Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada umumnya setiap individu memiliki suatu kebutuhan hidup, mulai
dari yang sederhana (primer) sampai kebutuhan yang lebih atau luas (tersier).
Karena untuk memenuhi kebutuhannya, setiap individu memerlukan suatu tempat
untuk memenuhi kebutuhannya. Maka dari itu, manusia memerlukan organisasi
untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya. Baik itu organisasi di bidang pendidikan,
hobi, pekerjaan, dan lain lain. Perilaku organisasi khususnya dalam dinamika
perilaku individu dijelaskan dasar-dasar perilaku individu, karakteristik biografis,
kemampuan, kepribadian dan pembelajaran yang berpengaruh dalam pencapain
tujuan.
Perilaku adalah suatu fungsi dari interaksi antara seseorang individu
dengan lingkungannya.[1] Pengertian tersebut menunjukkan bahwa seorang
individu dengan lingkungannya amat menentukan perilaku yang nampak antara
keduanya secara langsung seperti halnya individu dengan organisasi yang
mempunyai sifat-sifat atau karakteristik tersendiri dan apabila keduanya saling
berinteraksi akan menimbulkan perilaku individu dalam organisasi. Keberhasilan
yang dilakukan dalam organisasi dapat diukur dari sejauh mana kinerja individuindividu yang tergabung didalamnya. Berbagai upaya dilakukan dalam rangka
meningkatkan produktivitas pelaku individu agar dapat menghasilkan kinerja
yang maksimal.
Perilaku individu satu dengan yang lainnya tentunya sangat berbeda.
Setiap individu akan membawa karakteristik individualnya masing-masing,
sehingga akan berdampak kepada kinerjanya pula. Karakteristik tersebut dapat
berupa kemampuan, kepercayaan pribadi, pengharapan-pengharapan, kebutuhan
dan pengalaman pada masa lalunya. Selain itu perbedaan tersebut dapat
didasarkan atas kemampuan, karakteristik biografis, dan kepribadian yang
dimilikinya.

Kinerja yang baik dapat dicapai apabila ada kesesuaian antara pekerjaan
dengan kemampuan yang dimiliki karyawan. Disinilah manajemen berperan
dalam membentuk perilaku individu. Dengan menganalisis perilaku-perilaku yang
ada dalam individu manajer mampu memberi keputusan yang tepat untuk
mendapatkan hasil yang maksimal atas upaya peningkatan produktivitas
organisasi.

1.2 Rumusan Masalah


Dengan memperhatikan latar belakang tersebut, agar dalam penulisan ini
penulis memperoleh hasil yang diinginkan, maka penulis mengemukakan
rumusan masalah. Rumusan masalah itu adalah:
1. Apakah yang dimaksud dengan perilaku individu?
2. Apa sajakah karakteristik biografis yang dimiliki individu?
3. Bagaimanakah konsep kemampuan, kepribadian, dan pembelajaran dalam
mengetahui perilaku individu di dalam organisasi?

1.3 Tujuan Penulisan


Dengan memperhatikan latar belakang dan rumusan masalah tersebut,
agar dalam penulisan makalah ini penulis dapat memperoleh hasil yang
diinginkan, maka penulis mengemukakan tujuan penulisan makalah. Tujuan
penulisan makalah tersebut adalah:
1. Untuk mengetahui pengertian perilaku individu.
2. Untuk mengetahui karakteristik biografis yang dimiliki individu.
3. Untuk mengetahui konsep kemampuan, kepribadian, dan pembelajaran
dalam mengetahui perilaku individu di dalam organisasi.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Perilaku Individu


Menurut Gibson (1996) perilaku individu adalah segala sesuatu yang
dilakukan seseorang, seperti berbicara, berjalan, berfikir atau tindakan dari suatu
sikap. Menurut Kurt Levin perilaku (Behavior-B) individu pada dasarnya
merupakan fungsi dari interaksi antara individu (personP) yang bersangkutan
dengan lingkungan (environmenE).
Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa perilaku
individu dapat diartikan sebagai suatu sikap/tindakan serta segala sesuatu yang
dilakukan manusia baik yang dilakukan dalam bekerja maupun diluar pekerjaan,
seperti berbicara, bertukar pendapat, berjalan dan sebagainya.
Setiap individu memiliki karakteristik yang berbeda antara satu dengan
lainnya. Ada beberapa alasan mengapa manusia/individu yang menyebabkan
perbedaan perilaku antara individu yang satu dengan yang lainnya, antara lain:
a. Kemampuan dan keahlian yang dimiliki masing-masing individu;
b. Kebutuhan dan keinginan yang berbeda;
c. Pandangan terhadap masa depan (perspektif) dan pilihan-pilihan untuk
berperilaku dan bertindak; dan
d. Respon atau reaksi terhadap fenomena atau peristiwa tertentu (kognisi,
afeksi dan konasi).

2.2 Karakteristik Biografis


Karakteristik biografis adalah karakteristik pribadi, yang tercakup banyak
dan berisi sejumlah konsep yang kompleks. Data-data karakteristik biografis lebih
mudah diperoleh melalui responden sendiri atau melalui dokumen pribadi di
bagian personalia. Karakteristik biografis terdiri dari usia, jenis kelamin, status
perkawinan, dan banyaknya tanggungan, dan masa kerja dalam organisasi.[2]
Setiap individu tentu saja memiliki karakteristik individu yang menentukan

terhadap perilaku individu. Yang pada akhirnya menghasilkan sebuah motivasi


individu.
a. Usia
Hubungan antara usia dan kinerja pekerjaan merupakan suatu masalah yang
penting. Ada sedikitnya tiga alasan untuk ini. Pertama, adanya kepercayaan
yang luas bahwa kinerja pekerjaan menurun seiring bertambahnya usia.
Kedua, suatu kenyataan bahwa angkatan kerja semakin menua. Dan alasan
ketiga adalah perundang-undangan Amerika Serikat, yang dengan segala
alas an, melarang perintah pensiun. Sekarang, sebagian besar pekerja
Amerika Serikat tidak harus pensiun pada usia 70.
Usia dapat menggambarkan tentang pengalaman, penilaian, etika kerja yang
kuat, dan komitmen terhadap kualitas, seperti berikut ini:
i.

hubungan Umur Turnover


umur meningkat maka tingkat turnover menurun. Alasannya karena
alternatif pekerjaan (option) yang semakin sedikit, penghasilan
lebih tinggi yang telah diperoleh, dan tunjangan pensiun yang lebih
menarik.

ii.

Hubungan Umur Absensi


Umur meningkat, maka ketidakhadiran yang disengaja menurun,
dan ketidakhadiran yang tidak disengaja meningkat pula.
Mengingat umur yang bertambah berarti adanya keluarga yang
harus dibina. ketidakhadiran yang disengaja jarang sekali
dilakukan, karena melihat pada nilai gaji yang terpotong bila tidak
masuk kerja. Dan ketidakhadiran yang tidak disengaja meningkat
pula, contoh : bila ada salah satu anaknya yang sakit.

iii.

Hubungan Umur Produktivitas


umur

meningkat,

menurunnya
meningkatnya
rangsangan

maka

kecepatan,
kejenuhan
intelektual.

produktifitas
kecekatan,
atau
Namun

menurun.

dan

kebosanan,
ada

Alasan;

kekuatan.
dan

juga

Juga

kurangnya

study

yang

mengemukakan bahwa hubungan umur dengan produktifitas


ternyata tidak ada hubungannya sama sekali. Dengan alasan:

menurunnya ketrampilan jasmani tidak cukup ekstrem bagi


menurunnya produktifitas. Dan meningkatnya umur biasanya
diimbangi dengan meningkatnya pengalaman.
iv.

Hubungan umur kepuasan kerja


bagi karyawan profesional; kepuasan cenderung meningkat secara
terus menerus seiring bertambahnya usia mereka. Bagi karyawan
non-profesional; kepuasan merosot selama usia tengah baya dan
kemudian

naik

lagi

dalam

tahun-tahun

selanjutnya.

Bila

digambarkan dalam bentuk kurva, akan berbentuk kurva U.


b. Jenis kelamin (Gender)
Hanya

terdapat

sedikit

perbedaan

antara

pria

dan

wanita

yang

mempengaruhi kinerja mereka misalnya tidak terdapat perbedaan yang


konsisten antara pria dan wanita dalam hal kemampuan memecahkan
masalah, menganalisis, dorongan kompetitif, motivasi, sosiabilitas atau
kemampuan belajar. Berbagai penelitian psikologis menyatakan bahwa para
wanita lebih bersedia menyesuaikan diri terhadap otoritas dan pria lebih
agresif serta lebih mungkin untuk memiliki

pengharapan sukses

dibandingkan para wanita, tapi perbedaan-perbedaan tersebut kecil. Satu


permasalahan yang tampak memang berbeda dalam hal gender. Khususnya
saat karyawan memilki anak usia prasekolah, adalah preferensi terhadap
jadwal kerja. Seorang ibu yang bekerja kemungkinan lebih memilih jadwal
kerja paruh waktu yang fleksibel sebagai cara untuk mengakomodasi
tanggung jawab keluarga.
i.

Tidak ada beda yang signifikan / bermakna dalam produktifitas kerja


antara pria dengan wanita.

ii.

Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa jenis kelamin karyawan


memperngaruhi kepuasan kerja.

iii.

Hubungan gender turnover. beberapa studi menjumpai bahwa


wanita mempunyai tingkat keluar yang lebih tinggi, dan studi lain
menjumpai tidak ada perbedaan antara hubungan keduanya.

iv.

Hubungan gender absensi. wanita mempunyai tingkat absensi yang


lebih tinggi (lebih sering mangkir). dengan alasan : wanita memikul

tanggung jawab rumah tangga dan keluarga yang lebih besar, juga
jangan lupa dengan masalah kewanitaan.
c. Ras
Ras telah dipelajari sedikit banyak dalam perilaku organisasi, khususnya
dalam hubungannya terhadap hasil-hasil pekerjaan seperti keputusan
pemilihan personel, evaluasi kinerja, dan diskriminasi di tempat kerja.
Dalam situasi pekerjaan, terdapat sebuah kecenderungan bagi individu
untuk lebih menyukai rekan-rekan kerja dari ras mereka sendiri dalam
evaluasi kinerja, keputusan promosi, dan kenaikan gaji.
d. Status kawin
Mengenai dampak status perkawinan dengan produktivitas tidak cukup
penelitian untuk menarik kesimpulan. Namun penelitian yang konsisten
menjelaskan bahwa karyawan yang menikah lebih sedikit absensinya,
mengalami pergantian lebih rendah, dan lebih puas dengan pekerjaan
daripada rekan sekerjanya yang masih lajang.
e. Masa kerja atau masa jabatan
Tinjauan ektensif mengenai hubunga senioritas dan produktivitas kerja telah
dilakukan. Dimana adanya hubungan positif antara senioritas dan
produktivitas kerja, dimana masa kerja diekspresikan sebagai pengalaman
kerja, yang menjadi dasar untuk perkiraan yang baik atas produktivitas
karyawan. Secara konsisten menunjukkan bahwa senioritas berhubungan
negative dengan tingkat ketidakhadiran. Bahkan dalam hubungannya baik
dengan frekuensi absensi dan total hari kerja yang hilang, masa jabatan
merupakan variable penting yang berpengaruh.
2.3 Kemampuan
Kemampuan adalah kapasitas seorang individu

untuk melakukan

beragam tugas dalam suatu pekerjaan. Kemampuan adalah sebuah penilaian


terkini atas apa yang dapat dilakukan seseorang. Kemampuan merujuk ke
kepastian individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam pekerjaan tertentu.
Itulah penilaian tentang apa yang dapat dilakukan seseorang. Kemampuan

keseluruhan seseorang pada hakikatnya tersusun dari 2 faktor kemampuan


intelektual dan kemampuan fisik.
a. Kemampuan fisik
Kemampuan fisik (physical abilities) kemampuan melakukan tugas-tugas
yang menuntut stamina, keterampilan, kekuatan, kecekatan,dan karakteristik
serupa. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan bahwa kemampuan
dasar yang dilibatkan karyawan dalam melakukan pekerjaan jasmani, dan
masing-masing individu berbeda kemampuan dasar yang dimiliki.
1) Faktor Kekuatan
i. Kekuatan Dinamis adalah kekuatan yang menggunakan otot

2)

ii.

secara terus menerus atau berulang-ulang.


Kekuatan Tubuh adalah kemampuan memanfaatkan kekuatan

iii.

otot menggunakan otot tubuh (khususnya otot perut).


Kekuatan Statis adalah kemampuan menggunakan kekuatan

iv.

terhadap objek eksternal..


Kekuatan Eksplosif adalah kemampuan mengeluarkan energi

maksimum dalam satu atau serangkaian tindakan eksplosif


Faktor Fleksibilitas
i. Fleksibikitas Luas adalah kemampuan menggerakan tubuh dan
ii.

otot punggung sejauh mungkin.


Fleksibilitas Dinamis adalah kemampuan membuat gerakan-

gerakan lentur yang cepat dan berulang-ulang.


3) Faktor Lainnya
i. Koordinasi Tubuh adalah Kemampuan mengoordinasikan
tindakan secara bersamaan dari bagian-bagian tubuh yang
ii.

berbeda.
keseimbangan

adalah

kemampuan

mempertahankan

keseimbangan meskipun tedapat gaya yang mengganggu


iii.

keseimbangan.
Stamina adalah kemampuan menggerakan upaya maksimum
yang membutuhkan usaha berkelanjutan.

Ketika kemampuan-pekerjaan tidak sesuai karena karyawan memiliki


keterampilan yang jauh melebihi persyaratan untuk pekerjaan tersebut,
kinerja pekerjaan kemungkinan akan memadahi tetapi akan terdapat
ketidakefesienan dan penuruna tingkat kepuasan karyawan. Kemampuan
Intelektual atau Fisik tertentu yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan

dengan memadai bergantung pada persyaratan kemampuan dari pekerjaan


tersebut.
Sebagai contoh seorang pilot membutuhkan kemampuan visualisasi spasial
yang kuat dan koordinasi tubuh yang baik. Mengarahkan perhatian hanya
pada kemampuan karyawan atau pada persyaratan kemampuan dari
pekerjaan akan mengabaikan fakta bahwa kinerja karyawan bergantung
pada interaksi keduannya.
b. Kemampuan intelektual
Kemampuan Intelektual (intelektual ability) adalah kemampuan yang
dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktivitas mental-berpikir, menalar
dan memecahkan masalah. Untuk mengetahui kemampuan intelektual
seseorang dapat menggunakan test IQ dan test-test lain untuk masuk ke
sebuah perguruan tinggi. Ada tujuh dimensi yang membentuk kemampuan
intelektual yakni :
i.

Kecerdasan angka (Number aptitude) adalah kemampuan


melakukan artimatika dengan cepat dan akurat.

Contoh :

pekerjaan sebagai akuntan.


ii.

Pemahaman verbal (Verbal comprehension) adalah kemampuan


memahami apa yang dibaca atau didengar dan hubungan antara
kata-kata. Contoh : pekerjaan manajer pabrik.

iii.

Kecepatan persepsi (Perceptual speed) adalah kemampuan


mengidentifikasi kemiripan dan perbedaan visual sevara cepat
dan akurat. Contoh : pekerjaan penyelidik kebakaran.

iv.

Penalaran induktif (Inductive reasoning) adalah kemampuan


mengidentikfikasi urutan logis dalam sebuath masalah dan
kemudian memecahkan masalah tersebut. Contoh : pekerjaan
periset pasar.

v.

Penalaran deduktif (Deductive reasoning) adalah kemampuan


menggunakan logika dan menilai implikasi dari sebuah
argumen. Contoh : pekerjaan pengawas.

vi.

Daya bayang/visualisasi ruang (Spatial visualization) adalah


kemampuan membayangkan bagaimana sebuah objek akan

terlihat bila posisinya dalam ruang diubah. Contoh : pekerjaan


decorator interior.
vii.

Daya ingat (Memory) adalah kemampuan menyimpan dan


mengingat pengalaman masa lalu. Contoh : pekerjaan tenaga
penjual.

Kecerdasan intelektual dapat dibagi menjadi beberapa sub bagian (Multiple


Intelligences), diantaranya:
i.

Kognitif adalah meliputi kecerdasan yang lama diliput oleh tes-tes


kecerdasan tradisional. bakat yang diukur oleh tes IQ

ii.

Sosial adalah kekmpuan seseorang untuk berhubungan secara efektif


dengan individu lain.kemampuan berhubungan dengan orang lain
secara efektif

iii.

Emosi adalah kemampuan mengidentifikasi, memahami dan


mengelola emosi.

iv.

Budaya

adalah

kesadaran

akan

keberagaman

budaya

dan

kemampuan untukmenjalankan fungsi lintas budaya tersebut.


Multi-intelegensia dianggap mampu menjelaskan kenapa orang yang IQ-nya
tinggi tidak selalu berhasil. Test-test yang menilai semua kemampuan
tersebut merupakan suatu perkiraan yang valid terhadap kemampuan
pekerjaan pada semua tingkat pekerjaan. Segala test yang mengukur
kemampuan atau kecerdasan khusus merupakan perkiraan yang kuat dari
kinerja.
2.4 Kepribadian
Merupakan sifat dari seorang individu dalam bereaksi dan berinteraksi
dengan orang lain, serta cara individu tersebut bekerja dalam organisasi.
Kepribadian merupakan usunan karakteristik dan kecenderungan yang stabil yang
menentukan perbedaan dan kelaziman dalam perilaku manusia Kepribadian
terbentuk dari faktor keturunan, lingkungan (budaya, norma keluarga dan
pengaruh lainnya), dan juga situasi. Ciri dari kepribadian merupakan karakteristik
yang bertahan, yang membedakan perilaku seorang individu dengan individu

lainnya, seperti sifat malu, agresif, mengalah, malas, ambisius, setia, dan
sebagainya.
Robin dalam sopiah (2008) mengemukakan,personality is the dynamic
organization within the individual of those psychophycal systems that determine
his unique adjustment to this environment. Nimran dalam sopiah (2008)
memaknainya,kepribadian sebagai pengorganisasian yang dinamis dari sistem
psikofisik dalam diri individu yang menentukan penyesuaian diri dengan
lingkungannya. Dia menambahkan bahwa kepribadian sebagai keseluruhan cara
bagaimana individu beraksi dan berinteraksi dengan orang lain. Robbins dalam
sopiah (2008) mengartikan kepribadian sebagai cara dengan mana seseorang
bereaksi dan berinteraksi dengan orang lain. Adapun karakteristik kepribadian
yang popular di antaranya adalah agresif ,malu, pasrah, malas, ambisius, setia,
jujur. Semakin konsisten karakteristik tersebut di saat merepons lingkungan, hal
itu menunjukkan faktor keturunan atas pembawaan (traits) merupakan faktor yang
penting dalam membentuk keribadian seseorang.
Kunarto (2001) menyebutkan bahwa temperament we are born with,
sedangkan character we have to make. Berangkat dari pendapat ini, pribadi
seseorang selalu diwarnai oleh temperamen dan sekaligus karakter. Temperamen
berwarna sifat-sifat yang diperoleh dari keturunan. Sedangkan karakter terbentuk
oleh lingkungan dan situasi. Interaksi antara temperamen dan karakter itu yang
membentuk kepribadian seseorang. Orang yang karakternya terbentuk paada
lingkungan dan budaya kerja yang tinggi akan cenderung serius, ambisius, dan
agresif. Sedangkan orang yang berada pada lingkungan dan budaya yang
menekankan pada pentingnya bergaul baik dengan orang lain, maka ia akan lebih
memprioritaskan keluarga dibandingkan kerja dan karier.

Ada sejumlah atribut kepribadian yang perlu dicermati, diantaranya:


a. Daerah pengendalian (Locus of control)
Ada dua daerah pengendalian kepribadian, yaitu eksternal dan internal.
Kepribadian yang bersifat pengendalian internal adalah kepribadian di

10

mana seseorang percaya bahwa dialah yang mengendalikan apa yang


terjadi pada dirinya. Sedangkan sifat kepribadian pengendalian eksternal
adalah keyakinan seseorang bahwa apa yang terjadi pada dirinya
ditentukan

oleh

lingkungan

(diluar

dirinya),

seperti

nasib

dan

keberuntungan.
b. Paham Otoritarian
Paham ini berkeyakinan bahwa ada perbedaan status dan keyakinan pada
orang-orang yang ada dalam organisasi. Sifat kepribadian otoritarian yang
tinggi memiliki intelektual yang kaku, membedakan orang atau kedudukan
dalam

organisasi,

mengeksploitasi

orang

yang

memiliki

status

dibawahnya, suka curiga dan menolak perubahan.


c. Orientasi Prestasi
Orientasi juga merupakan karakteristik kepribadian yang dapat digunakan
untuk meramal perilaku orang. Mc Clelland, tentang kebutuhan untuk
berprestasi, menyebutkan bahwa ada dua karakteristik sifat kepribadian
seseorang yang memiliki kebutuhan untuk berprestasi tinggi, yaitu: (1)
Mereka secara pribadi ingin bertanggungjawab atas keberhasilan dalam
menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. (2) Mereka lebih senang
dengan suatu resiko. Resiko merupakan tantangan yang mengasyikkan.
Jika berhasil melewatinya maka ia akan merasa puas.
Adapun penjelasan dari faktor-faktor pembentuk kepribadian tersebut
adalah sebagai berikut :
a. Keturunan,
adalah faktor-faktor yang ditentukan di kandungan. Postur fisik, wajah
menarik, temperamen, komposisi otot , tingkat energi, dan ritme biologis
merupakan sifat-sifat yang umumnya dianggap dipengaruhi oleh ke dua
orang tua ( ibu-bapak). Kepribadian individu bersumber dari struktur
melekul genes yang terdapat dalam kromosom. Jadi sifat-sifat kepribadian
banyak ditentukan waktu lahir.
b. Lingkungan,
merupakan faktor-faktor yang memberi tekanan pada pembentukan
kepribadian seperti budaya dimana individu dibesarkan, norma-norma

11

diantara keluarga , teman dan kelompok social, serta pengaruh-pengaruh


lain yang kita alami. Contoh : Orang Amerika utara telah memperoleh
tema-tema kerajinan sukses, persaingan, dan kemandirian serta etos kerja
protestan , akibatnya mereka cenderung ambisius dan agresif.
c. Situasi,
adalah faktor yang mempengaruhi dampak keturunan dan lingkungan atas
kepribadian. Kepribadian individu, meskipun pada umumnya stabil dan
konsisten, dapat berubah pada situasi yang berbeda, Tuntutan yang
berbeda dari situasi yang berbeda menuntut aspek yang berbeda dari
kepribadian seseorang.
Bentuk-bentuk kepribadian akhirnya menentukanperilaku organisasi,
karenanya orang lalu mencari dan berusaha menemukan ciri-ciri kepribadian.
Hasil penelitian Edgar H. Schein yang dikutip dalam kunarto (2001) memperoleh
16 ciri kepribadian yaitu : (1)pendiam vs ramah, (2) kurang cerdas vs lebih cerdas,
(3) dipengaruhi perasaan vs emosional mantap, (4) mengalah vs dominan, (5)
serius vs suka bersenang-senang, (6) selalu siap vs selalu berhati-hati, (7) malumalu vs petualang, (8) keras hati vs peka, (9) mempercayai vs mencurigai, (10)
praktis vs imajinatif, (11) terus terang vs banyak muslihat, (12) percaya diri vs
takut-takut, (13) konservatif vs suka eksperimen, (14) bergantung kelompok
mandiri vs mandiri, (15) tak terkendali vs terkendali, (16) santai vs tegang.
Introversi

adalah

sifat

kepribadian

seseorang

yang

cenderung

menghabiskan waktu dengan dunianya sendiri dan menghasilkan kepuasan atas


pikiran dan perasaannya. Ekstroversi merupakan sifat kepribadian yang cenderung
mengarahkan perhatian kepada orang lain, kejadian di lingkungan dan
menghasilkan kepuasan dari stimulus lingkungan
Dalam perkembangannya, teori kepribadian memiliki tiga pendekatan,
yaitu: pendekatan sifat, pendekatan psikodinamis dan pendekatan humanis.
a. Teori Kepribadian Sifat (Trait)
didasarkan pada alasan predisposisi mengarahkan perilaku individu dalam
pola yang konsisten. Menurut Allport dalan Gibson (1996) sifat (Trait)
adalah merupakan batu bata ibarat pondasi dari suatu bangunan, alasan,
tindakan, sumber keunikan individu. Sifat adalah dugaan kecenderungan

12

yang mengarahkan perilaku secara konsisten dan ciri karakteristik tertentu.


Sifat menghasilkan konsistensi pada perilaku, karena sifat melanjutIcan
atribut dan cakupannya secara umum dan luas.
b. Teori Kepribadian Psikodinamis
menurut Freud bahwa perbedaan kepribadian individu itu karena setiap
orang mempunyai dasar yang berbeda. Ia membagi kepribadian menjadi
tiga bagian, yaitu: id, ego dan superego. Id adalah system kepribadian yang
paling dasar, system yang di dalamnya terdapat naluri-naluri bawaan. Ego
adalah sistem kepribadian yang bertindak sebagai pengarah individu
kepada dunia obyek dari kenyataan dan menjalankan fungsinya
berdasarkan prinsip kenyataan. Berdasarkan fungsinya tersebut maka ego
bertindak sebagai penengah konflik, seringkali ego harus kompromi, untuk
mencoba dan memuaskan Id dan Super-ego. Super-ego adalah sistem
kepribadian yang berisikan nilai-nilai dan aturan-aturan yang sifatnya
evaluatif (menyangkut baik buruk), dimana nilai-nilai termasuk di
dalamnya sikap moral tersebut dibentuk oleh masyarakat. Super-ego sering
bertentangan dengan Id, Id ingin melakukan apa yang dirasa baik
sementara Super-ego memaksa melakukan apa yang "benar".
c. Teori Kepribadian Humanistik
menurut Roger dalam Gibson (1996) pendekatan untuk memahami
kepribadian menekankan pada perkembangan individu dan aktualisasi diri
seseorang. Pendekatan dalam memahami kepribadian adalah humanistik
(berpusat pada manusia) dan percaya bahwa yang paling dasar dari
organisme manusia adalah untuk aktualisasi diri.

2.5 Pembelajaran
Semua perilaku yang rumit dipelajari. Jika kita ingin menjelaskan dan
memperkirakan perilaku, maka kita harus memahami cara orang belajar. Dalam
bagian

ini,

kami

mendefinisikan

pembelajaran,

13

menyajikan

tiga

teori

pembelajaran populer, dan menggambarkan cara manajer membantu karyawan


untuk belajar.
Pembelajaran (learning) terjadi setiap waktu. Pembelajaran secara umum
adalah setiap perubahan perilaku yang relative permanent, terjadi sebagai hasil
pengalaman. Perubahan perilaku menunjukkan bahwa pembelajaran telah terjadi
dan pembelajaran adalah perubahan perilaku.
Definisi yang secara umum dapat diterima atas pembelajaran adalah
setiap perubahan perilaku yang relatif permanen yang terjadi sebagai hasil dari
pengalaman. Menurut Stephen P. Robbins defenisi yang dikemukakannya
memiliki komponen yang perlu diklarifikasi, yakni :
a. Belajar itu sendiri melibatkan perubahan. Perubahan itu dapat baik atau
b.

buruk, tergantung dari perilaku yang dipelajari.


Pelajaran itu harus relative permanen. Perubahan sementara bersifat

c.

reflektif dan gagal mewakili pembelajaran apapun.


Melibatkan perilaku, artinya proses belajar dianggap sudah terjadi dapat

d.

dilihat adanya perubahan perilaku.


Beberapa bentuk pengalaman hidup penting artinya belajar. Pengalamanpengalaman inui dapat diperoleg secara langsung maupun secara tidak
langsung.
Teori pembelajaran dikemukakan untuk menjelaskan proses itu yang

dengannya kita mengenali pola-pola perilaku, yaitu:


a. Pengkondisian Klasik (Clasiccal conditional)
Dikemukakan oleh Paplov. Hasil percobaanya terhadap anjing mengenai
keterkaitan antara stimulus dan respon menunjukkan bahwa stimulus
yang tidak dikondisikan akan menghasilkan respons yang tidak
dikondisikan pula, dan melalui proses belajar maka stimulus yang
dikondisikan itu akan menghasilkan respons yang dikondisikan.
b.

Pengkondisian Operant (Operant conditional)


Menurut teori ini, perilaku merupakan fungsi dan akibat dari perilaku itu
sendiri.kecenderungan mengulangi sebuah perilaku tertentu dipengaruhi
penguatan yang disebabkan oleh adanya akibat daro perilaku itu.
Misalnya bila seorang karyawan berprestasi di atas standar kemudian
diberi insentif

oelh pimpinan, maka akan berdampak positif /

14

kesenangan sehingga pada bulan berikutnya karyawan itu akan


c.

melakukan hal yang sama untuk memperoleh imbalan


Pembelajaran Sosial (Social Learning)
Teori sosial tentang belajar adalah suatu proses belajar yang dilakukan
melalui suatu pengamatan dan pengalaman secara langsung. Agar
memperoleh hasil yang maksimal, ada empat hal yang harus diperhatikan
oleh seorang pengajar dalam melakukan proses belajar-mengajar yaitu :
i.
Proses perhatian, dimana pengajar harus menyampaikan materi
pelajaran dengan menarik, dan suasana belajar yang kondusif.
Orang belajar dari model tertentu hanya ketika mereka mengenali
dan menaruh perhatian pada fitur penting yang menentukan. Kita
cenderung sangat terpengaruh oleh model-model yang menarik,
muncul berulang-ulang, penting bagi kita, atau serupa dengan kita
ii.

menurut perkiraan kita.


Proses ingatan (retensi), dimana hasil belajar juga tergantung pada
seberapa bbesar daya ingat si subjek belajar. Pengaruh model
tertentu akan bergantung pada betapa baik individu mengingat

iii.

tindakan model itu setelah model itu tidak ada lagi.


Proses reproduksi, dimana subjek ajar setelah belajar harus
mengalami perubahan sikap, berpikir dan berperilaku. Setelah
seseorang melihat perilaku baru dengan mengamati model itu,
pengamatan itu akan berubah menjadi perbuatan. Maka proses ini
memperlihatkan bahwa individu tersebut dapat melakukan kegiatan

iv.

model itu.
Proses penguatan, dimana apabila subjek belajar telah belajar
dengan baik maka harus diberikan penguatan. Individu-individu
akan termotivasi untuk memperlihatkan perilaku bermodel tertentu
jika disediakan rangsangan positif atau hadiah. Perilaku-perilaku
yang dikuatkan melalui mekanisme positif akan lebih banyak
mendapat perhatian, dipelajari secara lebih baik, dan lebih sering
dilakukan. Misalnya, karyawan yang mengikuti pelatihan, setelah
selesai pelatihan dan kinerjanya menjadi lebih baik maka ia harus
mendapatkan imabalan yang sesuai.

15

Dalam hal ini manajemen mencoba membentuk perilaku individu dengan


membimbing mereka selama pembelajaran yang dilakukan secara bertahap yang
disebut dengan pembentukan perilaku (shaping behavior). Jika manajemen
memberikan penghargaan kepada individu yang berprestasi mungkin akan
memberikan penegasan yang sedikit. Pembentukan perilaku individu memberikan
pendekatan

relevan

untuk

mencapai

tujuan

perilaku

yang

diharapkan.

Pembentukan perilaku dilakukan dengan cara sistematis yang menegaskan urutan


langkah yang harus dilakukan individu agar tercapai respon yang diinginkan.
a.

Metode-metode pembentukan perilaku


Melalui pembelajaran, manajer dapat membentuk perilaku karyawan agar
mau melakukan perilaku-perilaku yang menguntungkan perusahaan.
Penguatan secara sistematis dan bertahap agar individu dapat berperilaku
sesuai harapan. Terdapat 4 cara untuk membentuk perilaku, diantaranya;
i.

Penguatan

positif

(positive

reinforcement);

memberikan

penghargaan untuk mempertahankan tingkah laku yang diinginkan


ii.

Penguatan

negatif

(negative

reinforcement);

Dihentikannya

perilaku yang tidak menyenangkan untuk menghindari akibat yang


tidak diinginkan namun biasanya diikuti tingkah laku baru yang
diinginkan
iii.

Hukuman (punishment); Menerapkan suatu kondisi yg tdk


menyenangkan/ hukuman untuk menghilangkan perilaku yang
tidak diinginkan

iv.

Pemusnahan (extinction); Menyingkirkan penguatan apa saja yang


mempertahankan perilaku

Penguatan, baik positif maupun negatif, mempunyai catatan mengesankan


sebagai alat pembentuk. Oleh karena itu, perhatian kita adalah penguatan
bukannya penghukuman atau pemusnahan. Suatu kajian terhadap temuan
penelitian menganai dampak penguatan pada perilaku dalam organisasi
menyimpulkan bahwa;
i.

sejumlah tipe penguatan diperlukan untuk menghasilkan perubahan


perilaku

16

ii.

Sejumlah tipe hadiah akan lebih efektif digunakan dalam organisasi


daripada cara lain

iii.

Kecepatan berlangsungnya proses pembelajaran dan dampaknya


yang permanen akan ditentukan oleh pengaturan waktu penguatan.

b.

Jadwal penguatan
Kedua tipe utama jadwal penguatan adalah secara berkesinambungan dan
secara berkala. Jadwal penguatan berkesinambungan memperkuat perilaku
yang diinginkan setiap kali perilaku itu diperlihatkan.
i.

Penguatan berkesinambungan; perilaku yang diinginkan diperkuat


setiap saat perilaku itu dijalankan.

ii.

Penguatan Berkala; perilaku yang diinginkan diperkuat secara


cukup sering untuk membuat perilaku tersebut layak diulangi

namun tidak setiap saat ketika perilaku itu dijalankan. Penguatan berkala
ini dapat berupa tipe rasio atau tipe interval. Penguatan juga dapat
digolongkan menjadi tetap atau variabel.
Ketika imbalan dibagikan pada selang waktu yang seragam, jadwal
penguatan itu disebut tipe interval-tetap. Variabel pentingnya adalah
waktu, dan variabel itu dijadikan sebagai konstanta. Dalam jadwal rasiotetap setelah sejumlah respon tetap atau konstan diberikan, maka hadiah
diberikan. Misalnya rencana insentif berdasar jumlah karya adalah jadwal
rasio tetap, karyawan menerima ganjaran yang didasarkan pada jumlah
karya yang dihasilkan. Ketika hadiah berubah-ubah mengikuti perilaku
individu, ia disebut dikuatkan berdasarkan jadwal rasio-variabel.

Tabel Jadwal Penguatan


No

JADWAL
PENGUATAN

SIFAT

PENGARUH PADA
PERILAKU

CONTOH

1.

Berkesinambungan

Penghargaan diberikan
Pembelajaran secara cepat, Pujian ketika tidak
setelah setiap perilaku yang namun juga cepat lenyap datang terlambat
diharapkan

2.

Interval tetap

Penghargaan diberikan pada Kinerja rata-rata dan tidak Gaji bulanan yang
interval waktu yang tetap teratur. Lenyap dengan
diberikan setiap
cepat
tanggal 1

17

3.

Interval variabel

Penghargaan diberikan pada Kinerja cukup tinggi &


waktu yang variabel
stabil.
Lenyap dengan lambat

4.

Rasio tetap

Penghargaan diberikan pada Kinerja tinggi & stabil.


Bayaran tarif per
jumlah hasil secara tetap
Didapat dengan cepat tapi buah
juga cepat lenyap
Pujian kepada
KPK atas
terselesaikan kasus
dalam jumlah
tertentu

5.

Rasio variabel

Penghargaan diberikan pada Kinerja sangat tinggi dan Pujian kepada


jumlah hasil yang variabel lenyap dengan lambat
KPK
menyelesaikan
kasus lebih cepat

c.

Sidak Presiden
SBY
Kuis dadakan

Jadwal dan Perilaku Penguatan.


Jadwal penguatan berkesinambungan dapat memicu kejenuhan dini, dan
berdasar jadwal ini perilaku cenderung melemah dengan cepat ketika
penguatan tidak diberikan.

BAB III
PENUTUP
Setiap Individu adalah pribadi yang unik. Manusia pada hakekatnya
adalah kertas kosong yang di bentuk oleh lingkungan mereka. Perilaku manusia
merupakan

fungsi

dari

interaksi

antara

person

atau

individu

dengan

lingkungannya. Mereka berperilaku berbeda satu sama lain karena ditentukan oleh
masing masing lingkungan yang memang berbeda.

18

Secara biografis individu memiliki karakteristik yang jelas bisa terbaca,


seperti usia, jenis kelamin, status perkawinan, yang semua itu memiliki hubungan
signifikan dengan produktivitas atau kinerja dalam suatu organisasi dan
merupakan isu penting dalam dekade mendatang. Dari kajian beberapa bukti riset,
memunculkan kesimpulan bahwa usia tampaknya tidak memiliki hubungan
dengan produktivitas. Dan para pekerja tua yang masa kerjanya panjang akan
lebih kecil kemungkinannya untuk mengundurkan diri. Demikian pula dengan
karyawan yang sudah menikah, angka keabsenan menurun, angka pengunduran
diri lebih rendah serta menunjukkan kepuasan kerja yang lebih tinggi daripada
karyawan yang bujangan.
Terdapat tiga teori yang membantu kita dalam memahami kepribadian
yaitu teori yang menjelaskan individu, teori psikodinamis yang menggabungkan
karakteristik manusia dan menjelaskan perkembangan kepribadian alamiah
dinamis serta teori para humanis yang menekankan pada orang dan pentingnya
aktualisasi diri kepada kepribadian.
Setiap individu pun memiliki kemampuan dan karakteristik yang
berbeda, kemampuan secara langsung mempengaruhi tingkat kinerja dan
kepuasan karyawan melalui kesesuaian kemampuan pekerjaan. Dari sisi
pembentukan perilaku dan sifat manusia, perilaku individu akan berbeda di
karenakan oleh kemampuan yang dimilikinya juga berbeda. Pembelajaran
merupakan bukti dari perubahan perilaku individu. Pembelajaran terjadi setiap
saat dan relatif permanen yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman.

19