipet 10 mL etil asetat kedalam
labu erlenmeyer bertutup dan dipanaskan kedalam termosfat lalu diukur
suhunya hingga 40 . Setelah larutan asetat di buat selanjutnya etil
asetat dicampurkan dengan larutan NaOH 0,02 M

dan dikocok lalu

ditutup erlenmeyer menggunakan wrapping sambil dihitung waktunya


dengan menggunakan stopwacth. Variasi waktu yang digunakan yaitu 40,
30, 20 dan 10 menit. . Reaksi yang terjadi yaitu:
CH3COOC2H5 (aq) + NaOH (aq)

CH3COONa (aq) + C2H5OH (aq)

Hidrolisis suatu ester dalam basa (penyabunan) merupakan suatu


reaksi tak reversibel, sehingga menghasilkan garam asam karboksilat dan
alkohol dengan rendemen yang lebih baik dari pada hidrolisis asam,
karena reakis ini berlangsung dalam suatu basa hasil penyabunan ialah
garam karboksilat asam bebas akan diperoleh bila larutan diasamkan
(Fessenden dan Fessenden, 1986).

Hidrolisis basa suatu ester dikenal dengan istilah penyabunan,


karena jenis reaksi ini digunakan dalam pembuatan sabun dari lemak
dengan reaksinya adalah (Hartz, 2003):
O
R-COR

Na+OH-

R-C-ONa

+ +

R+OH

Setelah didiamkan dalam rentang waktu yang telah di variasikan,


selanjutnya ditambah dengan 20 ml HCl dan di tambah dengan 5 tetes
indikator pP dan selanjutmya di lakukan titrasi dengan NaOH standarisasi.
Adapaun struktur indikator pP sebagai berikut :

Titrasi merupakan Titrasi merupakan metode analisis kuantitatif untuk


mengukur jumlah yang pasti dari suatu larutan dengan cara menambahkan
suatu larutan standar terhadap larutan yang ingin diketahui kinsentrasinya
hingga mencapai titik akhir titrasi. Titik akhir titrasi diketahui melalui
penambahan larutan indikator (Day dan Underwood, 2002).
Analisis semacam ini menggunakan pengukuran volume larutan yang
mengandung suatu pereaksi dimasukkan kedalam buret. Larutan dalam
buret disebut penitrasi dan selama dititrasi larutan ini diteteskan secara
perlahan-lahan melalui kran ke dalam erlenmeyer yang mengandung
pereaksi lain (Brady, 1994).
Hasil volume titrasi dari variasi pada waku 0 menit, 10 menit, 20
menit, 30 menit dan 40 menit adalah berturut-turut 16,5; 16,8; 17; 17,4; 18
ml. Dan nilai R R = 0,948 x 100% = 94,8%
Berdasarkan percobaan yang telah di lakukan menunjukan bahwa
semakin besar konsentrasi NaOH tatapannya semakin besar. Hal ini

menunjukan konsentrasi berpengaruh pada laju reaksi tidak seperti laju


reaksi orde nol tidak yang tidak bergantung pada konsentrasi reaktan
(Purba, 2012). Berikut adalah grafik orde nol (Hamdiani, 2015) :

Grafik

2.1 grafik orde nol

II.2
Perhitungan
1. Pembuatan Larutan
- Larutan HCl 0,02 M dalam 250 mL
M1 V1 = M2 V2
12,063 M x V1 = 0,02 M x 250 mL
V1 = 0,4 mL
- Larutan NaOH 0,02 M dalam 250 mL
m 1000
M = Mr x V
0,02 M =
-

m
1000
x
40 g /mL 250mL

m = 0,2 g
Larutan etil asetat
x x 10
M=
Mr
=

1,1 x 99 x 10
88,11 g/mL

= 10,12 M
M1 V1 = M2 V2
10,12 M x V1 = 0,02 M x 100 mL
V1 = 0,2 m l
2. Standarisasi
NaOH + HCl
NaCl + H2O
n NaOH = n HCl
= 0,02 M x 5 mL = 0,1 mmol
n NaOH
M NaOH = V NaOH
=

0,1mmol
6,3 mL

= 0,0158 M

3.
a.
b.
c.
d.

Penentuan Laju Orde Reaksi


Mol Etil Asetat awal = M x V = 0,02 x 10 = 0,2 mmol
Mol NaOH awal = M x V = 0,0158 x 20 = 0,316 mmol
Mol HCl Awal = M x V = 0,02 x 20 = 0,4 mmol
Mol HCl yang tidak bereaksi = mol NaOH titrasi = 0,1
T(s)
0
600
1200
1800
2400

[NaOH]
standarisasi
0,0158
0,0158
0,0158
0,0158
0,0158

V NaOH titrasi

Mol NaOH titrasi

16,5
16,8
17
17,4
18

0,2607
0,2654
0,2686
0,2749
0,2844

e. Mol HCl yang bereaksi = mol HCl awal mol HCl tidak bereaksi
T(s)
0
600
1200
1800
2400

Mol HCl awal


(mmol)
0,4
0,4
0,4
0,4
0,4

Mol HCl tidak


bereaksi
0,2607
0,2654
0,2686
0,2749
0,2844

Mol HCl bereaksi


0,1393
0,1346
0,1314
0,1251
0,1116

f. Mol HCl bereaksi = mol NaOH akhir


g. X = mol NaOH yang beraksi = mol NaOH awal mol NaOH akhir
mol x pada waktu tertentu
h. [X] =
v total campuran

T(s)

Mol NaOH awal


(mmol)

Mol NaOH

0
600
1200
1800
2400

0,316
0,316
0,316
0,316
0,316

0,1393
0,1346
0,1314
0,1251
0,1116

akhir

Volume
Mol X
0,1767
0,1814
0,1846
0,1909
0,2044

total
(ml)
30
30
30
30
30

[X]
0,00589
0,00604
0,00615
0,00636
0,00681

[X]
=kt
[ A 0]( [ A 0 ] [ X ] )

i.

T (s)
0
600
1200
1800
2400

[X]

[A0]

0,0058

0,015

9
0,0060

8
0,015

4
0,0061

8
0,015

5
0,0063

8
0,015

6
0,0068

8
0,015

[X]
[ A 0]( [ A 0 ] [ X ] )

[A0]

[A0] ([A0]

[X]

[X])

0,00991

1,56 x 10-4

37,76

0,00976

1,54 x 10-4

39,22

0,00965

1,52 x 10-4

40,46

0,00944

1,49 x 10-4

42,68

0,00899

1,42 x 10-4

47,96

II.3Jawaban Pertanyaan
1. Kenyataan apakah yang membuktikan bahwa reaksi penyabunan etil
asetat ini adalah reaksi orde dua?
Reaksi penyabunan etil asetat merupakan reaksi orde dua. Hal ini dapat
dilihat dari satuan tetapan reaksinya, M -1 menit-1. Tetapan laju reaksi
tidak bisa ditentukan secara teoritis tetapi harus melalui percobaan.Untuk
memberikan

gambaran bahwa reaksi penyabunan etilasetat oleh ion

hidroksi adalah orde dua yaitu reaksi dibawah ini :


CH3COOC2H5 + OH-

t=0

(b-x)

t=t

(a-x)

CH3COO- + C2H5OH
-

2. Turunan satuan-satuan yang digunakan dalam sistem Internasional (SI)


untuk hantaran jenis dan hantaran molar!
Hantaran jenis : ohm-1 cm-1 (cm-1)
Hantaran molar : S m2 mol-1, S cm2 mol-1

3. Apakah akibatnya bila titrasi dari HCl tidak dapat segera dilakukan?
Seandainya titrasi ini harus ditunda (misalnya sampai seluruh percobaan
selesai), apakah yang harus dikerjakan?
Apabila titrasi HCl tidak segera dilakukan maka temperatur campuran
zat akan menurun dan mempengaruhi hasil tetapan laju rekasinya.
Sehingga temperatur campuran zat harus dijaga tetap agar konstan pada
saat titrasi. Seandainya titrasi ditunda, maka temperaturnya harus
dinaikkan dengan pemanasan ulang.
4. Terangkan tiga buah cara untuk menentukan orde dari suatu reaksi kimia!
- Melihat satuan dari tetapan laju reaksinya
- Membandingkan waktu paruh, misalnya nilai t dengan t dimana t = 3 t
- Membandingkan dua buah persamaan laju reaksi yang diketahui
datanya.
5. Energi pengaktifan dapat ditentukan secara percobaan. Terangkan
prinsipnya dan lukiskan pula persamaan-persamaan yang diperlukan!
Energi pengaktifan adalah energi minimal yang diperlukan suatu pereaksi
untuk

melakukan

reaksi.

Harga

energi

pengaktifan

akan

tereduksi/dikurangi dengan penambahan katalis. Persamaan yang


diperlukan : Ea = - RT ln (k/A).

II.4Grafik

Grafik Hubungan ([X]/([A0]-[X])) Terhadap Waktu


60
50
f(x) = 0x + 36.84
R = 0.9

40
30
20
10
0

500

1000

1500

2000

2500

3000

Y = 0,004x + 36,844
R2 = 0,899
III.

Kesimpulan dan Saran


3.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah di lakukan menunjukan bahwa
semakin besar konsentrasi NaOH tatapannya semakin besar. Hasil
volume titrasi dari variasi pada waku 0 menit, 10 menit, 20 menit, 30
menit dan 40 menit adalah berturut-turut 16,5; 16,8; 17; 17,4; 18 ml.
Dan nilai R R = 0,948 x 100% = 94,8%.
3.2

Saran
Saran yang dapat di berikan pada percobaan ini yaitu dengan
mengganti larutan standar HCl dengan standaryang lain seperti oksalat.

Daftar Pustaka
Bird, T. 2003. Kimia Fisika untuk Universitas. Gramedia Pusaka Utama: Jakarta.

Brady, J.E.1994. Kamus Lengkap Kimia. Rineka Cipta. Jakarta.


Day, R.A dan Underwood, A.L. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif.
Erlangga. Jakarta.
Fessenden, R.J dan Fessenden, J.S. 1986. Kimia Organik. Erlangga. Jakarta.
Hamdiani, S., Nuryono, Bambang R., 2015, Kinetika Adsorpsi Ion Emas(III) Oleh
Hibrida Metro Silika, J. PIJAR MIPA, Vol.X. No.1
Hartz. 2003. Kimia Organik. Edisi ke 2. Erlangga. Jakarta.
Keenan, C.W; Kleinferlter, D.C; dan Wood, J.H, 1980. Kimia untuk Universitas.
Erlangga: Jakarta.
Purba, E., dan Ade Citra Khairunisa, 2012, Kajian Awal Laju Reaksi Fotosintesis untuk
Penyerapan Gas CO2 Menggunakan Mikroalga Tetraselmis Chuii.
Jurnal Rekayasa Proses, Vol. 6, No. 1, 2012