Anda di halaman 1dari 18

BAB 1

PENDAHULUAN
Penyakit fibrokistik mammae merupakan kelainan payudara yang paling
sering ditemukan pada wanita dan biasanya didapatkan pada wanita pada usia dekade
3 4. Penyakit fibrokistik lebih tepat di sebut kelainan fibrokistik. Pasien biasanya
datang dengan keluhan pembesaran multipel dan sering kali payudara yang
menstruasi di sertai pada rasa nyeri payudara bilateral terutama menjelang
menstruasi. Ukuran dapat berubah yaitu menjelang menstruasi terasa lebih besar dan
penuh dan rasa sakit bertambah, bila setelah menstruasi maka sakit hilang / berkurang
dan tumor pun mengecil.(1,2,3)
Kelainan fibrokistik ini di sebut juga mastitis kronis kistik, hiperplasia kistik,
mastopatia kistik, displasia payudara dan banyak nama lainnya. Istilah yang
bermacam-macam ini menunjukkan proses epitelial jinak yang terjadi amat beragam
dengan gambaran histopatologis maupun klinis yang bermacam-macam pula.(1,2,3)
Scanlon mendefinisikan panyakit fibrokistik sebagai Suatu keadaaan di
mana di temukan adanya benjolan yang teraba pada payudara yang umumnya
berhubungan dengan rasa nyeri yang berubah-ubah karena pengaruh siklus
menstruasi dan menjadi memburuk sampai saat menopause.(4)
Kelompok penyakit ini sering mengganggu ketentraman penderita karena
kecemasan akan keluhan nyerinya. Dari suatu simposium di Southampton, Inggris
tahun 1987 dinyatakan : Suatu kondisi yang umum di sebut penyakit fibrokistik
peyudara akan menjadi suatu problem klinis untuk abad yang akan datang. Pada
pasien hal ini akan disebabkan dari perasaan tidak enak serta rasa cemas yang
menyertainya dan mempengaruhi kualitas hidup pasien.(4)
Beberapa bentuk kelainan fibrokistik mengandung risiko untuk berkembang
menjadi karsinoma payudara, tetapi umunya tidak demikian.(3,4) Bila ada keraguan
terutama bila pada massa tersebut teraba bagian yang konsistensinya berbeda, perlu
dilakukan biopsi. Nyeri yang hebat dan berulang atau pasien yang khawatir dapat

pula menjadi indikasi untuk dilakukan eksisi kelainan tersebut untuk meyakinkan
pasien tersebut. (3)
Tumor pada jenis kelainan fibrokistik ini umumnya tidak berbatas tegas
kecuali kista soliter. Konsistensi padat kenyal dan dapat pula kistik. Jenis yang padat,
kadang-kadang sukar dibedakan dengan kanker payudara dini. Kelainan ini dapat
juga di jumpai pada massa tumor yang nyata, hingga jaringan payudara teraba padat,
permukaan granular. Kelainan ini dipengaruhi oleh faktor hormonal atau terjadi suatu
gangguan keseimbangan hormonal.(5)
Love, Gelmen dan Silen menyatakan bahwa mastodinia atau nyeri pada
payudara bukanlah suatu manifestasi penyakit tetapi lebih mungkin merupakan suatu
respon fisiologis terhadap variasi hormonal yang sesuai dengan gambaran histologis
suatu kelainan fibrokistik. Setelah Love dkk menyatakan hal tersebut, 4 tahun
kemudian Vorherr menyatakan Teori Estrogen Predominan yang menyarankan terapi
medik untuk penyakit fibrokistik melalui supresi sekresi estrogen ovarial dengan
pemberian oral kontrasepsi rendah estrogen dan pemakaian siklis progesterone atau
medroksiprogesteron.(5)

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI PAYUDARA (2,3)


Payudara merupakan kelenjar aksesoris kulit yang terletak pada iga dua
sampai iga enam, dari pinggir lateral sternum sampai linea aksilaris media. Kelenjar
ini dimiliki oleh pria dan wanita. Namun, pada masa pubertas, payudara wanita
lambat laun akan membesar hingga membentuk setengah lingkaran, sedangkan pada
pria tidak. Pembesaran ini terutama terjadi akibat penimbunan lemak dan dipengaruhi
oleh hormon-hormon ovarium (Snell, 2006).
Secara umum, payudara terdiri atas dua jenis jaringan, yaitu jaringan
glandular (kelenjar) dan jaringan stromal (penopang). Jaringan kelenjar meliputi
kelenjar susu (lobus) dan salurannya (ductus). Sedangkan jaringan penopang meliputi
jaringan lemak dan jaringan ikat. Selain itu, payudara juga memiliki aliran limfe.
Aliran limfe payudara sering dikaitkan dengan timbulnya kanker maupun penyebaran
(metastase) kanker payudara (Haryono dkk, 2011).
Menurut Saymor (2000) setiap payudara terdiri atas 15-20 lobus yang
tersusun radier dan berpusat pada papilla mamma. Saluran utama tiap lobus memiliki
ampulla yang membesar tepat sebelum ujungnya yang bermuara ke papilla. Tiap
papilla dikelilingi oleh daerah kulit yang berwarna lebih gelap yang disebut areola
mamma. Pada areola mamma, terdapat tonjolan-tonjolan halus yang merupakan
tonjolan dari kelenjar areola di bawahnya. Jika dilakukan perabaan pada payudara,
akan terasa perbedaan di tempat yang berlainan. Pada bagian lateral atas (dekat
aksila), cenderung terasa bergumpal-gumpal besar. Pada bagian bawah, akan terasa
seperti pasir atau kerikil. Sedangkan bagian di bawah puting susu, akan terasa seperti
kumpulan biji yang besar. Namun, perabaan ini dapat berbeda pada orang yang
berbeda. (Mangunkusumo, 2006).

Menurut Hoskins et, al (2005) Untuk mempermudah menyatakan letak suatu


kelainan, payudara dibagi menjadi lima regio, yaitu :
1. Kuadran atas bagian medial (inner upper quadrant)
2. Kuadran atas bagian lateral (outer upper quadrant)
3. Kuadran bawah bagian medial (inner lower quadrant)
4. Kuadran bawah bagian lateral (outer lower quadrant)
5. Regio puting susu (nipple)

Secara fisiologi, unit fungsional terkecil jaringan payudara adalah asinus. Sel
epitel asinus memproduksi air susu dengan komposisi dari unsur protein yang

disekresi apparatus golgi bersama faktor imun IgA dan IgG, unsur lipid dalam bentuk
droplet yang diliputi sitoplasma sel. Dalam perkembangannya, kelenjar payudara
dipengaruhi oleh hormon dari berbagai kelenjar endokrin seperti hipofisis anterior,
adrenal, dan ovarium. Kelenjar hipofisis anterior memiliki pengaruh terhadap
hormonal siklik follicle stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH).
Sedangkan ovarium menghasilkan estrogen dan progesteron yang merupakan hormon
siklus haid. Pengaruh hormon siklus haid yang paling sering menimbulkan dampak
yang nyata adalah payudara terasa tegang, membesar atau kadang disertai rasa nyeri.
Sedangkan pada masa pramenopause dan perimenopause sistem keseimbangan
hormonal siklus haid terganggu sehingga beresiko terhadap perkembangan dan
involusi siklik fisiologis, seperti jaringan parenkim atrofi diganti jaringan stroma
payudara, dapat timbul fenomena kista kecil dalam susunan lobular atau cystic
change yang merupakan proses aging (Soetrisno, 2010; Sabiston, 2011).
2.2 FIBROKISTIK PAYUDARA/MAMMAE

a. Defenisi(1,3)
Fibrokistik adalah kelainan akibat dari peningkatan dan distorsi perubahan
siklik payudara yang terjadi secara normal selama daur haid. Penyakit fibrokistik
pada umumnya terjadi pada wanita berusia 25-50 tahun (>50%) (Kumar, 2007).
Perubahan fibrokistik dibagi menjadi perubahan nonproliferatif dan perubahan
proliferatif, bermanifestasi dalam beberapa bentuk yang biasanya melibatkan
kombinasi dari 3 respon jaringan dasar, proliferasi epitel (proliferatif), fibrosis dan
pertumbuhan kista (nonproliferatif). Proliferasi sel-sel epitel menyebabkan adenosis.
Pada kasus-kasus lain fibrosis lebih dominan dan kelainan proliferasi epitel kurang
tampak (Berek, 2005).

b. Epidemiologi(3)
Mereka yang beresiko terserang penyakit kista payudara adalah wanita yang
berusia diatas 30 tahunan dan meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan juga
wanita yang usianya 30 tahun ke bawah juga akan mengalami hal yang sama.

c. Etiologi(1,2,3)
Sampai saat ini etiologi fibrokistik mammae belum diketahui dengan pasti,
namun penyebabnya adalah multifaktorial yang saling mempengaruhi satu sama lain,
yaitu:
1. Genetik, Ini berdasarkan :
a. Adanya kecendrungan pada keluarga tertentu lebih banyak menderita
carcinoma mammae daripada keluarga lain bila ada riwayat keluarga dengan
kanker payudara pada ibu, saudara perempuan ibu, dan saudara perempuan.
b. Adanya distribusi predileksi antarbangsa atau suku bangsa.
c. Kembar monozygote terdapat kanker yang sama.
d. Persamaan lateralitas kanker payudara pada keluarga dekat dari penderita.
e. Seseorang dengan sindrom klinefelter akan mendapat kemungkinan 66 kali
dari pria normal.
f. Pernah mengalami infeksi, trauma, atau operasi tumor jinak payudara.
g. Mempunyai kanker payudara kontralateral,dan kemungkinan beresiko 3-9
kali.
h. Pernah menjalani operasi ginekologis, misalnya tumor ovarium.
2. Pengaruh Hormon.
a. Usia menarche < 12 tahun, beresiko 1,7-3,4 kali lebih tinggi daripada
wanita yang menarche pada usia> 12 tahun.
b. Usia menopause >55 tahun, beresiko 2,5-5 kali lebih tinggi.

c. Umur >30 tahun memiliki insiden yang lebih tinggi.


d. Tidak kawin dan nullipara, resikonya 2-4 kali lebih tinggi dari wanita yang
kawin dan punya anak.
e. Melahirkan anak pertama pada usia> 35tahun, resikonya 2 kali lebih besar.
f. Terapi hormonal yang lama.
g. Kontrasepsi oral pada pasien tumor payudara jinak seperti kelainan
fibrokistik ganas, meningkatkan resiko hingga 11 kali.
3. Makanan
a. Terutama makanan yang mengandung banyak lemak.
b. Karsinogen : terdapat lebih dari 2000 karsinogen dalam lingkungan hidup
kita.
4. Radiasi di Daerah Dada
Riwayat pernah mengalami radiasi di dinding dada karena radiasi dapat
menyebabkan mutagen.

d. Patogenesis(4)
Kista payudara biasanya muncul akibat dari hormon. Hubungan dengan
adanya respons jaringan payudara dan perubahan kadar hormon estrogen yang terjadi
setiap bulannya selama masa reproduktif berlangsung. Seperti yang kita ketahui,
bahwa setiap bulannya selama siklus haid makan jaringan payudara akan mengalami
pembengkakan. Dan rangsangan dari hormon pada jaringan payudara ini akan
menyebabkan payudara menahan air serta kelenjar susu dan juga salurannya akan
mengalami pelebaran. Cairan inilah yang selanjutnya berkumpul dan pada akhirnya
akan membentuk kista payudara.
Disaat sedang siklus haid, maka payudara sendiri memang akan mengalami
pembengkakan, terasa nyeri dan mempunyai benjolan. Dan setelah masa menstruasi,

maka biasanya pembengkakan yang terjadi payudara akan semakin berkurang, dan
tidak akan terasa sakit dan nada benjolan. Karena penyebabnya adalah hormon maka
kista payudara dapat mengecil, bahkan bisa hilang sendiri disaat seorang wanita
mulai memasuki masa menopause. Tetapi tidak jarang juga kista payudara tetap
mengalami pembesaran walaupun sudah melewati masa menopause.

e. Gejala Klinis(5)

Biasanya multipel: bengkak dan nyeri tekan pada bilateral payudara


menjelang menstruasi

Teraba massa yang bergerak bebas pada payudara

Biasanya payudara teraba lebih keras dan benjolan pada payudara membesar
sesaat sebelum menstruasi.

Keluar cairan dari putting

f. Histopatologi(6)
Lesi payudara diduga fibrocystic changes jika pada makroskopisnya tampak
benjolan yang padat, kenyal, berkapsul, tidak melekat kulit/dasar, dan disertai kistakista kecil. fibrocystic Changes ciri mikroskopisnya sediaan dengan 3 struktur:
Cysts: tampak struktur kista kecil yang dilapisi selapis epitel.
Fibrosis: tampak sel2 fibrosit dengan degenerasi hyaline.
Adenosis: tampak peningkatan jumlah acini di dalam tubulus.
Jenis-jenis kista payudara :
1) Mikrocysts, kista payudara jenis ini bentuknya terlalu kecil untuk dirasakan
pada pemeriksaan SADARI(pemeriksaan payudara sendiri) tetapi bisa dilihat
pada pemeriksaan pencitraan seperti Mammografi atau USG.
2) Makrocysts, bentuknya cukup besar dirasakan dapat tumbuh sekitar 1 hingga
2 inchi (2,5-5 cm) diameter kistanya. Kista payudara yang besar dapat
memberikan

tekanan

pada

jaringan

menimbulkan nyeri dan ketidaknyamanan.

payudara

didekatnya

sehingga

g. Diagnosis(1,2,3,4)
1. Anamnesis
Anamnesis didahului dengan pencatatan identitas penderita secara lengkap.
Keluhan utama penderita berupa benjolan di payudara, rasa sakit, keluar cairan di
puting susu, eksema di sekitar areola, dimpling, kemerahan, ulserasi, peau dorange,
dan keluhan pembesaran kelenjar getah bening aksilla atau metastase jauh. Hal-hal
yang perlu ditanyakan berhubungan munculnya benjolan adalah sejak kapan muncul,
progresifitas perkembangan tumor, sakit atau tidak. Biasanya tumor pada proses
keganasan atau kanker payudara mempunyai ciri khas dengan batas irregular, tidak
nyeri, tumbuh progresif.
Pengaruh siklus menstruasi terhadap keluhan tumor dan perubahan ukuran
tumor, kawin atau tidak, jumlah anak, anaknya disusui atau tidak, riwayat penyakit
kanker dalam keluarga, riwayat memakai obat-obat hormonal, dan riwayat pernah
atau tidak operasi payudaradan obstetri-ginekologi. Perlu ditanyakan kepada pasien
faktor resiko kanker payudara karena dengan mengetahui faktor resiko seseorang
diharapkan dapat lebih waspada terhadap kelainan-kelainan pada payudara, baik
secara rutin dengan SADARI (pemeriksaan payudara sendiri) maupun secara periodik
memeriksakan kelainan payudara atau tanpa kelainan kepada dokternya. Bagi dokter
perlu melakukan pemeriksaan fisik yang baik dan legeartis serta melakukan
pemeriksaan mammografi pada penderita dengan high risk terhadap faktor tersebut.
Jadi tujuannya adalah untuk lebih waspada, tidak untuk menakut-nakuti dan
menimbulkan kegelisahan pada orang-orang yang mempunyai faktor high

10

risktersebut. Disamping itu pula terdapat beberapa faktor resiko yang mempunyai
kelainan mammary dysplasia, tidak kawin, dan sebagainya.Dalam hal ini tidak
dianjurkan untuk memakai obat-obat pil KB pada wanita-wanita dengan mammary
dysplasia (gross mammary dysplasia) atau wanita di atas 35 tahun.
2.

Pemeriksaan Fisik
Organ payudara dipengaruhi oleh faktor hormonal antara lain estrogen dan

progesteron maka sebaiknya pemeriksaan payudara dilakukan saat pengaruh


hormonal ini minimal, yaitu setelah menstruasi lebih kurang satu minggu dari hari
pertama menstruasi. Dengan pemeriksaan fisik yang baik dan teliti, ketepatan
pemeriksaan untuk kanker payudara secara klinis cukup tinggi. Teknik pemeriksaan
dilakukan dengan badan bagian atas terbuka, antara lain:
a.

Posisi tegak (duduk)

Penderita duduk dengan tangan bebas ke samping, pemeriksaan berdiri di depan


dalam posisi yang lebih kurang sama tinggi. Saat inspeksi yang perlu dinilai adalah :
a)

Simetris payudara kiri-kanan

b)

Kelainan papilla

c)

Letak dan bentuknya

d)

Retraksi puting susu

e)

Kelainan kulit

f)

Tanda-tanda radang

g)

Peau d orange

h)

Dimpling

i)

Ulserasi

b.

Posisi berbaring
Penderita berbaring dan diusahakan agar payudara jatuh tersebar rata di atas

lapangan dada, jika perlu bahu atau punggung diganjal dengan bantal kecil pada
penderita yang payudaranya besar. Palpasi ini dilakukan dengan menggunakan falang
distal dan falang medial jari I,II, III, IV dan dikerjakan secara sistematis mulai dari
kranial setinggi iga ke 2 sampai ke distal setinggi iga ke 6, dan jangan dilupakan
pemeriksaan daerah sentral subareolar dan papil. Dapat juga sistematis dari tepi ke

11

sentral (sentrifugal) berakhir di daerah papil.Terakhir diadakan pemeriksaan kalau


ada cairan keluar dengan menekan daerah sekitar papil. Dengan pemeriksaan rabaan
yang halus akan lebih teliti daripada dengan rabaan tekanan keras. Rabaan halus akan
membedakan kepadatan massa payudara.
c.

Menetapkan keadaan tumor


1. Lokasi tumor menurut letak kuadran di payudara atau terletak di daerah

sentral (subareola dan di bawah papil). Payudara dibagi atas lima kuadran yaitu

lateral atas, lateral bawah, medial atas, medial bawah, dan sentral.
2. Ukuran tumor, konsistensi, batas-batas tumor tegas atau tidak tegas.
3. Mobilitas tumor terhadap kulit dan m.pektoralis atau dinding dada.
d.

Pemeriksaan kelenjar getah bening regional


a)

Aksilla

Sebaiknya dalam posisi duduk, karena posisi ini fossa aksilla jatuh ke bawah
sehingga mudah untuk diperiksa dan lebih banyak dicapai.Pemeriksaan aksilla kanan,
tangan kanan penderita diletakkan atau dijatuhkan lemas di tangan kanan/bahu
pemeriksa dan aksilla diperiksa dengan tangan kiri pemeriksa. Kelejar getah bening
yang diperiksa, adalah:
- Mammaria eksterna, di bagian anterior dan di bawah tepi m. pektoralis aksilla.
- Subskapularis di posterior aksilla.
- Sentral di bagian pusat aksilla.
- Apikal di ujung atas fossa aksillaris.

12

- Supra dan infraklavikuler serta leher utama, bagian bawah dipalpasi dengan cermat
dan teliti
b)

Organ Lain seperti hepar, lien untuk mencari metastasis jauh, dan tulang.

3.
Pemeriksaan Penunjang
Mammografi
Suatu teknik pemeriksaan soft tissue. Adanya proses keganasan akan
memberikan tanda-tanda primer dan sekunder. Tanda primer berupa fibrosis reaktif,
cornet sign, adanya perbedaan yang nyata ukuran klinik, roentgenologik, dan adanya
mikrokalsifikasi.

Tanda-

tanda

sekunder

berupa

retraksi,

penebalan

kulit,

bertambahnya vaskularisasi, perubahan posisi papilla dan areola berupa bridge of


tumor, keadaan daerah tumor dan jaringan fibroglanduler tidak teratur, infiltrasi
dalam jaringan lunak di belakang mammae, dan adanya metastasis ke kelenjar.
Mammografi dapat mendeteksi tumor-tumor yang secara palpasi tidak teraba, jadi
sangat baik untuk diagnosis dini dan skrining.Hanya saja untuk mass screening.Cara
ini merupakan cara yang mahal dan hanya dianjurkan pada wanita dengan faktor high
risk. Ketepatan 83%-95%, tergantung dari teknisi dan ahli radiologinya.

Aspirasi Jarum Halus (BIOPSI)


Dalam prosedur ini dokter menyisipkan jarum tipis kedalam benjolan
payudara dan berupaya untuk menarik (aspirasi) cairan di dalam benjolan. Jika cairan
yang keluar dan benjolan hilang maka dokter bisa membuat diagnosis kista payudara.

h. Penatalaksanaan
13

Penatalaksanaan pada kelainan fibrokistik ada 2 macam yakni :(1,2,3,3,45)


Medikamentosa
Pemberian obat-obatan anti nyeri dapat diberikan untuk mengurangi nyeri
yang ringan sampai sedang. Pemberian obat anti diuretik serta pembatasan pemberian
cairan dan garam. Di Perancis di coba pemberian progesteron untuk kelainan
fibrokistik karena di anggap terdapat ke tidak mampuan fungsi corpus luteum sebagai
penyebab nyeri dan timbulnya nodul, tetapi hal ini di sangkal dari penelitian double
blind yang menggunakan plasebo di mana tidak didapatkan perbedaan yang
bermakna.
Dari teori Hyperprolaktinemia dan estrogen over stimulasi menyarankan
pemberian bromokriptin dan danazol. Tetapi dari penelitian ini tidak memperlihatkan
hasil yang impresif dan fakta yang ada menunjukkan bahwa lama pengobatan serta
mekanisme kerjanya tidak di ketahui.
Bedah
Penatalaksanaan secara pembedahan dilakukan bila :
- Pengobatan medis tidak memberikan perbaikan.
Ditemukan pada usia pertengahan sampai tua.

- Nyeri hebat dan berulang.


- Perasaan kecemasan yang berlebihan dari pasien.
Reduksi mammoplasti dilakukan pada keadaan :(4)
1.

Mamary hipertrofi
Gejala antara lain nyeri pada punggung dan leher serta spasme otot. Pasien
umumnya tidak mengetahui bahwa reduksi mammoplasti dapat mengurangi
gejala. Beratnya payudara dapat menyebabkan kifosis tulang belakang.

2. Makromastia
Pasien dengan makromastia akan datang dengan keluhan ulnar parestesia sebagai
akibat dari terperangkapnya bagian terbawah pleksus brakialis. Sulit bagi wanita
yang mengalami makromastia untuk melakukan aktifitas olahraga dan latihan.
Pada kebanyakan wanita akan menyebabkan gangguan penampilan serta kurang
14

rasa percaya diri. Bilateral makromastia sebagai akibat akhir sensitivitas organ
terhadap estrogen.
3. Gigantomastia
Adalah pembesaran masif payudara selama kehamilan dan selama masa
adolesen. Payudara membesar sangat cepat dan secara tidak proporsional.
Komplikasi setelah reduksi mammoplasti adalah :(4,6)
1. Hematom.
2. Infeksi.
3. Nekrosis flap kulit dan kompleks nipple areola.
4. Inversi Nipple.
5. Asimetri.
6. Timbul Keloid.

i. Prognosis(7)

Prognosis masih belum diketahui secara pasti namun karena penyebabnya


adalah hormon maka kista payudara dapat mengecil, bahkan bisa hilang sendiri disaat
seorang wanita mulai memasuki masa menopause.

j. Komplikasi (7)

1. Kekambuhan

15

Pengobatan dari kista payudara memang tidak menjamin 100% bisa


membantu mengatasi kista. Jadi, pasien yang telah mengalami kista, maka
resiko untuk kambuh lagi bisa saja terjadi asalkan sifat dari kista tidak
berubah menjadi ganas dan tidak menimbulkan gangguan. Maka terapi
selanjutnya adalah mastektomi.

2. Kanker Payudara

BAB III
KESIMPULAN

Fibrokistik adalah kelainan akibat dari peningkatan dan distorsi perubahan


siklik payudara yang terjadi secara normal selama daur haid. Penyakit fibrokistik
pada umumnya terjadi pada wanita berusia 25-50 tahun (>50%) (Kumar, 2007).
Perubahan fibrokistik dibagi menjadi perubahan nonproliferatif dan perubahan
proliferatif, bermanifestasi dalam beberapa bentuk yang biasanya melibatkan
kombinasi dari 3 respon jaringan dasar, proliferasi epitel (proliferatif), fibrosis dan
16

pertumbuhan kista (nonproliferatif). Proliferasi sel-sel epitel menyebabkan adenosis.


Pada kasus-kasus lain fibrosis lebih dominan dan kelainan proliferasi epitel kurang
tampak (Berek, 2005).
Mereka yang beresiko terserang penyakit kista payudara adalah wanita yang
berusia diatas 30 tahunan dan meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan juga
wanita yang usianya 30 tahun ke bawah juga akan mengalami hal yang sama.
Gejala Klinisnya seperti :

Biasanya multipel: bengkak dan nyeri tekan pada bilateral payudara


menjelang menstruasi

Teraba massa yang bergerak bebas pada payudara

Biasanya payudara teraba lebih keras dan benjolan pada payudara membesar
sesaat sebelum menstruasi.

Keluar cairan dari puting

DAFTAR PUSTAKA

1.

Bland KI, Verenidis MP, Edwar M. Copeland EM. Breast. In: Schwartzs
Principle of Surgery. 7th ed. New York. Mc Graw Hill International. 1999 : 53399.

2.

Pisi Lukito dkk. Kelainan Fibrokistik Dalam: Sjamsuhidajat, Wim de Jong


penyunting Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta. EGC. 1997: 512-55.

3.

Iglehart JD. The Breast. In : Sabistons Textbook of Surgery. 14th ed.


Philadelphia. WB Saunders. 1991: 510-50.

17

4.

Marchant DJ. Fibrocystic changes. In : Breast Diseases. Philadelphia. WB


Saunders Company. 1997: 21-29.

5.

Ramli M. Kanker Payudara. Dalam: Soelarto R penyunting Kumpulan Kuliah


Ilmu Bedah. Bagian Bedah FKUI. 1995: 342-63.

6.

Strombeck JO. Reduction Mammoplasty. In : Grabb WC penyunting Plastic


Surgery. Boston. Little Brown and Company. 1973: 955-71.

7.

Catalioti L, et al. The response of surgeon to changing patterns in breast


cancer diagnosis. In: European Journal of Cancer. Lisbon. Pergamon. 2001. Vol
37.

18