Anda di halaman 1dari 16

Epinephrine and Dexamethasone

in Children with Bronchiolitis


Amy C. Plint, M.D., M.Sc., David W. Johnson, M.D., Hema Patel, M.D., M.Sc.,
Natasha Wiebe, M.Math., Rhonda Correll, H.B.Sc.N., Rollin Brant, Ph.D.,
Craig Mitton, Ph.D., Serge Gouin, M.D., Maala Bhatt, M.D., M.Sc.,
Gary Joubert, M.D., Karen J.L. Black, M.D., M.Sc., Troy Turner, M.D.,
Sandra Whitehouse, M.D., and Terry P. Klassen, M.D., M.Sc.,
for Pediatric Emergency Research Canada (PERC)

Oleh
Andrew Leonardo Pandjaitan

Pembimbing: dr. Khusnuadi Joko Pratama

Latar Belakang
Meningkatnya jumlah pasien bronkhiolitis dua kali
lipat selama 10-15 tahun belakangan di kanada dan
amerika.
biaya perawatan pasien bronkiolitis.
Efektivitas penggunaan kombinasi bronkodilator dan
kortikosteroid masih belum dimengerti.

Tujuan
Mengetahui efektivitas kombinasi nebulasi epinefrin
dan oral dexamethason dalam menurunkan hospital
admission bayi-bayi dengan bronchiolitis.

Metode Penelitian
Jenis penelitian: cohort study.
Populasi: pasien bronkhiolitis yang berobat ke IRD di delapan Rumah
sakit pediatric Kanada.
Kriteria inklusi: pasien bronkiolitis usia 6 minggu- 12 bulan yang
datang berobat ke IRD di delapan rumah sakit pediatric kanada tahun
2004-2007 dengan skor RDAI 4-15.
Kriteria eksklusi:
Bayi yang mendapat terapi bronkodilator sebelum dinilai oleh peneliti.
Bayi yang menerima kortikosteroid oral dan inhalasi 2 minggu yang lalu.
Bayi dengan riwayat episode mengi atau pernah didiagnosa asma.
Riwayat menggunakan bronkodilator sebelumnya.
Ada penyakit paru jantung kronis, immunodeficiency dan bayi dengan
distress berat.
Bayi yang lahir dengan usia gestasi <37 minggu.
Kesulitan komunikasi dengan keluarga pasien.

Metode Penelitian
Etika
Inform consent pada orang tua atau wali pasien
Telah mendapat persetujuan komite etik RS.
Intervensi
1. Nebulasi epinefrine + dexamethasone.
2. Nebulasi epinefrine+ plasebo oral.
3. Nebulasi plasebo + dexamethasone oral.
4. Nebulasi plasebo + oral plasebo.
Pemberian intervensi dilakukan dengan teknik random.
Kedua jenis nebulasi dilakukan selama 30 menit
menggunakan Hudson RCI, dengan aliran oksigen 8
liter/menit, mengandung 3 m

Metode Penelitian
Randomisasi
Komputer yang merandomisasi urutan
menggunakan randomisasi permutasi blok 8 dan
12.
Kodenya dirahasiakan hingga pendaftaran dan
masukan data selesai.
Obat-obat di bungkus seragam, obat aktif dan
plasebo identik dalam bentuk, volume, berat, bau
dan rasa.
Doubled blind

Metode Penelitian
Penilaian
Peneliti mencatat : skor RDAI, RR,HR dan saturasi 02
diantara dua nebulasi dan pada menit ke- 60, 90, 120, 180,
dan 240; suhu rectal dimenit ke-120 dan 240; tekanan
darah pada menit ke-240 dan efek samping yang mungkin
teramati di IRD.
Peneliti juga melakukan follow up dengan menelepon pasien
yang sudah keluar RS mengenai makan, tidur, pernapasan
dan batuk pasien. Follow up via telepon dilakukan setiap
hari sampai hari ketujuh, lalu setiap dua hari sampai hari
ke-14 dan kemudian setiap 3 hari sampai hari ke-22.
Tinjauan mengenai pasien ini selesai pada hari ke-22.

Metode Penelitian
Analisis statistik
Analisis data dilakukan dengan stata software versi 10.0.

Hasil
Total bayi: 3556 bayi 1715 bayi yang terinklusi
dan 1841 bayi yang terekslusi.
1715 bayi yang terinklusi 800 bayi yang
memenuhi kriteria.
800 bayi ini dikelompokkan secara random menjadi:
200 bayi: grup yang
deksametason
200 bayi: grup yang
199 bayi: grup yang
201 bayi: grup yang

diberikan epinefrin dan


diberikan deksametson
diberikan epinefrin
diberikan plasebo

Hasil
Hospital Admissions
34 bayi dari 199 bayi
(17,1%)
47 bayi dari 198 bayi
(23,7%)
51 bayi dari 199 bayi
(25,6%)
53 bayi dari 201 bayi
( 26,4%)

grup 1
grup 2
grup 3
grup 4

Hasil

Diskusi
Terdapat kesinergisan yang tidak diharapkan antara
epinefrin dan deksametasaon.
Terapi kombinasi epinefrin dan deksametason
dibandingkan dengan plasebo dapat mengurangi
hospital admission pada hari ke-7 setelah dilakukan
studi (RR=35%).
Efektifitas kombinasi epinefrin dan deksametason
sangat tampak pada hari ke-3 pulang lebih cepat,
nafas kembali normal, dan dapat diberi makan lebih
cepat.

Diskusi
Tiga penelitian lain juga melaporkan keuntungan
kombinasi terapi epinefrin dan deksametason. Tidak
ada efek menguntungkan terapi albuterol dan
deksametason
dibandingkan
dengan
terapi
deksametason sendiri dan epinefrin sendiri.
Penelitian meta-analisis terdapat efek perbaikan
jangka pendek pada penggunaan epinefrin pada
pasien bronkiolitis rawat jalan dibandingkan dengan
plasebo lain atau salbutamol.
Pada penelitian ini terdapat efek perbaikan klinis
pada satu jam pertama setelah diterapi epinefrin
dibandingkan dengan plasebo. Tetapi, admission rate
nya tidak berbeda signifikan.

Diskusi
Keterbatasan penelitian ini:
Terdapat kriteria ekslusi bayi dengan asma. Batasannya
adalah anak dengan wheezing terekslusi. Padahal
wheezing juga terdapat pada bayi dengan bronkiolitis
viral.
Penjaringan bayi dilakukan di pusat akademik tidak
tergeneralisata.
Peneliti tidak mengantisipasi efek sinergis antara
epinefrin dan deksametason

Kesimpulan
Peneliti menganjurkan penggunaan terapi kombinsai
epinefrin dan deksametason pada bayi dengan
bronkiolitis karena dapat mengurangi hospital
admission.
Terdapat efek sinergis takderduga antara epinefrin
dan deksametason dan kurang terlihat bermanfaat
apabila kedua obat ini digunakan sendiri-sendiri.

Terima Kasih