Anda di halaman 1dari 11

Potensi Minyak Bumi di Dunia

Berapa lama minyak bumi dunia akan habis sangat tergantung pertama dari besar
kecilnya cadangan dan yang kedua berapa besarnya produksi yang disesuaikan dan tingkat
kebutuhan dunia akan minyak bumi. Sedangkan, besar kecilnya tingkat kemakmuran suatu
negara. Semakin makmur, diperkirakan kebutuhan akan energi terutama berupa minyak bumi
juga semakin besar.
Jika minyak bumi kelak masih merupakan sumber energi utama, sudah dapat diramalkan
bahwa ketergantungan negara-negara industri non-komunis terhadap negara OPEC semakin
besar. Tidak mengherankan jika keamanan di negara-negara Timur Tengah pada akhirnya selalu
dihantui oleh bencana peperangan antar negara penghasil minyak di Timur Tengah. Karena
minyak bumi merupakan kunci bagi industri.
Mungkin pengalaman keadaan di kawasan Asia Tenggara yang selalu terjadi keributan
perlu dijadikan contoh. Karena Asia Tenggara dalam kategori gudang yang kaya akan sumbersumber kekayaan alam seperti halnya, minyak, timah, tembaga, bauksit, nikel, karet, gula, kopi
dan sebagainya (treasure house of resource). Maka tidaklah heran kalau Asia Tenggara sejak
perang dunia kedua, telah menjadi kancah perebutan negara raksasa seperti Amerika Serikat, Uni
Soviet, RRC, Jepang setelah pengaruh Perancis menjadi luntur. Apalagi kawasan Asia Tenggara
yang pada waktu itu kaya akan bahan tambang dan hasil pertanian atau perkebunan, maka tidak
mengherankan jika potensi minyak dunia yang terbesar seperti di Timur Tengah juga akan
menjadi kawasan yang cukup menggelisahkan. Berbagai kepentingan akan ikut mewarnai
negara-negara di Timur Tengah, masalanya kini minyak bumi sebagai sumber energi menjadi
penentu sekali bagi pertumbuhan ekonomi suatu negara.
Sebagai gambaran berapa banyak minyak dunia yang telah dihasilkan, dan berapa besar
cadangannya akan terlihat seperti pada tabel 1.

Tabel 1. Potensi Minyak Bumi Dunia yang Telah Diketahui (miliar barel)

Wilayah

Produksi

Cadangan

Perbandingan

Kumulatif

(akhir 1977)

Cadangan/Produksi

(1859-1977)

Kumulatif

Amerika Serikat

114

29

0,25

Timur Tengah

100

366

3,7

Uni Soviet & Eropa Timur

55

78

1,4

Afrika

25

59

2,4

Kanada

0,75

Eropa Barat

27

6,7

Belahan Dunia Barat Lainnya

46

40

0,9

Timur 15

40

2,7

Belahan
Lainnya
Jumlah

Dunia

367

645

Sumber: International Petroleum Encyclopedia, 1978


Dari tabel 1 tersebut terlihat bahwa cadangan minyak yang terbesar, yaitu di Timur
Tengah. Diharapkan sumbangan minyak dan Timur Tengah akan memegang peranan utama,
apalagi jika diingat kumulatif produksinya yang sangat besar setelah Amerika Serikat. Jika
dilihat dari jumlah kebutuhan minyak bumi di Timur Tengah sendiri sangat kecil, dengan
demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa kumulatif minyak Timur Tengah yang mencapai 100
miliar barel, nyatanya telah disedot oleh perusahaan minyak raksasa. Di samping usaha
mempengaruhi suasana di kawasan negara-negara penghasil minyak seperti Timur Tengah, juga
sambil berusaha mencari serta menghasilkan energi lain di luar minyak, sekaligus menciptakan
hasil mesin-mesin industri atau mesin-mesin angkutan lainnya yang menggunakan energi bukan
minyak.
Itulah sekedar gambaran berapa besarnya potensi minyak dunia yang hingga kini masih
menjadi bahan energi utama dan masih menggelisahkan berbagai negara di dunia yang sama
sekali tidak mempunyai energi berupa minyak bumi atau energi lainnya.

Kebutuhan Minyak Bumi Dunia


Besar kecilnya perkembangan kebutuhan minyak bumi pada akhirnya sangat ditentukan
pertama oleh tingkat kemakmuran suatu negara, kedua tingkat harga minyak itu sendiri
dibandingkan dengan harga energi lainnya. Penentu lain, yaitu adanya sumber energi lain yang
lebih banyak dan ekonomis (mungkin dari beberapa negara yang sengaja membatasi
kebutuhannya akan minyak bumi). Masalah harga minyak itu sendiri sangat ditentukan oleh
tuntutan dari negara penghasil minyak yang selalu menuntut harga yang terus naik dengan alasan
untuk memenuhi persamaan nilai tukar akibat adanya inflasi di negara maju. Di samping itu,
kebijaksanaan OPEC yang berusaha melestarikan cadangan minyaknya hingga dapat bertahan
agak alam lagi daripada minyak terus dikuras sebesar-besarnya hanya untuk kepentingan negara
industri atau maju. Dengan adanya ketakutan akan kelangkaan minyak bumi di dunia, banyak
para ahli meramalkan bahwa pada akhirnya energi lain juga akan mampu menggantikan minyak
bumi sebagai energi.
Dilihat dari jumlah kebutuhan dunia akan minyak bumi memang ada kecenderungan
usaha mengurangi ketergantungan akan minyak bumi. Sebagai gambaran pada tabel 2, akan
terlihat mengenai berapa kebutuhan dunia non-komunis akan minyak bumi, dan pada tabel 3
akan terlihat kebutuhan dunia akan energi, dimana peranan dari minyak secara prosentase akan
ditekan.
Tabel 2. Perkiraan Kebutuhan Dunia (Non-Komunis) Akan Minyak Bumi
(jutaan barel per hari)

Negara

1976

1985

1990

Amerika Serikat

16,7

22,5

23,5

OECD Eropa

13,6

16,9

18,0

Kanada

2,0

2,5

2,2

Jepang

4,8

6,5

7,4

Negara maju lainnya

1,2

1,8

2,2

OECD lainnya

2,1

4,5

5,7

Negara berkembang non OPEC

6,7

9,5

11,0

Lain-lain

0,9

Jumlah

48,0

64,2

70,0

Sumber: Forecast of Energy Supply and Demand in the Non-Communist World, OPEC Bulletin,
July 31,1978
Tabel 3. Kebutuhan Dunia Akan Energi Primer Sebagai Bahan Bakar
(jutaan barel per hari ekuivalen minyak bumi)

Jenis
1980
2000
Minyak Bumi
60
89
Gas Alam
22
33
Batubara
33
66
Nuklir
3
41
Kayu & Energi Surya
14
24
Tenaga Air
8
16
Jumlah
140
269
Pertumbuhan rata-rata per tahun
3,3%
2,6%
Sumber: World Energy Conference, 1978

2020
95
39
133
122
40
24
453

Dari tabel 5 dapat dilihat bahwa diharapkan pada 2020 peranan minyak bumi tidak lagi
begitu besar, malah sebaliknya dunia kembali seperti keadaan energi Amerika Serikat di 1920.
Dimana peranan batubara kembali lagi sangat berperan. Di samping itu, energi berupa nuklir,
kayu, energi surya dan tenaga air terpaksa dikembangkan. Dengan demikian semakin jelas,
bahwa sebenarnya kebutuhan dunia akan minyak bumi semakin besar jumlahnya akan terus
dikendalikan oleh OPEC, maka energi lain di luar minyak bumi semakin dikembangkan.
Minyak Dunia dan Kemungkinan Sebagai Alat Diplomasi
Untuk mengukur sampai seberapa jauh peranan energi dapat diandalkan sebagai alat
diplomasi, terutama perlu dilihat sumber pengadaan minyak bumi duni. Jika dilihat dari tabel 1,
terlihat sekali bahwa dalam jangka panjang potensi minyak bumi di dunia yang berupa cadangan
sekitar 366 miliar barel berada di Timut Tengah, terutama di negara-negara OPEC seperti Saudi
Arabia, Irak, Kuwait, United Arab Emirates dan lain-lain yang kaya akan minyaknya, tetapi
jumlah penduduknya sedikit.

Di lain pihak, jika dilihat dari tabel 2 terlihat jelas kebutuhan dunia (non-komunis) akan
minyak bumi terbesar berada di negara-negara OECD, sedangkan kebutuhan minyak di negaranegara berkembang (bahkan OPEC sendiri) masih jauh lebih kecil. Sedangkan, dalam tabel 3
terlihat jelas, kebutuhan dunia akan energi primer masih diharapkan terbesar berupa minyak
bumi. Dalam keadaan inilah, sungguh tepat jika peranan minyak bumi bumi sebagai sumber
energi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan diplomasi yang nyata, terutama dalam
menciptakan Tata Ekonomi Dunia Baru yang masih terus diperjuangkan. Dimana kekuatan dari
OPEC, terutama dari OPEC kelompok kaya, seperti Saudi Arabia, Kuwait, Irak, UAE, Qatar,
Iran sangat diharapkan peranannya dalam usaha membentuk Tata Ekonomi Dunia Baru.
Dilihat dari potensi minyak dunia yang berupa cadangan (sebagian besar berada di tangan
OPEC) memungkinkan OPEC sebagai kelompok negara berkembang dapat secara aktif berjuang
bersama kelompok negara berkembang lainnya. Yang berarti dengan minyak bumi sebagai
senjata atau alat diplomasi, diharapkan tuntutan perubahan yang menyangkut nasib negara
berkembang non-OPEC dapat tercipta. Terutama dalam usaha mengaitkan segala rupa perjanjian
atau dialog dengan pihak negara-negara industri atau maju, agar berbagai masalah pokok yang
menjiwai Tata Ekonomi Dunia Baru harus selalu dikaitkan dengan kekuatan minyak OPEC.
Untuk itu, harus dilihat secara kenyataannya, dimana pada awal 1981 dari hasil
pertemuan di Bali bulan Desember 1980, OPEC berhasil menaikkan harganya lagi antara US$2
US$4 per barel. Hal ini bukan saja akan mempengaruhi ekonomi dunia baik negara-negara maju
atau industri, tetapi juga sangat berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi negara-negara
berkembang yang miskin akan energi. Dengan keadaan demikian, memungkinkan kelompok
negara-negara industri harus berhati-hati dan mau mengikuti kehendak kelompok negara
berkembang, dimana OPEC sebagai pemimpinnya.
Di lain pihak kelompok negara berkembang yang telah melangkah pada industri, tetapi
miskin akan energi berupa minyak bumi, terpaksa harus lebih erat lagi melakukan hubungan
kerjasama dengan kelompok negara berkembang lainnya yang mampu memberikan pengadaan
minyak serta dana, misalnya dari OPEC.

Untuk mengukur bagaimana potensi OPEC terhadap minyak bumi dunia, perlu pula
dilihat data kuantitatif sampai seberapa jauh peranan OPEC di dunia. Sebagai kenyataan, dengan
terganggunya produksi serta ekspor minyak dari Irak dan Iran, walaupun Saudi Arabia mampu
menaikkan produksinya menjadi sekitar 9,5 juta barel per hari, tetapi kenyataannya harga minyak
OPEC pada 1981 mampu naik menjadi US$41 per barelnya. Ini mencerminkan kebutuhan
minyak dunia masih lebih besar daripada jumlah produksi dunia. Dalam tabel 4 akan disuguhkan
data terakhir produksi dunia di 1979, serta perkiraan 1980, dari gambaran ini akan terlihat
dengan pasti bahwa di antara negara industri sendiri ada yang kaya akan minyak dan miskin akan
minyak. Sedangkan di negara OPEC itu sendiri terlihat ada kelompok negara kaya dengan
jumlah penduduk sedikit.
Tabel 4. Peranan OPEC dalam Produksi Minyak Dunia 1979 Dan Perkiraan 1980 (ribuan ton)
Kelompok Negara

1979

1980

Perubahan
(%)

Amerika Utara
562.845
567.000
0,9
Caribbean Area
221.398
240.545
8,7
Amerika Latin lainnya 54.625
56.780
3,9
Eropa Barat
108.887
116.665
7,1
Eropa Timur & USSR 608.251
625.465
2,8
Timur Tengah
1.091.858
956.630
-11,0
Afrika
293.310
261.025
12,4
Timur Jauh
248.880
241.515
2,8
Produksi Dunia
3.189.054
3.065.625
-3,9
(dari OPEC)
(1.523.954)
(1.340.830) -12,0
Sumber: diolah dari Petroleum Economist, January 1981

Bagian dari Dunia


1979
1980

17,6
6,9
1,7
3,4
19,1
34,3
9,2
7,8
100,0
47,8

18,5
7,8
1,9
3,8
20,4
31,2
8,5
7,9
100,0
43,7

Dari gambaran ini, akan semakin jelas bahwa peranan OPEC masih sangat besar dan
diharapkan dapat diandalkan dijadikan sebagai alat diplomasi. Tentu dengan catatan, diplomasi
yang secara nyata atau formal. Karena hingga kini, bahkan dalam pemikiran ini sebenarnya
masih dianggap bahwa sejak lama minyak bumi telah dijadikan alat diplomasi oleh beberapa
pihak. Tetapi dengan munculnya usaha Tata Ekonomi Dunia Baru sudah waktunya kalau dunia
menyatakan bukan saja minyak bumi sebagai alat diplomasi, tetapi juga energi secara
keseluruhan sebagai alat diplomasi.
Dari gambaran 1979 dan perkiraan 1980, bahwa produksi minyak OPEC di dunia masih
cukup besar ialah di atas 40 persen. Untuk melihat kelompok negara industri kaya akan minyak
akan terlihat seperti tabel 5. Dalam tabel ini, penulis mencoba memperlihatkan beberapa negara

di dunia penghasil minyak yang cukup besar peranannya atau masih diharapkan dapat menjadi
besar seperti dari Inggris dan lain-lain. Dalam hal ini, penulis mencoba membagi dalam tiga
kelompok besar negara penghasil minyak, yaitu kelompok OPEC. Kelompok non-OPEC-nonKomunis, dan kelompok non-OPEC-Komunis.
Tabel 5. Produksi Minyak Dunia 1979 Dan Perkiraan 1980
Atas dasar Perbandingan Kelompok (ribuan ton)

Kelompok Negara

1979

1980

Perubahan

Produksi Dunia
I.(Produksi OPEC)
1.
Saudi Arabia
2.
Irak
3.
Iran
4.
-Abudhabi
-Sharjah
-Dubai
5.
Qatar
6.
Nigeria
7.
Libya
8.
Aljazair
9.
Gabon
10. Kuwait
11. Equador
12. Venezuela
13. Indonesia
II.(Non-OPEC-Komunis)*
USSR
RRC
III.(Non-OPEC-Non-

(3.189.054)
(1.523.954)
475.200
168.025
151.390
71.060
646
17.720
24.404
113.479
98.943
53.175
10.300
127.205
10.515
122.755
79,137
(608.251)*
586.000
106.150
(950.699)

(3.065.625)
(1.340.830)
495.000
138.000
74.000
65.000
480
17.500
22.800
101.000
85.600
44.850
10.100
86.000
10.000
113.000
77.500
(625.465)*
603.000
106.000
(993.330)

(%)
(-3,9)
-12,0
4,2
-17,2
-15,1
-8,5
-25,7
-1,2
-6,6
-11,0
-13,5
-15,7
-1,9
-32,8
-4,9
-7,9
-2,1
(-2,8)*
2,9
-0,1
(-4,5)

Komunis)*
1.
Amerika Serikat
2.
Kanada
3.
Mexico
4.
Inggris
5.
Norwegia
6.
Australia
*belum termasuk RRC

478.590
83.255
80.815
77.854
18.288
20.522

485.000
82.000
110.00
80.000
23.700
18.750

1,3
-1,5
36,5
2,8
29,6
-8,6

Sumber: diolah dari Petroleum Economist, January, 1981.

Bagian Dunia
1979
1980
(100,0)
(47,8)
14,9
5,3
4,7
2,2
3,6
3,1
1,7
4,0
3,8
2,5
(19,1)*
18,4
3,3
(29,8)

(100,0)
(43,7)
16,1
4,5
2,4
2,1
3,3
2,8
1,5
2,8
3,7
2,5
(20,4)*
19,7
3,5
(32,4)

15,0
2,6
2,5
2,4
-

15,8
2,7
3,6
2,6
-

Dilihat dari gambaran produksi dewasa ini, nampak sekali peranan OPEC masih tetap
kuat. Dilihat dari jangka panjang, jika diukur dari potensi berupa cadangan, juga OPEC masih
berperan. Kiranya tepat kalau minyak bumi bagi kelompok negara berkembang baik dalam
jangka pendek maupun jangka panjang dapat dimanfaatkan sebagai energi untuk alat diplomasi,
walaupun perlu diperhitungkan kemungkinan dari produksi atau cadangan-cadangan non-OPECnon-Komunis yang tergabung dalam negara-negara industri atau maju yang hingga kini masih
enggan untuk melaksanakan Tata Ekonomi Dunia Baru.
Usaha dalam pengendalian produksi dan harga minyak OPEC diharapkan energi sebagai
alat diplomasi untuk dikaitkan pada masalah-masalah pokok Tata Ekonomi Dunia Baru
sebenarnya dapat segera tercipta. Walaupun dengan catatan, perlu adanya bantuan penuh dari
OPEC itu sendiri. Dalam hal ini, diharapkan Indonesia dapat berperan melalui OPEC, bukan saja
menyangkut produksi dan harga minyak, tetapi juga menyangkut masalah dana dan minyak
OPEC bagi negara berkembang dan dalam kaitannya dengan negara industri yang semakin
tergantung akan pengadaan minyak bumi.

Dari gambaran tabel 5 dapat terlihat, bahwa bagi Amerika Serikat dan Inggris nampaknya
tidak begitu sulit dalam hal minyak bumi, karena hingga kini, terutama Amerika Serikat mampu
menaikkan produksi minyaknya. Bagi Indonesia, mungkin terlalu pagi jika mengemukakan atau
mengharap energi sebagai alat diplomasi sebagai suatu kenyataan, karena potensi energi
Indonesia berupa minyak bumi masih lebih kecil dibandingkan dengan produksi RRC yang terus
mengembangkan usaha eksplorasinya.
Walaupun demikian, dari gambaran kuantitatif posisi Indonesia tidak begitu berarti, tetapi
karena Indonesia mempunyai kekuatan politik di forum-forum internasional (oh ya?, Red),
terutama di kelompok negara berkembang, maka diharapkan usaha Indonesia untuk
mengarahkan OPEC lebih aktif lagi, bukan lagi sebagai suatu tindakan mimpi atau terlalu pagi.
Hal ini terbukti dengan adanya usaha pemerintah Indonesia dalam hal Presiden Soeharto pada
waktu membuka pertemuan OPEC di Bali, Desember 1980, dimana disinggung pula mengenai

harapan serta anjuran yang berbau politik internasional, agar pihak yang berperang, Irak dan
Iran, segera menghentikan peperangan. Hal ini dapat dikaitkan bukan saja pada jaminan
keamanan nasional itu sendiri, tetapi juga keamanan dunia, terutama keamanan di kawasan
negara-negara OPEC.
Keterbatasan Deposit Minyak Bumi
Dilihat dari potensi minyak bumi seperti telah diuraikan, dapat dilihat bahwa cadangan
minyak bumi di dunia mungkin akan habis. Tetapi, dalam bagian ini khusus melihat dari segi
keterbatasan. Seperti studi-studi yang telah dikemukakan oleh para ahli, bahwa hampir setiap
tahun selalu ditemukan sumber-sumber minyak baru, yang kemudian akan menambah besarnya
cadangan minyak dunia.
Secara teoritis sudah dapat dipastikan, bahwa minyak bumi di dunia akan habis
karena masalah jumlah kebutuhan minyak bumi berkembang bagaikan deret ukur,
sedangkan penemuan-penemuan sumber minyak bagaikan deret hitung. Bahkan
diperkirakan bahwa minyak akan habis seratus tahun lagi. Tetapi kenyataannya, apakah minyak
akan habis seratus tahun lagi? Sulit untuk diramalkan, karena beberapa faktor banyak
menentukannya.
Yang pasti karena minyak dunia terbesar berada di negara-negara OPEC, sedangkan
konsumsi terbesar berada di negara-negara maju atau industri. Tidak dapat disangkal lagi, jika
pada suatu saat negara-negara OPEC secara serentak mengurangi atau menghentikan
produksinya, yang kesemuanya akan mengacaukan negara industri. Ada alasan karena inflasi,
maka harga minyak OPEC harus tinggi. Ada alasan karena barang-barang industri terlalu mahal.
Ada alasan karena negara industri telah menekan komoditi non minyak negara berkembang.
Berbagai alasan dapat muncul dalam permainan penentuan harga minyak OPEC. Yang lebih
hebat lagi, jika alasan berupa menjaga kelestarian cadangan minyak agar tidak segera habis.
Pengadaan minyak dunia yang berlimpah-limpah sudah berlalu. Harga minyak yang
sangat murah juga sudah habis ceritanya. Masalahnya, sekarang bagaimana kontak diplomasi

antara negara industri agar mereka tetap kuat sebagai negara industri. Agar mereka tetap
menguasai pasaran dunia, karena kecenderungan hasil industri yang berupa peralatan dan
angkutan yang menggunakan bahan bakar minyak semakin suram. Tidak mengherankan jika
berbagai negara maju atau industri yang penuh dengan dana, penuh dengan keahlian dan
teknologi maju, penuh dengan mesin-mesin industri, mencoba mencari jalan keluar dalam
masalah energi.
Bagi negara berkembang penghasil minyak mungkin berbeda kepentingan dengan negara
industri. Mereka sebagian berpikir bagaimana kelak kalau mereka bangkit menjadi negara
industri, kemudian energi apa yang digunakannya. Oleh karena itu, cadangan minyak bumi harus
dipertahankan. Negara berkembang penghasil minyak yang tak besar seperti Indonesia
seharusnya sudah berpikir demikian.
Lain lagi dengan negara industri, mungkin alasan yang dihadapi selama ini merupakan
titik pangkal untuk menyatakan bahwa deposit minyak bumi terbatas. Oleh karena itu, hanya
para ahli dari negara maju aindustri saja yang telah berusaha mengadakan publikasi yang
berkenaan dengan cadangan minyak. Atas dasar kecemasan, karena deposit terbatas, jumlah
penggunaan meningkat apalagi setelah negara berkembang menjadi negara industri, tak dapat
terpikir dengan energi apa berbagai peralatan yang biasanya menggunakan minyak bumi harus
digerakkan.
Oleh karena itu, berbagai kebijaksanaan negara-negara maju dan juga negara-negara
berkembang dalam usaha pengembangan energi lain di luar minyak dijadikan alasan untuk
mengurangi ketergantungan akan minyak bumi. Jika seluruh negara di dunia telah berpikir
demikian,

maka

negara

industri

akan

mengalami

keuntungan

besar

untuk

jangka

panjang. Pertama, negara industri yang kaya akan energi seperti Amerika Serikat dapat
menghasilkan energi lain dan juga dapat meningkatkan produksi minyaknya dari negara sendiri.
Kedua, bagi negara-negara berkembang yang kaya akan energi lain dan juga
mengandung minyak, akan tergantung dengan negara industri. Bukan saja karena bantuan dana
yang besar dari negara maju, juga masalah keahlian, teknologi dan peralatan untuk menghasilkan
energi terutama non minyak. Diperkirakan kelak akan terjadi periode baru dalam masalah energi,

dari batubara, minyak bumi dan kemudian akan kembali lagi kepada batubara dan energi lain di
luar minyak dan batubara. Dimana kesemuanya akan dikuasai oleh negara industri atau maju.
Jika sekarang telah berakhir kerjasama dalam usaha minyak bumi antara negara
berkembang dengan negara industri, maka kelak akan muncul perjanjian baru yang menyangkut
energi di luar minyak bumi. Keuntungan ketiga, yaitu apabila dahulu negara industri melalui
perusahaan minyak raksasanya sebagai penentu harga minyak, maka kelak mereka akan menjadi
penentu herga energi lain, bahkan menjadi negara pengekspor energi lain.
Keempat, negara industri telah terhindar dari ketergantungan impor minyak dari OPEC.
Sedangkan keuntungan yang kelima, sasaran negara industri yaitu untuk menghasilkan berbagai
rupa peralatan atau mesin-mesin khusus dengan bahan energi non minyak. Hal ini bukan saja
akan menjadi beban berat bagi negara berkembang, tetapi juga suatu tantangan yang berat bagi
OPEC, karena kelak minyak bumi bukan lagi sebagai bahan energi, tetapi terpaksa hanya untuk
kepentingan petrokimia selama belum ada bahan energi sintesis lainnya yang akan menggantikan
minyak bumi.
Dengan demikian sulit dicarikan ukuran apakah benar, sekarang deposit minyak bumi
dunia terbatas. Ataukah hanya dijadikan alasan untuk mempercepat munculnya sumber-sumber
energi lain, sekaligus merubah berbagai peralatan atau mesin-mesin hanya dengan menggunakan
energi non minyak? Jika dilihat secara teoritis, karena minyak bumi sekali pakai habis, dan
bukan sumber energi yang dapat diperbaharui (renewable) maka pada akhirnya akan habis juga.
Sumber : http://lumba2sirkus.blogspot.co.id/2013/10/potensi-minyak-bumi-dunia-dilihatdari.html