Anda di halaman 1dari 16

METODE PEMBAYARAN, ALAT PEMBAYARAN DAN PENGANGKUTAN DALAM

PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Perdagangan Internasional
Pengertian perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh
penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama.
Penduduk yang dimaksud dapat berupa antar perorangan (individu dengan individu), antara
individu dengan pemerintah suatu negara atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah
negara lain. faktor pendorong terjadinya perdagangan internasional adalah sebagai berikut :
1. Adanya sumber kekayaan alam, iklim, letak geografis, keahlian penduduk, ongkos
tenaga kerja, tingkat harga, struktur ekonomi dan sosial.
2. Memperluas Pasar
3. Mengimpor teknologi Moderen
Adapun manfaat dari perdagangan internasional diantaranya :
1.
2.
3.
4.
5.

Efisiensi
Perluasan konsumsi dan produksi
Peningkatan produktifitas
Sumber penerimaan negara
Sumber pemasukan kas negara dari pajak ekspor dan impor dan lainya.

A. Metode Pembayaran Dalam Perdagangan Internasional


Pembayaran internasional adalah pembayaran atas transaksi yang dilakukan oleh
negara-negara yang terlibat dalam perdagangan internasional berdasarkan kesepakatan yang
telah dirundingkan sebelumnya. Pembayaran dalam perdagangan internasional pada
umumnya dilaksanakan melalui bank. Bagi pebisnis, terutama export import, pengetahuan
mengenai cara pembayaran adalah sangat penting. Berikut ini disampaikan cara-cara
pembayaran internasional. Banyak cara pembayaran yang dipergunakan dalam perdagangan
internasional, tetapi yang lazim dipergunakan adalah :
1.
2.
3.
4.
5.

Advance Payment (Cash in Advance)


Open Account
Consignment
Collection Basis
Letter of Credit
1

Selain dari jenis-jenis pembayaran tersebut masih banyak cara-cara pembayaran yang
masih dipergunakan seperti barter, barter konsinyasi dan sebagainya sesuai dengan
kesepakatan antara penjual dan pembeli. Cara pembayaran mana yang dipilih tergantung dari
kepercayaan masing-masing pihak terhadap mitra dagangnya, hubungan sera iklim ekonomi
dinegara masing-masing.

1. Advance Payment (Pembayaran dimuka)


Pembeli membayar harga barang sebelum barang tersebut diterimanya atau
dikapalkan/ dikirimkan kepadanya. Ini berarti bahwa pembeli pada hakekatnya telah
memberikan kredit kepada penjual (buyers credit), sehingga penjual dengan kredit tersebut
dapat menyiapkan barang yang akan dikirimkannya kepada pembeli.

Setelah barang dikirimkan si penjual mengirim dokumen pengangkutan disertai


invoice yang mencantumkan pembayaran telah dilakukan in advance. Cara ini tentunya
sangat menguntungkan penjual, karena :
a. Mendapatkan kredit;
b. Menerima pembayaran atas barang yang dijual;
c. Tidak ada resiko;
Namun pembeli menanggung resiko yaitu kemungkinan penjual tidak mengirimkan
barang yang telah dibayarnya. Jika hal tersebut terjadi pembeli tidak mempunyai bukti

otentik untuk dapat menuntut penjual melalui pengadilan. pembayaran dilakukan dengan TT
(Telegraphic Transfer) sebelum delivery barang atau dengan kata lain dimuka.

2. Open Account (Perhitungan kemudian)


Open Account adalah sistem pembayaran dimana belum dilakukan pembayaran apaapa oleh importir kepada eksportir sebelum barang dikapalkan atau tiba dan diterima importir
atau sebelum waktu tertentu yang telah disepakati.

Open Account (sistem rekening terbuka) biasanya terjadi pada pemasaran ekspor
dengan kantor cabang atau perwakilan di luar negeri atau dengan mitra dagang yang sudah
dipercaya. Eksportir setelah melakukan pengapalan barang akan mengirimkan invoice kepada
importir. Dalam invoice tersebut eksportir akan mencantumkan tanggal dan waktu tertentu
kapan importir harus melakukan pembayaran. Sistem Pembayaran ini dapat terjadi apabila :
a.
b.
c.
d.

Ada kepercayaan penuh antara eksportir dan importir;


Barang-barang dan dokumen akan langsung dikirim kepada pembeli;
Eksportir kelebihan dana;
Eksportir yakin tidak ada peraturan di negara importir yang melarang transfer
pembayaran.

Namun diluar itu Open Account memiliki resiko resiko yang dapat terjadi dalam sistem
pembayaran ini antara lain :

a. Eksportir tidak mendapat perlindungan apakah importir akan membayar.


b. Dalam hal importir tidak membayar, eksportir akan kesulitan dalam
membuktikannya di pengadilan karena tidak ada bukti-bukti
c. Penyelesaian perselisihan akan menimbulkan biaya bagi eksportir.

3. Consignment (Konsinyasi)
Cara pembayaran ini, pembeli menerima barang yang secara hukum masih milik
penjual. Barang tersebut dititipkan ke pembeli untuk dijual. Bila barang tersebut tidak laku,
akan dikembalikan kepada penjual. Dalam hal ini pembeli hanya perlu membayar jumlah
barang yang telah terjual saja. Risiko ada pada penjual karena barang tersebut baru akan
dibayar setelah barang terjual. Bisa juga barang sudah dijual tapi pembeli tetap tidak
membayar uangnya, dengan alasan barang belum terjual.

Untung - rugi pembayaran dengan konsinyasi biasanya Cara ini paling


menguntungkan bagi importir karena tidak perlu modal yang besar untuk menjual barang
modal yang dikeluarkan paling hanya space untuk gudang atau tempat menjualnya,
sedangkan bagi eksportir timbul resiko, antara lain kemungkinan lamanya modal tertahan
karena menunggu sampai terjualnya barang, atau adanya keterlambatan pembayaran walau
barang sudah terjual. Untuk mengurangi resiko, eksportir dapat menggunakan jasa "bonded
warehouse" (entreport) sebagai pihak yang menyimpan barang untuk dititipkan sampai
barang terjual.
4

4. Collection
Yang dimaksud dengan cara pembayaran "Collection" adalah penagihan pembayaran
dari pembeli dilakukan melalui Bank, yaitu pengiriman dokumen ekspor kepada importir
(tertarik/tertagih/drawee) dengan menggunakan jasa Bank untuk menagih pembayarannya.
Jadi eksportir baru memperoleh pembayaran setelah dananya tertagih atau dibayar oleh
importir.

Untung-rugi cara pembayaran Collection yaitu Cara pembayaran dengan Collection


ini lebih menguntungkan pembeli (importir), karena pemesanan barang tidak diikuti dengan
kewajiban menyetor dana. Bagi eksportir, cara pembayaran ini tidak menguntungkan karena
tidak adanya kepastian pembayaran oleh importir. Walaupun kepemilikan barang masih tetap
ditangan eksportir, resiko yang dihadapi adalah jika importir menolak melakukan
pembayaran / akseptasi meskipun barang dan dokumen sudah dikirim. Eksportir akan
mengalami kesulitan untuk mengurus barang - barang yang sudah berada di luar negeri.
Demikian pula walaupun akseptasi telah dilakukan oleh importir, masih ada resiko yaitu tidak
adanya pembayaran pada saat jatuh tempo jadi Importir bisa saja membayar dalam waktu
yang sangat lama bahkan tidak melakukan pembayaran apa-apa (fraud) dan tidak mengambil
document ekspor pada tempat Importir melakukan Banking. Hal ini dilakukan oleh pihakpihak yang telah saling percaya dan telah menjalin kerjasama dalam jangka waktu yang
relatif lama. Cara pembayaran Collection ini diatur dalam URC (Uniform Rules for
Collection) edisi terakhir.
5

5. Letter Of Credit
Letter of credit adalah jaminan pembayaran yang diterbitkan oleh bank atas
permintaan buyer, pembayaran dilakukan dengan pencairan letter of credit oleh eksportir
pada bank. Letter of credit dapat berupa kondisi sight (atas unjuk) atau usance (berjangka)
sesuai dengan kesepakatan. Yang membedakan cara ke-5 dengan cara lainnya (1 s/d 4) adalah
adanya instrumen L/C yang merupakan jaminan pembayaran yang diterbitkan oleh bank yang
mengakibatkan dari segi cost cara ini akan lebih mahal bagi buyer ataupun eksportir.

Secara umum akan lebih aman dan lebih terjamin khususnya bagi eksportir
dengan pengecualian cara advance payment secara 100 % yang tentunya paling aman
bagi eksportir (relatif jarang). Yang harus dicermati bila memilih advance payment
adalah berapa jumlah persentase uang muka yang akan dibayar karena sisanya yang
biasanya akan dibayar setelah delivery barang merupakan potensi risiko bagi eksportir.
Cara collection draft kondisi D/P) adalah salah satu pilihan yang relatif aman bagi
eksportir selain dari cara ke-1 atau ke-5 dengan biaya yang relatif murah pula. Akhirakhir ini cara open account juga sudah divariasi dengan menggunakan jaminan bank
dalam bentuk standby letter of credit dengan catatan transaksi dilaksanakan secara
rutin dalam jangka panjang. Cara ini juga patut dipertimbangkan.

B. Alat Pembayaran Dalam Perdagangan Internasional


Alat pembayaran yang digunakan dalam perdagangan internasional berbeda dengan
alat pembayaran perdagangan di dalam negeri. Perdagangan dalam negeri menggunakan mata
uang kita sendiri sebagai alat pembayaran. Perdagangan internasional menggunakan alat
pembayaran yang dapat diterima secara internasional. Penukaran mata uang dapat dilakukan
di bank atau di tempat penukaran uang (money changer).
Alat pembayaran yang dapat diterima secara internasional dapat berupa mata uang
asing, emas batangan, cek, atau surat-surat berharga. Mata uang asing yang digunakan
sebagai alat pembayaran perdagangan internasional disebut valuta asing. Mata uang yang

sering digunakan yaitu $ dollar (Amerika Serikat), yen (Jepang), euro (Eropa), dan
poundsterling (Inggris). Nilai mata uang suatu negara dengan negara lainnya berbeda-beda.
Perbandingan nilai mata uang suatu negara dengan negara lain dikenal dengan kurs
valuta asing. Ada dua macam kurs valuta asing yang digunakan, yaitu kurs jual dan kurs beli.
Kurs jual adalah harga yang digunakan ketika bank atau money changer membeli valuta
asing. Kurs beli adalah harga yang digunakan ketika bank atau money changer menjual valuta
asing.
Kurs valuta asing berubah-ubah. Perubahan ini salah satunya disebabkan oleh
peningkatan permintaan terhadap mata uang asing. Misalnya, masyarakat Indonesia sangat
membutuhkan produk-produk yang diimpor dari Amerika serikat. hal ini menyebabkan
meningkatnya permintaan terhadap produk tersebut yang berdampak pada meningkatnya
permintaan mata uang dolar Amerika. Meningkatnya permintaan terhadap dolar Amerika
menyebabkan kursnya menjadi naik.
Hubungan utama antara nilai tukar dan perdagangan internasional adalah cara di mana
fluktuasi nilai tukar mempengaruhi nilai impor dan ekspor. Ketika datang untuk bertukar rate
dan perdagangan internasional, mata uang yang lemah dapat mempengaruhi jenis barang
serta jumlah barang yang satu negara dapat membeli. Seperti perbedaan dalam nilai tukar dan
perdagangan internasional juga dapat menyebabkan suatu kondisi di mana ada
ketidakseimbangan perdagangan antara dua mitra dagang.
Sebuah analisis tentang hubungan antara nilai tukar dan perdagangan internasional
dapat dilakukan pada tingkat nasional atau pemerintah, atau dapat dilihat dari perspektif
individu. Di tingkat nasional, sebuah negara dengan mata uang lemah berada pada posisi
yang kurang menguntungkan ketika perdagangan dengan negara dengan mata uang yang
lebih kuat. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa negara dengan mata uang lemah tidak akan
dapat melampirkan nilai yang sama dan kepuasan terhadap barang-barang yang ia mampu
membeli berdasarkan nilai tukar.
Ketika suatu negara mengekspor produk, mungkin mengetahui bahwa mata uang
lemah akan untuk keuntungan perusahaan. Menjual barang pada pasar internasional akan
bersih lebih banyak uang dalam hal mata uang lokal karena fakta bahwa mata uang lokal
lebih lemah dari yang asing. Hal ini juga bekerja untuk individu. Misalnya, jika mata uang
seorang pengusaha dijual seharga 100 dolar yang sebagai lawan 50 sebelumnya untuk satu
dolar, ini berarti bahwa ia dapat menjual barang untuk jumlah dolar yang biasa dan
7

menghasilkan uang dua kali lebih banyak dalam hal mata uang lokal berdasarkan perubahan
nilai tukar.
Masalahnya adalah bahwa ketika pengusaha mencoba untuk mengimpor produk dia
akan menghabiskan dua kali lebih banyak untuk membeli mata uang asing yang lebih kuat
untuk memfasilitasi perdagangan. Ini berarti bahwa ada trade ketidakseimbangan antara
kedua negara di mana negara dengan mata uang kuat memiliki keuntungan moneter.
Ketidakseimbangan ini disebabkan variasi yang tidak proporsional dalam nilai tukar dari
mata uang kedua negara.
Dalam istilah ekonomi, segala bentuk depresiasi atau apresiasi yang terjadi pada
nilai tukar suatu negara secara langsung mempengaruhi neraca perdagangan antara
negara dan neraca perdagangannya. Jadi, tergantung pada apakah nilai tukar
terdepresiasi atau menghargai, neraca perdagangan dapat berubah merugikan atau ke
keuntungan negara dalam kaitannya dengan perdagangan dengan negara- negara lain.
Faktor-faktor tersebut juga mempengaruhi daya saing suatu negara dalam
perdagangan internasional. Beberapa negara sengaja mendevaluasi mata uang mereka
sehingga dapat meningkatkan manfaat dari perdagangan dengan negara- negara yang
memiliki mata uang kuat. Devaluasi meningkatkan nilai ekspor dengan membuat
mereka lebih murah sementara membuat impor mahal.

C. Pengangkutan Dalam Perdagangan Internasional


Mekanisme pengangkutan barang dalam transaksi perdagangan internasional
memiliki banyak alternatif media pengangkutannya. Dalam praktek perdagangan
internasional, terdapat beberapa alternatif yang dapat dimanfaatkan oleh eksportir atau
penjual barang untuk mengirim barang-barang yang telah disepakati dalam transaksi
perdagangan internasional.
1. Jasa Angkutan Laut
Kegiatan operasional pengangkutan laut dijalankan oleh perusahaan pelayaran
samudera (ocean shipping company) yang bertindak sebagai carrier dalam kontrak
8

pengangkutan laut. Media pengangkutan yang paling sering digunakan dalam mekanisme
transaksi perdagangan internasional adalah media pengangkutan laut (shipping). Berdasarkan
data statistik tahun 2005, diperkirakan sekitar 71% transaksi perdagangan internasional
menggunakan sarana pengangkutan laut. Bila dilihat berdasarkan data volume/berat barang,
maka kurang lebih 96% volume barang dalam transaksi perdagangan internasional
menggunakan sarana pengangkutan laut (Bank Ekspor Impor Indonesia, 2005). Kelebihan
utama dari jasa angkutan laut dibanding dengan jasa angkutan lainnya dalam pengangkutan
internasional terletak pada biaya yang relatif murah dengan volume barang yang lebih besar.
Berdasarkan pola transportasi yang diterapkan dalam jasa angkutan laut, terdapat beberapa
alternatif sebagai berikut :
-

Liner, yaitu pola pengangkutan dengan trayek tertentu dan telah ditentukan waktunya

secara reguler. Keberangkatan dan kedatangan kapal telah terjadwal dengan baik.
Tramper, adalah pola pengangkutan laut yang tidak memiliki trayek dan jadwal waktu
yang jelas (independence services). Sifat jasa pengangkutan mengikuti keinginan
pihak yang mengoperasikan kapal namun disesuaikan dengan pihak yang mengontrak

space muatan kapal.


Charter, adalah pola pengangkutan laut dengan cara menyewa secara penuh hak
pengoperasian kapal. Perjanjian sewa-menyewa antara pemilik kapal dengan pihak
yang mencarternya disebut sebagai charter party.

Kontrak Pengangkutan
Kontrak pengangkutan (contract of carriage atau contract of affreightment) adalah
perikatan antara pengirim (shipper) dengan pihak pengangkut (carrier) untuk
mengangkut barang dari suatu tempat di negara eksportir hingga sampai di suatu
tempat di negara importir. Sebagai bukti adanya perjanjian pengangkutan dan
sekaligus adanya bukti penyerahan barang dari shipper kepada carrier maka akan
dibuatkan dokumen bill of lading. Secara umum pihak-pihak yang terlibat dan
disebutkan secara tegas dalam kontrak pengangkutan adalah sebagai berikut:
-

Carrier.
Yaitu pihak yang memberikan jasa pengangkutan barang atau dengan pengertian
lain adalah pihak yang mengendalikan/mengoperasikan sarana pengangkut untuk
tujuan pengangkutan barang. Jasa pengangkutan barang tersebut dapat berupa
jasa publik (common carrier) dengan pengertian bahwa carrier dapat menerima
9

muatan dari siapa saja atau jasa pengangkutan yang bersifat khusus (private
carrier) artinya bahwa sarana pengangkut secara penuh telah disewa oleh shipper,
khusus untuk mengangkut barang-barang milik shipper saja.

Shipper.
Kedudukan shipper dalam kontrak pengangkutan adalah sebagai pihak yang
mengontrak carrier untuk mengangkut barang dari suatu tempat di negaranya
hingga sampai di tempat tujuan. Berkaitan dengan kontrak perdagangan (sales
contract) maka posisi shipper adalah sebagai penjual (eksportir) sehingga
kewajibannya adalah mengirimkan barang yang diperjualbelikan kepada pembeli
(importir).

Consignee.
Adalah pihak yang ditunjuk oleh shipper untuk menerima barang yang diangkut
di pelabuhan tujuan. Mekanisme penunjukan consignee dalam kontrak
pengangkutan dapat berupa penunjukan langsung, artinya bahwa nama dan
alamat perusahaan yang berhak menerima barang telah dicantumkan di dalam
B/L. Kemudian cara kedua adalah dengan menyebutkan consignee dengan
klausul to order artinya bahwa shipper akan memberikan instruksi pengapalan
(shipping instruction) yang akan di-endorse kepada pihak mana barang tersebut
nantinya harus diserahkan oleh carrier.

Notify Party
Adalah pihak yang ditunjuk shippers dalam B/L sebagai pihak yang harus
diberitahukan oleh carrier setelah barang tiba di pelabuhan tujuan, lazimnya atas
permintaan importir. Notify party bukan bertindak sebagai penerima barang
namun memiliki keterkaitan dengan pihak importir. Kondisi ini biasanya
diberlakukan terhadap B/L yang bersifat negotiable, artinya bahwa importir
mengalihkan kepemilikan barang kepada pihak lain, dan untuk hal tersebut
importir hanya akan bertindak sebagai notify party dalam kontrak pengangkutan.

Shipping Instruction
Setelah shipper mendapat kepastian mengenai terms of payment yang telah disepakati dalam
sales contract maka shipper berkewajiban untuk melakukan pengiriman barang. Untuk itu

10

shipper akan menghubungi perusahaan jasa angkutan (carrier) untuk dibukakan kontrak
pengangkutan barang. Pihak carrier hanya berkepentingan dalam hal pengaturan jadwal
keberangkatan sarana pengangkut dan besarnya ongkos angkut yang akan dikenakan. Oleh
karenanya agar kontrak pengangkutan dapat segera disusun maka shipper akan mengeluarkan
instruksi dan sekaligus informasi mengenai pengiriman barang. Dokumen inilah yang disebut
sebagai shipping instruction (SI).
v Bill of Lading
Bill of lading (B/L) adalah dokumen pengangkutan barang yang dikirim melalui sarana
pengangkutan laut. Istilah lengkap untuk B/L adalah Marine Bill of Lading atau Ocean Bill of
Lading, yang diterbitkan oleh maskapai pelayaran (carrier) atau agen kapal sebagai bukti
telah diterimanya barang untuk dikirimkan kepada penerima di luar negeri. Dalam bahasa
Indonesia istilah B/L dikenal dengan nama konosemen.
Fungsi Bill of Lading :

Sebagai bukti penerimaan barang (documents of receipt); pengertiannya adalah B/L

merupakan bukti sah bahwa barang-barang yang akan dikapalkan telah diterima oleh carrier
dari pengirim barang yang selanjutnya akan dikirim dan diserahterimakan kepada penerima
di luar negeri.
Sebagai bukti adanya kontrak pengangkutan dan penyerahan barang (carriage contract).
B/L merupakan dokumen perikatan antara pihak pengirim barang (shipper) dengan
pengangkut (carrier).
Sebagai bukti kepemilikan barang (document of title); pemegang dokumen asli B/L atau
pihak yang ditunjuk sebagai consignee merupakan pihak yang secara sah memiliki hak untuk
penguasaan barang.
Jumlah set lengkap Bill of Lading
Jumlah set lengkap bill of lading yang diterbitkan oleh maskapai pelayaran biasanya
sebanyak tiga lembar asli yang ditandatangani dan diberikan cap negotiable copies oleh
carrier. Ketiga lembar asli inilah yang disebut sebagai full set dan berlaku klausul one for all
and all for one, pengertiannya adalah bahwa apabila salah satu lembar asli telah
dipergunakan untuk mengklaim barang/ telah ditukar dengan delivery order, maka 2 lembar

11

asli lainnya tidak berfungsi lagi. Ketiga lembar asli tersebut peruntukannya adalah 1 (satu)
lembar untuk shipper dan 2 (dua) lembar lainnya untuk consignee.
v Stowage Plan
Stowage plan merupakan suatu diagram yang menggambarkan penempatan cargo atau
kontainer di ruang muatan (palka-palka kapal) agar di pelabuhan tujuan kegiatan bongkar
muat barang dapat berjalan dengan baik. Stowage plan dibuat berdasarkan denah yang telah
tersedia untuk masingmasing kapal, sesuai dengan karakteristik ruang muatan setiap kapal
selain itu berguna untuk memperlihatkan kedudukan posisi muatan, jenis muatan, yang
berada pada masing-masing pelabuhan muat dan pelabuhan tujuan.

2. Jasa Angkutan Udara


Jasa angkutan udara walaupun porsinya tidak sebesar jasa angkutan laut, namun
kehadirannya sangat dibutuhkan para pelaku perdagangan. Kelebihan utama jasa angkutan
udara dibanding jasa angkutan lainnya adalah dalam hal efisiensi waktu. Sebagian besar
pengguna jasa angkutan cargo udara adalah user yang berkepentingan terhadap kecepatan
waktu sampainya barang ke tangan pembeli. Meskipun untuk pencapaian tersebut dibutuhkan
biaya yang jauh lebih besar dibanding jasa angkutan lainnya. Jenis barang yang dikirim pada
umumnya adalah barang-barang yang bersifat perishable (tidak tahan lama), bernilai tinggi
(expensive goods), atau barang-barang yang peka waktu (koran, majalah, dan sebagainya).
Dalam kontrak pengangkutan udara, pola transportasi yang digunakan dapat bersifat reguler
maupun charter. Pola reguler digunakan terhadap maskapai penerbangan yang telah memiliki
rute tertentu dan jadwal penerbangan yang reguler. Pola charter digunakan apabila sifat
kontrak adalah secara menyeluruh (borongan).
Secara umum angkutan udara dapat dikategorikan seabagai berikut :
1. Passenger Aircraft, barang disimpan di lower deck
2. All Cargo Aircraft, angkutan udara yang khusus mengangkut cargo
3. Mixed / Combined Airfreight, kapal terbang yang dapat membawa cargo/ passenger pada
main deck.
Konvensi Internasional mengenai angkutan udara, yaitu :

12

Warsawa Convention 1929

The Hague Protocol 1956

Guadalajara Convention 1961

Nibtreak Convention Protovol 1975

Pada dasarnya konvensi internasional tersebut membahas mengenai tanggungjawab


pengangkutan udara , yaitu :

Periode ditetapkannya

Tanggung jawab atas kerusakan, keterlambatan

Jika ada kerusakan mengadu paling lambat 14 hari dan keterlambatan paling lambat 21

hari setelah kapal tiba

Hilang, rusak dan keterlambatan, tanggung jawab terbatas 17 SDR per kg

Periode claim 2 tahun setelah kapal tiba.

Dokumen-dokumen angkutan udara :

Airway Bill (AWB)


Atas kontrak pengangkutan melalui sarana transportasi udara, shipper akan

menerima dokumen pengangkutan berupa airway bill. Berbeda dengan fungsi B/L, fungsi
airway bill bukanlah sebagai dokumen kepemilikan (document of tittle). Oleh karena itu
setiap penerbitan airway bill selalu diberikan klausul non-negotiable, yang artinya bahwa
dokumen tersebut tidak dapat diperjualbelikan.
Dokumen airway bill umumnya diterbitkan dalam rangkap 3 yang diperuntukan bagi
pengirim (consignor), maskapai penerbangan dan penerima (consignee). Lembar airway bill
yang harus ditandatangani oleh consignor adalah lembar untuk maskapai penerbangan dan
lembar untuk consignee. Untuk lembar bagi consignee, maka cara pengirimannya adalah on
board atau diikutsertakan bersama-sama dengan barangnya. Dalam jasa angkutan udara
terdapat suatu asosiasi pengangkutan udara yang dikenal sebagai International Air Transport
Association (IATA), yang anggotanya adalah maskapai-maskapai penerbangan. Asosiasi ini
bertujuan untuk membantu menciptakan persaingan yang sehat dan untuk mencapai
keseragaman dalam penetapan harga. Disamping hal tersebut, para anggota IATA diberikan
kelonggaran untuk saling mengkonsultasikan harga/freight angkutan cargo udara.
13

Master AWB / House AWB

Shipping Instruction

Commercial Invoice

Shippers Declaration of Dangerous Cargo

Shippers Certificate for Arms and Ammunition

Special Cargo

Live animal

Dangerous cargo

Valuable cargo

Barang-barang yang memerlukan special handling :


1. alat-alat kesehatan khusus
2. alat-alat berbahaya
3. pathological specimen
4. air mail
5. barang cepat rusak
6. barang mudah rusak
7. mayat
Uang tambang untuk angkutan udara (air freight) didasarkan pada perhitungan berat dalam
kilogram atau berat volume (voleme weight) tergantung mana yang lebih besar.
Contoh : - Berat ditimbang
- Volumetric weight
- Dikalkulasikan : P x L x T cm
6000
0,6 cm atau lebih dibulatkan jadi 1 cm, kurang dari 0,6 cm dihapus
3. Jasa Angkutan Darat

14

Jasa angkutan perdagangan lintas negara yang melalui jalur darat hanya dimiliki oleh
negara negara yang berbatasan darat dengan negara-negara lainnya. Contoh wilayah yang
memiliki batas darat dan sering melakukan pertukaran perdagangan lewat jalur darat adalah
negara-negara di wilayah Asia Tengah dan Eropa. Sarana transportasi yang tersedia dan
umum dipakai dalam angkutan darat adalah jasa kereta api (railway company) dan jasa
perusahaan truk (trucking company). Atas penyerahan muatan cargo kepada perusahaan
angkutan kereta api, maka dokumen yang diterbitkan adalah consignment note (surat
angkutan kereta api).
Railway Consignment Note
Pengangkutan barang melaui sarana kereta api lazim dilakukan di negara-negara yang
telah memiliki akses langsung railway (contoh : di Eropa). Atas penyerahan barang untuk
diangkut melalui kereta api, eksportir akan menerima surat angkutan kereta api yang lazim
disebut sebagai consignment note. Struktur dokumen ini minimal harus menyebutkan nama
stasiun pemberangkatan, tujuan, nama pengirim barang, nama penerima barang dan deskripsi
singkat barang yang diangkut serta harus dicap oleh perusahaan pengangkutan kereta api
yang bersangkutan.

4. Jasa Angkutan Multimodal / Intermodal


Definisi angkutan Multimodal berdasarkan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2008 adalah
angkutan barang dengan menggunakan paling sedikit dua moda angkutan yang berbeda atas
dasar satu kontrak pengangkutan, yang menggunakan dokumen angkutan multimoda dari satu
tempat diterimanya barang oleh operator angkutan multimoda ke suatu tempat yang
ditentukan untuk penyerahan barang tersebut. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa
kontrak angkutan multimoda menyangkut pengangkutan barang ekspor atau impor dari suatu
tempat ke tempat lain di dalam negeri, kemudian akan dilanjutkan dengan pemindahan
(transhipment) dengan sarana pengangkut laut ke luar negeri.
Penerapan Sistem Transportasi Intermoda (STI) di negara-negara maju tumbuh dengan
pesat sejalan dengan peningkatan penggunaan peti kemas, dengan standar ISO (International
Standard Organisation) yang dirasakan dapat memberikan berbagai keuntungan antara lain
mengurangi waktu pada titik transhipment, pelaksanaan pengangkutan relatif cepat,

15

mengurangi keruwetan formalitas dan dokumentasi, memerlukan hanya satu agen/ operator,
penghematan biaya, sehingga dapat menekan harga barang serta meningkatkan daya saing.
Meskipun transportasi intermoda telah berkembang dengan pesat di negara maju, namun dari
aspek pengaturan legalitas sesungguhnya negara-negara tersebut belum memberlakukan The
International Multimodal Transport Convention of Goods dari PBB, melainkan masih
menggunakan peraturan-peraturan yang ditetapkan asosiasi atau lembaga swasta, antara lain
International Chamber of Commerce (ICC) dan Federation International des Associations de
Transitaires et Assimiks (FIATA).
Pada negara-negara berkembang termasuk Indonesia pertumbuhan angkutan
intermoda masih relatif lamban. Hal ini disebabkan antara lain oleh keadaan/ tingkat
kemajuan ekonomi negara, pembatasan operator asing dan keperluan investor besar
dengan standar internasional. Khusus di Indonesia, dalam 10 tahun terakhir telah
mulai tampak berkembang pengangkutan untuk ekspor dan impor dengan
menggunakan peti kemas.

*****

16