Anda di halaman 1dari 11

Jakarta, 18 April 2011

Lampiran

: 1 bundel berkas

Kepada Yth.:
Bapak Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia
Jl. Medan Merdeka Utara
Di Jakarta

Perihal: Mohon perlindungan hukum dan keadilan atas pelaksanaan


Eksekusi yang tidak prosedural dan cacat hukum yang dilakukan
Pengadilan Negeri Balige.

Dengan hormat,
Saya, Haji Rati Sitanggang, Umur: 86 Tahun, Pekerjaan: Pensiunan Pegawai
Departemen Agama dan Anggota Legiun Veteran Negara Republik Indonesia,
bertindak untuk diri sendiri untuk menyampaikan permohonan perlindungan hukum
dan keadilan atas tindakan pelaksanaan eksekusi lahan milik saya oleh Pengadilan
Negeri Balige, yang permasalahannya berawal, sebagai berikut:
A. KRONOLOGIS:
Asal Hak / Kepemilikan :
1. Bahwa Johannes Sitanggang (almarhum) semasa hidupnya sekitar sejak
tahun 1934 telah menerima gadai dari seorang bernama Djoga Sinaga
(almarhum) atas sebidang tanah sawah yang terletak: dahulu:
..- sekarang: di Lumban Sinaga, Desa Patane V,
Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba Samosir, dengan batas- batas:
- Utara
- dengan sawah Djoga Sinaga
- Timur
- dengan sawah Djoga Sinaga
- Selatan
- dengan sawah Djoga Sinaga
- Barat
- dengan tali air/ jalan umum.
2. Bahwa kemudian pada 12 Desember 1934, karena Djoga Sinaga (almarhum)
sudah tidak mampu membayar dan menebus tanah tersebut, oleh Johannes
Sitanggang memohonkan untuk dilakukan lelang oleh Pemerintah Belanda
yang berkuasa pada saat itu dan memenangkan lelang eksekutorial dari
Djoga Sinaga dengan harga f 68, dan sejak dimenangkan lelang tersebut atas

tanah (objek lelang) telah dalam penguasaan dan menjadi hak dari Johannes
Sitanggang (almarhum).
3. Bahwa selanjutnya atas pemenangan lelang oleh Johannes telah mendapat
perlawanan dari Djoga Sinaga, dengan melaporkan Johannes Sitanggang
yang kemudian telah diadili dalam perkara pidana nomor: 223 tahun 1935,
tanggal 4 Oktober 1935, dan kemudian perkara perdata yang diadili
pengadilan yang sama saat itu telah terdaftar perkaranya nomor 83/ 1936,
tanggal 20 November 1936, dimana dalam perkara tersebut Johannes
Sitanggang telah dijatuhi hukuman secara tidak adil.
4. Bahwa atas ketidakadilan tersebut, untuk mempertahankan hak atas tanah
yang dimenangkan lelang tersebut, oleh Johannes Sitanggang (almarhum)
kemudian melakukan perlawanan dan tuntutan melalui permohonannya
kepada Pemerintah Belanda, sehingga putusan nomor 83/ 1936, tanggal 20
November 1936 telah diubah yang salah satu diktumnya berbunyi:
Batalkan Penjualan umum 9 Maret 1935;
Nyatakan, bahwa penuntut adalah pemilik pribumi dari sawah yang
dipersengketakan;
Nyatakan bahwa penuntut awalnya menjadi pemegang gadai sawah
itu untuk jumlah f 45,-;
Hukum dia untuk membayar f 23,- untuk melunasi harga beli tanah
yang oleh dia dibeli pada penjualan umum 12 Desember 1934,
jumlah mana bila tidak dibayar akan diambil dari hartanya;
tunjuk dia membayar biaya perkara
Dengan uraian dictum putusan di atas adalah merupakan penegasan
hak dan awal penguasaan serta kepemilikan Johannes Sitanggang
(almarhum) yang secara jelas tertuang sebagaimana dalam
UITTREKSEL Uit het Besluit van den Gouverneur- Generaal van
Nederlandsch- Indie Buitenzorg, 22sten October 1937 yang telah
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ny. Ediati Kamil
Penterjemah dibawah sumpah untuk bahasa Belanda dan Inggris
sesuai Terjemahan Kutipan Keputusan Gubernur Jenderal Hindia
Belanda-Buitenzorg, 22 Oktober 1937.
5. Bahwa dikemudian setelah beberapa puluh tahun, Johannes Sitanggang
meninggal telah meninggalkan harta warisan yang salah satu bidang adalah
tanah tersebut yang dikemudian telah diukur adalah seluas: + 1647 m2,
dengan batas- batas tanah tidak berubah dan tanah tersebut masih tetap
dalam penguasaan dan dalam pengelolaan para ahli waris almarhum
Johannes Sitanggang yang mempunyai anak laki-laki yaitu:
1. Iskander Sitanggang (almarhum)

2. H. Rati Sitanggang
3. Balehat Sitanggang (almarhum)
6. Bahwa selanjutnya setelah Johannes Sitanggang meninggal, diantara sesama
para ahli waris sepakat untuk tidak membagi harta warisan tersebut, akan
tetapi sepakat untuk menyerahkan hak pengelolaan tanah tersebut di atas
kepada salah seorang ahli waris yaitu Balehat Sitanggang (almarhum).
7. Bahwa selama dalam pengelolaan Balehat Sitanggang, di atas tanah tersebut
telah ditanami padi dan dibagian depan tanah berbatas dengan jalan raya
oleh Balehat Sitanggang telah ditimbun / diuruk yang di atasnya dibangun 1
unit rumah dan menanam pohon-pohon tanaman keras yang sampai
sekarang rumah dan tanaman tersebut masih berdiri.
8. Bahwa kemudian, saat meninggalnya Balehat Sitanggang, oleh keluarga dan
dihadapan masyarakat adat pada saat prosesi pemakaman telah
memakamkannya di areal tanah tersebut tanpa ada keberatan dari pihak
manapun.
9. Bahwa selanjutnya, setelah meninggalnya Balehat Sitanggang atas tanah
tersebut pengelolaannya dengan disetujui dan disepakati oleh keluarga (ic.
Para ahli waris anak dan cucu almarhum Johannes Sitanggang) telah
dilanjutkan oleh salah seorang anak almarhum Balehat Sitanggang dan cucu
dari almarhum Johannes Sitanggang yang bernama Patuan Sitanggang.
10.
Bahwa selama dalam pengelolaan dan penguasaan tanah tersebut
tidak ada yang keberatan dari pihak manapun yang berlangsung sampai
pada tahun 2007.
11.
Bahwa dari uraian tersebut di atas, kepemilikan / penguasaan dan
pengelolaan atas tanah tersebut di atas secara turun temurun tanpa beralih
haknya oleh almarhum Johannes Sitanggang maupun oleh cucunya Patuan
Sitanggang telah berlangsung selama lebih dari 70 (tujuh puluh) tahun tanpa
ada yang keberatan dan menyatakan ada yang berhak atas tanah tersebut,
kemudian oleh almarhum Johannes Sitanggang maupun para ahli warisnya
belum pernah membagikan tanah tersebut di antara sesama para ahli waris.
Awal Timbul Masalah:
1. Bahwa sekitar pertengahan tahun 2007, ada pihak yang mengaku bernama
Ramses Sinaga, yang dalam pengakuannnya salah seorang cucu dari
almarhum Djoga Sinaga yang menyatakan berhak di atas tanah yang
dikuasai dan dikelola oleh Patuan Sitanggang, namun pengakuan hak
tersebut tidak langsung dari Ramses Sinaga (ic. selama permasalahan terjadi
di atas tanah/ objek perkara, Ramses Sinaga tidak pernah diketahui dan
dikenal orangnya), akan tetapi pengakuan hak dilakukan seorang yang
bernama Jonson Sinaga dengan mengatasnamakan Ramses Sinaga.
2. Bahwa pengakuan hak tersebut menyatakan tanah yang dikuasai oleh Patuan
Sitanggang adalah tanah warisan dari almarhum Djoga Sinaga yang tidak
pernah beralih kepada siapa pun dan belum terbagi, pengakuan hak tersebut
mendasarkan kepada hasil pengecekan di Kantor Pertanahan

Kabupaten Toba Samosir yang masih terdaftar di Leggerblad nomor


790a dengan petak 29 tahun 1928, yang disebutkan dalam leggerblad
tidak pernah tercatat ada peralihan dalam bentuk apapun dan masih tercatat
atas nama Djoga Sinaga.
3. Bahwa padahal dikemudian dapat diketahui di Kantor Pertanahan Kabupaten
Toba Samosir, dari daftar Leggerblad yang tercatat adalah nomor: 790 (bukan
nomor: 790a), dan kemudian dalam daftar tersebut secara jelas tertulis pada
petak 29 ada peralihan dalam bentuk gadai kepada atas nama Johannes
Sitanggang (almarhum) kakek dari Patuan Sitanggang.
4. Bahwa dari data tersebut sudah jelas terbantahkan tentang pengakuan tanah
tersebut tidak pernah beralih kepada pihak lain, yang faktanya sejak tahun
1928 telah tercatat digadaikan dan dikelola oleh Johannes Sitanggang
(almarhum).
5. Bahwa juga menjadi pertanyaan, kenapa oleh Ramses Sinaga setelah lebih
dari 70 (tujuh puluh) tahun baru di permasalahkan????, kemudian kenapa
yang mempermasalahkan hanya cucu yang bernama Ramses Sinaga???
kenapa bukan seluruh ahli waris dari Djoga Sinaga, padahal dari silsilah Djoga
Sinaga bahwa Djoga Sinaga mempunyai ahli waris anak-anak lebih dari
seorang namun tidak mempermasalahkan penguasaan dan pemilikan atas
tanah tersebut di atas????.
B.

MASALAH HUKUM:
Kemudian dari permasalahan pengakuan hak atas tanah tersebut di atas, oleh
Ramses Sinaga yang di back up Jonson Sinaga telah mengajukan gugatan
perdata di Pengadilan Negeri Tarutung yang terdaftar perkaranya yaitu:
Perkara Perdata di Pengadilan Negeri Tarutung:
1. Perkara Nomor: 56/ Pdt G/ 2007/ PN. TRT, antara Ramses Sinaga selaku
Penggugat melawan Lamria Br. Sitorus selaku Tergugat I dan Patuan
Sitanggang selaku Tergugat II, dalam putusannya memenangkan Penggugat.
Dalam perkara tersebut oleh Lamria Br. Sitorus selaku Tergugat I dan Patuan
Sitanggang selaku Tergugat II mengajukan upaya hukum dengan
mengajukan Banding ke Pengadilan Tinggi Sumatera Utara di Medan.
2. Perkara Banding Pengadilan Tinggi Sumatera Utara terdaftar Nomor: 266/
Pdt/ 2008/ PT. MDN, antara Lamria Br. Sitorus selaku Tergugat I/ Pembanding
I dan Patuan Sitanggang selaku Tergugat II/ Pembanding II melawan Ramses
Sinaga selaku Penggugat/ Terbanding, dalam putusannya mengabulkan
gugatan banding dan memenangkan para Pembanding.
Kemudian oleh Ramses Sinaga selaku Penggugat/ Terbanding mengajukan
permohonan kasasi ke Mahkamah Agung R I.

3. Perkara Kasasi di Mahkamah Agung R I Nomor: 22 K/ Pdt/ 2009/ MA RI,


antara Ramses Sinaga selaku Penggugat/ Terbanding/ Pemohon Kasasi
melawan Lamria Br. Sitorus selaku Tergugat I/ Pembanding I/ Termohon
Kasasi I dan Patuan Sitanggang selaku Tergugat II/ Pembanding II/ Termohon
Kasasi II, dalam putusannya mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon
Kasasi.
Dalam rentetan perkara tersebut di atas, Ramses Sinaga yang dalam
gugatannya mengaku ahli waris Djoga Sinaga hanya menggugat istri dari salah
seorang anak (menantu) almarhum Johannes Sitanggang yang bernama Balehat
Sianggang dan cucu dari almarhum Johannes Sitanggang bernama Patuan
Sitanggang anak dari almarhum Balehat Sitangang.
Akan tetapi tidak turut digugat/ tidak melibatkan sebagai pihak berperkara atas
para ahli waris langsung almarhum Johannes Sitanggang yaitu ahli waris anak
yang salah seorangnya masih hidup yaitu H. Rati Sitanggang maupun
seharusnya para ahli waris pengganti lainnya dari anak- anak almarhum
Iskander Sitanggang dan juga keseluruhan anak-anak almarhum Balehat
Sitanggang lainnya.
Bahwa seharusnya dalam rentetan perkara gugatan di atas seharusnya
melibatkan para ahli waris almarhum Johannes Sitanggang lainnya,
disebabkan atas objek sengketa adalah bukan hanya hak/ milik dari
almarhum Balehat Sitanggang (almarhum) ataupun milik dari Lamria
Br. Sitorus dan Patuan Sitanggang akan tetapi masih hak/ milik dari
seluruh para ahli waris almarhum Johannes Sitanggang, karena tanah
tersebut di atas belum terbagi dan Balehat Sitanggang (almarhum)
maupun Patuan Sitanggang hanya berhak untuk mengelola dan bukan
memiliki.
Perkara Perdata di Pengadilan Negeri Balige:
Bahwa atas dasar hak atau kepemilikan yang masih sah dan melekat atas objek
perkara serta tidak dilibatkannya dalam rentetan perkara di Pengadilan Negeri
Tarutung tersebut di atas, maka oleh para ahli waris almarhum Johannes
Sitanggang lainnya mengajukan gugatan perdata di Pengadilan Negeri Balige
(karena objek perkara setelah adanya pemekaran wilayah pemerintahan daerah
kabupaten dan pemekaran wilayah hukum adalah berada dan terletak di wilayah
Kabupaten Toba Samosir) yang terdaftar yaitu:
Perkara Perdata Nomor: 06/ Pdt G/ 2010/ PN. BLG, antara Turman
Sitanggang, dkk selaku Penggugat melawan Ramses Sinaga selaku Tergugat.
Dalam perkara gugatan tersebut oleh Pengadilan Negeri Balige telah
memutuskan gugatan Penggugat adalah tidak dapat diterima (niet on

vankelijke verklaard), yang salah satu dasar pertimbangannya perkara


gugatan Penggugat nebis in idem.
Bahwa atas putusan Pengadilan Negeri Balige tersebut di atas oleh Penggugat
mengajukan upaya hukum banding ke Pengadilan Tinggi Sumatera utara,
dengan pihak-pihak Turman Sitanggang, dkk selaku Penggugat/ Pembanding
melawan Ramses Sinaga selaku Tergugat/ Terbanding, yang perkaranya belum
diputuskan dan masih tahap pengiriman berkas perkara ke Pengadilan Tinggi
Sumatera Utara sesuai Surat Nomor: W2. U18. 599/ Pdt/ III/ 2011, tanggal
16 Maret 2011, perihal: Pengiriman Berkas Perkara Perdata Nomor: 06/
Pdt. G/ 2010/ PN. BLG.
Peristiwa Penzoliman dalam Proses Perkara:
Perkara di Pengadilan Negeri Tarutung:
Dari keseluruhan proses pemeriksaan perkara antara Penggugat Ramses Sinaga
melawan Lamria Br. Sitorus dan Patuan Sitanggang selaku para Tergugat yang
diperiksa oleh Pengadilan Negeri Tarutung, di duga terjadi adanya praktek mafia
hukum dengan fakta-fakta dugaan sebagai berikut:
1. Majelis hakim Pengadilan Negeri Balige telah memutus perkara
memenangkan Penggugat Ramses Sinaga tanpa alat bukti
kepemilikan yang sah dan hanya mendasarkan bukti foto copy dari
kutipan Leggerblad no 790a persil 29.
Sedangkan Leggerblad bukan bukti hak atau bukti kepemilikan sebagaimana
ketentuan hukum tentang bukti hak atas tanah yang berlaku di Indonesia,
karena Leggerblad hanya berupa buku daftar pencatatan dan buku tersebut
adalah bukan milik personal (pribadi) akan tetapi property pemerintah dalam
hal ini Kantor Pertanahan Kabupaten Tobasa.
Dalam hukum acara perkara perdata, alat bukti foto copy tidak dapat
diterima sebagai alat bukti yang sah, hal itu terdapat dalam aturan yang
sudah dapat diterima sebagai ketentuan hukum yaitu:
surat bukti yang hanya berupa foto copy yang tidak pernah ada aslinya,
oleh karena mana surat bukti tersebut harus dikesampingkan (Putusan
Mahkamah Agung RI No. 3609 K/ Pdt/ 1985, tanggal 9 desember
1985).
Karena judex factie mendasarkan keputusannya melulu atas surat-surat
yang terdiri dari foto copy-foto copy yang tidak secara sah dinyatakan sesuai
dengan aslinya, sedang terdapat diantaranya yang penting-penting yang
secara substansial masih dipertengkarkan oleh kedua belah pihak , judex
factie sebenarnya telah memutuskan perkara ini berdaarkan bukti-bukti yang

tidak sah (Putusan Mahkamah Agung RI, tanggal 1 April 1976 Nomor:
701 K/ Sip/ 1974)
2. Majelis Hakim telah mengabaikan fakta-fakta hukum dari Lamria Br
Sitorus selaku Tergugat I dan Patuan Sitanggang selaku Tergugat II
yaitu alat bukti tertulis dan keterangan saksi-saksi.
Dipersidangan Lamria Br Sitorus selaku Tergugat I dan Patuan Sitanggang
selaku Tergugat II telah mengajukan dasar pengalihan dan dasar penguasaan
atas tanah objek perkara dari Djoga Sinaga kepada Johannes Sitanggang
yaitu berdasarkan UITTREKSEL Uit het Besluit van den Gouverneur- Generaal
van Nederlandsch- Indie Buitenzorg, 22sten October 1937 yang telah
diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ny. Ediati Kamil Penterjemah
dibawah sumpah untuk Bahasa Belanda dan Inggris sesuai Terjemahan
Kutipan Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda-Buitenzorg, 22 Oktober
1937.
Dimana dalam bukti tersebut telah secara jelas terurai riwayat dan dasar
peralihan yang diawali dari gadai dan kemudian di lelang pada tanggal 12
Desember 1934, dari bukti tersebut telah secara tegas menyatakan objeknya
tanah sawah dari seseorang bernama Djoga Sinaga, apabila majelis hakim
mengabaikan alat bukti berupa putusan tersebut yang merupakan produk
zaman Belanda dan juga sama hal nya dengan bukti yang diajukan oleh
Penggugat Ramses Sinaga juga produk zaman Belanda. Kemudian menjadi
pertanyaan: apa yang menjadi landasan dan dasar majelis hakim untuk lebih
mempertimbangkan dan menyakini bukti Penggugat Ramses Sinaga sebagai
alat bukti hak?????????????, apakah dalam Leggerblad tersebut juga tersebut
letak dan batas-batas serta luas????????.
Demikian juga pertimbangan majelis hakim yang mengacu pada keterangan
saksi atas nama Pasti br Sinambela, Adian Nainggolan, Timbul Nadeak, yang
dalam pertimbangannya yang menyatakan keterangan saksi Pasti br. Sinaga
dengan keterangan saksi Tergugat- Tergugat lainnya berdiri sendiri dan tidak
bersesuaian dan juga tidak bersesuaian dengan bukti T I, II-1
(dipertimbangkan tidak memenuhi syarat materil sebagai alas hak dari
Tergugat-Tergugat).
Majelis hakim Pengadilan Negeri Tarutung dalam pertimbangannya telah
subjektif dan berpihak terkait dengan pertimbangan keterangan saksi-saksi
dari Tergugat-Tergugat dan juga bukti-bukti Tergugat-Tergugat telah terjadi
pengabaian fakta dan bukti, sedangkan fakta atas alat bukti yang hanya foto
copy dan dari keterangan saksi- saksi dari Penggugat Ramses Sinaga yang
keterangannya testimonium de auditu juga dijadikan dasar pertimbangan
dalam memutus perkara. Demikian atas alat bukti surat hanya foto copy dan
juga bukan merupakan bukti kepemilikan akan tetapi hanya bukti berupa
pencatatan yang dibuat pada zaman Belanda tahun 1928.

3. Selama dalam perkara sejak tahun 2007 sampai sekarang, yang tersebut
sebagai Penggugat Ramses Sinaga tidak dikenal dan tidak pernah bertempat
tinggal di desa Patane V (lokasi sekitar objek perkara) bahkan tidak pernah
hadir selama persidangan (selama perkara), akan tetapi yang selalu berperan
dan selalu hadir adalah Saudara Jonson Sinaga dan didampingi penasehat
hukumnya bernama Panahatan Hutajulu, SH., hal itu menimbulkan
kecurigaan dan meragukan karena adanya dugaan bahwa surat kuasa yang
diberikan kepada Penasehat hukum Penggugat Ramses Sinaga adalah hasil
rekayasa Jonson Sinaga sendiri.
4. Dalam setiap persidangan, Jonson Sinaga terlihat jelas kedekatan khusus
dengan majelis hakim yang menangani perkara diluar persidangan.
5. Jonson Sinaga yang mengatasnamakan Ramses Sinaga, selama perkara
selalu dengan sesumber menyatakan selama ayam masih makan
jagung, semua aparat bisa dibayar, termasuk orang-orang
pengadilan, dari pernyataan tersebut sudah merupakan penghinaan dan
pelecehan kepada aparatur Negara, akan tetapi juga bisa diartikulasikan
bahwa: benar Jonson Sinaga telah bermain mata dan telah memberikan
sesuatu kepada Majelis Hakim yang menangani perkara???????????.
6. Jonson Sinaga dengan mengatasnamakan Ramses Sinaga selaku Penggugat
telah mengajukan saksi di bayar yaitu saksi atas nama Sabar Ritonga, yang
dalam keterangannya telah memberikan keterangan palsu, karena dalam
keterangannya tidak sesuai dengan fakta sebenarnya yang seakan-akan
memastikan saksi telah hidup di tahun 1934 yang menerangkan tidak pernah
terjadi lelang dan dari keterangan saksi tersebut merupakan keterangan
saksi yang bersifat asumsi pribadi, namun oleh majelis hakim juga telah
dijadikan sebagai dasar pertimbangan untuk memutus perkara.
Demikian juga keterangan saksi Jonson Sinaga, yang yang seharusnya tidak
selayaknya dapat dijadikan saksi dalam perkara tersebut karena Jonson
Sinaga masih merupakan kerabat dekat yang oleh Undang- Undang terlarang
sebagai saksi, dan keterangannya dipersidangan adalah keterangan yang
testimonium de auditu, karena hanya mengetahui dari orangtua tanpa
melihat, mendengar dan merasakan, akan tetapi oleh majelis hakim juga
dapat dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam memutus perkara.
Perkara di Pengadilan Negeri Balige:
Kemudian dalam pemeriksaan Perkara Perdata Nomor: 06/ Pdt G/ 2010/
PN. BLG, antara Turman Sitanggang, dkk selaku Penggugat melawan Ramses
Sinaga selaku Tergugat. Di duga juga terjadi adanya praktek mafia hukum
dengan fakta-fakta dugaan sebagai berikut:

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Balige telah keliru dan sangat berpihak
dalam pengambilan putusan dan mengabaikan dalil-dalil dan fakta- fakta
hukum yang diajukan Penggugat selaku para ahli waris langsung almarhum
Johannes Sitanggang, yang dalam pertimbangan hukumnya menyatakan
gugatan para ahli waris almarhum Johannes Sitanggang tidak dapat diterima
(niet on vankelijke verklaard) dengan dasar nebis in idem karena objek
perkara telah pernah diputus di Pengadilan Negeri Tarutung.
Padahal perkara gugatan Ramses Sinaga yang diperiksa oleh Pengadilan
Negeri Tarutung adalah pihak yang tidak selayak untuk digugat karena objek
terperkara bukan hak atau milik dari Lamria Br Sitorus dan Patuan
Sitanggang, akan tetapi masih terkait dan masih merupakan tanah hak milik
seluruh para ahli waris almarhum Johannes Sitanggang yang diperoleh dari
Djaga Sinaga berdasarkan lelang eksekutorial tanggal 12 Desember 1934.
Jika di pertimbangkan majelis hakim Pengadilan Negeri Balige atas
gugatan para ahli waris yang masih berhak atas objek perkara
dinyatakan nebis in idem, kemudian langkah hukum apa yang dapat
dilakukan oleh para ahli waris yang masih berhak dan
berkepentingan atas objek perkara?????????????.
Bahwa adanya putusan sedemikian, menurut dugaan Penggugat terdapat
adanya permainan mafia hukum karena selama dalam perkara terlihat dan
selalu didegungkan oleh Jonson Sinaga kedekatannya dengan orang-orang
Pengadilan khususnya dengan beberapa hakim Pengadilan Negeri Balige dan
beberapa panitera, hal itu juga terlihat dari seringnya Jonson Sinaga
berkunjung ke Pengadilan Negeri Balige.
Bahwa demikian disekitar lokasi perkara, Jonson Sinaga selalu dengan
sesumbar menyatakan dan memastikan pasti akan memenangkan perkara,
semuanya bisa di atur dengan uang, berarti: dapat diasumsikan Jonson
Sinaga telah melakukan pendekatan kepada pihak-pihak pengadilan untuk
mentargetkan harus memenangkan perkara gugatan para ahli waris perkara
Nomor: 06/ Pdt G/ 2010/ PN. BLG.
Peristiwa Penzoliman dalam Pelaksanaan Eksekusi Yang cacat Hukum
dan Tidak Prosedural:
Bahwa berdasarkan Penetapan Ketua Pengadilan Negeri Balige No. 01/ Eks/
2011/ 56/ Pdt G/ 2007/ PN. TRT, telah memerintahkan Panitera Pengadilan Negeri
Balige untuk melakukan eksekusi guna memenuhi amar putusan dalam perkara
perdata nomor: 56/ Pdt G/ 2007/ PN. TRT., untuk dilakukan eksekusi
pengosongan dan menyerahkan tanah objek perkara seluas: 1647 m2, yang
terletak di Lumban Sinaga dahulu Kelurahan Patane III sekarang Desa Patane V
Kecamatan Porsea Kabupaten Tobasa dengan cara membongkar bangunan

antara lain: 1 unit rumah dan 1 tambak (makam) serta menebang pohon/ tanamtanaman yang ada di atas.
Bahwa kemudian oleh Pengadilan Negeri Balige telah melaksanakan eksekusi
tersebut pada hari Kamis, tanggal 14 April 2011, yang dalam pelaksanaan
eksekusi tersebut Pengadilan Negeri Balige telah bertindak arogan, sewenangwenang dan sangat tidak bermoral dan terkesan disengaja dipaksakan untuk
segera dapat dieksekusi objek perkara tersebut.
Padahal sebenarnya masih terdapat perkara lain yang masih dalam proses
pemeriksaan perkara perdata terkait dengan objek perkara yang dieksekusi
yaitu perkara gugatan para ahli waris almarhum Johannes Sitanggang yang
masih proses banding sesuai akta permohonan banding nomor 26/ Bdg/ Pdt/
2010/ PN. Blg, tanggal 30 Nopember 2010 jo nomor 06/ Pdt G/ 2010/ PN. Blg.
dan juga perkara Gugatan H. Rati Sitanggang selaku ahli waris langsung
alamrhum Johannes Sitanggang terdaftar perkara Nomor: 35/ Pdt. G/ 2010/ PN.
Blg., yang perkaranya masih dalam pemeriksaan Pengadilan Negeri Balige.
Bahwa lebih sangat tidak bermoral dan tidak manusiawi atas
pelaksanaan eksekusi tersebut oleh Pengadilan Negeri Balige telah
melakukan pengrusakan atas 1 buah tambak (makam) dari salah
seorang ahli waris langsung almarhum Johannes Sitanggang yang
bernama Balehat Sitangang almarhum yang dilakukan tanpa sosialisasi
dan tidak diberikan kesempatan terlebih dahulu kepada ahli waris
pemilik tambak (makam) untuk memindahkannya sesuai kebiasaan
masyarakat adat setempat dan sesuai prosesi keagamaan yang dianut
oleh para ahli waris ataupun agama dari pihak yang dimakamkan.
Bahwa yang lebih fatal dan merupakan pukulan berat bagi para ahli
waris almarhum Johannes Sitanggang apalagi anak- anak kandung dari
almarhum Balehat Sitanggang adalah bahwa para ahli waris sampai
sekarang belum / tidak mengetahui dimana ditaruh / dimakam jasad
dari almarhum Balehat Sitanggang karena setelah dilakukan eksekusi
tidak ada satupun dari pihak pelaksana eksekusi yang memberitahukan
dimana telah ditaruh/ dipindahkan atas makam tersebut.
Bahwa seharusnya, atas pelaksanaan eksekusi tersebut belum atau tidak
selayaknya untuk dilakukan eksekusi karena masih terdapat perkara- perkara
yang masih berlangsung terkait dengan objek perkara, dimana seharusnya ketua
Pengadilan Negeri Balige dapat mempertimbangkan untuk melakukan
penundaan pelaksanaan eksekusi sampai perkara dapat diselesaikan dan tidak
ada lagi upaya hukum atas objek sengketa (Incracht van gewijs). Padahal untuk
penundaan tersebut para ahli waris telah menyampaikan permohonannya untuk
menunda eksekusi dengan dasar dan alasan masih berjalannya proses perkara

sebagaimana telah disebutkan di atas, namun permohonan tersebut telah


diabaikan dan tidak digubris oleh Ketua Pengadilan Negeri Balige.
Bahwa berdasarkan keseluruhan rangkaian peristiwa perkara yang telah
diuraikan di atas, kami melalui surat permohonan perlindungan hukum
dan keadilan ini menyampaikan kepada Bapak Ketua Mahkamah Agung
Republik Indonesia untuk berkenan mempertimbangkan untuk dapat
memeriksa dan memberikan tanggapan dalam perkara tersebut serta
untuk kemudian memberikan solusi hukum yang selayak harus kami
lakukan dalam upaya pengembalian hak-hak kami para ahli waris
almarhum Johannes Sitanggang dan dalam upaya untuk mendapat
keadilan atas tindakan penzoliman oleh aparat Pengadilan Negeri Balige
dan pihak-pihak lainnya yang telah berperan menyebabkan kami para ahli
waris almarhum Johannes Sitanggang harus kehilangan hak atas objek
perkara yang telah dimiliki dan dikuasai selama lebih dari 70 (tujuh
puluh).
Bahwa mohon juga kiranya Bapak Ketua Mahkamah Agung Republik
Indonesia berkenan untuk mengambil tindakan tegas kepada para aparat
dijajaran Bapak demi tegak hukum dan demi berlangsungnya proses
penegakan hukum yang bersih dari tindakan- tindakan para mafia hokum
sebagaimana dicanangkan Pemerintah Republik Indonesia yang samasama kita cintai ini.
Demikian Kami sampai permohonan ini, atas berkenannya Bapak Ketua Mahkamah
Agung Republik Indonesia untuk menerima dan mengabulkan permohonan ini,
terlebih dahulu Kami ucapkan terima kasih.

Hormat Kami:
Atas nama Para Ahli Waris:

Haji Rati Sitanggang

Anda mungkin juga menyukai