Anda di halaman 1dari 7

Pendahuluan

Pengaruh kebijakan dividen perusahaan terhadap harga saham berjalan


adalah persoalan penting yang bisa dipertimbangkan, tidak hanya kepada
karyawan perusahaan yang harus mengatur kebijakan, tetapi kepada para investor
yang merencanakan portofolio dan kepada para ahli ekonom yang mencari untuk
memahami dan memohon fungsi pasar modal. Apakah perusahaan dengan
kebijakan distribusi yang baik secara konsisten menjual dengan harga premium
diatas itu dengan payout yang sedikit?. Keputusan untuk membagi laba atau
menahan dan menginvestasikan kembali. Apabila dibayarkan sebagai dividen.
Payou tinggi atau rendah?, dibayarkan teratur atau tidak?, bagaimana
frekuensi pembayaran dividen?,

dan apakah

pembayaran dividen perlu

diumumkan?. Berikut akan dibahas teori dividen yang dikemukakan oleh Miller
dan Modigliani (1961).
Dividen adalah pembagian laba kepada pemegang saham berdasarkan
banyaknya saham yang dimiliki. Selanjutnya Menurut Tangkilisan dan Hessel
(2003), Dividen adalah bagian dari laba bersih yang dibagikan kepada para
pemegang saham (pemilik modal sendiri, equity). Sedangkan menurut Stice
(2004) dividen sebagai pembagian laba kepada para pemegang saham perusahaan
sebanding dengan jumlah saham yang dipegang oleh masing-masing pemilik.
Pembagian ini akan mengurangi laba ditahan dan kas yang tersedia bagi
perusahaan. Dividen dibagikan kepada para pemegang saham sebagai keuntungan
dari laba perusahaan. Jika perusahaan memutuskan untuk membagi keuntungan
dalam dividen, maka semua pemegang saham mendapatkan haknya yang sama.
Dividen ditentukan berdasarkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
dan jenis pembayarannya tergantung kepada kebijakan pemimpin.
Kebijakan Dividen, Pertumbuhan, dan Valuasi Saham
Walaupun istilah pasar sempurna, perilaku rasional, dan kepastian pasar
digunakan secara luas melalui teori ekonomi, itu mungkin berguna untuk memulai
dengan ejaan arti singkat dari asumsi-asumsi tersebut dalam konteks sekarang.
1. Di pasar modal sempurna, tidak ada pembeli atau penjual (penerbit)
sekuritas cukup besar bagi transaksinya untuk memiliki dampak pada
harga aturan. Semua pedagang memiliki akses yang sama dan murah
terhadap informasi mengenai harga aturan dan mengenai seluruh

karakteristik saham yang relevan lainnya. Tidak ada biaya broker,


pajak transfer, atau biaya transaksi lain terjadi ketika sekuritas dibeli,
dijual, diterbitkan, dan tidak ada diferensial pajak salah satu antara
profit yang didistribusikan

dan

tidak

didistribusikan

atau

antara

dividen dan keuntungan modal.


2. Perilaku rasional mengartikan bahwa para investor selalu menyukai lebih
kekayaan daripada kurang dan tidak berbeda apakah inkremen yang
diberikan terhadap kekayaannya membawa bentuk pembayaran kas atau
sebuah peningkatan dalam nilai pasar holding saham.
3. Kepastian sempurna menyiratkan jaminan lengkap pada bagian masingmasing investor sebagai upaya program investasi masa depan dan
keuntungan masa depan dari masing-masing perusahaan. Karena jaminan
ini, ada, antar hal-hal lain, tidak ada kebutuhan untuk membedakan antara
saham dan obligasi sebagai sumber dana pada tahapan analisis ini.
Prinsip fundamental evaluasi, Pengaruh Kebijakan Dividen
Dibawah asumsi ini valuasi semua saham akan ditunduk olhe prinsip
fundamental: harga setiap saham pasti seperti tingkat retur (dividen tambah
keuntungan modal per dollar yang diivenstasikan) pada setiap saham akan sama
melalui pasar diatas interbal waktu yang diberikan. Implikasi prinsip atas masalah
kebijakan dividen dapat terlihat lebih mudah seandainya persamaan dinyatakan
kembali kaitannya nilai perusahaan secara keseluruhan lebih dari nilai saham
individual.
Untuk menyelesaikan analisis kebijakan dividen, tahapan selanjutnya yang
logis akan menghapus asumsi pasar modal sempurna. Ini adalah sebuah
kesepakatan baik yang lebih mudah untuk berkata daripada melakukan secara
prinsip

karena

tidak

ada

rangkaian

keadaan

unik

yang

mengadakan

"ketidaksempurnaan". Kami dapat menggambarkan bukan satu-satunya tetapi


kebanyakan berangkat dari kesempurnaan yang keras, perlahan dan dalam
gabungan. Secara jelas, untuk berupaya mengejar implikasi masing-masing itu
akan hanya bekerja untuk menambahkan secara tak terkendali.
Kebijakan dividen tidak mempengaruhi harga pasar saham perusahaan
atau nilai perusahaan. Nilai perusahaan hanya ditentukan oleh kemampuan
perusahaan untuk menghasilkan pendapatan (earning power) dan risiko bisnis,
sedangkan bagaimana cara membagi arus pendapatan menjadi dividen dan laba

ditahan tidak mempengaruhi nilai perusahaan. Asumsinya adalah :

Tidak ada pajak atas pendapatan perusahaan dan pendapatan pribadi.

Tidak ada biaya emisi atau biaya transaksi saham.

Leverage keuangan tidak mempunyai pengaruh terhadap biaya modal.

Investor dan manajer memiliki informasi yang sama tentang prospek


perusahaan.

Pendistribusian

pendapatan

antara

dividen

dan

laba

ditahan

tidak berpengaruh terhadap biaya modal sendiri.


Kebijakan penganggaran modal independen dengan kebijakan dividen.
Intinya pengaruh pembayaran dividen terhadap kemakmuran pemegang saham
diofset sepenuhnya oleh cara-cara pembelanjaan investasi yang dilakukan
perusahaan. Misalkan perusahaan telah membuat keputusan investasi, maka
perusahaan harus memutuskan apakah menahan laba untuk membelanjai investasi
atau membayar dividen dan menjual saham baru sejumlah dividen yang
dibayarkan.
Nilai per lembar saham yang didiskonto setelah keputusan pembelanjaan
dan dividen sama dengan nilai pasar saham sebelum pembayaran dividen. Dengan
kata lain, penurunan harga pasar saham karena pembelanjaan eksternal sama
dengan kenaikan harga saham karena pembayaran dividen. Jadi pemegang saham
dikatakan indifferent antara dividen dan laba ditahan.
1
P0 = --------------- ( D1 + P1 )
1+r
Keterangan :
P0
r
D1
P1

(1)

P0 = Harga pasar per lembar saham pada waktu 0


R = Tingkat kapitalisasi perusahaan pada suatu kelas risiko.
D1 = Dividen per saham pada waktu 1.
P1 = Harga pasar per saham pada waktu 1.

Anggap N adalah jumlah saham pada waktu 0, dan M adalah jumlah saham baru yang
dijual pada waktu 1 dengan harga P1.
1
N P0 = ------------- { N D1 + ( N + M ) P1 M P1 }
(1+r)
Jumlah saham baru yang diterbitkan untuk membelanjai investasi :

(2)

M P1 = I ( X N D1 )

(3)

Keterangan :
I = Total investasi baru pada periode 1.
X = Total laba perusahaan pada periode tersebut.
Dengan mensubstitusi persamaan (3) dan (2), maka diperoleh persamaan:
1
(4)
N P0 = ------------ {( N + M ) P1 I + X
}(1+r)
lagi mempengaruhi harga
Pada persamaan (4) terbukti bahwa dividen tidak
saham, atau dengan kata lain nilai saham independen dengan keputusan dividen.
Salah satu kebijakan dividen yang mempunyai implikasi dividen
irrelevant adalah dividend payout sebagai keputusan residual. Selama perusahaan
mempunyai proyek investasi yang menghasilkan return lebih tinggi dari required
return, perusahaan akan mempergunakan laba untuk membelanjai investasi
tersebut. Jika perusahaan mempunyai sisa laba setelah semua proyek investasi
yang dapat diterima dibelanjai, baru kemudian dibagikan sebagai dividen kas
kepada pemegang saham. Jika kebijakan dividen diperlakukan sebagai bagian dari
keputusan pembelanjaan, berarti pembayaran dividen kas bersifat pasif. Artinya,
besar kecilnya dividend payout akan berfluktuasi dari waktu ke waktu sesuai
dengan fluktuasi jumlah peluang investasi yang tesedia bagi perusahaan.
Perlakuan kebijakan dividen sebagai suatu keputusan sisa yang bersifat pasif
mempunyai implikasi bahwa dividen adalah irrelevant, yaitu investor tidak
berbeda antara dividen dan laba ditahan.
Modigliani dan Miller (MM) berpendapat , nilai suatu perusahaan
tidak

ditentukan

oleh

besar

kecilnya

Dividend Payout Ratio, tapi

ditentukan oleh laba bersih sebelum pajak (EBIT)

dan

kelas

perusahaan.

tidak

relevan untuk

Jadi

menurut

MM, dividen

diperhitungkan karena tidak akan

adalah

meningkatkan

kesejahteraan

risiko

pemegang

saham. Menurut MM kenaikan nilai perusahaan dipengaruhi oleh kemampuan

perusahaan untuk mendapatkan keuntungan atau earning power dari asset


perusahaan. Pernyataan MM ini didasarkan pada beberapa asumsi penting
yang lemah seperti :
1; Pasar modal sempurna dimana para investor rasional.
2; Tidak ada biaya emisi saham

baru jika perusahaan menerbitkan

saham baru.
3; Tidak ada pajak baik perorangan maupun pajak penghasilan perusahaan.
4; Informasi tentang investasi tersedia untuk setiap individu.
Beberapa ahli menentang pendapatan MM tentang dividen tidak
relevan

dengan

menunjukkan

adanya

biaya

akan mempengaruhi nilai perusahaan. Modal


laba

ditahan

emisi saham

sendiri

dapat

baru

yang

berasal

dari

dan menerbitkan saham biasa baru. Jika modal sendiri berasal

dari laba ditahan, biaya modal sendiri sebesar Ks (Biaya modal sendiri
dari

laba

ditahan).

Tapi

bila

berasal

dari saham

biasa

baru,

biaya

modal sendiri adalah Ke (biaya modal sendiri dari saham biasa baru).
Jika ada pajak

maka penghasilan

investor

dari dividen dan dari

capital gains (kenaikan harga saham) akan dikenai pajak. Seandainya tingkat
pajak untuk dividen dan capital gains adalah sama, investor cenderung lebih
suka menerima capital gains dari pada dividen karena pajak

pada capital

gains baru dibayar saat saham dijual dan keuntungan diakui.


Kebijakan Deviden dalam Praktik
Pada praktiknya perusahaan cenderung memberikan dividen dengan
jumlah

yang

relatif

stabil atau

meningkat

secara

teratur. Kebijakan ini

kemungkinan besar disebabkan oleh asumsi bahwa:


1; Investor cenderung lebih menyukai dividen yang yang stabil.
2; Investor melihat keanaikan dividen sebagai suatu tanda baik bahwa
perusahaan

memiliki prospek baik,

demikian

sebaliknya. Hal

ini

membuat perusahaan lebih senang mengambil jalan aman yaitu tidak


menurunkan pembayaran dividen.
Menjaga kestabilan dividen tidak berarti menjaga Dividend Payout
Ratio tetap

stabil

penghasilan bersih
misalnya

karena

jumlah

perusahaan

ditetapkan

sebesar

nominal dividen juga tergantung pada

(EAT).
50%

Jika

DPR dijaga

dari waktu

ke

waktu,

berfluktuasi, maka pembayaran dividen juga akan berfluktuasi.

kestabilannya,
tetapi

EAT

Pada umumnya perusahaan akan menaikkan dividen hingga suatu


tingkatan dimana mereka yakin dapat mempertahankannya diveden
mendatang. Artinya

masa

jika terjadi kondisi yang terburuk sekalipun, perusahaan

masih dapat mempertahankan pembayaran dividennya. Pada prakteknya ada


perusahaan yang

menggunakan

model residual

dividend dimana

dividen

ditentukan dengan cara :


1; Mempertimbangkan kesempat investasi perusahaan ;
2; Mempertimbangkan target struktur modal perusahaan untuk menentukan
besarnya modal sendiri yang dibutuhkan untuk investasi.
3; Memanfaatkan laba ditahan untuk memenuhi kebutuhan akan modal
sendiri tersebut semaksimal mungkin.
4; Membayar dividen hanya jika ada sisa laba.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen
Beberapa

faktor

lain

yang

mempengaruhi manajemen

dalam

menentukan kebijakan dividen, antara lain:


1; Kas atau likuiditas perusahaan. Bagi perusahaan yang memiliki laba
ditahan

yang

cukup

tetapi

manajemen

memutuskan

untuk

menginvestasikan kedalam aktiva riil maka perusahaan tidak membayar


dividen dalam bentuk kas.
2; Kebutuhan pembayaran utang perusahaan. Adanya batasan dalam
perjanjian pinjaman kepada kreditur. Misalnya pembayaran dividen hanya
dapat dilakukan setelah laba yang tersedia bagi pemegang saham dikurangi
dengan angsuran pinjaman atau apabila modal kerja mencapai tingkat
tertentu.
3; Tingkat ekspansi yang tinggi memerlukan dana yang besar sehingga
laba yang diperoleh lebih baik ditahan.
4; Aksesibilitas perusahaan di pasar modal berpengaruh terhadap kebijakan
dividen, yaitu dipengaruhi oleh usia dan skala perusahaan.
5; Pembatasan

dari saham Preferen, tidak ada

pembayaran dividen

untuk saham biasa jika dividen saham preferan belum dibayar.


6; Kebutuhan
berkembang
pada

dana
selalu

untuk

Investasi,

membutuhkan dana

proyek proyek

yang

baru

perusahaan

yang

untuk diinvestasikan

menguntungkan. Sumber

dana

baru

yang merupakan modal sendiri (equity) dapat berupa penjualan sham

baru dan laba ditahan. Manajemen cenderung


ditahan

memanfaatkan

laba

karena penjualan saham baru menimbulkan biaya peluncuran

saham (flotation cost).


Kesimpulan
Modigliani & Miller (1961) menyimpulkan bahwa kebijakan dividen tidak
mempunyai pengaruh terhadap harga saham perusahaan. Nilai perusahaan hanya
ditentukan oleh kemampuan menghasilkan laba, bukan pada

pembagian laba

perusahaan untuk dividen atau sebagai laba ditahan. Selanjutnya perusahaan bisa
saja membagikan dividen yang besar ataupun kecil, asalkan dimungkinkan
menutup kekurangan dana dari sumber eksternal. Dampak dari pilihan keputusan
tersebut sama saja terhadap nilai perusahaan. Jadi keputusan dividen adalah tidak
relevan.