Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN PROGRESS PROJECT

ON THE JOB TRAINING S1/D3


STANDARISASI GARDU DISTRIBUSI PENYULANG KRAKATAU
JURUSAN KOTA UNTUK MENURUNKAN ANGKA SUSUT RAYON
KAYU AGUNG
DISTRIBUSI 2
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

MIRSYAL
CANDRA PRADIPTA
ULFAH NURUL AZHARI
RIKA JUWITA M
JOHANES CHRISTIAN
GHAFFAAR ARI SATRYA
ADI KRISNAPUTRA

(1409/JOG/JF/S1/ELE/15471)
(1409/SBY/JF/S1/ELE/14990)
(D3K/STT/012)
(D3K/POLTEKNEG/MEDAN/011)
(D3K/STT/003)
(D3K/UNDIP/029)
(D3K/STT/009)

TAHUN 2015

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PROJECT
STANDARISASI GARDU DISTRIBUSI PENYULANG KRAKATAU
JURUSAN KOTA UNTUK MENURUNKAN ANGKA SUSUT
RAYON KAYU AGUNG
Kelompok
: Distribusi 2
Unit OJT
: Area Palembang Rayon Kayu Agung
Anggota
:
1. Mirsyal
(1409/JOG/JF/S1/ELE/15471)
2. Candra Pradipta
(1409/SBY/JF/S1/ELE/14990)
3. Ulfah Nurul Azhari
(D3K/STT/012)
4. Rika Juwita Manurung
(D3K/POLTEKNEG/MEDAN/011)
5. Johanes Christian Sinaga
(D3K/STT/003)
6. Ghaffaar Ari Satrya
(D3K/UNDIP/029)
7. Adi Krisnaputra
(D3K/STT/009)
Disusun untuk memenuhi Persyaratan On The Job Training Berbasis Project dan
Resiko S1/D3 Angkatan 44 PT. PLN (Persero) di Wilayah Sumatera Selatan,
Jambi dan Bengkulu.

Kayu Agung, 1 Juni 2015


Disetujui,
Co-Mentor
SupervisorTeknik
PLN Rayon Kayu Agung

Mentor
Manager
PLN Rayon Kayu Agung

Abu Bakar
NIP. 8508006B

Rosandi
NIP. 6794113B

ii

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas limpahan rahmat,
hidayah dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan laporan
project ini dengan baik.
Laporan project ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan
program kegiatan On The Job Training (OJT) dengan tema standarisasi gardu
distribusi untuk menurunkan susut di PT. PLN (Persero) khususnya di Rayon
Kayu Agung Area Palembang Wilayah S2JB. Melalui program OJT berbasis
project ini, siswa prajabatan dapat melakukan kegiatan praktek langsung dalam
menganalisa permasalahan yang terjadi di unit kerja PLN.
Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan ini tidak terlepas dari
bantuan, bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis
mengucapkan terima kasih kepada :
1. Allah SWT
2. Manager PLN Pusdiklat
3. Manager PLN Udiklat Palembang
4. Seluruh Staf PLN Udiklat Pandaan
5. General Manager PLN WS2JB
6. Bapak Rosandi selaku Mentor OJT dan Manager PLN Rayon Kayu Agung
yang selalu memberi bimbingan, kritikan, saran dan solusi berbagai
permasalahan
7. Bapak Abu Bakar selaku Co-Mentor OJT dan Supervisor Teknik PLN Rayon
Kayu Agung yang bersedia membimbing dan meluangkan waktunya selama
pengerjaan project ini
8. Kedua orangtua dan keluarga penulis, atas motivasi dan dukungan sehingga
penulis dapat terus berkembang hingga mengerjakan project tahap akhir
9. Pegawai PLN Rayon Kayu Agung, PT. Haleyora Powerindo, PT. AAE dan
rekan OJT Angkatan 44 yang selalu memberi dukungan dan bantuan.
Dalam penyusunan laporan project ini penulis menyadari masih terdapat
kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan
saran yang membangun demi perbaikan dan kemajuan penulis serta PLN di masa
mendatang.Semoga OJT berbasis project ini dapat bermanfaat bagi Rayon tempat
penulis berada.
Kayu Agung, 1 Juni 2015

Penulis

iii

ABSTRAK
Seiring dengan perkembangan zaman dan makin banyaknya konsumsi
listrik terlebih pada konsumen rumah tangga, maka terjadi pertambahan beban
yang menyebabkan susut atau losses. Tidak hanya disebabkan oleh banyaknya
penduduk pada suatu wilayah, namun perekonomian dari masyarakat itu sendiri
juga menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya susut. Susut energi pada suatu
sistem tenaga listrik pasti akan selalu ada.
Susut adalah energi yang terbuang sehingga listrik siap jual yang seharusnya
menjadi pendapatan PLN pun hilang. Dapat juga didefinisikan sebagai bentuk
kehilangan energi listrik berasal dari selisih antara kWh beli dikurangi kWh jual.
Susut terbagi menjadi dua jenis yaitu susut teknis dan susut non-teknik.
Susut teknik umumnya disebabkan oleh kualitas daya hantar listrik, termasuk
kualitas jaringan pada penghantar saluran, kemudian adanya tahanan dari
penghantar yang dialiri arus, timbulah rugi teknis (I 2R) pda jaringan tersebut.
Sedangkan susut non-teknik umumnya diakibatkan oleh rusaknya instalasi di
jaringan maupun dalam rumah yang tidak standar (akibat pencurian) maupun
menggunakan peralatan yang tidak sesuai.
Salah satu cara untuk menurunkan angka susut pada suatu jaringan adalah
dengan melakukan standarisasi gardu, karena ketidak standaran suatu gardu
merupakan penyebab susut teknis yang memiliki pengaruh yang besar.
Susut teknik kayu agung sebesar 24,99% dengan susut teknik sebesar 13,
96% dan susut non teknik sebesar 11,03%. (Maret 2015). Dari susut sebesar ini,
langkah perbaikan/penurunan nilai susut yang akan dilakukan adalah dengan cara
standarisasi gardu distribusi.
Kata kunci : susut jaringan, standarisasi gardu

iv

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN.................................................................................ii
KATA PENGANTAR.............................................................................................iii
ABSTRAK..............................................................................................................iv
DAFTAR ISI............................................................................................................v
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................vii
DAFTAR TABEL.................................................................................................viii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
1.1 Profil Unit OJT.......................................................................................1
1.2 Latar Belakang Masalah.........................................................................2
1.3 Tujuan Pelaksanaan OJT........................................................................3
1.4 Batasan Masalah.....................................................................................4
1.5 Waktu dan Tempat Pelaksanaan OJT.....................................................4
BAB II ISU STRATEGIS.......................................................................................5
2.1 Rencana Kerja (Workplan).....................................................................5
2.2 Rencana Aksi (Action Plan)...................................................................8
BAB III PERUMUSAN OPPORTUNITY FOR IMPROVEMENT....................10
3.1 Perumusan OFI.....................................................................................10
3.2 Perumusan Akar Permasalahan (Fishbone)..........................................10
3.3 Perumusan Tindakan............................................................................10
BAB IV PELAKSANAAN ACTION FOR IMPROVEMENT............................12
BAB V PEMBAHASAN SAVING, GAIN, AND BENEFIT...............................25

5.1 Membandingkan Pengukuran kWh Pembanding.................................25


5.2 Perhitungan Saving kWh......................................................................26
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................ 28
5.3 Kesimpulan..........................................................................................28
5.4 Saran.....................................................................................................28
Daftar Pustaka
Lampiran

vi

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Struktur Organisasi PLN Rayon Kayu Agung..................................2
Gambar 1.2 Duppon Chart Loss...........................................................................3
Gambar 3.1 Diagram Fishbone Penarikan Akar Masalah Susut........................10
Gambar 4.1 Pengukuran Beban Gardu, Kiri (PE076) dan Kanan (PE139).......12
Gambar 4.2 Pengukuran Tahanan Pentanahan PE076.......................................13
Gambar 4.3 PengukuranTahanan Pentanahan PE139........................................13
Gambar 4.4 Analisa Inspeksi dan Meeting Gardu Distribusi PE076.................14
Gambar 4.5 Analisa Inspeksi dan Meeting Gardu Distribusi PE139.................14
Gambar 4.6 Pencatatan Stand kWh Meter Pelanggan.......................................15
Gambar 4.7 Pengukuran Suhu PE076 Menggunakan Thermovision.................15
Gambar 4.8 Pengukuran Suhu PE139 Menggunakan Thermovision.................16
Gambar 4.9 kWh Meter pada PHB-TR, Kiri (PE076) dan Kanan (PE139)......16
Gambar 4.10 Pencatatan kWh Total PE076 Terukur Selama Satu Minggu........17
Gambar 4.11 Pencatatan kWh Total PE139 Terukur Selama Satu Minggu........17
Gambar 4.12 Penggantian Kotak PHB-TRANSFORMATOR ..........................18
Gambar 4.13 PressingSchoon Kabel...................................................................18
Gambar 4.14 Pemasangan Kabel, Kiri (PE076) dan Kanan (PE139).................19
Gambar 4.15 Mempersiapkan FCO....................................................................19
Gambar 4.16 Pemasangan Elektroda Pentanahan...............................................20
Gambar 4.17 Pengukuran Tahanan Pentanahan Setelah Perbaikan (PE076)......20
Gambar 4.18 Pemasangan Kembali kWh Pembanding......................................21
Gambar 4.19 Memasukkan FCO........................................................................21
Gambar 4.20 Pencatatan kWh Meter (PE076)....................................................22
Gambar 4.21 Pencatatan kWh Meter (PE139)....................................................22
Gambar 4.22 Pengukuran Suhu Kontak Gardu Distribusi (PE076)...................22
Gambar 4.23 Pengukuran Suhu Kontak Gardu Distribusi (PE139)...................23
Gambar4.24 Pencatatan kWh Tersalur Satu Minggu Setelah Pemeliharaan
(PE076)..........................................................................................23
Gambar 4.25 Pencatatan kWh Tersalur Satu Minggu Setelah Pemeliharaan
(PE139).........................................................................................23

vii

DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Profil Rayon Kayu Agung......................................................................1
Tabel 2.1 Jenis Penugasan dan Target Project........................................................5
Tabel 2.2 Workplan Penugasan Pertama................................................................6
Tabel 2.3 Workplan Penugasan Kedua...................................................................7
Tabel 2.4 Workplan Penugasan Ketiga...................................................................7
Tabel 2.5 Workplan Penugasan Keempat...............................................................8
Tabel 2.6. WorkPlan Penugasan Kelima.................................................................8

viii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Profil Unit OJT


PT. PLN (Persero) Rayon Kayu Agung merupakan salah satu unit kerja PLN
Wilayah Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu (WS2JB) yang berada di dalam
Area Palembang. Aktivitas utamanya yaitu melakukan pendistribusian dan
pelayanan pelanggan dalam menyalurkan tenaga listrik. PLN Rayon Kayu Agung
mendapat suplai dari Gardu Induk (GI) Simpang Tiga dan GI Kedukan.GI
Simpang Tiga memiliki dua penyulang yang memberikan suplai ke PLN Rayon
Kayu Agung yaitu Penyulang Krakatau dan Kerinci. Keduanya masuk ke Gardu
Hubung (GH) Kayu Agung untuk dibagi menjadi 5 jurusan.Penyulang Krakatau
dibagi menjadi Jurusan Kota dan Cempaka, sedangkan untuk Penyulang Kerinci
dibagi menjadi Jurusan Sungai Pinang, Wisata Minang dan SP Padang. Jurusan SP
Padang terintegrasi dengan Penyulang Arwana dari GI Kedukan melalui GH SP
Padang.
Dari GI Kedukan, Rayon Kayu Agung disuplai oleh penyulang Arwana
setelah LBS Rambutan dan Tenggiri setelah LBS Sahang.
Tabel 1.1 Profil Rayon Kayu Agung
Luas Wilayah
Gardu Induk
Penyulang
JTM
Gardu Beton
GTT
JTR
Daya Tersambung

540.8 Kms
1
2
540.8 Kms
3
342
376,79 Kms
52.542.800 VA

Sumber: Data Rayon Kayu Agung (2015)

Berikut ini adalah struktur organisasi PLN WS2JB Area Palembang Rayon
Kayu Agung.

Gambar 1.1 Struktur Organisasi PLN Rayon Kayu Agung


1.2

Latar Belakang Masalah


PLN adalah perusahaan yang bergerak di bidang ketenagalistrikan sebagai
unsur penyedia tenaga listrik. Pendistribusian di PLN sering mengalami masalah
penyusutan atau losses energi listrik yang menyebabkan kerugian. Kerugian ini
dialami oleh semua unit PLN. PLN telah melakukan usaha-usaha
untuk efisiensi energi dengan cara mengurangi terjadinya susut distribusi energi
listrik.
Losses atau susut merupakan kendala PLN untuk memaksimalkan energi
yang disalurkan dan pendapatan yang diperoleh. Susut dalam kamus PLN adalah
energi yang terbuang sehingga listrik siap jual yang seharusnya menjadi
pendapatan PLN pun hilang. Dapat juga didefinisikan sebagai bentuk kehilangan
energi listrik berasal dari selisih antara kWh beli dikurangi kWh jual.
Susut terbagi menjadi dua jenis yaitu susut teknik dan susut non-teknik.
Susut teknik umumnya disebabkan oleh kualitas daya hantar listrik, termasuk
kualitas jaringan pada penghantar saluran, kemudian adanya tahanan dari
penghantar yang dialiri arus, timbulah rugi teknis (I 2R) pda jaringan tersebut.
Sedangkan susut non-teknik umumnya diakibatkan oleh rusaknya instalasi di
jaringan maupun dalam rumah yang tidak standar (akibat pencurian) maupun
menggunakan peralatan yang tidak sesuai.
Susut teknik kayu agung sebesar 24,99% dengan susut teknik sebesar 13,
96% dan susut non teknik sebesar 11,03%. (Maret 2015)

Gambar 1.2 Duppon Chart Losses


Maka PLN Rayon Kayu Agung menjadi salah satu Rayon di WS2JB Area
Palembang yang dijadikan tempat OJT berbasis project dan resiko dimana
penugasan yang diberikan kepada siswa OJT Bidang Distribusi adalah
Standarisasi Gardu Distribusi Penyulang Krakatau Jurusan Kota untuk
Menurunkan Susut Teknik di Rayon Kayu Agung.
Gardu yang dijadikan sebagai bahan percontohan project untuk dilakukan
pemeliharaan adalah Gardu PE 076 dan Gardu PE 139. Gardu berikut dipilih
untuk distandarkan karena banyak persoalan dari segi material yang menyebabkan
gardu tersebut tidak standar. Gardu yang tidak standar tersebut diakibatkan oleh
adanya pertambahan beban di daerah gardu, sehingga material yang awalnya
terpasang standar secara keseluruhan dari PLN menjadi tidak standar akibat
penambahan beban yang mempengaruhi material material yang terpasang.
Penggantian material yang dilakukan pada suatu gardu jarang dilakukan
karena keterbatasan alat dan material yang terdapat di Rayon, apabila dilakukan
penggantian dengan material yang seadanya yang terdapat pada Rayon, hasil yang
didapat pun menjadi tidak maksimal. Untuk itu kami memutuskan untuk
melakukan standarisasi gardu dengan menggunakan material yang lebih baik agar
hasil yag dicapai menjadi lebih maksimal.
1.3 Tujuan Pelaksanaan OJT
Tujuan dari pelaksanaan OJT Berbasis Project dan Resiko yaitu :
1. Menurunkan susut di PLN Rayon Kayu Agung
2. Mengetahui secara pasti penyebab susut sehingga dapat merumuskan
langkah-langkah penyelesaian secara pasti
3. Menentukan prioritas tindakan perbaikan yang harus dilakukan untuk
perbaikan susut tersebut
4. Merekomendasikan suatu usulan perbaikan sisi teknik dalam menekan susut

1.4

Batasan Masalah
Pelaksanaan OJT di PLN Rayon Kayu Agung berfokus pada program
penurunan susut khususnya susut teknik dan hanya dilaksanakan pada Penyulang
Krakatau Jurusan Kota.
1.5

Waktu dan Tempat Pelaksanaan OJT


OJT ini dimulai pada tanggal 18 Maret 1 Juni 2015. Pelaksanaan OJT
bertempat di PLN WS2JB Area Palembang Rayon Kayu Agung yang
beralamatkan di Jl. Letnan Muchtar Saleh, Kayu Agung Kabupaten Ogan
Komering Ilir.

BAB II

ISU STRATEGIS
Untuk mecapai tujuan dari pelaksanaan OJT yaitu menurunkan susut
(losses) pada gardu-gardu di PLN Rayon Kayu Agung, maka dibuat rencana kerja
dalam pelaksanaan kegiatannya agar tujuan tersebut tercapai.
2.1

Rencana Kerja (Workplan)


Workplan adalah suatu proses mempersiapkan kegiatan yang akan dilakukan
secara sistematis dan logis untuk mencapai suatu target yang telah dijadwalkan.
Tujuan dengan dibuatnya workplan tersebut adalah untuk memberikan secara
terperinci dan terstruktur dalam hal penurunan susut distribusi. Selain itu, agar
dapat mengetahui target yang harus dicapai sesuai dengan waktu yang telah
ditentukan, mengurangi ketidakpastian, meminimalisir pemborosan sehingga nilai
efisien tercapai. Workplan mengacu pada empat penugasan utama yang akan
dianalisis lebih dalam oleh mentee dan mentor untuk menjabarkan setiap aktivitasaktivitas yang terkait dengan penugasan dan jangka waktu penyelesaiannya.
Berikut adalah jenis penugasan dan target yang telah ditentukan untuk kegiatan
utama penurunan susut di PLN Rayon Kayu Agung.
Tabel 2.1 Jenis Penugasan dan Target Project

Dibawah ini merupakan workplan untuk menyelesaikan project standarisasi gardu


dalam penurunan susut :
1. Workplan untuk penugasan pertama :
Melakukan inspeksi gardu distribusi pada penyulang krakatau jurusan kota
Tabel 2.2 Workplan Penugasan Pertama

2. Workplan untuk penugasan kedua :


Menganalisa hasil inspeksi
Tabel 2.3 Workplan Penugasan Kedua

3. Workplan untuk penugasan ketiga :


Melakukan pemeliharaan gardu distribusi
Tabel 2.4 Workplan Penugasan Ketiga

4. Workplan untuk penugasan keempat :


Melakukan evaluasi hasil pemeliharaan gardu distribusi

Tabel 2.5 Workplan Penugasan Keempat

5. Workplan untuk penugasan kelima:


Membuat laporan hasil pemeliharaan
Tabel 2.6. Workplan Penugasan Kelima

2.2

Rencana Aksi (Action Plan)


Action plan atau Rencana Aksi menjabarkan target yang harus dicapai,
penanggung jawab kegiatan dan deadline kegiatan. Action plan ini akan menjadi
standar acuan keberhasilandari setiap aktivitas-aktivitas yang telah direncanakan
oleh mentee.
pada pelaksanaan kegiatan OJT Berbasis Project di PLN Rayon Kayu
Agung yang dilaksanakan sesuai dengan rentang waktu perencanaan, maka
program-program kerja yang dilaksanakan adalah sebagai berikut :
1. Melakukan inspeksi gardu distribusi di Jurusan Kota Kayu Agung, dengan
kegiatan :
Melakukan pemeriksaan peralatan gardu distribusi
Melakukan meeting gardu distribusi

Melakukan pengukuran tahanan pentanahan


Melakukan pengukuran suhu kontak-kontak di gardu distribusi dengan
menggunakan thermovision.
2. Melakukan analisa hasil inspeksi, dengan kegiatan :
Memilih tiga contoh gardu distribusi dari Penyulang Krakatau Jurusan Kota
yang dalam kondisi tidak standar
Mencatat material-material yang dibutuhkan untuk melakukan pemeliharaan
gardu distribusi
Mengajukan permohonan permintaan material ke Area Palembang
Mengecek segala peralatan yang dibutuhkan.
3. Melakukan pemeliharaan gardu distribusi, dengan rincian :
a. Box PHB TR dan perlengkapan di dalamnya
NH Fuse
Fuse Holder
Busbar Cu
Penambahan saklar utama.
b. Kabel turunan trafo dan kabel jurusan Tegangan Rendah (TR)
Ukuran disesuaikan beban
Menggunakan kabel NYY agar kontak dengan busbar Cu sempurna
Pemasangan Schoon kabel pada ujung kabel (busbar, bushing, trafo) dan
kencangkan.
c. FCO dan arrester
Nilai fuse link disesuaikan kapasitas trafo
Isolator bocor
Kawat bendeng.
d. Tahanan pentanahan
Memasang elektroda pentanahan baru dan dipasang paralel dengan yang
lama.

BAB III
PERUMUSAN OPPORTUNITY FOR IMPROVEMENT
3.1

Perumusan OFI
Opportunity for Improvement (OFI) merupakan metode yang digunakan
dalam melihat potensi pengembangan yang dapat dilakukan untuk
mengidentifikasi permasalahan yang terjadi. OFI dapat pula diartikan sebagai
peluang perbaikan dari analisis perbandingan antara pengalaman dengan
kenyataan. Untuk mempertajam OFI dibutuhkan rekap data pelanggan dan
jaringan per gardu melalui proses indexing, data historis dan aktual mengenai
susut per gardu, serta daftar temuan kelainan dari penggunaan tenaga listrik.
Selanjutnya, data tersebut digunakan untuk mencari akar permasalahannya.Salah
satu cara yang digunakan penulis untuk menarik akar masalah yang dirumuskan
dalam OFI yakni dengan analisa fishbone. Suatu tindakan solusi dan langkah
improvement akan lebih mudah dilakukan jika akar penyebab masalah sudah
ditemukan. Diagram fishbone dapat membantu mengidentifikasi permasalahan
dan menentukan penyebab dari munculnya permasalahan.
3.2

Perumusan Akar Permasalahan (Fishbone)

Gambar 3.1 Diagram Fishbone Penarikan Akar Masalah Susut


Ragam penyebab susut di PLN Rayon Kayu Agung didominasi oleh penyebab
machine yang berdampak mayoritas pada susut teknik.
3.3

Perumusan Tindakan
Berdasarkan permasalahan dan semua penyebab permasalahan di atas, dapat
dirumuskan tindakan sebagai solusi untuk penurunan nilai susutteknik. Tindakan
yang dapat dilakukan tidak hanya didasarkan pada penyebab permasalahan namun
juga berdasarkan pertimbangan tenaga, waktu, kemampuan, kondisi medan,

10

lingkungan dan faktor lainnya. Berdasarkan analisis dan pertimbangan tersebut,


berikut usulan tindakan sebagai solusi penekanan susut :
1. Pemeliharaan gardu distribusi
Kotak PHB-TR berlubang sehingga memungkinkan air untuk masuk
Sambungan-sambungan/kontak yang tidak sempurna
Busbar pada gardu distribusi banyak yang berkarat.
2. Penggantian kabel turunan trafo dan jurusan.
Kabel turunan dan jurusan menggunakan Al sehingga kontak dengan busbar
Cu tidak sempurna
Ukuran kabel disesuaikan dengan pembebanan.
3. Pemasangan sepatu kabel dan pengencangan kembali/penggantian baut pada
sepatu kabel
Baut pada sepatu kabel longgar atau ukuran sepatu kabel dan baut tidak
sesuai
Kabel jurusan dan turunan tidak dipasang schoon sehingga sambungan
kurang sempurna.
4. Pemasangan trafo sisipan dan uprating trafo
Trafo overload/ underload
Tegangan ujung rendah.
5. Penyeimbangan beban trafo
Ketidakseimbangan beban trafo
Nilai netral besar.
6. Pengencangan kembali kontak bushing primer dan sekunder trafo
Sambungan bushing primer dan sekunder longgar.
7. Penggantian FCO
FCO dibendeng
Ukuran fuse link tidak sesuai kapasitas trafo
Isolator bocor.
8. Penggantian NH Fuse dan Fuse Holder
NH Fuse yang tidak sesuai kapasitas dan NH Fuse yang dibendeng
Fuse holder yang sudah rusak ataupun terbakar.
9. Penggantian joint sleeve
Jointing kabel tidak sesuai saluran.
10 Perbaikan dan pemeliharaan sistem pentanahan
Paralel elektroda
Penanaman elektroda lebih dalam
Penggantian elektroda

11

BAB IV
PELAKSANAAN ACTION FOR IMPROVEMENT
Action For Improvement (AFI) merupakan metode menganalisa tindakan
yang dapat dilakukan hingga mencapai suatu solusi dari permasalahan tersebut.
Kegiatan project OJT PLN Rayon Kayu Agung disusun dalam bentuk peta
prioritas (maping). Peta prioritas dibawah ini menjelaskan potensi pengaruh dari
kegiatan yang telah dilaksanakan siswa OJT maupun tidak dilaksanakan apakah
berpengaruh tinggi, sedang maupun rendah. Peta prioritas kegiatan ini juga
menjelaskan kemudahan implementasi, apakah kegiatan itu sulit dilakukan,
sedang maupun mudah untuk pelaksanaannya.
Pelaksaanan kegiatan OJT Berbasis project dilakukan selama 46 hari kerja
dengan membagi pekerjaan berdasarkan peta prioritas dengan sasaran untuk
penurunan susut teknik, beberapa kegiatan yang telah dilakukan adalah sebagai
berikut :
1. Kegiatan pertama yang dilakukan adalah memahami peta jaringan agar
mengetahui secara keseluruhan tentang peta jaringan dan penyulang PLN
Rayon Kayu Agung mulai dari panjang JTM, JTR, Jumlah gardu distribusi,
luas wilayah kerja serta mengetahui besarnya aset PLN Rayon Kayu Agung
seperti jumlah pelanggan, besarnya tunggakan dan indeks kinerja distribusi
(susut, gangguan, dan keandalan).
2. Melakukan inspeksi gardu distribusi di Jurusan Kota Kayu Agung, dengan
kegiatan :
Melakukan pemeriksaan peralatan gardu distribusi
Melakukan meeting gardu distribusi.

Gambar 4.1 Pengukuran Beban Gardu, Kiri (PE076) dan Kanan (PE139)

12

Melakukan pengukuran tahanan pentanahan

Gambar 4.2 Pengukuran Tahanan Pentanahan PE076

Gambar 4.3 Pengukuran Tahanan Pentanahan PE139


3. Melaksanakan dan membuat laporan hasil inspeksi 36 gardu distribusi untuk
mengetahui kondisi dari peralatan/material pada gardu distribusi yang harus
diganti seperti arrester yang rusak, FCO dan NH fuse yang disambung
langsung, panel yang keropos, pemakaian kabel yang tidak sesuai, tidak
menggunakan schoon. Kemudian laporan hasil inspeksi di rekap untuk
mengetahui banyak material yang harus diganti maupun ditambah untuk
contoh 3 gardu, lalu hasil rekap diserahkan kepada PLN Area Palembang untuk
ditindaklanjuti.

13

Gambar 4.4 Analisa Inspeksi dan Meeting Gardu Distribusi PE076

Gambar 4.5 Analisa Inspeksi dan Meeting Gardu Distribusi PE139


4. Melaksanakan pencatatan stand kWh Meter pelanggan 3 gardu distribusi yang
dijadikan contoh. Dalam kegiatan pencatatan ini, siswa OJT melakukan

14

pencatatan ID pelanggan dan daya terpasang pada tiap pelanggan untuk


memudahkan dalam kegiatan penyeimbangan beban.

Gambar 4.6 Pencatatan Stand kWh Meter Pelanggan


5. Melaksanakan pengukuran suhu menggunakan thermovision di tiga gardu
distribusi untuk mengetahui kondisi jaringan yang terindikasi loss kontak
akibat dari sambungan yang tidak benar, apabila terjadi loss contact maka akan
dilakukan perbaikan pada sambungan.
.

Gambar 4.7 Pengukuran Suhu PE076 Menggunakan Thermovision

15

Gambar 4.8 Pengukuran Suhu PE139 Menggunakan Thermovision


6. Melakukan pemeliharaan gardu distribusi, dengan kegiatan :
a. Memasang kWh Meter pembanding untuk mengukur pemakaian daya
selama satu minggu sebelum pemeliharaan.

Gambar 4.9 kWh Meter pada PHB-TR, Kiri (PE076) dan Kanan (PE139)

16

b. Mencatat hasil pengukuran kWh Meter

Gambar 4.10 Pencatatan kWh Total PE076 Terukur Selama Satu Minggu

Gambar 4.11 Pencatatan kWh Total PE139 Terukur Selama Satu Minggu
c. Melakukan pemeliharaan gardu distribusi, meliputi :
Memberitahu warga bahwa akan ada kegiatan pemeliharaan
Menyiapkan perlengkapan dan APD
Berdoa bersama
Melepas NH Fuse dan FCO
Melepas kWh Meter pembanding
Melakukan pelepasan kabel turunan trafo dan kabel jurusan
Melakukan penggantian PHB-TR/LV Panel dan material di kotak PHBTR

17

Gambar 4.12. Penggantian Kotak PHB-TR


Melakukan pemasangan schoon kabel pada kabel NYY turunan trafo dan
jurusan

Gambar 4.13 Pressing Schoon Kabel

18

Melakukan pemasangan kabel NYY baru (turunan trafo dan kabel


jurusan)

Gambar 4.14 Pemasangan Kabel, Kiri (PE076) dan Kanan (PE139)


Melakukan penggantian FCO

Gambar 4.15 Mempersiapkan FCO


19

Melakukan perbaikan tahanan pentanahan dengan cara memasang


elektroda pentanahan baru (paralel)

Gambar 4.16 Pemasangan Elektroda Pentanahan

Gambar 4.17 Pengukuran Tahanan Pentanahan Setelah Perbaikan (PE076)

20

Memasang kembali kWh Meter untuk mengukur pemakaian daya setelah


dilakukan pemeliharaan

Gambar 4.18 Pemasangan Kembali kWh Pembanding


Memasukkan FCO, Saklar Utama dan NH Fuse

Gambar 4.19 Memasukkan FCO

21

Melakukan pencatatan stand kWh Meter

Gambar 4.20 Pencatatan kWh Meter (PE076)

Gambar 4.21 Pencatatan kWh Meter (PE139)


Melakukan pengukuran tegangan dan beban menggunakan Tang Ampere
Melakukan pengukuran suhu kontak gardu distribusi menggunakan
thermovision

Gambar 4.22 Pengukuran Suhu Kontak Gardu Distribusi (PE076)

22

Gambar 4.23 Pengukuran Suhu Kontak Gardu Distribusi (PE139)


Berdoa setelah melakukan pekerjaan
Mencatat pengukuran kWh Meter pembanding setelah satu minggu setelah
pemeliharaan

Gambar 4.24 Pencatatan kWh Tersalur Satu Minggu Setelah Pemeliharaan


(PE076)

Gambar 4.25 Pencatatan kWh Tersalur Satu Minggu Setelah Pemeliharaan


(PE139)
23

7. Melakukan evaluasi hasil pemeliharaan gardu distribusi


Membandingkan jumlah kWh terpakai sebelum dan sesudah pemeliharaan
Menghitung saving kWh selama satu minggu, satu bulan, dan satu tahun
Menghitung saving kWh dalam bentuk Rupiah

24

BAB V
PEMBAHASAN SAVING, GAIN DAN BENEFIT
Sebagai salah satu perusahaan penyedia listrik terbesar, PLN menjalankan
proses bisnisnya mulai dari pembangkitan, penyaluran, pengoperasian dan
pemeliharaan. PLN juga mengharapkan keuntungan baik dari segi material
maupun non material. Oleh karena itu kelompok Distibusi 2 menampilkan hasil
beserta perhitungan saving,gain dan benefit yang didapatkan selama mengikuti
kegiatan OJT Berbasis project dan resiko PT. PLN Rayon Kayu Agung.
5.1

Membandingkan Pengukuran kWh Pembanding


Gardu PE076
1. Pengukuran selama satu minggu sebelum perbaikan, terukur 47,37 kWh
dengan rasio CT 250/50

338,36 kWh per hari


2. Pengukuran selama satu minggu setelah perbaikan, terukur 20,77 kWh
dengan rasio CT 400/50

237,37 kWh per hari


Gardu PE139
1. Pengukuran selama satu minggu sebelum perbaikan, terukur dari tanggal
13 Mei 2015 sampai 20 Mei 2015 adalah 557.71 188.23 = 369.48 kWh
`dengan rasio CT 250/5

25

2639,14 kWh per hari


2. Pengukuran selama satu minggu setelah perbaikan, terukur dari tanggal
25 Mei 2015 sampai 01 Juni 2015 adalah 1112,40 826,96 = 285.44
kWh dengan rasio CT 250/5

2038.85 kWh per hari


5.2

Perhitungan Saving kWh


Dengan estimasi penggunaan beban pelanggan selama satu minggu pertama
sama dengan satu minggu kedua, maka didapatkan saving :
Gardu PE076

Perhitungan saving kWh per bulan :

Penurunan susut = (3029,7 / 4269556,78) x 13,96%


= 0,00991 %
Estimasi jika standarisasi dilakukan pada seluruh gardu = 0,00991% x 144
= 1,42%
Perhitungan savingRupiah per hari :

Perhitungan saving Rupiah per bulan :

26

Gardu PE139

Perhitungan saving kWh per bulan :

Penurunan susut = (18008,7 / 4269556,78) x 13,96 % = 0,058 %


Estimasi jika standarisasi dilakukan pada seluruh gardu = 0,058 % x 55
= 3,24 %
Perhitungan saving Rupiah per hari :

Perhitungan saving Rupiah per bulan :

27

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil adalah :
1. Penurunan susut teknik pada Gardu PE 0139 setelah pemeliharaan adalah
sebesar 600,29 kWh per hari
2. Penyebab utama susut pada gardu distribusi adalah loss contact pada
sambungan-sambungan, penggunaan material yang tidak sesuai standar, dan
pembebanan trafo yang tidak seimbang.
3. Perbaikan yang harus dilakukan untuk menekan nilai susut adalah dengan
memperbaiki sambungan-sambungan sehingga tidak ada loss contact,
mengganti peralatan yang tidak standar, kemudian dengan menyeimbangkan
beban trafo.
4. Standarisasi gardu distribusi dapat diusulkan menjadi salah satu cara untuk
menurunkan susut teknik.
6.2 Saran
Pemeliharaan gardu distribusi dilakukan pada seluruh gardu yang terletak pada
PLN Rayon Kayu Agung. Jika standarisasi dilakukan pada seluruh gardu
distribusi, maka saving finansial yang didapatkan semakin tinggi dan susut teknik
semakin turun.

28