Anda di halaman 1dari 98

VOLUME 3

NOMOR 1
APRIL 2015

DAFTAR ISI
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK HAYATI (BIOFERTILIZER) PADA
BERBAGAI DOSIS PUPUK DAN MEDIA TANAM YANG BERBEDA
TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKTIVITAS
TANAMAN TOMAT (Lycopersicon esculentum) PADA POLYBAG
Ainun Masfufah, Agus Supriyanto, Tini Surtiningsih..

1-11

STUDI VIABILITAS DAN POLA PERTUMBUHAN Bacillus megaterium


PADA KONSENTRASI MOLASE DAN WAKTU INKUBASI YANG
BERBEDA
Agus Supriyanto, Anita Noer Heryani, Nimatuzahroh.

12-20

KEANEKARAGAMAN DAN HUBUNGAN KEKERABATAN PADA JAMBU AIR


(Syzygium aqueum Burm.f. Alston) MELALUI PENDEKATAN MORFOLOGI DI
PERKEBUNAN BHAKTI ALAM, PASURUAN
Devi Mardiastuti, Dr. Hamidah, dan Dr. Junairiah, S.Si.,M.Kes

21-27

BIOSISTEMATIKA VARIETAS PADA JAMBU BIJI (Psidium guajava L.) MELALUI


PENDEKATAN MORFOLOGI DI AGROWISATA BHAKTI ALAM
NONGKOJAJAR, PASURUAN
Sherly Ochtavia, Dr. Hamidah, M.Kes. dan Dr. Junairiah, S.Si., M.Kes...
28-36
KEPADATAN DAN KEANEKARAGAMAN PLANKTON DI PERAIRAN
MANGETAN KANAL KABUPATEN SIDOARJO PROVINSI JAWA
TIMUR DARI DAERAH HULU, DAERAH TENGAH DAN DAERAH
HILIR BULAN MARET 2014
G.A. Diasari Dewiyanti, Bambang Irawan, Noer Moehammadi.
PENGARUH KONSENTRASI SUKROSA TERHADAP BIOMASSA DAN
KADAR SAPONIN KALUS GINSENG JAWA(Talinum paniculatum Gaertn.)
PADA BERBAGAI WAKTU KULTUR
Deshinta Elsa Lina, Y. Sri Wulan Manuhara dan Hery Purnobasuki,...
PENGARUH INTENSITAS CAHAYA TERHADAP BIOMASSA DAN
KADAR SAPONIN KALUS GINSENG JAWA (Talinum paniculatum Gaertn.)
PADA BERBAGAI WAKTU KULTUR
Afifatul Alwiyah, Y. Sri Wulan Manuhara, dan Edy Setiti Wida Utami
STUDI KELIMPAHAN DAN JENIS MAKROBENTHOS DI SUNGAI
CANGAR DESA SUMBER BRANTAS KOTA BATU
Hendra Febbyanto*, Bambang Irawan, Noer Moehammadi, Thin Soedarti
KAJIAN DISTRIBUSI DAN KEBERADAAN MAKROBENTHOS DALAM
HUBUNGANNYA DENGAN SUHU DI ALIRAN SUNGAI AIR PANAS
CANGAR KOTA BATU
Rusdiana Puspa Ayu*, Bambang Irawan, Noer Moehammadi, Thin Soedarti..

37-46

47-55

56-66

67-75

76-84

PENGARUH PEMBERIAN BIOFERTILIZER DAN JENIS


MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN
PRODUKTIVITAS TANAMAN KUBIS (Brassica oleracea)

Ayu Iwantari, Agus Supriyanto, Tri Nurhariyati

85-94

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK HAYATI (BIOFERTILIZER) PADA


BERBAGAI DOSIS PUPUK DAN MEDIA TANAM YANG BERBEDA
TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKTIVITAS
TANAMAN TOMAT (Lycopersicon esculentum) PADA POLYBAG
Ainun Masfufah, Agus Supriyanto, Tini Surtiningsih
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Airlangga Surabaya

Ainunmasfufah08@gmail.com

Abstract
This study aims to determine the effect of dose biofertilizer, the influence
of growing media, and the influence of the combinations of biofertilizer dose and
growing media on growth and productivity of tomato plants. The study used a
completely randomized design factorial 2x5 pattern was repeated 3 times. The
first factor is the fertilizer dose (D) which consisted of D 0 = no fertilizer, Da =
NPK fertilizer dose 10 g/plant, D5 = biofertilizer dose 5 ml/plant, D10 =
biofertilizer dose 10 ml/plant, and D15 = biofertilizer dose 15 ml/plant. The second
factor is the growing medium (M) which consists of M1 (soil) and M2
(soil:compost = 1:1). The variable of observation consists of plant height (cm),
leaf number (strand), tomato fruit number per plant (fruit), and tomato fruit weight
(g). Analysis of the data used by Two- way ANOVA and Independent Sample TTest. The results of statistical analysis show that the biofertilizer dose affect on
plant height, but had no effect on leaf number, tomato fruit number per plant, and
tomato fruit weight. Whereas. The growing media is also effect on leaf number
and tomato fruit weight, but had no effect on plant height and tomato fruit number
per plant. However, the combination of biofertilizer dose and growing media had
no effect on any response to the growth and productivity of tomato plants.
Biofertilizer dose 10 ml/plant showed the best result compared with other
treatments on plant height, and the soil growing medium showed better result on
leaf number and tomato fruit weight.
Keywords: Biofertilizer, doses, growing media, tomato plants (Lycopersicon
esculentum).

Pendahuluan
Tomat merupakan salah satu jenis tanaman hortikultura yang
keberadaannya sering dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi tinggi yang dapat
digunakan sebagai sumber alternatif pendapatan petani (Cahyono, 2008). Hal ini
1

ditunjang dengan permintaan pasar baik dalam negeri maupun luar negeri yang
selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun (Hanindita, 2008).
Permintaan pasar yang tinggi tidak diimbangi dengan produktivitas tomat
yang tinggi pula (Purwati dan Khairunisa,2007). Untuk meningkatkan hasil
produksinya, pada umumya petani menggunakan pupuk NPK (Cahyono, 2008).
Akan tetapi, bagi para petani, harga pupuk kimia ini masih tergolong sangat mahal
(Astuti dan Robert, 2011). Selain itu, pupuk ini juga dapat memberi dampak buruk
bagi lingkungan yang berimbas pada rusaknya ekosistem yang dapat dilihat dari
tingginya tingkat pencemaran air dan tanah (Cahyono, 2008).
Pupuk hayati (biofertilizer) merupakan pupuk yang mengandung

konsorsium mikroba dan bermanfaat untuk pertumbuhan tanaman agar menjadi


lebih baik. Mikroba yang digunakan yaitu (1) bakteri fiksasi Nitrogen non
simbiotik Azotobacter sp. dan Azospirillum sp.; (2) bakteri fiksasi Nitrogen
simbiotik Rhizobium sp.; (3) bakteri pelarut Fosfat Bacillus megaterium dan
Pseudomonas sp.; (4) bakteri pelarut Fosfat Bacillus subtillis; (5) mikroba
dekomposer Cellulomonas sp.; (6) mikroba dekomposer Lactobacillus sp.; dan
(7) mikroba dekomposer Saccharomyces cereviceae (Suwahyono, 2011).
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh berbagai dosis pupuk
hayati (biofertilizer) dan penggunaan media tanam yang berbeda sehingga
didapatkan peningkatan pertumbuhan dan produktivitas tanaman tomat .
Metode Penelitian
Tahap pembuatan pupuk hayati (biofertilizer)
Setiap isolat bakteri dimasukan ke dalam larutan 100 ml media NB dan
glukosa 1% steril dan diinkubasi 24 jam. Kemudian semua kultur bakteri
dimasukan ke dalam larutan molase 2% dan diinkubasi 24 jam.
Tahap perlakuan
Polybag dibagi menjadi dua perlakuan, yaitu (1) polybag diisi dengan
tanah; dan (2) polybag diisi dengan campuran tanah dan kompos (1:1). Pemberian
pupuk hayati (Biofertilizer) diberikan pada tanaman tomat di dalam polybag
dengan cara disemprotkan pada media tanam dengan dosis 5 ml, 10 ml, dan 15 ml
2

tiap tanaman, sedangkan pemberian pupuk NPK dengan dosis 10 g/tanaman


diberikan dengan cara ditaburkan pada media tanam. Masing-masing pupuk
diberikan 4 kali, yaitu 3 hari sebelum transplanting, 7 hari pasca transplanting, 30
hari pasca transplanting, dan 70 hari pasca transplanting.
Rancangan penelitian
Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial
2x5 diulang 3 kali. Faktor pertama adalah dosis pupuk (D) yang terdiri atas D0=
tanpa perlakuan, Da= dosis pupuk NPK 10 g/tanaman, D 5= dosis biofertilizer 5
ml/tanaman, D10= dosis biofertilizer 10 ml/tanaman, dan D15= dosis biofertilizer
15 ml/tanaman. Faktor kedua adalah media tanam (M), yang terdiri atas M 1
(tanah) dan M2 (tanah : kompos = 1:1). Variabel yang diamati terdiri atas tinggi
tanaman (cm), jumlah daun (helai), jumlah buah per tanaman (buah), dan berat
buah per tanaman (g).
Prosedur memperoleh data
Data tinggi tanaman (cm), diukur dari pangkal batang sampai pada ujung
tunas tertinggi dan pengukuran dilakukan setiap satu minggu. Jumlah daun (helai)
dihitung dengan cara menjumlahkan semua daun yang ada pada tanaman dan
pengukuran dilakukan setiap satu minggu. Jumlah buah (buah) dihitung dengan
cara menjumlahkan semua buah yang dihasilkan tiap tanaman. Berat buah (g)
dihitung dengan cara menimbang semua buah yang dihasilkan tiap tanaman.
Analisis data
Data tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), jumlah buah (buah), dan berat
buah (g) dianalisis secara statistik menggunakan uji Two-way Analysis of Varians
(ANOVA) dan uji Independet-Samples T Test dengan asumsi data berdistribusi
normal.

Hasil dan Pembahasan


Pengaruh dosis pupuk hayati (biofertilizer) terhadap pertumbuhan dan
produktivitas tanaman tomat (Lycopersicon esculentum)
Tabel 4.1 Pengaruh dosis pupuk hayati (biofertilizer) terhadap pertumbuhan dan
produktivitas tomat (n=3)
Dosis
D0
Da
D5
D10
D15

Jumlah daun
(helai)
183.53 (a)
231.41 (b)
224.95 (ab)
202.12 (ab)
180.00 (a)

Tinggi tanaman
(cm)
49.5513.55 (a)
67.880.88 (bc)
53.0013.29 (ab)
75.9210.44 (c)
47.083.84 (a)

Jumlah buah
(buah)
41.86
127.46
64.02
105.18
50.82

Berat buah
(g)
26.7514.46
45.8228.66
39.4235.28
46.9418.63
43.8420.86

Keterangan : D0 = tanpa pemupukan, Da = dosis pupuk NPK 10 g/tanaman, D 5=


10
dosis biofertilizer 5 ml/tanaman, D10 = dosis biofertilizer
ml/tanaman, dan D15= dosis biofertilizer 15 ml/tanaman.
Berdasarkan hasil analisis data secara statistik, dosis pupuk hayati
(biofertilizer) berpengaruh terhadap tinggi tanaman tomat. Hal ini menunjukan
bahwa pemberian biofertilizer pada dosis yang berbeda, menunjukan respon tinggi
tanaman yang berbeda pula. Menurut Suwahyono (2011), mikroba yang ada di
dalam biofertilizer yang diaplikasikan pada tanaman mampu mengikat nitrogen
dari udara, melarutkan fosfat yang terikat di dalam tanah, memecah senyawa
organik kompleks menjadi senyawa

yang lebih sederhana, dan memacu

pertumbuhan tanaman.
Hasil analisis statistik menunjukan bahwa pemberian dosis biofertilizer 10
ml/tanaman (D10) memberikan hasil rata-rata tinggi tanaman yang lebih baik jika
dibandingkan pemberian biofertilizer pada dosis yang berbeda. Hal ini
dimungkinkan karena pada perlakuan D10 merupakan dosis pupuk yang paling
sesuai untuk pertumbuhan tinggi tanaman tomat. Menurut Uno (2001) dalam
Puspitasari (2010), bila suatu tanaman ditempatkan pada kondisi yang mendukung
dengan unsur hara dan unsur mineral yang sesuai, maka tanaman tersebut akan
mengalami pertumbuhan ke atas dan menjadi lebih tinggi.
Pemberian biofertilizer dengan dosis 5 ml/tanaman (D5) dan dosis

15

ml/tanaman (D15) memberikan hasil yang kurang bagus dibandingkan dengan


4

pemberian biofertilizer pada dosis 10 ml/tanaman (D10). Hal ini dimungkinkan


karena pada dosis biofertilizer 5 ml/tanaman (D5), jumlah mikroba yang ada
kurang mampu menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman untuk
pertumbuhan tinggi tanaman. Sedangkan pada dosis biofertilizer 15 ml/tanaman
(D15), dimungkinkan karena tingginya persaingan antar mikroba dalam
memperoleh makanan yang menyebabkan kebutuhan nutrisi mikroba kurang
terpenuhi sehingga mikroba bekerja kurang optimal yang menyebabkan
pengaruhya terhadap tinggi tanaman juga kurang optimal (Simanungkalit dkk.,
2006).
Berdasarkan hasil analisis data secara statistik, dosis pupuk hayati
(biofertilizer) berpengaruh terhadap jumlah daun dan jumlah buah. Akan tetapi,
pada dosis berapakah yang memberikan hasil yang paling baik terhadap jumlah
daun dan jumlah buah tomat, tidak dapat diamati pada hasil analisis statistik. Hal
ini disebabkan karena nilai p jumlah daun = 0.040 dan nilai p jumlah buah = 0.013
\DQJ PHQGHNDWL    yang menunjukan bahwa ada pengaruh dosis pupuk
hayati (biofertilizer) terhadap respon, akan tetapi hasilnya tidak terlalu berbeda
nyata. Sehingga dapat dikatakan bahwa pemberian pupuk hayati (biofertilizer)
menunjukan hasil yang signifikan saat diuji bersama, akan tetapi menunjukan
hasil yang tidak berbeda nyata terhadap respon jumlah daun dan jumlah buah saat
diuji terpisah.
Hasil analisis data secara statistik juga menunjukan bahwa dosis pupuk
hayati (biofertilizer) tidak berpengaruh terhadap berat buah tomat. Hal ini
disebakan karena tidak berbeda nyatanya hasil yang ditunjukan oleh pengaruh
dosis biofertilizer terhadap jumlah daun tomat. Jumlah daun erat kaitannya dengan
berat buah tomat yang dihasilkan. Menurut Harjadi (1979), daun merupakan
tempat terjadinya fotosintesis karena mengandung klorofil, sehingga dapat
mengubah karbon dioksida dan air menjadi karbohidrat dan oksigen dengan
bantuan sinar matahari. Karbohidrat ini kemudian digunakan untuk membentuk
senyawa-senyawa lain yang dibutuhkan dalam pembentukan struktur sel tanaman
dan untuk mendukung aktivitas metabolisme lain atau diakumulasikan dalam sel
organ tertentu (Sitompul dan Bambang, 1995).
5

Pengaruh media tanam terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman


tomat (Lycopersicon esculentum)
Tabel 4.2 Pengaruh media tanam terhadap pertumbuhan dan produktivitas tomat
(n=3)
Media
tanam
M1
M2

Jumlah daun
(helai)
222.77
182.19

Tinggi tanaman
(cm)
62.017.67
55.7018.82

Jumlah buah
(buah)
94.32
63.63

Berat buah
(g)
53.258.80
27.3911.05

Keterangan : M1 = media tanam tanah, M2 = media tanam tanah : kompos (1:1)


Berdasarkan hasil analisis data secara statistik, media tanam berpengaruh
terhadap jumlah daun dan berat buah, dimana jumlah daun dan berat buah tomat
paling tinggi terdapat pada perlakuan media tanah (M1), sementara perlakuan
media campuran tanah dan kompos 1:1 (M2) memiliki jumlah daun dan berat buah
yang lebih rendah. Hal ini tidak sesuai dengan hasil penelitian yang telah
dilakukan oleh Suliasih dkk. (2010) dan Kurnia (2007), yang menunjukan bahwa
penggunaan kompos memberikan pengaruh yang lebih baik jika dibandingkan
dengan penggunaan media tanah terhadap pertumbuhan dan produktivitas
tanaman tomat. Hal ini dimungkinkan karena pengaruh kematangan kompos yang
masih kurang. Menurut Simanungkalit dkk. (2006), kematangan kompos dapat
dilihat dari rasio C/N yang rendah, pH, warna seperti warna tanah, dan suhu yang
rendah (< 300 C). Kompos yang digunakan dalam penelitian ini memiliki warna
coklat kehitaman dan suhu 300 C. Suhu ini dapat dikatakan masih cukup tinggi,
sehingga menyebabkan pertumbuhan bakteri pengurai yang terdapat pada kompos
kurang optimal. Kurang optimalnya pertumbuhan bakteri pengurai menyebabkan
kompos kurang terurai sempurna sehingga kandungan C/N masih cukup tinggi
dan tidak dapat diserap oleh tanaman. Selain itu, kompos yang kurang matang
menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan produktivitas tanaman tomat karena
pengaruh suhu yang panas serta adanya senyawa fitotoksik yang dihasilkan.
Berdasarkan hasil analisis data secara statistik, media tanam tidak
berpengaruh terhadap respon tinggi tanaman dan jumlah buah tomat. Hal ini
6

dimungkinkan karena pengaruh sifat genetik tanaman. Pada varietas yang sama,
sifat genetik yang dimiliki pada tanaman juga hampir sama. Sehingga, pemberian
perlakuan media tanam yang berbeda akan menghasilkan tinggi tanaman dan
jumlah buah tomat yang hampir sama karena sifat genetik tanaman lebih dominan
(Saragih, 2008).
Pengaruh kombinasi dosis pupuk hayati (biofertilizer) dan media tanam
terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman tomat (Lycopersicon
esculentum)

Gambar 1. Diagram Pertumbuhan

Gambar 2. Diagram Produktivitas

Keterangan : D0= tanpa pemupukan, D a= dosis pupuk NPK 10 g/tanaman, D 5=


dosis biofertilizer 5 ml/tanaman, D10= dosis biofertilizer 10
ml/tanaman, dan D15= dosis biofertilizer 15 ml/tanaman, M 1=
media tanah, M2= media tanah: kompos (1:1)
Berdasarkan hasil analisis data secara statistik, kombinasi dosis pupuk
hayati (biofertilizer) dan media tanam tidak berpengaruh terhadap jumlah daun,
tinggi tanaman, jumlah buah, dan berat buah. Hal ini dimungkinkan karena nilai
standard deviasi yang tinggi pada masing-masing kombinasi perlakuan sehingga
menyebabkan tidak berpengaruhnya perlakuan kombinasi dosis biofertilizer dan
penggunaan media tanam terhadap terhadap semua respon pertumbuhan dan
produktivitas tanaman tomat.
Secara deskriptif, pada semua respon pertumbuhan dan produktivitas
tanaman tomat, kombinasi pemberian pupuk hayati (biofertilizer) pada berbagai
dosis dengan media tanam tanah menunjukan hasil yang lebih baik jika
dibandingkan dengan penggunaan media tanam campuran tanah: kompos (1:1).
7

Hal ini dimungkinkan karena kompos yang digunakan masih kurang matang,
sehingga penggunaan kompos sebagai media tanam memberikan pengaruh yang
tidak lebih baik jika dibandingkan dengan media tanam tanah karena kandungan
organik dalam kompos belum terurai secara sempurna sehingga unsur hara bagi
tanaman juga kurang yang menyebabkan pertumbuhan dan produktivitas tanaman
tomat juga kurang optimal (Simanungkalit dkk., 2006).
Pada respon jumlah daun, perlakuan M 1D5 menunjukan hasil yang lebih
tinggi jika dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Hal ini menunjukan bahwa
mikroba yang terdapat dalam biofertilizer mampu menyediakan unsur hara yang
dapat ditangkap oleh tanah dan kemudian dapat diserap oleh tanaman. Menurut
Ashari (1995), partikel koloid tanah yang bermuatan negatif lebih memungkinkan
unsur hara terikat pada partikel tersebut, hal ini penting terutama dalam
mempertahankan nutrisi dari pencucian. Dengan demikian tanah menjadi kaya
unsur hara yang berguna bagi tanaman.
Pada respon berat buah, perlakuan M1D5 menunjukan hasil berat buah
yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya, tetapi tidak lebih
baik jika dibandingkan dengan perlakuan M 1Da. Hasil berat buah ini erat
kaitannya dengan jumlah daun yang terdapat pada tanaman tomat. Pada respon
jumlah daun, tanaman dengan perlakuan M 1D5 menunjukan hasil jumlah daun
yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hal ini sesuai
dengan hasil berat buah yang diperoleh pada tanaman dengan perlakuan yang
sama. Menurut Harjadi (1979), jika suatu tanaman yang sedang berada pada fase
reproduktif dari perkembangan tanaman, maka karbohidrat hasil fotosintesis yang
terjadi di daun, tidak seluruhnya dipergunakan untuk pertumbuhan tanaman, akan
tetapi disimpan (ditimbun) untuk perkembangan bunga, biji, buah, atau alat-alat
persedian yang lain.
Pada respon tinggi tanaman, perlakuan M2D10 menunjukan hasil paling
tinggi jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hal ini menunjukan bahwa
meskipun kompos yang digunakan kurang matang, akan tetapi dengan pemberian
biofertilizer pada dosis yang sesuai, dapat memperbaiki kondisi media tanam
sehingga pertumbuhan tanaman juga dapat optimal. Mikroba pada pemberian
8

biofertilizer dengan dosis 10 ml/tanaman dimungkinkan mampu memanfaatkan


nutrisi yang terdapat pada kompos dengan sebaik mungkin sehingga dapat tumbuh
dengan optimal dan dapat memperbaiki kondisi media tanam campuran tanah dan
kompos (1:1) yang kurang matang menjadi lebih baik. Menurut Simanungkalit
dkk. (2006), jika dosis pupuk hayati (biofertilizer) diberikan pada media tanah
yang dicampur dengan kompos (1:1), maka pertumbuhan tanaman akan optimal.
Bahan organik yang ada pada kompos berperan sebagai sumber energi dan
makanan mikroba tanah sehingga dapat meningkatkan aktivitas mikroba tersebut
dalam penyedian unsur hara tanaman.
Pada respon tinggi tanaman, perlakuan M2D5 menunjukan hasil tinggi
tanaman yang hampir sama dengan perlakuan M 2D15, hal ini dimungkinkan
karena pada perlakuan M 2D5 kurang mampu menyediakan unsur hara yang
dibutuhkan untuk optimalisasi pertumbuhan tanaman. Sedangkan pada perlakuan
M2D15, tingginya persaingan antar mikroba dalam memperoleh nutrisi yang
menyebabkan kebutuhan nutrisi mikroba kurang terpenuhi sehingga mikroba
bekerja kurang optimal (Simanungkalit dkk, 2006). Menurut Schlegel (1994),
nutrisi merupakan faktor penting yang harus terpenuhi oleh mikroba, karena
nutrisi ini dapat digunakan untuk pertumbuhan dan metabolisme mikroba dalam
mempertahankan kehidupan mikroba.
Pada respon jumlah buah, perlakuan M1D10 dan M2D10 menunjukan hasil
jumlah buah yang paling tinggi jika dibandingkan dengan perlakuan kombinasi
yang lain. Hal ini dimungkinkan karena adanya pengaruh faktor tinggi tanaman
dan lingkungan yang juga turut berperan dalam optimalisasi pembentukan buah.
Menurut Wijayani dan Widodo (2005), kemampuan tomat untuk dapat
menghasilkan buah sangat tergantung pada interaksi antara pertumbuhan tanaman
dan faktor lingkungannya. Menurut Zulfitri (2005), tanaman yang lebih tinggi
dapat memberikan hasil per tanaman yang lebih baik dibandingkan dengan
tanaman yang lebih pendek. Hal ini dikarenakan tanaman yang lebih tinggi dapat
mempersiapkan organ vegetatifnya lebih baik sehingga organ fotosintat yang
dihasilkan akan lebih banyak.

Kesimpulan
Pupuk hayati (biofertilizer) pada dosis pupuk yang berbeda berpengaruh
nyata terhadap tinggi tanaman, dimana hasil terbaik diperoleh pada pemberian
biofertilizer dengan dosis 10 ml/tanaman; akan tetapi dosis pupuk tidak
berpengaruh nyata terhadap jumlah daun, jumlah buah, dan berat buah tomat.
Penggunaan media tanam berpengaruh nyata terhadap jumlah daun dan berat buah
tomat, dimana hasil terbaik diperoleh pada penggunaan media tanam tanah; tetapi
media tanam tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah buah
tomat. Sedangkan kombinasi dosis biofertilizer dan media tanam tidak
berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah buah, dan berat
buah tomat.
Daftar Pustaka
Ashari, S., 1995, Hortikultura Aspek Budidaya, Cetakan I, Universitas Indonesia
Press.
Astuti, R. S. dan Robert, A. K., 2011, Serapan Pupuk Kimia Rendah, Kompas,
Madiun.
Cahyono, I., 2008, Tomat : Usaha Tani dan Penganganan Pasca Panen,
Kanisius, Yogyakarta.
Hanindita, N., 2008, Analisis Eksport Tomat Segar Indonesia, Ringkasan
Eksekutif, Institut Pertanian Bogor.
Harjadi, S. S., 1979, Pengantar Agronomi, PT. Gramedia, Jakarta.
Purwati, E. dan Khairunisa, 2007, Budi Daya Tomat Dataran Rendah, Penebar
Swadaya, Depok.
Puspitasari, D., 2010, Bakteri Pelarut Fosfat Sebagai Biofertilizer Pada
Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Jagung (Zea mays L.), skripsi,
Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga.
Saragih, W. C., 2008, Respon Pertumbuhan dan Produksi Tomat (Solanum
Lycopersicum Mill. ) Terhadap Pemberian Pupuk Fosfat dan Berbagai
Bahan Organik, Skripsi, Departemen Agronomi Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara, Medan.
Schlegel, H. G., 1994, Mikrobiologi Umum, Ed. Ke-6, Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta.
10

Simanungkalit, R. D. M., Didi, A. S., Rasti, S., Diah, S., Wiwik, H., 2006, Pupuk
Organik dan Pupuk Hayati, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan
Sumberdaya Lahan Pertanian, Jawa Barat.
Sitompul, S. M., Bambang G., 1995, Analisis Pertumbuhan Tanaman, Gadjah
Mada University Press, Bulaksumur, Yogyakarta.
Suliasih, S., Widawati, A. Muharam, 2010, Aplikasi Pupuk Organik dan
Bakteri Pelarut Fosfat untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan
Produktivitas Tanaman Tomat dan Aktivitas Mikroba Tanah, J. Hort
20(3): 241-246.
Suwahyono, U., 2011, Petunjuk Praktis Penggunaan Pupuk Organik Secara
Efektif dan Efisien, Penebar Swadaya, Jakarta.
Wijayani, A., Widodo, W., 2005, Usaha Meningkatkan Kualitas Beberapa
Varietas Tomat Dengan Sistem Budidaya Hidroponik, Ilmu Pertanian
12(1): 77 - 83.
Zulfitri, 2005, Analisis Varietas dan Polybag Terhadap Pertumbuhan serta
Hasil Cabai (Capsicum annum L.) Sistem Hidroponik, BULETIN
Penelitian (08), Universitas Mercu Buana, Jakarta.

11

STUDI VIABILITAS DAN POLA PERTUMBUHAN Bacillus megaterium


PADA KONSENTRASI MOLASE DAN WAKTU INKUBASI YANG
BERBEDA

$JXV6XSUL\DQWR$QLWD1RHU+HU\DQL1LPDWX]DKURK
Program Studi S-1, Biologi, Departemen Biologi
Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga
agussupriyanto@unair.ac.id
ABSTRACT
This study was aim to determine the growth pattern of Bacillus megaterium
probiotic bacteria on varying the concentration of molasses, the combination effect of
molasses concentration and incubation time on total of Bacillus megaterium probiotic
bacteria and viability of Bacillus megaterium probiotic bacteria at the end of
incubation on varying molasses concentration. Varying the concentration of molasses
were made from molasses concentration of 0% (NB), molasses concentration of 1%,
molasses concentration of 2% and 3% molasses concentration with an incubation
period of 12 weeks. Data of patterns growth and viability of Bacillus megaterium
probiotic bacteria on the final incubation in molasses concentration variation were
obtained from the average total of Bacillus megaterium bacteria every week. Data of
concentration molasses and incubation time combination on total of Bacillus
megaterium probiotic bacteria were analyzed statistically by Brown Forsythe test.
Differences between treatments were tested using the Games Howell. The results of
total bacteria showed differences growth patterns Bacillus megaterium bacteria on
molasses concentration variation. Statistical analysis showed that combination effect
of molasses concentration and incubation time influenced the total probiotic bacteria
of Bacillus megaterium. Viability of Bacillus megaterium probiotic bacteria at the
end of the incubation period on varying the concentration of molasses is still good.

Keyword: Bacillus megaterium, Growth pattern, Incubation, Molasses concentration,


Total bacteria, Viability

12

PENDAHULUAN
Kegiatan budidaya perikanan (akuakultur) saat ini telah berkembang tetapi
terdapat kendala yang dapat menurunkan produksi berupa kematian budidaya ikan
yang disebabkan karena zat beracun dalam konsentrasi tertentu mengakibatkan
produktivitas perikanan menurun. Zat beracun dalam bentuk bahan organik dan
ammonia pada perairan. Bahan organik ini biasanya dalam bentuk karbohidrat
(CHO). Kadar amoniak bebas yang tidak terionisasi (NH 3) pada perairan tawar
sebaiknya tidak lebih dari 0,02 ppm (Effendi, 2003).
Budidaya perikanan memerlukan air yang bersih dan bebas dari bahan
pencemar. Langkah antisipatif melalui penerapan teknologi budidaya yang
berpedoman pada kaidah keseimbangan ekosistem merupakan solusi untuk mencegah
kerusakan yang lebih serius. Di antara langkah tersebut melalui aplikasi probiotik
dengan mendegradasi bahan organik dan menetralisir amonia menjadi bentuk lainnya
yang tidak toksik bagi ikan. Masalah amonia (NH 3) pada kolam juga dapat diatasi
dengan memberikan bakteri yang biasa hidup diperairan dan memiliki kemampuan
untuk mereduksi amonia menjadi bentuk lainnya yang tidak bersifat toksik bagi ikan
(Hargreaves dan Tucker, 2004).
Probiotik memiliki peranan

yang sangat penting dalam pengendalian

lingkungan (perbaikan kualitas air, menjaga kestabilan kualitas air, plankton, pH,
bahan organik, senyawa beracun), pengendalian penyakit, peningkatan produksi dan
kelestarian produksi. Probiotik sebagai agen pengurai merupakan kelompok
mikroorganisme terpilih yang menguntungkan seperti Nitrosomonas, Cellulomonas,
Bacillus, Nitrobacter.
Salah satu bakteri probiotik yang dapat digunakan untuk memperbaiki
kualitas lingkungan tambak yaitu Bacillus megaterium. Bakteri ini memiliki fungsi
probiotik untuk menetralisir amoniak dengan menghambat proses denitrifikasi untuk
membentuk nitrit dan nitrat

serta bahan organik yang dapat menyebabkan

pencemaran perairan. Bahan organik tersebut akan didegradasi dan ammonia akan
13

dinetralisir oleh Bacillus megaterium. Menurut Queiroz dan Boyd (1998) dalam
Irianto (2003), bakteri Bacillus subtilis, Bacillus megaterium, dan Bacillus polymyxa
dapat digunakan sebagai probiotik untuk memperbaiki kualitas air.
Molase yang berfungsi sebagai bahan pembawa produk tertentu merupakan
salah satu substrat yang dibutuhkan oleh Bacillus megaterium. Molase dapat
digunakan sebagai alternatif substrat karena mengandung nutrisi komplek yang
dibutuhkan bakteri dalam metabolismenya (Judoamidjojo dkk., 1989).
Berdasarkan latar belakang di atas, perlu diadakan penelitian terhadap pola
pertumbuhan dan viabilitas bakteri Bacillus megaterium pada beberapa konsentrasi
molase dan waktu inkubasi yang berbeda sehingga penggunaan probiotik ini
diharapkan untuk mengetahui efisiensi dan efektifitas Bacillus megaterium pada
media molase.

PROSEDUR PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Departemen Biologi
Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga pada bulan Januari-Mei 2012.
Adapun prosedur penelitian dilakukan dengan cara membuat stok kultur di dalam
media NB (Nutrien Broth) kemudian menginokulasikan bakteri Bacillus megaterium
ke dalam stok kultur dan mengukur nilai OD sebesar 0,5 pada panjang gelombang
(A=650). Kultur bakteri dibuat dengan cara mengisi keempat kelompok botol kultur
menggunakan 0,5 mL molase untuk konsentrasi molase 1%, 1 mL molase untuk
konsentrasi molase 2% dan 1,5 mL molase untuk konsentrasi molase 3% kemudian
ditambahkan aquades hingga volume mencapai 49 mL. Sedangkan konsentrasi
molase 0% (kontrol) menggunakan media NB (Nutrien Broth) sebanyak 49 mL.
Starter bakteri sebanyak 2% yaitu 1 mL ditambahkan kedalam kultur bakteri hingga
volume akhir mencapai 50mL. Kultur bakteri diletakkan pada suhu ruang dan
dilakukan TPC (Total Plate Count) setiap minggu selama 3 bulan pada masingmasing konsentrasi.
14

Data yang diperoleh berupa rata-rata jumlah sel bakteri (CFU/mL). Jumlah sel
bakteri dianalisis secara statistik dan deskriptif. Analisis statistik menggunakan uji
Brown forsythe kemudian dilanjutkan dengan uji Games Howll.
Rancangan penelitian pada penelitian ini menggunakan rancangan faktorial
4x13 dengan 3x ulangan. Variabel bebas terdiri dari konsentrasi substrat molase (0%,
1%, 2% dan 3%), waktu inkubasi (minggu) sedangkan variabel terikat terdiri dari
jumlah sel (CFU/ml).

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil penelitian ini berupa rata-rata jumlah sel (CFU/ml) Bacillus megaterium
setiap minggu dengan kombinasi variasi molase dan waktu inkubasi ditunjukkan pada
gambar 2. Jumlah sel Bacillus megaterium dibuat pola pertumbuhan pada variasi
konsentrasi molase selama inkubasi 3 bulan ditunjukkan pada gambar 1.

Gambar 1. Pola pertumbuhan Bacillus megaterium pada variasi konsentrasi molase

15

Pada gambar 1 menunjukkan pola pertumbuhan Bacillus megaterium pada


variasi konsentrasi molase yaitu konsentrasi 0% (kontrol), 1%, 2% dan 3%. Proses
pertumbuhan sangat komplek, mencakup pemasukan nutrien dasar dari lingkungan ke
dalam sel, konversi bahan-bahan nutrien menjadi energi dan berbagai konstituen vital
sel serta perkembangbiakan (Moat, 1979 dalam Judoamidjoyo, 1989). Jumlah sel
bakteri dapat diamati dengan pola pertumbuhan sehingga didapatkan fase lag, fase
log, fase stasioner dan fase kematian. Pola pertumbuhan bakteri Bacillus megaterium
pada konsentrasi molase 1%, 2%, 3% serta kontrol berbeda. Hal ini dikarenakan di
dalam setiap konsentrasi memiliki kandungan nutrisi yang berbeda-beda. Kandungan
nutrisi pada media molase ini menentukan viabilitas (jumlah sel) dari bakteri Bacillus
megaterium.
Jumlah sel bakteri yang paling tinggi terdapat pada fase log akhir. Pada fase
ini, sel mulai aktif

membelah serta perkembangbiakan meningkat sehingga

didapatkan jumlah sel terbanyak. Perkembangbiakan berhenti disebabkan karena


nutrisi di dalam molase telah berkurang. Kematian bakteri disebabkan karena zat
makanan yang diperlukan berkurang (Dwijoseputro, 2003). Untuk mengetahui fase
log akhir dan fase kematian bakteri Bacillus megaterium, maka dibuat pola
pertumbuhan dari data jumlah sel pada media molase serta media NB (kontrol) yang
didapatkan dari metode hitungan cawan.
Pola pertumbuhan bakteri Bacillus megaterium di dalam media NB
menunjukkan fase log terjadi pada minggu ke tiga. Fase log akhir bakteri ini dicapai
minggu ke lima. Pada fase ini, log jumlah bakteri mencapai 11,65 atau setara dengan
4,5x1011 CFU/ml. Fase stasioner terjadi pada minggu ke empat hingga minggu ke
tujuh. Minggu ke delapan hingga minggu ke dua belas merupakan fase kematian.
Pada media perlakuan yang mengandung konsentrasi molase 0% atau kontrol, bakteri
dapat bertahan hidup selama masa inkubasi akhir disebabkan adanya nutrisi komplek
dari media NB yang dibutuhkan bakteri. NB termasuk dalam media komplek karena
mengandung beberapa jenis nutrisi (Anonim, 2012).
16

Pola pertumbuhan bakteri Bacillus megaterium dengan konsentrasi molase 1%


menunjukkan fase log terjadi ketika minggu ke dua hingga minggu ke enam yang
ditandai sel membelah dengan laju konstan. Fase log akhir dicapai pada minggu ke
enam dengan log jumlah bakteri mencapai 11 atau setara dengan 1,0x10 11CFU/ml.
Fase kematian terjadi pada minggu ke sembilan ditandai dengan jumlah sel yang
semakin menurun dan mengalami kematian.
Pola pertumbuhan bakteri Bacillus megaterium pada konsentrasi molase 2%
menunjukkan fase log dimulai ketika minggu ke tiga ditunjukkan dengan
meningkatnya garis pada pola pertumbuhan yang mengindikasikan bahwa jumlah sel
meningkat. Fase log akhir terjadi pada minggu ke delapan dengan jumlah sel (log)
sebesar 12,3 atau setara dengan 2,0x1012CFU/ml. Pada fase log ini, keadaan
pertumbuhanya meningkat dan akhirnya mengalami fase kematian pada minggu ke
sembilan.
Pola pertumbuhan bakteri Bacillus megaterium pada konsentrasi molase 3%
menunjukkan fase log pada minggu ke dua yang ditandai dengan pembelahan sel
sehingga perkembangbiakan meningkat. Fase log akhir terjadi pada minggu ke enam
dengan log (jumlah sel) sebesar 10,57 atau setara dengan 3,7x10 10CFU/ml. Fase
stasioner terjadi pada minggu ke lima hingga ke sebelas sedangkan fase kematian
terjadi pada minggu ke duabelas.
Pada variasi konsentrasi molase menunjukkan pola pertumbuhan yang
berbeda. Adanya perbedaan pola pertumbuhan bakteri Bacillus megaterium pada
variasi konsentrasi molase menunjukkan bahwa komposisi media berperan penting
dalam pertumbuhan Bacillus megaterium. Perbedaan yang kecil pada nutrisi yang
tersedia memungkinkan terjadinya perubahan akibat keterbatasan nutrisi dan
berpengaruh terhadap pembentukan sel mikroorganisme (Jenny, et al., 1993 dalam
Hudayanti, 2005 dalam khurorin, 2006).
Pertumbuhan bakteri pada konsentrasi molase 2% meningkat setiap masa
inkubasi. Hal ini ditunjukkan pada fase log akhir dengan jumlah paling tinggi
17

dibandingkan dengan konsentrasi molase lainya yaitu 2,0x10 12CFU/ml tetapi pada
konsentrasi molase ini menunjukkan fase kematian yang lebih cepat dibandingkan
dengan konsentrasi molase 3%. Pola pertumbuhan pada konsentrasi molase 3%
menunjukkan fase kematian yang lebih lambat dibandingkan dengan konsentrasi
molase lain. Jumlah sel bakteri pada konsentrasi molase 3% lebih banyak di akhir
inkubasi dibandingkan dengan konsentrasi molase lain. Hal ini disebabkan karena
tersedianya sumber karbon pada konsentrasi molase 3% sehingga jumlah sel belum
mengalami kematian. Pada penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa Bacillus 3KP
membutuhkan konsentrasi 3% pada substrat molase (Thoha, 2010). Hal ini
menunjukkan bahwa nutrisi mempengaruhi pertumbuhan. Semakin nutrisi di dalam
media berkurang maka jumlah sel semakin menurun. Kisaran pH pada konsentrasi
molase 3% yaitu 4-7. Kisaran tersebut masih berada dalam kisaran optimum bakteri
Bacillus megaterium beradapatasi dengan media. pH optimum B. megaterium yaitu
5,5-8 (Belma, 2000).

Gambar 2. Kombinasi konsentrasi dan waktu inkubasi terhadap jumlah sel (log)
B. megaterium

18

Pada gambar 2 menunjukkan bahwa data kombinasi konsentrasi molase dan


waktu inkubasi terhadap jumlah sel bakteri probiotik Bacillus megaterium yaitu
normal dan tidak homogen maka dilanjutkan pada uji Brown Forsythe dan didapatkan
QLODL VLJQLILNDVL GLEDZDK GHUDMDW VLJQLILNDVL   \DLWX  PDND NHSXWXVDQ
yang diambil adalah tolak Ho yang artinya ada pengaruh kombinasi konsentrasi
molase dan waktu inkubasi terhadap jumlah sel bakteri Bacillus megaterium.
Viablitas bakteri probiotik Bacillus megaterium di akhir inkubasi pada variasi
konsentrasi molase dikatakan masih baik dan dapat digunakan sebagai probiotik
dengan masa inkubasi 3 bulan. Hal ini dikarenakan ke empat konsentrasi tersebut
masih memenuhi standar jumlah minimum sebagai probiotik dengan jumlah sel di
atas 106 CFU/ml. International Diary Federation (IDF) memberikan standar jumlah
minimum probiotik hidup sebagai acuan adalah 106 CFU/ml pada produk akhir
(Indratingsih, 2004).

KESIMPULAN
Melalui hasil dan pembahasan, dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu pola
pertumbuhan bakteri probiotik Bacillus megaterium pada variasi konsentrasi molase
berbeda. Konsentrasi molase 2% memiliki fase log yang berbeda dari konsentrasi
molase yang lain. Konsentrasi molase 3% memiliki jumlah sel paling banyak
dibandingkan dengan konsentrasi molase lain di akhir inkubasi. Hal tersebut
menunjukkan bahwa semakin berkurangnya nutrisi maka jumlah sel semakin
menurun. Kombinasi konsentrasi molase dengan waktu inkubasi berpengaruh
terhadap jumlah sel bakteri probiotik Bacillus megaterium  <0,05). Viabilitas
bakteri probiotik Bacillus megaterium di akhir masa inkubasi pada variasi konsentrasi
molase masih baik terutama pada konsentrasi molase 3% karena jumlah sel bakteri di
akhir inkubasi diatas standar jumlah minimum probiotik.

19

DAFTAR PUSTAKA
Belma, A., Zehra, N dan Yavuz, B., 2000, Determination of PHB Growth Quantities
of Certain Bacillus Species Isolated From Soil, Journal of Biotechnology No.
24-30
Dwidjoseputro, D., 2003, Dasar-dasar Mikrobiologi, Edisi 14, Djambatan, Jakarta
Effendi, H., 2003, Telaah Kualitas Air, Kanisius, Yogyakarta
Hargreaves, A. dan Tucker, S.C., 2004, Biology and Culture of Channel Catfish,
Pond Water Quality, Elsivier, USA.
Indratingsih,W. S., Salasia, S. dan Wahyuni, E., 2004, Produksi Yoghurt Shiitake
(Yohsitake) Sebagai Pangan Kesehatan Berbasis Susu, Jurnal Teknologi dan
Industri Pangan Vol. XV (1), No. 54-60.
Irianto, A., 2003, Probiotik untuk Akuakultur, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta
Judoamidjojo, R. M., E. G. Said, dan L. Hartono., 1989, Biokonversi Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Pendidikan Tinggi Pusat Antar
Universitas Bioteknologi, Institut Pertanian Bogor, Bogor
Khurorin, Ani, 2006, Optimasi Pertumbuhan Bakteri Probiotik Streptococcus lactis
Dengan Kombinasi Konsentrasi Molase Dan Ammonium Sulfat, skripsi,
Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga.

20

KEANEKARAGAMAN DAN HUBUNGAN KEKERABATAN PADA JAMBU AIR


(Syzygium aqueum Burm.f. Alston) MELALUI PENDEKATAN MORFOLOGI DI
PERKEBUNAN BHAKTI ALAM, PASURUAN
Devi Mardiastuti, Dr. Hamidah, dan Dr. Junairiah, S.Si.,M.Kes.
Prodi S1- Biologi, Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi,
Universitas Airlangga, Surabaya
Email :Devi.dewayana@gmail.com

ABSTRACT
The aims of this study were to examine whether there is diversity of morphological from variety
of rose apple (Syzygium aqueum Burm.f.Alston), analize their relationship and find out the
characteristics that effects the classification of these rose apple. This study itself is using the
descriptive approach. Sampling is taken at some sites Plantation Bhakti Alam Ngembal Village
Tutur Subdistrict Pasuruan Regency, East Java. The result of the research finds four varieties
Camplong, Citra, Black Diamond, and Pink Rose Apple. Parts of the plants to be studied are 55
characters, including plant high, leaf side, corolla high, and corolla width. Morphological of
variety of rose apple were analyzed by SPSS programme. This programme used simple matching
coefficient that use to form dendrogram. The dendrogram resulted two main groups of rose apple
group A and group B. Group A consisted of variety of Pink Rose Apple with 75,1% similarity
value. In the PCA (Principal Component Analysis) analysis of characters that effect the grouping
of variety of rose apple leaves thickly, high plants, leaf type, leaf edge, leaf point, leaf wide, leaf
length, stalk leaf length, leaf distance accompany, diatance bone leaves, calyx shape, high
corolla, corolla width, high fruit, fruit diameter, fruit skin surface, fruit flavor, seed color,
number of seed, form of seed, diameter of seed, and long seed.
Key words :Syzygium aqueum Burm.f.Alston, Morphology, Dendrogram, PCA
1. PENDAHULUAN
Indonesia telah ditetapkan sebagai negara megadiversitas kedua terbesar di dunia
(Mittermeier dan Mittermeier, 1997). Indonesia merupakan negara megadiversitas, termasuk
dalam kekayaan flora (tumbuhan). Dalam keanekaragaman tumbuhan Indonesia memiliki
antara 30.000-35.000 jenis tumbuhan (Wendra, 2012). Jambu airadalah tumbuhan dalam
suku jambu-jambuan atau keluarga Myrtaceae yang berasal dari Asia Tenggara (Bambang,
1993). Selain digunakan sebagai makanan, jambu air bisa digunakan sebagai obat. Jambu air
merupakan tanaman yang mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi serta memiliki khasiat
dalam penyembuhan berbagai macam penyakit karena mengandung nilai gizi dan
mempunyai kadar vitamin C yang tinggi yang sangat bermanfaat bagi tubuh manusia
(Dalimartha, 2008). Penelitian yang sering dilakukan pada jambu air terfokus pada
kandungan kimia dan perkembangbiakan dalam bidang pertanian (Indriana, 2011), penelitian
yang lain masih terfokus pada salah satu varietas yakni varietas Citra. Penelitian akan
hubungan fenetik di antara varietas pada Syzygium aqueum dipandang perlu karena dari
hubungan fenetik diperoleh informasi sederhana akan kedekatan hubungan di antara varietas
pada Syzygium aqueum berdasarkan persamaan yang dimiliki bersama. Pramono, 1988
21

menyatakan bahwa kemiripan morfologi tumbuhan yang berkerabat dekat, menimbulkan


proses fisiologis yang mirip dan menghasilkan senyawa metabolit sekunder yang mirip pula.
Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian varietas dari spesies Syzygium aqueum
untuk mengetahui hubungan kekerabatan dari keempat varietas dengan cara menganalisis
hubungan fenetik keempat varietas tersebut dengan menggunakan pendekatan yang relatif
mudah dan tidak memerlukan biaya yang banyak untuk diaplikasikan, yaitu menggunakan
pendekatan morfologi.
2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di Agrowisata dan Perkebunan Bhakti Alam di Desa Ngembal
Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur dan Laboratorium Biosistematika
Departemen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga selama tiga bulan
mulai bulan Juli-September 2014.
Bahan yang digunakan adalah spesimen segar dari empat varietas tanaman jambu air
(Syzygium aqueum), yaitu Camplong, Citra, Black Diamond, dan Pink Rose Apple.
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi meteran, jangka sorong,
gunting tanaman/pisau, kantong plastik berbagai ukuran, baki, penggaris, kamera digital,
kertas label, dan alat tulis.
Bagian yang diamati adalah karakter morfologi seperti perawakan, daun, batang,
bunga, buah, dan biji.Penelitian yang dikerjakan merupakan penelitian deskriptif dan secara
umum terbagi menjadi tahap persiapan penelitian, pengambilan dan pengumpulan spesimen,
pendataan karakter, dan pengolahan data.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil deskripsi dari masing-masing varietas Syzygium aqueum dapat dibuat suatu kunci
identifikasi sebagai berikut:
1.a.Warna batang coklat keputihan dengan permukaan batang kasar. Ujung daun meruncing
GDQSDQJNDOGDXQUXQFLQJ.................................................................. Camplong
b. Warna batang coklat tua dengan permukaan batang halus. Ujung daun runcing dengan
SDQJNDOGDXQWXPSXO
2.a. Bentuk calyx corong panjang dengan warna calyx kuning. Warna buah
PHUDKCitra
b. Bentuk calyx corong pendek dengan warna calyx kuning. Warna buah merah
NHKLWDPDQ
3.a. Rasa buah sepat dengan permukaan kulit buah kasar dan tidak memiliki
ELML ......... Black Diamond
b. Rasa buah sepat manis dengan kulit buah kasar dan PHPLOLNL ELMLPink
Rose Apple

22

Setelah melakukan deskripsi dan membuat kunci identifikasi, maka dapat dilihat hubungan
kekerabatan melalui pendekatan morfologi yang divisualisasikan dalam bentuk dendrogram pada
Gambar 1.

Gambar 1. Dendrogram hubungan kekerabatan antara varietas Camplong, Citra, Black


Diamond, dan Pink Rose Apple dari spesies Syzygium aqueum
Keterangan:
CAM1 = Camplong 1
BLACK 1 = Black Diamond 1
CAM2 = Camplong 2
BLACK 2 = Black Diamond 2
CAM3 = Camplong 3
BLACK 3 = Black Diamond 3
CIT1 = Citra 1
PINK 1 = Pink Rose Apple 1
CIT2 = Citra 2
PINK 2 = Pink Rose Apple 2
CIT3 = Citra 3
PINK 3 = Pink Rose Apple 3
Pengelompokan pertama diawali oleh 2 kelompok utama, yaitu kelompok adan
kelompok b. Kelompok a beranggotakan varietas Pink Rose Apple sementara kelompok b
beranggotakan varietas Black Diamond, Camplong, dan Citra. Kedua kelompok ini
mempunyai nilai kesamaan sebesar 47,4. Kelompok a telah mampu memecah menjadi
anggota masing-masing, yaitu varietas Pink Rose Apple itu sendiri dengan nilai kesamaan
sebesar 75,1. Sedangkan kelompok b memecah menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok c dan
kelompok d yang beranggotakan varietas Black Diamond, Camplong, dan Citra. Kelompok
ini terpisah dengan nilai kesamaan sebesar 51,4. Kelompok d memisah menjadi kelompok e
dan kelompok f yang beranggotakan varietas Camplong dan Citra. Kelompok ini terpisah
dengan nilai kesamaan 65,1 . Setelah dilakukan analisis klasifikasi pengelompokan hierarki
(classify hierarchialcluster) kemudian dilanjutkan dengan analisis komponen utama (Principal
Component Analysis: PCA). Analisis PCA berguna untuk menjawab karakter morfologi apa yang
memberi kontribusi besar dan membuat pemisahan OTU. Peran dari setiap karakter morfologi
akan memisahkan 12 OTU dalam penelitian ini, oleh PCA dinyatakan dengan menampilkan
sejumlah komponen-komponen pembeda utama beserta nilai dari setiap karakter pada
komponennya. Komponen karakter morfologi yang menyebabkan pengelompokan OTU
disajikan dalam Tabel 1.
23

Tabel 1. Nilai matriks komponen setiap karakter pembeda


Karakter
Komponen karakter
1
2
3
Kepadatan daun
-.395 .810 -.423
Tinggi tanaman
-.746 .565 -.345
Warna batang
-.510 .674
.534
Permukaan batang
-.510 .674
.534
Bangun daun
-.106 -.899
.411
Tepi daun
.012
-.968 -.247
Ujung daun
.533 .194 -.818
Pangkal daun
-.510 .674
.534
Lebar daun
.318 -.478
.784
Panjang daun
-.096 .427
.898
Panjang tangkai daun
-.054 -.242
.863
Jarak antar nodus
.397 .798
.452
Jarak antar tulang daun
-.657 -.702
.259
Bentuk calyx
.397 .798
.452
Tinggi corolla
.968 .247 -.012
Lebar corolla
.968 .247 -.012
Panjang pistillum
.510 -.674 -.534
Warna buah
.429 -.592
.675
Tinggi buah
.129 .776
.430
Diameter buah
.802 -.318
.239
Permukaan kulit buah
.746 -.565
.345
Rasa buah
.395 -.810
.423
Warna biji
.968 .247 -.012
Tekstur biji
.968 .247 -.012
Jumlah biji
.968 .247 -.012
Bentuk biji
.968 .247 -.012
Diameter biji
.927 .260 -.032
Panjang biji
.968 .247 -.012

Karakter yang mempengaruhi pengelompokan varietas pada spesies Syzygium


aqueum dibagi menjadi tiga komponen dimana komponen ini paling berpengaruh
berturutturut adalah komponen 1, 2, dan 3. Karakter yang berpengaruh dalam komponen 1,
yaitu tinggi tanaman, tepi daun, tinggi corolla, lebar corolla, diameter buah, permukaan kulit
buah, warna biji, tekstur biji, jumlah biji, bentuk biji, diameter biji, dan panjang biji.
Karakter dalam komponen 2, yaitu kepadatan daun, bangun daun, jarak antar nodus, jarak antar
tulang daun, bentuk calyx, tinggi buah, dan rasa buah.Karakter dalam komponen 3, yaitu
ujung daun, lebar daun, panjang daun, dan panjang tangkai daun.
Pada kelompok b membentuk 2 kelompok, yakni kelompok c dan kelompok dyakni
varietas Camplong, Citra, dan Black Diamond dengan nilai koefisien agglomerative 51,4.
Kelompok d memisah menjadi kelompok e dan kelompok f yang terdiri atas varietas
Camplong dan Citra mempunyai nilai kesamaan sebesar 65,1. Hal ini karena memiliki
karakter yang berbeda yakni warna batang, permukaan
batang, ujung daun, pangkal daun,
24

lebar daun, panjang daun, panjang tangkai daun, jarak antar nodus, bentuk calyx, panjang
pistillum, warna buah, dan tinggi buah. Semakin sedikit nilai indeks kesamaan yang dimiliki
akan menentukan posisi OTU dalam dendrogram dan membuktikan adanya hubungan
kekerabatan tiap OTU pada tingkat varietas dan antar varietas. Sedangkan hubungan
kekerabatan yang didasarkan pada besar nilai kesamaan ini mencerminkan bahwa tiap
kelompok tanaman tersebut mempunyai nilai kesamaan sifat fenotip yang cukup besar. Hal
ini tampak pada posisi varietas Pink Rose Apple yang memisah dengan varietas Camplong,
Citra, dan Black Diamond. Posisi tersebut menunjukkan bahwa varietas Pink Rose Apple
memiliki lebih banyak perbedaan dengan varietas Camplong, Citra, dan Black Diamond.
Perbedaan sifat tersebut ada pada karakter kepadatan daun, tinggi tanaman, warna batang,
permukaan batang, bangun daun, tepi daun, ujung daun, pangkal daun, lebar daun, panjang
daun, panjang tangkai daun, jarak antar nodus, jarak antar tulang daun, tinggi corolla, lebar
corolla, panjang pistillum, warna buah, tinggi buah, diameter buah, permukaan kulit buah,
rasa buah, warna biji, testur biji, jumlah biji, bentuk biji, diameter biji, dan panjang biji.
Sedangkan pada varietas Camplong, Citra, dan Black Diamond memiliki persamaan yang
banyak sehingga bisa dikatakan memiliki hubungan kekerabatan yang dekat.
Karakter-karakter yang berperan sebagai pemisah dalam pengelompokan tiap OTU
dapat juga dianalisis menggunakan Principal Component Analysis (PCA). Analisis PCA
menunjukkan tingkatan nilai karakter yang berperan dalam memisahkan 12 tanaman OTU
pada 4 varietas dalam spesies Syzygium aqueum. Semakin besar nilai yang ditunjukkan maka
semakin besar peranan karakter tersebut dalam pengelompokkan tiap varietas. Karakter yang
digunakan sebanyak 28 meliputi karakter dasar dan karakter tambahan dari jumlah awal
sebanyak 55 karakter, adanya 28 karakter tersebut menyebabkan adanya keanekaragaman
antar varietas dan dijadikan sebagai karakter yang dapat mengelompokkan OTU pada
kelompok yang sama.
Karakter-karakter tersebut dianalisis dengan PCA dan menunjukkan bahwa nilai
komponen karakter yang tinggi dan terbanyak pada karakter daun. Dari tabel dapat diketahui
bahwa karakter pada komponen I, yaitu karakter yang paling berperan utama dalam
PHPLVDKNDQNHORPSRNDQWDUYDULHWDVGDQ\DQJPHPSXQ\DLQLODLVHEDQ\DNNDUDNWHU
yang terdiri atas tinggi tanaman, tepi daun, tinggi corolla, lebar corolla, diameter buah,
permukaan kulit buah, warna biji, tekstur biji, jumlah biji, bentuk biji, diameter biji, dan
panjang biji. Sedangkan pada komponen II, sebagai karakter pendukung karakter utama
GHQJDQ QLODL   DGDODK NHSDGDWDQ GDXQ EDQJXQ GDXQ MDUDN DQWDU QRGXV MDUDN DQWDU
tulang daun, bentuk calyx, tinggi buah, dan rasa buah. Karakter-karakter tersebut juga
digunakan sebagai pembeda dalam pembuatan kunci determinasi sehingga dapat
mengelompokkan OTU dalam tiap kelompok taksa sehingga dapat diketahui dalam tiap
kelompok varietas yang sama memiliki karakteristik yang khas. Pada hasil PCA (tabel 4.5)
dapat dilihat nilai tiap karakter yang berperan penting dalam pengelompokkan OTU dengan
QLODL\DNQLSDGDNDUDNWHUWLQJJLWDQDPDQ -746), tepi daun (-968), tinggi corolla(968),
lebar corolla (968), diameter buah (802), permukaan kulit buah (746), warna biji (968),
tekstur biji (968), jumlah biji (968), bentuk biji (968), diameter biji (927), dan oanjang biji
(968). Namun ada beberapa karakter yang mempunyai nilai kesamaan yang kecil dari
NRPSRQHQ,VDPSDL ,,,GHQJDQQLODL\DNQLZDUQDEDWDQJSHUPXNDDQEDWDQJSDQJNDO
daun dan panjang pistillum. Beberapa karakter ini memiliki nilai rendah karena pada warna
batang, permukaan batang dapat berubah karena menyesuaikan umur tanaman
tersebut.Semakin tua umur tanaman maka warna batang semakin berwarna coklat tua dan
25

permukaannnya semakin kasar. Sedangkan pada pangkal daun dan panjang pistillum dapat
berubah karena pengaruh lingkungan. Karena itulah karakter ini tidak dapat digunakan untuk
mengelompokkan tanaman.
Dua metode di atas adalah metode standar yang digunakan untuk menganalisa, yaitu
(1) analisis kluster (Cluster Analysis) yang mana cara ini mengukur persamaan melalui jarak
euklid dan pengelompokkan yang menggunakan sentroid pada tiap OTU dan (2) prinsip
analisis komponen (PCA) yang menggunakan program dimana diciptakan oleh R/G. Davies
untuk ordinasi OTU menggunakan teknik tipe-R (Alvin et al., 2013). Kerjasama kedua cara
tersebut yang nantinya akan menunjukkan dendrogram dan indeks kesamaan yang dapat
memperlihatkan hubungan pada tiap OTU dan kelompok OTU berdasakan pada karakter
terpilih. Alvin et al (2013) menambahkan bahwa dendrogram lebih dapat dipercaya dalam
menyatakan kesamaan terhadap akhir dari dendrogram sedangkan PCA lebih berfungsi
terhadap mendeteksi kelompok utama dan gradien pada kelompok data, sehingga kedua
teknik ini digunakan dalam cara komplementer pada kelompok data yang sama.
4. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
1 Terdapat keanekaragaman morfologi varietas pada Syzygium aqueum, yaitu varietas
Camplong, varietas Citra, varietas Black Diamond, dan varietas Pink Rose Apple.
2. Hubungan kekerabatan antar varietas pada spesies Syzygium aqueum ditinjau dari
karakter morfologi dan dendrogram menghasilkan dua kelompok utama, yaitu
kelompok a yang beranggotakan varietas Pink rose apple dengan nilai kesamaan
sebesar 75,1 dan kelompok b beranggotakan varietas Camplong, Citra, dan Black
diamond dengan nilai kesamaan sebesar 4,74.
3. Karakter yang mempengaruhi pengelompokan varietas pada spesies Syzygium
aqueum dibagi menjadi tiga komponen dimana komponen ini paling berpengaruh
berturut-turut adalah komponen 1, 2, dan 3. Karakter yang berpengaruh dalam
komponen 1, yaitu tinggi tanaman, tepi daun, tinggi corolla, lebar corolla, diameter
buah, permukaan kulit buah, warna biji, tekstur biji, jumlah biji, bentuk biji, diameter
biji, dan panjang biji. Karakter dalam komponen 2, yaitu kepadatan daun, bangun
daun, jarak antar nodus, jarak antar tulang daun, bentuk calyx, tinggi buah, dan rasa
buah. Karakter dalam komponen 3, yaitu ujung daun, lebar daun, panjang daun, dan
panjang tangkai daun.
4.2Saran
Dalam hal pemanfaatan jambu air (terutama varietas Citra) sebagai tanaman
popular di masyarakat, dibutuhkan penelitian terhadap kandungan zat-zat fitokimia
yang terdapat pada varietas Black Diamond. Hal ini perlu dilakukan, sebab menurut
hasil penelitian ini varietas Black Diamond memiliki hubungan kekerabatan yang
dekat dengan varietas Citra, sehingga memungkinkan memiliki potensi khasiat yang
sama. Selain itu, masih diperlukan penelitian terhadap berbagai varietas jambu air
selain yang digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini melalui berbagai
pendekatan untuk mengetahui dan memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh
berbagai varietas jambu air lainnya.

26

5. DAFTAR PUSTAKA
Alvin, K. L., Dalby, D. H., dan Oladele, F. A., 2013, Numerical analysis of cuticular
characters in Cupressaceae, Department of pure and applied biology, Imperial
college of science and technology, London
Dalimartha, 2008, Resep Tumbuhan Obat Untuk Asam Urat, Penebar Swadaya Hal. 3-4,
33-35, Jakarta
Dina, I., 2011, Ragam Alat Bantu Media Pengajaran,Diva Perss, Yogyakarta
Hariyanto, P. Bambang., 1993, Jambu Air Jenis, Perbanyakan dan Perawatan, Penebar
swadaya, Jakarta
Pramono, S., 1988, Identifikasi Kandungan Kimia Tanaman Obat Melalui Pendekatan
KemotaksonomiKaempheria galanga, Laporan Penelitian PPOT-LIT-UGM,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Wendra, 2012, Aplikasi SMS Gateway Untuk Monitoring Ruangan Ber-AC Menggunakan
Bio-Electric Potensial Pada Tanaman Chrysantheum, Skripsi, Fakultas Sains dan
Teknologi Jurusan Teknik Informatika, Universitas Islam Negeri Maulana Malik
Ibrahim, Malang
Whitten, T.J., Whitten, C.G., Mittermeier, J., Supriatna., dan R. Mittermeier., 1997,
0HJDGLYHUVLW\(DUWKV%LRORJLFDOO\:HDWWKLHVW1DWLRQV, Hlm 75-107, Cemex
Corp, Canada

27

BIOSISTEMATIKA VARIETAS PADA JAMBU BIJI (Psidium guajava L.) MELALUI


PENDEKATAN MORFOLOGI DI AGROWISATA BHAKTI ALAM NONGKOJAJAR,
PASURUAN

Sherly Ochtavia, Dr. Hamidah, M.Kes. dan Dr. Junairiah, S.Si., M.Kes.
Prodi S-1 Biologi, Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi,
Universitas Airlangga, Surabaya
Email : sherly.ochtavia@rocketmail.com

ABSTRACT
The objective of this research are to know the diversity or morphological, to know fenetic
relationship among members of variety Psidium guajava L. based on morphological approach
characters and morphological character that affects the classification of these guava. This
research was run in Agrowisata Bhakti Alam Nongkojajar, Pasuruan. In this research, there were
6 varieties from species Psidium guajava L., those were variety of Getas Merah, Kristal, Lokal,
Sukun Farang, Pear, and Sukun Merah. Parts of the plants to be studied are 60 characters of
morphological plant, including stature, stem, leaves, flower, and fruit. This was an observational
research. According to the result of description analysis there were obtained diversity of
characteristic morphological from guava. According to the analysis used phenetic method by
SPSS program there were a dendrogram that resulted two groups of guava: group A and group B
with 28,3% similarity value. Group A consisted variety of Sukun Farang, and group B consisted
of group C and group D with 32,2% similarity value. Group C with 47,2% consisted variety of
Getas Merah and Pear. Group D consisted variety of Sukun Merah with 33,2% similarity value
and group E consisted variety of Kristal and Lokal with 50,2% similarity value. According to the
result of PCA (Principal Component Analysis), characters that affect the grouping of variety of
guava such as: stem shape, the color of the bottom surface of flower petals, the average width of
petals, color stamens (stalk), long stamens, color pistil (stigma), long pistil, the distance between
the veins, distance between nodes, the color of the upper surface of flower petals, color pistil
(stigma stalk), leaf density, diameter stem, peeling-crust, shape leaf, wide petals, surface of fruit,
the color of the fruit surface.
Keywords: Psidium guajava L., biosistematic, morphological, dendrogram, PCA

I. PENDAHULUAN
Keanekaragaman hayati di bumi terpusat pada daerah tropis. Indonesia berada pada
wilayah tropis yang dilewati oleh garis equator sehingga memiliki kekayaan alam lautan maupun
daratan.Salah satu spesies yang banyak dijumpai28
di Indonesia adalah Psidium guajava L.

Psidium guajava L. atau sering biasa kita sebut jambu biji ini merupakan tanaman yang
berasal dari Amerika Serikat Tengah, lalu penyebaran tanaman ini meluas ke kawasan Asia
Tenggara dan ke wilayah Indonesia melalui Thailand (Cahyono, 2010). Jambu biji termasuk
buah komersial karena sudah sangat dikenal oleh masyarakat. Jambu biji ditanam hampir di
seluruh wilayah Nusantara. Namun masyarakat Indonesia masih sedikit yang menanam jambu
biji secara intensif sehingga produksi jambu biji berkualitas rendah dan harganya pun menjadi
rendah. Padahal, jambu biji merupakan salah satu komoditas buah yang memiliki pasaran
prospektif, baik untuk pasaran di dalam negeri maupun pasaran di luar negeri (Cahyono, 2010).
Jambu biji (Psidium guajava L.) merupakan tanaman yang berbuah sepanjang tahun. Apabila
dibudidayakan secara komersial, tanaman jambu biji dapat meningkatkan pendapatan
masyarakat pada setiap rantai agribisnisnya sekaligus meningkatkan pendapatan negara. Jambu
biji (Psidium guajava L.) sangat disukai banyak orang karena rasa buahnya yang manis dan
menyegarkan serta kandungannya yang beragam.
Berbagai manfaat yang terkandung dalam jambu biji serta peluang bisnis yang menjanjikan
membuat banyak kalangan berlomba - lomba menciptakan varietas baru yang unggul dan
diminati semua orang. Penelitian yang dilakukan pada varietas jambu biji umumnya terfokus
pada jumlah produksi yang dihasilkan di setiap daerah (Ambarsari, 2007), teknik budidaya untuk
menghasilkan tanaman jambu biji yang berkualitas tinggi (Cahyono, 2010), dan kandungan pada
daun dan buah jambu biji sebagai bahan dasar dalam pengobatan tradisional maupun modern
(Novianto, 2011). Tetapi sampai saat ini penelitian tentang hubungan kekerabatan antar varietas
Psidium guajava L. masih belum banyak dilakukan terutama di Indonesia. Penelitian tentang
biosistematika menjadi sangat penting karena terdapat berbagai varietas, sehingga
pengelompokkan antar varietas yang berkerabat dekat berguna untuk pembudidayaan dan
pemuliaan varietas jambu biji. Oleh karena itu, perlu diadakan penelitian dan inventarisasi
tentang varietas pada Psidium guajava L. untuk mengetahui hubungan kekerabatan antar varietas
dengan cara analisis hubungan fenetik dengan pendekatan yang relatif mudah yaitu pendekatan
morfologi.
II. METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Agrowisata Bhakti Alam Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan,
Jawa Timur dan Laboratorium Biosistematika Departemen Biologi Fakultas Sains dan
Teknologi Universitas Airlangga pada bulan Januari - Oktober 2014.
Bahan spesimen yang digunakan adalah spesimen segar dari enam varietas tanaman jambu
biji (Psidium guajava L.) yaitu, varietas Getas Merah, varietas Kristal, varietas Lokal, varietas
Pear, varietas Sukun Farang, dan varietas Sukun Merah.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: (1) meteran untuk mengukur diameter
batang; (2) penggaris untuk mengukur panjang dan lebar spesimen; (3) jangka sorong untuk
mengukur ketebalan spesimen; (4) kaca pembesar untuk mengamati morfologi spesimen yang
berukuran kecil; (5) gunting tanaman untuk memotong bagian spesimen yang dipakai sebagai
sampel; (6) kantong plastik untuk mengumpulkan spesimen yang dipakai sebagai sampel untuk
diamati; (7) kertas label untuk memberi keterangan pada kantong plastik yang berisi sampel
spesimen; (8) kamera digital untuk mendokumentasikan spesimen; (9) standar warna (RGB);
(10) buku morfologi tumbuhan untuk membantu mendeskripsikan spesimen.
Bagian tanaman jambu biji yang digunakan untuk diteliti adalah organ daun, batang,
bunga, buah.
29

Tahapan penelitian yang dilakukan adalah : (1) survey lokasi penelitian; (2) karakterisasi
morfologi spesimen; (3) deskripsi dan analisis; (4) analisis data untuk pengelompokkan (analisis
kelompok).
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil deskripsi dari masing
- masing varietas jambu biji dapat dibuat suatu kunci
identifikasi jambu biji
1. D.HUDSDWDQGDXQUDSDWGDQEDWDQJEHUEHQWXNEXODWSLSLK ........................... 2
b. .HUDSDWDQGDXQMDUDQJGDQEDWDQJEHUEHQWXNEXODW ..................... 3
2. a. Mengelupasnya kerak pada batang berjumlah banyak dan berukuran kecil
kecil ........................................................................................... Sukun Farang
b. Mengelupasnya kerak pada batang berjumlah banyak dan berukuran besar - EHVDU3
3. a. Permukaan atas daun dan bawah daun berwarna Dark Olive Green (hijau lumut tua) dan
Olive Drab (hijau lumut kusam), dengan pangkal daun membulat dan tepi daun
EHUZDUQDPHUDKVHUWDMDUDNDQWDUQRGXVDQWDUDFP;FPGetas merah
b. Permukaan atas daun dan bawah daun berwarna Yellow Green (kuning kehijauan) dan
Olive (hijau lumut), dengan pangkal daun tumpul dan tepi daun tidak berwarna merah
VHUWDMDUDNDQWDUQRGXVDQWDUDFP;FP ......... Pear
4. a. Bagian terlebar GDULGDXQEHUDGDGLDWDVWHQJDKGDXQ ........................ 5
E%DJLDQWHUOHEDUGDULGDXQEHUDGDGLWHQJDKGDXQ ................ 6
5. a.Warna benang sari (kepala) dan putik (kepala) Lemon Chiffon (putih susu) dan Yellow
Green (kuning kehijauan), dan warna kelopak bunga permukaan atas dan bawah Light
Goldenrod Yellow (putih sedikit kuning keemasan) dan Green Yellow (hijau
kekuningan...................................................................................... Sukun Merah
b.Warna benang sari (kepala) dan putik (kepala) Light Yellow (putih kekuningan cerah) dan
Green Yellow (hijau kekuningan), dan warna kelopak bunga permukaan atas dan bawah
Pale Goldenrod (kuning pucat)dan Yellow Green NXQLQJNHKLMDXDQ ... 6
6. a. Bentuk buah bulat telur, permukaan kulit buah kasar, warna permukaan kulit buah Dark
Khaki (hijau sedikit coklat), warna daging buah Pink (merah muda), dan tekstur daging
EXDKNHUDVGDQUHQ\DK ................................................... Kristal
b. Bentuk buah bulat, permukaan kulit buah halus, warna permukaan kulit buah Khaki
(putih kekuningan), warna daging buah Light Coral (merah muda cerah), dan tekstur
GDJLQJEXDKOHPEHN ........................................................................ Lokal
Setelah melakukan deskripsi dan membuat kunci identifikasi, maka dapat dilihat hubungan
kekerabatan melalui pendekatan morfologi yang divisualisasikan dalam bentuk dendrogram pada
gambar 1.

30

Dendrogram using Average Linkage (Between Groups)


Rescaled Distance Cluster Combine
Index
Simirality
Label

0.502 0.4582
0.4144
0.3706
0.3268
0.283
Num +---------+---------+---------+---------+--------+

E
Kristal
Lokal
Sukun merah
Getas merah
Pear
Sukun farang

2
3
6
1
4
5

D
B
C
A

Gambar 1. Dendrogram hubungan kekerabatan antara enam varietas jambu


biji (Psidium guajava L.) yang diteliti berdasarkan analisis
karakteristik morfologi.
Berdasarkan dendrogram pada Gambar 1. di atas, dengan nilai similaritas (kesamaan)
28,3% didapatkan 2 kelompok jambu biji (Psidium guajava L.) berdasarkan karakter morfologi.
Dua pengelompokkan ini ditandai dengan huruf A dan B. Hasil analisis yang digambarkan dalam
dendrogram tersebut dapat menunjukkan pengelompokan dan juga kedekatan dalam hubungan
kekerabatan dari enam varietas jambu biji (Psidium gujava L). Kelompok pertama (kelompok A)
beranggotakan jambu biji varietas Sukun farang, dan kelompok kedua (kelompok B)
beranggotakan jambu biji varietas Kristal, varietas Lokal, varietas Pear, varietas Getas merah dan
varietas Sukun merah. Kelompok B memisah kembali menjadi dua kelompok yaitu kelompok C
dan D dengan nilai similaritas 32,2%. Kelompok C dengan nilai similaritas 47,2% memisah
dengan anggota kelompok jambu biji varietas Getas merah varietas Pear. Kelompok D
beranggotakan jambu biji varietas Kristal, varietas Lokal, dan varietas Sukun merah. Kelompok
D memisah menjadi dua kelompok yaitu, menjadi kelompok E (yang terdiri dari varietas Kristal
dan Lokal) dan varietas Sukun merah dengan nilai similaritas 33,2%. Kelompok E dengan nilai
similaritas paling tinggi 50,2% memisah kembali dengan beranggotakan jambu biji varietas
Kristal dan varietas Lokal.
Setelah melakukan analisis pengelompokkan berhierarki (classify hierarchial cluster), data
yang ada harus dikonfirmasi kembali dengan analisis komponen utama (Principal Component
Analysis / PCA). Hasil analisis PCA adalah sebuah tabel yang menunjukkan bobot nilai dari
masing - masing karakter pembeda yang menyebabkan pemisahan dari setiap individu / varietas
(Gill dan Cubero,1993). Komponen nilai tersebut berasal dari sejumlah karakter pembeda yang
diekstrak dan dinyatakan dalam Tabel 1. Karakter yang digunakan sebanyak 43 karakter,
sementara sisa karakter lainnya tidak masuk dalam tabel karena karakter - karakter tersebut sama
untuk setiap individu.

31

Tabel 1. Nilai matriks komponen setiap karakter pembeda


Component Matrixa
Komponen
Karakter Pembeda

Tinggi tanaman

.391

.351

.719

Kerapatan daun

-.460

.199

.835

Bentuk batang

-.988

.032

.115

Warna batang

-.673

-.073

-.603

Diameter batang

-.368

.355

.763

Mengelupasnya kerak

-.107

.363

.831

.465

.204

.566

Warna permukaan atas daun

-.444

.682

-.031

Warna permukaan bawah daun

-.336

.626

.198

Bangun daun

.093

-.293

.947

Ujung daun

.592

-.629

.397

Pangkal daun

.651

.128

.474

-.014

-.334

-.142

Jarak antar tulang daun

.264

.927

.264

Panjang daun

.554

.747

-.269

Lebar daun

.361

.586

-.203

-.251

.403

.140

.198

.552

-.628

Jarak antar nodus

-.165

.858

.246

Tepi daun muda

.651

.652

.104

Jarak antar kerak yang terkelupas

Jumlah tulang daun

Panjang tangkai daun


Bagian terlebar dari daun

32

Simetri bunga

-.475

.694

-.330

Warna kelopak bunga permukaan


atas

.052

-.857

.125

Warna kelopak bunga permukaan


bawah

-.766

-.335

.479

Jumlah kelopak bunga

-.475

.694

-.330

Panjang kelopak bunga

.678

.110

.028

Lebar kelopak bunga

.343

.097

.840

Bentuk mahkota bunga

-.554

-.747

.269

Jumlah mahkota bunga

-.475

.694

-.330

Rata-rata panjang mahkota bunga

.744

-.574

-.233

Rata-rata lebar mahkota bunga

.988

-.032

-.115

Warna benang sari (tangkai sari)

-.901

-.052

.039

Warna benang sari (kepala sari)

.327

-.625

-.590

Panjang benang sari

.988

-.032

-.115

Warna putik (tangkai putik)

.165

-.858

-.246

Warna putik (kepala putik)

-.867

.301

-.194

Panjang putik

.988

-.032

-.115

Berat buah

.115

.616

.701

Diameter buah

.651

.128

.474

-.734

-.348

.412

.343

.097

.840

-.069

-.315

.774

Bentuk buah
Permukaan kulit buah
Warna permukaan buah

33

Warna daging buah

.490

.726

-.336

Tekstur daging buah

-.358

-.543

.528

.DUDNWHU \DQJ EHUSHQJDUXK EHVDU PHPSXQ\DL QLODL    GDODP NRPSRQHQ  DQWDUD
lain: bentuk batang, warna kelopak bunga permukaan bawah, rata-rata lebar mahkota bunga,
warna benang sari (tangkai sari), panjang benang sari, warna putik (kepala putik), panjang putik.
Karakter yang termasuk dalam komponen 2 antara lain: jarak antar tulang daun, jarak antar
nodus, warna kelopak bunga permukaan atas, warna putik (tangkai putik). Selanjutnya karakter
yang termasuk dalam komponen 3 antara lain: kerapatan daun, diameter batang, mengelupasnya
kerak, bangun daun, lebar kelopak bunga, permukaan kulit buah, warna permukaan buah.
Berdasarkan dendrogram tersebut dapat diketahui terbentuknya dua kelompok utama, yaitu
kelompok A yang terdiri dari Sukun Farang dan kelompok B yang terdiri dari 5 varietas, yaitu;
Kristal, Lokal, Sukun merah, Getas merah dan Pear, yang memiliki nilai indeks dalam kesamaan
sebesar 0,283. Nilai tersebut merupakan nilai yang paling kecil diantara nilai yang lain, yang
berarti dua kelompok tersebut memiliki perbedaan karakakter yang signifikan. Karakter yang
berbeda antara lain pada bentuk batang, bentuk buah dan jarak antar mengelupasnya kerak, yang
masing-masing kelompok memiliki karakteristik yang berbeda.
Kelompok A memiliki karakteristik batang yang berbentuk bulat pipih, buah yang
berbentuk bulat memanjang, dan jarak antar kerak yang terkelupas banyak kecil-kecil, sedangkan
pada kelompok B memiliki karakteristik batang berbentuk bulat, buah berbentuk bulat dan bulat
telur, jarak antar kerak yang terkelupas sedang dan sedikit besar-besar dan kecil - kecil.
Memisahnya varietas jambu biji menjadi beberapa kelompok pada dendrogram disebabkan
karena adanya perbedaan karakteristik yang dimiliki oleh masing - masing individu. Setiap
individu baik tingkat spesies maupun varietas pasti memiliki ciri atau sifat khusus yang tidak
dimiliki oleh individu lain. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun dalam satu varietas, suatu
individu pasti memiliki perbedaan. Kenyataan ini bisa terjadi karena memang tidak akan pernah ada
dua individu yang sama persis di dunia ini (Campbell, 2003).
Pada keenam puluh karakter morfologi yang digunakan dalam penelitian ini, 17 karakter
merupakan karakter umum yang dimiliki bersama sedangkan 43 karakter sisanya merupakan
karakter khusus yang dimiliki antar varietas jambu biji. 43 karakter inilah yang menyebabkan
adanya keanekaragaman pada varietas jambu biji. Selanjutnya, 43 karakter khusus tersebut
dianalisis dengan PCA. Hasil analisis PCA pada komponen 1 menunjukkan bahwa nilai
komponen tertinggi terdapat pada karakter bentuk batang, rata - rata lebar mahkota bunga,
panjang benang sari, panjang putik dengan nilai yang sama yaitu 0,988 (Tabel 1). Ini
menunjukkan bahwa karakter batang, dan karakter bunga memiliki pengaruh paling besar
terhadap pengelompokan dari keenam varietas jambu biji (Psidium guajava L.).
Berdasarkan nilai komponen matriks pada Tabel 1. dapat dilihat dari komponen I terdapat 7
NDUDNWHU\DQJPHPLOLNLQLODL\DQJEHUDUWLNDUDNWHUWHUVHEXWEHUSHJDUXKNXDWWHUKDGDSMDXK
dekatnya hungan antar varietas, karakter tersebut antara lain; karakter bentuk batang, rata-rata
lebar mahkota bunga, panjang benang sari, panjang putik, warna kelopak bunga permukaan
bawah, warna tangkai sari, dan warna kepala putik. Pada komponen II terdapat 5 karakter yang
PHPLOLNL QLODL 0,75, yaitu; karakter jarak antar tulang daun, bentuk mahkota bunga, warna
tangkai putik, warna kelopak bunga permukaan atas, dan jarak antar nodus. Dan pada komponen
34

,,,WHUGDSDWNDUDNWHU\DQJPHPLOLNLQLODL\DLWX karakter kerapatan daun, diameter


batang, bangun daun, lebar kelopak bunga, permukaan kulit buah dan warna permukaan buah.
Beberapa karakter di atas adalah karakter yang berpengaruh kuat dalam menentukan
pengelompokan antar varietas, selain karakter di atas juga terdapat beberapa karakter yang cukup
berpengaruh dan kurang berpengaruh dalam pengelompokan antar varietas. Seberapa kuat
karakter tersebut, apakah berpengaruh kuat atau cukup berpengaruh dan kurang berpengaruh,
merupakan karakter yang digunakan untuk mengelompokkan antar varietas, sehingga dapat
diketahui hubungan kekerabatannya.
Hal ini menunjukkan bahwa karakter morfologi merupakan salah satu karakter dari
makhluk hidup yang dapat digunakan untuk mengetahui hubungan kekerabatan suatu organisme.
Penelitian ini difokuskan dalam penelitian ini karakter morfologi memegang peranan penting
dalam menentukan kedekatan hubungan kekerabatan dari keenam varietas jambu biji (Psidium
guajava L).
Hubungan kekerabatan dapat digunakan untuk menduga tingkat kesamaan antar spesies
atau populasi (Suratman et al., 2000). Semakin banyak karakter yang dimiliki bersama, diantara
individu yang dibandingkan, maka semakin dekat hubungan kekerabatan, dan berlaku pula
dengan sedikitnya kesamaan karakter yang dimiliki bersama, maka hubungan kekerabatannya
semakin jauh.
IV. KESIMPULAN
4.1 Kesimpulan
1. Terdapat keanekaragaman morfologi pada organ batang, daun, bunga, dan buah pada
enam varietas jambu biji (Psidium guajava L.).
2. Hubungan kekerabatan antar varietas jambu biji (Psidium guajava L.) ditinjau dari
pendekatan morfologi dan dendrogram menghasilkan dua kelompok utama dengan nilai
similaritas 28,3% yaitu, kelompok A beranggotakan jambu biji varietas Sukun farang,
dan kelompok B beranggotakan jambu biji varietas Kristal, varietas Lokal, varietas Pear,
varietas Getas merah dan varietas Sukun merah. Selanjutnya kelompok yang kedua akan
membentuk kelompok yang lebih kecil lagi hingga akhirnya mengelompok dengan
golongannya sendiri.
3. Karakter yang mempengaruhi pengelompokan pada enam varietas jambu biji (Psidium
guajava / \DLWXSDGDNRPSRQHQ,WHUGDSDWNDUDNWHU\DQJPHPLOLNLQLODL\DQJ
berarti karakter tersebut berpengaruh kuat terhadap jauh dekatnya hubungan antar
varietas, karakter tersebut antara lain: bentuk batang, warna kelopak bunga permukaan
bawah, rata - rata lebar mahkota bunga, warna benang sari (tangkai sari), panjang benang
sari, warna putik (kepala putik), panjang putik. Komponen II terdapat 4 karakter yang
PHPLOLNLQLODLDQWDUDODLQMDUDNDQWDUWXODQJGDXQMDUDNDQWDU nodus, warna
kelopak bunga permukaan atas, warna putik (tangkai putik). Komponen III terdapat 7
karakter yang memiliki nilai DQWDUDODLQNHUDSDWDQGDXQGLDPHWHUEDWDQJ
mengelupasnya kerak, bangun daun, lebar kelopak bunga, permukaan kulit buah, warna
permukaan buah. Dan sisanya adalah karakter yang cukup berpengaruh dan kurang
berpengaruh.

35

4.2 Saran
1. Perlu ditambahkan karakter anatomi dan molekuler sebagai pendukung dalam analisis
biosistematika varietas pada jambu biji (Psidium guajava L.) ini sehingga dapat
memperkuat hubungan kekerabatan antar varietas tersebut.
2. Perlu dilakukan penelitian hubungan kekerabatan varietas jambu biji (Psidium guajava
L.) lainnya yang ada di daerah lain di Indonesia.
V. DAFTAR PUSTAKA
Ambarsari, I., Abdul, C., dan Syamsul Bhri, 2007a. Potensi Pengembangan Agroindustri Jambu
Biji Merah di Kabupaten Banjarnegara.Jurnal Litbang Provinsi Jawa Tengah. Vol 5 no 1,
Juni 2007. Hal 31-40.
Cahyono,Bambang. 2010. Sukses Budidaya Jambu Biji di Pekarangan dan Perkebunan. Lily
Publisher : Andi. Yogyakarta.
Campbell, A.M., Reece, J.B., dan Mitchell, L.G., 2003. Biology 5th ed. Diterjemahkan oleh
Wasmen Manalu dengan judul Biologi edisi 5.Jakarta: Erlangga.
Gill, J. and Cubero, J.I., 1993, Multivariate Analysis of The Vicia sativa L. aggregate, Botanical
Journal of The Linnean Society, Vol 113, Issue 4, pages 389-400
Novianto, R.. 2011. Peluang Bisnis Budidaya Jambu Biji. Strata Satu Teknik Informatika
Sekolah Tinggi Manajemen Informatika Dan Komputer Amikom Yogyakarta.
Suratman, D. P., dan Setyawan, A.D. 2000.Analisis Keragaman Genus Ipomomea Berdasarkan
Karakter Morfologi. Jurnal Biodiversitas. 1(2):72-79

36

KEPADATAN DAN KEANEKARAGAMAN PLANKTON DI PERAIRAN


MANGETAN KANAL KABUPATEN SIDOARJO PROVINSI JAWA
TIMUR DARI DAERAH HULU, DAERAH TENGAH DAN DAERAH
HILIR BULAN MARET 2014
G.A. Diasari Dewiyanti, Bambang Irawan, Noer Moehammadi
Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Airlangga, Surabaya 60115
Email: g.a.d.diasari@gmail.com

ABSTRACT
This research aimed to know the density and diversity of plankton at
Mangetan Canal from headwaters to downstream area in March 2014. This study
is located in Mangetan Canal, Sidoarjo, East Java Province . Plankton sampling
conducted in nine sampling stations representing Mangetan Canal waters. The
type of plankton found in the research area as many as 26 species of
phytoplankton from
7 classes of Chlorophyceae, Bacillariophyceae,
Cyanophyceae,
Fragilariophyceae,
Ulvophyceae,
Coleochaetophyceae,
Charophyceae and 8 species of zooplankton from 4 classes of Phyllopoda,
Maxillopoda, Ostracod, Monogononta. The results showed that the highest density
of phytoplankton in March is in the upstream reaches as much as 183
plankton/mL. Diversity index of phytoplankton in the upstream, midstream and
downstream Mangetan Canal each of 6594, 5005 and 9664. Phytoplankton
dominance index value in the flow Mangetan Canal ranged between 1149-1927.
While the highest zooplankton densities are found in the upstream and midstream
three plankton/mL. Zooplankton diversity index upstream-downstream Mangetan
Canal ranging between 2581-2646 . Dominance index value of zooplankton in the
flow Mangetan Canal ranges between 2.0833-2.084
Keywords: Plankton, phytoplankton, zooplankton, density, diversity, Mangetan
Canal waters .

PENDAHULUAN
Salah satu kebutuhan yang sangat penting untuk kelangsungan hidup suatu
organisme atau makhluk hidup di bumi adalah air, terutama air tawar. Air ini
digunakan oleh organisme untuk memenuhi kebutuhan internal yaitu menunjang
proses fisiologi tubuh dan memenuhi kebutuhan eksternal yaitu untuk menunjang
habitatnya. Habitat tersebut terbagi menjadi 2 yaitu habitat terestrial dan akuatik
(perairan) yang meliputi perairan tawar dan perairan laut. Soegianto (2010)
menyebutkan bahwa lingkungan hidup perairan tawar dapat dibagi menjadi dua
golongan besar yaitu perairan menggenang (lentik) dan perairan mengalir (lotik).
Contoh perairan lentik adalah danau, sedangkan contoh perairan lotik adalah
sungai dan kanal. Perairan tawar berperan sebagai habitat bagi berbagai
37

organisme, salah satu kelompok organisme yang hidup di air tawar tersebut adalah
plankton.
Mangetan Kanal atau yang biasanya dikenal dengan Kali Mangetan Kanal
terletak di Kabupaten Sidoarjo Provinsi Jawa Timur. Mangetan Kanal
mempunyai panjang 36,3 km, lebar 14 meter dan kedalaman 5 meter.
Arus di Mangetan Kanal ini cukup deras di bagian hulu dan mulai melambat
sampai ke hilir sungai. Aliran airnya berkelok-kelok. Berdasarkan
pemanfaatannya, Mangetan Kanal digunakan untuk memenuhi keperluan
masyarakat sehari-hari guna menunjang proses kehidupan, penampung air hujan,
dan keperluan industri. Ada beberapa industri mengambil intake di saluran
Mangetan Kanal tentunya atas ijin PT. Jasa Tirta dengan membayar retribusi
tertentu. Selain itu fungsi utama aliran air dari Mangetan Kanal ini adalah untuk
irigasi lahan pertanian masyarakat sekitar Mangetan Kanal (Idfi, 2010).
Pertumbuhan perekonomian yang pesat di daerah Mangetan Kanal
mengakibatkan terjadinya alih fungsi lahan. Alih fungsi lahan tersebut
diantaranya adalah penyusutan 173 Ha lahan sawah menjadi kawasan
permukiman dan industri (Idfi, 2010). Daerah sekitar hulu sungai masih
didominasi permukiman, sedangkan daerah tengah dan hilir sudah mulai
didominasi oleh permukiman padat penduduk dan industri. Hal ini berpotensi
terjadinya perubahan fungsi dan keadaan fisik maupun kimia perairan Mangetan
Kanal semakin tidak terkontrol.
Aliran air yang digunakan untuk irigasi dan kebutuhan masyarakat sekitar
di daerah Mangetan Kanal tersebut terindikasi bercampur dengan limbah
domestik, limbah industri kertas dan limbah pertanian yang berasal dari daerah
pertanian (sawah). Keadaan tersebut berpengaruh terhadap kehidupan organisme
yang hidup di perairan Mangetan Kanal, salah satu contohnya adalah plankton
yang memiliki fungsi sebagai indikator kualitas air suatu perairan dan sumber
nutrisi bagi organisme lain yang hidup di perairan tersebut. Dampak lainnya
adalah kualitas air irigasi yang digunakan masyarakat untuk kebutuhan
pertaniannya menjadi buruk (Idfi, 2010).
Penelitian ini merupakan penelitian tentang kepadatan dan
keanekaragaman plankton yang ada di Mangetan Kanal, yang merupakan
wilayah aliran dari Kali Brantas Surabaya. Fokus penelitian ini diarahkan untuk
mengetahui plankton yang terdapat di Mangetan Kanal.

METODE PENELITIAN
Waktu dan tempat penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2014. Pengambilan sampel
plankton bertempat di perairan Mangetan Kanal, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi
Jawa Timur. Identifikasi sampel plankton dilakukan di laboratorium
Biosistematika, Fakultaas Sains dan Teknologi, Universtas Airlangga.
38

Bahan
Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah plankton yang dikoleksi
dari Mangetan Kanal, larutan formalin 37%, kertas pH universal, pipet tetes,
kertas label, botol film, spidol marker.
Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah plankton nett, ember plastic
berukuran 10 liter, Global Positioning System (GPS), Flow meter (Geopacks
Flowmeter Jenis MFP 51), kamera digital, mikroskop, Sedgewich-Rafter, pipet
tetes, alat tulis, peta lokasi dan buku panduan untuk identifikasi spesies plankton.
Cara kerja
Pengambilan sampel plankton
Pengambilan sampel plankton dilakukan pada 3 bagian kanal yaitu bagian
hulu, tengah, dan hilir yang mewakili Mangetan Kanal. Pada 3 bagian kanal
tersebut dibagi menjadi 9 stasiun. Stasiun 1, 2, dan 3 (yang mewakili bagian hulu
Mangetan Kanal); stasiun 3, 4, dan 5 (yang mewakili bagian tengah Mangetan
Kanal); stasiun 7, 8, dan 9 (yang mewakili bagian hilir Mangetan Kanal). Peta
lokasi stasiun dan titik sampling yang mewakili daerah hulu, tengah, dan hilir
Mangetan Kanal.
Daerah yang dipilih meliputi daerah pinggiran sungai (dekat wilayah
riparian) sebelah kanan, sebelah kiri dan bagian tengah. Pada setiap stasiun, jarak
pengambilan sampel adalah 500 meter. Dan jarak antar bagian kanal yang satu
menuju bagian yang lain adalah 5 km. Dengan panjang lokasi sampling 20 km
dari 36.5 km panjang Mangetan Kanal. Pengambilan sampel di bagian hulu,
tengah, dan hilir dengan kedalaman stasiun sampling yang berbeda, dilakukan
dengan mengambil air sungai menggunakan ember sebanyak 100 liter kemudian
disaring dengan nett plankton dengan ukuran mesh (pori) 80 m.
Setelah melakukan pengambilan sampel plankton, selanjutnya sampel
dimasukkan ke dalam botol film dan difiksasi atau diawetkan dalam larutan
formalin 4% dan diberi label. Sampel tersebut kemudian diidentifikasi lebih lanjut
di Laboratorium Biosistematika, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas
Airlangga.
Analisis sampel plankton
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif eksploratif dari
plankton. Untuk itu terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan sebagai
berikut:
1. Identifikasi spesies
Indentifikasi spesies dilakukan melalui pengamatan mikroskop dan setelah
ditemukan suatu organisme kemudian diidentifikasi menggunakan buku
39

identifikasi plankton, yaitu buku Plankton (A Guide To Their Ecology And


Monitoring For Water Quality) dan Fresh-Water Biology (Second Edition).
2. Visualisasi
Visualisasi dilakukan menggunakan kamera digital. Visualisasi ini berfungsi
untuk menggambarkan jenis plankton yang diamati sehingga memudahkan
deskripsi spesies plankton tersebut.
Analisis perhitungan data
Dari data yang telah diperoleh kemudian dilakukan analisis untuk
menggukur kelimpahan plankton, indeks keanekaragaman jenis, indeks dominansi
dan indeks kemerataan dengan persamaan sebagai berikut:
1. Kepadatan plankton
Kepadatan fitoplankton dan zooplankton dihitung berdasarkan metode sapuan
diatas gelas objek dengan satuan individu per liter (ind/L) (Wickstread 1965).

=q

fv

Keterangan: N : kepadatan plankton per liter


q : kelimpahan plankton
f : fraksi yang diambil (volume sub sampel per volume sampel) v :
volume air yang tersaring
2. Indeks keanekaragaman
Analisis indeks keanekaragaman digunakan untuk mengetahui
keanekaragaman jenis organisme akuatik. Persamaan yang digunakan untuk
menghitung indeks ini adalah persamaan Shanon-Winener seperti berikut
(Magurran 1988):

=1
.HWHUDQJDQ+,QGHNV.HDQHNDUDJDPDQ6KDQRQ-Wiener
S : jumlah spesies
Pi : ni/N
ni : jumlah individu spesies
N : jumlah total plankton
Kisaran indeks keanekaragaman + diklasifikasikan sebagai berikut
(Magurran 1988):
+
= keanekaragaman rendah
+ = keanekaragaman sedang
+!
= keanekaragaman tinggi
Menurut Wilhm & Dorris (1968) nilai indeks keanekaragaman +
dikaitkan dengan tingkat pencemaran adalah sebagai berikut:
+!
= tidak tercemar
+
= tercemar sedang
+
= tercemar berat
Kenekaragaman rendah berarti kondisi perairan labil karena perairan
tersebut hanya cocok bagi jenis tertentu. Keanekaragaman sedang atau moderat
40

menandakan organisme tersebut menyebar merata. Keanekaragaman tinggi atau


stabil menandakan jenis organisme variasinya tinggi dan didukung oleh faktor
lingkungan yang prima untuk semua jenis yang hidup dalam habitat bersangkutan
(Odum 1993).
3. ,QGHNVGRPLQDQVL ' 
Indeks dominansi simpson digunakan untuk mengetahui adanya
pendominansian jenis tertentu di perairan dengan persamaan sebagai berikut
(Odum 1993):
2 2
Keterangan: D = indeks dominansi
ni = jumlah individu spesies I (ind/l)
N = jumlah total plankton tiap titik pengambilan sampel (ind/l)
Nilai indeks dominansi berkisar antara 0-1. Nilai yang mendekati nol
menunjukan bahwa tidak ada genus dominan dalam komunitas. Sebaliknya, nilai
yang mendekati 1 meunjukan adanya genus yang dominan. Hal tersebut
menunjukan bahwa kondisi struktur komunitas dalam keadaan labil dan terjadi
tekanan ekologis (Magurran 1988).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Spesies-spesies plankton di perairan Mangetan Kanal pada bulan Maret
Dari hasil pengambilan sampel plankton di 9 stasiun penelitian dan
kemudian dilanjutkan dengan proses identifikasi sampel diketahui komposisi dan
jenis plankton yang ada di Mangetan Kanal pada bulan Maret sebagai berikut
ditemukan 26 spesies, yaitu 8 spesies dari kelas Chlorophyceae (Eudorina sp,
Spirogyra sp.1, Spirogyra sp. 2, Spirogyra sp. 3, Pediastrum simplex,
Hydrodictyon sp, Coelastrum sp, dan Stigeoclonium sp), 6 spesies dari kelas
Bacillariophyceae (Surirella sp, Tabellaria sp, Fragilaria sp, Melosira sp,
Coscinodiscus sp, dan Diatoma vulgaris), 7 spesies dari kelas Cyanophyceae
(Oscillatoria sp.1, Oscillatoria sp.2, Oscillatoria sp.3, Oscillatoria sp.4,
Spirulina sp, Lyngbya sp, dan Calothrix sp),
1 spesies dari kelas
Fragilariophyceae (Synedra ulna), 2 spesies dari kelas Ulvophyceae (Ulothrix sp
dan Cladophora sp), 1 spesies dari kelas Coleochaetophyceae (Coleochaete sp)
dan 1 spesies dari kelas Charophyceae (Closterium gracile). Jumlah fitoplankton
terbanyak terdapat di bagian hulu kanal dengan jumlah spesies terbanyak ada pada
stasiun 2 sejumlah 16 spesies. Sedangkan jumlah spesies paling sedikit terdapat di
bagian hilir kanal dengan jumlah spesies terendah ada di stasiun 9 sejumlah 4
spesies. Sedangkan komposisi dan jenis zooplankton yang ada di Mangetan Kanal
pada bulan Maret sebagai berikut ditemukan 8 spesies zooplankton, yaitu yaitu 1
spesies dari kelas Phyllopoda (fillum Arthropoda, spesies Diaphanosoma
41

brachyurum), 4 spesies dari kelas Maxillopoda (fillum Arthropoda, spesies


Bryocamptus sp, Eucyclops sp, Cyclops sp, dan Larva nauplius Copepoda), 1
spesies dari kelas Ostracoda (fillum Arthropoda, spesies Cypridina sp) dan 2
spesies dari kelas Monogononta (fillum Rotifera, spesies Keratella sp dan
Brachionus sp). Jumlah spesies zooplankton yang paling banyak ditemukan
adalah dari kelas Maxillopoda dengan jumlah 4 spesies sedangkan kelas
fitoplankton paling sedikit jumlahnya yaitu Phyllopoda dan Ostracoda masingmasing berjumlah 1 spesies. Jumlah zooplankton terbanyak terdapat di bagian
tengah kanal dengan jumlah spesies terbanyak ada pada stasiun 6 sejumlah 4
spesies. Sedangkan jumlah spesies paling sedikit terdapat di bagian hulu kanal
dengan jumlah spesies terendah ada di stasiun 3 sejumlah 1 spesies. Bahkan di
stasiun 5, 7 dan 8 tidak ditemukan spesies zooplankton.
Kepadatan fitoplankton
Dari gambar 1, rata-rata kepadatan fitoplankton tertinggi ditemukan di
bagian hulu (Stasiun 1-3), sedangkan kepadatan terendah ditemukan di bagian
hilir (Stasiun7-9). Jumlah kepadatan fitoplankton tertinggi di bagian hulu dimiliki
oleh kelas Bacillariophyceae sebanyak 183 plankton/mL. Hal ini terjadi pula pada
pada bagian tengah dan hilir, kepadatan tertinggi dimiliki oleh kelas
Bacillariophyceae masing-masing sebanyak 62 plankton/mL dan 16 plankton/mL.
Pada bagian hulu, tengah dan hilir memiliki kesamaan spesies yang tertinggi yaitu
dari kelas Bacillariohyceae dengan spesies tertinggi secara berurut sebagai berikut
Diatoma vulgaris, Tabellaria sp dan Fragilaria sp. Hal tersebut terjadi karena
banyaknya unsur hara akibat masuknya bahan organik dari luar bagian Mangetan
Kanal yang terbawa oleh air limpasan akibat sebelum pengambilan sampel di
daerah tersebut telah turun hujan sehingga mengakibatkan tingginya pertumbuhan
spesies tersebut.
Rata-rata Kepadatan Fitoplankton
200

183

rata-rata plankton/liter

150

Chlorophyceae
Bacillariophyce
ae

100
62
50

Cyanophyceae
23

16
1021

2 00

4 00

0
Hulu

Tengah
Bagian Kanal

Fragilariophyce
ae

Hilir

Gambar 1. Diagram Batang Rata-rata Kepadatan Fitoplankton di


Setiap Bagian Mangetan Kanal pada Bulan Maret
42

Indeks keanekaragaman dan dominansi fitoplankton

Indeks Keanekaragaman dan Dominansi


Fitoplankton
12
9.664

plankton/mL

10
8

6.594

5.005
keanekaragaman

4
1.927
2

1.149

1.415

dominansi

0
hulu

tengah

hilir

Gambar 2. Diagram Batang Indeks Keanekaragaman dan Dominansi


Fitoplankton di Aliran Mangetan Kanal pada Bulan Maret
,QGHNVNHDQHNDUDJDPDQ + ILWRSODQNWRQGLEDJLDQKXOXWHQJDKGDQKLOLU
Mangetan Kanal masing-masing sebesar 6.594, 5.005 dan 9.664 (Gambar 2).
Indeks keanekaragaman tertinggi terdapat di bagian hilir (Stasiun 7-9) Mangetan
Kanal yaitu sebesar 9.664 sedangkan yang terendah terdapat pada bagian tengah
(Stasiun 4-6) Mangetan Kanal yaitu sebesar 5.005. Berdasarkan nilai indeks
keanekaragaman (Gambar 4.2) dapat diketahui bahwa tiap bagian Mangetan
Kanal berada dalam tingkat pencemaran sedang. Menurut Wilhm & Dorris
(1968), suatu perairan mengalami tingkat pencemDUDQVHGDQJDSDELOD+
Nilai indeks dominansi '   ILWRSODQNWRQ  GL  DOLUDQ  0DQJHWDQ  .DQDO
menunjukan nilai yang berkisar antara 1.149-1.927 (Gambar 2). Nilai indeks
dominansi tertinggi berada di bagian hilir perairan Mangetan Kanal yaitu sebesar
1.927, sedangkan nilai indeks dominansi terendah berada di bagian hulu perairan
Mangetan Kanal yaitu sebesar 1.149. Nilai indeks dominansi ini menunjukan nilai
yang cukup tinggi. Hal ini menunjukan terjadi dominansi spesies tertentu di
perairan Mangetan Kanal yang disebabkan oleh tingginya kepadatan salah satu
spesies yang ditemukan pada bagian hilir yaitu Fragillaria sp. Apabila nilai
dominansi mendekati nilai 1 berarti dalam struktur komunitas tersebut terdapat
jenis yang mendominasi jenis lainnya, sebaliknya apabila mendekati nilai 0 berarti
di dalam strukttur komunitas tersebut tidak terdapat jenis yang secara ekstrim
mendominasi spesies lainnya (Pirzan & Pong-Masak 2008).

43

Kepadatan zooplankton
Rata-rata Kepadatan Zooplankton
3.5
3

rata-rata plankton/liter

Diaphanosoma
brachyurum
Bryocamptus sp

2.5
2

Eucyclops sp

1.5
1

11

Cyclops sp

1
Larva nauplius

0.5
0

00

000

0
Hulu

Tengah

Copepoda
Cypridina sp

Hilir

Bagian Kanal

Gambar 3. Diagram Batang Rata-rata Kepadatan Zooplankton di Setiap


Bagian Mangetan Kanal pada Bulan Maret
Dari gambar 3, kepadatan zooplankton tertinggi ditemukan di bagian hulu
(Stasiun 1-3) dan tengah (Stasiun 4-6) masing-masing sebesar 3 plankton/mL dari
7 spesies yaitu Diaphanosoma brachyurum, Bryocamptus sp, Eucyclops sp,
Cyclops sp, Larva nauplius Copepoda, Cypridina sp dan Keratella sp. Hanya saja
bagian hulu (Stasiun 1-3) ditemukan zooplankton sebanyak 3 plankton/mL dari 5
spesies yaitu Bryocamptus sp, Eucyclops sp, Cyclops sp, Larva nauplius
Copepoda, Cypridina sp dan Brachionus sp. Sedangkan kepadatan terendah
ditemukan di bagian hilir (Stasiun 7-9) sebesar 1 plankton/mL dari 2 spesies yaitu
Cyclops sp dan Larva nauplius Copepoda. Tingginya kepadatan zooplankton di
bagian hulu dan tengah karena dipengaruhi oleh kepadatan dari fitoplankton. Hal
tersebut sesuai dengan hasil pengamatan kepadatan fitoplankton yang tergolong
tinggi di bagian hulu dan tengah perairan Mangetan Kanal. Selain itu, kepadatan
zooplankton dapat juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kepadatan
fitoplankton, arus dan adanya predator (Nybakken 1988).

44

Indeks keanekaragaman dan dominansi zooplankton

Indeks Keanekaragaman dan Dominansi


Fitoplankton
2.581

2.638

2.646

plankton/mL

2.5
2.0839

2.084

2.0833

2
keanekaragaman
1.5

dominansi

1
0.5
0
hulu

tengah

hilir

Gambar 4. Diagram Batang Indeks Keanekaragaman dan Dominansi


Zooplankton di Aliran Mangetan Kanal pada Bulan Maret
,QGHNVNHDQHNDUDJDPDQ + ]RRSODQNWRQGLEDJLDQKXOXWHQJDKGDQKLOLU
Mangetan Kanal masing-masing sebesar 2.565, 2.623 dan 2.709 (Gambar 4.27).
Indeks keanekaragaman tertinggi terdapat di bagian hilir Mangetan Kanal sebesar
2.709 sedangkan yang terendah terdapat pada bagian hulu sebesar 2.565. Menurut
Maguran (1988) seluruh keanekaragaman zooplankton di bagian hulu--hilir
Mangetan Kanal yang berkisar antara 2.581--2.646 adalah termasuk sedang
+ 
1LODL LQGHNV GRPLQDQVL '  ]RRSODQNWRQ GL VHSDQMDQJ DOLUDQ 0DQJHWDQ
Kanal berkisar antara 2.0833-2.084 (Gambar 4). Nilai indeks dominansi tertinggi
ada pada bagian tengah sebesar 2.084, sedangkan nilai indeks dominansi terendah
ada pada bagian hilir sebesar 2.0833. Hal ini disebabkan oleh tingginya kepadatan
salah satu jenis zooplankton yang ditemukan pada bagian tengah yaitu Larva
nauplius Copepoda. 1LODLLQGHNV GRPLQDQVL ') zooplankton di sepanjang aliran
Mangetan Kanal berkisar antara 2.083-2.084, hal ini menunjukan terjadi
dominansi spesies tertentu di perairan tersebut. Apabila nilai dominansi mendekati
nilai 1 berarti dalam struktur komunitas tersebut terdapat jenis yang mendominasi
jenis lainnya, sebaliknya apabila mendekati nilai 0 berarti di dalam struktur
komunitas tersebut tidak terdapat jenis yang secara ekstrim mendominasi spesies
lainnya (Pirzan & Pong-Masak 2008).

45

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut:
1. Kepadatan fitoplankton tertinggi ditemukan di bagian hulu dan terendah di
bagian hilir. Kepadatan zooplankton tertinggi ditemukan di bagian hulu
dan tengah, sedangkan kepadatan terendah ditemukan di bagian hilir.
2. Indeks keanekaragaman fitoplankton di bagian hulu, tengah dan hilir
Mangetan Kanal masing-masing sebesar 6.594, 5.005 dan 9.664.
Keanekaragaman zooplankton di bagian hulu-hilir Mangetan Kanal
berkisar antara 2.581-2.646. Hal ini menunjukan suatu perairan mengalami
tingkat pencemaran sedang, karena nilai LQGHNVGRPLQDQVL+
3. Nilai indeks dominansi fitoplankton di aliran Mangetan Kanal menunjukan
nilai yang berkisar antara 1.149-1.927. Nilai indeks dominansi
zooplankton di sepanjang aliran Mangetan Kanal berkisar antara 2.08332.084.

DAFTAR PUSTAKA
Idfi, G. 2010. Studi Keseimbangan Air Pada Daerah Irigasi Delta Brantas
(Saluran Mangetan Kanal) Untuk Kebutuhan Irigasi Dan Industri.
Surabaya.
Magurran, A. E. 1988. Ecology diversity and its measurement. Princeton
University Press, New Jersey.
Nybakken, J.W. 1988. Biologi laut: Suatu pendekatan ekologi. Terj. dari Marine
biology: An ecological approach oleh Eidman, M., Koesoebiono, D.G.
Bengen, M. Hutomo & S. Sukardjo. Penerbit PT Gramedia, Jakarta: xv +
248 hlm.
Odum, E. P. 1993. Dasar-dasar ekologi. Ed. Ke-3. Terj. dari Fundamentals of
ecology oleh T. Samingan & B. Srigandono. Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta: 697 hlm.
Pirzan, A.R. & P.R. Pong-Masak. 2008. Hubungan Keragaman Fitoplankton
dengan Kualitas Air di Pulau Baulang, Kabupaten Takalara, Sulawesi
Selatan. Biodiversitas, 9(3): 217-221.
Soegianto, A. 2010. Ekologi Perairan Tawar. Airlangga University Press:
Surabaya.
Wickstead, J.H. 1965. An introduction to the study of tropical plankton.
Hutchinson Tropical Monographs, London: v + 160 hlm.
Wilhm, J.L. & T.C. Dorris. 1968. Biological parameters for water quality criteria.
BioScience, 18(6): 477-481.

46

PENGARUH KONSENTRASI SUKROSA TERHADAP BIOMASSA DAN


KADAR SAPONIN KALUS GINSENG JAWA(Talinum paniculatum Gaertn.)
PADA BERBAGAI WAKTU KULTUR
Deshinta Elsa Lina, Y. Sri Wulan Manuhara dan Hery Purnobasuki,
Program Studi S-1 Biologi, Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi,
Universitas Airlangga

ABSTRACT
The aim of this research was to determine the effect of sucrose concentration
on callus biomass and saponin levels of ginseng java (Talinum paniculatum Gaertn.)
in various culture of predetermined time. The research was conducted by inducing the
callus on MS medium given growth regulator 2,4-D 2 mg/L kinetin and 1 mg/L and
sucrose levels variation different at 15 g /L, 30 g /L (control) , 60 g /L, and 90 g /L.
Callus was grown in a culture that is different in each sucrose treatment. Given
culture time was 4 weeks, 6 weeks and 8 weeks. The parameters that were measured
include fresh weight, dry weight and the levels of saponins. Levels of saponins were
obtained from the calculation of the area of the stain on silica gel GF 254 plates. The
results of research were tested with MANOVA (Multivariate Analysis of Variance).
From the results of present study are known that the effect of sucrose concentration
on callus biomass and ginseng saponin content of Java (Talinum paniculatum
Gaertn.) at various times of culture. The concentration of sucrose is right for the
getting the best biomass is the giving sucrose 60 g/L at the culture time of 6 weeks
for fresh weight and 60 g/L at 8 weeks for dry weight. While the best saponin levels
produced at sucrose concentration of 90 g/L at 8 weeks of culture.
Keywords: Callus, culture time, saponin, sucrose, Talinum paniculatum Gaertn.

Pendahuluan
Ginseng jawa (Talinum paniculatum Gaertn.) diketahui mengandung saponin,
antioksidan, peptida, polisakarida, alkaloid dan poliasetilen. Saponin dikenal sebagai
ginsenosides yaitu komposisi utama bioaktif (Jo et al., 1995; Sticher, 1998; Palazon
et al., 2003). Ginseng jawa berkhasiat untuk mengatasi produksi air susu ibu yang
terlalu sedikit, nafsu makan kurang, bisul, dan afrodisiak (Hariana, 2008). Melihat
47

banyaknya manfaat yang diperoleh dari tanaman ginseng jawa, maka dapat
memperbesar peluang obat tradisional untuk dikembangkan dan disosialisasikan.
Beberapa cara telah dilakukan untuk perbanyakan ginseng jawa yaitu dengan biji,
stek batang maupun umbinya. Namun ketiga cara tersebut memiliki kelemahan antara
lain keberhasilan tumbuh dengan biji sangat tergantung dari faktor fisik dan faktor
biologis biji tersebut.
Dalam hal ini perlu dilakukan alternatif lain untuk melakukan perbanyakan
tanaman ginseng jawa antara lain dengan melakukan teknik kultur jaringan. Teknik
kultur jaringan memiliki prospek yang lebih baik dari pada metode perbanyakan
tanaman secara konvensional. Karena diantara jutaan klon dapat dihasilkan dalam
waktu setahun hanya dari sejumlah kecil material awal. Teknik kultur jaringan juga
menawarkan alternatif bagi spesies yang resisten terhadap sistem perbanyakan
vegetatif konvensional dengan melakukan manipulasi terhadap faktor-faktor
lingkungan dan adanya kemungkinan untuk mempercepat pertukaran bahan tanaman
di tingkat internasional dan juga teknik kultur jaringan tidak mengenal musim
(Zulkarnain, 2011).
Ginseng jawa memiliki banyak kandungan kimia. Salah satunya adalah
saponin. Informasi tentang kandungan saponin kalus tanaman ginseng jawa pada
media padat di Indonesia masih sangat jarang. Untuk itu perlu dilakukan penelitian
tentang pengaruh sukrosa terhadap biomassa dan kadar saponin kalus ginseng jawa
(Talinum paniculatum Gartn.) pada berbagai waktu kultur. Konsentrasi sukrosa yang

48

baik diharapkan dapat meningkatkan biomassa serta kadar saponin kalus tanaman
ginseng jawa (Talinum paniculatum Gaertn.).
Bahan dan Metode
Bahan-bahan kimia yang digunakan meliputi bahan penyusun media
Murashige dan Skoog (MS), serta zat pengatur tumbuh auksin (IAA, 2,4-D), sitokinin
(kinetin), spirtus, akuades steril, kloroks 10% untuk sterilisasi eksplan, kertas saring,
kertas paying, alumunium foil, tisu, kertas pH (universal indicator paper), HCl 1 N,
KOH 1 N, serta alkohol untuk sterilisasi, etanol, akuades, anisaldehid, asam asetat,
asam sulfat pekat, alkohol 70%. 2-propanol, saponin (Calbiochem), plat silica gel
GF254.
Penanaman Eksplan Pada Media Padat
Daun ginseng jawa yang digunakan sebagai eksplan adalah daun pada urutan
kedua dan tiga. Sebelum digunakan, daun dicuci dengan menggunakan deterjen lalu
dibilas dengan air mengalir. Tahap penanaman eksplan ini dilakukan di dalam LAF.
Sebelum melakukan penanaman ruang di dalam LAF harus selalu dalam keadaan
steril. Pembersihan LAF dengan menggunakan alkohol 70% yang disemprotkan pada
kain bersih lalu diusapkan pada dinding dalam LAF dan semua bagian dalam LAF.
Setelah semua bagian dalam LAF selesai dibersihkan, langkah selanjutnya adalah
mempersiapkan alat-alat seperti pinset, scalpel, gelas ukur, petridish, dan Erlenmeyer
yang telah steril dan medium MS. Kemudian semua alat serta medium dimasukkan ke
dalam LAF. Sebelum dimasukkan ke dalam LAF, usap semua alat dan botol medium

49

dengan kain bersih yang telah disemprot dengan alkohol. Setelah itu lampu UV
dalam LAF dinyalakan dan biarkan selama 15-20 menit.
Setelah 15 menit, lampu UV dimatikan dan lampu neon serta blower
dinyalakan, kemudian eksplan yang telah dicuci dengan deterjen dimasukkan ke
dalam LAF. Sebelum digunakan, eksplan disterilisasi menggunakan Clorox. Eksplan
dimasukkan ke dalam Erlenmeyer yang berisi Clorox 10% lalu kocok halus selama 710 menit. Setelah itu, ekplan diambil dan dicuci dengan menggunakan aquades steril
sebanyak tiga kali. Eksplan yang telah dicuci dengan aquades steril diambil sengan
menggunakan pinset lalu diletakkan di dalam petridish yang telah dialasi kertas
saring. Eksplan daun dipotong dengan ukuran 1 cm 2 lalu ditanam ke dalam medium
MS padat. Setelah itu, botol

yang telah ditanami eksplan ditutup dengan

menggunakan alumunium foil dan dilapisi oleh plastic wrap secara rapat. Kemudian
botol yang berisi eksplan tersebut diletakkan ke dalam ruang inkubasi yang
dilengkapi dengan pencahayaan. Eksplan diinkubasi selama waktu kultur yang
ditentukan yaitu 4, 6 dan 8 minggu.
Ekstraksi Dan Identifikasi Saponin
Kalus yang telah dipanen ditimbang berat basahnya kemudian dimasukkan ke
dalam oven untuk menghilangkan kadar air kalus pada suhu 70 C selama 5 hari
kemudian menimbang berat kering kalus. Untuk mengekstraksi saponin, kalus kering
digerus dengan mortar hingga menjadi serbuk halus. Serbuk halus kalus sebanyak
0,05 gram lalu dilarutkan dengan etanol. Setelah itu dilakukan dilakukan pemanasan

50

selama 45 menit di dalam waterbath. Lalu didiamkan selama 24 jam. Hasil dari
pemanasan yang telah didiamkan selama 24 jam kemudian disaring lalu diuapkan
sampai volumenya menyusut hingga 1 mL.
Plat silica gel GF254 disiapkan dengan ukuran panjang 10 cm dan lebar 8 cm.
ekstrak yang telah diuapkan ditotolkan berdasarkan urutan konsentrasi sukrosa dan
waktu dengan menggunakan mikro pipet sebanyak 5 L. Sebagai larutan pembanding
digunakan saponin standart (Calbiochem) 6000 ppm. Lalu pelat dimasukkan ke
dalam chamber/toples yang berisi eluen dengan komposisi larutan 2-propanol:air =
14:3. Plat dibiarkan terelusi hingga eluen merambat sampai pada tanda garis tepi atas
plat kemudian dikeluarkan dan dikering anginkan. Setelah mengering, plat disemprot
dengan menggunakan larutan yang terdiri atas anisaldehid 0,5 mL, asam asetat 10
mL, asam sulfat pekat 5 mL dan etanol 85 mL dan selanjutnya dipanaskan dalam
oven dengan suhu 100C selama 7-10 menit. Hasilnya nampak pada pelat berupa
noda berwarna kehitaman.
Analisis semi kuantitatif kadar saponin dengan mengukur luas noda saponin
pada plat silica gel GF254. Pengaruh periode subkultur terhadap luas noda saponin
dianalisis secara deskriptif (Ikhtimami, 2012).
Hasil dan Pembahasan
Data rerata berat segar dan berat kering kalus ginseng jawa pada berbagai
konsentrasi sukrosa pada waktu kultur yang berbeda dapat dilihat pada tabel 1.1.

51

Tabel 1.1 Data rerata berat segar dan berat kering kalus pada berbagai konsentrasi
sukrosa
Konsentrasi
Sukrosa (g/L)

Umur kalus
(minggu)
4
15
6
8
4
30
6
8
4
60
6
8
4
90
6
8
Keterangan: Angka yang diikuti huruf
nyata menurut uji Duncan

Rata-rata Berat
Rata-rata Berat
Segar (Gram)
Kering (Gram)
0,0191 0,0021a
0,2718 0,0423a
0,2288 0,0279ab
0,0081 0,0001bc
ab
0,2592 0,0231
0,0109 0,0006ab
0,4695 0,0591ab
0,0623 0,0876ab
b
0,7189 0,1442
0,0291 0,0071bc
b
0,8589 0,2530
0,0340 0,0026b
0,2785 0,1078ab
0,0179 0,0041ac
b
0,8714 0,6950
0,0489 0,0068c
0,8392 0,0759b
0,0624 0,0044b
a
0,1708 0,1015
0,0158 0,0029ab
0,3522 0,1130ab
0,0485 0,0173bc
ab
0,2057 0,0663
0,0239 0,0006b
yang berbeda menunjukkan perbedaan yang

Dari data di atas dapat dilihat bahwa berat segar tertinggi diperoleh dari
perlakuan sukrosa 60 g/L yang dikultur pada waktu 6 minggu yaitu 0,8714 gram,
sedangkan berat kering tertinggi diperoleh dari perlakuan sukrosa 60 g/L dikultur
pada waktu 8 minggu yaitu 0,0624 gram.
Pada perlakuan sukrosa 60 dan 90 g/L biomassa yang didapat semakin
menurun. Hal ini disebabkan oleh karena penambahan sukrosa ke dalam medium
lebih dari 50 g/L akan mengakibatkan penurunan berat segar. Selain itu, konsentrasi
medium menjadi lebih pekat dan menghambat penyerapan air maupun garam mineral
yang ada sehingga menyebabkan berat segar kalus menjadi menurun. Peristiwa
penghambatan penyerapan air tersebut lebih tampak pada penambahan sukrosa lebih
dari 50 g/L.
52

Gambar 1.1 Hasil Kromatografi lapis tipis ekstrak etanol kalus tanaman ginseng
jawa (Talinum paniculatum Gaertn.) pada plat silica gel GF254 menggunakan eluen 2propanol/air : 14/3 dan disemprot dengan anisaldehide-asam sulfat yang diikuti
dengan pemanasan. Keterengan. A: Saponin standart, B: sukrosa 15 g/L, C: sukrosa
30 g/L, D:sukrosa 60 g/L, E: 90g/L, 1: 4 minggu, 2: 6 minggu, 3: 8 minggu.

Dari noda yang dihasilkan tersebut, maka didapat kadar saponin dengan
menghitung luas noda. Dari hasil perhitungan luas noda, terbukti bahwa semakin
besar konsentrasi sukrosa yang diberikan maka semakin besar pula kadar saponin
yang dihasilkan. Sehingga semakin besar konsentrasi sukrosa yang diberikan, maka
semakin pekat warna noda yang dihasilkan.
Variasi kadar sukrosa menunjukkan pengaruh produksi metabolit sekunder
dalam kultur kalus. Konsentrasi sukrosa 2,5%(w/v) dan 7,5% (w/v) dalam medium
kultur menyebabkan terjadinya perbedaan kadar asam rosmarinat pada masingmasing konsentrasi sukrosa yaitu 0,8 g/L dan 33 g/L (Misawa, 1985). Menurut
penelitian Manuhara (1994) kadar sukrosa 40 dan 50 g/L dapat menginduksi
53

terbentuknya alkaloid vinkristina dalam kalus Catharanthus roseus, sedangkan kadar


sukrosa 20 dan 30 g/L tidak mampu menginduksi terbentuknya alkaloid vinkristina.
Dalam penelitian ini pun menunjukkan bahwa konsentrasi sukrosa mampu
mempengaruhi kadar saponin. Kadar saponin tertinggi didapat dari perlakuan sukrosa
90 g/L yaitu 76 mm2 luas noda saponin sedangkan kadar saponin terendah didapat
dari perlakuan sukrosa 15 g/L dan 30 g/L yaitu 12,5 mm 2 luas noda saponin. Hal ini
disebabkan pemberian sukrosa pada konsentrasi rendah lebih banyak diserap sel -sel
kalus untuk pertumbuhan daripada untuk sintesis saponin, sedangkan pada
konsentrasi yang tinggi diserap sel-sel kalus untuk pertumbuhan dan juga untuk
membentuk saponin. Perhitungan kadar saponin ini dapat dilihat dari luasan noda
yang dihasilkan pada plat silica gel GF254 (Gambar 1.1). Dari hasil perhitungan luas
noda didapatkan hasil yang membuktikan bahwa konsentrasi

sukrosa dapat

mempengaruhi kadar saponin kalus.


Kesimpulan
Konsentrasi sukrosa dapat mempengaruhi biomassa dan kadar saponin kalus
tanaman ginseng jawa (Talinum paniculatum Gaertn.) berbagai waktu kultur.
Konsentrasi sukrosa yang tepat terhadap biomassa dan kadar saponin kalus ginseng
jawa (Talinum paniculatum Gaertn.) berbagai waktu kultur yaitu pada konsentrasi
sukrosa 60 g/L dengan waktu kultur 6 minggu untuk berat segar, pada konsentrasi
sukrosa 60 g/L dengan waktu kultur 8 minggu untuk berat kering dan pada
konsentrasi sukrosa 90 g/L dengan waktu kultur 6 minggu untuk kadar saponin.

54

Daftar Pustaka
Hariana, A,. 2008. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya Seri 3. Penebar Swadaya:
Jakarta.
Jo, J. S, Han, Y, N., Oh, H. I., Park, H., Sung, H. S. and Park, J. I,. 1995, Korean
ginseng has a characteristic shape. In understanding of Korean ginseng,
Hanrimwon Publishing Co, Seoul, Korean.
Ikhtimami, A, 2012, Pengaruh periode subkultur terhadap kadar saponin akar rambut
tanaman ginseng jawa (Talinum paniculatum Gaertn.), Skripsi, Universitas
Airlangga: Surabaya.
Manuhara, Y. S. W, 1994. Kandungan Alkaloid Vinkristina Kalus Daun
Catharanthus roseus (L.) G. Don. Pada Berbagai Komposisi Media. Tesis.
Program pascasarjana. Universitas Gajah Mada: Yogyakarta.
Misawa, M. 1994. Plant tissue culture: an alternative for production of usefull
metabolite. FAO Agriculture Buletin No. 108. Roma, Italy: Food and
Agriculture Organization of United Nations.
Zulkarnain. 2011, Kultur Jaringan Tanaman, Bumi Aksara: Jakarta.

55

PENGARUH INTENSITAS CAHAYA TERHADAP BIOMASSA DAN


KADAR SAPONIN KALUS GINSENG JAWA (Talinum paniculatum Gaertn.)
PADA BERBAGAI WAKTU KULTUR

Afifatul Alwiyah, Y. Sri Wulan Manuhara, dan Edy Setiti Wida Utami
Program Studi S-1 Biologi, Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi,
Universitas Airlangga, Surabaya

Abstract
The aims of this research was to study the effects of light intensity on callus
biomass and saponin content of ginseng jawa (Talinum paniculatum Gaertn.).
Callus induced from leaf explants on solid Murashige and Skoog (MS) medium
supplemented by 2 mg/L of 2,4-D and 1 mg/L of kinetin. Callus induced by
treatment of combination between light intensities 1000, 2000, 4000, 6000 lux,
also dark condition and culture period 4, 6, and 8 weeks. Each treatment of
combination was repeated 6 times. Retrieval of data were callus biomass (fresh
and dry weight) and saponin content. The data of biomass were analyzed by
using manova test (significance of 5%). Saponin content was analyzed semiquantity using Thin Layer Chromatography (TLC). The result showed that the
highest average of dry weight (as parameter) obtained at treatment combination
4000 lux light intensity and 8 weeks culture period was 0,0699 gram. Meanwhile
the highest saponin content obtained at 4000 lux light intensity and 6 weeks
culture period was 58,5 mm 2/0,01 gram dry weight of callus and color intensity
+4. With the results that light intensities influence on callus biomass and saponin
content of ginseng jawa at different culture period.
Keywords: biomass, callus, culture period, light intensity, saponin content,
Talinum paniculatum Gaertn

Pendahuluan
Ginseng jawa merupakan tanaman herba tahunan yang digunakan sebagai
bahan baku obat tradisional atau jamu (Hutapea, 1991). Tumbuhan ini sering
digunakan sebagai pengganti ginseng korea (Panax ginseng) karena harganya
relatif lebih murah, mudah diperoleh, dan mudah dibudidayakan.

56
1

Kandungan kimia paling penting dan dominan dalam tanaman ginseng


jawa adalah saponin (Cahyo, 2011). Saponin merupakan glikosida yang terdapat
pada berbagai jenis tanaman (Nio, 1989). Glikosida terdiri dari gugus gula yang
berikatan dengan aglikon atau sapogenin (Prihatman, 2001). Saponin memiliki
manfaat antara lain menghambat pertumbuhan sel kanker, mengikat kolesterol,
sebagai antibiotik, anti inflamasi, dan memperbaiki fungsi hati (Abe, 1980).
Budidaya tanaman ginseng jawa dapat dilakukan dengan cara generatif
(biji), vegetatif (stek batang), dan teknik kultur jaringan

(Hendaryono &

Wijayani, 1994). Namun penggunaan kultur jaringan dianggap lebih


menguntungkan dibandingkan produksi pada tanaman utuh, karena dalam kultur
jaringan pasokan zat hara yang teratur menjamin pengaturan proses metabolisme
sehingga dapat diperoleh hasil yang maksimal (Kurz dan Constabel, 1991).
Cahaya

merupakan

faktor

penting

yang

dapat

mempengaruhi

pembentukan metabolit sekunder. Cahaya mempengaruhi morfogenesis dan


akumulasi flavonoid pada kalus tanaman teh (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze).
Hal yang sama juga terjadi pada kultur kalus Prunus cerasus L. untuk produksi
antosianin (Blando et al., 2005). Waktu kultur juga dapat mempengaruhi
pertumbuhan dan produksi metabolit sekunder. Waktu kultur berkaitan dengan
fase pertumbuhan. Dari fase pertumbuhan sangat penting diketahui pada fase apa
metabolit sekunder mulai dihasilkan. Produksi metabolit sekunder pada
umumnya berjalan sangat lambat bahkan belum dimulai pada fase pertumbuhan.
Setelah fase pertumbuhan kalus berakhir maka produksi metabolit sekunder
segera dimulai (Manuhara, 2014).

57
2

Melalui kultur jaringan dan pemberian intensitas cahaya serta waktu


kultur yang berbeda dalam penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai
alternatif usaha peningkatan produksi saponin sebagai bahan baku obat dengan
cara menginduksi pertumbuhan kalus yang menghasilkan metabolit sekunder
berkadar tinggi dibandingkan pada produksi tanaman utuh. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas cahaya terhadap biomassa dan
kadar saponin kultur kalus ginseng jawa pada waktu kultur yang berbeda.

Bahan dan Metode


Bahan hayati yang digunakan adalah daun ginseng jawa

(Talinum

paniculatum Gaertn.) sebagai eksplan dan kalus dari hasil induksi eksplan daun.
Bahan kimia yang digunakan adalah bahan penyusun media Murashige dan
Skoog yang mengandung bahan-bahan anorganik dan zat-zat organik meliputi
stok makronutrien (NH4NO3, KNO3, CaCl2.7H2O, MgSO4.7H2O, dan KH2PO4),
stok mikronutrien, stok vitamin, stok zat besi, myo-inositol, dan sukrosa. Stok zat
pengatur tumbuh 2,4-D dan kinetin, akuades, larutan HCl, larutan KOH, chlorox
10%, alkohol 70%, saponin standar, etanol 96%, anisaldehid (Merck), asam
asetat glacial (Merck), asam sulfat pekat, dan 2-propanol (Merck).

Induksi Kalus dari Eksplan Daun


Eksplan daun tanaman ginseng jawa (Talinum paniculatum Gaertn.)
dilakukan sterilisasi bertingkat dengan menggunakan larutan deterjen dan larutan
klorox 10% kemudian dibilas menggunakan akuades sebanyak tiga kali.

58
3

Kemudian daun dipotong 1x1 cm dan ditanam dalam media MS padat


ditambah zat pengatur tumbuh auksin 2,4-D 2 ppm dan kinetin 1 ppm.
Eksplan dalam botol kultur kemudian diinkubasi selama waktu kultur 4, 6,
dan 8 minggu untuk pertumbuhan kalus dan diletakkan masing-masing di
bawah naungan cahaya dari lampu duduk yang telah diukur terlebih dahulu
intensitasnya yaitu 1000, 2000, 4000, dan 6000 lux, serta beberapa botol dilapisi
dengan alumunium foil untuk perlakuan kontrol gelap (0 lux).

Pengukuran Biomassa
Pengamatan berat segar dilakukan pada saat masing-masing kalus dipanen
setiap 4, 6, dan 8 minggu, dengan cara kalus dipisahkan dari daun kemudian
ditimbang menggunakan timbangan analitik. Setelah itu kalus disimpan dalam
oven dengan suhu 50C selama 5 hari, lalu ditimbang kembali untuk
mendapatkan berat kering kalus tersebut.

Ekstraksi Saponin
Untuk melakukan ekstraksi saponin, kalus yang sudah kering tadi digerus
dengan mortar untuk mendapatkan tekstur bubuk. Diambil 0,01 gram bubuk
kalus kering dan ditambahkan dengan 10 mL etanol 96% sebagai pelarut,
kemudian dipanaskan dalam waterbath pada suhu 80C selama 45 menit.
Selanjutnya didiamkan selama 24 jam pada suhu ruang. Setelah 24 jam, ekstrak
kalus disaring dan dipekatkan dalam waterbath pada suhu 80C hingga
volumenya menjadi 1 mL.

59
4

Pengukuran Kadar Saponin


Uji kadar saponin dengan metode Kromatografi Lapis Tipis

(KLT)

dengan menotolkan sampel ekstrak kalus menggunakan mikropipet pada pelat


silica gel GF245 VHEDQ\DN  / GDQ VHEDJDL ODUXWDQ SHPEDQGLQJ GLJXQDNDQ
larutan saponin standar. Kemudian diamati fase gerak ekstrak kalus pada pelat di
dalam wadah yang berisi larutan eluen dengan perbandingan komposisi larutan 2propanol : air = 14 : 3. Setelah fase gerak selesai, dilakukan penyemprotan pada
permukaan pelat silica gel GF245 menggunakan larutan anisaldehid-asam sulfat.
Selanjutnya pelat dimasukkan dalam oven 100C selama 8-10 menit. Noda
saponin yang terbentuk pada pelat berwarna hijau kehitaman kemudian dihitung
luasnya.

Analisis Data
Data yang diperoleh berupa berat segar, berat kering, dan kadar saponin
kalus. Data berat kering akar diuji dengan menggunakan MANOVA
(Multivariate Analysis of Variance) dengan taraf signifikansi 5%. Analisis semi
kuantitatif dilakukan untuk kadar saponin dengan mengukur luas dan mengamati
intensitas warna noda saponin pada pelat silica gel GF254. Noda saponin yang
terbentuk dihitung luasnya/0,01 g berat kering sampel.

Hasil dan Pembahasan


Data rata-rata berat segar dan kering kalus ginseng jawa pada berbagai
intensitas cahaya dan waktu kultur dapat dilihat pada tabel 1.1 dan 1.2.

60
5

Tabel 1.1. Rata-rata berat segar kalus (gram) pada berbagai intensitas cahaya
(lux) dan waktu kultur (minggu)
Waktu Kultur (minggu)
Intensitas
Cahaya (lux)
4
6
8
a
ab
Tanpa cahaya
0,1550 0,0526
0,7001 0,3003
1,3366 0,2261ac
ba
b
1000
0,4335 0,0667
1,8384 0,2955
1,4956 0,2368bc
2000
0,7261 0,1913bca 1,5821 0,2596bcb 2,2646 0,3955bcc
4000
0,9598 0,2936ca 1,6354 0,7453cb
2,3171 0,8347c
6000
1,0832 0,2538ca 1,8385 0,7021cb
2,1701 0,4919c
Tabel 1.2. Rata-rata berat kering kalus (gram) pada berbagai intensitas cahaya
(lux) dan waktu kultur (minggu)
Waktu Kultur (minggu)
Intensitas
Cahaya (lux)
4
6
8
a
ac
Tanpa cahaya
0,0118 0,0025
0,0344 0,0050
0,0367 0,0118ab
1000
0,0249 0,0040ba 0,0645 0,0252bc
0,0392 0,0074b
ba
bc
2000
0,0267 0,0075
0,0468 0,0038
0,0606 0,0084b
4000
0,0295 0,0061ca
0,0576 0,0321c
0,0699 0,0302cb
6000
0,0352 0,0087ba 0,0667 0,0156bc
0,0696 0,0089b

Dari tabel 1.2 diketahui bahwa rata-rata berat kering paling tinggi terdapat
pada kombinasi perlakuan intensitas cahaya 4000 lux dan waktu kultur 8 minggu.
Hal ini menunjukkan bahwa akumulasi energi dari proses fotosintesis dengan
pemberian cahaya 4000 lux dan nutrisi yang terdapat di dalam media mampu
mendukung pertumbuhan optimal kalus tanaman ginseng jawa hingga 8 minggu,
sehingga kombinasi perlakuan ini berpengaruh paling tinggi dibanding kombinasi
perlakuan yang lain. Sebagaimana menurut Manuhara (2014), intensitas cahaya
yang baik untuk pertumbuhan kultur adalah 1000-4000 lux.
Pertambahan ukuran maupun berat kering tanaman mencerminkan
bertambahnya protoplasma, yang terjadi karena bertambahnya ukuran dan jumlah
sel (Khristyana et al., 2005). Kecepatan sel membelah diri dapat dipengaruhi oleh
adanya jenis dan konsentrasi auksin tertentu tergantung pada tanamannya, juga

61
6

faktor-faktor dari luar lainnya seperti intensitas cahaya dan temperatur


(Trimulyono dkk., 2003). Menurut Lakitan (1996), berat kering menggambarkan
akumulasi

senyawa

organik

yang

berhasil

disintesis

tumbuhan

dari

senyawasenyawa anorganik terutama air dan CO2. Pertambahan berat kering


tumbuhan berasal dari unsur hara yang telah terserap. Unsur hara ini digunakan
dalam proses sintesis senyawa organik.

Gambar 1.1. Hasil kromatografi lapis tipis ekstrak etanol kalus ginseng jawa pada
pelat KLT: (S) Saponin standar, (A) Kontrol gelap waktu kultur 4 minggu, (B)
Kontrol gelap waktu kultur 6 minggu, (C) Kontrol gelap waktu kultur 8 minggu,
(D) Intensitas cahaya 1000 lux waktu kultur 4 minggu, (E) Intensitas cahaya 1000
lux waktu kultur 6 minggu, (F) Intensitas cahaya 1000 lux waktu kultur 8
minggu, (G) Intensitas cahaya 2000 lux waktu kultur 4 minggu, (H) Intensitas
cahaya 2000 lux waktu kultur 6 minggu, (I) Intensitas cahaya 2000 lux waktu
kultur 8 minggu, (J) Intensitas cahaya 4000 lux waktu kultur 4 minggu, (K)
Intensitas cahaya 4000 lux waktu kultur 6 minggu, (L) Intensitas cahaya 4000 lux
waktu kultur 8 minggu, (M) Intensitas cahaya 6000 lux waktu kultur 4 minggu,
(N) Intensitas cahaya 6000 lux waktu kultur 6 minggu, (O) Intensitas cahaya
6000 lux waktu kultur 8 minggu.
Kadar saponin dalam ekstrak etanol kalus ginseng jawa dideteksi dengan
membandingkan nilai Rf (retardation factor) noda dengan larutan saponin

62
7

standard setelah mendapat perlakuan penampak noda anisaldehide-asam sulfat.


Nilai Rf diperoleh dari perbandingan antara jarak titik pusat noda dari titik awal
dengan jarak garis depan dari titik awal (Stahl, 1985). Menurut Yachya (2012)
kedua zat dikatakan sama bila perbandingan fingerprint sampel dengan sebuah
standar obat, jumlah, sekuen, posisi, dan warna dari zona identik atau sama.
Tabel 1.3. Kadar saponin kalus (mm2/0,01 gr) pada berbagai intensitas cahaya
(lux) dan waktu kultur (minggu)
Intensitas
Cahaya (lux)

Gelap
(kontrol)
1000
2000
2000
4000

6000

Luas Noda
Waktu
Saponin
Kultur
(mm2/0,01 gr)
(minggu)
Saponin standar 1
4
58,5
6
44
8
22,75
4
51
6
53
8
13,75
4
15
6
55
Saponin standar 2
8
22
4
16,5
6
58,5
8
48,75
4
11
6
54
8
6

Intensitas
Warna
+3
+3
+2
+4
+3
+2
+2
+3
+2
+1
+4
+2
+1
+4
+1

Nilai Rf
0,70
0,69
0,69
0,69
0,69
0,69
0,69
0,69
0,69
0,65
0,64
0,64
0,63
0,63
0,62
0,64
0,62

Dari tabel 1.3 diketahui bahwa luas noda saponin paling tinggi dihasilkan
dari kombinasi perlakuan intensitas cahaya 4000 lux dan waktu kultur 6 minggu
yaitu 58,5 mm serta memiliki intensitas warna paling jelas (+4). Sementara kadar
saponin terendah diperoleh dari kombinasi perlakuan intensitas cahaya 6000 lux
dan waktu kultur 8 minggu yakni 6 mm dan intensitas warnanya pun sangat

63
8

samar (+1). Hal ini menunjukkan bahwa kadar saponin yang terdapat pada kalus
tanaman ginseng jawa tidak tergantung laju pertumbuhan kalus.
Biomassa paling tinggi didapatkan dari perlakuan intensitas cahaya 4000
lux pada waktu kultur 8 minggu dan kadar saponin paling tinggi didapatkan dari
perlakuan intensitas cahaya 4000 lux juga tapi pada waktu kultur 6 minggu. Hal ini
terjadi karena pada kombinasi perlakuan intensitas cahaya 4000 lux pada waktu
kultur 8 minggu, kalus masih mampu tumbuh hingga mencapai fase
eksponensial, dimana terjadi pertumbuhan yang optimal, sedangkan pada kalus
yang diberi kombinasi perlakuan intensitas cahaya 4000 lux pada waktu kultur 6
minggu laju pertumbuhan kalus telah mencapai fase stasioner dimana fase
pertumbuhan akan berakhir dan produksi saponin telah dimulai.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Rahmawati (1999), bahwa sebelum
inisiasi kultur jaringan terjadi tiga fase yaitu fase lag (fase penyesuaian atau
adaptasi), fase eksponensial (fase pembelahan sel dan kecepatan pertumbuhan sel
mencapai maksimum), fase stasioner (fase dimana tidak ada lagi pertumbuhan).
Pada fase stasioner pertumbuhan sel terhenti dan selama inilah terjadi produksi
metabolit sekunder. Pada fase pertumbuhan (eksponensial) biosintesis metabolit
sekunder sangat lambat bahkan seringkali belum dimulai. Menurut Bhojwani dan
Razdan (1996), produksi metabolit sekunder umumnya terjadi pada akhir fase
stasioner ketika persediaan nutrisi pada media menipis. Wattimena et al. (1992)
menambahkan bahwa pigmen antosianin maksimum diproduksi pada saat fase
stasioner.

64
9

Kesimpulan
Intensitas cahaya berpengaruh meningkatkan biomassa dan kadar saponin
kalus tanaman ginseng jawa pada waktu kultur tertentu. Intensitas cahaya terbaik
untuk mendapatkan biomassa paling tinggi pada kalus adalah intensitas cahaya
4000 lux pada waktu kultur 8 minggu yaitu 2,3172 gram untuk berat segar dan
0,0699 gram untuk berat kering. Untuk mendapatkan kadar saponin paling tinggi
kalus adalah pada intensitas cahaya 4000 lux dan waktu kultur 6 minggu yaitu
58,5 mm/0,01 gram berat kering dengan intensitas warna hijau gelap yang sangat
jelas (+4).

Daftar Pustaka
Abe, H., 1980, Pharmacological actions of saikosaponins isolated from
Bupleurum falcatum. 1. Effects of saikosaponin on liver function, Planta
Medica 40: 366-372
Bhojwani, S. S. and M. K. Razdan, 1996, Plant Tissue Culture: Theory and
Practice, a Revised Edition, Elsevier
Blando, F., A. P. Scardino, L. De Bellis, I. Nicoletti, and G. Giovinazzo, 2005,
Characterization of in vitro anthocyanin-producing sour cherry (Prunus
cerasus L.) callus culture, Food Research Internat 38: 937-942
Cahyo, A. N., 2011, Yang Serba Menakjubkan dari Ginseng, Buku Biru,
Yogyakarta
Hendaryono, D. P. S., dan A. Wijayani, 1994, Teknik Kultur Jaringan,
Pengenalan, dan Petunjuk Perbanyakan Tanaman secara Vegetatif
Modern, Kanisius, Yogyakarta
Hutapea, J. R., 1991, Inventaris Tanaman Obat Indonesia II, Depkes RI, Jakarta
Khristiyana, L., E. Anggarwulan., dan Marsusi., 2005, Pertumbuhan, kadar
saponin, dan nitrogen jaringan tanaman daun sendok (Plantago major L.)
pada pemberian asam giberelat (GA 3), Jurnal Biofarmasi 3 (1): 16932242
65
10

Kurz, W. G. W., dan F. Constabel, 1991, Produksi dan Isolasi Metabolit


Sekunder. Dalam Wetter, L.R. dan F. Constabel (eds.). Metode Kultur
Jaringan Tanaman. ITB Press, Bandung
Lakitan, B., 1996, Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman, Raja
Grafindo Persada, Jakarta
Manuhara, Y. S. W., 2014, Kapita Selekta Kultur Jaringan Tumbuhan, Airlangga
University Press, Surabaya
Nio, O. K., 1989, Zat-zat toksik yang secara alamiah ada pada bahan makanan
nabati, Cermin Dunia Kedokteran 58: 24-30
Prihatman, K., 2001, Saponin untuk Pembasmi Hama Udang, Laporan Hasil
Penelitian, Pusat Penelitian Perkebunan Gambung, Bandung
Rahmawati, E. S., 1999, Variasi Kadar Kalium Dihidrogenafosfat dalam Medium
MS terhadap Sintesis Minyak Atsiri pada Tunas Hasil Kultur in vitro
Daun Nilam Aceh (Pogostemon cablin), Skripsi, Fakultas Biologi UGM,
Yogyakarta
Stahl, E., 1985, Analisis Obat secara Kromatografi dan Mikroskopi, ITB,
Bandung
Trimulyono, G., Solichatun, dan S. D. Marliana, 2003, Pertumbuhan kalus dan
kandungan minyak atsiri nilam (Pogostemon cablin (Blanco) Bth.)
GHQJDQSHUODNXDQDVDP-naftalen asetat
(NAA) dan kinetin, Jurnal
Biofarmasi 2 (1): 9-14
Wattimena, G. A., 1992, Bioteknologi Tanaman, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan IPB, Bogor
Yachya, A., 2012, Pengaruh Laju Aerasi dan Kerapatan Inokulum terhadap
Biomassaa dan Kandungan Saponin Kultur Akar Rambut Ginseng Jawa
(Talinum paniculatum Gaertn) dalam Bioreaktor Tipe Balon, Tesis,
Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas
Airlangga, Surabaya

66
11

STUDI KELIMPAHAN DAN JENIS MAKROBENTHOS DI SUNGAI


CANGAR DESA SUMBER BRANTAS KOTA BATU

Hendra Febbyanto*, Bambang Irawan, Noer Moehammadi, Thin Soedarti

Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga,


Kampus C Mulyorejo Surabaya (60115)

*e-mail: Hendra.febbyanto@gmail.com

ABSTRACT

This study aims to determine the type macrobenthos , makrobenthos abundance ,


and diversity macrobenthos Cangar River. This is a descriptive study. Samples
were taken at 35 stations on the River Cangar using Surber net. Samples were
analyzed to determine the species name, character, abundance, species diversity
value, dominance Cangar River. Macrobenthos species were obtained from the
study site as much as 5 species, namely: Melanoides tuberculata, Melanoides
rustica, Sulcospira testudinaria, Thiara scabra, Pomacea canaliculata. Diversity
of species at each station varies from 0.11 to 1.09. Concluded: Species diversity is
low. Macrobenthos species in the Cangar River obtained five species , the highest
diversity tends to station 32 .

Keywords : Abundance, Diversity, Macrobenthos, Cangar River, Batu City.

PENDAHULUAN
Indonesia memiliki wilayah perairan lebih luas dari pada wilayah daratan.
Dilihat dari segi ekosistem perairan, dapat dibedakannya menjadi air tawar, air
laut, dan air payau seperti yang terdapat pada muara sungai yang besar. Dari
ketiga ekosistem perairan tersebut, air laut dan air payau, merupakan bagian yang
tersebar, yaitu lebih dari 97%. Sisanya adalah air tawar dengan jumlah dan
kondisi yang terbatas, tetapi sangat dibutuhkan oleh manusia dan banyak
organisme hidup lainnya untuk keperluan hidup (Barus, 2004).
67

Benthos adalah organisme yang mendiami dasar perairan dan tinggal di


dalam atau melekat pada sedimen dasar perairan. Berdasarkan ukuran tubuhnya
benthos dapat dibagi atas makrobenthos yaitu kelompok benthos yang berukuran
>2 mm, meiobenthos yaitu kelompok benthos yang berukuran 0,2-2 mm, dan
mikrobenthos yaitu kelompok benthos yang berukuran <0,2 mm (Barus, 2004).
Makrobenthos merupakan organisme yang melekat atau beristirahat pada
dasar atau hidup pada sedimen dasar (Hariyanto et al., 2008). Perairan yang
tercemar akan mempengaruhi kelangsungan hidup makrobenthos karena
makrobenthos merupakan organisme air yang mudah terpengaruh oleh adanya
bahan pencemar, baik pencemar fisik maupun kimia.
Kelimpahan makrobenthos juga mempengaruhi suatu perairan karena pola
kemerataan kelimpahan makrobenthos di setiap stasiun sungai berbeda-beda.
Suatu perairan yang sehat atau belum tercemar akan menunjukkan jumlah
individu yang seimbang dari hampir semua spesies yang ada. Sebaliknya suatu
perairan tercemar, penyebaran jumlah individu tidak merata dan cenderung ada
spesies yang mendominasi (Odum, 1994).
Penelitian tentang makrobenthos pada sumber air panas di Indonesia,
khususnya di Jawa Timur masih kurang. Penelitian Novrita (1995 dalam Elvina et
al., 2012) yang dilakukan pada aliran air panas Bukik Gadang Koto Anau Solok,
Sumatera Barat dengan suhu 30-47oC terdapat 22 genus benthos yang tergolong
dalam 6 kelas yaitu Arachnida, Crustacea, Gastropoda, Hirudinae, Insecta, dan
Oligochaeta.
METODE PENELITIAN
BAHAN, LOKASI DAN CARA KERJA
Bahan penelitian berupa makrobenthos yang diambil di Sungai Cangar pada
35 stasiun sampling dengan menggunakan surber net. Peta lokasi
pengambilan sampel disajikan pada Lampiran 2 dan peta lokasi pengambilan
sampling disajikan pada Lampiran 3. Sampel diidentifikasikan, dianalisis
kelimpahan, dominansi, dan nilai keanekaragaman.
Untuk mengetahui kelimpahan dengan cara mengkonversi jumlah individu
yang didapatkan dibagi dengan luas cakupan surber-net yaitu sebesar 0,1125
pada setiap stasiun. Untuk mendapatkan jumlah individu rata-rata/plot digunakan
rumus :
jumlah individu dalam seluruh plot
jumlah plot

= A.

Setelah mendapatkan jumlah individu rata-rata/plot kemudian dihitung kerapatan


individu/m2 yaitu dengan cara

1
luas

68

x A = individu/m2.

Indeks dominansi digunakan untuk memperoleh informasi mengenai jenis


makrobenthos yang mendominasi pada suatu komunitas pada tiap habitat, indeks
dominansi yang dikemukakan oleh (Simpson, 1949 dalam Odum, 1971) yaitu :
=

100%

Keterangan :
Di= Indeks Dominansi
ni= Jumlah individu tiap spesies
N= Total individu semua spesies
Kriteria dominansi ditentukan sebagai berikut (Torgensen dan Baxter, 2006) :
Dominan
jika Di > 50%
Subdominan (Umum)
jika Di 10-50%
Tidak dominan (Jarang)
jika Di < 10%
Untuk mengukur indeks keanekaragaman makrobenthos menggunakan
rumus keanekaragaman Shannon-Winner berdasarkan (Romimohtarto dan
Juwana, 2001) :
H = - Pi Ln Pi
Keterangan :
= Indeks Diversitas Shannon-Winner
H
Pi
= Perbandingan jumlah individu suatu jenis dengan keseluruhan jenis
(ni/N)
Ln
= Logaritma natural
N
= Total individu semua spesies
ni
= Jumlah individu spesies ke-i
Indeks keanekaragaman yang didapatkan kemudian dimasukkan dalam
kriteria keanekaragaman (Lee et al., 1978 dalam Arisandi 1999) :
H< 1,0
= Keanekaragaman sangat rendah.

= Keanekaragaman rendah.
1,0 < H < 1,5
= Keanekaragaman sedang.
1,6 < H < 2,0
H> 2,0
= Keanekaragaman tinggi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Sungai Cangar
Kecamatan Bumiaji Kota Batu ditemukan makrobenthos kelas Gastropoda. Hasil
gastropoda yang ditemukan pada saat penelitian terdapat 5 spesies yaitu :
Melanoides tuberculata, Melanoides rustica, Sulcospira testudinaria, Thiara
scabra, Pomacea canaliculata. Tabel kelimpahan, Dominansi, dan
Keanekaragaman makrobenthos dapat di lihat pada Lampiran 2.
Berdasarkan penelitian, menunjukkan bahwa kelimpahan tertinggi berada
pada stasiun 21 dengan nilai 1991 individu/m2 dan terendah pada stasiun 33 dan
35 dengan nilai 9 individu/m 2. Hal ini dikarenakan faktor fisika dan kimia yaitu
jenis atau tekstur substrat yang berpengaruh terhadap kelimpahan makrobenthos.
Menurut Handayani et al., (2001) menyatakan bahwa organisme makrobenthos
69

yang mempunyai kisaran penyebaran pada jenis substrat berpasir, maupun


berlumpur, tetapi organisme ini cenderung menyukai substrat berpasir hingga
berlumpur. Menurut Suin (2002) bahwa faktor lingkungan sangat menentukan
penyebaran dan kepadatan populasi suatu organnisme, apabila kepadatan satu
genus di suatu daerah sangat melimpah, maka menunjukkan abiotik di stasiun itu
sangat mendukung kehidupan genus tersebut.
Dominansi pada spesies Melanoides tuberculata memiliki tingkat
dominansi tidak dominan (jarang) pada stasiun 14, 30, 33, dan 35 namun pada
stasiun 23 menunjukkan subdominan (umum) sedangkan pada stasiun 17
menunjukkan tingkat dominansi yang cukup tinggi yaitu 91%. Spesies
Melanoides rustica memiliki tingkat dominansi tidak dominan
(jarang) pada
stasiun 14, 17, 21, 22, dan 31 namun pada stasiun 16, 25-30,
32, 34, 35
menunjukkan subdominan (umum) sedangkan pada stasiun 15, 18, dan 33
menunjukkan tingkat dominansi yang cukup tinggi yaitu pada stasiun 15 dan 18
dengan nilai dominansi 100% sedangkan pada stasiun 33 nilai dominansi sebesar
57%.
Spesies Sulcospira testudinaria memiliki tingkat dominansi tidak
dominan (jarang) pada stasiun 21, 28-30 namun pada stasiun 14, 23, 25, 26, dan
32-34 menunjukkan subdominan (umum) sedangkan pada stasiun 22, 24, 27, dan
31 menunjukkan tingkat dominansi yang cukup tinggi yaitu pada stasiun 22
dengan nilai dominansi 88%, stasiun 24 dengan nilai dominansi 97%, stasiun 27
dengan nilai dominansi 54% dan pada stasiun 31 dengan nilai dominansi 94%.
Spesies Thiara scabra memiliki tingkat dominansi tidak dominan
(jarang) pada stasiun 24, 31 namun pada stasiun 16, 23, 25, 26, 27, 32-34
menunjukkan subdominan (umum) sedangkan pada stasiun 21, 28-30, dan 35
menunjukkan tingkat dominansi yang cukup tinggi yaitu pada stasiun 21 dengan
nilai dominansi 98% sedangkan pada stasiun 28 nilai dominansi sebesar 84%,
pada stasiun 29 nilai dominansi sebesar 75%, pada stasiun 30 nilai dominansi
sebesar 73%, pada stasiun 35 nilai dominansi sebesar 68%.
Spesies Pomacea canaliculata memiliki tingkat dominansi 74% pada
stasiun 14. Kriteria tingkat dominansi pada beberapa stasiun yang menyatakan
tidak dominan (jarang) dan subdominan (umum), menurut Fachrul, (2007) dapat di
indikasikan bahwa penyebaran jenis makrobenthos tergolong merata, sehingga tidak
ada jenis makrobenthos yang mendominasi.
Berdasarkan Lee et al., (1978 dalam Arisandi 1999)
tingkat
keanekaragaman makrobenthos di Sungai Cangar tergolong sangat rendah yaitu
berkisar antara 0,11-1,09. Clark (1974) menyatakan bahwa semakin tinggi indeks
keanekaragaman dalam ekosistem maka makin tinggi pula keseimbangan
ekosistem tersebut. Sebaliknya, semakin rendah keanekaragaman ekosistem
tersebut maka mengindikasikan bahwa ekosistem tersebut semakin tertekan atau
mengalami penurunan kualitas lingkungan.
Hasil penelitian yang diperoleh dapat terjadi karena keanekaragaman,
kelimpahan dan dominansi makrobenthos dipengaruhi dan ditentukan oleh sifat
fisika dan kimia. Sifat fisika yang cukup berpengaruh pada penelitian ini yaitu
tekstur substrat. Menurut Hakim et al., (1986) jenis substrat sangat mempengaruhi
70

jumlah keberadaan makrobenthos, yaitu dengan tipe substrat pasir hingga


berlumpur sangat cocok bagi kehidupan makrobenthos.
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan disungai Cangar pada
pengambilan sampel pada bulan Januari-Maret 2014, dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut :
1. Jenis makrobenthos yang ditemukan di Sungai Cangar adalah Melanoides
tuberculata, Melanoides rustica, Sulcospira testudinaria, Thiara scabra,
Pomacea canaliculata.
2. Tingkat kelimpahan rata-rata makrobenthos di Sungai Cangar Melanoides
tuberculata 44 individu/m2, Melanoides rustica 533 individu/m2,
Sulcospira testudinaria 995 individu/m2, Thiara scabra 1413 individu/m2,
Pomacea canaliculata 71 individu/m2. Dominansi total makrobenthos di
Sungai Cangar Melanoides tuberculata 2%, Melanoides rustica 17%,
Sulcospira testudinaria 33%, Thiara scabra 46%, Pomacea canaliculata
2%.
3. Tingkat keanekaragaman spesies makrobenthos di Sungai Cangar
tergolong sangat rendah yaitu berkisar 0,11-1,09.
SARAN
Sebaiknya penelitian mengenai studi kelimpahan dan keanekaragaman
makrobenthos dilakukan secara berkala dan rutin untuk memantau perubahan
kondisi lingkungan di objek wisata pemandian air panas. Hal ini perlu dilakukan
agar mengetahui tingkat pencemaran di objek wisata pemandian air panas Cangar.
Karena termasuk daerah hutan lindung yang perlu dikonservasi.
DAFTAR PUSTAKA
Arisandi, P. 1999. Studi Struktur Komunitas dan Keanekaragaman Mangrove
Berdasarkan Tipe Perubahan Garis Pantai di Pantai Utara Jawa Timur.
Skripsi. Jurusan Biologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam Universitas Airlangga. Surabaya.
Barus, T.A. 2004. Pengantar Limnologi Studi tentang Ekosistem Sungai dan
Danau. Program Studi Biologi. Medan : Fakultas MIPA USU.
Clark, J. 1974. Coastal Ecosystems Ecological Considerations For Management
Of The Coastal Zone. Washington D. C. Publications Department The
Conservation Foundations.
Elvina R., Nurhadi., Armien Lusi Z. 2012. Komposisi Benthos yang Ditemukan di
Sumber Air Panas Bukik Gadang Kecamatan Lembang Jaya Kabupaten
Solok.
Fachrul, M. F. 2007. Metode Sampling Bioekologi. Jakarta: Penerbit Bumi
Aksara
71

Hakim, N., Nyapka, M. Y. Lubis., A. A. Nugroho., S. G. Diha., H. A. Hong., G.


B. Bailey, H. H. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. 6071.
Handayani, S.T., B. Suharto dan Marsoedi. 2001. Penentuan Status Kualitas
Perairan Sungai Brantas Hulu dengan Biomonitoring Makrozoobentos:
Tinjauan dari Pencemaran Bahan Organik.
Hariyanto, S., B. Irawan, dan T. Soedarti. 2008. Teori dan Praktik Ekologi.
Airlangga University Press. Surabaya.
Odum, E. P. 1971. Fundamentals of Ecology. Philadelphia : W. B. Saundres
Company.
Odum, E. P. 1994. Dasar-dasar Ekologi (Edisi ketiga). Gadjah Mada University
Press. 697 hlm.
Romimohtarto, K. S. Juwana. 2001. Biologi Laut Ilmu Pengetahuan Tentang
Biota Laut. Penerbit Djambatan. Jakarta.
Suin, N. 2002. Metoda Ekologi. Bah Bolon Kabupaten Simalungun Sumatera
Utara. [Skripsi]. Medan: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Sumatera Utara.
Torgensen, C. E. dan Baxter C. V. 2006. Landscape Influences on Longitudinal
Patterns of River Fishes : Spatially continous Analysis of Fish-Habitat
Relationships. American Fisheries Society.

72

Lampiran 1. Kelimpahan, dominansi dan keanekaragaman

STASIUN
total
No.

Nama spesies

14

15

16

17

18

19

20

ni

Di ni Di ni Di ni Di ni

Di ni Di ni Di

1 Melanoides tuberculata

18

2 Melanoides rustica

36

9 5 100 18 50 9

3 Sulcospira testudinaria

44

4 Thiara scabra

5 Pomacea canaliculata

284 74.4 0 0 0

TOTAL
Keanekaragaman (H')

0 0 0

ni

22
Di

ni

23
Di ni Di

24
ni

25
Di

26

27

28

ni

Di

ni Di

ni Di ni Di

0 0

0 0

9 10

18

418 32 80 15 98 17.4 53 11 169

0 0

0 0

0 0 0 0 0

27

0 0 18 50 0

0 0

0 0

0 0 0 0 0

0 0

204 88.4 36 40 791 96.7 631 49 21 41 302 53.9 27 5

0,69

0,30

0,11

62 7

8 44 50 27

240 19 23 44 160 28.5 409 84 711

0,43

0,94

0,14

73

31

Di ni Di

0 0 0 0

0 0 0 0 1991 97.8 18

30

ni

0 0

382 100 5 100 36 100 98 100 53 100 0 0 0 0 2036 99.8 231 100. 89 10 818 99.7 1289 100 52 10 560 99.8 489
0,83

29

9 53 100 0 0 0 0

11.6 0 0 0

0 89 91 0

21

1,02

1,01

0,54

0 0
100
0,69

32

ni

Di

44 4

17.9 19

27

44 4

33

34

35

ni

Di ni Di

ni Di

347 28 267 57 178 37 53 27.2 2089 17,34

ni

Di

ni

Di

0 9

178

1,47

916 93.6 471 38 62 13 107 22. 0

3938 32,69

75.4 73

36

409 34 133 28 196 40. 13 68.1 5556 46,13

0 0

284

2,35

100 100 978 99.6 1227 100 471 10 480 99. 19 100. 12044 99,98
0,80

0,28

1,09

1,02

1,06

0,75

1,16

Lampiran 2. Peta Lokasi Sungai Cangar dan Peta lokasi sampling di Sungai
Cangar

74

Lampiran 3. Peta lokasi sampling di Sungai Cangar

75

KAJIAN DISTRIBUSI DAN KEBERADAAN MAKROBENTHOS DALAM


HUBUNGANNYA DENGAN SUHU DI ALIRAN SUNGAI AIR PANAS
CANGAR KOTA BATU

Rusdiana Puspa Ayu*, Bambang Irawan, Noer Moehammadi, Thin Soedarti

Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga,


Kampus C Mulyorejo Surabaya (60115)

*e-mail: Diana.puspaayu@gmail.com

ABSTRACT

This study aims to determine the distribution patterns and the presence
makrobenthos adaptive to extreme temperatures in the stream of hot water
Cangar in March-April 2014. This is a descriptive study conducted by taking
samples at each temperature difference makrobenthos then grouped with a
temperature range of 5C using Surber net . Samples were analyzed for the
presence of makrobenthos, species names, character, distribution patterns and the
effect of temperature on the number of species found in stream of hot water
Cangar. The highest temperature range found in streams of hot water Cangar is
70C, but has also the lowest temperature is 18oC at a location away from the hot
springs. Makrobenthos species are found as many as 10 species are Brotia
testudinaria, Thiara scabra, Melanoides rustica, Melanoides tuberculata,
Melanoides punctata, Thiara pantherina, Melanoides plicaria, Stenomelania
blatta, Sulcospira testudinaria, Pomacea canaliculata. Makrobenthos highest
number found in the temperature range 36-40oC. Temperature effect of 49.1 %
against makrobenthos. Makrobenthos distribution pattern in the river Cangar
internal changes are grouped into a regular or irregular turned into a cluster.
Keywords: Makrobenthos, Distribution pattern, Temperature, Watershed Cangar
River.

76

PENDAHULUAN
Sungai tergolong dalam perairan umum, dan memiliki peranan penting
bagi manusia yaitu diantaranya sebagai sumber daya yang mampu mendukung
produktifitas sehari-hari, sebagai sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan
akan air minum, keperluan pemukiman, industri, pertanian, dan penunjang sarana
rekreasi, tempat yang baik dan murah untuk pembuangan limbah industri, dan
merupakan bottle neck (penyempitan) dalam siklus hidrologi (Soegianto,
1994).Salah satu penyumbang kebutuhan akan air bersih yang ada di daerah Batu,
Malang dan sekitarnya diantaranya ialah Sungai Cangar yang masih berada di
dalam ruang lingkup Taman Hutan Raya R. Soerjo, Batu Malang.
Perubahan lingkungan perairan dapat diketahui dengan mengukur
perubahan fisika, kimia dan biologi. Pengukuran secara biologi dapat dilakukan
dengan biomonitoring antara lain dapat menggunakan hewan makrobenthos.
Keberadaan makrobenthos pada suatu sungai sangat dipengaruhi oleh berbagai
faktor lingkungan, baik biotik maupun abiotik.Faktor biotik yang berpengaruh
diantaranya adalah produsen, yang merupakan salah satu sumber makanan bagi
makrobenthos.Sedangkan faktor abiotik adalah fisika-kimia air yang diantaranya
adalah suhu, arus, oksigen terlarut (DO), kedalaman air dan substrat dasar (Allard
dan Moreau, 1987). Hewan ini memegang beberapa peranan penting dalam
perairan seperti dalam proses dekomposisi dan mineralisasi material organik yang
memasuki perairan (Lind, 1985).
Reynoldson pada tahun 1995 (dalam Karr dan Chu, 2000) menyatakan
bahwa cara paling efektif untuk mengetahui kualitas suatu sungai secara
terintegrasi adalah dengan mengetahui kondisi biota akuatik yang hidup di dalam
sungai. Berubahnya kualitas suatu sungai sangat mempengaruhi kehidupan yang
ada di dasar sungai.
Pola distribusi organisme merupakan karakter penting dalam ekologi
populasi.Karakter tersebut merupakan hal yang pertama kali diamati dalam
mempelajari populasi dan sifat dasar dari kebanyakan kelompok organisme hidup
termasuk makrobenthos.Informasi mengenai kepadatan populasi dirasakan belum
cukup untuk memberi gambaran yang lengkap mengenai keadaan suatu populasi
yang terdapat dalam suatu habitat.Pengetahuan mengenai penyebaran sangat
penting untuk mengetahui tingkat pengelompokan dari individu yang dapat
memberikan dampak terhadap populasi dari rata-rata per unit area
(Soegianto,1994).
METODE PENELITIAN
BAHAN, LOKASI DAN CARA KERJA
Bahan penelitian berupa makrobenthos yang diambil di aliran Sungai air
panas Cangar pada 44 stasiun sampling dengan menggunakan surber net.Peta
lokasi pengambilan sampel disajikan pada Lampiran 1.Sampel dianalisis untuk
diketahui nama spesies,korelasi suhu dengan spesies makrobenthos, dan pola
distribusi.
77

Untuk mengetahuikorelasi suhu terhadap makrobenthos dianalisis dengan


menggunakan korelasi Pearson.Kemudian untuk mengetahui pola distribusi
makrobenthos digunakan indeks Morisita:

Dengan: Id
= Indeks Morisita
n
= Jumlah plot
N
= Jumlah total individusemua plot
2
X
= Kuadratjumlahindividu
Id=1 = Distribusispesiestersebut Random/ acak
Id>1 = Distribusispesiestersebutberkelompok
Id<1 = Distribusispesiestersebutseragam
Untuk menguji indeks Morisita digunakan uji Chi-square:

X2 = Nilai perubah acak yang distribusi sampelnya didekati oleh distribusi


Chi-Kuadrat
k = Jumlah sel atau kelas
oi = Frekuensi amatan
ei = Frekuensi harapan

HASIL DAN PEMBAHASAN


Dari pengamatan di Aliran Sungai Air Panas Cangar dapatkan 10 spesies
yaitu Brotia testudinaria, Thiara scabra, Melanoides rustica, Melanoides
tuberculata, Melanoides punctata, Thiara pantherina, Melanoides plicaria,
Stenomelania blatta, Sulcospira testudinaria, Pomacea canaliculata. Rentang
suhu di aliran Sungai air panas Cangar berkisar antara 18-70oC. Pada suhu 18oC
ditemukan pada titik sampling 9 dan 10. Pada suhu 21-25oC ditemukan pada titik
sampling 12-15, dan 18. Pada suhu 26-30oC ditemukan pada titik sampling 5, 6, 7,
8. Pada suhu 31-35oC ditemukan pada titik sampling 1-3, 16, 17, 19, 20, 28, 29,
30. Pada suhu 36-40oC ditemukan pada titik sampling 31, 32, 33, 36, 37, 38, 41,
43, 44. Pada suhu 41-45oC ditemukan pada titik sampling 4, 11, 21, 23. Pada suhu
46-50oC ditemukan pada titik sampling 22, 26, 27. Pada suhu 51-55oC ditemukan
pada titik sampling 24, 25, 35. Pada suhu 56-60oC ditemukan pada titik sampling
40. Pada suhu 61-65oC ditemukan pada titik sampling 34, 39. Pada suhu 66-70oC
ditemukan pada titik sampling 42. Tabel keberadaan makrobenthos pada rentang
suhu yang telah ditentukan disajikan pada Tabel 1.

78

Tabel 1.Keberadaan Makrobenthos di Aliran Sungai Air Panas Cangar.


No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Rentang
suhu
&
20-&
26-&
31-&
36-&
41-&
46-&
51-&
56-&
61-&
66-&

B. tes
+
+
+
+
+
+
-

T. sca M. rus
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
-

M. tub
+
+
+
+
+
+
+
-

M. pun
+
+
+
+
-

Keterangan : - : tidak ditemukan

Spesies
T. pan
+
-

M. pli S. bla
+
+
-

S. tes
+
+
+
-

P. can
+
-

+ : ditemukan

B.tes : Brotia testudinaria


T. pan : Thiara panterina
T. sca : Thiara Scabra
M. pli : Melanoides plicaria
M. rus : Melanoides rustica
S. bla : Stenomelania blatta
M. tub : Melanoides tuberculata
S. tes : Sulcospira testudinaria
M. pun : Melanoides punctata
P. can : Pomacea canaliculata
Rentang suhu di aliran Sungai air panas Cangar berkisar antara 18-70oC,
namun pada suhu 56-70oC tidak ditemukan adanya makrobenthos. Pada rentang
suhu 36-40oC banyak ditemukan keberadaan spesies makrobenthos karena
disebabkan oleh faktor fisika yaitu suhu yang optimum untuk bereproduksi pada
hewan makrobenthos yang hidup pada suhu yang cukup tinggi, serta berada
didaerah yang memiliki tingkat topografi yang berbeda dari makrobenthos pada
umumnya.
Menurut Kennish (1984) penyebab rendahnya jumlah keberadaan di
sungai berkaitan dengan stabilitas lingkungan, stabilitas sumber daya makanan dan
timbulnya kompetisi untuk mencari makan yang cukup besar.
Hubendick (1958) menyatakan bahwa kondisi yang berpengaruh terhadap
jenis makrobenthos adalah temperatur di perairan air tawar, hal ini bergantung
pada ketinggian dan keadaan setempat. Sedangkan menurut Odum (1993)
menambahkan bahwa beberapa makrobenthos memiliki tingkat kemampuan
osmoregulasi yang baik sehingga ia dapat menyesuaikan diri terhadap kondisi
ekstrim yang ada disekitarnya.

79

Jumlah
spesies
4
5
4
5
9
5
2
2
0
0
0

Gambar 1.Grafik Korelasi suhu dengan jumlah spesies makrobenthos


Berdasarkan hasil analisis korelasi, diperoleh nilai koefisien korelasi
bahwa suhu mempengaruhi jumlah spesies makrobenthos sebesar sebesar 0,70.
Sedangkan koefisien determinanmenunjukkan bahwa suhu mempunyai pengaruh
sebesar 49,1% terhadap spesies makrobenthos, sedangkan sisanya dapat
dipengaruhi oleh faktor lingkungan serta jenis substrat yang mendukung
kehidupan makrobenthos. Menurut Nybakken (1992) kondisi tekstur substrat pasir
kerikil hingga berlumpur sesuai dengan kehidupan makrobenthos.Hasil analisis
sebagian besar menunjukkan bahwa adanya korelasi antara suhu dengan
makrobenthosdalam hal adaptasi makrobenthos pada suhu ekstrim.
Hal ini menyatakan bahwa suhu mempengaruhi jumlah spesies takson dan
didukung oleh pernyataan Surbakti (2010) yang menjelaskan bahwa, koefisien
korelasi dapat dibagi menjadi beberapa tingkatan, seperti terlihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Nilai koefisien Korelasi
Interval koefisien
0,00-0,199
0,20-0,399
0,40-0,599
0,60-0,799
0,80-1,00

Tingkat hubungan
Sangat rendah
Rendah
Sedang
Kuat
Sangat kuat

Nilai Indeks Morisita untuk setiap spesies makrobenthos terhadap variasi


rentang suhu yang ada di aliran air panas sungai Cangar. Kisaran Nilai Indeks
Morisita berkisar antara 0,004-238,9. Data dapat disajikan pada Tabel 3 sebagai
berikut

80

Tabel 3.Nilai Indeks Morisita spesies makrobenthos di aliran Sungai air panas
Cangar
Suhu
&
20-&
26-&
31-&
36-&
41-&
46-&
51-&
56-&
61-&
66-&

B. tes
4.240
3.504
2.632
0.006
0.004
0.561
0
0
0
0
0

T. sca
9.577
0.516
0.440
0.195
0.150
0.076
0
0.049
0
0
0

M. rus
0.000
1.788
3.883
2.397
2.620
0.000
0.317
0
0
0
0

Spesies
M. tub M. pun T. pan M. pli
0.282
0
0
0
0.282
0
0
0
1.128
0
0
0
2.978 1.004
0
0
5.093 4.016 11.077
2.389
3.705 5.952
0
0
1.943
0
0
0
0 0.030
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

Keterangan :
B. tes : Brotia testudinaria
T. sca : Thiara Scabra
M. rus : Melanoides rustica
M. tub : Melanoides tuberculata
M. pun : Melanoides punctata

S. bla
0
0
0
0
11.031
0
0
0
0
0
0

S. tes
3.511
1.264
0
0
6.241
0
0
0
0
0
0

P. can
0
0
0
0
0
11.007
0
0
0
0
0

T. pan : Thiara panterina


M. pli : Melanoides plicaria
S. bla : Stenomelania blatta
S. tes : Sulcospira testudinaria
P. can : Pomacea canaliculata

Dari tabel 2 dapat dijelaskan bahwa suhu dapat merubah pola distribusi
makrobenthos.Hal ini dapat dilihat pada spesies Brotia testudinaria mengalami
perubahan pola distribusi yaitu pola persebaran mengelompok dengan nilai 2,6324,240 pada suhu 18-30oC, kemudian pada suhu 31-45oC dengan nilai 0,004-0,561
memiliki pola persebaran teratur.Spesies Thiara scabra memiliki pola sebaran
mengelompok pada kisaran suhu 18 oC dengan nilai 9,577 namun pada suhu 2055oC pola sebarannya teratur.Spesies Melanoides rustica memiliki pola sebaran
mengelompok pada suhu 20-40oC dengan nilai 1,788-3,883, namun pada suhu 4650oC pola sebarannya teratur.Spesies Melanoides tuberculata pola sebaran pada
suhu 18-25oC dengan nilai 0,282 memiliki pola distribusi teratur, namun terjadi
perubahan pola distribusi yaitu pada suhu 26-50oC pola sebarannya mengelompok
dengan nilai 1,128-5,093.Spesies Melanoides punctata pola sebarannya cenderung
mengelompok pada suhu 31-45oC dengan nilai 1,004-5,952 namun pada suhu 5155oC pola sebarannya teratur dengan nilai 0,030.Pola sebaran mengelompok
merupakan pola yang paling umum terjadi pada individu dan dapat meningkatkan
persaingan diantara individu dalam memperebutkan unsur hara, dan makanan
(Odum, 1993).
Persebaran
mengelompok yang terjadi pada makrobenthos
mengindikasikan bahwa spesies tersebut selalu ada dalam kelompok, dan sangat
jarang terlihat terpisah, dan umumnya dapat meningkatkan persaingan antara
individu tanpa diimbangi peningkatan daya hidup.Hal ini dapat terjadi karena
tingkat ketersediaan sumber daya makanan, serta kondisi faktor fisika dan kimia
yang berada dalam kisaran tertentu yang dapat ditoleransi oleh makrobenthos
tersebut. Menurut Effendi (2003), kecepatan arus berpengaruh terhadap distribusi
81

biota yang relatif menetap diperairan yaitu benthos. Hal ini berdampak secara
tidak langsung pada makrobenthos karena semakin besar kecepatan arus maka
akan terjadi kekeruhan. Pada spesies Thiara pantherina, Melanoides plicaria,
Stenomelania blatta, Sulcospira testudinaria, Pomacea canaliculata memiliki
pola sebaran mengelompok dan tidak mengalami perubahan pola distribusi.
Pola penyebaran makrobenthos di aliran Sungai air panas Cangar secara
keseluruhan mengelompok dan teratur.Persebaran seperti ini didasarkan pada
kemiripan kondisi fisika-kimia perairan tersebut, serta kondisi substrat yang
didiami.Makrobenthos yang ditemukan pada kisaran suhu 18-55oC dengan
keberadaan spesies tertinggi pada kisaran suhu 36-40oC.Pada Gambar 4.13
dijelaskan bahwa terdapat 9 spesies pada suhu 36-40oC diperoleh 9 spesies
makrobenthos.Melanoides tuberculata dapat hidup pada kisaran suhu antara 18 dan
32C.Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Surbakti (2010), yang
menyatakan bahwa Melanoides tuberculata memiliki kemampuan toleransi yang
tinggi terhadap faktor-faktor fisika dan kimia lingkungan.Melanoides tuberculata
juga bersifat parthenogenetik dan mampu menghasilkan anakan yang banyak
sehingga memperluas penyebarannya.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di aliran Sungai air panas
Cangar dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Suhu yang ditemukan di aliran Sungai air panas Cangar segmen Tahura
R.Soerjo ditemukan suhu tertinggi sebesar 70oC dan suhu terendah
ditemukan 18oC. Suhu terendah yang ditemukan 18 oC terletak jauh dari
sumber mata air sedangkan suhu tertinggi sebesar 70 oC masih berada
didekat sumber mata air panas.
2. Terdapat 10 spesies makrobenthos yang ditemukan di aliran Sungai air
panas Cangar yaitu Brotiatestudinaria, Thiarascabra, Melanoidesrustica,
Melanoidestuberculata, Melanoides punctata, Thiara pantherina,
Melanoides plicaria,
Stenomelaniablatta, Sulcospiratestudinaria,
Pomeaca naliculata.
3. Pengaruh suhu terhadapkeberadaan jumlah spesies makrobenthos sebesar
0,70 dengan tingkat koefisien korelasi yang kuat.
4. Suhu optimal jumlah makrobenthos tertinggi, ditemukan pada suhu 3640oC.
5. Suhu di sungai Cangar dapat merubah pola distribusi makrobenthos
dengan perubahan internal pada organisme yang ditemui di berbagai
rentang suhu yaitu pada suhu 18oC spesies Brotia testudinaria
mengelompok dan berubah menjadi teratur pada suhu 20-45oC. Thiara
scabra memiliki pola sebaran mengelompok pada kisaran suhu 18 oC
namun pada suhu 20-55oC pola sebarannya teratur. Spesies Melanoides
rustica memiliki pola sebaran mengelompok, namun pada suhu 46-50oC
pola sebarannya teratur. Spesies Melanoides tuberculata pola sebaran pada
suhu 18-25oC teratur, namun pada suhu 26-50oC pola sebarannya
mengelompok. Spesies Melanoides punctata pola sebarannya cenderung
mengelompok, namun pada suhu 51-55oC pola sebarannya teratur.
82

SARAN
Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan metode teknik
yang berbeda misalnya menggunakan metode plot dengan menggunakan jarak
yang sudah ditentukan. Penggunaan metode ini diharapkan memberikan peluang
yang lebih besar untuk mendapatkan spesies makrobenthos serta mendapatkan
gambaran lebih baik mengenai keberadaannya di aliran air panas sungai Cangar.
DAFTAR PUSTAKA
Allard, M. and Moreau,G., 1987, Effect of Experimental Acidification on lotic
Macroinvertebrate Community. Hydrobiologia 144 : 37-49
Effendi, H. 2003.Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan
Lingkungan Perairan. Kanisius.Yogyakarta.
Hubendick, B. 1958.Factors conditioning the Habitat of Freshwater Snails State
Museum of Natural History. Stockholm. Sweden.
Karr, J.R and E.M Chu 2000.Sustaining living rivers. Hydrobiologia
Kennish, M. J. 1984.Ecology of estuaries: Antropogenic Effect, CRC Press Co.
Boca Rotan Florida USA
Lind, O. T. 1985. Handbooks of Common Methods in Limnology. CV. Mosby.
St.Louis
Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut; Suatu Pendekatan Ekologis, Terjemahan M.
Eidman dkk.Cetakan kedua PT. Gramedia Jakarta.
Odum, E.P. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Edisi Ketiga. Alih Bahasa : Samingan, T.
Gadjah Mada University Press.Yogyakarta.
Soegianto, A. 1994.Ekologi Kuantitatif. Usaha Nasional.Surabaya-Indonesia.
Surbakti, S. B. R. 2010. Ekologi dan filogeografi keong air tawar family Thiaridae
(Mollusca: Gastropoda) di Papua. Program Studi PascasarjanaBiologi UI,
Depok

83

Lampiran 1. Peta Pengambilan Sampel Makrobenthos di aliran Sungai air panas


Cangar

84

PENGARUH PEMBERIAN BIOFERTILIZER DAN JENIS


MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN
PRODUKTIVITAS TANAMAN KUBIS (Brassica oleracea)
Ayu Iwantari, Agus Supriyanto, Tri Nurhariyati
Departemen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Airlangga
ayy_iwan@yahoo.com
Abstract. The purpose of this study was to know interaction between dose of biofertilizer and type
of growing media on growth and productivity of cabbage (Brassica oleracea). This study used
biofertilizer consisted of Azotobacter, Azospirillum, Rhizobium sp., Bacillus megaterium,
Pseudomonas fluoresense, Saccharomyces cerevisiae, Lactobacillus plantarum, and
Cellulomonas. this study used the Completely Randomized Design consisted of 10 treatments. The
treatments are M1D0- (soil), M1D0+ (soil and NPK), M1D5 (soil and 5 mL biofertilizer), M1D10
(soil and 10 mL biofertilizer), M1D15 (soil and 15 mL biofertilizer), M2D0- (mixture of soil and
compost), M2D0+ (mixture of soil and compost and NPK), M2D5 (mixture of soil and compost
and 5 mL biofertilizer), M2D10 (mixture of soil and compost and 10 mL biofertilizer), M2D15
(mixture of soil and compost and 15 mL biofertilizer). Mixture medium consisted of soil and
compost 1:1 (w:w). Each treatment used 3 replication. Data were analyzed by One Way ANOVA
followed by Least Significant Difference and Kruskal-Wallis followed by Mann-Whitney Test
7KH UHVXOW VKRZHG WKDW LQWHUDFWLRQ ELRIHUWLOL]HU DQG W\SH RI JURZLQJ PHGLD JDYH HIIHFW RQ

height of plant, number of leaves, and diameter of crop. The highest result on heigt of plant
showed on M2D0- DQG 0 ' EXW LW GLGQW VLJQLILFDQW, number of leaves showed on M2D0-,
M1D0+, M1D5, and M1D15 EXW LW GLGQW VLJQLILFDQW DQG GLDPHWHU RI FURS VKRZHG RQ 0 ' . But
interaction biofertilizer and type of growing PHGLD GLGQW JLYH HIIHFW RQ wet weight of crop.
Keyword: biofertilizer, growing media, cabbage (Brassica oleracea)

Pendahuluan
Salah satu jenis sayuran yang banyak di ekspor adalah kubis. Kubis atau

kol merupakan salah satu tanaman sayuran yang mendapat prioritas untuk
ditingkatkan produksinya (Firmansyah dan Sri, 2003). Selain itu, pasar yang
mampu menyerap sayuran kubis dalam jumlah besar adalah kota-kota besar.
Tingginya permintaan kubis ini, tidak diimbangi dengan hasil produksi
kubis dalam negeri. Hasil rata-rata produksi kubis di Indonesia tergolong masih
rendah, yaitu berkisar 10-15 ton/ha. Berdasarkan kebutuhan unsur hara, tanaman
kubis merupakan tanaman yang memerlukan unsur hara nitrogen lebih banyak
dibandingkan dengan unsur hara yang lainnya (Pracaya, 2007). Menurut
(Mulyono, 2009), kubis adalah tanaman yang memerlukan pupuk cukup banyak
karena tanaman ini banyak menyerap zat makanan, terlebih unsur nitrogen dan
kalium. Menurut Goeswono (1983) dalam Subhan (1994), peran fosfat adalah
85

untuk merangsang penyerapan molibdenum oleh tanaman, selain itu fosfat


berpengaruh terhadap kualitas kubis.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Republik Indonesia tahun 2010,
luas lahan di Jawa Timur untuk pertanian kubis seluas 9.993 ha. Luas ini
berkurang jika dibandingkan pada tahun 2009 yang mencapai 10.748 ha. Dari
tahun ke tahun luas lahan di Indonesia cenderung mengalami penurunan, untuk itu
dibutuhkan suatu usaha untuk mengatasi hal tersebut antara lain dengan
memanfaatkan pekarangan.
Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk Indonesia, pada tahun
1960an diterapkan suatu teknologi pertanian, yaitu Revolusi Hijau. Disadari
ataupun tidak penerapan Revolusi Hijau juga memiliki beberapa dampak negatif,
yaitu penggunaan pupuk dan pestisida tinggi yang ternyata telah mencemari
sebagian sumber daya lahan, air, dan lingkungan. Menurut Anonim (2005),
pemberian pupuk buatan dan pestisida pada tanaman kubis yang jauh di atas
ambang batas dapat memberikan kontribusi negatif terhadap terhadap mutu
produksi, makhluk hidup, dan pencemaran lingkungan yang berdampak buruk
terhadap ekosistem.
Menyikapi berbagai dampak negatif yang ditimbulkan dari kegiatan
pertanian konvensional, perhatian masyarakat dunia perlahan mulai bergeser ke
pertanian yang ramah lingkungan. Salah satu upaya alternatif yang dapat
dilakukan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengembangkan pertanian
organik yang dapat dikatakan merupakan suatu sistem yang mampu menjaga
keselarasan diantara komponen ekosistem secara berkesinambungan dan lestari.
Pertanian organik ini mengandalkan kebutuhan hara melalui pupuk
organik dan masukan-masukan alami lainnya, misalnya mikroba. Dalam usaha
untuk mengembangkan bioteknologi di bidang pertanian organik ini, lembaga
penelitian dan perguruan tinggi juga ikut andil melalui penelitian-penelitian
tentang mikroorganisme yang mampu menyediakan unsur hara dan pengendalian
penyakit. Implementasi yang secara nyata dapat dirasakan oleh para petani adalah
dengan pembuatan pupuk hayati (biofertilizer).

86

Biofertilizer adalah inokulan berbahan aktif organisme hidup yang


berfungsi untuk menambat hara tertentu atau memfasilitasi tersedianya hara dalam
tanah bagi tanaman (Simanungkalit dkk., 2006). Mikroba tersebut antara lain
adalah Azotobacter, Azospirillum, dan Rhizobium merupakan mikroba yang
mampu menambat unsur nitrogen. Bacillus dan Pseudomonas mampu menambat
unsur fosfat. Saccharomyces, Lactobacillus, dan Cellulomonas membantu dalam
proses dekomposisi yang menghasilkan unsur kalium.
Media tanam yang baik merupakan salah satu syarat untuk meningkatkan
produksi tanaman. Dengan mengkombinasikan media tanam dengan pupuk hayati
maka tanaman dapat tumbuh baik karena hara yang dibutuhkan ada dalam bentuk
tersedia dan dalam jumlah yang cukup. Menurut Sarief (1989), bahan organik
dapat memperbaiki kualitas tanah.
Dengan pemakaian biofertilizer diharapkan tidak hanya akan memberi
dampak positif bagi tanah tetapi juga pada pertumbuhan dan produktivitas
tanaman. Selain itu, penggunaan biofertilizer tidak akan meninggalkan residu
kimia seperti pada pemakaian pupuk kimia, karena bagian yang dikonsumsi dari
tanaman kubis adalah krop (daun). Dengan demikian, diharapkan pula jumlah
komoditi ekspor kubis akan meningkat dan memberi keuntungan pada para petani.
Pada gilirannya manusia sebagai konsumen utama kubis, akan lebih leluasa untuk
mengkonsumsi kubis karena tidak meninggalkan residu kimia yang berbahaya
bagi kesehatan.
2

Material dan Metode


Penelitian ini dilakukan di rumah kaca UPT Pengembangan Agribisnis

Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pertanian Sidoarjo sebagai tempat


penanaman dan Laboratorium Mikrobiologi Departemen Biologi Fakultas Sains
dan Teknologi, Universitas Airlangga sebagai tempat pembuatan biofertilizer dari
bulan Februari sampai bulan Juli tahun 2012.
Mikroba yang digunakan untuk pembuatan biofertilizer terdiri dari
Azotobacter, Azospirillum, Rhizobium sp., Bacillus megaterium, Pseudomonas
fluorescens, Saccharomyces cerevisiae, Lactobacillus plantarum, dan
87

Cellulomonas. Jenis benih yang digunakan adalah F1 Hybrid Cabbage Seed


Grand 22 dari PT. BISI Internasional Tbk.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap
dengan 10 perlakuan, yaitu: M1D0- (tanah tanpa biofertilizer dan NPK), M1D0+
(tanah dan NPK), M1D5 (tanah dan 5 mL biofertilizer), M1D10 (tanah dan 10 mL
biofertilizer), M1D15 (tanah dan 15 mL biofertilizer), M2D0- (campuran tanah
dan kompos), M2D0+ (campuran tanah dan kompos dan NPK), M2D5 (campuran
tanah dan kompos dan 5 mL biofertilizer), M2D10 (campuran tanah dan kompos
dan 10 mL biofertilizer), M2D15 (campuran tanah dan kompos dan 15 mL
biofertilizer) masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Campuran tanah dan
kompos yang digunakan adalah dengan perbandingan berat 1:1. Media tanam
yang akan digunakan dimasukkan ke dalam polybag ukuran 15kg. Perbedaan
perlakuan dimulai saat penanaman bibit, sedangkan untuk penyemaian
menggunakan media tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan volume 1:1.
Pemupukan dilakukan pada saat 6 hari sebelum tanam, 30 dan 50 hari setelah
tanam. Pemupukan dilakukan secara melingkar di sekitar tanaman dengan jarak 5
cm dari batang. Perawatan yang dilakukan adalah dengan melakukan penyiraman
setiap hari saat pagi dan sore hari.
Pengamatan dilakukan terhadap pertumbuhan, yaitu tinggi tanaman (cm),
jumlah daun yang terbentuk (helai) dan diameter krop (cm) serta produktivitas
dengan menimbang berat basah krop (g). Setelah data didapatkan kemudian
dianalisis dengan program SPSS menggunakan uji One Way ANOVA GDQ dengan
uji lanjutan LSD (Least Significant Difference) jika ada beda yang signifikan.
Uji efektivitas biofertilizer, untuk menentukan apakah suatu pupuk mempunyai
nilai efektivitas terhadap hasil tanaman baik secara agronomis dan secara sosial
ekonomi digunakan rumus Relative Agronomic Effectiveness (RAE) dihitung
dengan rumus (Machay, et al., 1984) :

88

Hasil dan Pembahasan


Hasil dari pengaruh interaksi dosis biofertilizer dan jenis media tanam

terhadap parameter pertumbuhan dan produktivitas perlu dilakukan uji statistik


untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing perlakuan. Pada uji statistik data
yang digunakan adalah data minggu ke-15 (saat panen). Hasil dari uji statistik
untuk masing-masing parameter ditunjukkan pada tabel 1.1 dan gambar 1.
Tabel 1.1. Data parameter pertumbuhan dan produktivitas tanaman kubis saat
panen.
Pertumbuhan
Produktivitas
Tinggi tanaman
Jumlah daun
Diameter
Berat basah krop
(cm)
(helai)
krop(cm)
(g)
M1D0221.9079ab
282.5166a
4.55170.8829a
17.00912.2363
M1D0+
20.52.2716a
307.9373ab
5.20750.7601a
17.74087.9634
M1D5
23.51.0817b
324.0415ab
5.48831.0694a
22.19674.2863
ab
a
a
M1D10
22.43330.8737
282.0817
4.27331.0471
10.4696.921
M1D15
21.96671.5275ab
282.6458ab
4.28670.8029a
14.51877.3978
M2D025.86672.444bc
320.5774b
3.61831.2983a
11.60117.1348
ab
a
M2D0+
22.96671.097
300
4.79331.6714a
17.891211.799
a
a
b
M2D5
14.36.634
272.3094
0.9651.6714
1.35222.3421
abc
a
ab
M2D10
21.26677.6291
281.5275
3.32672.881
12.157911.7563
M2D15
25.61.5875c
291.5275a
5.33830.9072a
17.89669.3636
Keterangan: * Pada tinggi tanaman nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf yang
EHUEHGD PHQXQMXNNDQ SHUEHGDDQ \DQJ Q\':'GHQJDQ XML
Mann Whitney.
* Pada jumlah daun dan diameter krop nilai rata-rata yang diikuti
oleh huruf yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata
 GHQJDQXMLW
Perlakuan

89

c
d
Gambar 1. Diagram pengaruh interaksi dosis biofertilizer dan jenis media tanam
terhadap: a) tinggi kubis, b) jumlah daun kubis, c) diameter krop
kubis, dan d) berat basah krop. M1D0- (tanah tanpa biofertilizer dan
NPK), M1D0+ (tanah dan NPK), M1D5 (tanah dan 5 mL
biofertilizer), M1D10 (tanah dan 10 mL biofertilizer), M1D15 (tanah
dan 15 mL biofertilizer), M2D0-(campuran tanah dan kompos),
M2D0+ (campuran tanah dan kompos dan NPK), M2D5 (campuran
tanah dan kompos dan 5 mL biofertilizer), M2D10 (campuran tanah
dan kompos dan 10 mL biofertilizer), M2D15 (campuran tanah dan
kompos dan 15 mL biofertilizer).
Dari hasil perhitungan RAE dari rumus di atas didapatkan nilai seperti pada
tabel 1.2.
Tabel 1.2. Hasil perhitungan RAE
Perlakuan
RAE (%)
M1D5
708,94
M2D10
8,85
M2D15
100,9
Dari tabel 1.1 diketahui bahwa perlakuan M2D15 tidak berbeda
signifikan dengan perlakuan M2D0- dan M2D10. Dari hasil rerata tinggi tanaman,
M2D0- memiliki nilai rerata tertinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa
pemberian/pencampuran kompos dengan tanah mampu menyediakan unsur hara
yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Menurut Simanungkalit dkk.
(2006) kompos merupakan sumber hara makro dan mikro mineral secara lengkap
meskipun dalam jumlah relatif kecil (N, P, K, Ca, Mg, Zn, Cu, B, Zn, Mo, dan
Si).

Selain

itu,

kompos

banyak

mengandung

mikroorganisme (fungi,

aktinomisetes, bakteri, dan alga). Variasi dalam kuantitas macam-macam nutrien


esensial yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman itu sangat besar.
90

Kebutuhan kuantitatif tergantung pada jenis tanaman, tingkat hasil panen, dan
nutrien tertentu tersebut (Gardner et al., 1991). Menurut Rao (1994) pertumbuhan
suatu tanaman tidak hanya tergantung pada kapasitas tanah untuk membebaskan
nutriennya tetapi juga tergantung pada kapasitas sistem perakarannya untuk
menyerap nutrien-nutrien tersebut secara efisien. Jika tanaman mendapatkan
seluruh unsur hara esensial yang dibutuhkan dalam jumlah cukup, maka tanaman
akan dapat tumbuh dengan normal (Ridwan, 2011).
Pada parameter jumlah daun, dari uji analisis statistik menunjukkan
bahwa pada perlakuan M2D0- tidak berbeda nyata dengan M1D0+, M1D5, dan
M1D15. Hal ini diduga bahwa kebutuhan tanaman kubis terhadap unsur hara
untuk pembentukan daun telah tercukupi pada perlakuan tersebut. Salah satu
unsur yang dibutuhkan dalam pembentukan daun adalah nitrogen (N). Menurut
Kuswahariani, nitrogen diperlukan untuk pembentukan atau pertumbuhan bagian
vegetatif tanaman, seperti daun, batang, dan akar. Tanda-tanda tanaman defisiansi
N adalah pertumbuhan terganggu (kerdil), daunnya berwarna pucat, dan biasanya
ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan biasanya (Ashari, 1995). Hal ini
diduga bahwa dengan penambahan kompos, biofertilizer, atau pupuk kimia
mampu menyediakan nutrien yang dibutuhkan oleh tanaman untuk pertumbuhan
khususnya pembentukan daun. Biofertilizer adalah inokulan berbahan aktif
organisme hidup yang berfungsi untuk menambat hara tertentu atau memfasilitasi
tersedianya hara dalam tanah bagi tanaman (Simanungkalit dkk., 2006). Menurut
Taniwiryono dan Isroi (2008), pupuk kimia buatan memiliki keunggulan
dibanding pupuk yang lain, yaitu memiliki kandungan hara yang tinggi dan cepat
tersedia.
Pada gambar 1 untuk parameter diameter krop setelah dilakukan analisis
statistik, menunjukkan bahwa ada pengaruh interaksi antara dosis biofertilizer dan
jenis media tanam terhadap diameter krop yang terbentuk. Dari hasil analisis
menunjukkan bahwa perlakuan M2D5 tidak berbeda nyata dengan M2D10. Dari
hasil rata-rata diameter krop perlakuan M2D5 menunjukkan hasil yang paling
rendah. Hali ni diduga pada perlakuan ini menunjukkan kompetisi antara mikroba
yang ada dalam kompos dan biofertilizer sehingga tidak mampu menyediakan
91

unsur yang dibutuhkan tanaman dalam pembentukan krop. Perkembangan krop


kubis sangat dipengaruhi oleh penyerapan air dan unsur hara oleh akar (Sulastri,
2010).
Dari hasil uji statistik pada tabel 1.1 didapatkan bahwa interaksi antara
dosis biofertilizer dan jenis media tanam tidak berpengaruh terhadap berat basah
krop. Hal ini diduga dengan menambahkan kompos atau biofertilizer mampu
menyediakan kebutuhan unsur hara yang dibutuhkan oleh kubis. Menurut De
Geus (1967) dalam Subhan (1994), bahwa berat bersih krop sangat dipengaruhi
oleh tersedianya unsur hara dalam tanah dan keseimbangan unsur hara tanah dapat
mempengaruhi hasil. Selain itu menurut Sulastri (2010) berat krop ini dipengaruhi
oleh seberapa banyak hasil fotosintat yang disalurkan ke bagian krop. Pernyataan
ini juga diungkapkan oleh Wahyuni dkk. (2004) bahwa hasil tanaman tidak
tergantung oleh seberapa besar fotosintat yang dihasilkan tetapi juga dipengaruhi
oleh seberapa besar fotosintat yang disalurkan ke bagian hasil tanaman. Diketahui
juga bahwa unsur kalium (K) berperan penting dalam fotosintesis karena secara
langsung meningkatkan pertumbuhan dan indeks luas daun, dan karenanya juga
meningkatkan asimilasi CO2 serta meningkatkan translokasi hasil fotosintesis
keluar daun (Wolf dkk., 1976 dalam Gardner et al., 1991).
Dari hasil uji statistik didapatkan nilai yang tidak signifikan untuk hasil
berat basah krop. Hal ini menunjukkan bahwa pada perlakuan biofertilizer tanpa
mengkombinasikannya dengan kompos mampu menghasilkan produktivitas yang
sama dengan perlakuan kombinasi kompos dan biofertilizer. Dari perhitungan
nilai RAE didapatkan bahwa pada perlakuan M2D5 menunjukkan hasil yang
tertinggi 708,94%.
Menurut Isroi (2005) jika menggunakan kompos yang matang kandungan
haranya kurang lebih mengandung 1,69% N, 0,34% P2O5, dan 2,81% K.
Permasalahan yang sering muncul adalah kebutuhan kompos yang cukup banyak
untuk mencukupi seluruh kebutuhan hara tanaman. Dibandingkan dengan pupuk
kimia, kebutuhan kompos dapat mencapai 10-20 kali lipat lebih banyak dari pada
pupuk kimia. Jumlah kompos yang demikian besar ini memerlukan banyak tenaga
kerja dan berimplikasi pada naiknya biaya produksi. Untuk mengatasi
92

permasalahan tersebut alternatifnya adalah dengan pemanfaatan mikroba untuk


meningkatkan unsur hara bagi tumbuhan dalam bentuk biofertilizer. Mengingat
pada saat ini harga pupuk kimia kian mahal dan bahaya dari residu pupuk kimia
maka biofertilizer dapat dijadikan pilihan sebagai pupuk alternatif.
Kesimpulan
1. Ada pengaruh interaksi antara dosis biofertilizer dan jenis media tanam
terhadap tinggi tanaman kubis, jumlah daun, dan diameter krop.
2. Tidak ada pengaruh interaksi antara dosis biofertilizer dan jenis media tanam
terhadap produktivitas tanaman kubis.
Daftar Pustaka
Anonim, 2010, Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Kubis 2009-2010, Badan
Pusat Statistik Republik Indonesia, Jakarta.
Anonim, http://www.deptan.go.id, 11 Desember 2011.
Ashari, S., 1995, Hortikultura Aspek Budidaya, UI-Press, Jakarta.
Firmansyah dan S. S. Harjadi., 2003, Pengaruh Bahan Kimia Terhadap Kondisi
Krop Kubis KK Cross Dengan Bungkus Plastik Dan Atau Tanpa Bungkus
Plastik, Skripsi, IPB, Bogor.
Gardner, F. P., R. Brent Pearce, dan R. L. Mitchell, 1991, Fisiologi Tanaman Budidaya
Terjemahan, UI-Press, Jakarta.
Isroi, http://www.ipard.com/, diakses 9 Agustus 2012
Kuswahariani, W., http://www.scribd.com/doc/46057761/, diakses 9 Agustus 2012.
Mulyono, S., 2009, Bercocok Tanam Kubis, Azka Press, Jakarta.
Pracaya, 2007, Bertanam Sayuran Organik Di Kebun, Pot, Dan Polibag, PT Penebar
Swadaya, Jakarta.
Rao, S. N. S., 1994, Mikroorganisme Tanah Dan Pertumbuhan Tanaman, Edisi Kedua,
UI-Press, Jakarta.
Ridwan, 2011, Pengaruh Pupuk Organik Dengan Pupuk Hayati Untuk Meningkatkan
Efisiensi Penggunaan Hara, Pertumbuhan, Dan Produksi Tanaman Cabai, Tesis,
IPB, Bogor.
Sarief, S., 1989, Fisika-Kimia Tanah Pertanian, CV Pustaka Buana, Bandung.
Simanungkalit, R. D. M., D. A. Suriadikarta, R. Saraswati, D. Setyorini, dan W. Hartatik,
2006, Pupuk Organik Dan Pupuk Hayati:Organik Fertilizer And Biofertilizer,
Balai Penelitian dan Pengembangan Lahan Pertanian, Bogor.
Subhan, 1994, Pengaruh Pupuk Fosfat Dan Dolomit Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil
Kubis Dataran Tinggi (Brassica oleraceae L.) Kultivar Green Coronet, Bul. Panet.
Hort., Vol. XXVI No. 2, 15-22.
Sulastri, E., 2010, Penurunan Intensitas Akar Gada Dan Peningkatan Hasil Kubis Dengan
Pennanaman Caisin Sebagai Tanaman Perangkap Patogen, Skripsi, Universitas
Sebelas Maret, Surakarta.
93

Taniwiryono, D. dan Isroi, 2008, Pupuk Kimia Buatan, Pupuk Organik, Dan Pupuk
Hayati, Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia BPBPI.
Wahyuni, T. S., R. Setiamihardja, N. Hermiati, dan KH. Hendroatmodjo, 2004,
Variabilitas Genetik, Heritabilitas, Dan Hubungan Antara Hasil Umbi Dengan
Beberapa Karakter Kuantitatif Dari 52 Genotip Ubi Jalar Di Kendal Payuk,
Malang, Zuriat, 15(2):99-107.

94