Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH PBL KOMUNITAS

SWAMEDIKASI

Oleh:
KELOMPOK 1
Gracia Putra Secunda

105070501111006

Wayan Chyntia Yunita

125070500111003

Nur Hasanah

125070500111004

Amalia Ghassani M.

125070500111012

Lina Zahrotus Sajidah

125070500111013

Vashti Talitha Chairissy

125070500111021

Gystalia Jenny R.S.

125070500111022

Reni Tania

125070500111030

Priscylla Moekti Lestari

125070500111032

Dewi Nur Aini Najiha

125070501111007

Nilna Maya Shofiana

125070501111008

M. Okta Dody Muzuka

125070502111001

Duwi Efasari

125070502111002

Nindia Alvionita

125070505111002

Sabrina Firda Farahiyah

125070507111003

Sakinah Maghdalena N.

125070507111011

Orysa Onny Oktaviana

125070507111013

Dian Indrawati Santoso

125070507111004

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

DEFINISI SWAMEDIKASI
Definisi swamedikasi menurut WHO adalah pemilihan dan penggunaan obat
modern, herbal, maupun obat tradisional oleh seorang individu untuk mengatasi penyakit
atau gejala penyakit (WHO, 1998). Sedangkan swamedikasi menurut BPOM Swamedikasi
adalah pengobatan sendiri yang biasanya dilakukan untuk mengatasi masalah kesehatan
atau gangguan yang ringan, misalnya batuk-pilek, demam, sakit kepala, diare, sembelit,
perut kembung, maag, gatal-gatal, infeksi jamur kulit dan lain-lain.Hal-hal yang perlu
diketahui sebelum melakukan pengobatan sendiri (BPOM, 2013).

1.2

FAKTOR PENDORONG SWAMEDIKASI


a) Konsumen akan berusaha mengatasi sendiri masalah kesehatannya yang sifatnya
sederhana, sementara dan umum diderita
b) Masyarakat pengobatan sendiri karena cara ini dianggap lebih murah dan lebih praktis
c) Masyarakat sering merasa kondisi yang dirasakannya belum memerlukan pemeriksaan
ke tenaga kesehatan, atau karena memang mereka tidak mempunyai kesempatan atau
tidak ada pilihan lain.

1.3

KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN SWAMEDIKASI


Keuntungan pengobatan sendiri adalah aman apabila digunakan sesuai dengan
petunjuk (efek samping dapat diperkirakan), efektif untuk menghilangkan keluhan karena
80% sakit bersifat self-limiting, yaitu sembuh sendiri tanpa intervensi tenaga kesehatan,
biaya pembelian obat relatif lebih murah daripada biaya pelayanan kesehatan, hemat
waktu karena tidak perlu mengunjungi fasilitas atau profesi kesehatan, kepuasan karena
ikut berperan aktif dalam pengambilan keputusan terapi, berperan serta dalam sistem
pelayanan kesehatan, menghindari rasa malu atau stress apabila harus menampakkan
bagian tubuh tertentu di hadapan tenaga kesehatan, dan membantu pemerintah untuk
mengatasi keterbatasan jumlah tenaga kesehatan pada masyarakat (Supardi, dan
Notosiswoyo, 2005). Keuntungan lainnya yaitu Swamedikasi dapat dilakukan oleh orang
yang tinggal didesa terpencil, dimana belum ada praktik dokter, swamedikasi akan
menghemat waktu dan biaya untuk pergi ke kota dan mengunjungi dokter (Tan dan
Rahardja, 2010).
Adapun kekurangan pengobatan sendiri adalah obat dapat membahayakan
kesehatan apabila tidak digunakan sesuai dengan aturan, pemborosan biaya dan waktu
apabila salah menggunakan obat, kemungkinan kecil dapat timbul reaksi obat yang tidak

diinginkan, misalnya sensitivitas, efek samping atau resistensi, penggunaan obat yang
salah akibat informasi yang kurang lengkap dari iklan obat, tidak efektif akibat salah
diagnosis dan pemilihan obat, dan sulit bertindak objektif karena pemilihan obat
dipengaruhi oleh pengalaman menggunakan obat di masa lalu dan lingkungan sosialnya
(Supardi, dan Notosiswoyo, 2005). Kekurangan lainnya yaitu Gejala tersamarkan dan
tidak dikenali sebagai penyakit serius (Tan dan Rahardja ,2010):
1. Tidak mengenali keseriusan gangguan.
Keluhan dapat dinilai keliru atau merugikan tidak dikenali sehingga pengobatan
sendiri tidak menunjukkan perbaikan. Gangguan itu bisa menjadi lebih parah sehingga
terlambat pengobatannya dan dokter mungkin perlu menggunakan obat keras.
2. Penggunaan Obat yang kurang tepat

Resiko lainnya adalah terjadinya pemilihan obat yang keliru, terlampau lama, atau
dalam takaran yang terlalu besar.
Maka untuk menangani keluhan tersebut, sebaiknya mengenali gangguan tersebut.
Selain itu dengan membaca aturan pakai dan peringatan yang diikutsertakan pada kemasan
(label), hendaknya ditaati dan dibaca dengan teliti. Apabila kurang jelas, dapat
menghubungi apotek terdekat.
1.4

PERATURAN MENGENAI SWAMEDIKASI


Peraturan Menteri Kesehatan Nomor: 919/MenKes/PER/x/1993 tentang Kriteria
Obat yang Dapat Diserahkan tanpa Resep Menteri Kesehatan, memutuskan :
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan :
1. Resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter hewan kepada
apoteker pengelola apotik untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita
sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Rasio khasiat keamanan adalah perbandingan relatif dari keuntungan penggunaannya
dengan mempertimbangkan resiko bahaya penggunaannya.
3. Menteri adalah Menteri Kesehatan Republik Indonesia.

PASAL 2
Obat yang dapat diserahkan tanpa resep harus memenuhi kriteria:
1. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak di bawah usia 2
tahun dan orang tua di atas 65 tahun
2. Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan resiko pada kelanjutan
penyakit.
3. Penggunaannya tidak memerlukan cara dan atau alat khusus yang harus dilakukan oleh
tenaga kesehatan.
4. Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia.

5. Obat

yang

dimaksud

memiliki

rasio

khasiat

keamanan

yang

dapat

dipertanggungjawabkan untuk pengobatan sendiri.


PASAL 3
1. Daftar Obat yang dapat diserahkan tanpa resep ditetapkan oleh Menteri
2. Penilaian terhadap obat yang dapat digolongkan menjadi obat yang dapat diserahkan
tanpa resep dilakukan secara terus menerus dengan mempertimbangkan perkembangan
ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat.
PASAL 4
Agar setiap orang mengetahuinya memerintahkan pengundangan Peraturan ini dengan
penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
1.5

TAHAP PELAYANAN SWAMEDIKASI


1. Assessment
a) Memberikan informasi meliputi dosis dan aturan pakainya, kontraindikasi, efek
samping dan lain-lain yang perlu diperhatikan oleh pasien.
b) Menanyakan dengan metode WWHAM (siapa pasien, gejala apa yang dialami,
sudah berapa lama gejala berlangsung, obat yang dipakai untuk mengatasi
penyakit, dan obat yang saat ini sedang dikonsumsi).
c) Untuk melakukan assessment, digunakan metode WWHAM, yaitu:

W who is it for ? (Siapa yang sakit)


Pertama kali harus ditanyakan siapa yang sakit, usia berapa, apakah dalam
keadaan hamil/menyusui. Bila yang datang adalah pasien sendiri, bisa dilihat
penampilan fisiknya untuk membantu penilaian kondisi pasien (ruam kulit,
pucat, keringat berlebihan dan lain-lain).

W what are the symptoms ? (apa gejalanya)


Perlu ditanyakan gejala/keluhan penderita, dan apoteker harus tahu gejalagejala yang perlu diwaspadai. Dengan memperhatikan gejala yang perlu
diwaspadai, dapat ditentukan dengan tepat apakah pasien harus diberi
rekomendasi terapi atau dirujuk ke dokter.

H how long have the symptoms ? (berapa lama gejala diderita)


Ditanyakan jangka waktu gejala yang dikeluhkan pasien, bagaimana
perkembangan kondisi pasien saat ini, apakah pasien juga menderita penyakit
lain.

A actions taken so far ? (tindakan apa yang sudah dilakukan)


Perlu ditanyakan tindakan apa saja yang sudah dilakukan untuk mengatasi
gejala/keluhan yang dirasakan pasien.

M medications they are taking ? (obat apa yang sudah digunakan)


Ditanyakan kpada pasien obat apa saja yang sudah digunakan untuk mengatasi
keluhan, meliputi obat bebas, obat bebas terbatas, obat yang diresepkan,
maupun obat tradisional. Selain itu ditanyakan juga apakah pasien juga minum
obat untuk penyakit lain.

Selain itu juga menanyakan gaya hidup, apakah sedang hamil, apakah sedang
haid, apakah menggunakan kontrasepsi, riwayat alergi makan dan obat, dan
riwayat penyakit. Hal ini untuk mencari tahu penyebab jerawat dan juga
memilihkan obat yang tepat, tidak menyebabkan alergi untuk pasien.

Apoteker juga perlu melihat kondisi dan tingkat keparahan jerawat sebelum
memutuskan memberikan obat
-

Pada kasus ini pasien diberikan obat benzolac-CL karena kondisi jerawat
pasien bisa diobati dengan benzolac-CL. Saat obat diberikan juga dilakukan
pemberian informasi dan edukasi yaitu tentang jerawat, penyebabnya, obat
yang diberikan (indikasi, dosis, kontraindikasi, ESO, interaksi obat,
mekanisme kerja obat, perhatian, penyimpanan, cara pemakaian),
monitoring dan evaluasi, serta terapi non farmakologi.

Kesembuhan jerawat pada pasien ini bisa dilihat dari jerawat pasien apabila
3-5 hari sudah membaik maka obat bisa dilanjutkan dan bisa kembali ke
apotek untuk konsultasi, tapi jika lebih parah maka dianjurkan ke dokter.

Tindakan apoteker untuk meminta pasien menghubungi dokter ketika


terjadi kondisi berikut:

Jika kondisi kulit memerah, perih, dan gatal

Jerawat meninggalkan bekas di wajah.

Anda merasa terganggu oleh jerawat dan tidak bisa melakukan aktivitas
harian secara normal.

Jika pasien mengalami hal-hal di atas, maka pasien perlu pergi kedokter. Meski
jerawat bukan kondisi medis yang serius, namun dapat melakukan pengobatan jika kulit
berjerawat terus-menerus agar dapat menghindari munculnya bekas jerawat pada
permukaan kulit.

Contoh assessment:
-

Memberikan

salam

dan

memperkenalkan

diri

kepada

pasien:

Selamat

pagi/siang/sore Mbak. Saya X apoteker yang bekerja di sini.


-

Menanyakan keperluan pasien: Ada yang bisa saya bantu Mbak?

Melakukan assesment: WWHAM atau penggalian informasi lainnya?


Siapa yang sakit? Siapa yang akan menggunakan gel ini?
Keluhan apa saja yang dialami?
Sudah berapa Mbak mengalami keluhan tersebut?
Tindakan apa saya yang Mbak lakukan untuk menagtasi keluhan tersebut?
Apakah mbak sedang mnggunakan obat lain saat ini selain obat jerawat?

Assesmen tambahan yang dapat dilakukan:


Maaf mbak sebelumnya, bagiamana kebiasan cuci muka dan menjaga kebersihan
wajah. Apakah dilakukan setiap hari setelah beraktivitas?
Apakah mbak sedang hamil, atau sedang menstruai? Karena jerawat dapat timbul
akibat faktor hormonal
Apakah mbak memiliki alergi seperti gatal atau bengkak setelah mengonsumsi
makanan atau obat tertentu?
Mbak bekerja dimana? Apakah di ruangan terbuka atau tertutup seperti kantor dan
semacamnya?
Apakah mbak senang menggunakan kosmetik? Dan apakah kosmetik yang mbak
gunakan pernah menyebabkan munculnya kondisi yang buruk pada wajah mbak,
sperti iritasi atau jerawat?

2. Pertimbangan pemilihan terapi berdasarkan kondisi pasien


Obat yang dapat diberikan untuk pasien dengan swamedikasi diatur dalam
Permenkes

No.919/MENKES/PER/X/1993

tentang

kriteria

obat

yang

dapat

diserahkan, yaitu:

Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak di bawah


usia 2 tahun dan orang tua di atas 65 tahun.

Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan risiko pada kelanjutan
penyakit.

Penggunaannya tidak memerlukan cara atau alat khusus yang harus dilakukan oleh
tenaga kesehatan.

Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia.

Obat

dimaksud

memiliki

rasio

khasiat

keamanan

yang

dapat

dipertanggungjawabkan untuk pengobatan sendiri.

Pemilihan obat untuk pasien dengan swamedikasi harus menyesuaikan dengan


kondisi pasien. Hal ini berarti bahwa tahapan assessment menjadi awal dari
pelayanan swamedikasi karena memberikan informasi terkait kondisi pasien.
Kondisi pasien menyangkut lamanya gejala penyakit timbul dan keparahan
penyakitnya. Tingkat keparahan penyakit menentukan terapi yang akan diberikan
dan juga menentukan apakah pasien perlu untuk mendapatkan pemeriksaan lebih
lanjut. Beberapa kondisi yang harus diperhatikan adalah kehamilan, berencana
untuk hamil, menyusui, umur (balita atau lansia), sedang dalam diet khusus seperti
misalnya diet gula, sedang atau baru saja berhenti mengkonsumsi obat lain atau
suplemen makanan, serta mempunyai masalah kesehatan baru selain penyakit yang
selama ini diderita dan sudah mendapatkan pengobatan dari dokter (Anonim,
2014).

Pemilihan obat untuk ibu yang sedang hamil dilakukan dengan lebih hati-hati,
karena beberapa jenis obat dapat menimbulkan pengaruh yang tidak diinginkan
pada janin. Beberapa jenis obat juga di sekresikan juga ke dalam air susu ibu.
Walaupun mungkin jumlah obat di ASI kadarnya kecil, namun mungkin dapat
berpengaruh pada bayi. Pemilihan jenis obat juga perlu diperhatikan pada orang
yang sedang dalam diet khusus seperti diet rendah garam atau rendah gula, karena
selain mengandung zat aktif berkhasiat, komposisi obat juga terdiri dari zat
tambahan lain yang harus diperhatikan oleh pasien dengan diet khusus tersebut,
misal obat berbentuk sirup umumnya mengandung gula dalam kadar cukup tinggi
sehingga dapat berpengaruh pada pasien yang sedang diet gula (Anonim, 2014).

3. KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi)


a) Penjelasan penyakit
-

Definisi jerawat

Penyebab timbulnya jerawat

Faktor resiko timbulnya jerawat

Tanda tanda timbulnya jerawat

Jenis-jenis jerawat

b) Pengobatan
Penjelasan tentang terapi yang akan diberikan:
-

Indikasi

Efek samping

Waktu penggunaan

Dosis penggunaan

Penyimpanan

Cara penggunaan

c) Non farmakologi
-

Memberikan informasi cara mencegah timbulnya jerawat

Memberikan informasi cara merawat wajah dengan benar

d) Monitoring

1.6

Efektivitas Terapi

Efek samping

PMR
Tidak ada peraturan khusus yang menjelaskan tentang penggunaan Patient Medication
Record secara terperinci. Hanya disebutkan pada Surat Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Apotek tentang definisi medication record yaitu berupa catatan pengobatan
pasien. Pada kasus ini, pasien membeli obat tanpa resep dokter termasuk dalam kegiatan
swamedikasi. Untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menolong dirinya
sendiri guna mengatasi masalah kesehatan dirasa perlu ditunjang dengan sarana yang dapat
meningkatkan pengobatan sendiri secara tepat, aman dan rasional, maka pemerintah
menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 924/ MENKES/PER/X/ 1993 yang
mengatur mengenai beberapa obat keras tertentu yang dapat diberikan oleh apoteker
kepada pasien tanpa resep dokter. Tujuan utama diterbitkannya Peraturan Menteri
Kesehatan saat itu adalah untuk swamedikasi, pasien dapat mengobati dirinya sendiri
secara rasional dan ditunjang dengan adanya Obat Wajib Apotek tersebut. Jadi, meskipun
secara umum apoteker tidak dapat menjual obat keras tanpa resep dokter, namun ada obat
keras tertentu yang berdasarkan Permenkes boleh dijual tanpa resep dokter.
Obat untuk swamedikasi meliputi obat-obat yang dapat digunakan tanpa resep yang
meliputi obat wajib apotek (OWA), obat bebas terbatas (OBT) dan obat bebas (OB). Obat
wajib apotek terdiri dari kelas terapi oral kontrasepsi, obat saluran cerna, obat mulut serta
tenggorokan, obat saluran nafas, obat yang mempengaruhi sistem neuromuskular, anti
parasit dan obat kulit topikal (Dirjen POM, 1997) Apoteker dalam melayani OWA
diwajibkan memenuhi ketentuan dan batasan tiap jenis obat per pasien yang tercantum
dalam daftar OWA 1 dan OWA 2. Wajib pula membuat catatan pasien serta obat yang

diserahkan. Apoteker hendaknya memberikan informasi penting tentang dosis, cara pakai,
kontra indikasi, efek samping dan lain-lain yang perlu diperhatikan oleh pasien
(Permenkes No.347 tahun 1990; Permenkes No.924 tahun 1993).
1.7

JERAWAT
1. Inflammatory Lession
a. Papula merupakan komedo yang meradang, membentuk benjolan kecil, terlihat
jelas di kulit dengan diameter <1 cm di epidermis dan/atau dermis. Papula ada
yang mengalami perubahan warna kulit jadi pink atau kemerahan , tapi ada juga
yang tidak. Mengambil atau menekan papula akan memperburuk inflamasi dan
bisa meninggalkan bekas luka.

b. Pustula merupakan rongga/cavity di permukaan kulit yang menonjol, terlihat jelas,


dan berisi cairan purulen putih atau kuning, mengelilingi folikel rambut. Hindari
untuk memencet pustula karena dapat menimbulkan bekas atau bintik-bintik hitam
di kulit.

c. Nodule merupakan lesi/benjolan pada yang tinggi, teraba, berbentuk bulat,


berdiameter mencapai 1 cm, dan terasa keras bila disentuh. Nodul terbentuk di
dermis dan/atau hipodermis yang seringkali terasa sakit.

2. Non-Inflammatory Lession

a. komedo terbuka atau blackhead merpakan sumbatan/plug akibat sebum,


keratinosit, dan mikroorganisme yang memblok pelebaran jalur folikel rambut.
Bukan kotoran yang menyebabkan komedo berubah menjadi hitam, tetapi reaksi
minyak dan udara yang menyebabkan warna hitam.

b. komedo tertutup atau whitehead adalah sumbatan/plug yang tetap tertutup pada
permukaan kulit. Hal ini terjadi ketika sel-sel minyak dan kulit mencegah folikel
rambut yang tersumbat untuk membuka.

Tingkat Keparahan Acne (Dipiro et al, 2008)

A. Mild Acne

B. Moderate Acne

C. Severe Acne

BAB II
PEMBAHASAN KASUS
2.1

KASUS
Seorang klien datang ke apotek Anda, klien ini adalah remaja putri (Rena, 18
tahun) yang datang dengan gangguan jerawat di wajahnya. Rena mengatakan bahwa ia
ingin membeli Benzolac-Cl (Benzoil peroksida 5%, klindamisin 1,2%) Gel untuk
mengobati jerawatnya. Sebelumnya Rena mendapat rekomendasi dari temannya untuk
menggunakan obat tersebut dan ingin mencoba untuk menggunakannya juga.

2.2

ASSESMENT
1. Salam dan perkenalan
2. Menanyakan tentang identitas pasien ( mana lengkap, umur, Berat Badan, Tinggi
Badan, alamat, pekerjaan, nomer telepon/ HP, dan golongan darah
Alasan: memastikan bahwa obat tidak diberikan kepasien yang salah dan untuk
pelengkapi PMR
3. WWAAM

Menanyakan ( gejala, sudah berapa lama gejala muncul, apa yang sudah dilakkan
( action), dan obat yang sudah diminum untuk mengtasinya)
Alasan: untuk mengetahui ketepatan indikasi obat
4. Menanyakan mengenai riwayat pengobatan, riwayat alergi dan riwayat penyakit pasien
Alasan :untuk memastikan bahwa obat pasien sudah tepat, dan untuk mengetahui
kontra indikasi obat
5. Menanyakan apakah pasien mengonsumsi obat lain atau obat herbal
Alasan: untuk mengetahui adanya interaksi obat
6. Menanyakan riwayat penyakit keluarga pasien dan gaya hidup pasien
Alasan: untuk mengetahui faktor terjadinya penyakit
7. Menanyakan mengenai pola hidup pasien ( olahraga, makanan, minuman, istirahat )
Alasan: untuk memperbaiki gejala yang dialami dengan cara memberikan non
farmakologi
2.3

BENZOLAC
Benzolac Cl adalah antiacne yang mengandung Benzoyl peroxide 5% dan
Clindamycin phospate 1,2%. Obat ini terdapat dalam sediaan obat yang berbentuk gel dan
digunakan secara topikal.
Clindamycin phospate yang tidak aktif pada komposisi Benzolac Cl ini akan
berubah menjadi Clindamycin phospate yang aktif bila berada pada kondisi in vitro. Ia
akan bekerja dengan mengurangi konsentrasi asam lemak bebas pada kulit dan menekan
pertumbuhan Propionibacterium acnes.
Sedangkan Benzoyl peroxide bekerja sebagai anti bakteri pada pengobatan acne
vulgaris. Ia bersifat keratolitik dan mempunyai efek pengelupasan kulit.
Bonzolac Cl ini diindikasikan untuk mengatasi acne vulgaris papula-pastula yang
berat. Bukan untuk acne ringan.

Menurut BPOM (2004), Clindamycin yang merupakan kandungan dari Benzolac


Cl ini termasuk ke dalam Daftar Obat Wajib Apotek Nomor 2. Sehingga bisa diberikan
oleh apoteker kepada pasien sekalipun tanpa resep dari dokter.

2.4

PENILAIAN PENGOBATAN RASIONAL OLEH APOTEKER


Dalam melakukan penilaian dan pemilihan terapi, apoteker diwajibkan dapat melakukan
analisa:
1. Tepat indikasi,
2. Tepat obat,
3. Tepat dosis,
4. Tepat pasien/pendertia,
5. Waspada efek samping, dan pada akhirnya
6. Melakukan analisa farmakoekonomi untuk mendapatkan harga yang tepat dengan
keuangan pasien.

2.5

REKOMENDASI DAN KIE


Pasien kemungkinan mengalami jerawat tipe pustula ringan hingga berat yang
ditandai dengan kemerahan pada jerawat yang berisi cairan purulen putih atau kuning.
Jerawat jenis ini dapat diindikasikan mendapatkan terapi Benzolac

Cl mengandung

Benzoyl peroxide 5% dan Clindamycin phospate 1,2%. Clindamycin phosphat dapat

mengurangi konsentrasi asam lemak bebas pada kulit dan menekan pertumbuhan
Propionibacterium acnes. Sedangkan Benzoyl peroxide bekerja sebagai anti bakteri pada
pengobatan acne vulgaris. Ia bersifat keratolitik dan mempunyai efek pengelupasan kulit.
Berdasarkan BPOM Benzolac Cl ini merupakan obat OWA yang dapat diberikan tanpa
resep. Sehingga obat yang diminta pasien yaitu Benzolac Cl dapat diberikan dan sesuai
dengan kondisi pasien.
a) KIE
Indikasi : Benzolac ditujukan untuk membantu pengobatan jerawat. Lokal pada kulit
sebagai obat jerawat berdasarkan sifat yang dimiliki yaitu menurunkan konsentrasi
asam lemak bebas dalam sebum, bersifat anti mikroba terhadap propini bacterium
acnes dan bersifat keratolitik.
Kontraindikasi : Hipersensifitas terhadap Benzoyl Phosphat
Cara Pemakaian :
-

Cucilah muka dengan sabun dan air

Cobalah tes, terhadap kulit. Oleskan gel ini dengan ujung jari pada bagian yang
berjerawat selama 3 hari pertama. Bila tidak terjadi reaksi dan gangguan, gunakan
1-2 kali sehari dengan cara mengoleskan krim tipis-tipis dan hati-hati pada tempat
yang berjerawat dan sekitarnya. Hindarkan pemakaian yang berlebihan.

Bila terjadi kekeringan atau kulit yang terkelupas dosis kurangi menjadi 1 kali
sehari atau 2 hari sekali

Perhatian : Hindari kontak dengan mata, pelupuk mata, bibir atau selaput lendir
lainnya. Pada pemakaian biasa mungkin akan timbul rasa panas pada penggunaan
pertama dan kulit menjadi agak merah serta mengelupas dalam beberapa hari. Hal ini
tidak berbahaya dan akan hilang dalam waktu satu atau dua hari bila pengobatan
dihentikan untuk sementara waktu. Sesudah reaksi hilang, pengobatan dapat
dilanjutkan dengan mengurangi pemakaiannya. Hati-hati bila Benzoil Peroksida
diberikan pada wanita hamil dan menyusui. Keamanan pemakaian dan efektifitas pada
anak-anak belum ditetapkan. Jangan digunakan dengan kasa yang tertutup rapat
(acclusive dressing), karena dapat merangsang timbulnya reaksi sensitisasi. Bila terjadi
pembengkakan , iritasi, kemerahan atau kekeringan yang berlebihan, hentikan
pemakaian. Bila gejalanya tidak berhenti hubungi dokter.Hati-hati dipakai pada leher
dan daerah sensitif lainnya. Pada uji dengan menggunakan hewan percobaan dapat
menimbulkan tumor kulit pada tikus.

Efek samping : Dermatitis kontak alergi telah dilaporkan pada pengobatan Benzoil
Peroksida secara topikal. Iritasi lokal (kerap kali terjadi reaksi hebat pada beberapa
orang).
Interaksi obat : Vitamin A
Harga : Rp. 13.500,00
Cara Penyimpanan : Dalam tube tertutup rapat disimpan ditempat sejuk dan kering
b) Non-Farmakologi (Zaenglein et al. 2008)
- Tidak perlu Menggosok kulit (scrubbing) atau mencuci wajah secara berlebihan
sebab tidak membuka atau membersihkan pori dan mungkin akan berdampak

2.6

pada iritasi kulit.


Gunakan zat pembersih yang lembut dan tidak menyebabkan kering, untuk

menghindari iritasi dan kulit kering selama terapi akne.


Jangan biarkan rambut menutupi daerah wajah, terutama rambut yang kotor

karena dapat memperburuk kondisi pori-pori yang tersumbat.


Jangan memencet atau memecahkan jerawat karena dapat meninggalkan bekas

berupa jaringan parut pada kulit.


Diet makanan dan Asupan gizi seimbang juga bermanfaat membantu menjaga

kesehatan kulit.
Usahakan untuk tetap rileks karena Stres diketahui merupakan salah satu faktor

penyebab timbulnya akne.


Hindari kosmetik yang berminyak dan pelembab
Melakukan perawatan kulit dan pemilihan kosmetik sesuai dengan kondisi kulit

MONITORING
a) Untuk mengetahui efektivitas obat, dilakukan monitoring tiap 3 hari sekali dengan
melihat perbaikan pada jerawatnya
b) Jika ada perbaikan maka lanjutkan pemakainan hingga maksimal selama 2-4
minggu
c) Jika tidak ada perbaikan selama 3-5 hari setelah pemakaian maka segera
diperiksakan ke dokter
d) Teliti tanggal kedaluarsa obat dan hentikan penggunaan jika ada perubahan warna
atau tekstur gel
e) Monitoring efek samping yang mungkin muncul. Jika terjadi efek samping, segera
hentikan pengobatan dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan
Efek samping Benzolac-CL: iritasi kulit ringan
f) Swamedikasi harus dihentikan jika terjadi reaksi alergi seperti gatal-gatal dan
kemerahan pada kulit

g) Obat yang tidak habis dapat disimpan dan tidak untuk digunakan oraang lain
walaupun dengan kondisi serupa. Jika ingin menggunakan lagi di lain waktu pada
kondisi yang sama, konsultasikan dahulu ke Apoteker
2.7

PMR
Pada kasus ini, pasien melakukan swamedikasi dan obat yang dibeli yaitu
Benzolac-Cl (Benzoil peroksida 5%, klindamisin fosfat 1,2%) termasuk dalam Obat Wajib
Apotek (OWA) No.2 yang ditujukan sebagai anti acne sehingga dalam pelayanan
dibutuhkan catatatn pasien serta obat yang diserahkan. Catatan tersebut dibuat lama bentuk
patient medication record (PMR). Lagi pula untuk pasien ini juga dibutuhkan adanya
monitoring tentang penggunan obat tersebut sehingga keberadaan PMR sangat diperlukan.
Contoh PMR :
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10. HOME CARE
11.
12.

BAB IV

KESIMPULAN
Swamedikasi adalah upaya seseorang dalam mengobati gejala sakit yang diderita
atau penyakit tertentu dalam taraf ringan tanpa konsultasi dengan dokter terlebih dahulu.
Obat yang boleh di swamedikasikan adalah obat bebas (OB), obat bebas terbatas (OBT),
dan obat wajib apotek (OWA). Apoteker membantu pasien dalam memilih obat
swamedikasi sesuai kebutuhan dan sesuai dengan peraturan yang berlaku serta
menjelaskan bagaimana cara menggunakan obat yang baik dan benar. Apoteker harus
melakukan swamedikasi adalah pasien harus paham betul terhadap gejala penyakit yang
ia rasakan, kemudian disampaikan keluhannya tersebut kepada apoteker. Sebagai apoteker
juga ikut memahami gejala yang dirasakan pasien, memberikan gambaran kondisi pasien
secara sederhana, memberikan pilihan alternatif terapi untuk menyembuhkan gejalanya.
Apoteker harus melakukan anamnesa sebaik mungkin, seperti riwayat pengobatan dengan
gejala yang sama, obat yang pernah dikonsumsi, riwayat terkena efek samping obat yang
serius, riwayat alergi makanan atau obat obatan, riwayat sosial, ekonomi, kebiasaan atau
perilaku hidup. Serta terapi atau tindakan apa saja yang sudah dilakukan untuk mengatasi
gejala tersebut. Kemudian sebagai pasien harus paham betul tentang cara pakai, indikasi,
penyimpanan, sesuai dengan obat yang pernah diresepkan

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.

2014.

Menuju Swamedikasi

yang Aman. InfoPOM. Vol 15. No.1.

http://perpustakaan.pom.go.id/KoleksiLainnya/Buletin%20Info%20POM/0114.pdf.
Diakses pada 17 Oktober 2015 pukul 12.45 WIB.
Anonim. 2015. Clasification of Agne and Management therapy. www.webmd.com.
Badan POM, 2004, Pengobatan Sendiri, Info POM. Vol. 5, No. 6, November 2004
Badan POM. 2013. Swamedikasi dan Hal-Hal yang Perlu Diketahui Sebelum
Melakukannya. Online. http://www.pom.go.id/new/index.php/view/no11. Diakses
tanggal 17 Oktober 2015pukul 9.29 WIB
BPOM. 2004. InfoPOM Pengobatan Sendiri Vol.5 No.6. BPOM RI.
Dipiro, Joseph et al. 2008. Pharmacotherapy; A Pathophysiologic Approach, Seventh
Edition. United States : McGraw-Hill Companies.
Supardi, Sudibyo, Notosiswoyo, Mulyono, Pengobatan Sendiri Sakit Kepala, Demam,
Batuk Dan Pilek Pada Masyarakat Di Desa Ciwalen, Kecamatan Warungkondang,
Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. II, No.3, Agustus
2005, 134 144
Tan T., H. dan Rahardja Kirana. 2010. Obat-obat Sederhana untuk Gangguan Sehari-hari.
Elex Media Computindo Kelompok Gramedia. Jakarta.
WHO, 1998. The Role of The Pharmacist in Self-Care and Self-Medication. The Hague,
The Netherlands: WHO, p.1-11.
Zaenglein L. Andrea, et al. 2008. Acne Vulgaris And Acneiform Eruptions. In:
Dermatology In General Medicine Fitzpatricks. The McGraw-Hill Companies, Inc.
690-700

LAMPIRAN
Pertanyaan dan Jawaban saat diskusi
1. Novaria Harindra
Apa yang apoteker lakukan untuk melayani swamedikasi ketika apotek sedang ramai?
2. Isna Asri
Apakah dampak dan sanksi jika seorang apoteker tidak melayani swamedikasi?
3. Wydha Septia
Apakah apoteker etis untuk merekomendasikan facial kepada pasien?
Jawaban
1. Gystalia Jenny
Apoteker dapat memberikan nomor antrian agar konsumen yang datang ke apotek
dapat pelayanan dan informasi yang tepat sesuai kondisinya masing-masing. Selain itu
apoteker tentunya dapat memfilter informasi yang penting disampaikan kepada pasien
karena merupakan suatu keharusan apoteker untuk memberikan informasi atau
konseling kepada pasien.
2. Wayan Chintya
Selama ini belum ada sanksi karena belum ada peraturan khusus yang mengatur
tentang swamedikasi. Namun dampak jika seorang apoteker tidak melayani
swamedikasi adalah pemasukan apotek hanya dari resep, berkurangnya kepercayaan
masyarakat, dan pasien tidak mendapat obat sesuai kebutuhannya.
3. Vashti Talitha
Etis, namun tetap memberikan konseling dan memperhatikan kondisi pasien karena
tidak semua jerawat dapat membaik saat mendapat facial, contohnya jika jerawat
meradang akan bertambah merah apabila dilakukan facial.