Anda di halaman 1dari 5

ABORTUS, KEHAMILAN EKTOPIK DAN MOLA HIDATIDOSA

ABORTUS
Adalah berakhirnya suatu kehamilan oleh akibat-akibat tertentu sebelum buah
kehamilan mampu untuk hidup diluar kandungan.
- Abortus spontan : terjadi secara alamiah tanpa adanya upaya-upaya dari luar
(buatan) untuk mengakhiri kehamilan tersebut = keguguran = miscarriage.
- Abortus buatan : terjadi akibat adanya upaya-upaya tertentu untuk mengakhiri
proses kehamilan = pengguguran = aborsi = abortus provokatus.
Abortus Buatan
1. Abortus buatan terapetik : abortus provokatus medisinalis / atas tindakan medis.
2. Abortus buatan kriminalis : abortusprovokatus kriminalis / pengguguran
kandungan yang berarti tindakan kriminal.
Abortus terapetik = abortus provokatus medisinalis :
- Aborsi yang dilakukan akibat adanya indikasi terapetik atau medis.
- Indikasi ibu : dekompensasi jantung, tubercolosis paru berat, status asmatikus,
diabetes yang tidak terkontrol, gagal ginjal dan penyakit hati yang menahun.
- Indikasi janin---->cacat janin : thalasemia, kelainan kromosom, sindrom down.
- Cara terjadinya kehamilan yang tidak wajar ( akibat perkosaan, hubungan sedarah
)
Abortus buatan kriminalis = abortus provokatus kriminalis :
Abortus yang dilakukan secara sengaja melalui kesepakatan bersama antara pasien
dan pelaku aborsi, bukan atas indikasi ibu atau janin.
Etiologi Abortus :
- Kelainan perkembangan zygot : abnormalitas kromosom.
- kondisi optimal endometrium.
- Faktor maternal :
* Penyakit infeksi
* Gangguan nutrisi yang berat
* Penyakit menahun
* Pecandu berat alkohol dan rokok
* Anomali uterus dan serviks
* Gangguan imonologis
* Trauma fisik dan psikis
- Faktor paternalistik : Translokasi kromosom sperma.
Jenis dan derajat abortus serta penatalaksanaan :
1. Abortus Imminens
- Keadaan dimana adanya resiko untuk terjadinya abortus tetapi kondisi embrio
masih relatif baik.
- Gejala klinis :
* Jumlah dan sifat perdarahan (segar atau kecoklatan, bercampur lendir atau hanya
darah semata, bercak atau gumpalan).
* Nyeri pada pinggang belakan
* Mules atau spasme perut bawah

* Gejala menetap, bertambah atau berkurang setelah istirahat total dan


pengobatan
* Ostium serviks masih tertutup atau telah terbuka
* Keluar cairan amnion atau masa kehamilan.
- Terapi :
* Istirahat total
* Antibiotik golongan penisilin dan eritromisin
* Preparat progesteron ( didrogesteron, hidroksiprogesteron, kaproat, alilesterenol )
* Tokolitik ( asam mefenamat )
2. Abortus Insipiens
- Kondisi yang merupakan kelanjutan dari abortus imminens, dimana perdarahan
semakin banyak, warna merah segar dan terbukanya serviks.
- Proses abortus sedang berlangsung tetapi sebagian besar atau semua jaringan
konsepsi masih berada didalam cavum uteri.
- Bila selaput kantong janin belum pecah, pada inspekulo terlihat penonjolan
kantong dengan warna putih mengkilapdan dibagian dalamnya berisi cairan
kebiruan.
- Bila kantong janin sudah pecah, dari ostium tampak konsepsi yang belum keluar
dari dalam kavum uteri.
3. Abortus Inkomplit
Keluarnya sebagian besar jaringan konsepsi atau kehamilan dari cavum uteri, dan
sebagian lagi masih berada dalam cavum uteri.
4. Retensi Embrio Mati = Missed Abortion
- Kegagalan uterus mengeluarkan embrio lebih dari 8 minggu dihitung dari saat
kematian embrio tersebut
- Sulitnya menentukan saat yang pasti tentang matinya embriomaka diambil
patokan ketidaksesuaian ukuran uterus dengan usia kehamilan ( selisih 8 minggu )
Terapi abortus insipiens, abortus inkomplit, dan retensi embrio : Evakuasi masa
kehamilan.
5. Abortus habitualis
- Abortus yang terjadi lebih dari 3 kali berturut-turut.
- Etiologi :
* Cacat kromosom
* Defesiensi hormonal
* Inkompetensia serviks
* Gangguan immonologis
- Terapi :
* Investigasi kromosom
* Substitusi hormonal
* Ligasi serviks dengan shirodkar / Mc Donald
6. Abortus Terapetik
- Terminasi kehamilan atas indikasi vital bagi ibu
- Indikasi :
* Bila kehamilan dilanjutkan menyebabkan gangguan kesehatan atau keselamatan

ibu
* Bila kehamilan akibat perkosaan atau hubungan sedarah yang dapat
menimbulkan psikologi berat bagi ibu
* Bila hasil investigasi menunjukkan adanya kecacatan berat atau retradasi mental
janin.
7. Abortus dengan Resiko
-Terminasi kehamilan yang tidak dikehendaki oleh wanita atau pasangan yang
mempunyai resiko tinggi terhadap keselamatan jiwa wanita.
- Dilakukan oleh individu yang tidak mempunyai pengetahuan dan keterampilan
yang memadai
- Peralatan yang sering digunakan berupa bahan kaustik atau iritatif, bahn
teradisional seperti : batang kayu, akar pohon kayu, tungkai daun dengan getah
iritatif atau pemijatan langsung ke corpus uteri.
KEHAMILAN EKTOPIK
Patofisiologi :
a. Ovum yang telah dibuahi berimplantasi ditempat lainselain endometrium kavum
uteri
b. Gangguan interferesi mekanik terhadap ovum yang telah dibuahi dalam
perjalananya menuju kavum uteri
c. Kemungkinan implantasi : paling sering di tuba fallopi ( 90-95% ) dengan 70-80%
diampula, serviks, ovarium, abdomen dan sebagainya.
Macam-Macam kehamilan Ektopik :
- Tuba : ampula , interstisial, isthimus, fimbria
- Ovarium
- Kehamilan abdominal
- Serviks
- Uterus : kornu, rudimentary horn
Etiologi :
- Kelainan tuba adalah karena adanya rwayat penyakit tuba seperti salpingitis
- Riwayat operasi tuba, sterilisasi
- Riwayat penyakit radang panggul
- IUD
- Ovulasi multipel akibat induksi obat-obatan, usaha fertilisasi in vitro dan
sebagainya.
Tanda dan Gejala Klinis :
- Nyeri perut
- Amenore
- Perdarahan vaginal, oleh karena kematian janinsehingga timbul pelepasan residua
- Masa adnexa
- Gambaran gangguan mendadak : pingsan oleh karena rasa nyeri yang hebat,
syok, anemia
- Nyeri bahu akibat rangsangan diafragma
- Nyeri defekasi bila membentuk hematocele retrouterina
- Gambaran klinik kehamilan tuba yang belum terganggu tidak has : sedikit nyeri

perut
- Gejala dan tanda kehamilan tubaterganggu sangat berbeda-beda dari perdarahan
banyak yang tiba-tiba, sampai gejala yang tidak jelas.
Diagnosis :
- KU tampak kesakitan dan pucat
- Abdomen : nyeri tekan, tampak sedikit mengembung
- Pemeriksaan ginekologi : uterus sedikit membesar, kadang teraba tumor
disamping uterus, cavum douglas menonjol, nyeri goyang serviks
- Pemeriksaan Lab : anemia, leukosit meningkat, tes kehamilan
- Couldosintesis
- USG : tidak tampak GS intrauterin, terdapat perdarahan intra abdominal.
Diferensial Diagnosis :
a. Salpingitis : pp test negatif
b. Abortus : perdarahan lebih banyak
c. Apendisitis : biasanya tidak disertai perdarahan pervaginalatau amenorhea, nyeri
goyang serviks bisa ada meskipun tidak berat
d. Torsi ovarium
Terapi :
- Mondok
- Resusitasi syok
- Operatif :
* Laparoskopi
* salpingektomi
* Salpingostomi
- Medikamentosa, pada kehamilan ektopik yang belum terganggu : metotreksat.
Follow Up :
- Dianjurkan tidak menggunakan IUD
- Fertilisasi post operastif KET terganggu ada tidaknya faktor infertilitas yang lain
- Ada kecendrungan untuk berulang.
MOLA HIDATIDOSA
- Digenerasi hidropik sel trofoblas
- Gelembung mola
- Seperti buah anggur
Mola hidatidosa adalah abnormalitas plasenta yang secara histologi ditandai
dengan villi9 khorialis yang edema dan ploriferasi trofoblas.
Mola hidatidosa dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Mola hidatidosa komplit
2. Mola hidatidosa parsial berdasarkan sitogenik dan morfologi histologi.
Faktor resiko :
- Usia ibu lebih dari 35 tahun meningkatkan resiko terjadinya mola hidatidosa
komplit

- Resiko kehamilan mola komplit juga meningkat pada wanita yang pernah
mengalami aborsi spontan.
Gejala Klinis :
- Pendarahn vaginal adalah tanda yang sering terjadi
- Gejala anemia
- Ukuran uterus teraba lebih besar dibandingkan dengan umur kehamilan.
- Peningkatan kadar HCG
Manifestasi klinis :
- Amenore dan tanda-tanda kehamilan
- Perdarahan pervaginam berulang. cendrung berwarna coklat, kadang keluar
gelembung mola
- Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan
- Tidak terabanya bagian janinpada palpasi dan tidak terdengarnya DJJ sekalipun
uterus sudah membesar setinggi pusat atau lebih
- Preeklamsia atau eklamsia yang sebelum kehamilan 24 minggu
Pemeriksaan Penunjang :
- Pemeriksaan sonde uterus
- Test acrosta sison.
Peningkatan kadar beta HCG darah atau urin
_ USG menunjukkan gambaran badai salju
- Foto toraks ada gambaran emboli udara
- Pemeriksaan t3 dan T4 bila ada gejala tirotoksikosis.
Komplikasi :
Anemia, syok, infeksi, eklampsia dan tirotoksikosis