Anda di halaman 1dari 16

RANGKUMAN MATERI

TALAK, KHULU, ZIHAR, ILA DAN LIAN

DISUSUN OLEH :
1. IMAM ABDUL LATHIF (12141371)
2. PRISYLIAWAN AJI SUROSO (12141375)
3. RAHMAD HIDAYAT (12141377)

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN ILMU KOMPUTER


EL RAHMA
YOGYAKARTA
2016

A. THALAQ
1. Pengertian tentang Thalaq
Thalaq berasal dari kata thalaqa-yathalaqu-thalaqa yang bermakna melepaskan,
meninggalkan, mengurai tali pengikat.
Menurut Al Jaziri dalam kitab Al Fiqhh Al Madzahibil Arbaah memberikan definisi:



.


Thalaq ialah menghilangkan ikatan perkawinan atau mengurangi pelepasan
ikatannya dengan mempergunakan kata-kata tertentu.
Sedangkan menurut istilah, thalaq berarti :
- Menghilangkan ikatan perkawinan atau mengurangi keterikatannya dengan
menggunakan ucapan tertentu.
- Melepaskan ikatan perkawinan dan mengakhiri hubungan suami istri.
- Melepaskan ikatan akad perkawinan dengan ucapan talak atau yang sepadan
dengan itu.
2. Dalil tentang Thalaq

]:::[

Dan jika mereka berazam (bertetap hati untuk) talak, maka sesungguhnya Allah
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.




]:::[


Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang
ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil
kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau
keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu
khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum
Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri
untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu
melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah
orang-orang yang zalim.

2|






]:::[

Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan
itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika
suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas
suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan
dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkanNya kepada kaum yang (mau) mengetahui.


-

-
(

:

,
,

, )

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam
bersabda: "Perbuatan halal yang paling dibenci Allah ialah cerai." Riwayat Abu
Dawud dan Ibnu Majah. Hadits shahih menurut Hakim. Abu Hatim lebih menilainya
hadits mursal.
3. Hokum tentang Thalaq
- Makruh
Makruh adalah hokum asal thalaq. Thalaq menjadi makruh karena menghilangkan
perkawinan yang di dalamnya terkandung kemaslahatan-kemaslahatan.
- Haram
Haram adalah hokum thalaq yang dijatuhkan dalam dua keadaan. Keadaan yang
pertama adalah ketika istri dalam keadaan haid dan yang kedua ketika istri dalam
keadaan suci tetapi telah digauli dalam waktu suci tersebut.
- Sunah
Sunah apabila suami tidak sanggup lagi menunaikan kewajibannya dalam
memberi nafkah dengan cukup atau istri tidak mampu lagi menjaga kehormatan
dirinya.
- Wajib
Wajib apabila terjadi perselisihan antara suami dan istri serta menurut hakim
keduanya sudah tidak bisa lagi disatukan sehingga harus bercerai.

]:[


Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah
seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga
perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan,
3|

niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal.

]:[

Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masingmasingnya dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Bijaksana.

4. Rukun-rukun Thalaq
a. Suami
Suami adala seorang yang memiliki hak thalaq dan yang berhak menjatuhkan
thalaq. Suami yang menjatuhkan thalaq disayaratkan :
1. Berakal.
2. Baligh.
3. Atas kemauan sendiri.
b. Istri
Suami hanya berhak menjatuhkan thalaq terhadap istrinya sendiri, tidak
dijatuhkan pada istri orang lain. Syarat istri yang dithalaq adalah :
1. Istri masih tetap berada dalam perlindungan dalam kekuasaan suami.
2. Kedudukan istri yang dithalaq itu harus berdasarkan akad perkawinan yang
sah.
c. Sighat
Sighat thalaq adalah kata-kata yang diucapkan oleh suami terhadap istrinya yang
menunjukkan talak, baik itu sharih (jelas) maupun kinayah (sindiran), baik berupa
ucapan, tulisan atau isyarat bagi suami tuna wicara atau dengan suruhan orang
lain. Jika suami dalam keadaan marah, lalu memukul istri dan memulangkan ke
rumah orang tuanya, menyerahkan barang-barangnya tanpa disertai pernyataan
talak, maka hal itu bukan thalaq.
d. Qasdu (sengaja)
Artinya dengan ucapan talak itu memang dimaksudkan oleh yang
mengucapkannya benar-benar untuk thalaq. Jadi jika salah ucap yang dimaksud
tidak untuk thalaq, itu dipandang belum jatuh thalaq.
e. Wilayah
Yaitu suami yang mempunyai wewenang menjatuhkan thalaq.
5. Macam-macam Thalaq
Ditinjau dari segi kemungkinan suami merujuk kembali istrinya atau tidak, ada dua
yaitu :
a. Thalaq Raji
Yaitu thalaq yang masih memberi hak kepada suami untuk merujuk bekas istrinya
dalam masa iddah istri.
b. Thalaq Bain
4|

Yaitu thalaq yang jika suami ingin kembali pada bekas istri maka harus akad nikah
baru lengkap dengan saksi dan mahar. Thalaq bain ada dua macam :
1. Thalaq Bain Shughra, yaitu talak yang tidak memberi hak bekas suami untuk
merujuk istri tetapi belum thalak ketiga. Hal ini kemungkinan suami istri
kembali lagi dengan perkawinan baru dengan thalaq yang tersisa yang belum
dijatuhkan.
2. Thalaq Bain Kubra, yaitu thalaq yang ketiga kalinya untuk suami istri. Dalam
hal ini bekas suami tidak halal mengawini bekas istrinya kecuali setelah istrinya
kawin dan kumpul lagi dengan pria lain, serta telah bercerai dan selesai masa
iddah dari pria lain itu.
6. Hikmah Thalaq
a. Menjernihkan kehidupan bekas suami dan istri yang semula keruh.
b. Menghilangkan kesengsaraan bagi kedua belah pihak.
7. Akibat Thalaq
a. Memberikan mutah kepada bekas istrinya baik berupa uang atau benda kecuali
bekas istri tersebut Qabla al dukhul (QS. 2 : 241, 33 : 28, 33 : 49, 2 : 236)
b. Memberi nafkah, tempat tinggal dan pakaian kepada bekas istri selama masa
iddah kecuali dijatuhi thalaq bain atau tidak hamil.
c. Melunasi mahar yang masih terhutang seluruhnya dan separuh apabila Qobla al
Dukhul









]:[

dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budakbudak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapanNya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari
isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri
yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka
maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa
bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah
menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana.

5|

]:::[


Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka,


padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah
seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika isteri-isterimu itu
memaafkan atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan nikah, dan
pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu melupakan
keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang
kamu kerjakan.
d. Memberikan biaya hadhanah kepada anak yang belum berumur 21 tahun.
8. Masa iddah
a. Wanita yang haidl (QS. 2 : 228)
b. Wanita yang ditinggal mati suaminya (QS. 2 : 234)
c. Wanita yang telah berhenti dari haidl atau tidak haidl (menopause) (QS. 65 : 4 )
d. Wanita yang hamil (QS. 65 : 4)
e. Wanita yang belum dicampuri (QS. 33 : 49)
B. KHULU
1. Pengertian Tentang Khulu
Khulu berasal dari kata khulu yang maknanya melepas pakaian. menurut istilah yaitu
wanita yang meminta kepada suaminya untuk melepas dirinya dari ikatan
perkawinan. Sedangkan menurut syariat, para ulama mendefinisikan bahwa khulu
ialah terjadinya perpisahan (perceraian) antara suami dan istri dengan keridhaan
keduanya dan dengan pembayaran diserahkan isteri kepada suaminya.
Syaikh Al Bassam berpendapat Al khulu ialah perceraian suami istri dengan
pembayaran yang diambil suami dari istrinya.
2. Dalil tentang Khulu












]:::[



Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan
kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan
hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat
menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang
bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah,

6|

maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum


Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.

Telah menceritakan kepada kami Azhar bin Jamil Telah menceritakan kepada kami
Abdul Wahhab Ats Tsaqafi Telah menceritakan kepada kami Khalid dari Ikrimah dari
Ibnu Abbas bahwasanya; Isteri Tsabit bin Qais datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam dan berkata, "Wahai Rasulullah, tidaklah aku mencela Tsabit bin Qais atas
agama atau pun akhlaknya, akan tetapi aku khawatir kekufuran dalam Islam." Maka
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apakah kamu mau mengembalikan
kebun miliknya itu?" Ia menjawab, "Ya." Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda: "Terimalah kebun itu, dan ceraikanlah ia dengan talak satu." Abu Abdullah
berkata; Tidak ada hadis penguat dari Ibnu Abbas. (HR. Bukhari)
3. Hokum tentang Khulu
a. Mubah
Ketentuannya, sang wanita sudah benci tinggal bersama suaminya karena
kebencian dan takut tidak dapat menunaikan hak suaminya tersebut dan tidak
dapat menegakkan batasan-batasan Allah Subhanahu wa Taala dalam ketaatan
kepadanya, dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Taala.






]:::[




Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan
hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang
diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka
janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah
mereka itulah orang-orang yang zalim.
7|

Al-Hafizh Ibnu Hajar memberikan ketentuan dalam masalah khulu ini dengan
pernyataannya, bahwasanya Al-Khulu, ialah seorang suami menceraikan isterinya
dengan penyerahan pembayaran ganti kepada suami. Ini dilarang, kecuali jika
keduanya atau salah satunya merasa khawatir tidak dapat melaksanakan apa yang
diperintahkan Allah. Hal ini bisa muncul karena adanya ketidaksukaan dalam
pergaulan rumah tangga, bisa jadi karena jeleknya akhlak atau bentuk fisiknya.
Demikian juga larangan ini hilang, kecuali jika keduanya membutuhkan
penceraian, karena khawatir dosa yang menyebabkan timbulnya Al-Bainunah AlKubra (Perceraian besar atau Talak Tiga). Syaikh Al-Bassam mengatakan,
diperbolehkan Al-Khulu (gugat cerai) bagi wanita, apabila sang isteri membenci
akhlak suaminya atau khawatir berbuat dosa karena tidak dapat menunaikan
haknya. Apabila sang suami mencintainya, maka disunnahkan bagi sang isteri
untuk bersabar dan tidak memilih perceraian.
b. Haram
1. Dari sisi suami
Apabila suami menyusahkan isteri dan memutus hubungan komunikasi
dengannya, atau dengan sengaja tidak memberikan hak-haknya dan
sejenisnya agar sang isteri membayar tebusan kepadanya dengan jalan
gugatan cerai, maka Khulu itu batil, dan tebusannya dikembalikan kepada
wanita. Sedangkan status wanita itu tetap seperti asalnya jika Khulu tidak
dilakukan dengan lafazh thalak, karena Allah Subhanahu wa Taala berfirman.







Janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali
sebagian kecil dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila
mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata [An-Nisa : 19]
Apabila suami menceraikannya, maka ia tidak memiliki hak mengambil
tebusan tersebut. Namun, bila isteri berzina lalu suami membuatnya susah
agar isteri tersebut membayar terbusan dengan Al-Khulu, maka diperbolehkan
berdasarkan ayat di atas.
2. Dari sisi istri
Apabila seorang isteri meminta cerai padahal hubungan rumah tangganya baik
dan tidak terjadi perselisihan maupun pertengkaran di antara pasangan suami
isteri tersebut. Serta tidak ada alasan syari yang membenarkan adanya khulu,
maka ini dilarang.

8|




Dari Tsauban, ia berkata, Rasulullah SAW, "Wanita mana saja yang meminta
cerai dari suaminya tanpa ada permasalahan berat apa-apa, maka haram
baginya aroma surga." Shahih: Al Irwa' (2035), Al Misykah (3279), Shahih
Abu Daud (1928).
c. Sunah
Apabila suami berlaku mufarrith (meremehkan) hak-hak Allah, maka sang istri
disunnahkan al khulu.
d. Wajib
Terkadang khulu hukumnya menjadi wajib pada sebagian keadaan. Misalnya
terhadap orang yang tidak pernah melakukan sholat, padahal telah diingatkan.
Demikian juga seandainya sang suami memiliki keyakinan atau perbuatan yang
dapat menyebabkan keyakinan sang istri keluar dari Islam dan menjadikannya
murtad. Sang wanita tidak mampu membuktikannya di depan hakim peradilan
untuk dihhukumi berpisah atau mampu membuktikannya namun hakim peradilan
tidak menghukuminya murtad dan tidak juga kewajiban berpisah, maka dalam
keadaan seperti itu seorang istri wajib untuk meminta dari suaminya khulu
walaupun harus menyerahkan harta. Karena seorang muslimah tidak patut
menjadi istri seorang yang memiliki keyakinan dan perbuatan kufur.
4. Hikmah Khulu
Al Jurjawi menuturkan :
Khulu sendiri sebenarnya di benci oleh syariat seperti halnya talak. Semua akal sehat
dan perasaan sehat menolak khulu hanya saja Allah Yang Maha Bijaksana
memperbolehkannya untuk menolak bahaya ketika tidak mampu menegakan hokumhukum Allah.
Hikmah yang terkandung di dalamnya adalah menolak bahaya yaitu apabila
perpecahan antara suami istri telah memuncak dan dikhawatirkan keduanya tidak
dapat menjaga syariat-syariat dalam kehidupan suami istri, maka khulu dengan cara
yang telah di tetapkan oleh Allah merupakan penolakan terjadinya permusuhan dan
untuk menegakan hokum-hukum Allah.
C. ZIHAR
1. Pengertian Zihar
Zihar berasal dari kata zahr-zahru yang artinya punggung. Di dalam terminology
syariat, zihar dapat diartikan pada seluruh anggota badan sebagai qiyas dari
punggung.
Kalau seorang suami mengatakan Anti alayya kazahri Ummi artinya engkau bagiku
adalah seperti punggung ibuku, berarti suami tersebut telah menzihar istrinya.
9|

2. Dalil tentang Zihar




]:[


Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan
kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah
mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar
lagi Maha Melihat.

Sebab turunnya ayat ini ialah berhubungan dengan persoalan seorang wanita
bernama Khaulah binti Tsalabah yang telah dizhihar oleh suaminya Aus ibn Shamit,
yaitu dengan mengatakan kepada isterinya: Kamu bagiku seperti punggung ibuku
dengan maksud dia tidak boleh lagi menggauli isterinya, sebagaimana ia tidak boleh
menggauli ibunya. Menurut adat Jahiliyah kalimat zhihar seperti itu sudah sama
dengan menthalak isteri. Maka Khaulah mengadukan hal itu kepada Rasulullah s.a.w.
Rasulullah menjawab, bahwa dalam hal ini belum ada keputusan dari Allah. Dan pada
riwayat yang lain Rasulullah mengatakan: Engkau telah diharamkan bersetubuh
dengan dia. Lalu Khaulah berkata: Suamiku belum menyebutkan kata-kata thalak
Kemudian Khaulah berulang kali mendesak Rasulullah supaya menetapkan suatu
keputusan dalam hal ini, sehingga kemudian turunlah ayat ini dan ayat-ayat
berikutnya.

]::[

Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya


sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak
lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguhsungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah
Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.
3. kaffarat Zihar


]::[

Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik


kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang
budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada
kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

10 |

]:[

Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua
bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa
(wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya
kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi
orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.





















Dari Ibnu Abbas, Bahwasanya seorang lelaki mendzihar istrinya, dan menyetubuhinya
sebelum ia melakukan kafaratnya kemudian ia mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi
Wasalam dan menceritakan kisahnya kepada beliau, maka beliau bersabda, "Apa
yang membuatmu melakukan itu?" ia menjawab, "Wahai Rasulullah, aku melihat
putihnya kedua betisnya dalam cahaya bulan, maka aku tidak dapat menahan diri
hingga menggaulinya." Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam pun tersenyum dan
menyuruhnya agar tidak mendekatinya (menggaulinya) sampai melaksanakan
kafaratnya." Hasan: Al Irwa' (7/179).
Seorang suami yang menzihar istrinya dilarang untuk menyetubuhinya sebelum
kafarratnya dibayar. Adapun kafarat bagi penzihar adalah :
a. Memerdekakan seorang budak.
b. Atau berpuasa dua bulan berturut-turut.
c. Atau memberi makan 60 orang miskin.
D. ILAA
1. Pengertian Ilaa
Secara etimologi ila berasal dari kata ala-yali-laan yang artinya melarang diri dengan
menggunakan kata sumpah. Sedangkan secara istilah ila adalah bersumpah untuk
tidak mencampuri istrinya lagi dalam waktu empat bulan atau dengan tidak
menyebutkan jangka waktunya.

11 |

Menurut atha, ila berarti bersumpah dengan nama Allah untuk tidak mencampuri
istrinya selama empat bulan atau lebih. Jika tidak diiringi dengan sumpah maka tidak
dikatakan dengan ila.
2. Dalil tentang Ilaa

]:::[

Kepada orang-orang yang meng-ilaa' isterinya diberi tangguh empat bulan


(lamanya). Kemudian jika mereka kembali (kepada isterinya), maka sesungguhnya
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
3. Rukun-rukun ilaa
a. Al haalif atau orang yang bersumpah
Yaitu seorang suami.
b. Al mahluf bihi atau yang dijadikan sebagai sumpah
Yang dijadikan sebagai sumpah adalah dengan menyebut nama Allah atau dengan
menyebut sifat-sifat-Nya
c. Al mahluf alaihi atau objek sumpah
Objek sumpah adalah persetubuhan, dengan semua lafal yang mengandung
pengertian persetubuhan. Misalnya aku tidak setubuhi kamu.
d. Masa
Menurut pendapat jumhur fuqaha selain madzhab Hanafi yaitu si suami
bersumpah untuk tidak menyetubuhi isterinya selama lebih dari empat bulan.
Sedangkan menurut madzhab Hanafi masa yang paling minimal adalah lebih dari
empat bulan, oleh karena itu, jika si suami bersumpah selama tiga bulan atau
empat bulan maka menurut jumhur fuqaha dia tidak melakukan ilaa.
4. Akibat dan kafarat Ilaa
Akibat dari ila adalah seorang suami dilarang menyetubuhi istrinya. Apabila ia ingin
menyetubuhinya lagi, maka suami harus membayar kafarat.

]:[


Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud


(untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang
kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh
orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau
memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa
12 |

tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari.
Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan
kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu
hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).
E. LIAN
1. Pengertian Lian
Lian berasal dari kata al lanu lanan-lanatan yang artinya jauh, laknat atau kutukan.
Menurut istilah hokum Islam, lian ialah sumpah yang diucapkan oleh suami ketika
menuduh istrinya berbuat zina dengan empat kali kesaksian bahwa ia termasuk orang
yang benar dalam tuduhannya itu. Kemudian pada kesaksian yang kelima disertai
persyaratan bahwa ia bersedia menerima laknat Allah jika ia berdusta dalam
tuduhannya itu.
2. Dalil tentang Lian







]:[

Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada
mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah
empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orangorang yang benar.

]:[

Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya, jika dia termasuk orangorang yang berdusta.



13 |




Dari Ibnu Abbas, bahwa Hilal bin Umayyah menuduh istrinya berselingkuh (berzina)
dengan Syarik bin Sahma' di hadapan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, maka beliau
pun bersabda, "Hadirkanlah bukti-bukti (saksi-saksi) atau dera (hukuman cambuk) di
punggungmu. " Maka Hilal bin Umayyah berkata, "Demi Dzat yang mengutusmu
dengan kebenaran! Sungguh aku benar dalam perkataanku dan semoga Allah
menurunkan (hukum) yang akan membebaskan punggungku. Ia (perawi) berkata,
"Maka turunlah, 'Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal
mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian
orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah
termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah
atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta. Isterinya itu dihindarkan dari
hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah sesungguhnya suaminya itu
benar-benar termasuk orang-orang yang dusta, dan (sumpah) yang kelima: bahwa
laknat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar. " (Qs. AnNuur [24]: 6-9). Maka Nabi pun meninggalkan (tempat itu) lalu mengutus seseorang
kepada keduanya dan keduanya pun datang kepada beliau. Hilal lalu berdiri dan
bersaksi, dan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui bahwa salah seorang diantara kalian adalah pembohong, apakah ada
yang bertobat?" kemudian istrinya berdiri dan bersaksi, maka ketika pada yang
kelima, "Bahwa laknat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orangyang
benar." mereka pun berkata, "Sesungguhnya ia wajib." Ibnu Abbas berkata, "Maka
perempuan itu berhenti bicara dengan terengah-engah sehingga kami menyangka
bahwa ia akan kembali... maka perempuan itu berkata, "Demi Allah! Aku tidak akan
membeberkannya pada kaumku pada hari ini." Maka Nabi Shallallahu Alaihi
Wasallam bersabda, "Lihatlah kepadanya, jika ia kembali dengan mata hitam dan
dua pantat yang besar, dua betis yang tebal, maka ia milik Syarik bin Sahma'. Maka
perempuan itu datang dengan kondisi semacam itu, dan Nabi Shallallahu Alaihi
Wasallam bersabda, "Kalau saja belum ada keputusan dari Al Qur'an, maka niscaya
aku dapat bertindak dan ia memiliki keadaan (yang berbeda)." Shahih: Al Irwa'
(2098),Shahih Abu Daud(1951): Al Bukhari.
3. Proses Lian
Jika dilihat dari dasar lin. dalam Al-Quran surah An-Nuur (24) ayat 6-9, dapat
diketahui bunyi dari lafal lin., yaitu :

14 |

Maka suami mula-mula bersaksi di hadapan hakim dengan empat pensaksian, yaitu
dengan mengucapkan asyhadu billahi inn laminasshadiqn (saya bersaksi dengan
nama Allah, sesungguhnya saya adalah dari orang-orang yang benar tentang apa yang
saya tuduhkan kepada istri saya, yaitu : zina), dan pada kali yang kelima dia
mengatakan : lanatAllahi alayya in kuntu min al-kdzibn (Kutukan Tuhan atasku jika
aku dari orang yang dusta tentang tuduhannya).
Kemudian istrinya pula bersaksi dengan empat pensaksian dengan mengucapkan
asyhadu bi-allahi innahu lamin al-kdzibn (saya bersaksi dengan nama Allah,
sesungguhnya dia adalah dari orang-orang yang berdusta terhadap tuduhannya atas
diriku), dan pada kali yang kelima dia mengatakan : ghadlab allahi alaa in kna min
ash-shadiqn (kemarahan Allah atas diriku jika dia (suaminya) dari orang yang benar
dalam tuduhannya).
Dalam prakteknya di pengadilan, lafal lian yang sering digunakan adalah sebagai
berikut :1[16] Suami terlebih dahulu mengucapkan sumpah lian di muka sidang,
Bismillahirrahmanirrahim, wallahi, wa bi Allahi, wa ta Allahi., Demi Allah Saya
Bersumpah Bahwa Istri saya telah Berbuat Zina dan Anak yang dilahirkan oleh Istri
saya Bukan Anak saya. (Empat kali).
Saya Bersedia Menerima Lanat Allah Apabila Saya Berdusta. (Satu kali).
Lalu dilanjutkan dengan sumpah lian (sumpah balasan) dari istri,
Bismillahirrahmanirrahim, wallahi, wa bi Allahi, wa ta Allahi., Demi Allah Saya Tidak
Berzina dan Anak yang dilahirkan Saya Adalah Anak Suami saya (Empat kali).
Saya Bersedia Menerima Murka Allah Apabila Saya Berdusta. (Satu kali).
Dalam proses lin tersebut hakim hendaknya memberi peringatan kepada si suami
seperti peringatan yang disabdakan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:
Siapa saja lelaki yang menolak anaknya, padahal sebenarnya ia mengakuinya, maka
Allah tidak akan melihatnya dan ia akan dihinakan di hadapan orang-orang terdahulu
maupun orang-orang terkemudian (Hadist Riwayat Abu Dawud, Nasai, dan Ibnu
Majjah. Ibnu Hibban menyatakan sahih).
Kemudian hakim hendaknya juga memperingatkan istri dengan sabda Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wasallam :
Barangsiapa diantara perempuan memasukkan suatu kaum yang bukan ahlinya
(suaminya), maka hal itu tidak jadi masalah bagi Allah, tetapi Allah tidak akan
memasukkannya ke surga. (Hadist Riwayat Abu Dawud, Nasai, dan Ibnu Majjah.
Ibnu Hiban menyatakan sahih).
4. Akibat Lian
a. Keduanya harus diceraikan.
b. Keduanya haram ruju untuk selama-lamanya.
c. Wanita yang bermulaanah berhak memiliki mahar.

15 |

d. Anak yang lahir dari istri yang bermulaanah harus diserahkan kepada sang istri
(ibunya).
e. Istri yang bermulaanah berhak menjadi ahli waris anaknya dan begitu juga
sebaliknya.

16 |