Anda di halaman 1dari 2

PERSON, PLACE, TIME

Epidemiologi penyakit ISPA yaitu mempelajari frekuensi, distribusi penyakit ISPA


serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dalam distribusi penyakit ISPA ada 3 ciri
variabel yang dapat dilihat yaitu variabel orang (person), variabel tempat (place) dan variabel
waktu (time) :
1) Epidemiologi ISPA berdasarkan Orang (person)
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyebab utama kesakitan dan
kematian pada bayi dan anak balita di negara berkembang, sekitar 4 juta kematian disebabkan
oleh penyakit ISPA terutama pneumonia.
Berdasarkan data dari SKRT 2001 menunjukkan bahwa proporsi ISPA sebagai
penyebab kematian bayi < 1 tahun adalah sekitar 27,6 % sedangkan proporsi ISPA sebagai
penyebab kematian anak balita adalah sekitar 22,68%.3 Berdasarkan hasil penelitian
Bambang Sutrisna di Indramayu (1993) dikatakan bahwa faktor resiko terjadinya kematian
bayi dan anak balita karena pneumonia dapat dipengaruhi oleh faktor anak yaitu anak yang
tidak diimunisasi secara lengkap, tidak mendapatkan (defisiensi) vitamin A, yang mengalami
berat badan lahir rendah, tidak memperoleh ASI secara eksklusif dan anak yang mengalami
gizi kurang serta adanya aspek kepercayaan setempat dalam praktik pencarian pengobatan
yang salah dan anak balita yang tidak memanfaatkan fasilitas kesehatan yang telah
disediakan.
2) Epidemiologi ISPA berdasarkan Tempat (place)
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sampai saat ini masih merupakan masalah
kesehatan utama terutama di negara berkembang, seperti Indonesia. Sebagian besar hasil
penelitian di negara berkembang menunjukkan bahwa 20-35% kematian bayi dan anak balita
disebabkan oleh ISPA. 15 Berdasarkan hasil penelitian Djaja, S. dkk (2001), menunjukkan
bahwa prevalensi balita penderita pneumonia di daerah perkotaan (11,2%) lebih tinggi
daripada di daerah pedesaan (8,4%). Hal ini disebabkan karena tingginya prevalensi ISPA di
perkotaan yang disebabkan tingkat pencemaran udara yang relatif cukup tinggi dibanding di
pedesaan dan kepadatan penduduk yang relatif tinggi dibanding di pedesaan.
3) Epidemiologi ISPA berdasarkan Waktu (time)
Berdasarkan data SDKI tahun 1991, 1994, dan 1997 dapat diketahui bahwa prevalensi
pneumonia pada balita dari tahun 1991 sampai tahun 1997 telah mengalami sedikit
penurunan yaitu dengan prevalensi 10% pada tahun 1991, 10% pada tahun 1994 dan 9% pada
tahun 1997. Prevalensi pneumonia dari tahun 1991 (10%) sampai dengan tahun 1997 (9%)
pada balita telah menurun, namun untuk kurun waktu 7 tahun penurunan ini relatif kecil yaitu

sebesar 8%. Padahal tujuan dan sasaran pemberantasan penyakit ISPA pada pelita VI adalah
menurunkan angka kesakitan pneumonia sebesar 20% dibandingkan akhir pelita V yaitu dari
10-20% per tahun menjadi 8-16% balita per tahun.18Berdasarkan data SKRT 1986, 1992,
1995 dan 2001 dapat diketahui bahwa proporsi kematian ISPA di Indonesia pada bayi dan
balita dari tahun 1986-2001 telah mengalami beberapa perubahan yaitu dengan proporsi pada
bayi 18,85% pada tahun 1986, 36,40% pada tahun 1992, 32,10% pada tahun 1995 dan
27,60% pada tahun 2001. Sementara itu, proporsi pada balita 22,80% pada tahun 1986,
18,20% pada tahun 1992, 38,80% pada tahun 1995 dan 22,80% pada tahun 2001