Anda di halaman 1dari 15

USEFULNESS INFORMASI AKUNTANSI DI PASAR MODAL

(untuk memenuhi tugas mata kuliah Seminar Akuntansi)

Oleh:
Kelompok 2
1.
2.
3.
4.

Rizki Sekarsari S.P.


Labitsta Untsa A.
Surya Sukmawan S.
Elok Dwi S.

120810301120
140810301242
140810301245
140810301248

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS JEMBER
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur yang dalam kami ucapkan kehadirat Allah SWT.,karena berkat
rahmat-Nya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai dengan waktu yang telah
ditentukan. Dalam makalah ini, kami membahas mengenai Usefulness Informasi
Akuntansi di Pasar Modal. Makalah

ini dibuat sebagai bahan perkuliahan

Seminar Akuntansi.
Dalam proses penyusunan makalah ini, tentunya penulis mendapatkan
bimbingan, arahan, koreksi, dan saran. Untuk itu rasa terima kasih yang dalam
kami ucapkan kepada Dr. Muhammad Miqdad, SE,MM,CA,Ak.. selaku Dosen
Pengampu Mata Kuliah Seminar Akuntansi. Tak lupa kami ucapkan terima kasih
kepada teman- teman dan penulis literatur sumber yang telah kami gunakan untuk
membantu kesempurnaan penulisan makalah ini.
Kami berharap, semoga informasi yang ada dalam makalah ini dapat
berguna bagi kami khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya. Dalam
penulisan makalah ini, kami telah berusaha dengan segenap kemampuan. Tetapi
kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini
karena keterbatasan pengetahuan kami, kami mengharapkan kritik dan saran yang
membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Demikian makalah ini, semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin

Jember, 28 November 2015

Penulis

BAB 1
PENDAHULUAN
Sejak dipisahkannya kepemilikan pribadi (owner) menjadi kepemilikan
bersama (shareholders), maka ada pemisahan pengelolaan antara pemilik dengan
pengelola (management). Seiring dengan perubahan tersebut fungsi laporan
keuangan sebagai alat pencatatan dan pertanggung jawaban akan menjadi alat
untuk pengambilan keputusan. Konsekuensi dari perubahan tersebut adalah
laporan keuangan harus memberikan nilai lebih (mampu memprediksi tingkat
pengembalian modal) kepada para penggunanya (users).
Kemampuan laporan keuangan untuk memberikan informasi yang berguna
bagi investor tidak terlepas dari permalasahan karakteristik kualitatif dari laporan
keuangan itu sendiri, yaitu reliabitas dan relevansi. Informasi yang dapat
dikatakan andal jika bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material,
dan dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus dan jujur dari
yang seharusnya disajikan. Sebaliknya, sebaliknya informasi relevan adalah
informasi yang memiliki kualitas revelan kalau dapat mempengaruhi keputusan
ekonomi pemakai dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu,
masa kini, atau masa depan, menegaskan atau mengoreksi hasil evaluasi mereka
pada masa lalu. informasi akuntansi dapat dikatakan andal jika memenuhi tiga
karakteristik utama, yaitu dapat periksa, jujur dalam penyajian, dan netral.
Sebaliknya, informasi akuntansi dapat dikatakan relevan jika mempunyai nilai
prediktif dan nilai umpan balik.

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Informasi Akuntansi


2.1.1 Definisi dan Jenis Informasi Akuntansi
Belkaoui (2000) mengartikan informasi akuntansi sebagai
informasi kuantitatif tentang entitas ekonomi yang bermanfaat untuk
pengambilan keputusan ekonomi dalam menentukan pilihan di antara
alternatif tindakan. Arnold & Hope (1990) menyatakan bahwa informasi
akuntansi pada dasarnya bersifat keuangan dan terutama digunakan untuk
tujuan pengambilan keputusan, pengawasan dan implentasi keputusan
perusahaan. Anthony & Reece (1989) mengklasifikasikan informasi
akuntansi digolongkan menjadi tiga jenis:
a. Informasi operasi yang menyediakan data mentah bagi informasi
akuntansi keuangan dan informasi akuntansi manajemen.
b. Informasi akuntansi manajemen yang khusus ditujukan untuk
kepentingan manajemen dan digunakan dalam fungsi manajemen,
yaitu perencanaan, implementasi, dan pengendalian. Informasi
akunatnsi manajemen dihasilkan oleh sistem pengolahan
informasi keuangan yang disebut akuntansi manajemen.
Informasi akuntansi manajemen ini disajikan kepada manajemen
perusahaan dalam berbagai laporan, seperti anggaran, laporan
penjualan, laporan biaya produksi, laporan biaya menurut pusat
pertanggungjawaban, dan laporan biaya menurut aktivitas.
c. Informasi akuntansi keuangan yang digunakan oleh manajer
maupun pihak eksternal perusahaan dengan tujuan untuk
menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan,
kinerja serta perubahan keuangan suatu perusahaan yang
bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan
keputusan ekonomi. Informasi akuntansi keuangan untuk pihak
luar disajikan dalam laporan keuangan yang terdiri dari neraca,
laporan laba rugi, dan laporan perubahan posisi keuangan. Pihak
luar yang menggunakan laporan keuangan meliputi pemegang
saham, kreditor, badan atau lembaga pemerintah, dan masyarakat
umum dimana masing-masing pihak tersebut mempunyai
kepentingan yang berbeda. Informasi ini disajikan dan disusun
berdasarkan aturan dasar yang dinamakan Standar Akuntansi
Keuangan (SAK). Standar akuntansi keuangan tersebut dipakai
untuk menyusun laporan keuangan. Laporan keuangan untuk
pihak luar menyajikan suatu gambaran menyeluruh tentang
kondisi keuangan dan hasil usaha suatu organisasi.
2.1.2

Karakteristik Informasi Akuntansi


FASB (1980) dalam SFAC No. 2 menjelaskan tentang karakteristik
informasi akuntansi agar bisa digunakan dalam pembuatan keputusan. Para

pembuat keputusan membutuhkan informasi untuk digunakan dalam


keputusan investasi, kredit, dan keputusan yang serupa lainnya. SFAC ini
diterbitkan oleh FASB pada tahun 1980. Dalam statement ini terdapat dua
karakteristik utama yang membuat informasi akuntansi bermanfaat dalam
pembuatan keputusan, yaitu relevance dan reliability.
Menurut FASB (1980) dalam SFAC No. 2, informasi yang relevan
harus tepat waktu dan harus memiliki nilai prediktif atau nilai umpan balik
atau keduanya. Sementara informasi yang reliabel harus memiliki
representational faithfulness dan harus dapat diverifikasi dan netral. Di sisi
lain, statement ini juga memasukkan comparability yang mencakup
consistency sebagai kualitas sekunder yang berhubungan dengan relevance
dan reliability untuk mendukung kegunaan informasi.
Menurut FASB (1980) dalam SFAC No. 2, informasi akuntansi
yang relevan mampu membuat perbedaan dalam sebuah keputusan dengan
membantu pengguna untuk membentuk prediksi tentang hasil dari
peristiwa masa lalu, sekarang, dan masa depan atau untuk mengkonfirmasi
atau membenarkan harapan sebelumnya. Informasi dapat membuat sebuah
perbedaan terhadap keputusan dengan meningkatkan kapasitas pembuat
keputusan untuk memprediksi atau dengan memberikan umpan balik
terhadap harapan sebelumnya. Informasi yang relevan harus memiliki:
a. Feedback value, yaitu mampu membantu menjustifikasi dan
mengoreksi harapan masa lalu;
b. Predictive value, yaitu dapat digunakan untuk memprediksi
apa yang akan terjadi di masa yang akan datang;
c. Timeliness, yaitu informasi harus disajikan kepada para
pemakai sebelum informasi itu kehilangan kapasitasnya untuk
mempengaruhi pengambilan keputusan.
Menurut FASB (1980) dalam SFAC No. 2, reliabilitas merupakan
kualitas informasi yang dijamin bebas dari kesalahan dan penyimpangan
atau bias serta telah dinilai dan disajikan secara layak sesuai dengan
tujuannya. Reliabilitas tersusun dari tiga bagian sebagai berikut.
a. Verifiabilitas sebagai kualitas yang dapat ditunjukkan dengan
menjamin sebuah tingkat konsensus yang tinggi antara
pengukur independen dengan menggunakan metoda
pengukuran yang sama;
b. Netralitas yang berarti bahwa dalam merumuskan atau
menerapkan standar, perhatian yang utama seharusnya pada
relevansi dan reliabilitas informasi yang dihasilkan, bukan
pada pengaruh standar atau aturan yang memiliki kepentingan
tertentu.
c. Representational faithfulness yang merupakan korespondensi
atau kesepakatan antara suatu ukuran atau deskripsi dan
fenomena yang dimaksudkan untuk diwakili. Dalam akuntansi,
fenomena yang diwakili adalah sumber daya ekonomi dan
kewajiban serta transaksi-transaksi dan kejadian yang
mengubah sumber daya dan kewajiban tersebut.

Menurut FASB (1980) dalam SFAC No. 2, terdapat secondary and


interactive qualities yaitu comparability. Informasi akuntansi akan lebih
bermanfaat jika dapat dibandingkan antara satu perusahaan dengan
perusahaan yang lain dalam satu industri yang sama (perbandingan
horizontal) atau membandingkan perusahaan yang sama untuk perioda
yang berbeda (perbandingan vertikal). Maka, perlu standar dan ukuran
tertentu dalam membandingkan perusahaan.
Menurut FASB (1980) dalam SFAC No. 2, komparabilitas
didefinisikan sebagai kualitas atau pernyataan yang memiliki karakteristik
umum. Jadi, perbandingan normal komparabilitas merupakan suatu
perhitungan atas karakteristik yang umum. Hal itu mengakibatkan
perbandingan valid hanya dimungkinkan apabila pengukuran yang
digunakan, yaitu kuantitatif atau rasio, secara nyata mewakili karakteristik
dari subjek yang diperbandingkan.
FASB (1980) dalam SFAC No. 2 menjelaskan bahwa konsistensi
dalam penerapan metoda akuntansi selama suatu rentang waktu mengacu
pada kualitas penting yang memungkinkan angka-angka akuntansi menjadi
lebih berguna. Dalam format standar laporan auditor menyatakan bahwa
laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang
lazim yang secara konsisten diterapkan. Konsistensi penggunaan prinsip
akuntansi dari suatu perioda ke perioda yang lain mendukung kegunaan
laporan keuangan bagi pemakai melalui wacana analisis dan pemahaman
atas data komparatif.
FASB (1980) dalam SFAC No. 2 menjelaskan bahwa konsistensi
merupakan suatu kualitas dari keterhubungan antara dua angka akuntansi
daripada suatu kualitas angka dengan dirinya sendiri dalam konteks nilai
relevan dan reliabilitas. Penggunaan yang konsisten dari suatu metoda
akuntansi, apakah dari suatu perioda ke perioda yang lain pada suatu
perusahaan, atau dalam suatu perioda meliputi beberapa perusahaan,
adalah suatu kebutuhan tetapi bukan merupakan suatu syarat cukup dari
komparabilitas.
Karakteristik terakhir yang disebutkan dalam SFAC No. 2 (1980)
adalah materiality yang merupakan bagian sifat ambang batas untuk
pengakuan (threshold for recognition). Materialitas adalah sebuah konsep
luas yang berhubungan dengan karakteristik kualitatif, terutama relevansi
dan keandalan. Materialitas dan relevansi keduanya didefinisikan dalam
hal apa yang mempengaruhi atau membuat suatu perbedaan bagi pembuat
keputusan. Sebuah keputusan untuk tidak mengungkapkan informasi yang
pasti mungkin bisa dibuat, karena investor tidak memiliki kebutuhan
informasi semacam itu (tidak relevan) atau karena jumlah yang terlibat
terlalu kecil untuk membuat perbedaan (tidak material). Suatu item akan
dianggap material jika pencantuman atau pengabaian item tersebut
mempengaruhi atau mengubah penilaian seorang pemakai laporan
keuangan. Baik faktor-faktor kuantitatif maupun kualitatif harus
dipertimbangkan dalam menentukan apakan suatu item bersifat material
atau tidak.

2.1.3

Pemakai Informasi Akuntansi


FASB mengakui keberadaan kelompok pengguna laporan keuangan
yang beragam dan pluralistik. FASB berfokus pada kelompok pengguna
utama, yaitu investor dan kreditor yang paling tertarik pada jumlah, waktu,
dan ketidakpastian arus kas masa depan. Alasan investor dan kreditor
menjadi kelompok pengguna utama karena pengguna lainnya memiliki
ketertarikan yang sama dengan investor dan kreditor.
Kreditor terutama dianggap pemasok barang dan jasa (hutang).
mereka membutuhkan informasi keuangan tentang pelanggan mereka
untuk menentukan persyaratan kredit. Namun, dalam arti yang lebih luas,
kreditor mungkin juga termasuk pajak pemerintah (hutang pajak) dan
individu atau badan yang memiliki klaim pada perusahaan sebelum
pemegang saham lainnya.
Pemakai laporan keuangan yang sangat membutuhkan informasi
akuntansi adalah pemilik perusahan atau pemegang saham. Pemilik
perusahaan perkepentingan terhadap laporan akuntansi suatu perusahaan
sehubungan dengan modal yang diinvestasikan pada perusahaan tersebut.
Informasi yang diperoleh dari laporan akuntansi, umumnya bermanfaat
bagi pemilik perusahaan untuk mengukur hasil usaha yang telah dicapai
perusahaan tersebut selama perioda tertentu, serta prospek hasil usaha
tersebut di masa yang akan datang. Hal tersebut penting bagi pemilik
perusahaan sebagai dasar pertimbangan dalam penentuan keputusan
investasi untuk masa yang akan datang.

2.2 Pengertian Perspektif Informasi


Information perspective berkaitan dengan penyamaan kegunaan
(usefulness) informasi dengan kandungan informasi (information content).
Information perspective pada pelaporan keuangan adalah suatu pendekatan
yang mengakui tanggungjawab individual untuk memprediksi kinerja masa
depan perusahaan yang berkonsentrasi pada penyediaan informasi yang
bermanfaat untuk tujuan tersebut. Pendekatan ini mengakui bahwa pasar akan
bereaksi terhadap informasi yang bermanfaat dari manapun sumbernya,
termasuk laporan keuangan. Ada ungkapan yang menyatakan the proof of
the pudding is in the eating. Apabila teori pasar modal efisien dan teori
keputusan yang mendasarinya merupakan gambaran realitas, maka nilai
sekuritas tentu dapat diprediksi dengan adanya informasi baru.
Untuk membuktikan ini diperlukan penelitian empiris dalam
akuntansi. Walapun sulit dalam perancangan riset eksperimen untuk menguji
hal ini, riset akuntansi telah menemukan bahwa pasar bereaksi setidaknya
terhadap komponen laba dalam informasi akuntansi. Bukti tentang hal ini
pertama kali ditemukan oleh Ball dan Brown (1968). Kalau pasar bereaksi,
berarti bahwa informasi digunakan untuk pengambilan keputusan. Inilah yang
dinyatakan bahwa bukti enak tidaknya puding adalah dengan memakannya.
Akuntan dapat membantu meningkatkan kegunaan (usefulness) dengan
menggunakan pedoman respon pasar sebagai dasar untuk menyediakan
informasi yang dibutuhkan oleh investor.

2.2.1

Alasan pasar bereaksi terhadap informasi


a. Keyakinan sebelumnya (prior belief) investor yang didasarkan pada
informasi yang telah tersedia tidak sama. Ketidaksamaan tersebut
dipengaruhi oleh besar-kecilnya informasi yang diperoleh dan
kemampuan untuk menginterpretasi informasi.
b. Dengan masuknya informasi baru berupa laba, sebagian investor
menjadi lebih informed dan merevisi ekspektasinya (upward) dengan
datangnya berita baik ini. Namun sebagian investor lain yang
sebelumnya memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi mungkin akan
menginterpretasikan informasi laba tersebut sebagai berita buruk
(downward).
c. Investor yang merevisi ekspektasinya upward akan bersedia membeli
sekuritas pada harga sekarang, sedangkan investor yang merevisi
ekspektasinya downward akan melakukan sebaliknya.
d. Kita dapat mengobservasi jumlah sekuritas yang diperdagangkan
dengan munculnya informasi baru berupa laba ini. Seharusnya volume
perdagangan akan semakin besar dengan semakin besarnya perbedaan
ekspektasi antara investor yang bersikap upward dengan yang bersikap
downward.

2.2.2

Temuan tentang Respon Pasar menurut Ball and Brown (1968)


Pada tahun 1968, Ball dan Brown (BB) memulai tradisi riset empiris
pasar modal. BB menguji sampel 261 perusahaan publik yang terdaftar di
NYSE dari tahun 1957 sampai 1965. Studi ini bertujuan untuk mengetahui
respon pasar terhadap kandungan informasi laporan keuangan. Perusahaan
yang terdaftar di NYSE biasanya mengumumkan laporan keuangan lebih
dahulu melalui media massa baru kemudian dikeluarkan laporan keuangan
tahunan secara resmi. Perlu diketahui bahwa laporan keuangan tahunan
yang berakhir bulan Desember terbit sekitar bulan Februari tahun
berikutnya.
Ball dan Brown menguji apakah kandungan laba yang diumumkan
lebih besar dari ekspektasi pasar (good news) atau lebih kecil dari
ekspektasi pasar (bad news). Hal ini membutuhkan proksi ekspektasi
pasar. BB menggunakan laba tahun lalu sebagai proksi.
BB menemukan bahwa dalam rentang waktu sempit, narrow
window, yaitu 1 bulan (dalam bulan Februari tersebut), investor
mendapatkan keuntungan abnormal positif (keuntungan di atas rata-rata
pasar) untuk pengumuman good news dan kerugian abnormal negatif
(kerugian di bawah rata-rata pasar) untuk pengumuman bad news.
Pola tersebut ternyata konsisten. Pengumuman laba good news,
dengan sampel 1.231, menunjukkan keuntungan abnormal positif dalam
bulan pengumuman laba yang sama. Demikian juga dengan pengumuman
laba bad news, dengan sampel 1.109, menunjukkan kerugian abnormal
negatif dalam bulan pengumuman yang sama. Temuan ini menunjukkan
bahwa pasar bereaksi terhadap informasi laba yang diumumkan.
Pengujian kemudian dikembangkan dengan rentang waktu lebih
lebar, wider window, yaitu 18 bulan (11 bulan sebelum bulan

pengumuman, dan 6 bulan setelah bulan pengumuman).


Tingkat
keuntungan dan kerugian abnormal cenderung berkurang dengan
bertambahnya dimensi waktu. Pada kasus ini, saham dengan pengumuman
goodnews yang diperoleh 11 bulan sebelum pengumuman dan dijual akhir
bulan ke 6 setelah pengumuman memperoleh keuntungan 6% di atas
keuntungan rata-rata pasar. Sedangkan saham dengan pengumuman bad
news yang dibeli 11 bulan sebelum pengumuman dan dijual akhir bulan ke
6 setelah pengumuman memperoleh kerugian 9% di bawah pasar. Reaksi
investor terhadap pengumuman berkurang dengan bertambahnya dimensi
waktu.
Reaksi pasar terhadap informasi akuntansi dalam narrow window
lebih tinggi karena dalam waktu singkat tidak terjadi kejadian tertentu
yang mempengaruhi pasar, kecuali informasi laba. Sedangkan reaksi pasar
terhadap informasi akuntansi dalam wider window berkurang karena dalam
waktu yang relatif panjang dapat terjadi hal-hal lain selain pengumuman
laba yang terkait dengan saham.
2.2.3

Temuan Tentang Respon Pasar Menurut Beaver (1968)


Beaver (1968) menguji volume perdagangan sekitar pengumuman
earnings. Ada 506 pengumuman earnings dari sebanyak 143 perusahaan di
NYES dari tahun 1961 sampai 1965 (ada 261 minggu).
Beaver menghitung rata-rata volume perdagangan disekitar
pengumuman earnings dengan window 17 minggu (8 minggu sebelum
minggu pengumuman, minggu pengumuman, dan 8 minggu setelah
minggu pengumuman). Hasilnya? Ada kenaikan volume secara dramatis
pada minggu 0 dan di bawah normal dalam minggu-minggu sebelum
minggu pengumuman.
Peningkatan volume perdagangan di minggu 0 menunjukkan bukti
bahwa pasar bereaksi terhadap pengumuman earnings dan ada kandungan
informasi dari pengumuman earnings. Hal ini juga menjadi bukti bahwa
informasi earnings dipergunakan oleh investor dalam pengambilan
keputusan.
Volume perdagangan di bawah normal pada minggu-minggu
sebelum minggu pengumuman karena tidak ada informasi yang signifikan
yang dapat dijadikan oleh investor untuk merevisi probabilitas tentang
return masa depan diharapkan yang telah dibuat. Karena itu, begitu ada
pengumuman earnings, reaksinya muncul dengan cepat karena investor
segera merevisi ekspektasinya.
Hasil riset Beaver ini mendukung decision usefulness, yaitu suatu
pendekatan yang mengakui tanggungjawab individual untuk memprediksi
kinerja perusahaan masa depan yang berkonsentrasi pada penyediaan
informasi yang bermanfaat untuk tujuan tersebut. Pendekatan ini
mengakui bahwa pasar akan bereaksi terhadap informasi yang bermanfaat
dari manapun sumbernya, termasuk laporan keuangan. Kalau pasar
bereaksi, berarti bahwa informasi digunakan untuk pengambilan
keputusan. Inilah yang dinyatakan dengan ungkapan bahwa the proof of
the pudding is in the eating.

Beaver menggunakan volume perdagangan sebagai indikator


decision usefulness. Hal ini dilakukan karena adanya anggapan bahwa
volume perdagangan lebih tepat digunakan untuk menggambarkan
ekspektasi dan reaksi investor secara individual. Volume perdagangan
dianggap lebih sensitif terhadap informasi akuntansi. Sedangkan harga
menggambarkan ekspektasi dan reaksi pasar, bukan investor individual.
Karena itu, volume perdagangan lebih tepat digunakan daripada harga.
2.2.4

Earning Response Coefficients (ERC)


ERC adalah koefisien yang mengukur besarnya keuntungan
abnormal sebuah sekuritas sebagai respon terhadap komponen tidak
diharapkan (unexpected component) informasi keuangan. Seperti
dijelaskan sebelumnya, BB menemukan keuntungan abnormal positif
terhadap berita baik dan negatif terhadap berita buruk secara rata-rata.
Mengapa pasar merespon lebih kuat terhadap berita baik atau berita buruk
pada suatu perusahaan dibandingkan perusahaan lain? Penyebab hal ini
adalah ERC yang berbeda.
Faktor yang menentukan perbedaan ERC:
1. Beta. Semakin tingi beta (semakin tinggi risiko keuntungan
diharapkan masa depan), semakin rendah reaksi investor
terhadap jumlah earnings tidak diharapkan.
2. Capital structure. Apabila tingkat leverage perusahaan tinggi,
pengumuman informasi laba lebih merupakan berita baik bagi
kreditor daripada bagi pemegang saham. Karena itu, reaksi
pasar lebih rendah terhadap berita baik perusahaan dengan
tingkat leverage yang tinggi dibandingkan tingkat leverage
lebih rendah.
3. Persistence. Reaksi pasar lebih tinggi terhadap informasi laba
yang diharapkan berlaku konsisten dalam jangka panjang
dibandingkan informasi laba yang bersifat sementara. Reaksi
pasar lebih tinggi terhadap pengumuman laba karena
pengenalan produk baru daripada pengumuman laba karena
penjualan aktiva tetap.
4. Earnings quality. Semakin tinggi kualitas earnings diharapkan
semakin tinggi ERC. Kualitas earnings adalah besarnya
probabilitas main diagonal dalam kaitannya dengan informasi.
5. Growth opportunity. Berita baik dan berita buruk
mengimplikasikan prospek akan pertumbuhan laba. Semakin
tinggi pertumbuhan laba akan semakin besar reaksi pasar
(semakin tinggi ERC).
6. The informativeness of price (firm size). Semakin informatif
harga (proksinya adalah firm size), semakin sedikit kandungan
informasi tentang pengumuman laba. Reaksi pasar tidak terlalu
besar atas pengumuman laba perusahaan besar yang sering
muncul dalam perberitaan dan media massa.

2.2.5

Capital Assets Pricing Models (CAPM)


Investor menggunakan informasi akuntansi untuk meminimalkan
risiko dan memaksimalkankeuntungan. Kebanyakan investor menolak
risiko. Oleh karena itu investasi yang berisiko tinggi harusmemberikan
keuntungan yang lebih tinggi pula untuk memikat investor. Hal ini berarti
investormemerlukan informasi mengenai tingkat risiko dan keuntungan
yang mungkin didapatkan.
CAPM merupakan alat untuk memprediksi keseimbangan imbal
hasil dari asset berisiko. Markowitz (1952) meletakkan pondasi
manajemen portofolio modern. Kemudian, CAPM dikembangkan 12 tahun
kemudian dalam artikel Sharpe (1964), Lientner (1965), dan Mossin
(1966).
Tandelilin (2010) menjelaskan bahwa CAPM merupakan model
untuk menentukan harga suatu aset. Model ini mendasarkan diri pada
kondisi ekuilibrium. Dalam keadaan ekuilibrium, tingkat keuntungan yang
disyaratkan oleh investor untuk suatu saham akan dipengaruhi oleh risiko
saham tersebut. Dalam hal ini, risiko yang diperhitungkan hanyalah risiko
sistematis atau risiko pasar yang diukur dengan beta. Sedangkan risiko
tidak sistematis tidak relevan karena risiko ini dapat dihilangkan dengan
cara diversifikasi.
Brigham & Houston (2006) menjelaskan bahwa model ini
didasarkan pada adanya dalil bahwa tingkat pengembalian yang
diharapkan dari saham adalah sama dengan tingkat pengembalian bebas
risiko plus premi risiko yang hanya tinggal mencerminkan risiko yang
tersisa setelah dilakukan diversifikasi. Tingkat keuntungan yang
diharapkan dari suatu saham adalah tingkat keuntungan bebas risiko
ditambah dengan premi risiko. Semakin besar risiko saham tersebut,
semakin tinggi premi risiko yang diharapkan dari saham tersebut. Maka,
semakin tinggi pula tingkat keuntungan yang diharapkan dari saham
tersebut.
Bodie, Kane, & Markus (2006) menyatakan bahwa ada asumsi pada
model CAPM, yaitu:
a. Terdapat banyak investor, masing-masing dengan jumlah
kekayaan yang sangat kecil dibandingkan total kekayaan seluruh
investor. Para investor adalah penerima harga yang berarti mereka
akan bertindak sekalipun harga pasar tidak akan dipengaruhi oleh
perdagangan yang mereka lakukan. Ini merupakan asumsi yang
biasa digunakan dalam pasar persaingan sempurna pada ilmu
ekonomi mikro.
b. Seluruh investor merencanakan untuk satu perioda investasi yang
identic. Perilaku ini merupakan pandangan jangka pendek karena
mengabaikan apa yang akan terjadi setelah akhir perioda horizon
waktu tunggal tersebut. Perilaku dari pandangan jangka pendek
ini jelas tidak optimal.
c. Investasi dibatasi hanya pada aset keuangan yang diperdagangkan
secara umum seperti saham dan obligasi, serta pada kesepakatan
pinjaman dan pemberian pinjaman yang bebas risiko. Asumsi ini
mengeluarkan investasi pada aset yang tidak diperdagangkan

seperti pendidikan, perusahaan perseorangan, dan aset yang


didanai pemerintah seperti lapangan udara. Juga diasumsikan
bahwa investor dapat meminjam dan meminjamkan dalam jumah
berapa pun pada tingkat bunga yang tetap dan bebas risiko.
d. Investor tidak membayar pajak atas imbal hasil dan juga tidak
terdapat biaya transaksi atas perdagangna sekuritas.
Kenyataannya, kita tahu bahwa investor menghadapi tarif pajak
yang berbeda, sehingga dapat mengarahkan jesnis sekuritas di
mana dia berinvestasi. Contohnya, implikasi pajak mungkin
berbeda tergantung pada apakah pendapatan itu berasal dari
bunga, dividen, atau keuntungan modal. Selain itu, tentu saja
perdagangan yang sesungguhnya menimbulkan biaya transaksi, di
mana komisi atau biasa jasa yang dikeluarkan tergantung pada
besarnya perdagangan dan posisi investor individu masingmasing.
e. Seluruh investor berusaha mengoptimalkan imbal hasil risiko
yang rasio, yang berarti mereka semua akan menggunakan model
pemilihan portofolio Markowitz.
f. Seluruh investor menganalisis sekuritas dengan cara yang sama
dan mempunyai pandangan ekonomi yang sama tentang dunia
yang dihadapi. Hasilnya adalah estimasi distribusi probabilitas
arus kas yang sama di masa depan atas investasi pada suatu
sekuritas. Dengan kata lain, untuk setiap perangkat harga
sekuritas, mereka mendatpkan daftar masukan yang sama untuk
menggunakan model Markowitz. Dengan harga sekuritas dan
tingkat bunga bebas riisiko tertentu, seluruh investor akan
menggunakan matriks imbal hasil yang diharapkan dan kovarians
yang sama dari imbal hasil sekuritas untuk menghasilkan batasan
yang efisien serta portofolio aset berisiko yang optimal. Asumsi
ini sering kali sebut sebagai homogenous expectation.

BAB 3
KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan
kegunaan keputusan (decision usefulness) maka informasi akuntansi akan lebih
reliabel dan relevan. Kegunaan keputusan merupakan suatu pendekatan terhadap
laporan keuangan yang berdasarkan biaya historis agar lebih berguna. Selama ini
penyajian laporan keuangan harus menekankan pada karateristik kualitatif laporan
keuangan, yaitu reliabilitas dan relevansi. Reliabilitas merupakan penyajian
informasi yang terkandung di dalam laporan keuangan harus dapat diandalkan jika
cukup terbebas dari kesalahan dan penyimpangan merupakan suatu penyajian
yang jujur. Sebaliknya, relevansi adalah informasi akuntansi keuangan yang
relevan mempunyai pengaruh terhadap keputusan ekonomi yang menggunakan
/informasi akuntansi keuangan itu. Pendekatan kegunaan keputusan dapat
digunakan dengan dua perspektif, yaitu perspektif informasi dan perspektif
pengukuran. Perspektif informasi lebih menekankan pada kandungan informasi
yang ada dalam laporan keuangan. Sebaliknya, perspektif pengukuran
menekankan pada pemilihan metode pengukuran terhadap laporan keuangan.
Informasi yang dipublikasika sebagai suatu pengumuman akan
memberikan sinyal bagi investor dalam pengambilan keputusan investasi. Jika
pengumuman tersebut megandung nilai positif, maka diharapkan pasar akan
bereaksi pada waktu pengumuman tersebut diterima oleh pasar. Reaksi pasar
terhadap sinyal tersebut ditunjukkan dengan adanya perubahan volume
perdagangan saham dan harga saham. Pada waktu informasi diumumkan dan
semua pelaku pasar sudah menerima informasi tersebut, pelaku pasar terlebih
dahulu menginterpretasikan dan menganalisis informasi tersebut sebagai sinyal
baik (good news) atau sinyal buruk (bad news). Jika pengumuman informasi
tersebut sebagai sinyal baik bagi investor, maka terjadi perubahan dalam volume
perdagangan saham dan harga saham.
Pengumuman informasi akuntasi memberikan sinyal bahwa perubahan
mempunyai prospek yang baik di masa mendatang (good news) sehingga investor
tertarik untuk melakukan investasi dalam perusahaan yang bersangkutan, yang
membuat pasar akan bereaksi yang tercermn melalui perubahan dalam volume
perdagangan saham dan harga saham. Dengan demikian, hubungan publikasi
informasi baik laporan keuangan, kondisi keuangan ataupun sosial politik dengan
fluktuasi volume perdagangan saham dapat dilihat dalam efisien pasar. Pasar
modal akan efisien ketika di pasar tersebut yang harga sekuritas-sekuritasnya telah
mencerminkan semua informasi yang relevan.
Untuk meningkatkan bagaimana informasi akuntansi menjadi lebih
useful diperkenalkan dua pendekatan kegunaan keputusan, yaitu pendekatan
informasi (the informasi approach) dan pendekatan pengukuran (the
meansurement approach). Pendekatan informasi lebih menfokuskan pada
bagaimana laporan keuangan bberbasis biaya historis (historical cost) lebih useful
sehingga mampu dijadikan sebagai acuan oleh investor untuk memprediksi
kinnerja perusahaan di masa yang akan datang. Pendekatan pegukuran lebih

menfokuskan pada bagaimana peran akuntan dalam memasukkan nilai sekarang


(current value) dalam penyusunan laporan keuangan. Kedua pendekatan tersebut
sebenarnya menunjukkan adanya trade off antara reliabilitas dan relevansi.
Sebelum memahami pendekatan kegunaan keputusan (decision usefulness
approach).

DAFTAR PUSTAKA

Jati, Budhi Purwantoro. 2011. Kebermanfaatan Informasi Akuntansi Bagi Investor


untuk Menaksir Risiko Investasi di Pasar Modal: Sebuah Tinjauan
Pustaka.Jurnal. Akademi Akuntansi YKPN.
Septyanto, Dihin. 2015. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Investor Individu
dalam Pengambilan Keputusan Investasi Sekuritas di Bursa Efek
Indonesia (BEI). Jurnal. Fakultas Ekonomi: Universitas Esa Unggul
Jakarta.
Setiaji, dkk. 2015. Usefulness of Accounting Information to Investors and
Creditors (SAK IFRS Dan SAK-ETAP). Tugas Akhir. Fakultas Ekonomi
dan Bisnis: Universitas Ma Chung.
Siregar, Baldric. 2004. The Information Perspective on Decision Usefulnes.