Anda di halaman 1dari 19

BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
LAPORAN KASUS
MEI 2016

NON HEMORAGIK STROKE

Oleh:
NETY NUR RAHMIAH
C 111 11 270

PUSPITASARI

Pembimbing:
dr. Sri Wahyuni S Gani,

M.Kes., Sp.S

DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR

LAPORAN KASUS
NON HEMORAGIK STROKE
A.

PENDAHULUAN
Stroke adalah penyakit pada otak berupa gangguan fungsi syaraf lokal dan/atau global,

munculnya mendadak, progresif, dan cepat. Gangguan fungsi syaraf pada stroke disebabkan oleh
gangguan peredaran darah otak non traumatik. Gangguan syaraf tersebut menimbulkan gejala

antara lain: kelumpuhan wajah atau anggota badan, bicara tidak lancar, bicara tidak jelas (pelo),
mungkin perubahan kesadaran, gangguan penglihatan, dan lain-lain. Didefinisikan sebagai stroke
jika pernah didiagnosis menderita penyakit stroke oleh tenaga kesehatan (dokter/perawat/bidan)
atau belum pernah didiagnosis menderita penyakit stroke oleh nakes tetapi pernah mengalami
secara mendadak keluhan kelumpuhan pada satu sisi tubuh atau kelumpuhan pada satu sisi tubuh
yang disertai kesemutan atau baal satu sisi tubuh atau mulut menjadi mencong tanpa kelumpuhan
otot mata atau bicara pelo atau sulit bicara/komunikasi dan atau tidak mengerti pembicaraan.1
Prevalensi stroke di Indonesia berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan sebesar 7 per mil
dan yang terdiagnosis tenaga kesehatan atau gejala sebesar 12,1 per mil. Prevalensi Stroke
berdasarkan diagnosis nakes tertinggi di Sulawesi Utara (10,8%), diikuti DI Yogyakarta
(10,3%).Bangka Belitung dan DKI Jakarta masing-masing 9,7 per mil. Prevalensi Stroke
berdasarkan terdiagnosis nakes dan gejala tertinggi terdapat di Sulawesi Selatan (17,9%), DI
Yogyakarta (16,9%), Sulawesi Tengah (16,6%), diikuti Jawa Timur sebesar 16 per mil.1
Prevalensi penyakit stroke pada kelompok yang didiagnosis nakes serta yang didiagnosis
nakes atau gejala meningkat seiring dengan bertambahnya umur, tertinggi pada umur 75 tahun
(43,1% dan 67,0%). Prevalensi stroke yang terdiagnosis nakes maupun berdasarkan diagnosis
atau gejala sama tinggi pada laki-laki dan perempuan.1
Prevalensi stroke cenderung lebih tinggi pada masyarakat dengan pendidikan rendah baik
yang didiagnosis nakes (16,5%) maupun diagnosis nakes atau gejala (32,8%). Prevalensi stroke
di kota lebih tinggi dari di desa, baik berdasarkan diagnosis nakes (8,2%) maupun berdasarkan
diagnosis nakes atau gejala (12,7). Prevalensi lebih tinggi pada masyarakat yang tidak bekerja
baik yang didiagnosis nakes (11,4%) maupun yang didiagnosis nakes atau gejala (18%).
Prevalensi stroke berdasarkan diagnosis atau gejala lebih tinggi pada kuintil indeks kepemilikan
terbawah dan menengah bawah masing masing 13,1 dan 12,6 per mil.1
B. LAPORAN KASUS
I.

IDENTITAS PASIEN
Nama
: Tn.Jumadi
Umur
: 51 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pendidikan
: S1
2016
Pekerjaan

: Pensiunan PNS

Tgl Pemeriksaan : 18 Mei 2016


Oleh Coas
: Nety Nur R.P.S
Bangsal
: Melati
Masuk RS, Tgl
: 02 Mei
RS

: Pelamonia

Alamat

: Jl. Pampang 2 LR 5 no.1

No.

CM

: 32 20 44

ANAMNESIS
Keluhan Utama :
Lemah separuh badan sebelah kiri (tangan dan kaki)
Riwayat Penyakit Sekarang :
Seorang pasien laki-laki berumur 51 tahun datang ke Rumah Sakit
Pelamonia dengan keluhan lemah separuh badan sebelah kiri (tangan
dan kaki). Keluhan dirasakan sejak 3,5 jam yang lalu sebelum masuk
rumah sakit secara tiba-tiba ketika ingin mandi. Pada saat itu, ketika
ingin mandi tiba-tiba merasa sempoyongan, pusing lalu kaki dan
tangan terasa sangat kram lalu kemudian terasa lemah dan tidak
dapat

digerakkan.

Sebelum

keluhan

tersebut

muncul,

pasien

melakukan aktivitas mencuci mobil, merokok, dan konsumsi kopi.


Pasien tidak merasakan nyeri kepala, tetapi merasakan pusing dan
mual tapi tidak muntah. Tidak ada riwayat trauma yang pernah dialami
pasien.
Riwayat Penyakit Dahulu :

Riwayat alergi (+)


Riwayat operasi katarak (+)
Riwayat hipertensi dan diabetes mellitus tidak diketahui

Riwayat Penyakit Keluarga :


Didalam keluarga ada yang menderita stroke yaitu ayahnya.
Riwayat Pekerjaan, Sosial Ekonomi dan Kebiasaan :
Pasien seorang pensiunan PNS dan tinggal bersama anak serta istrinya.
Merokok (+)
Alkohol (-)
Kopi (+)

Penggunaan obat-obatan (-)


PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Generalis :
Kesadaran

: komposmentis kooperatif

Tekanan darah

: 160/100 mmHg

Nadi

: 92x /menit

Nafas

: 24x /menit

Suhu

: 36oC

Anemia

: Tidak ada

Sianosis

: Tidak ada

Ikterus

: Tidak ada

Status Internus :
Thorak

Bentuk thorax normal


Paru

: Rh / Wh -/-, Vokal Fremitus : normal

Jantung : BJ I/II murni reguler


Abdomen

Peristaltik (+), Nyeri tekan (-)

Corpus Vertebrae :
Inspeksi : Deformitas (-), Gibbus (-), Tanda radang (-)
Palpasi

: Nyeri tekan (-)

B. Status Psikiatri :
- Perasaan hati : Sedih
- Perasaan berfikir
: Dalam batas normal
- Kecerdasan
: Dalam batas normal
- Memori
: Baik
- Psikomotor
: Tenang
C. Status Neurologis :
GCS 15 : E4 M6 V5
1.

Kepala :
- Bentuk : Normocephal

- Memori : Baik

- Penonjolan : 2.

- Pulsasi : +

Leher :
-

Sikap : Tegak
Pergerakan : dalam batas normal
Kaku Kuduk : -

3. Urat Saraf Kranial (Nervus Kranialis) :


- Nervus I (Nervus Olfaktorius)
:
1. Subyektif : dalam batas normal
2. Obyektif

: dalam batas normal

- N II ( Nervus Optikus ) :
1. Ketajaman Penglihatan

: DBN

DBN

2. Lapangan Penglihatan : DBN

DBN

3. Melihat Warna

TDE

: TDE

- Nervus III, IV, VI (Nervus Okulomotorius, Trokhlearis, Abdusens) :


1. Celah kelopak mata :

Kanan

Kiri

- Ptosis

:-

- Exoftalmus

:-

- Nistagmus

:-

- Bentuk/ukuran

: Bulat

-Isokor/anisokor

: Isokor

2. Pupil :
Bulat
Isokor

- Refleks Cahaya Langsung

:+

- Refleks konsensuil

:+

- Refleks akomodasi

:+

3. Gerakan Bola mata


- Paresis ke arah
- Nervus V (Nervus Trigeminus) :

:-

1. Sensibilitas wajah
pipi kiri

: menurun di daerah

2. Menggigit

: dalam batas normal

3. Menguyah

: dalam batas normal

4. Refleks masseter
5. Refleks kornea

: dalam batas normal


: dalam batas normal

- Nervus VII (Nervus Facialis) :


1. Mengerutkan dahi

: dalam batas normal

2. Menutup mata

: dalam batas normal

3. Gerakan mimik

: dalam batas normal

4. Bersiul

: dalam batas normal

5. Pengecapan 2/3 lidah bagian depan

tidak

dievaluasi
- Nervus VIII :
1. Suara berbisik

: dalam batas normal

2. Test rinner

: tidak dievaluasi

3. Test weber

: tidak dievaluasi

- Nervus IX (Nervus Glosofaringeus) :


1. Pengecapan 1/3 lidah bagian belakang

tidak

2. Sensibilitas faring

tidak

dievaluasi
dievaluasi
- Nervus X (Nervus Vagus) :
1. Arcus faring

: tidak dievaluasi

2. Berbicara

: dalam batas normal

3. Menelan

: dalam batas normal

4. Nadi

: Reguler

- Nervus XI (Nervus Aksesorius) :


1. Memalingkan kepala

: dalam batas normal

2. Mengangkat bahu

: dalam batas normal

- Nervus XII (Nervus Hipoglosus) :


1. Pergerakan lidah

: dalam batas normal

2. Tremor lidah

:-

3. Atrofi lidah

:-

4. Fasikulasi

:-

5. Artikulasi

:-

6. Deviasi

: kearah kiri

4. Badan dan Anggota Gerak


a. Badan
1. Bentuk kolumna vertebralis
: tidak dievaluasi
2. Pergerakan kolumna vertebralis : tidak dievaluasi
Kanan
Kiri
3. Refleks kulit perut atas

: dalam batas normal

dalam

: dalam batas normal

dalam

: dalam batas normal

dalam

batas normal
4. Refleks kulit perut tengah
batas normal
5. Refleks kulit perut bawah
batas normal
6. Refleks kremaster

: tidak dievaluasi tidak

dievaluasi
7. Sensibilitas
- Taktil
normal

: dalam batas normal

dalam

batas

- Nyeri

: dalam batas normal

dalam

batas

normal
- Suhu
b. Anggota Gerak
1. Ekstremitas

: tidak dievaluasi tidak dievaluasi

Superior
Kanan

Inferior
Kanan

Kiri

Kiri
a. Motorik
- Pergerakan

Menurun
- Kekuatan
- Tonus

5
N

Menurun
- Refleks fisiologik :
- Biceps

Menurun
- Triceps

Menurun
- Radius
- Ulna

N
N

Menurun
2
Menurun

N
5
N

Menurun

KPR

Menurun

APR

Menurun
Menurun

- Refleks Patologik
- Hoffmann-Tromner - / + Babinski

Klonus

Chaddock

Gordon

Schaeffer

Openheim -

Paha
Kaki

Tes Lasegue
Tes Kernig
Pentrik
Kontrapetrik

: N
:

b. Sensorik (Sensibilitas) :
- Eksteroseptif
- Taktil

: dalam batas normal

dalam batas normal

- Nyeri

: dalam batas normal

dalam batas normal

- Suhu

: tidak dievaluasi tidak dievaluasi

- Proprioseptif :
- Rasa Sikap
normal
- Rasa nyeri dalam
normal

: dalam batas normal

dalam

batas

: dalam batas normal

dalam

batas

- Fungsi kortikal
- Rasa diskriminasi
batas normal
- Stereognosis
normal

: dalam batas normal

: dalam batas normal

2. Kordinasi, Giat dan Keseimbangan :


- Cara berjalan

: tidak dievaluasi

- Tes romberg

: tidak dievaluasi

- Disdiadokokinesis

: tidak dievaluasi

- Ataksia

: tidak dievaluasi

- Rebound phenomena: tidak dievaluasi


- Dismetri

: tidak dievaluasi

3. Gerakan-gerakan abnormal :

4. Alat vegetatif :

- tremor

:-

- athetosis

:-

- mioklonus

:-

- khorea

:-

dalam

dalam

batas

- Miksi

: Lancar

- Defekasi

: baik

- Ereksi

: tidak dievaluasi

- Memori

: baik

- fungsi bahasa

: baik

5. Fungsi Luhur :

- Visuospasial

: baik

- praksia

: baik

- kalkulasi

: baik

RESUME
S : Seorang pasien laki-laki berumur 51 tahun datang ke Rumah Sakit
Pelamonia dengan keluhan lemah separuh badan sebelah kiri (tangan dan
kaki). Keluhan dirasakan sejak 3,5 jam yang lalu sebelum masuk rumah
sakit secara tiba-tiba ketika ingin mandi. Pada saat itu, ketika ingin mandi
tiba-tiba merasa sempoyongan, pusing lalu kaki dan tangan terasa sangat
kram lalu kemudian terasa lemah dan tidak dapat digerakkan. Sebelum
keluhan tersebut muncul, pasien melakukan aktivitas mencuci mobil,
merokok, dan konsumsi kopi. Pasien tidak merasakan nyeri kepala, tetapi
merasakan pusing dan mual tapi tidak muntah. Tidak ada riwayat trauma
yang pernah dialami pasien.
O : GCS : E4M6V5
Fkl : dalam batas normal
RM : KK -/-, KS -/N.Cranial. : Pupil bulat, isokor diameter 2,5 mm, RCL +/+, RCTL +/+
N. Cranial lain : dalam batas normal
Motorik :

P:

K:

T:
5

Reflex fisiologi
Biceps

Triceps N

KPR
APR

Reflex patologik
Hoffmann-tromner : - / +

Gordon : - / -

Babinski : -/+

Openhim : - / -

Chaddock : -/ -

Schaefer : - / -

Sensorik : Eksteroproprioseptif : dalam batas normal


Proprioseptif

: dalam batas normal

Otonom : BAB : biasa, kuning


BAK : lancar, kuning, kesan normal
IV. ASSESSMENT (DIAGNOSA KERJA)

Diagnosis Klinis

: Hemiparese sinistra

Diagnosis Topis

: Hemisfer cerebri dextra

Diagnosis Etiologi : suspek Non Hemoragik Stroke

V. DIAGNOSA BANDING

Hemoragik stroke

VI. PLANNING (RENCANA AWAL)

A. Terapi :
Umum

Breathing
-Memperbaiki jalan napas
Blood (tekanan darah)
Brain
-Posisi kepala 20-300
Bladder
-Bila ada retensio urine dipsangi cateter.
Bowel
Defekasi pada pasien

Khusus :

IVFD RL 20 tts/menit
Citicoline 500 mg /8 jam /IV
Clopidogrel 75 mg 1 x 1 tab
Mecobalamin amp/24jam/drips
Ranitidine amp/24 jam/iv
Amlodipin 10 mg 1x1

B. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Laboratorium : Darah rutin , kimia darah (glukosa puasa,
GD2PP, ureum, kreatinin, asam urat, GDS, kolesterol, HDL,LDL,
Trigliserida)
2. Pemeriksaan radiologi dan lain-lain :
- CT-Scan kepala
- EKG
VII.

PROGNOSIS
-

Quo ad vitam
Quo ad sanationem

C. DISKUSI

: dubia ad bonam
: dubia ad malam

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya stroke iskemik, salah


satunya

adalah

aterosklerosis,

dengan

mekanisme

thrombosis

yang

menyumbat arteri besar dan arteri kecil, dan juga melalui mekanisme
emboli. Pada stroke iskemik, penyumbatan bisa terjadi di sepanjang jalur
arteri yang menuju ke otak. Aterosklerosis dapat menimbulkan bermacammacam manifestasi klinik dengan cara:
1. Menyempitkan

lumen

pembuluh

darah

dan

mengakibatkan

insufisiensi aliran darah.


2. Oklusi mendadak pembuluh darah karena terjadinya trombus atau
perdarahan aterom.
3. Merupakan terbentuknya trombus yang kemudian terlepas sebagai
emboli.
Menyebabkan

dinding

pembuluh

menjadi

lemah

dan

terjadi

aneurisma yang kemudian dapat robek.


Suatu penyumbatan total dari aliran darah pada sebagian otak akan
menyebabkan hilangnya fungsi neuron yang bersangkutan pada saat itu
juga. Bila anoksia ini berlanjut sampai 5 menit maka sel tersebut dengan sel
penyangganya yaitu sel glia akan mengalami kerusakan ireversibel sampai
nekrosis beberapa jam kemudian yang diikuti perubahan permeabilitas
vaskular disekitarnya dan masuknya cairan serta sel-sel radang.
Di sekitar daerah iskemi timbul edem glia, akibat berlebihannya H+
dari asidosis laktat. K+ dari neuron yang rusak diserap oleh sel glia disertai
retensi air yang timbul dalam empat hari pertama sesudah stroke. Edem ini
menyebabkan daerah sekitar nekrosis mengalami gangguan perfusi dan
timbul iskemi ringan tetapi jaringan otak masih hidup. Daerah ini adalah
iskemik penumbra. Bila terjadi stroke, maka di suatu daerah tertentu dari
otak akan terjadi kerusakan (baik karena infark maupun perdarahan).
Neuron-neuron di daerah tersebut tentu akan mati, dan neuron yang rusak
ini akan mengeluarkan glutamat, yang selanjutnya akan membanjiri sel-sel
disekitarnya. Glutamat ini akan menempel pada membran sel neuron di

sekitar daerah primer yang terserang. Glutamat akan merusak membran sel
neuron dan membuka kanal kalsium (calcium channels). Kemudian terjadilah
influks kalsium yang mengakibatkan kematian sel. Sebelumnya, sel yang
mati ini akan mengeluarkan glutamat, yang selanjutnya akan membanjiri lagi
neuron-neuron disekitarnya. Terjadilah lingkaran setan. Neuron-neuron yang
rusak juga akan melepaskan radikal bebas, yaitu charged oxygen molecules
(seperti nitric acida atau NO), yang akan merombak molekul lemak didalam
membran sel, sehingga membran sel akan bocor dan terjadilah influks
kalsium. Stroke iskemik menyebabkan berkurangnya aliran darah ke otak
yang menyebabkan kematian sel.
Stroke non hemoragik didefinisikan sebagai sekumpulan tanda klinik
yang berkembang oleh sebab vaskular. Gejala ini berlangsung 24 jam atau
lebih pada umumnya terjadi akibat berkurangnya aliran darah ke otak, yang
menyebabkan cacat atau kematian.1
Dalam kasus ini, pasien mengalami gejala klinis berupa lemah separuh
badan yang berlangsng sudah beberapa hari yaitu > 24 jam dan terjadi
ketika pasien bangun tidur.
Berdasarkan perjalanan klinisnya, stroke non hemoragik meliputi :

TIA (Transient Ischemic Attack)


Pada TIA gejala neurologis yang timbul akan cepat menghilang.

Berlangsung dalam beberapa menit sampai 24 jam. TIA ini didefenisikan


sebagai suatu gangguan akut dari fungsi fokal serebral dan disebabkan oleh
trombus atau emboli. Dari gejala yang ditimbulkan TIA dapat dibedakan dari
sumber alirannya yaitu dari system karotis atau system vertebrobasilaris.
a. TIA yang disebabkan gangguan system karotis dengan gejala :
1) Gangguan penglihatan pada satu mata tanpa disertai nyeri,
disertai kelumpuhan lengan atau tungkai atau keduanya pada
sisi yang sama.

2) Deficit sensorik atau motorik dari wajah saja, wajah dan


lengan atau tungkai saja secara unilateral.
Dari pemeriksaan pada pasien, ditemukan kelumpuhan lengan dan
tungkai sebelah kiri, serta adanya deficit sensorik dan motorik pada wajah,
lengan dan tungkai.
b. TIA yang disebabkan gangguan system vertebrobasilaris dengan
gejala:
1) Amaurosis fugax bilateral.
2) Vertigo dengan atau tanpa disertai nausea dan atau muntah.
3) Disertai dengan diplopia, disfagia atau disartria.
4) Mendadak tidak stabil.
5) Unilateral atau bilateral gangguan visual, motorik atau
sensorik.
Dari kasus diatas, pasien merasakan vertigo dan mual tapi pasien tidak
muntah.. Pasien juga mengalami gangguan motorik disebelah kiri.

Faktor risiko stroke


Faktor risiko stroke dibedakan antara yang tidak dapat dirubah

(unmodifiable risk factor) dan yang dapat dirubah (modifiable risk factors)
1) Factor yang tidak dapat dirubah:
a. Umur
b. Jenis kelamin
c. Genetic
d. Ras
Pada hasil pemeriksaan pasien, ditemukan pasien berumur 61
tahun , berjenis kelamin laki-laki, ada riwayat keluarga yang stroke.
2) Faktor yang dapat dirubah
a. Riwayat stroke
b. TIA
c. Hipertensi
d. Penyakit jantung
e. Diabetes mellitus
f. Dislipidemia (hiperkolesterol)
g. Obesitas
h. Merokok

i. Alkoholik
j. Penggunaan narkotika
k. Hiperurisemia
Dari kasus diatas, pasien

Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan darah rutin diperlukan sebagai dasar pembelajaran dan

mungkin

pula

menunjukkan

faktor

resiko

stroke

seperti

polisitemia,

trombositosis, trombositopenia, dan leukemia. Pemeriksaan ini pun dapat


menunjukkan kemungkinan penyakit yang sedang diderita saat ini seperti
anemia.
Pemeriksaan kimia darah dilakukan untuk mengeliminasi kelainan yang
memiliki gejala seperti stoke (hipoglikemia, hiponatremia) atau dapat pula
menunjukkan penyakit yang diderita pasien saat ini (diabetes, gangguan
ginjal).
Pemeriksaan koagulasi dapat menunjukkan kemungkinan koagulopati
pada pasien. Selain itu, pemeriksaan ini juga berguna jika digunakan terapi
trombolitik dan antikoagulan.
Biomarker jantung juga penting karena eratnya hubungan antara
stroke dengan penyakit jantung koroner. Penelitian lain juga mengindikasikan
adanya hubungan antara peningkatan enzim jantung dengan hasil yang
buruk dari stroke.

Pemeriksaan penunjang

a. Computed Tomography Scan juga disebut CT scan, merupakan proses


pemeriksaan dengan menggunakan sinar-X untuk mengambil gambar
otak. Dengan menggunakan komputer, beberapa seri gambar sinar-X
akan memperlihatkan gambar tiga dimensi kepala dari beberapa
sudut. CT scan dapat menunjukkan ; jaringan lunak, tulang, otak dan
pembuluh darah. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan area otak yang

abnormal, dan dapat menentukan penyebab stroke , apakah karena


insufisiensi aliran darah (stroke iskemik), rupture pembuluh darah
(hemoragik)

atau

penyebab

lainnya.

CT

scan

juga

dapat

memperlihatkan ukuran dan lokasi otak yang abnormal akibat tumor,


kelainan pembuluh darah, pembekuan darah, dan masalah lainnya.

Stroke iskemik

b. MRI adalah suatu alat diagnostik gambar berteknologi canggih yang


menggunakan

medan

magnet,

frekuensi

radio

tertentu

dan

seperangkat computer untuk menghasilkan gambar irisan penampang


otak. MRI mendeteksi kelainan neurology lebih baik dari CT scan
misalnya stroke, abnormalitas batang otak dan cerebellum, dan
multiple sclerosis. MRI dapat mengidentifikasi zat kimia yang terdapat
pada area otak yang membedakan tumor otak dan abses otak.

Dengan menggunakan CT scan dan MRI dapat diketahui serangan


stroke disebabkan oleh iskemik atau perdarahan. Defisit neurologi bervariasi
berdasarkan pembuluh darah yang mengalami penyumbatan atau kerusakan
otak yang terjadi.

Penatalaksanaan
Prinsip penanganan stroke adalah membatasi daerah yang rusak,

meningkatkan aliran darah otak, mencegah terjadinya edema otak, dan


memperbaiki aliran darah. Pemberian terapi kombinasi antara antitrombotik
ataupun trombolitik dengan obat yang bersifat neuroprotektif telah terbukti
lebih efektif dibandingkan dengan monoterapi. Obat neuroprotektif yang
digunakan yaitu citicolin. Dimana obat-obat golongan neuroprotektif ini
bersifat melindungi otak yang sedang mengalami iskemi. Secara biokimia
mecobalamin adalah cyanocobalamin yang mengandung co-enzym basa
metil aktif. Mecobalamin berperan dalam aksi transmetilasi yang merupakan
homolog B12 yang teraktif didalam tubuh

yang berpengaruh terhadap

metabolisme asam nukleat, protein, dan lemak. Mecobalamin bekerja


memperbaiki jaringan syaraf yang rusak pada gangguan syaraf seperti :
degenerasi

dan

demielinasi

aksonal,

juga

membantu

pematangan

eritroblast, membantu pembelahan eritroblast dan sintesis heme, sehingga


dapat memperbaiki stats darah pada anemia megaloblastik.
D. KESIMPULAN
Telah dilaporkan seorang pasien laki-laki berumur 61 tahun dengan
diagnosis klinis hemiparese sinistra. Diagnosa ditegakkan berdasarkan
anamnesa yaitu adanya kelemahan pada tungkai sebelah kiri secara tibatiba ketika bangun dipagi hari. Keram-keram juga dirasakan pada tangan

sebelah kiri dan terasa lemah jika menggenggam sesuatu. Riwayat diabetes
mellitus dalami sejak beberapa tahun yang lalu.
Dari pemeriksaan fisik, didapatkan, pergerakan sebelah kiri menurun,
kekuatan

menurun

disebelah

kiri

serta

tonus

yang

menurun.

Ini

menunjukkan bahwa ada kelainan pada hemisfer dextra. Pada reflex


fisiologis didapatkan KPR dan APR menurun di sebelah kiri sedangkan reflex
patologis didapatkan babinski dan Hoffman tromner di sebelah kiri.
Berdasarkan gejala dan tanda klinis tersebut pasien ini cenderung
didiagnosa sebagai non hemoragik stroke yang meliputi Transient Ischemic
Attack (TIA) yang disebabkan oleh gangguan sistem karotis dan sistem
vertebrabasilaris. Untuk memastikan diagnosis perlu dilakukan pemeriksaan
penunjang yaitu foto CT-Scan kepala dan MRI sebagai gold standar untuk
penegakan diagnosis.
Penatalaksanaan pasien ini adalah Breathing (memperbaiki jalan
napas, tekanan darah, posisi kepala 20-300 dan bila ada retensio urine
dipasangi kateter. Pengobatan spesifiknya diberikan neuroprotektor, seperti
citikolin, anti agregasi platelet (aspilet, clopidogrel), dan vitamin B12.