Anda di halaman 1dari 5

1. A.

Teknologi yang digunakan pada hakekatnya dapat membawa


kesejahteraan bagi manusia, tetapi dapat pula rnembawa bencana, dan untuk
itu diperlukan kearifan clan akal budi manusia.
Penggunaan teknologi padat modal clan hemat tenaga kerja bagi negara maju,
telah banyak mempengaruhi atau mempercepat perusakan lingkungan bagi
negara berkembang .pemilik SDA.Sebali.knya negara-negara berkembang yang
kurang memiliki modal dan menggunakan teknologi yang tidak serasi dengan
lingkungan telah pula mempercepat terjadinya kerusakan lingkungan.
b. Kasus-kasus lingkungan ini hendaknya ditangani secara cennat ni oleh karena
kasus lingkungan itu tidak sesederhana dengan kasus lainnya seperti pencurian
atau penggelapan. Kerusakan lingkungan sij akan menggangu aspek lingkungan
secara global, sedangkan kasus
ib lainnya relatif lebih bersifat lokal dan individual. Kasus lingkungan aJ ini terkait
dengan segala macam unsur terutama unsur kimia yang pembuktiannya harus
dilakukan secara laboratoris. Kasus-kasus lingkungan tertentu dipandang sebagai
kasus yang bersifat ultrahazardous activities yang berpengaruh besar terhadap
kesejahteraan manusia.
2. A. contoh 1. KASUS LIMBAH TAHU ( PN SIDOARJO, 1998)
Perkara ini diajukan oleh jaksa penuntut umum sebagai delik lingkungan yaitu
pencemaran air Kali Surabaya akibat limbah tahu dan limbah kotoran babi oleh
terdakwa Bambang Goenawan, direktur PT. Sidomakmur dan PT. Sidomulyo serta
diputus PN Sidoarjo Tanggal 6 Mei 1989 Nomor : 122/Pid/1989/PN.Sda
Duduk perkaranya menurut surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum tertanggal 6
November 1988, primer dan subsidair sebagai berikut: terdakwa Bambang
Goenawan alias Oei Ling Gwat, lahir di Surabaya, umur 48 tahun, jenis kelamin
laki laki, kebangsaan Indonesia, keturunan China, tempat tinggal JL. Ngagel No.
125 127 Surabaya, agama Katolik, pekerjaan Direktur PT. Sidomakmur dan PT.
Sidomulyo dihadapkan ke pengadilan negeri Sidoarjo dengan dakwaan bahwa
antara bulan Maret 1986 - Juli 1988, di perusahaan PT. Sidomakmur dan PT.
Sidomulyo yang terletak di desa Sidomulyo. kecamatan Krian, kabupaten Sidoarjo,
telah terjadi perbuatan yang menyebabkan rusaknya lingkungan hidup atau
tercemarnya lingkungan hidup dengan cara terdakwa sebagai pengusaha PT.
Sidomakmur yang memproduksi tahu, membuang air limbah ke Kali Surabaya
yang mengandung BOD 3095,4 mg/I dan mengandung COD 12293 mg/I dan juga
sebagai pengusaha PT. Sidomulyo yang berupa peternakan babi membuang
limbah kotoran babi ke Kali Surabaya yang mengandung BOD 426,3 mg/I dan
mengandung COD 1802,9 sebagaimana hasil dari pemeriksaan air limbah yang
dilakukan oleh badai teknik kesehatan Lingkungan tanggal 20 Juli 1988 No. 261/
Pem/ BTKL.Pa/VII/1988. Kandungan limbah tersebut melebihi ambang batas yang
ditetapkan SK Gubernur Jawa Timur No 43 Tahum 1987, yaitu maksimum BOD 30
mg/I dan COD 80 mg/I.
Contoh 2 :
Pencemaran dan Dampak akibat kegiatan penambangan PT. NMR terjadi mulai
tahun 19961997 dengan 2000-5000 kubik ton limbah setiap hari di buang oleh
PT. NMR ke perairan di teluk Buyat yang di mulai sejak Maret 1996. Menurut PT.
NMR, buangan limbah tersebut, terbungkus lapisan termoklin pada kedalaman 82
meter. Nelayan setempat sangat memprotes buangan limbah tersebut. Apalagi
diakhir Juli 1996, nelayan mendapati puluhan bangkai ikan mati mengapung dan
terdampar di pantai. Kematian misterius ikan-ikan ini berlangsung sampai Oktober
1996. Kasus ini terulang pada bulan juli 1997.
b. penyelesaian contoh 1 :
Penyelesaian sengketa dalam hukum lingkungan dapat diselesaikan di dalam
maupun di luar pengadilan. Apabila sengketa hukum lingkungan ini diselesaikan
di dalam pengadilan maka dapat digunakan tiga instrumen hukum, yaitu

instrumen hukum administrasi, instrumen hukum perdata, maupun instrumen


hukum pidana.
Penyelesaian contoh 2 :
Tinjauan kasus PT. Newmont Minahasa Raya (PT. NMR) dari instrumen hukum
lingkungan.
1. Instrumen Hukum Administrasi Negara
Hukum Administrasi Negara memandang bahwa penegakan hukum lingkungan
berawal dari perijinan sebagai instrumen. Tolak ukur dari suatu perijinan adalah
pendirian atau penyelenggaraan kegiatan yang diperkirakan akan menimbulkan
dampak terhadap lingkungan harus disertai Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan (AMDAL). Dalam kasus ini permintaan ijin dilakukan secara simultan
dalam artian permintaan ijin setelah dilakukannya persiapan pengoperasian PT.
NMR sehingga informasi ijin tersebut tidak diketahui berdampak positif atau
negatif terhadap lingkungan. Disini letak kelemahan instrumen Hukum
Administrasi Negara yang memberikan ijin secara represif bukan secara preventif
atau bersifat bukan hukuman melainkan suatu pengendalian.
2. Instrument Hukum Pidana
Instrumen Hukum Lingkungan Pidana memandang telah terjadi tindak pidana
pencemaran lingkungan apabila telah terjadi Pencemaran lingkungan hidup
adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau
komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga
melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan Pasal 1 ayat 12
Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Namun dalam bab VII Undang-undang ini diatur mengenai penyelesaian sengketa
lingkungan hidup jadi berlaku asas subsidiaritas yang berarti penyelesaian hukum
pidana dilakukan hanya apabila sanksi-sanksi lain tidak memadai untuk
menangani masalah lingkunan hidup, namun dalam perkara ini belum cukup
untuk masuk ke penyelesaian pidana sebagai upaya terakhir dari asas
subsidiaritas.
3. Instrumen Hukum Perdata
Pada prinsipnya penegakan melalui jalur litigasi yaitu melalui jalur hukum
khususnya instrumen hukum perdata telah mengakomodir dalam penyelesaian
masalah ini dengan membayar ganti kerugian dan pemulihan lingkungan, akan
tetapi pemerintah lebih cenderung menyelesaikan permasalahan ini melalui jalur
non litigasi.
3. Dalam kerangka operasional, Agenda 21 sangat terkait dengankonsep good
enviromental governance. Konsepsi ini menuntut kepada pemerintah untuk
melakukan reformasi yang rnemberikan upaya perlindungan Jingkungan, dan
pada sisi lain juga memberikan bantuan kepada masyarakat. Enviromental
governance merupakan ciri global yang menuntut perspektif lebih jelas dari
rakyat mengenai konsep pembangunan lingkungan.
Selain beberapa syarat tersebut di atas, enviromental governance memerlukan
penyelarasan terhadap berbagai ketentuan perundang-undangan yang ada.
Secara umum kebijaksanaan
pengelolaan lingkungan hidup tertuang dalam peraturan perundangundangan di
bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

4. Program pembinaan hukurn lingkungan secara terpadu memang merupakan


keharusan mengingat luasnya cakupan sektorpembangunan yang harus dikelola
secara simultan. Hal ini menuntut kalangan hukum untuk melakukan pendekatan
interdisipliner, dan lintas sektoral. Beberapa sektor yang terkait dapat
disebutkan di antaranya, sektor kependudukan, sektor kesebatan, sektor
transmigrasi, sektor permukiman dan perumahan, sektorpertambangan, sektor

perindustrian, sektor pertanian, sektor kehutanan, sektor kelautan, sektor


perikanan, sektor petemakan, sektor perhubungan, sektor perdagangan, sektor
pengairan, sektor pertanahan, sektor penataan ruang, dan lain-lain.
Pendidikan hukum lingkungan terhadap anggota masyarakat dimaksudkan agar
tercipta kesadaran hukum masyarakat. Dalamrangka pembinaan hukum ini peran
serta masyarakat sangatdiperlukan sebagai mitra kerja kalangan penegak hukum.
Pokokpikiran yang melandasi aspek hukum dan peran serta masyarakat di bidang
pengelolaan lingkungan ini dapat dikaitkan dengankesempatan terutama untuk
memberi informasi kepada pemerintahdan meningkatkan kesediaan masyarakat
untuk menerima keputusan.Hal yang perlu dipikirkan sehubungan dengan upaya
memeliharaperan serta masyarakat lainnya ini adalah mengoptimalkan fungsi
kelompok, tennasuk mengembangkan kegiatan ekonomi dalamrangka memenuhi
kebutuhan anggotanya, dan melakukan koordinasisehingga dapat mengarahkan
dan memperlancar kegiatan yang akandilakukan.
5. Peran serta masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup hanya mungkin
dilaksanakan bilamana: ( 1) telah tumbuh kesadaran masyarakat akan pentingnya
menjaga keselamatan lingkungan; dan (2) ada jaminan bahwa tindakan yang
mereka Iakukan itu tidak mengganggu keselamatan diri, keluarga, dan harta
bendanya. Upaya menumbuhkan kesadaran ini dapat dilakukan dengan
mengaktifkan melalui kegiatan penyuluhan secara berkala dan pcnindakan yang
tegas terhadap setiap pelanggar hukum. Cara ini memerlukan kesungguhan
aparat penegak hukum dan dilaksanakan secara terpadu dengan berbagai
instansi terkait.
Perlunya peran serta masyarakat dalam pengelolaan lingkung .. ;1 hidup antara
lain:
I. Pemberian masukan atau informasi kepada pemerintah, Pemberian
informasi, pcndapat, basil kajian, aspirasi dan concerns darimasyarakat tertentu
ini dimaksudkan sebagai bahan dalam pengambilan keputusan oleh pemerintah.
Partisipasi demikian ini
merupakan masukan terhadap kebijaksanaan pemerintah.
2. Partisipasi sebagai media pemecahan konflik. Berbagai kepentingan dalam
pembangunan sangat rawan menimbulkan konflik sehingga perlu dibuka peluang
untuk menampung
pcndapat dan aspirasi masyarak.at.
3. Partisipasi sebagai sebuah strategi, yakni sebagai wujud
dalamendemokratisasikan pengambilan keputusan. Keikutsertaan masyarakat
dalam pengambilan keputusan akan cenderung untukmemperlihatkan
kesecliaannya yang besar untuk mendukung dan
menerima atau menyesuaikan diri dengan keputusan tersebut.
; 4. Partisipasi sebagai media komunikasi sosial, yakni pemerintahenantiasa
memberi ruang untuk menampung pendapat, aspirasi,atau keluhan masyarakat
atas prinsip top down planning danbuttom up participation35 .

6. Politik lingkungan nasional kita menuju kepada pembangunan lingkungan hidup


yang dicita-citakan seperti tercantum dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang
berbunyi: "Bumi dan air dan kekayaanalam yang terkandung di dalamnya dikuasai
oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat".Di
era orde barn, ketentuan konstitisional ini selanjutnya dijabarkan lebih konkret
sebagai politik lingkungan (kebijaksanaan. pembangunan Jingkungan) .. untuk ..
pertama -kalinya tercantum dalam TAP MPR No.IVIMPRi1973 tentang GBHN, pada
BAB III, butir IOPendahuluan yang berbunyi: "Dalam pelaksanaan pembangunan,
sumber-swnber alamIndonesia hams digunakan secara rasional. Penggalian
swnberkekayaan alam tersebut hams diusahakan agar tidak merusak tata

lingkungan hidup manusia, dilaksanakan dengan kebijaksanaan yangmcnyeluruh


dan dengan memperhitungkan kebutuhan generasi yang i!i<.an datang".
Di era reformasi, politik lingkungan hidup tertuang dalamPokok-Pokok Reformasi
dalam Rangka Penyelamatan danNormalisasi Kehidupan Nasional sebagai Haluan
Negara; GBHN
l 999-2004 jo. Program Pembangunan Nasional 2000-2004.Selanjutnya, tercantum
dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2005 tentang
Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2Cf09 (RPJMN}, Bab 32tcntang Perbaikan
Pengelolaan Sumber Daya Alam dan PelestarianFungsi Lingkungan Hidup. Ke
depan perencanaan dan pengelolaanlingkungan hidup akan mengacu kepada
UUPPLH 2009 dan rencana pcmbangunan versi pemerintah.
7. Salah satu sarana ywidis untuk mencegah dan menanggulangikerusakan dan/
atau peocemaran lingkungan adalah sistem perizinan. Jenis dan prosedur
perizinan di Indonesia sangat banyak dan beraneka ragam sesuai dengan bidang
usaha atau kegiatan ya.1gdilakukan. Perizinan merupakan instrumen penting
dalam kebijakanlingkungan oleh karena dengan izin, suatu kegiatan dapat
dilakukandisertai dengan sanksi hukum bilamana terdapat pclanggaran. Sebelum
berlakunya UULH, UUPLH, maupun lJUPPLH, OrdonansiGangguan (Hinder
Ordonnantie=Htl) dianggap sebagai salah satu eraturan perizinan yang
berhubungan langsung dcngan pengelolaan lingkungan di Indonesia.
8. Konferensi Nasional Pembangunan Berkelanjutan (KNPB)yang dilaksanakan di Y
ogyakarta pada tanggal 2 J Januari2004, telah menghasilkan Kesepakatan
Nasional dan RencanaTindak Pembangunan Berkelanjutan dan menjadi dasar
semua pihak untuk menetapkan kebijaksanaan danmelaksanakannya.
Kesepakatan Nasional Pembangunan Berkelanjutanmeliputi kesepakatankesepakatan sebagai berikut.
Rencana Tindak Pembangunan Berkelanjutan yangdihasilkan KNPB meliputi
penurun.an tingkat kemiskinan,kepemerintahan yang baik dan masyarakat
madani, pendidikan,
tata ruang, sumber daya air, energi dan sumber daya mineral,kesehatan,
pertanian, keanekaragaman hayati, perlindungan danpengelolaan lingkungan
hidup, pola produksi dan pendanaan, dankelembagaan.
9. A. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan disingkat Amdal diIndonesia, mulai
diatur dalam UULH; jo. UUPLH; jo. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1986
tentang Analisis MengenaiDampak Lingkungan, jo. Peraturan Pemerintah No. 51
Tahun 1993,tentang Analisis Mengenai Dampak. Lingkungan, jo. Peraturan
Pemerintah Nornor 27 Tahun 1999 tentang Analisis MengenaiDampak Lingkungan,
Peraturan Pemerintah yang disebut terakhir ini mcrupakan hukum positif dan
mencabut ketentuan Amdal sebelumnya. UUPPLH sebagai pengganti UUPLH
mengatur tentang Amdal dalam Pasal 22 sampai dengan Pasal 33, sedangkan
ketentuanUKL clan UPL diatur dalam Pasal 34 sampai dengan Pasal 41 UUPPLH.
Amdal adalah salah satu sarana (instrumen) penting dalamkebijaksanaan
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Amdal maupun UKL-UPL
merupakan persyarakatan izm
lingkungan untuk melakukan usaha dan/atau kegiatan tertentu.
b. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UK.L) dan Upaya Pemantauan
Lingkungan Hidup (UPL) adalah upaya yang dilakukandalam pengelolaan dan
pemantauan lingkungan hidup oleh
penanggung jawab dan/ atau kegiatan yang tidak wajib melakukan Amdal,
tercantum dalam Keputusan Mentcri Negara LingkunganHidup Nomor 86 tahun
2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan
Upaya Pemantauan LingkunganHidup. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun

1999 tentang AnalisisMengenai Dampak Lingkungan Hidup menetapkan bahwa


bagiusaha dan/atau kegiatan yang tidak diwajibkan menyusun Amdal
wajib melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) danUpaya
Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL). Kewajiban membuat UKL dan UPL
diberlakukan bagi kegiatan yang dampak kegiatannya
mudah dikclola dengan teknologi yang tersedia. UKL dan UPL jugamerupakan
perangkat pengelolaan fingkungan hidup untukpengambilan keputusan dan dasar
untuk menerbitkan izin melakukan
usaha dan atau kegiatan.
10. Sejak tahun 1972, berkat dorongan Stockholm Conference onHuman
Environment di Swedia (Stockholm} pada tahun 1972, mulai tumbuh perhatian
dan minat masyarakat dalam negara yangsedang berkembang terhadap gejala
lingkungan hidup sebagai landasan berkembangnya hukum lingkungan. Pada
akhtr sidang(5 s/d 16 Juni J 972) konferensi mensahkan basil-basil konferensi yang
meliputi:
(a) Deklarasi tentang Lingkungan Hidup Manusia, terdiri atas:
Preambule dan 26 asas (Stockholm Declaration);
(b) Rencana Alesi Lingkungan Hidup Manusia (an Action Plan),
terdiri atas: 109 rekomendasi, termasuk di dalamnya 18 rekomendasi
tentang Perencanaan dan Pengelolaan Pemukirnan Manusia:
( c) Rekomendasi tentang kelembagaan dan keuangan yang
menunjang Rencana Aksi tersebut di atas, terdiri atas:
(i) Dewan Pengurus ( Governing Council) Program
Lingkungan Hidup (UN Environment Programme =
UNEP);
(ii) Sekretariat, yang dikepalai oleh seorang Direktur
Eksekutif;
(iii) Dana Lingkungan Hidup;
(iv) Badan Koordinasi Lingkungan Hidup.