Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memiliki wilayah yang
sangat luas dibandingkan dengan Negara-Negara lain, yang terbentang dari
Sabang sampai Marauke. Letak Geografis NKRI diapit oleh dua Benua (Asia dan
Australia) dan dua Samudera (Pasifik dan Hindia). Indonesia terletak diantara 6 0
LU-110 LS dan 950 BT-1410 BT. Di Indonesia terdapat dua musim yaitu musim
hujan dan musim kemarau.
Sebagai Negara yang memiliki wilayah luas, Indonesia mempunyai lebih
dari 300 suku. Suku-Suku tersebut, sebagian masih tinggal di Pedalaman dan
sebagian lagi sudah tinggal di Perkotaan. Hal ini juga menunjukkan bahwa NKRI
disebut Negara Multicultural yaitu Negara yang memiliki banyak suku, yang
mempunyai berbagai bahasa, adat, keyakinan bahkan kesenian. Sehingga hal
inipun yang menunjukkan bahwa rakyat Indonesia mempunyai mata pencaharian
dan cara berpikir yang berbeda-beda. Karena hal-hal tersebutlah membuat rakyat
Indonesia harus mempelajari Wawasan Nusantara sebagai bukti cinta kepada
tanah air.

B.

Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka yang menjadi pokok permasalahan adalah

a.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

sebagai berikut :
Wawasan Nusantara
Bagaimana Ajaran Wawasan Nasional Indonesia?
Bagaimana Latar Belakang Filosofis Wawasan Nusantara?
Apa Hakikat dan Implementasi Wawasan Nusantara?
Apa Landasan Wawasan Nusantara?
Bagaimana Kedudukan, Fungsi dan Tujuan Wawasan Nusantara?
Bagaimana Pemasyarakatan/Sosialisasi Wawasan Nusantara?
BAB II
PEMBAHASAN

A.

Ajaran Wawasan Nasional Indonesia


Sebelum membahas Wawasan Nusantara, terlebih dahulu saya akan
menjelaskan tentang Wawasan Nasional. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(Edisi II, 1994) Wawasan berasal dari kata mawas atau mewawas yang memiliki
arti meneliti, meninjau, mengamati dan memandang. Dengan adanya imbuhan
an secara harfiah Wawasan berarti cara penglihatan, cara tinjau ataupun cara
pandang. Sedangkan yang dimaksud Nasional adalah berkenaan dengan suatu
bangsa. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Wawasan Nasional adalah
cara pandang suatu bangsa yang telah menegara tentang diri dan lingkungannya
dalam eksistensinya yang serba terhubung (melalui interaksi dan interelasi) dan
dalam

pembangunannya

di

lingkungan

Nasional

(termasuk

lokal

dan

propinsional), regional serta global.


Sementara itu, Wawasan Nasional Indonesia merupakan wawasan yang
dikembangkan berdasarkan teori Wawasan Nasional secara universal. Wawasan
tersebut dibentuk dan dijiwai oleh paham kekuasaan bangsa Indonesia dan paham
Geopolitik.
1.

Paham Kekuasaan Bangsa Indonesia


Wawasan Nasional Indonesia tidak mengembangkan ajaran tentang kekuasaan
dan adu kekuatan, karena hal tersebut mengandung benih-benih persengketaan
dan ekspansionisme. Ajaran Wawasan Nasional Indonesia menyatakan bahwa
ideologi digunakan sebagai landasan idiil dalam menentukan politik Nasional,
dihadapkan pada kondisi dan konstelasi (keadaan dan tatanan) geografi Indonesia
dengan segala aspek kehidupan Nasionalnya. Tujuannya adalah agar bangsa
Indonesia dapat menjamin kepentingan bangsa dan Negaranya ditengah-tengah
perkembangan dunia.

2.

Geopolitik Indonesia
Negara Indonesia menganut paham Negara kepulauan, yaitu paham yang
dikembangkan dari asas Archipelago yang memang berbeda dengan pemahaman

Archipelago di Negar-Negara barat pada umumnya. Perbedaan yang esensial dari


pemahaman ini adalah menurut paham barat laut berperan sebagai pemisah pulau.
Sedangkan menurut paham Indonesia laut adalah penghubung, sehingga wilayah
Negara menjadi satu kesatuan yang utuh sebagai tanah air dan disebut Negara
kepulauan.
B.

Latar Belakang Filosofis Wawasan Nusantara


Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya yang dimaksud Wawasan
adalah cara pandang. Sedangkan Nusantara terdiri dari dua kata yaitu Nusa yang
artinya Negara kepulauan dan Antara yang berarti pembatas.
Berikut filosofis yang melatarbelakangi Wawasan Nusantara, yaitu :

1.

Pemikiran Berdasarkan Falsafah Pancasila


Berdasarkan falsafah Pancasila, manusia Indonesia adalah makhluk ciptaan
Tuhan yang memiliki naluri, akhlak, daya piker dan sadar akan keberadaannya
yang serba terhubung dengan sesamanya, lingkungannya, alam semesta dan
penciptanya. Kesadaran ini menumbuhkan cipta, karsa dan karya untuk
mempertahankan eksistensi dan kelangsungan hidupnya dari generasi ke generasi.
Berdasarkan yang dipengaruhi oleh lingkungannya manusia Indonesia memiliki
motivasi antara lain untuk menciptakan suasana damai dan tenteram menuju
kebahagiaan serta menyelenggarakan keteraturan dalam membina hubungan
antarsesama.
Atas dasar nilai-nilai Pancasila Nampak bahwa Wawasan Nasional yang
dianut dan dikembangkan oleh bangsa Indonesia merupakan pancaran dari
Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia. Oleh karena itu, Wawasan
Nasional Indonesia menghendaki terciptanya persatuan dan kesatuan tanpa
menghilangkan ciri, sifat, dan karakter dari kebhinekaan unsur-unsur pembentuk
bangsa (suku bangsa, etnis, golongan atau daerah itu sendiri).

2.

Pemikiran Berdasarkan Aspek Kewilayahan Nusantara

Kondisi obyektif sebagai modal dalam pembentukkan suatu Negara


merupakan suatu ruang gerak hidup suatu bangsa yang didalamnya terdapat
Sumber

Daya

Alam

dan

penduduk

yang

mempengaruhi

pengambilan

keputusan/kebijaksanaan politik Negara tersebut. Oleh karena itu, dalam


kehidupan berbangsa dan bernegara fungsi maupun pengaruh geografi terhadap
sikap dan tata laku Negara yang bersangkutan merupakan suatu fenomena yang
mutlak diperhitungkan. Demikian pula sebaliknya, dampak sikap dan tata laku
Negara terhadap kondisi geografis sebagai tata hubungan antara manusia dan
wadah lingkungannya perlu diperhitungkan.
Kondisi Obyektif Geografi Nusantara merupakan untaian ribuan pulau yang
tersebar dan terbentang di khatulistiwa serta terletak pada posisi silang yang
sangat strategis, memiliki karakteristik yang berbeda dengan Negara lain.
Deklarasi Djuanda yang diselenggarakan pada tanggal 13 Desember 1957
menyatakan bahwa bentuk geografis Indonesia adalah Negara kepulauan yang
terdiri atas ribuan pulau besar dan kecil dengan sifat dan corak tersendiri.
3.

Pemikiran Berdasarkan Aspek Sosial Budaya


Sosial Budaya sebagai salah satu aspek kehidupan nasional disamping politik,
ekonomi serta pertahanan dan keamanan adalah faktor dinamik masyarakat
terbentuk oleh keseluruhan pola tingkah laku lahir batin yang memungkinkan
berlangsungnya hubungan sosial diantara anggotanya.
Masyarakat Indonesia sejak awal terbentuk dengan ciri kebudayaan beragam
yang muncul karena pengaruh ruang lingkungan berupa kepulauan dimana ciri
alamiah tiap-tiap pulau berbeda-beda. Perbedaan karakter masyarakatnya sangat
mencolok, perbedaan dalam ras dan etnik. Faktor alamiah itu membentuk
perbedaan khas kebudayaan masyarakat di tiap-tiap daerah sekaligus perbedaan
daya tanggap inderawi serta pola kehidupan baik dalam hubungan vertikal
maupun hosizontal. Secara universal kebudayaan masyarakat yang heterogen
tersebut sama-sama mempunyai unsur-unsur penting sebagai berikut :

a.
b.
c.

Sistem religi dan upacara keagamaan


Sistem masyarakat dan organisasi kemasyarakatan
Sistem pengetahuan

d.
e.
f.
g.

Bahasa
Keserasian (budaya dalam arti sempit)
Sistem mata pencaharian
Sistem teknologi dan peralatan
Dari tinjauan sosial budaya, pada akhirnya dapat dipahami bahwa proses
sosial dalam keseluruhan upaya menjaga persatuan nasional sangat membutuhkan
kesamaan persepsi diantara segenap masyarakat tentang eksistensi budaya yang
sangat beragam namun memiliki semangat untuk membina kehidupan bersama
yang harmonis. Dengan adanya kesamaan persepsi ini Wawasan Nasional
Indonesia diwarnai oleh keinginan untuk menumbuh suburkan faktor-faktor
positif, mewujudkan persatuan dan kesatuan dan mengurangi atau kalau bisa
menghilangkan pengaruh negatif dari faktor-faktor yang dapat menimbulkan
disintegrasi bangsa.

4.

Pemikiran Berdasarkan Aspek Kesejarahan


Perjuangan suatu bangsa dalam meraih cita-citanya pada umumnya tubuh dan
berkembang dari latar belakang sejarahnya. Wilayah NKRI merupakan warisan
colonial hindia belanda dimana batas wilayah perairan ditentukan dan diakui
berdasarkan Territoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonnantie (TZMKO) 1939.
Berdasarkan TZMKO, laut territorial adalah selebar 3 mil laut dari garis pangkal
masing-masing pulau. Indonesia secara politik dan ekonomi sangat dirugikan
karena tanah dan air Republik Indonesia belum terwujud dalam satu kesatuan
yang utuh.
Konsepsi Nusantara merupakan hasil Deklarasi Djuanda, yang berlandaskan
semangat kekompakan dan mengacu pada konstelasi geografi RI sebagai Negara
kepulauan dikukuhkan menjadi UU No. 4/Prp tahun 1960, yaitu :

a.

Perairan Indonesia ialah laut wilayah Indonesia beserta perairan pedalaman

Indonesia.
b.
Laut wilayah Indonesia ialah jalur laut 12 mil laut.
c.
Perairan pedalaman Indonesia adalah semua perairan yang terletak pada sisi
dalam dari garis dasar.
Wawasan Kebangsaan atau Wawasan Nasional Indonesia diwarnai oleh
pengalaman sejarah yang tidak menginginkan terulangnya perpecahan dalam

lingkungan bahasa dan Negara Indonesia yang akan melemahkan perjuangan


dalam mengisi kemerdekaan untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional
sebagai hasil kesepakatan bersama agar bangsa Indonesia setara dengan bangsa
lain.
C.

Hakikat dan Implementasi Wawasan Nusantara


Adapun hakikat dan implementasinya, yaitu :

1.

Hakikat Wawasan Nusantara


Hakikat Wawasan Nusantara adalah keutuhan nusantara, dalam pengertian
cara pandang yang selalu utuh menyerluruh dalam lingkup nusantara demi
kepentingan nasional. Hal tersebut berarti bahwa setiap warga bangsa dan aparatur
Negara harus berpikir, bersikap dan bertindak secara utuh menyeluruh demi
kepentingan bangsa dan Negara Indonesia.

2.

Implementasi Wawasan Nusantara


Implementasi Wawasan Nusantara senantiasa berorientasi pada kepentingan
rakyat dan wilayah tanah air secara utuh dan menyeluruh, sebagai berikut :

a.

Dalam kehidupan politik akan menciptakan iklim penyelenggaraan Negara

b.

yang sehat dan dinamis.


Dalam kehidupan ekonomi akan menciptakan tatanan ekonomi yang benarbenar menjamin pemenuhan dan peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran

c.

rakyat secara merata dan adil.


Dalam kehidupan sosial budaya dapat menciptakan sikap bathiniyah dan
Lahiriyah yang mengakui kebhinekaan sebagai kenyataan hidup dan karunia Sang

d.

Pencipta.
Dalam kehidupan pertahanan dan keamanan akan menumbuhkembangkan
kesadaran cinta tanah air dan bangsa sehingga akan membentuk sikap bela Negara
pada setiap warga Negara Indonesia.
Dalam pembinaan seluruh aspek kehidupan nasional yang dijelaskan diatas,
Implementasi Wawasan Nusantara harus menjadi nilai yang menjiwai segenap
peraturan perundang-undangan yang berlaku pada setiap strata diseluruh wilayah
Negara. Wawasan Nusantara juga dapat di implementasikan ke dalam segenap

pranata sosial yang berlaku di msayarakat dalam nuansa kebhinekaan sehingga


mendinamisasikan kehidupan sosial yang akrab, peduli, toleransi, hormat dan taat
hukum.
D.

Landasan Wawasan Nusantara


Berikut merupakan Landasan Wawasan Nusantara, yaitu :

1.

Landasan Idiil : Pancasila


Pancasila telah diakui sebagai sebagai ideologi dan dasar Negara yang
terumuskan

dalam

pembukaan

UUD`45.

Pada

hakikatnya,

Pancasila

mencerminkan nilai keseimbangan, keserasian, keselarasan, persatuan dan


kesatuan, kekeluargaan, kebersamaan dan kearifan dalam membina kehidupan
nasional. Perpaduan nilai-nilai tersebut mampu mewadahai kebhinekaan seluruh
aspirasi bangsa Indonesia. Pancasila merupakan sumber motivasi bagi perjuangan
seluruh bangsa Indonesia dalam tekadnya untuk menata kehidupan didalam
Negara Kesatuan Republik Indonesia secara berdaulat dan mandiri. Pancasila
sebagai falsafah, ideologi bangsa dan dasar Negara mempunyai kekuatan hukum
yang mengikat para penyelenggara Negara, para pimpinan pemerintahan dan
seluruh rakyat Indonesia.
Dengan demikian, Pancasila sebagai falsafah bangsa Indonesia telah dijadikan
landasan idiil dan dasar Negara sesuai dengan yang tercantum pada pembukaan
UUD`45. Oleh karena itu, Pancasila sudah seharusnya serta sewajarnya menjadi
Landasan Idiil Wawasan Nusantara.
2.

Landasan Konstitusional : UUD`45


UUD 1945 merupakan konstitusi dasar yang menjadi pedoman pokok dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Bangsa Indonesia bersepakat
bahwa Indonesia adalah Negara kesatuan yang berbentuk Republik dan
berkedaulatan rakyat yang dilakukan sepenuhnya oleh MPR. Oleh karena itu,
Negara mengatasi segala paham golongan, kelompok dan perseorangan serta
menghendaki persatuan dan kesatuan dalam segenap aspek dan dimensi

kehidupan nasional. Artinya, kepentingan Negara dalam segala aspek dan


perwujudannya lebih diutamakan diatas kepentingan golongan, kelompok dan
peseorangan berdasarkan aturan, hukum, dan perundang-undangan yang berlaku
memperhatikan HAM, aspirasi masyarakat dan kepentingan daerah yang
berkembang saat ini.
Dengan demikian, UUD`45 seharusnya dan sewajarnya menjadi landasan
konstitusional dari Wawasan Nusantara yang merupakan cara pandang bangsa
Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
E.

Kedudukan, Fungsi dan Tujuan Wawasan Nusantara


Berikut ini merupakan Kedudukan, Fungsi dan Tujuan dari Wawasan
Nusantara, yaitu:

1.
a.

Kedudukan Wawasan Nusantara


Wawasan Nusantara sebagai Wawasan Nasional bangsa Indonesia merupakan
ajaran yang diyakini kebenarannya oleh seluruh rakyat agar tidak terjadi
penyesatan dan penyimpangan dalam upaya mencapai dan mewujudkan cita-cita

dan tujuan nasional.


b.
Wawasan Nusantara dalam paradigm nasional dapat dilihat dari stratifikasinya
sebagai berikut :
-Pancasila sebagai falsafah, ideologi bangsa dan dasar Negara berkedudukan
sebagai landasan idiil.
-UUD`45 sebagai landasan konstitutsi Negara, berkedudukan sebagai landasan
konstitusional.
- Wawasan Nusantara sebagai visi nasional, berkedudukan sebagai landasan
visional.
-Ketahanan nasional sebagai konsepsi nasional, berkedudukan sebagai landasan
konsepsional.
-GBHN sebagai politik dan strategi nasional atau sebagai kebijaksanaan dasar
nasional, berkedudukan sebagai landasan operasional.
2. Fungsi Wawasan Nusantara

Wawasan Nusantara berfungsi sebagai pedoman, motivasi, dorongan serta


rambu-rambu dalam menentukan segala kebijaksanaan, keputusan, tindakan dan
perbuatan bagi penyelenggara Negara di tingkat pusat dan daerah maupun bagi
seluruh rakyat Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.
3. Tujuan Wawasan Nusantara
Wawasan Nusantara bertujuan mewujudkan nasionalisme yang tinggi disegala
aspek kehidupan rakyat Indonesia yang lebih mengutamakan kepentingan
nasional daripada kepentingan individu, kelompok, golongan, suku bangsa atau
daerah. Hal tersebut bukan berarti menghilangkan kepentingan-kepentingan
individu, kelompok, suku bangsa, atau daerah. Kepentingan-kepentingan tersebut
tetap dihormati, diakui dan dipenuhi, selam tidak bertentangan dengan
kepentingan nasional atau kepentingan masyarakat banyak.
F.

Pemasyarakatan/Sosialisasi Wawasan Nusantara


Pemasyarakatan/Sosialisasi Wawasan Nusantara tersebut dapat dilakukan
dengan cara berikut :

1.

Menurut sifat atau cara penyampaiannya, yang dapat dilaksanakan sebagai

a.
b.
2.
a.

berikut.
Langsung, yang terdiri dari ceramah, diskusi, dialog, tatap muka.
Tidak Langsung, yang terdiri dari media elektronik, media cetak.
Menurut metode penyampaiannya yang berupa :
Keteladanan. Melalui metode penularan keteladanan dalam sikap perilaku
kehidupan sehari-hari kepada lingkungannya, terutama dengan memberikan
contoh-contoh berpikir, bersikap dan bertindak mementingkan kepentingan
bangsa dan Negara diatas kepentingan pribadi atau golongan, sehingga timbul

semangat kebangsaan yang selalu cinta tanah air.


b.
Edukasi, yakni melalui metode pendekatan formal dan informal. Pendidikan
formal ini dimulai dari tingkat TK sampai Perguruan Tinggi, pendidikan karir
disemua strata dan bidang profesi, penataran atau kursus-kursus dan sebagainya.
Sedangkan pendidikan non formal dapat dilaksanakan di lingkungan rumah atau
keluarga, di lingkungan pemukiman, pekerjaan dan organisasi kemasyarakatan.

c.

Komunikasi, tujuan yang ingin dicapai dari sosialisasi Wawasan Nusantara


melalui metode komunikasi adalah tercapainya hubungan komunikatif secara baik
yang akan mampu menciptakan iklim saling menghargai, menghormati, mawas
diri dan tenggang rasa sehingga tercipta kesatuan bahasa dan tujuan tentang

Wawasan Nusantara.
d.
Integrasi, tujuan yang ingin dicapai dari Pemasyarakatan atau Sosialisasi
Wawasan Nusantara melalui metode integrasi adalah terjalinnya persatuan dan
kesatuan. Pengertian serta pemahaman tentang Wawasan Nusantara akan
membatasi sumber konflik didalam tubuh bangsa Indonesia baik pada saat ini
maupun

dimasa

mendatang

dan

akan

memantapkan

kesadaran

untuk

mengutamakan kepentingan nasional dan cita-cita serta tujuan nasional.

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara antara rakyat dengan
pemerintahan haruslah mempunyai satu tujuan yaitu kesejahteraan bersama.
Selain itu, seluruh unsur-unsur yang terkait dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara harus ada interaksi dan interlasi untuk terciptanya suasana baik yang
mendatangkan kesejahteraan.
Wawasan Nusantara menjadi hal penting dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara karena akan mampu menumbuhkan sikap nasionalisme tinggi terhadap
bangsa dan Negara. Oleh karenanya, Wawasan Nusantara bertujuan untuk

10

mewujudkan nasionalism tinggi di segala aspek kehidupan rakyat Indonesia yang


lebih mengutamakan kepentingan nasional.
B. Saran
Demikianlah makalah ini disusun dari berbagai sumber ,semoga bermanfaat bagi
kita semua untuk menambah wawasan dan pengetahuan kita mengenai Wawasan
Nusantara. Penulis sadar bahwa dalam penulisan makalah ini masih sangat Jauh
Dari Kesempurnaan. Jadi, kritik dan saran yang membangun dari bapak dan
teman-teman mahasiswa sangat diharapkan demi penyempurnaan makalah ini
lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Kaelen, dkk. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Perguruan Tinggi.


Yogyakarta : Paradigma
S3ventyfour.

2012.

http://pancasilazone.blogspot.com/2012/04/wawasan-

nusantara.html. Di Unduh Pkl. 17.13 Tanggal 23 November 2015.


Zubaidi, H. Achmad, dkk.2002.PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN.
Yogyakarta: Paradigma.

11

12