Anda di halaman 1dari 32

DATA PENGAMATAN

Dekantasi
Dari hasil proses dekantasi dihasilkan data sebagai berikut :
Sentratnya keruh
Endapannya lebih sedikit
Penyaringan
Dari hasil proses penyaringan dihasilkan data sebagai berikut :
Filtratnya jernih
Endapannya lebih banyak
E. PEMBAHASAN
1. Menyaring
Menyaring adalah proses memisahkan zat terlarut dari pelarutnya dengan
menggunakan alat penyaring. Di dalam percobaan ini, alat yang digunakan untuk
menyaring adalah kertas saring yang mempunyai pori-pori sangat kecil sehingga
tidak semua zat dapat melewatinya.
Di dalam percobaan ini dilakukan penyaringan terhadap bubuk kapur yang
dilarutkan dalam aquades. Dari hasil penyaringan,didapatkan filtrat yang
kejernihannya hamper sama dengan aquades. Filtrat yang didapat dari proses
penyaringan ini lebih jernih daripada sentrat yang akan dibahas nanti. Ini sesuai
dengan teori yang menyatakan bahwa hasil filtrasi lebih jernih daripada hasil
dekantasi, karena filtrasi menggunakan kertas saring sedangkan mendekantasi tidak
dan hanya menuangkan bagian yang bening saja, hal ini memungkinkan masih ada
residu yang ikut.
Setelah dilakukan penyaringan, pada kertas saring terdapat endapan yaitu
endapan dari bubuk kapur yang tersaring. Berdasarkan pengamatan, endapan hasil
penyaringan lebih banyak daripada endapan hasil dekantasi. Hal ini disebabkan
karena filtrat hasil penyaringan lebih jernih daripada sentrat, ini menunjukkan bahwa
partikel banyak dari bubuk kapur yang tersaring, sehingga endapan yang didapatkan
juga lebih banyak endapan yang tertinggal di dalam kertas saring ini disebut residu.
2. Mendekantasi
Dekantasi adalah proses pemisahan zat terlarut dari pelarutnya dengan cara
membiarkan larutan tersebut dalam keadaan tenang dalam waktu beberapa saat
hingga terbentuk endapan di dasar wadah larutan. Setelah itu, larutan yang berada

diatas endapan dituangkan dengan hati hati ke dalam wadah lain dan diusahakan
agar endapan tidak ikut tertuang dalam wadah . larutan hasil dekantasi disebut
sentrat.
Pada percobaan ini dilakukan dekantasi terhadap larutan bubuk kapur dengan
aquades. Sentrat yang diperoleh pada proses dekantasi ini lebih keruh daripada
filtrat. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa sentrat hasil dekantasi
lebih keruh dari filtrat, hal ini disebabkan pada proses mendekantasi tidak terdapat
membran yang berfungsi sebagai penyaring, sehingga sangat dimungkinkan bahwa
pada sentrat masih terdapat endapan yang terbawa.
Berdasarkan data pengamatan, endapan hasil mendekantasi lebih sedikit
daripada endapan hasil penyaringan. Ini disebabkan pada mendekantasi sentrat
hanya diperoleh dari penuangan larutan yang didiamkan beberapa saat, sehingga
endapan yang seharusnya tertinggal masih mungkin ikut terbawa pada sentrat,
maka dari itu endapan yang didapat dari proses mendekantasi lebih sedikit daripada
endapan hasil filtrasi.
Dalam percobaan ini, reaksi yang terjadi pada pelarutan bubuk kapur dalam
aquades adalah:
Reaksi molekul : CaCO3(s) + 2H2O(l) Ca(OH)2(s) + H2CO3(aq)
Reaksi ion : Ca2+ + CO32- + 2H+ +2OH- Ca(OH)2(s) + CO2(g) + H2O(l)
Reaksi bersih : CaCO3(s) + 2H2O(l) Ca(OH)2(s) + CO2(g) + H2O(l)
F.

KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan, yaitu:
1. Menyaring adalah proses pemisahan zat terlarut dari pelarutnya dengan
menggunakan filter berupa kertas saring. Hasil yang diperoleh disebut filtrat, dan
sisa endapannya disebut residu.
2. Mendekantasi adalah proses pemisahan zat terlarut dari pelarutnya dengan cara
mendiamkan larutan tersebut sehingga timbul endapan di dasar wadah kemudian
menuangkan pelarutnya ke dalam wadah yang lain. Hasil dekantasi disebut sentrat.
3. Perbedaan endapan dengan filtrat
Endapan : berupa partikel yang berukuran besar, yang tidak dapat melewati kertas
saring.
Filtrat
saring.

: berupa partikel yang berukuran sangat kecil, dan dapat melewati kertas

4. Perbedaan endapan dengan sentrat


Endapan : zat yang mengendap sebagai hasil dekantasi yang berupa zat padat.
Sentrat
: hasil dari dekantasi yang berupa larutan yang agak keruh.
5. Perbedaan filtrat dengan sentrat
Filtrat
: hasil dari proses filtrasi atau penyaringan yang berupa larutan yang lebih
jernih daripada sentrat.
Sentrat
: hasil dari proses dekantasi yang berupa larutan yang masih agak keruh
dan lebih keruh dari filtrat.
6. Reaksi yang terjadi
Reaksi molekul : CaCO3(s) + 2H2O(l) Ca(OH)2(s) + H2CO3(aq)
Reaksi ion : Ca2+ + CO32- + 2H+ +2OH- Ca(OH)2(s) + CO2(g) + H2O(l)
Reaksi bersih : CaCO3(s) + 2H2O(l) Ca(OH)2(s) + CO2(g) + H2O(l)
DAFTAR PUSTAKA

Hiskia, Ahmad. 1994. Penuntun Praktikum Kimia Dasar I. Surakarta : UNS Press
Pudjatmaka, Hadayana. 1994. Kimia Univesitas. Jakarta : Erlangga
Redjeki, Tri. 1990. Praktikum Kimia Dasar I. Surakarta : UNS Press
Sura, Kitti. 1989. Kimia I. Klaten : Intan Pariwara
Tim Dosen Praktikum Kimia Dasar I. 2010. Petunjuk Praktikum Kimia Dasar
I. Surakarta : UNS Press
http://www.wawanlistyawan.com/2014/08/menyaring-dan-medekantasi.html

Destilasi
Destilasi adalah teknik untuk memisahkan larutan ke dalam masing-masing
komponennya. Prinsip destilasi adalah didasarkan atas perbedaan titik didih komponen
zatnya. Destilasi dapat digunakan untuk memurnikan senyawa-senyawa yang
mempunyai titik didih berbeda sehingga dapat dihasilkan senyawa yang memiliki
kemurnian yang tinggi.
Set Alat Destilasi

Terdapat beberapa teknik pemisahan dengan menggunakan destilasi, salah satunya


adalah destilasi sederhana. Set alat destilasi sederhana (Gambar 1) adalah terdiri atas
labu alas bulat, kondensor (pendingin), termometer, erlenmeyer, pemanas. Peralatan
lainnya sebagai penunjang adalah statif dan klem, adaptor (penghubung), selang yang
dihubungkan pada kondensor tempat air masuk dan air keluar, batu didih.

Gambar 1. Rangkaian Alat Destilasi


Keterangan Gambar:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Kran air
Pipa penghubung
Erlenmeyer
Termometer
Statif dan Klem
Labu alas bulat
Tempat air keluar dari kondensor
Tempat air masuk pada kondensor

9.
10.

Pemanas
Kondensor

Adapun fungsi masing-masing alat yaitu labu alas bulat sebagai wadah untuk
penyimpanan sampel yang akan didestilasi. Kondensor atau pendingin yang berguna
untuk mendinginkan uap destilat yang melewati kondensor sehingga menjadi cair.
Kondensor atau pendingin yang digunakan menggunakan pendingin air dimana air yang
masuk berasal dari bawah dan keluar di atas, karena jika airnya berasal (masuk) dari
atas maka air dalam pendingin atau kondensor tidak akan memenuhi isi pendingin
sehingga tidak dapat digunakan untuk mendinginkan uap yang mengalir lewat kondensor
tersebut. Oleh karena itu pendingin atau kondensor air masuknya harus dari bawah
sehingga pendingin atau kondensor akan terisi dengan air maka dapat digunakan untuk
mendinginkan komponen zat yang melewati kondensor tersebut dari berwujud uap
menjadi berwujud cair.
Termometer digunakan untuk mengamati suhu dalam proses destuilasi sehingga suhu
dapat dikontrol sesuai dengan suhu yang diinginkan untuk memperoleh destilat murni.
Erlenmeyer sebagai wadah untuk menampung destilat yang diperoleh dari proses
destilasi. Pipa penghubung (adaptor) untuk menghubungkan antara kondensor dan
wadah penampung destilat (Erlenmeyer) sehingga cairan destilat yang mudah menguap
akan tertampung dalam erlenmeyer dan tidak akan menguap keluar selama proses
destilasi berlangsung. Pemanas berguna untuk memanaskan sampel yang terdapat pada
labu alas bulat. Penggunaan batu didih pada proses destilasi dimaksudkan untuk
mempercepat proses pendidihan sampel dengan menahan tekanan atau menekan
gelembung panas pada sampel serta menyebarkan panas yang ada ke seluruh bagian
sampel. Sedangkan statif dan klem berguna untuk menyangga bagian-bagian dari
peralatan destilasi sederhana sehingga tidak jatuh atau goyang.
Merangkai Alat Destilasi
Selanjutnya merangkai alat destilasi merupakan salah satu hal yang penting karena
dengan pemahaman dan keterampilan yang baik dan benar maka dapat mencegah
terjadinya kerusakan alat. Adapun tahapan merangkai alat destilasi sederhana adalah
menyiapkan statif dan klem serta pemanas, kemudian memasang labu alas bulat,
selanjutnya memasang kondensor, setelah itu memasang adaptor (jika menggunakan
adaptor untuk destilasi senyawa yang mudah menguap), dan memasang labu
penampung (Erlenmeyer), serta yang terakhir adalah memasang thermometer.

Proses Destilasi Sederhana


Setelah semua alat telah terpasang dengan baik, maka dapat dilakukan proses detilasi.
Sebagaimana prinsip dasar dari destilasi adalah memisahkan zat berdasarkan perbedaan
titik didihnya, maka komponen zat yang memiliki titik didih yang rendah akan lebih dulu
menguap sedangkan yang lebih tinggi titik didihnya akan tetap tertampung pada labu
destilasi. Proses penguapan komponen zat ini dilakukan dengan pemanasan pada labu
destilasi sehingga komponen zat yang memiliki titik didih yang lebih rendah akan
menguap dan uap tersebut melewati kondensor atau pendingin yang mendinginkan

komponen zat tersebut sehingga akan terkondensasi atau berubah dari berwujud uap
menjadi berwujud cair sehingga dapat ditampung di labu destilat atau labu Erlenmeyer.
Pada proses destilasi ini, destilat ditampung pada suhu tetap (konstan). Hal ini dilakukan
karena diharapkan akan diperoleh destilat yang murni pada kondisi suhu tersebut.
Setelah sampel pada labu alas bulat berkurang, suhu akan naik karena jumlah sampel
yang didestilasi telah berkurang. Pada kondisi naiknya suhu ini, proses destilasi sudah
dapat dihentikan sehingga yang diperoleh adalah destilat murni. Pada destilasi, untuk
memperoleh ketelitian yang tinggi penempatan ujung termometer harus sangat
diperhatikan, yaitu ujung termometer harus tepat berada di persimpangan yang menuju
ke pendingin agar suhu yang teramati adalah benar-benar suhu uap senyawa yang
diamati. Pada proses destilasi, penyimpangan pengukuran dapat terjadi jika adanya
pemanasan yang berlebihan (superheating) serta kesalahan dalam penempatan
pengukur suhu (thermometer) tidak pada posisi yang benar.
Analisis Kimia, Kimia, Kimia Analisis, Kimia Analitik, Metode Pemisahan,Pemisahan
Leave a comment

Comments

marwinto
April 3rd, 2013 at 12:29 PM
Reply

mau nanya kenapa titik didih etanol tinggi

o
Rolan Rusli
April 15th, 2013 at 2:37 PM
Reply

Titik didih etanol tinggi karena pada molekul etanol terdapat ikatan
hidrogen antara atom O dan atom H, sehingga untuk memutuskan
ikatan hidrogen tersebut dibutuhkan energi yang lebih besar, dengan
demikian menyebabkan titik didihnya menjadi lebih tinggi.
Terima kasih

Rolan Rusli

April 15th, 2013 at 2:48 PM


Reply

Lihat link berikut untuk contoh ikatan hidrogen


http://rolanrusli.com/gaya-ikat-antar-molekul/
terima kasih

Bambang
June 3rd, 2013 at 12:25 PM
Reply

mas, saya mau tanya, saat ini saya sedang memproduksi bioethanol
dari limbah, dan melakukan pemisahannya dengan metode destilasi.
nah sampai saat ini saya masih kesulitan untuk mengetahui apakah
destilasi saya ini sudah selesai apa belum (takutnya karena terlalu
lama, air ikut teruapkan dan menurunkan kadar hasil destilasi)? dan
bagaimana kita tahu hasil destilasi nya sudah maksimal atau belum..
Terima kasih.

o
Rolan Rusli
June 5th, 2013 at 9:57 AM
Reply

Titik didih etanol sekitar 78 derajat selsius, sehingga destilasi


dilakukan pada suhu ini untuk memisahkan etanol dari air.
Jadi sebaiknya destilasinya dilakukan dua atau tiga kali pada suhu
tersebut.
Namun, tidak dapat diperoleh etanol murni dengan teknik destilasi,
maksimal yang diperoleh adalah etanol 95%.
Untuk meningkatkan kadar etanolnya biasanya ditambahkan CaO
untuk menghilangkan air pada etanol 95% tersebut.
Alat sederhana yang bisa mengetahui kadar etanol adalah
alkoholmeter, namun alat ini keakuratannya kurang, tapi saya kira
alat ini cukup untuk skala sederhana.
terima kasih


anonym
October 6th, 2013 at 9:26 PM
Reply

mau nanya, pada distilasi akan terjadi kesetimbangan uap-cair, dimana


temperatur fasa uap seharusnya sama dengan temperatur fasa cair,
namun pada percobaan distilasi sederhana, bagaimana temperatur
bottom dan uapnya? apakah temperatur uap akan sama dengan
temperatur bottom, ataukah lebih kecil? mengapa demikian?

o
Rolan Rusli
October 24th, 2013 at 4:43 AM
Reply

Kalau untuk destilasi sederhana skala lab, memiliki nilai temperatur


uap yang sama karena ukuran alatnya kapasitasnya kapasitasnya
kecil.

no name
November 5th, 2013 at 1:45 PM
Reply

Jika ingin mendestilasi suatu larutan menjadi parfum, campuran


larutannya apa aja ya? Apakah peran termometer sangat penting? Kira
kira pada suhu berapa untuk menghasilkan destilat dari larutan tadi?

o
Rolan Rusli
November 6th, 2013 at 7:52 AM

Reply

Suhu merupakan faktor penting dalam pemisahan dengan teknik


destilasi. Oleh karena itu, untuk mendapatkan destilat murni, harus
dilakukan destilasi pada suhu titik didihnya. Misalkan untuk
memisahkan etanol dari air, maka dilakukan destilasi pada suhu 78
C.
Demikian. Terima kasih

titien
February 21st, 2014 at 9:06 AM
Reply

Pada praktikum penentuan kadar air dalam suatu bahan metode


destilasi. itu katanya kadar air yang terkandung dalam sampel harus
dibawah 10 ml. kira2 kenapa ya pak? trims

may
March 7th, 2014 at 12:30 PM
Reply

Mas saya mau nanyak saya sedang melakukan penelitian minyak atsiri
dengan menggunakan sempel daun ruku ruku dan daun sletri dengan
mennggunakan metode destilasi air
Sebaiknya saya menggunakan pelarut apa dan pada suhu berapa?
Terimakasi mas

ev
March 7th, 2014 at 12:34 PM
Reply

Mas
Saya mw Tnya bgmna pelarut yg dgnkn utk isolasi m.ats dry sampel
daun seledri dn brp suhu yg dgnkn??

o
Rolan Rusli
March 8th, 2014 at 3:29 PM
Reply

Untuk isolasi minyak, dapat digunakan pelarut yang non polar,


karena minyak memiliki sifat non polar, sehingga mudah dipisahkan
dari sampel. Kemudian dilanjutkan dengan penguapan pelarut
menggunakan alat rotary evaporator.
Terima kasih

may
March 7th, 2014 at 3:50 PM
Reply

mas saya mau tanyak, saya sedang melakukan pnelian minyak atsiri
dari daun ruku ruku dan sletri dengan metode destilasi air
pelarut apa yang cocok saya gunakan dan suhu berapa yang saya
gunakan?
terimakasi mas

o
Rolan Rusli
March 8th, 2014 at 3:26 PM
Reply

Saya belum dapat memberikan saran karena deskripsi penelitian


yang diberikan masih sangat umum. Tolong berikan deskripsi
penelitiannya secara lebih detail biar dapat diberikan saran.
Terima kasih

indah

March 23rd, 2014 at 11:32 AM


Reply

maaf saya mau nanya ,


1. mengapa cairan yang keluar pada suhu yang bukan pada rentang
titik didih cairan yang diinginkan harus dipisahkan?
2. mengapa isi labu distilasi tidak boleh melebihi dari dua pertiga
kapasitas labu?
3.mengapa pada akhir distilasi, labu tidak boleh sampai kering?
4.bagaimana cara menguji kemurnian distilat yang diperoeh?
5.pada suhu berapa distilat pertama keluar?dan destilat suhu berapa
yang ditampung?
terimakasih

o
Rolan Rusli
March 23rd, 2014 at 12:20 PM
Reply

1. Cairan yang keluar pada suhu yang bukan pada rentang titik didih
cairan yang diinginkan harus dipisahkan karena cairan itu bukan
merupakan cairan yang kita inginkan, makanya harus dipisahkan.
2. Isi labu destilasi tidak boleh melebihi dua pertiga kapasitas labu
karena ketika larutan yang akan didestilasi terlalu banyak maka
ketika mendidih cairan akan bisa naik ke atas dan keluar ke labu
penampung destilat (biasanya labu erlenmeyer) karena pengaruh
perbedaan suhu dan tekanan, sehingga bisa jadi cairan yang akan
tertampung di labu penampungan destilat (biasanya labu
erlenmeyer) bukan cairan murni tapi merupakan campuran,
sehingga proses pemisahan yang kita inginkan tidak tercapai
dengan baik.
3. Pada akhir destilasi, labu tidak boleh sampai kering karena faktor
keamanan dalam bekerja, kalau labunya kering, dan kita
memberikan panas yang berlebih, labu tersebut bisa pecah.
4. Cara menguji kemurnian destilat yang diperoleh adalah
tergantung dari jenis destilat (cairan) yang diperoleh, sehingga
kemurniannya harus diuji dengan teknik pengujian cairan tersebut.
5. Suhu destilat yang akan keluar pertama adalah rentang suhu
penguapan dari cairan tersebut, sehingga untuk memperoleh destilat
yang murni, kita harus menanmpung cairan yang keluar pada
rentang suhu tersebut.
Demikian.
Terima kasih.


ARVENHEMB
March 26th, 2014 at 8:51 PM
Reply

tolong dijawabnya
Suatu campuran dapat dipisahkan dengan cara penyulingan ?
a. Berdasarkan perbedaan ukuran partikel
b. Berdasarkan kemampuan zat untuk menyublim
c. Berdasarkan perbedaan titik didih
d. Berdasarkan kemampuan zat untuk mengembun
Tolong cepet dijawab ya, soalnya tugas saya dipakai bsk

o
Rolan Rusli
March 27th, 2014 at 12:37 PM
Reply

Berdasarkan perbedaan titik didih

Ferdinand
March 28th, 2014 at 10:36 AM
Reply

siang pak, mau tanya tentang destilasi uap.


kenapa dalam destilasi ini diperlukan uap air dari labu B ke labu A.
kenapa tidak langsung digabungkan saja, toh nanti kalo air sama
campuran itu dijadiin satu bakalan tetep ada uap air?
oh ya pak, mau tanya juga kelebihan kelemahan alat destilasi uapapa
aja ya?
terima kasih pak.

o
Rolan Rusli
March 29th, 2014 at 6:48 AM
Reply

Destilasi uap dirancang khusus untuk memisahkan atau


mendestilasi senyawa yang sensitif terhadap perubahan suhu yang
besar. Itulah yang menjadi kelebihan dari alat destilasi uap.
Terima kasih

Ferdinand
March 29th, 2014 at 5:08 PM
Reply

sore pak, saya mau tanya lagi. ketika kita menggunakan alat destilasi
hal-hal yang harus diperhatikan itu apa saja pak? semisal aliran air
pada kondensor apakah boleh searah dengan arah uap menuju labu
destilat. terima kasih

Ulfa
April 3rd, 2014 at 9:48 PM
Reply

Maaf Pak, mau tanya, apa ada pustaka yang dipakai pada penulisan
informasi diatas? terimakasih

onel
May 4th, 2014 at 4:46 PM
Reply

sore pak mau tanya..


bagaimana mass balance (kesetimbangan massa) dalam proses
destilasi??
di tunggu ya..
makasih

o
Rolan Rusli
May 9th, 2014 at 1:02 PM
Reply

Dalam proses destilasi, idealnya, tidak ada massa yang hilang dan
massa yang bertambah.
Demikian.
Terima kasih.

aidil situmorang
June 3rd, 2014 at 11:44 AM
Reply

Mas saya mau tanya,


Kenapa destilasi harus suhunya 78C?

o
Rolan Rusli
June 5th, 2014 at 7:32 AM
Reply

Suhu 78 C itu adalah suhu destilasi untuk memisahkan etanol dari


air, karena titik didih etanol adalah 78 C. Kalau untuk memisahkan
senyawa lain, maka suhunya bukan 78 C, tapi suhu dari titik didih
senyawa itu.
Terima kasih.


dini
June 30th, 2014 at 1:34 PM
Reply

Mas saya mau tanya, saya menggunakan alat destilasi yg sumber


energi panasnya dari ricecooker, yang mau saya tanyakan bagaimana
cara mengecek air yg ada dalam bejana ricecooker kering atau tidak,
soalnya tertutup oleh bagian bawah labu..
Ada cara lain tidak mas untuk mempercepat proses destilasi selain
menggunakan ricecooker sebagai sumber energi panasnya mas?

o
Rolan Rusli
June 30th, 2014 at 4:33 PM
Reply

Susah juga ya karena pengamatan air yang di receecooker tidak


dapat diamati secara langsung. Akan tetapi, air yang di ricecooker
masih tetap dapat dilihat, sehingga tiap saat harus dikontrol air
tersebut.
Sebenarnya pemanasnya bisa diganti dengan pemanas air yang
plastik transparan yang kumparan pemanasnya dapat dicelup di
dalam air pada wadah plastik tersebut (atau dalam gelas kimia),
sehingga dapat diamati air dalam wadah apakah sudah habis atau
belum.
Demikian.
Terima kasih

Arif
July 1st, 2014 at 12:17 PM
Reply

Assalamualaikum pak,

apakah metode destilasi bisa digunakan untuk ekstraksi oleoresin


jahe ? atau hanya terpisah minyaknya saja ?
kalo boleh saya minta YM nya pak, saya mau tanya, terima kasih

o
Rolan Rusli
July 13th, 2014 at 9:27 AM
Reply

Email saya rolan@rolanrusli.com


Terima kasih

diannira
August 18th, 2014 at 3:43 PM
Reply

nanyak
..kenapa air kran dialirkan dari bawah pada proses destilasi
sederhana..???

o
Rolan Rusli
August 30th, 2014 at 12:31 PM
Reply

Kalau dialirkan dari atas pada kondensor, maka air pada kondensor
tidak akan penuh, oleh karena itu maka air untuk pendingin dialirkan
dari bawah.

nuranti

September 15th, 2014 at 9:42 PM


Reply

malam
saya ranti, saya mo tanya, buat tuggas besok pagi ni.hehehe
mana tinggi proses penguapan dari atas atau daari bawah???

agung
September 17th, 2014 at 10:16 AM
Reply

bagaimana cara menguji kadar distilate dengan menggunakan massa


jenis campuran dan bagaimana cara menghitungnya trimakasih

radit
October 2nd, 2014 at 9:19 PM
Reply

pak mau tanya


kalo bikin ekstrak taneman herbal pake metanol aman ga, soalnya di
mana2 katanya racun
dibandingkan ekstrak pake etanol atau heksana, perbedaannya apa?

o
Rolan Rusli
October 4th, 2014 at 2:29 PM
Reply

Pembuatan ekstrak berbahan herbal harusnya bebas dari pelarut


metanol, etanol, ataupun heksana. Jadi, setelah selesai ekstraksi,
sebaiknya dilakukan pemisahan anatar ekstrak dan pelarutnya.
Setelah dilakukan pemisahan ekstrak dan pelarut, untuk memastikan
ekstrak yang terbebas dari pelarut seperti metanol, kemudian perlu
dilakukan uji bebas metano. Demikian, terima kasih


wandi
October 6th, 2014 at 1:19 AM
Reply

klw kita mw evaporator pake pelarut etanol itu sendiri bagusny pake
suhu berapa y?

adha
October 8th, 2014 at 5:40 AM
Reply

saya ingin bertanya, bagaimana proses distilasi pada pembuatan


isoamil asetat (aroma pisang)? mengapa pada proses tersebut
menggunakan kondensor bentuk lurus? terimakasih

adha
October 8th, 2014 at 5:41 AM
Reply

saya ingin bertanya, bagaimana proses distilasi pada pembuatan


isoamil asetat (aroma pisang)? mengapa pada proses tersebut
menggunakan kondensor bentuk lurus? terimakasih. Mohon
jawabannya

o
Rolan Rusli
October 9th, 2014 at 7:18 AM
Reply

Yang dimaksud dalam proses pembuatan isoamil asetat atau dalam


proses pemisahannya?

andi dh
November 1st, 2014 at 8:11 AM
Reply

mau tanya
klo saya buat distiator dari rice cooker untuk pemisahan heksan trus
kontak lngsung dengan pemanasnya tanpa melalui media pemanasan
air terlebih dahulu bhaya atau terbakar ga ya?

o
Rolan Rusli
November 4th, 2014 at 7:03 AM
Reply

Dalam laboratorium, hal yang mesti diperhatikan adalah


keselamatan dalam bekerja. Jadi hindari bahaya yang mungkin
terjadi jika bekerja di dalam laboratorium.
Terima kasih

vicha
November 2nd, 2014 at 12:24 PM
Reply

Maaf Mau nanya, Bagaimana ciri titik didih metanol jika tercampur
dengan air?

o
Rolan Rusli

November 4th, 2014 at 7:02 AM


Reply

Titik didih metanol murni adalah 64,7 C. Sedangkan titik didih air
adalah 100 C.
Terima kasih
http://rolanrusli.com/destilasi/

Rendemen kimia
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa

Dalam kimia, rendemen kimia, rendemen reaksi, atau hanya rendemen merujuk
pada jumlah produk reaksi yang dihasilkan pada reaksi kimia.[1] Rendemen
absolut dapat ditulis sebagai berat dalam gram atau dalam mol (rendemen
molar). Rendemen relatif yang digunakan sebagai perhitungan efektivitas prosedur,
dihitung dengan membagi jumlah produk yang didapatkan dalam mol
dengan rendemen teoritis dalam mol:
rendemen fraksional=rendemen sebenarnyarendemen teoritis

Untuk mendapatkan rendemen persentase, kalikan rendemen fraksional dengan


100%.
Satu atau lebih reaktan dalam reaksi kimia sering digunakan berlebihan. Rendemen
teoritisnya dihitung berdasarkan jumlah mol pereaksi pembatas. Untuk perhitungan
ini, biasanya diasumsikan hanya terdapat satu reaksi yang terlibat.
Nilai rendemen kimia yang ideal (rendemen teoritis) adalah 100%, sebuah nilai yang
sangat tidak mungkin dicapai pada preakteknya. menghitung persen rendemen yaitu
dengan menggunakan persamaan berikut persen rendemen = berat hasil/berat
rendemen dibagi berat sampel dikali 100%

Referensi[sunting | sunting sumber]


http://id.wikipedia.org/wiki/Rendemen_kimia

Anatomi Organ Mata


Mata atau organon visus secara
anatomis terdiri dari Occulus dan alat
tambahan (otot-otot) di sekitarnya.
Occulus terdiri dari Nervus Opticus dan
Bulbus Occuli yang terdiri dari Tunika
dan Isi. Tunika atau selubung terdiri
dari 3 lapisan, yaitu : 1. Tunika Fibrosa
(lapisan luar), terdiri dari kornea dan
sclera
2. Tunika Vasculosa (lapisan tengah)
yang mengandung pembuluh darah,
terdiri dari chorioidea, corpus ciliaris,
dan iris yang mengandung pigmen
dengan musculus dilatator pupillae dan
musculus spchinter pupillae.
Tunika Nervosa (lapisan paling dalam),
yang mengandung reseptor teridir dari
dua lapisan, yaitu : Stratum Pigmenti d
dan Retina (dibedakan atas Pars Coeca
yang meliputi Pars Iridica dan Pars
Ciliaris; Pars Optica yang berfungsi
menerima rangsang dari conus dan
basilus
Isi pada Bulbus Oculli terdiri dari :

a. Humor Aques, zat cair yang mengisi


antara kornea dan lensa kristalina,
dibelakang dan di depan iris.
b. Lensa Kristalina, yang diliputi oleh
Capsula Lentis dengan Ligmentum
Suspensorium Lentis untuk
berhubungan dengan Corpus Ciliaris.
c. Corpus Vitreum, badan kaca yang
mengisi ruangan antara lensa dengan
retina.
Anatomy Mata
Reseptor di Mata
Reseptor penglihatan adalah sel-sel di conus
(sel kerucut) dan basilus (sel batang). Conus
terutama terdapat dalam fovea dan penting
untuk menerima rangsang cahaya kuat dan
rangsang warna. Sel-sel basilus tersebar
pada retina terutama di luar makula dan
berguna sebagai penerima rangsang cahaya
berintensitas rendah. Oleh karena itu dikenal
dua mekanisme tersendiri di dalam retina
(disebut dengan Teori Duplisitas), yaitu :
a. Penglihatan Photop, yaitu mekanisme yang
mengatur penglihatan sinar pada siang hari
dan penglihatan warna dengan conus
b. Penglihatan Scotop, yaitu mekanisme yang
mengatur penglihatan senja dan malam hari
dengan basilus

Jalannya Impuls di Mata


Manusia apat melihat karena ada
rangsang berupa sinar yang diterima oleh
reseptor pada mata. Jalannya sinar pada
mata adalah sebagai berikut :
Impuls yang timbul dalam conus atau
basilus berjalan melalui neuritnya menuju ke
neuron yang berbentuk sel bipoler dan
akhirnya berpindah ke neuron yang berbentuk
sel mutipoler. Neurit sel-sel multipoler
meninggalkan retina dan membentuk nervus
opticus. Kedua nervus opticus di bawah
hypothalamus saling bersilangan sehingga
membentuk chiasma nervus opticus, yaitu
neurit-neurit yang berasal dari sebelah lateral
retina tidak bersilangan. Tractus Opticus
sebagian berakhir pada colliculus superior,
dan sebagian lagi pada corpus geneculatum
lateral yang membentuk neuron baru yang
pergi ke korteks pada dinding fissura
calcarina melalui capsula interna. Pada
dinding fisura calcarina inilah terdapat pusat
penglihatan.
Gambar Conus Mata

Gambar Impulse MataVisus (Ketajaman Penglihatan)


Untuk dapat melihat, stimulus (cahaya)
harus jatuh di reseptor dalam retina

kemudian diteruskan ke pusat


penglihatan (fovea centralis). Untuk dapat
melihat dengan baik perlu ketajaman
penglihatan. Ketajaman penglihatan inilah
yang disebut visus. Faktor-faktor yang
mempengaruhi kekuatan visus adalah :
a. Sifat fisis mata, yang meliputi ada
tidaknya aberasi (kegagalan sinar untuk
berkonvergensi atau bertemu di satu titik
fokus setelah melewati suatu sistem
optik), besarnya pupil, komposisi cahaya,
fiksasi objek, dan mekanisme
akomodasinya dengan elastisitas
musculus ciliarisnya yang dapat
menyebabkan ametropia yang meliputi :
1) Myopia, sinar sejajar axis pada mata
tak berakomodasi akan memusat di muka
retina, sehingga bayangan kabur. Dapat
disebabkan oleh :
- axis terlalu panjang
- kekuatan refraksi
lensa terlalu kuat
2) Hypermetropia, sinar sejajar axis pada
mata yang tak berakomo- dasi akan
memusat di belakang retina, sehingga
bayangan kabur. Dapat disebabkan oleh :
- axis bola mata terlalu Pendek
- kekuatan refraksi lensa kurang kuat

Gambar Mata Normal


Gambar Mata Myopi (rabun)
Gambar Penglihatan Rabun
Gambar Hypermetropia3) Astigmatisma, kesalahan refraksi
sistem lensa mata yang biasa-nya
disebabkan oleh kornea yang berbentuk
bujur sangkar atau jarang-jarang, dan
lensa yang berbentuk bujur).
b. Faktor stimulus, yang meliputi kontras
(terbentuknya bayangan benda yang
berwarna komplemennya), besar kecilnya
stimulus, lamanya melihat, dan intensitas
cahaya.
c. Faktor Retina, yaitu makin kecil dan
makin rapat conus, makin kecil minimum
separable (jarak terkecil antara garis yang
masih terpisah).
Mengukur Visus (Ketajaman
Penglihatan)
Untuk mengetahui visus adalah dengan
menggunakan suatu pecahan matematis
yang menyatakan perbandingan 2 jarak,
yang juga merupakan perbandingan
ketajaman penglihatan seseorang dengan
ketajaman penglihatan orang normal.
Dalam praktek digunakan optotype dari
Snellen
Gambar Astigmatisma

V=d/D
keterangan,
V= Visus
d = jarak antara optotype dengan subjek
yang diperiksa
D = jarak sejauh mana huruf-huruf masih
dapat dibaca mata normal
Rumus Mengukur Visus
Punctum Proximum
Visus berkaitan erat dengan mekanisme
akomodasi seperti yang telah disebutkan di
atas, adanya kontraksi akan menyebabkan
peningkatan kekuatan lensa, sedangkan
relaksasi menyebabkan pengurangan
kekuatan, Akomodasi memiliki batas
maksimum, jika benda yang telah fokus
didekatkan lagi, maka bayangan akan kabur.
Titik terdekat yang masih dilihat jelas oleh
mata dengan akomodasi maksimum disebut
punctum proximum (PP).
Punctum Remotum
Titik terjauh yang masih dapat dilihat dengan
jelas tanpa mata berakomodasi adalah tidak
terbatas. Kondisi ini disebut dengan punctum
remotum (PR).
Ketuaan, Rabun Dekat, dan Penyakit
Katarak
Makin tua usia seseorang, makin jauh jarak

PP; disamping itu elastisitas lensa juga


berkurang dan daya mencembung juga
berkurang (disebut PRESBYOPIA atau Mata
TuaRabun Dekat??). Berkurangnya
elastisitas oleh proses penuaan adalah
akibat terjadinya kalsifikasi (pengapuran).
Endapan-endapan kapur ini menghambat
elastisitas mata. kalsifikasi ini juga dapat
menyebabkan katarak pada kornea.
Amplitudo Akomodasi
Dalam akomodasi juga terdapat Amplitudo
Akomodasi (AA), yaitu jarak benda yang
dapat dilihat jelas yaitu yang terletak diantara
kekuatan refraksi dinamis (PP) dan kekuatan
refraksi statis (PR). pada presbyopia, AA
berkurang karena kekuatan refraksi
dinamisnya berkurang.
Gambar Orang Tua (Ketuaan)

Gambar Presbiopi Melihat Warna


Penglihatan warna sangat dipengaruhi oleh
tiga macam pigmen di dalam sel kerucut
sehingga sel kerucut/conus menjadi peka
secara selektif terhadap berbagai warna biru,
merah, dan hijau.
Banyak teori berbeda diajukan untuk
menjelaskan fenomena penglihatan, tapi
biasanya teori-teori itu didasarkan pada

pengamatan yang sudah dikenal dengan


baik, yaitu bahwa mata manusia dapat
mendeteksi hampir semua gradasi warna bila
cahaya monokromatik merah, hijau, dan biru
dicampur secara tepat dalam berbagai
kombinasi.
Teori Young-Helmholtz
Teori penting pertama mengenai penglihatan
warna adalah dari Young, yang kemudian
dikembangkan dan diberi dasar
eksperimental yang lebih mendalam oleh
Helmholtz. Menurut teori ini ada tiga jenis
sel kerucut yang masing-masing beraksi
secara maksimal terhadap suatu warna yang
berbeda. Oleh sebab itu menurut teori ini ada
3 macam conus, yaitu :
1. Conus yang menerima warna hijau
2. Conus yang menerima warna merah
3. Conus yang menerima warna violet
Ketiga macam conus itu mengandung zat
photokemis yaitu substansi yang dapat
dipecah oleh sinar matahari. Jika ketiga
macam conus itu mendapat rangsang
bersama-sama, maka terlihatlah warna putih.
Warna-warna lain adalah kombinasi dari 3
warna dasar itu dengan perbandingan
berbeda-beda. Contohnya cahaya
monokromatik merah dengan panjang

gelombang 610 milimikron merangsang


kerucut merah ke suatu nilai rangsang
sebesar kira-kira 0.75 (76% dari puncak
perangsangan pada panjang gelombang
optimum), sedangkan ia merangsang kerucut
hijau ke suatu nilai rangsang sebesar kiraGambar Gradasi Warna
Gambar Kombinasi Warna Dasar
dengan Putaran Maxwellkira 0.13 dan kerucut biru sama sekali tidak
dirangsang. jadi rasio perangsangan dari
ketiga jenis conus dalam hal ini adalah 75 :
13 :0, sehingga sistem saraf menafsirkan
kelompok rasio ini sebagai sensasi merah.
Unsuk sensasi biru, kelompok rasionya
adalah 0 : 14 : 86; untuk sensasi jingga tuakuning , kelompok rasionya 100 : 50 : 0;
untuk sensasi hijau, kelompok rasionya 50 :
85 : 15, demikian seterusnya. Buta Warna Total dan Partial
Ada suatu kondisi dimana
seseorang tidak dapat melihat
warna sama sekali. Cacat tersebut
dinamakan buta warna yang
mempenagruhi total maupun
sebagian kemampuan individu
untuk membedakan warna. Variasi
dari buta warna yang dibawa sejak
lahir cukup nyata, antara lain :
a) Akromatisme atau
Akromatopsia, adalah kebutaan
warna total dimana semua warna

dilihat sebagai tingkatan warna


abu-abu
b) Diakromatisme, adalah
kebutaan tidak sempurna yang
menyangkut ketidakmampuan
untuk membedakan warna-warna
merah dan hijau. Untuk
kesimpangsiuran warna ini ada
tiga tipe, yaitu :
- Deutrinophia, yaitu orang yang
kehilangan kerucut hijau sehingga
ia tidak dapat melihat warna hijau
- Protanophia, yaitu orang yang
kehilangan kerucut merah
sehingga ia buta warna merah
- Tritanophia, yaitu kondisi yang
ditandai oleh ketidakberesan
dalam warna biru dan kuning
dimana conus biru atau kuning
tidak peka terhadap suatu daerah
spektrum visual
Gambar Buta Warna Total
(hanya melihat hitam-putih)

Gambar Deutronophia
(tidak melihat warna hijau)
Gambar Protanophia
(tidak melihat warna merah) Teori Hering tentang Buta

Warna
Menurut Hering, buta
warna partial disebabkan karena
orang tidak mempunyai substansi
warna merah-hijau (daltonis).
Umumnya orang menderita buta
warna merah-hijau, sedangkan
buta warna kuning-hitam jarang
terjadi, juga penderita buta warna
yang total jarang terjadi karena itu
jarang ada individu yang tidak
mempunyai substansi fotochemis
sama sekali.
Hering juga menyatakan bahwa
ada 3 macam substansi
fotochemis yang memiliki 6
macam kualitas dan dapat
memberikan 6 macam sensasi.
Substansi ini dapat dipecah dan
dapat dibangun oleh rangsangrangsang tertentu. Ke-2 macam
substansi itu adalah :
- Substansi putih/hitam
- Substansi merah/hijau
- Substansi kuning/biru
Kalau terlihat warna putih, berarti
semua gelombang sinar
dipantulkan, sedangkan kalau
melihat warna hitam berarti semua

gelombang sinar dihisap


(diabsorpsi).
Keberatan terhadap Teori Hering
Ada keberatan-keberatan terhadap teori
Hering karena tidak sesuai dengan
doktrin energi spesifik. Dalam doktrin
energi spesifik, tiap satu reseptor hanya
Gambar Protanophia
(tidak melihat warna biru dan kuning)dapat menerima satu macam rangsang
yang tetap dan hanya dapat memberikan
satu sensasi yang tepat. Sedangkan
dalam teori Hering, satu substansi
dianggap dapat mengadakan 2 sensasi
warna.
http://v-class.gunadarma.ac.id/file.php/1/Indra_Pandang.pdf

laser Helium Neon (HeNe). Laser HeNe ini adalah laser dengan biaya yang rendah,
ukurannya kecil, usia penggunaannya panjang (sekitar 50.000 jam operasi), dan sinarnya
berkualitas tinggi.