Anda di halaman 1dari 17

Geoteknik Tambang

Sifat-sifat Data Teknis Batuan


Geoteknik atau dikenal sebagai engineering geology merupakan bagian dari rekayasa
perencanaan tambang (mine plan) yang didasarkan pada pengetahuan yang terkumpul selama
sejarah penambangan. Seorang mine plan yang merancang terowongan, jalan raya, bendungan
atau yang lainnya memerlukan suatu estimasi bagaimana tanah dan batuan akan merespon
tegangan, sehingga dalam hal ini penyelidikan geoteknik merupakan bagian dari uji lokasi dan
merupakan dasar untuk pemilihan lokasi. Bagian dari ilmu geoteknik yang berhubungan dengan
respon material alami terhadap gejala deformasi disebut dengan geomekanika.
Dalam urutan kegiatan pertambangan, eksplorasi merupakan proses evaluasi teknis untuk
mendapatkan model badan bijih. Model cadangan suatu badan bijih yang diinterpretasikan dari
hasil eksplorasi langsung maupun tak langsung, sebelum ditentukan cara penambangannya
apakah dengan open pit atau underground mining harus dianalisis secara geoteknik. Salah satu
faktor yang mempengaruhi keputusan tersebut adalah ketidakselarasan struktur geologi. Polapola dari patahan, rekahan, dan bidang perlapisan mendominasi perilaku batuan dalam tambang
terbuka karena terdapat gaya penahan yang kecil untuk mencegah terjadinya luncuran dan karena
terdapat semacam gaya tekan ke atas dari permukaan air yang terdapat dalam rekahan.
Dalam tambang bawah tanah pengaruh ketidakselarasan kurang dominan namun tetap harus
diperhatikan. Permukaan patahan pada kedalaman tertentu merupakan tempat yang memiliki
kohesi yang rendah dan berakumulasinya tegangan. Permukaan rekahan dan belahan merupakan
bidang lemah dengan resistansi yang rendah untuk menahan tegangan, dan memiliki
kecenderungan terbuka saat terganggu oleh aktivitas peledakan (blasting).
Instrumentasi yang modern dalam mekanika batuan memberikan cara pengukuran yang lebih
baik terhadap pengaruh kombinasi kekuatan batuan dan cacat struktur. Keuntungan khusus dari
studi mekanika batuan modern adalah lokasi dan material dapat diuji lebih lanjut. Daerah kerja
tambang dapat dirancang secara detail. Detail-line mapping dilakukan untuk menggambarkan
proyeksi rekahan dan kontak yang orientasinya menyebar sepanjang singkapan atau suatu muka
tambang. Gambar 8.1 adalah lembar data tipikal yang digunakan dalam metoda ini,
menunjukkan jenis informasi yang dikumpulkan. Posisi rekahan yang dihasilkan dalam detailline mapping diplot pada stereonet untuk dievaluasi. Pendekatan lainnya untuk studi struktur
detail dalam pertambangan adalah fracture-set mapping yang dalam hal ini semua rekahan
diukur dan dideskripsikan dalam beberapa area tambang kemudian dikelompokkan berdasarkan
karakteristik tertentu. Kelompok tersebut dideskripsikan dan posisi individualnya diplot pada
Schmidt net (equal-area net).
Persentase terbesar tentang informasi struktur yang digunakan dalam perencanaan tambang
berasal dari inti bor. Spasi rekahan, posisi relatif terhadap lubang bor, dan jenis pengisian
rekahan harus dideskripsikan secermat mungkin. Dalam pengamatan inti bor untuk informasi

struktur dikenal istilah RQD (rock-quality designation) yaitu persen inti bor yang diperoleh dan
hanya dihitung untuk inti bor yang memiliki panjang 10 cm atau lebih.
Tabel 1 Klasifikasi kualitas batuan berdasarkan RQD (Peters, 1978)

RQD (%)

Kualitas

0 25 Sangat buruk
25 50 Buruk
50 75 Sedang
75 90 Baik
90 100 Baik sekali

Sebagai contoh :
Jika total kemajuan pemboran 130 cm, total inti bor yang diperoleh 104 cm, maka perolehan inti
bor (core recovery) adalah 104/130 = 80%. Jumlah panjang inti bor dengan panjang 10 cm atau
lebih adalah 71,5 cm, sehingga besarnya RQD = 71,5/130 = 55% artinya kualitas batuan yang
bersangkutan adalah sedang.
Penyelidikan dengan seismik kadang-kadang digunakan untuk pengukuran secara tidak langsung
terhadap rock soundness. Salah satu aplikasi khusus metoda seismik adalah untuk menentukan
rippability yaitu suatu ukuran dimana batuan dan tanah dapat dipindahkan oleh bulldozer-ripper
dan scraper tanpa peledakan.
Tabel 2 memberikan penjelasan lebih detail mengenai informasi geologi yang digunakan dalam
rock-slope engineering., yang menunjukkan apa saja yang diperlukan dalam merekam cacat
struktur batuan.
Tabel 2 Informasi geologi yang diperlukan untuk merekam cacat struktur dalam batuan (Peters,
1978)

Informasi geoteknik

1. Peta lokasi atau rencana tambang.


2. Kedalaman di bawah datum referensi.
3. Kemiringan (dip).
4. Frekuensi atau spasi antar bidang ketidakselarasan yang berdekatan.
5. Kemenerusan atau perluasan bidang ketidakselarasan.
6. Lebar atau bukaan bidang ketidakselarasan.
7. Gouge atau pengisian antar muka bidang ketidakselarasan.
8. Kekasaran permukaan dari muka bidang ketidakselarasan.
9. Waviness atau lekukan permukaan bidang ketidakselarasan.
10. Deskripsi dan sifat-sifat batuan utuh diantara bidang ketidakselarasan.

Berikut ini merupakan beberapa istilah dan pengertiannya berkaitan dengan pengujian
geomekanika :
1. Tegangan (stress) adalah gaya yang bekerja tiap satuan luas permukaan. Simbolnya
adalah untuk tegangan normal dan untuk tegangan geser.
2. Regangan (strain) adalah respon yang diberikan oleh suatu material akibat dikenai
tegangan. Simbolnya adalah yang menunjukkan deformasi (pemendekan atau
pemanjangan) per satuan panjang mula-mula.
3. Kuat geser (shear strength) adalah besarnya tegangan atau beban pada saat material
hancur dalam geserannya.
4. Modulus Young (E) adalah ukuran kekakuan yang merupakan suatu konstanta untuk
setiap padatan yang klastik. Sering disebut modulus elastisitas yang merupakan
perbandingan antara tegangan terhadap regangan.
5. Rasio Poisson berkaitan dengan besarnya regangan normal transversal terhadap regangan
normal longitudinal di bawah tegangan uniaksial. Nilainya berkisar sekitar 0,2.
Terdapat beberapa jenis kekuatan batuan, yaitu :

1. Kuat kompresif tak tertekan (uniaksial) yang diuji dengan suatu silinder atau prisma
terhadap titik pecahnya. Gambar 2 menunjukkan jenis uji dan rekahan tipikal yang
berkembang di atas bidang pecahnya.
2. Kuat tarik (tensile strength) ditentukan dengan uji Brazilian dimana suatu piringan
ditekan sepanjang diameter atau dengan uji langsung yang meliputi tarikan sebenarnya
atau bengkokan dari prisma batuan.
3. Kuat geser (shear strength) yang diuji secara langsung dalam suatu shear box atau
diukur sebagai komponen pecahan kompresi.
4. Kuat geser kompresif triaksial yang diuji dengan penempatan dalam suatu silinder
berselubung dimana batuan ditempatkan pada tempat yang diisi fluida, sehingga tekanan
lateral maupun pembebanan aksial dapat diberikan.
Kekuatan batuan dapat diukur secara insitu (di lapangan) sebaik pengukuran di laboratorium.
Regangan (deformasi) diukur di area tambang kemudian dihubungkan terhadap tegangan dengan
berpedoman pada konstanta elastik dari laboratorium. Tegangan sebelum penambangan
merupakan kondisi tegangan asli, sulit dihitung, tetapi merupakan parameter desain tambang
yang penting. Tegangan tersebut umumnya diperkirakan dan diberi beberapa kuantifikasi dengan
memasang sekelompok pengukur tegangan elektrik dalam rosette pada permukaan batuan,
memindahkan batuan-batuan yang berdekatan, dan mengukur respon tegangan sebenarnya yang
dilepaskan. Kondisi tegangan yang berkembang selama penambangan merupakan hal penting
yang harus diperhatikan dalam operasi tambang sebaik dalam perancangan tambang. Regangan
yang dihasilkan dari pola tegangan baru diukur dari waktu ke waktu atau dimonitor secara
menerus selama penambangan berlangsung.
Hubungan tegangan-regangan merupakan dasar dari semua pekerjaan mekanika batuan. Istilah
deskriptif untuk hubungan tersebut adalah brittle versus ductile dan elastik versus plastik.
Hubungan yang dihasilkan dari uji statik (fungsi waktu), dimana F merupakan titik pecah dalam
kompresi uniaksial tak tertekan.
Beberapa karakteristik kuat tekan dan kuat tarik yang telah diukur untuk beberapa jenis batuan
yang umum ditunjukkan pada Tabel 3.
Tabel 3 Kuat tekan uniaksial dan kuat tarik dari beberapa jenis batuan (Peters, 1978)

Jenis batuan

Batuan intrusif

Kuat tekan (kg/m2)

1000-2800

Kuat tarik (kg/m2)

40-250

Granit

1800-3000

150-300

Diorit

1500-3000

50-300

Gabro

2000-3500

150-350

Batuan ekstrusif

800-1600

50-90

Riolit

800-1600

30-80

Dasit

400-3200

50-110

Andesit

800-4200

60-300

50-600

5-45

Batuan sedimen

200-1700

40-250

Batupasir

300-2500

50-250

Batugamping

800-2500

150-250

Dolomit

100-1000

20-100

50-500

20-50

1500-3000

100-300

500-2500

40-200

1000-2500

70-200

Dolerit

Basal
Tufa vulkanik

Serpih
Batubara

Batuan metamorfik
Kuarsit
Gneis

Marmer

1000-2000

70-200

Sabak

https://1902miner.wordpress.com/bfiabhfcbafhueceaj/geoteknik-tambang/

Peran Geotek di Pertambangan


Sebenarnya tidak hanya melakukan perhitungan saja tetapi lebih mengarah kepada
memberikan panduan kepada pihak terkait mengenai potensi bahaya geoteknik
yang akan terjadi kepada pihak terkait (manajemen perusahaan, institusi,
mineplanner, dll). Sekilas contoh geoteknik dalam dunia tambang.
1. Eksplorasi dan mine development. Geoteknik diperlukan untuk memandu
kepada arah pembuatan desain pit yang optimal dan aman (single slope
degree, overall slope degree, tinggi bench,potensi bahaya longsor yang ada
ex: longsoran bidang, baji, topling busur,dll) sesuai dengan kriteria SFnya.
Disini ahli geotek tidak hanya melakukan analisis namun juga ikut turun
memetakan kondisi geologi (patahan/lipatan/rekahan, dll) dilokasi yang akan
dibuka tambang. Selain itu juga geoteknik diperlukan dalam pembangunan
infrastruktur tambang seperti stockpile, port, jalan hauling diareal lemah, dll.
Disini, peran ahli geotek adalah memberikan analisis mengenai daya dukung
tanah yang aman, cut fill volume, serta langkah-langkah yang diperlukan
untuk memenuhi safety factor sehingga ketika dilakukan kontruksi dan
digunakan tidak terjadi kegagalan (failure)
2. Operasional Tambang pada kondisi ini ahli geotek berperan dalam
pengawasan kondisi pit dan infrastructur yang ada, sebagai contoh
pengawasan pergerakan lereng tambang, zona-zona potensi longsor di areal
tambang (pit dan waste dump) akibat proses penambangan, prediksi kapan
longsor akan terjadi, apakah berbahaya untuk operasional di pit atau tidak,
langkah apa saja yang harus dilakukan untuk mengantisipasi longsor seperti
mengevakuasi alat, melakukan push back untuk menurunkan derajat
kemiringan lereng, melakukan penguatan, melakukan pengeboran horizontal
untuk mengeluarkan air tanah,dll. Disini peran ahli geotek memandu tim
safety dalam pengawasn operasional tambang dan ahli geotek bisa
melakukan penyetopan operasional pit jika membahayakan keselamatan
manusia dan alat. Diinfrastruktur juga berlaku hal yang sama.
3. Post mining Setelah kegiatan penambangan selesai, geotek bekerja sama
dengan safety juga berperan untuk memastikan bahwa kondisi waste dump
dan pit dalam kondisi aman dan tidak terjadi longsor dalam jangka waktu
lama, karena setelah tambang selesai lahan tersebut akan dikembalikan
kepada pemerintah dan masyarakat dan menyangkut masalah citra
perusahaan, bagi perusahaan yang berstatus green company hal ini
merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar.
http://geoteknik2a.blogspot.com/2009/12/peran-geotek-di-pertambangan.html

Geoteknik adalah salah satu cabang dari ilmu Teknik Sipil. Didalamnya diperdalam pembahasan
mengenai permasalahan kekuatan tanah dan batuan serta hubungannya dengan kemampuan
menahan beban bangunan yang berdiri diatasnya. Pada dasarnya ilmu ini tergolong ilmu tua yang
berjalan bersamaan dengan tingkat peradaban manusia, dari mulai pembangunan piramid di
Mesir, candi Borobudur hingga pembangunan gedung pencakar langit sekarang ini. Salah satu
permasalahan geoteknik yang melegenda ialah kemiringan menara Pisa di Italia, yang
disebabkan oleh ketidakseragaman dukungan tanah di bawahnya terhadap menara tersebut.
Secara keilmuan, cabang teknik sipil yang satu ini mempelajari lebih mendalam ilmu ilmu:

Mekanika Tanah dan batuan

Teknik Pondasi

Stuktur bawah tanah dan batuan (bendungan, terowongan, dan underground


space)

http://id.wikipedia.org/wiki/Geoteknik
GEOTEKNIK dan GEOMEKANIK
oleh:
Prof. Dr. H. R.Febri Hirnawan, Ir.,
Zufialdi Zakaria, Ir., MT

1. PENDAHULUAN
Geoteknik merupakan perangkat lunak (ilmu) untuk kepentingan manusia dalam
mencapai keberhasilan pembangunan fisik infrastruktur melalui penyediaan
bangunan
(termasuk prasarana transportasi/jalan) yang kuat dan aman dari ancaman
kerusakan.
Ruang lingkup kajian dalam geoteknik berhubungan dengan studi: 1) batuan
dan/atau tanah sebagai material bangunan (construction material), 2) massa
batuan
(rock mass) yang langsung berkaitan dengan tubuh bangunan, 3) massa batuan
yang
tidak langsung berkaitan dengan tubuh bangunan tetapi sebagai penyusun
bangunan

alami di lingkungan sekitarnya, misalnya gunung, lereng, tebing, maupun dataran


limpah
banjir yang luas, sehingga dapat saja memendam atau berpotensi ancaman bagi
keselamatan bangunan tersebut. Aspek manfaat dari kajian tersebut :
1. Sebagai material bangunan dan atau tanah digunakan untuk mengisi atau
menyusun
bangunan. Beberapa contoh berikut diantaranya:
Batu untuk menyusun mansory, beton, dan sebagainya.
Tanah untuk menyusun tanggul, landasan jalan raya, dan
berbagai keperluan urugan lainnya.
2. Sebagai massa batuan yang terkait langsung dengan bangunan. Batuan
berfungsi
sebagai landasan atau fundasi ataupun tumpuan bangunan, misalnya:
Massa batuan sebagai tumpuan bendungan, baik di
bawah maupun di kiri-kanan tubuh bendungan yang
bersangkutan (right and/or left abutment).
Selanjutnya, sebagai massa batuan, batuanpun berfungsi sebagai media tempat
bangunan dibuat, sehingga batuan berfungsi sebagai penyusun bangunan tersebut
termasuk sebagai lingkungan bangunan yang bersangkutan, contoh :
Terowongan yang dibuat menembus massa batuan.
3. Sebagai massa batuan penyusun bangunan alami di lingkungan bangunan,
misalnya
lereng rawan longsor, lembah rawan banjir dan sebagainya.
Ruanglingkup kajian tersebut pada akhirnya meliputi studi tentang kekuat-

an/kelemahan batuan dan/atau tanah sebagai material bangunan maupun massa


batuan
secara luas, sehingga geoteknik perlu didukung oleh ilmu-ilmu penunjangnya, yaitu:
Mekanika tanah, dan Mekanika batuan,
Geologi Teknik,
Geologi Kebencanaan,
Hidrogeologi, dan
Geologi (yang secara luas membahas genesis batuan,
urutan kejadiannya, tektonik dan konfigurasi struktur geologi termasuk kegempaan dan bentuk-bentuk bangunan
alami yang dikenal sebagai geomorfologi ).
Dalam mempelajari kekuatan maupun kelemahan batuan dan/atau tanah untuk
kepentingan pemenuhan kebutuhan tersebut di atas (dalam konteks dengan
bangunan),
studi geoteknik tidak lepas dari kajian genesis batuan, yang lebih meluas lagi
kepada
genesis tanah yang berasal dari batuan induknya, dengan lima faktor terkait sbb. :
S=f
(R, C, T, O, t),
(topografi), O (organisme), dan t (waktu), karena terbentuk oleh 5 faktor tersebut.
Dengan diketahui genesis tanah, maka kekuatannya ataupun kelemahannya
makin mudah dipelajari, makin mudah pula diketahui daerah penyebarannya untuk
setiap
jenis tanah karena terkait dengan penyebaran batuan induknya, topografinya, iklim
sekitarnya, organisme yang tumbuh/hidup di dalamnya dan sebagainya, sehingga
jelas

dapat diketahui penyebaran wilayah tempat berlangsungnya proses pembentukan


tiap
jenis tanah yang bersangkutan (perhatikan pelapukan di daerah basah dan kering).
Selanjutnya pada proses pembentukan residual soil, dikenal urutan profil tanah
mulai dari batuan induk yang segar, ke arah atas bertahap lapisan-lapisan yang
berangsur menuju tanah terlapukan kuat dan lengkap, yang kemudian ditutupi
tanah
organik, campur humus. Urutan tersebut dari atas ke bawah :

Top soil (organic


soil)

Completelly
weathered zone

Strongly
weathered zone

Moderatelly
weathered zone

Partly weathered
zone

Fresh rock

Selain itu dikenal pula jenis tanah transport (transported soil), berupa aluvium,
kolovium maupun dilivium. Ada juga sand dunes dan sebagainya.
Salah satu ilmu penunjang dalam geoteknik adalah geologi teknik, Geologi

Teknik adalah ilmu yang mempelajari atau mengkaji gejala geologi dari aspek
kekuatan
dan/atau kelemahan geologi (a.l. aspek kebencanaan), diaplikasikan untuk
kepentingan
pembangunan infrastruktur terutama pada tahap desain dan tahap konstruksi
bangunanbangunan. Beberapa kajian yang penting untuk geologi teknik, antara lain: Erosi
dan
erodibilitas, genesa tanah & faktor-faktor yang mempengaruhi lapukan tanah, profil
pelapukan tanah residu, deskripsi dan klasifikasi tanah, dan peta geologi teknik dan
skala
peta (1:5.000 s/d 1:200.000)
Ruanglingkup kajian geologi teknik meliputi kajian terhadap aspek-aspek
keteknikan dari berbagai masalah (sebagai faktor penghambat, a.l. kebencanaan)
dan
manfaat (sebagai faktor pendukung) beberapa faktor, antara lain: Batuan / tanah /
material, struktur geologi dan geomorfologi.
Dalam mempelajari aspek kebencanaan geologi, dikenal salah satu jenis
kebencanaan berupa longsor. Faktor-faktor penunjang daerah rawan longsor adalah
(batuan
geomorfologi (terutama aspek kemiringan lereng), vegetasi dan iklim (terutama
curah
hujan). Berdasarkan jenisnya, longsoran dapat diklasifikasikan (lihat lampiran)
Dalam mempelajari aspek kekuatan batuan (a.l. Mekanika Batuan), dikenal istilah
RQD rock quality designation yaitu suatu penandaan atau penilaian kualitas batuan
berdasarkan kerapatan kekar. RQD penting untuk digunakan dalam pembobotan
massa

batuan (Rock Mass Rating, RMR) dan pembobotan massa lereng (Slope Mass Rating,
SMR). Perhitungan RQD biasa didapat dari perhitungan langsung dari singkapan
batuan
yang mengalami retakan-retakan (baik lapisan batuan maupun kekar atau sesar)
berdasarkan rumus Hudson (1979, dalam Djakamihardja & Soebowo, 1996) sbb.:
RQD = 100 (0.1 + 1) e- 0.1
adalah rasio antara jumlah kekar dengan panjang scan-line (kekar/meter). Makin
besar
nilai RQD, maka frekuensi retakannya kecil. Frekuensi retakannya makin banyak,
nilai
RQD makin kecil.
Jika frekuensi retakan = 20 kekar/meter, maka RQD = 40,60 %
Jika frekuensi retakan = 11 kekar/meter, maka RQD = 69,90 %
Jika frekuensi retakan = 5 kekar/meter, maka RQD = 90,9 %
Jika frekuensi retakan = 2 kekar/meter, maka RQD = 98,2 %
Dalam penilaian massa batuan (Rock Mass Rating, RMR),
prosentase RQD diberikan penilaian berikut di tabel bawah:
2. KLASIFIKASI GEOMEKANIK
RQD
(%)

Nilai

90 100

20

Dalam mempelajari aspek kekuatan batuan (a.l. Mekanika


Batuan, Geomekanika
dll.) diperlukan klasifikasi geomekanik. Tujuan klasifikasi
geomekanik ini adalah sebagai

17
75 - 90
13

alat komunikasi para ahli dalam permasalahan geomekanika


selain untuk memperkirakan

50 - 75
8
25 - 50
3
<>

sifat-sifat dari massa batuan, dan juga merencanakan atau


menilai kemantapan

terowongan maupun lereng.


Klasifikasi Geomekanik (Bieniawski, 1973, 1976, 1984, dalam Setiawan 1990)
didasarkan pada hasil penelitian 49 terowongan di Eropa dan Afrika. Klasifikasi ini
menilai beberapa parameter yang kemudian diberi bobot (rating) dan digunakan
dalam
perencanaan terowongan.
Rock Mass Rating (RMR) adalah pembobotan massa batuan. Sistem
pembobotan dapat dilihat pada Tabel klasifikasi geomekanik (Tabel A, B, C, dan D).
Pembobotan adalah jumlah dari nilai bobot parameter pada Tabel A dan B. Pada
tabel C
jumlah nilai tersebut dimasukkan ke dalam kelompok yang sesuai dengan
pembobotan
masing-masing.
Pada Tabel C, nomer kelas dan pemerian dapat diberikan. Pada Tabel D makna
dan kegunaan tiap-tiap nomer kelas disampaikan di sini. Berdasarkan nilai RMR,
jangkauan atap (span) apat direncanakan, serta keleluasaan waktu yang tersedia
agar
terowongan tidak runtuh dapat diperkirakan.
Klasifikasi Geomekanik (Bieniawski, 1973, dalam Djakamihardja & Soebowo,
1996), juga dipakai dalam memperkirakan kestabilan suatu pengupasan lereng
massa
batuan. Sama halnya dengan penilaian terowongan, penilaian kestabilan lereng juga
menggunakan data hasil observasi lapangan dan data laboratorium (lihat Tabel)
sehingga dalam pembobotan dapat dilihat nilai RMR. Massa batuan dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
Sangat buruk Nilai RMR 0- 20

Buruk Nilai RMR 21 40


Sedang Nilai RMR 41 60
Baik Nilai RMR 61 80
Sangat Baik Nilai RMR 81 100
Slope Mass Rating (SMR), adalah penerapan nilai RMR untuk memperkirakan
sudut kemiringan lereng pengupasan. Romano (1990, dalam Djakamihardja &
Soebowo,
1996) mengaitkan nilai RMR dengan faktor penyesuaian dari orientasi kekar
tehadap
orientasi lereng serta sistem pengupasan lereng dalam bentung angka rating
(pembobotan), yaitu:
F1 mencerminkan paralelisme antara arah kekar dan arah lereng
F2 memperlihatkan kemiringan kekar
F3 memperlihatkan hubungan kemiringan kekar dengan kemiringan lereng
F4 merupakan penyesuaian untuk metoda pengupasan.
Romano (1990) memberikan nilai SMR dari keempat faktor tersebut sbb.:
SMR = RMR - ( F1 x F2 x F3 ) + F4
Laubscher (1975, dalam Djakamihardja & Soebowo, 1996) membahas hubungan
RMR
dan SMR sebagai berikut :

Sudut lereng yang disarankan

Untuk nilai RMR

(pembobotan massa lereng, SMR)

(pembobotan massa batuan) sebesar:

75

81 100

65

61 - 80

55

41 - 60

45

21 - 40

35

00 - 20

Hall (1985, dalam Djakamihardja & Soebowo, 1996) memberikannilai SMR, sbb.:
SMR = 0,65 RMR +25
Orr (1992, dalam Djakamihardja & Soebowo, 1996) membahas hubungan sbb.:
SMR = 35 ln RMR 71
3. KULIAH LAPANGAN PRAKTEK GEOMEKANIK
Kuliah lapangan penunjang geoteknik khususnya kajian geomekanik (metode
Bieniawski) dapat dilakukan di lokasi :
1) Citatah, Rajamandala, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
2) Citoal, Luragung, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Tujuan kuliah lapangan ini adalah untuk :
a) Mengetahui, mendeskripsi dan mengklasifikasikan jenis tanah lapukan melalui
deskripsi di lapangan;
b) Mengevaluasi kondisi longsoran bagian lembah di jalan KM 23.
c) Menghitung / menilai kualitas batuan berdasarkan kerapatan kekar.
d) Mengetahui, mendeskripsi dant mengklasifikasikan batuan melalui deskripsi di
lapangan sehingga dapat mencoba menilai RMR dan SMR-nya;
e) Mencoba mengevaluasi bangunan jalan di bawah bukit Citatah yang bertujuan
menilai sampai sejauh mana keamanan ditinjau dari massa batuan,

diskontinuitas batuan, dan ancaman lingkungan sekitarnya.


Setelah mengikuti kuliah lapangan ini diharapkan mahasiwa dapat menambah
khazanah ilmu pengetahuannya tentang geoteknik antara lain
daerah labil/lemah dengan mengenal aspek kekuatan dan kelemahan geologi,
khususnya kejelasan mengenai jenis-jenis kualitas massa batuan dan hubungannya
dengan kondisi struktur geologi, selain itu mahasiswa dapat mengetahui cara
mendeskripsi tanah di lapangan, mengevaluasi massa batuan dan kestabilan massa
lereng
Peralatan geologi lapangan terdiri atas:
kompas geologi (merk Shunto)
palu geologi
alat tulis
kamera
pita ukur.
Alfonsus simalango http://alfonsussimalango.blogspot.com/2011/02/geoteknik-dangeomekanik.html