Anda di halaman 1dari 13

PARADIGMA ILMU PENDIDIKAN

Makalah
disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Ilmu Pendidikan

oleh :
Rizqi Mualifah

(1301413018)

Carissa Octora Wandansari

(1301413040)

Sonia Marda

(1301413049)

Putri Limaran Sari

(1301413060)

Saffaah At-tarisul Islamiy

(1301413083)

JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Banyak orang sudah mengetahui bahwa ternyata potensi yang dimiliki
oleh otak manusia itu sungguh luar biasa. Tapi sayangnya potensi itu hanya
tinggal potensi. Sebagian besar manusia belum bisa menggunakan dan
memanfaatkan kehebatan potensi otak yang dimilikinya. Sebagian besar metode
dan suasana pembelajaran di sekolah-sekolah yang digunakan oleh guru kita
tampaknya banyak menghambat daripada memotivasi potensi otak. Oleh karena
itu perlu adanya proses kreatif pada pendidikan yang diselenggarakan di sekolah.
Para ahli pendidikan perlu merumuskan kembali paradigma dan visi pendidikan
kita.
Filsafat ilmu merupakan cabang filsafat yang merefleksi, radikal dan
integral mengenai hakikat imu pengetahuan itu sendiri. Filsafat ilmu merupakan
penelusuran dalam pengembangan filsafat pengetahuan. Ilmu pengetahuan dalam
suatu kesatuan menampakkan diri secara dimensional. Filsafat merupakan
kegiatan olah pikir manusia yang terarah pada upaya mencari sebab musabab atas
segala sesuatu dan bagaimana upaya manusiaa setelah mengetahui hal tersebut.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah yang dimaksud dengan konsep ilmu ?
2. Apakah yang dimaksud dengan ilmu pendidikan ?
3. apakah yang dimaksud dengan paradigma?
4. Bagaimana perkembangan paradigma pendidikan?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui maksud dari konsep ilmu
2. Untuk mengetahui pengertian ilmu pendidikan.
3. Untuk mengerti tentang paradigma.
4. Untuk mengetahui perkembangan paradigma pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Ilmu


Pengertian Ilmu merupakan kumpulan proses kegiatan terhadap suatu
kondisi dengan menggunakan berbagai cara, alat, prosedur dan metode ilmiah
lainnya guna menghasilkan pengetahuan ilmiah yang analisis, objektif, empiris,
sistematis dan verifikatif.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pengertian Ilmu diartikan
sebagai pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara sistematis menurut
metode ilmiah tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan kondisi tertentu
dalam bidang pengetahuan.
A.

Positivisme
Dalam paradigma ilmu, ilmuwan telah mengembangkan sejumlah perangkat

keyakinan dasar yang mereka gunakan dalam mengungkapkan hakikat ilmu yang
sebenarnya dan bagaimana cara untuk mendapatkannya. Tradisi pengungkapan
ilmu ini telah ada sejak adanya manusia. Cara pandang positivisme, yang
memperoleh

sukses

besar

sebagiamana

terlihat

pengaruhnya

dalam

pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini. Paradigma ilmu pada
dasarnya berisi jawaban atas pertanyaan fundamental proses keilmuan manusia,
yakni bagaimana, apa, dan untuk apa. Tiga pertanyaan dasar itu kemudian
dirumuskan menjadi beberapa dimensi.
-

Dimensi ontologis, pertanyaan yang harus dijawab oleh seorang ilmuwan


adalah: Apa sebenarnya hakikat dari sesuatu yang dapat diketahui
(knowable), atau apa sebenarnya hakikat dari suatu realitas (reality).
Dengan demikian dimensi yang dipertanyakan adalah hal yang nyata

(what is nature of reality?).


Dimensi epistemologis, pertanyaan yang harus dijawab oleh seorang
ilmuwan adalah: Apa sebenarnya hakikat hubungan antara pencari ilmu

(inquirer) dan objek yang ditemukan (know atau knowable)?


Dimensi axiologis, yang dipermasalahkan adalah peran nilai-nilai dalam

suatu kegiatan penelitian.


Dimensi retorik yang dipermasalahkan adalah bahasa yang digunakan

dalam penelitian.
Dimensi metodologis, seorang ilmuwan harus menjawab pertanyaan:
bagaimana cara atau metodologi yang dipakai seseorang dalam

menemukan kebenaran suatu ilmu pengetahuan? Jawaban terhadap kelima


dimensi pertanyaan ini, akan menemukan posisi paradigma ilmu untuk
menentukan paradigma apa yang akan dikembangkan seseorang dalam
kegiatan keilmuan.
Positivisme merupakan paradigma ilmu pengetahuan yang paling awal
muncul dalam dunia ilmu pengetahuan. Keyakinan dasar aliran ini berakar dari
paham ontologi realisme yang menyatakan bahwa realitas ada (exist) dalam
kenyataan yang berjalan sesuai dengan hukum alam (natural laws). Upaya
penelitian, dalam hal ini adalah untuk mengungkapkan kebenaran realitas yang
ada, dan bagaimana realitas tersebut senyatanya berjalan.
Objek studi sosiologi adalah fakta sosial (social-fact): Fakta sosial yang
dimaksud meliputi: bahasa, sistem hukum, sistem politik, pendidikan, dan lainlain. Sekalipun fakta sosial berasal dari luar kesadaran individu, tetapi dalam
penelitian positivisme, informasi kebenaran itu ditanyakan oleh penelitian kepada
individu yang dijadikan responden penelitian. Untuk mencapai kebenaran ini,
maka seorang pencari kebenaran (penelitian) harus menanyakan langsung kepada
objek yang diteliti, dan objek dapat memberikan jawaban langsung kepada
penelitian yang bersangkutan. Hubungan epistemologi ini, harus menempatkan si
peneliti di belakang layar untuk mengobservasi hakekat realitas apa adanya untuk
menjaga objektifitas temuan. Karena itu secara metodologis, seorang penelitian
menggunakan metodologi eksperimen-empirik untuk menjamin agar temuan yang
diperoleh betul-betul objektif dalam menggambarkan keadaan yang sebenarnya.
Mereka mencari ketepatan yang tinggi, pengukuran yang akurat dan penelitian
objektif, juga mereka menguji hipotesis dengan jalan melakukan analisis terhadap
bilangan-bilangan yang berasal dari pengukuran.
Di bawah naungan payung positivisme, ditetapkan bahwa objek ilmu
pengetahuan maupun pernyataan-pernyataan ilmu pengetahuan (Scientific
Proporsition) haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: dapat di/ter-amati
(observable), dapat di/ter-ulang (repeatable), dapat di/ter-ukur (measurable),
dapat di/ter-uji (testable), dan dapat di/ter-ramalkan (predictable).

Paradigma positivisme telah menjadi pegangan para ilmuwan untuk


mengungkapkan kebenaran realitas. Kebenaran yang dianut positivisme dalam
mencari kebenaran adalah teori korespondensi. Teori korespondensi menyebutkan
bahwa suatu pernyataan adalah benar jika terdapat fakta-fakta empiris yang
mendukung pernyataan tersebut. Atau dengan kata lain, suatu pernyataan
dianggap benar apabila materi yang terkandung dalam pernyataan tersebut
bersesuaian (korespodensi) dengan obyek faktual yang ditunjuk oleh pernyataan
tersebut.
Setelah positivisme ini berjasa dalam waktu yang cukup lama ( 400 tahun),
kemudian berkembang sejumlah aliran paradigma baru yang menjadi landasan
pengembangan ilmu dalam berbagai bidang kehidupan.
B.

Postpositivisme
Paradigma ini merupakan aliran yang ingin memperbaiki kelemahan-

kelemahan positivisme, yang hanya mengandalkan kemampuan pengamatan


langsung terhadap objek yang diteliti.
Secara ontologis aliran ini bersifat critical realism yang memandang bahwa
realitas memang ada dalam kenyataan sesuai dengan hukum alam, tetapi satu hal
yang mustahil bila suatu realitas dapat dilihat secara benar oleh manusia (peneliti).
Oleh karena itu, secara metodologis pendekatan eksperimental melalui observasi
tidaklah cukup, tetapi harus menggunakan metode triangulation yaitu penggunaan
bermacam-macam metode, sumber data, peneliti dan teori.
Secara epistemologis, hubungan antara pengamat atau peneliti dengan objek
atau realitas yang diteliti tidaklah bisa dipisahkan, seperti yang diusulkan oleh
aliran positivisme. Aliran ini menyatakan suatu hal yang tidak mungkin mencapai
atau melihat kebenaran apabila pengamat berdiri di belakang layar tanpa ikut
terlibat dengan objek secara langsung.
Untuk mengetahui lebih jauh tentang postpositivisme empat pertanyaan
dasar berikut, akan memberikan gambaran tentang posisi aliran ini dalam kancah
paradigma ilmu pengetahuan.
Pertama, Bagaimana sebenarnya

posisi

postpositivisme

di

antara

paradigma-paradigma ilmu yang lain? Apakah ini merupakan bentuk lain dari
positivisme yang posisinya lebih lemah? Atau karena aliran ini datang setelah

positivisme sehingga dinamakan postpositivisme? Harus diakui bahwa aliran ini


bukan suatu filsafat baru dalam bidang keilmuan, tetapi memang amat dekat
dengan paradigma positivisme. Salah satu indikator yang membedakan antara
keduanya bahwa postpositivisme lebih mempercayai proses verifikasi terhadap
suatu temuan hasil observasi melalui berbagai macam metode. Dengan demikian
suatu ilmu memang betul mencapai objektifitas apabila telah diverifikasi oleh
berbagai kalangan dengan berbagai cara.
Kedua, Bukankah postpositivisme bergantung pada paradigma realisme
yang sudah sangat tua dan usang? Dugaan ini tidak seluruhnya benar. Pandangan
awal aliran positivisme (old-positivism) adalah anti realis, yang menolak adanya
realitas dari suatu teori. Realisme modern bukanlah kelanjutan atau luncuran dari
aliran positivisme, tetapi merupakan perkembangan akhir dari pandangan
postpositivisme.
Ketiga, banyak postpositivisme yang berpengaruh yang merupakan penganut
realisme. Bukankah ini menunjukkan bahwa mereka tidak mengakui adanya
sebuah kenyataan (multiple realities) dan setiap masyarakat membentuk realitas
mereka sendiri? Pandangan ini tidak benar karena relativisme tidak sesuai dengan
pengalaman sehari-hari dalam dunia ilmu. Yang pasti postpositivisme mengakui
bahwa paradigma hanyalah berfungsi sebagai lensa bukan sebagai kacamata.
Selanjutnya, relativisme mengungkap bahwa semua pandangan itu benar,
sedangkan realis hanya berkepentingan terhadap pandangan yang dianggap
terbaik dan benar. Postpositivisme menolak pandangan bahwa masyarakat dapat
menentukan banyak hal sebagai hal yang nyata dan benar tentang suatu objek oleh
anggotanya.
Keempat, karena pandangan bahwa persepsi orang berbeda, maka tidak ada
sesuatu yang benar-benar pasti. Bukankah postpositivisme menolak kriteria
objektivitas? Pandangan ini sama sekali tidak bisa diterima. Objektivitas
merupakan indikator kebenaran yang melandasi semua penyelidikan. Jika kita
menolak prinsip ini, maka tidak ada yang namanya penyelidikan. Yang ingin
ditekankan di sini bahwa objektivitas tidak menjamin untuk mencapai kebenaran.
Pendidikan sebagai proses humanisasi dikembangkan dari pandangan
interdisiplinier ilmu pengetahuan humaniora. Dalam hal ini, pendidikan

merupakan proses saling memberi dan menerima pengalaman hidup antara


pendidik dan peserta didik menurut prinsip dasar saling mempercayai . Sasarnya
adalah suatu perkembangan kepribadian yang dapat hidup secara bersesuaian
dalam masyarakat yang konstruktif, sehingga tujuan proses pendidikan
humanisasi yang mencakup proses sosialisasi dan personalisasi adalah
pengembangan nilai-nilai kemanusiaan.

2.2 Definisi ilmu pendidikan


Ilmu pendidikan yang sering juga disebut yang sering juga disebut sebagai
pedogi merupakan suatu disiplin ilmu yang terkait dengan proses peradaban,
pemberbudayaan dan pendewasaan manusia.
Ilmu pendidikan bertujuan memberikan informasi atau keterangan tentang
dasar-dasar pendidikan dalam berbagai situasi atau interaksi pendidikan, jalur dan
jenis jenjang pendidikan untuk membekali peserta didik mencapai kehidupan
yang berbudaya dan mandiri yang lebih baik di masa depannya. Memberikan
informasi dalam arti menjelaskan permasalahan, sebab-sebab dan kemungkinan
mengupayakan dan pembekalan bagi pendidik dalam mendidik putra putrinya atau
generasi berikutnya
Ilmu pendidikan mempunyai garapan dan ruang lingkup yang luas,
diantaranya dapat dilihat berdasarkan substansi, historis komparatif, aliran-aliran
filsafat dan kasus-kasus strategic. Substansi itu meinimal terdiri atas komponenkomponen berikut yang bertalian satu sama lain, 1) filsafat atau tujuan dan
evaluasi pendidikan, 2) Peserta didik dari buaian hingga liang lahat, 3) Pendidik
dan tenaga kependidikan, 4) Kurikulum dan metodologi pendidikan, 5) Lembaga
pendidikan, dan 6) Faktor-faktor penunjang. Banyak penulis dalam bidang
pendidikan yang tidak terlalu mempersolakan secara tersurat kaitan pendidikan,
teori pendidikan, filsafat pendidikan dan ilmu pendidikan. Mereka lebih
mempedulikan langsung proses pendidikan dan manfaatnya bagi perkembangan
individu secara optimal.

Oleh karena itu ada sebagian ahli pendidikan beranggaan bahwa


sesungguhnya ilmu pendidikan itu ialah penerapan ilmu-ilmu lain dalam praktek
pendidikan. Jadi ilmu pendidikan itu bukalah ilmu yang berdiri sendiri.
Pendidikan sesungguhnya hanya menggunakan hasil-hasil penelitian antropologi
(filosofis, sosial dan cultural) psikologi (khusus psikologi perkembangan atau
psikologi belajar) sosiologi (khususnya sosialisai anak dalam hubungan dengan
status dan peranan orang tua dalam suatu masyarakat dan bidang studi yang akan
diajarkan. Anggapan yang demikian itu kurang tepat, bahkan keliru karena ilmu
pendidikan memiliki subjek penelitian yang khas yaitu fenomena atau situasi
pendidikan dimana dalam proses perkembangan perserta didik terjadi interaksi
antara pelajar atau peserta didik dengan pendidik, sedangkan pendekatan yang
dipergunakan adalah minimal perpaduan antara pendekatan filosofis dan empiris.
2.3. Pengertian paradigma
Pardigma secara etimologis berasal dari bahasa inggris Paradigm yang berarti
type of something, model, pattern (bentuk sesuatu, model, pola). Menurut Plato
kata pardigma dalam republicnya dengan arti a baste formencompasing your
entire desting yang berarti sesuatu yang diciptakan untuk suatu sebab.
Sedangkan secara terminologi paradigma berarti a total view of problem; a total
outlook, not just a problem in isolation.
Paradigma adalah cara pandang atau cara berpikir tentang sesuatu. Pengertian
paradigma yang ada dalam kamus filsafat diantaranya sebagai berikut :
1.

Cara memandang sesuatu.

2.

Dalam ilmu pengetahun diartikan sebagai model, pola, ideal.

3.

Totalitas premis-premis teoritis dan metodologis yang menentukan atau

mendefinisikan studi ilmiah kongkret.


4.

Dasar untuk menyeleksi problem-problem dan pola untuk memecahkan

problem-problem riset.
Dengan demikian, parafigma digunakan pada konteks perilaku seseorang dalam
proses pembelajaran dan pendidikan, yang menjelaskan makna paradigma dengan
menggunakan metafora bangunan dan kacamata, bahwa paradigma merupakan

sebuah fondasi bangunan. Besar tingginya bangunan ditentukan oleh seberapa


kuat dan lebar fondasinya.
2.4. Perkembangan paradigma
Paradigma dan visi pendidikan yang cocok bagi tantangan zaman sekarang ini
yaitu seperti yang pernah dibahas oleh UNESCO dalam World Education Forum
dalam mempersiapkan pendidikan manusia abad ke-21. Pendidikan hendaknya
mengubah paradigma teaching (mengajar) menjadi learning (belajar).
Dengan perubahan ini proses pendidikan menjadi proses bagaimana
belajar bersama antara guru dan peserta didik. Guru dalam konteks ini juga
termasuk dalam proses belajar. Sehingga lingkungan sekolah, meminjam
istilahnya Ivan Illich, menjadi learning society (masyarakat belajar). Dalam
paradigma ini,peserta didik tidak lagi disebut pupil (siswa), tapi learner (yang
belajar).
Paradigma pendidikan versi UNESCO ini sangat jelas berdasarkan pada
paradigma learning, tidak lagi pada teaching. Keempat paradigma pendidikan ini
disebut sebagai soko guru dari manusia abad ke 21 menghadapi arus informasi
dan kehidupan yang terus menerus berubah.

Pertama, learning to think (belajar berpikir). Ini berarti pendidikan berorientasi


pada pengetahuan logis dan rasional sehingga learner berani menyatakan
pendapat dan bersikap kritis serta memiliki semangat membaca yang tinggi.
Proses belajar yang terus menerus terjadi seumur hidup ialah belajar bagaimana
berpikir. Dengan sendirinya belajar yang hanya membeo tidak mempunyai
tempat lagi di dalam era globalisasi. Sehubungan dengan itu maka penguasaan
bahasa digital telah harus dikuasai oleh anak-anak kita karena dengan demikian
dia dapat memasuki dunia tanpa batas. Dengan demikian konsep belajar dan
pembelajaran harus diubah dan membuka pintu kepada teknologi pembelajaran
modern sungguhpun tetap dibutuhkan pendidikan tatap muka oleh orang tua, guru,
dan lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya di dalam rangka pembentukan
akhlak manusia abad ke 21.
Kedua, learning to do (belajar berbuat/hidup). Pada abad ke-21 menuntut
manusia-manusia yang bukan hanya berpikir tetapi manusia yang berbuat.
Manusia yang berbuat adalah manusia yang ingin memperbaiki kualitas
kehidupannya. Dengan berbuat dia dapat menciptakan produk-produk baru dan
meningkatkan mutu produk-produk tersebut. Tanpa berbuat pemikiran atau
konsep tidak mempunyai arti. Aspek yang ingin dicapai dalam visi ini adalah
keterampilan seseorang peserta didik menyelesaikan problem keseharian. Dengan
kata lain pendidikan diarahkan pada how to solve the problem.
Ketiga, learning to live together (belajar hidup bersama). Disini pendidikan
diarahkan pada pembentukan seorang peserta didik yang berkesadaran bahwa kita
ini hidup dalam sebuah dunia yang global bersama banyak manusia dari berbagai
bahasa dengan latar belakang etnik, agama dan budaya. Di sinilah pendidikan
akan nilai-nilai perdamaian, penghormatan HAM, pelestarian lingkungan hidup,
toleransi, menjadi aspek utama yang mesti menginternal dalam kesadaran learner.
Keempat, learning to be (belajar menjadi diri sendiri). Pendidikan ini menjadi
sangat penting mengingat masyarakat moderns saat ini tengah dilanda suatu krisis
kepribadian. Orang sekarang biasanya lebih melihat diri sebagai what you have,
what you wear, what you eat, what you drive,, dan lain-lain. Karena itu pendidikan
hendaknya diorientasikan pada bagaimana seorang peserta didik di masa

depannya bisa tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang mandiri, memiliki
harga diri dan tidak sekadar memiliki having (materi-materi dan jabatan-jabatan
politis).

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Paradigma adalah cara pandang atau cara berpikir tentang sesuatu.
Pendidikan hendaknya mengubah paradigma teaching (mengajar) menjadi
learning (belajar). Dengan perubahan ini proses pendidikan menjadi proses
bagaimana belajar bersama antara guru dan peserta didik. Guru dalam konteks
ini juga termasuk dalam proses belajar.
Dengan demikian, parafigma digunakan pada konteks perilaku seseorang
dalam proses pembelajaran dan pendidikan, yang menjelaskan makna paradigma
dengan menggunakan metafora bangunan dan kacamata, bahwa paradigma
merupakan sebuah fondasi bangunan. Besar tingginya bangunan ditentukan oleh
seberapa kuat dan lebar fondasinya

Daftar Pustaka

Rose,

Amrina.

2013.

Positivisme

dan

Postpositivisme.

http://amrinarose13.blogspot.com/2013/03/positivisme-danpostpositivisme.html di akses {23/09/2014}


Munib, Achmad., dkk. 2012. Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang :
UNNES press
Binham.

2012.

Konsep

Dasar

Ilmu

Pendidikan.

http://binham.wordpress.com/2012/01/07/konsep-dasar-ilmu-pendidikan/
di akses {23/09/2014}